#30 tag 24jam
Try Sutrisno Meninggal Dunia, Rektor Paramadina: Indonesia Kehilangan Lagi Negarawan
Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden RI, meninggal dunia pada 2 Maret 2026. Rektor Paramadina, Didik J Rachbini, menyatakan Indonesia kehilangan negarawan yang kritis dan bersemangat kebangsaan. [817] url asal
#try-sutrisno #try-sutrisno-meninggal #wakil-presiden-indonesia #rektor-paramadina #indonesia-kehilangan-negarawan #semangat-kebangsaan #kritik-terbuka #demokrasi-liberal #pancasila #reformasi-indonesi
(Bisnis.Com - Terbaru) 02/03/26 18:04
v/152340/
Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden keenam Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026). Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini mengatakan Indonesia kehilangan satu lagi negawaran yang selalu menyemai semangat kebangsaan.
Menurut Didik, di masa tuanya Try Sutrisno selalu menyemaikan semangat kebangsaan dan bahkan melakukan kritik terbuka.
Secara pribadi, menurutnya meskipun tidak saling bersahabat dekat, tetapi apabila bertemu Try Sutrisno selalu menepuk-nepuk punggung Didik seakan sudah saling bersahabat. Peristiwa itu terjadi berkali-kali di dalam berbagai forum.
"Dugaan saya, pasti beliau [Try Sutrisno] mendengarkan kritik anak-anak muda di publik melalui media massa pada tahun 1990-an sehingga memperhatikan siapa yang sering tampil di publik menyampaikan gagasan," kata Didik dalam keterangan tertulisnya pada Senin (2/3/2026).
Perhatian dari Try Sutrisno itu kemudian yang mendorong Didik selalu memperhatikan gagasan-gagasan Try Sutrisno yang dilontarkan di publik baik pada masa orde baru maupun pada masa reformasi.
Dia menjelaskan bahwa tahun lalu Try Sutrisno masih sehat dan berpikiran jernih serta masih berpidato lantang di depan publik. Dalam sambutannya di acara Pembinaan Ideologi Pancasila Dalam Rangka Peringatan 80 Tahun Membumikan Pancasila dan Peluncuran Pancasila Virtual Expo 2025 di Universitas Indonesia pada 21 Juli 2025, Try Sutrisno menyampaikan bahwa kehidupan bangsa Indonesia saat ini cenderung berkarakter liberal. Kondisi itu mengikis moral dan etika kehidupan sesuai Pancasila.
Demokrasi yang dijalankan mengarah ke westernisasi sebagai hasil amandemen empat kali UUD 1945 mengubah kehidupan bangsa secara mendasar.
"Kritik Pak Try ini menurut saya harus dipertimbangkan karena wajah Indonesia sudah liberal kapitalistik dan semakin jauh dari etika, moral dan sendi falsafah Pancasila," ujar Didik.
Generasi muda menurutnya tidak lagi mengenal falsafah dasar bangsanya. Fakta ini terlihat jelas terjadi inkonsestensi dan inkoherensi dengan Pembukaan UUD 1945.
Didik menjelaskan bahwa menurut Try Sutrisno, pelaksanaan demokrasi sangat liberal bahkan lebih liberal dari sistem yang berlaku di Amerika Serikat. Amandemen UUD 1945 yang mendadak, bahkan tanpa kajian dan perenungan mendalam, banyak kelemahannya setelah dilaksanakan lebih dari dua dekade terakahir.
Rektor Universitas Paramadina juga menambahkan bahwa yang disayangkan adalah hilangnya pilar musyawarah bangsa di dalam ketatanegaraan kita, yakni lenyapnya MPR sebagai perwujudan lembaga tertinggi negara. Kini, di dalam sistem yang liberal tidak ada lagi MPR berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara pembuat Garis Besar Haluan Negara (GBHN) atau musyawarah pikiran segenap elemen bangsa, sehingga rakyat Indonesia tidak lagi menjadi penentu arah kebijakan dan kehidupan negara Indonesia.
Kini arah arah politik kemudian dibuat oleh partai politik yang ritme kehidupannya hanya berjangka pendek untuk menang setiap lima tahunan.
"Saya berpandangan bahwa kritik negarawan senior ini perlu untuk direnungkan sebagai diskursus penting dalam kehidupan bernegara. Menurut saya, hasilnya tidak ada lagi pemimpin negarawan, pemikir seperti Bung Karno, Hatta, Sjahrir dan kawan-kawan. Yang ada adalah pemburu rente, pedagang yang bertransaksi jangka pendek atau tau anak ingusan, yang dipaksa menjadi pemimpin dengan merusak pilar konstitusi," kata Didik.
Try Sutrisno pun menurut Didik mencermati perjalanan dan pelaksanaan reformasi. Ke depan reformasi tidak bisa lagi berdasarkan prinsip liberal, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dasar keindonesiaan.
"Beliau [Try Sutrisno] menekankan reformasi seharusnya berakar pada nilai diri bangsa Indonesia, bukan sekadar perubahan yang terpengaruh oleh gelombang luar liberalisasi. Semangat reformasi bukan westernisasi dan tidak boleh hanya menjadi retorika kebebasan, tetapi harus menguatkan integritas nasional dan nilai Pancasila," ujar Didik.
Dalam pandangan Try Sutrisno menurut Didik, demokrasi hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan kemerdekaan dan bukan tujuan akhir kehidupan bernegara. Untuk bangsa yang besar seperti Indonesia, evaluasi dan tinjauan kembali terhadap prektek demokrasi dan kehidupan berbangsa sangat diperlukan agar sesuai dengan nilai dasar dan karakter bangsa Indonesia.
Try Sutrisno wafat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta pada hari ini pukul 06.58 WIB. Kabar duka tersebut disampaikan pihak keluarga. Try Sutrisno yang juga merupakan purnawirawan jenderal TNI itu meninggal dalam usia lanjut. Setelah prosesi pemandian jenazah di RSPAD, jenazah rencananya akan dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.
Pihak keluarga menyampaikan permohonan maaf atas segala khilaf almarhum semasa hidup serta memohon doa agar amal ibadah almarhum diterima dan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
"Kami mohon do'a dari Bapak Ibu sekalian agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya," dikutip dari pernyataan keluarga.
Try Sutrisno merupakan Wakil Presiden Indonesia yang mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1993–1998. Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935, dan dikenal sebagai salah satu wakil presiden yang berasal dari kalangan militer.
Karier militernya dimulai setelah diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Enam tahun kemudian, Try Sutrisno mengenal Soeharto dalam Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962.
Jabatannya bergeser menjadi ajudan presiden pada 1974. Pada Agustus 1985, pangkatnya naik menjadi Letnan Jenderal TNI dan ia diangkat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Sepuluh bulan kemudian, pada Juni 1986, Try Sutrisno dipercaya menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).
Melalui Sidang Umum MPR 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto. Masa jabatannya berakhir pada 1998 dan posisinya kemudian digantikan oleh B. J. Habibie.
Kemendikdasmen Instruksikan Pagi Ceria di Awal 2026 untuk Anak Sekolah, Apa Itu?
Kemendikdasmen instruksikan Pagi Ceria di awal 2026 untuk menumbuhkan semangat kebangsaan dan kebersamaan di sekolah dengan senam dan upacara bendera. [329] url asal
#pagi-ceria #kemendikdasmen #anak-sekolah #awal-2026 #surat-edaran #upacara-bendera #semangat-kebangsaan #pendidikan-dasar #pendidikan-menengah #senam-anak-indonesia #lagu-hari-baru #kalender-pendidika
(Bisnis.Com - Terbaru) 05/01/26 16:24
v/93874/
Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menginstruksikan dilakukannya Pagi Ceria untuk anak-anak sekolah di awal tahun 2026.
Pihaknya telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 2 Tahun 2026, tentang Pelaksanaan Pagi Ceria dan Upacara Bendera Pada Hari Pertama Semester Genap.
Pagi Ceria dilakukan dalam rangka menumbuhkan semangat kebangsaan, kebersamaan, dan mengawali kegiatan pembelajaran di awal semester genap secara positif.
Surat Edaran tersebut pun menginstruksikan kepada seluruh Satuan Pendidikan pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah untuk melaksanakan kegiatan Pagi Ceria dan Upacara Bendera yang dilaksanakan secara serentak pada hari pertama efektif masuk sekolah, sesuai kalender pendidikan masing-masing daerah.
"Untuk anak-anakku semuanya marilah kita memasuki semangat semester dua di 2026 ini dengan cita-cita, dengan semangat, dan jangan lupa kita berusaha untuk melakukan yang terbaik, it's not how good you are, but how good you want to be. Bukan soal anda sekarang ini sebagus apa, tetapi anda harus berusaha untuk tetap menjadi lebih baik lagi. Usahakan untuk senantiasa saling menghormati satu dengan yang lainnya, hormat guru, sayangi teman, dan itu adalah kunci untuk kita meraih keberhasilan," kata Abdul Mu'ti dikutip dari situs resmi Kemendikdasmen, Senin (5/1/2026).
Ia pun memberikan pesan bahwa Pendidikan harus dijalankan dengan bahagia sebagai jalan penentu masa depan.
"Sukses dan selalu bahagia dengan pendidikan yang bermutu, karena pendidikan adalah jalan yang menentukan masa depan kalian," lanjut pesan sang Menteri.
Adapun rangkaian Kegiatan Pagi Ceria dan Upacara Bendera dimulai pada pukul 07.00 waktu setempat.
Kegiatan Pagi Ceria diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat, kemudian dilanjutkan dengan Upacara Bendera, Doa Bersama sesuai dengan ajaran dan kepercayaan masing-masing, kemudian ditutup dengan bersama-sama menyanyikan lagu Hari Baru untuk menumbuhkan kekompakan serta optimisme guru dan murid.
Selain itu, Mu'ti juga memberikan pesan bahwa untuk musik dan gerakan senam untuk sekolah dapat diakses melalui laman https://s.id/senam_SAIH, sementara untuk lagu Hari Baru, sekolah dapat mengakses melalui tautan https://s.id/laguharibaru.
50 Puisi Tentang Sumpah Pemuda Penuh Semangat dan Nasionalis
Artikel ini membahas puisi bertema Sumpah Pemuda yang menyoroti persatuan, bahasa, dan nasionalisme, dilengkapi contoh puisi tentang Sumpah Pemuda. [1,922] url asal
#puisi-sumpah-pemuda #sumpah-pemuda #puisi-nasionalisme #persatuan-bangsa #bahasa-indonesia #cinta-tanah-air #puisi-perjuangan #puisi-sejarah #semangat-kebangsaan #puisi-pelajar #sumpah-pemuda-1928 #pu
(Bisnis.Com - Terbaru) 27/10/25 12:14
v/16938/
Bisnis.com, JAKARTA - Sumpah pemuda (28 Oktober 1928) merupakan tonggak sejarah yang mematri tiga ikrar. Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; Berbangsa satu, bangsa Indonesia; Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Peristiwa Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran kolektif kaum muda lintas suku, agama, dan daerah. Kemerdekaan Indonesia membutuhkan persatuan dari itu semua. Nilai-nilai persaudaraan, gotong royong, nasionalisme, dan keberanian menjadi napas bagi generasi ke generasi.
Tak heran jika banyak penyair dan pelajar yang menuangkan semangat tersebut ke dalam puisi tentang Sumpah Pemuda. Lewat diksi, rima, dan imaji, puisi sanggup menghidupkan kembali gema 1928: persatuan yang menyala, bahasa yang memeluk, dan cinta tanah air yang menguatkan langkah.
Referensi kontekstual: Museum Sumpah Pemuda & Arsip Nasional Republik Indonesia sebagai rujukan sejarah dan naskah ikrar.
Apa Itu Puisi Sumpah Pemuda
Puisi Sumpah Pemuda ialah karya sastra yang mengangkat tema persatuan bangsa, bahasa Indonesia, dan semangat kebangsaan. Puisi tentang Sumpah Pemuda dapat dilihat melalui ciri-ciri sebagai berikut:
- Menyuarakan persatuan di atas perbedaan.
- Menggugah semangat perjuangan, optimisme, dan cinta tanah air.
- Menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium untuk menyatukan rasa.
Ada nuansa yang membedakan puisi klasik dengan puisi modern tentang Sumpah Pemuda. Puisi klasik memiliki gaya diksi padat, metafora mendalam, dan nada heroik, mengingatkan pada zeitgeist angkatan ’45.
Sedangkan puisi modern ditulis dengan lebih lincah, komunikatif, dan kadang menyerap kosakata pop atau urban. Namun keduanya tetap sahih selama menyimpan roh 1928, yaitu tentang persatuan dan keberanian bermimpi.
Berdasarkan pengalaman, puisi bertema Sumpah Pemuda selalu efektif membuka ruang diskusi: dari sejarah, bahasa, hingga toleransi. Ruang kelas menjadi hidup ketika siswa dan siswi menafsirkan puisi Sumpah Pemuda sesuai konteks mereka hari ini.
Contoh Puisi Populer tentang Sumpah Pemuda
Walau tidak ada “kanon baku” yang satu-satunya, sekolah-sekolah sering mengangkat puisi bertema nasionalisme (Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan penyair kontemporer) sebagai referensi semangat. Poin pentingnya: bukan meniru gaya, melainkan mewarisi energi, keteguhan, keberanian, dan cinta tanah air.
Kumpulan Puisi tentang Sumpah Pemuda
1. Puisi Sumpah Pemuda Singkat (2–4 bait)
- “Tiga Ikrar” (2 bait)
(1) Tiga ikrar bertunas di dada,
bahasa menyatu, bangsa merdeka.
(2) Dari pelabuhan ke puncak rimba,
kita bernama, Indonesia. - “Bahasa Persatuan” (3 bait)
(1) Di lidahmu, sayup kata menjelma jembatan,
(2) menyambung nadi kampung ke kota.
(3) Bahasa Indonesia: rumah kita. - “Satu Tanah Air” (2 bait)
(1) Sepetak tanah tumbuh nyala,
(2) laut memantulkan merah putih di mata. - “Peta di Dada” (3 bait)
(1) Aku menggambar peta di dada,
(2) jantungku menandai Jakarta - Papua;
(3) semua jarak pulang ke Indonesia. - “Berani Bersatu” (2 bait)
(1) Di simpang perbedaan,
(2) kita memilih jembatan, bukan tembok. - “1928” (4 bait)
(1) Suara rapat memahat malam,
(2) pena-pena jadi bara.
(3) Di kertas putih itu,
(4) lahir nama kita semua. - “Tunas” (3 bait)
(1) Seribu bibit di ladang hujan,
(2) satu batang pohon persatuan,
(3) rindangnya: Indonesia. - “Janji” (2 bait)
(1) Janji para pemuda bukan sekadar kata,
(2) melainkan arah pulang bangsa. - “Bahtera” (3 bait)
(1) Kita membentang layar bahasa,
(2) menolak karam oleh beda.
(3) Pelabuhannya: merdeka. - “Abjad yang Sama” (2 bait)
(1) Dari A hingga Z,
(2) kita mengeja Indonesia. - “Pelangi Serumpun” (3 bait)
(1) Warna-warni suku,
(2) disatukan langit yang sama.
(3) Pelanginya: nusantara. - “Seruan” (2 bait)
(1) Bila angin sejarah memanggil,
(2) jawablah: kami satu. - “Laut Kata” (3 bait)
(1) Ombak mungkin berbeda tinggi,
(2) tapi semua tiba ke pasir yang sama
(3) bahasa persatuan. - “Kilas” (2 bait)
(1) Sekilas 1928 melintas,
(2) aku menegakkan punggung. - “Pagar Kita” (3 bait)
(1) Pagar kita bukan kawat,
(2) melainkan empati
(3) menjaga kebun persaudaraan. - “Di Kelas Sejarah” (4 bait)
(1) Peta di papan tulis,
(2) suara guru menetes pelan.
(3) Tiga ikrar kubawa pulang
(4) PR: merawatnya. - “Sama-Sama” (2 bait)
(1) Kita tak serupa,
(2) tapi kita sama-sama Indonesia. - “Bahasa Rumah” (3 bait)
(1) Kubuka pintu kata,
(2) kusambut dirimu tanpa tertinggal;
(3) rumahnya: bahasa Indonesia. - “Darah Muda” (2 bait)
(1) Darah muda: bukan marah,
(2) melainkan cahaya. - “Bendera Kata” (3 bait)
(1) Kujahit spasi dan jeda,
(2) kata-kata jadi bendera
(3) kibarkan di dadamu.
2. Puisi Panjang tentang Sumpah Pemuda (>4 bait)
- “Rapat Malam di Kota Tua” (6 bait)
(1) Di kota tua, lampu-lampu terlalu hemat,
suara langkah menjaga rahasia.
(2) Di meja rapat, kopi menahan kantuk,
tapi kata-kata justru melepas tidur bangsa.
(3) Mereka datang dari selat dan pegunungan,
membawa logat, bukan sekat.
(4) Kertas putih itu,
tempat namamu dan namaku bersalaman.
(5) Tiga ikrar, bukan mantra,
melainkan peta yang mudah dibaca: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa.
(6) Sejak malam itu, kita tak asing lagi
pada diri kita sendiri: Indonesia. - “Bahasa yang Merangkul” (5 bait)
(1) Dulu, kita belajar menyebut “aku-kamu”
di seribu dialek.
(2) Kini, bahasa persatuan mengikatkan tangan,
bukan menutup mulut tradisi.
(3) Ia merangkul, bukan menghapus,
(4) ia menaut, bukan mengurung.
(5) Dengan bahasa ini, kita menulis masa depan. - “Kita yang Tumbuh di Pulau-Pulau” (5 bait)
(1) Kita tumbuh dari lima musim yang tak sama,
(2) tapi hujan yang jatuh adalah air yang sama.
(3) Kita tumbuh dari ratusan pulau,
(4) tapi gelombang memanggil dengan nama yang sama: Indonesia.
(5) Sumpah itu perahu yang tak pernah bosan menjemput. - “Satu Nadi” (6 bait)
(1) Kurasakan ada nadi panjang
menghubungkan Aceh ke Merauke.
(2) Denyutnya: bahasa; nadinya: pemuda.
(3) Kita menolak putus, menolak bercerai,
(4) kita memilih menenun nama di atas bendera.
(5) Jika angin merobek kainnya,
(6) akan kita jahit lagi sampai merdeka. - “Poster di Dada” (5 bait)
(1) Di dada kita, ada poster tak kasatmata:
(2) “Satu Indonesia, harganya persaudaraan.”
(3) Tulisannya mudah diingat,
(4) sulit dijalankan jika kita lupa pada yang lemah.
(5) Maka, mari kuat karena saling menguatkan. - “Teras Rumah Bernama Bahasa” (6 bait)
(1) Di teras rumah itu, kita duduk melingkar,
(2) masing-masing membawa cerita.
(3) Bahasa Indonesia menyuguhkan teh hangat,
(4) menampung canda dari timur dan barat.
(5) Kita pulang tanpa salah paham,
(6) sebab rumah itu memberi kita kosakata peluk. - “Bait-Bait untuk 28 Oktober” (5 bait)
(1) Kuserahkan bait-bait ini kepada 28 Oktober,
(2) agar ia tetap muda di kepala anak-anak.
(3) Biarkan mereka menggambar peta
dengan krayon imajinasi yang terang.
(4) Persatuan bukan pelajaran hafalan,
(5) melainkan permainan kerja sama yang seru. - “Tulang Punggung Bernama Persatuan” (6 bait)
(1) Kita bisa berjalan tanpanya,
tapi akan bungkuk, sakit, dan mudah roboh.
(2) Itulah persatuan: tulang punggung bangsa.
(3) Sumpah Pemuda menegakkannya di masa lampau,
(4) kita menjaganya di masa kini.
(5) Jika lelah, mari saling menopang;
(6) jika ragu, bacalah tiga ikrar itu lagi.
3. Puisi Sumpah Pemuda Modern (Gaya Anak Muda)
- “Update Status 1928” (3 bait)
(1) Aku update status: #SatuBahasa
(2) kamu like: #SatuBangsa
(3) kita share: #SatuTanahAir - “Thread Persatuan” (2 bait)
(1) Kita bikin thread panjang,
(2) isinya: alasan kenapa perbedaan itu teman, bukan musuh. - “Viral yang Benar” (3 bait)
(1) Semoga persatuan yang viral,
(2) bukan caci maki.
(3) Semoga bahasa memeluk, bukan memukul. - “Notifikasi” (2 bait)
(1) Di layar ponsel, ada notifikasi:
(2) “Persatuan mengirim permintaan pertemanan.” - “Mode Gelap-Tetap Terang” (3 bait)
(1) Meski ponselku mode gelap,
(2) sumpah itu tetap terang
(3) di layar hati. - “Playlist Indonesia” (2 bait)
(1) Kita putar lagu dari seribu panggung,
(2) tapi kunci nadanya sama: Indonesia mayor. - “Bahasa yang Relevan” (3 bait)
(1) Bahasa persatuan bukan soal tua-muda,
(2) melainkan soal relevansi:
(3) bisa memesrai hati yang berbeda. - “Room Chat Nusantara” (2 bait)
(1) Room chat kita ramai: Batak, Bugis, Jawa, Papua;
(2) emojinya sama: - “Swipe Right untuk Persatuan” (3 bait)
(1) Jika persatuan melamar,
(2) swipe right dong
(3) jangan di-ghosting sejarah. - “Filter” (2 bait)
(1) Kita tak butuh filter agar tampak satu,
(2) kita memang satu. - “Bio” (2 bait)
(1) Di bio singkatku: “Anak Indonesia.”
(2) Itu sudah panjang. - “Repost Ikrar” (3 bait)
(1) Repost tiga ikrar,
(2) tambahkan caption:
(3) “Siap praktek, bukan sekadar unggah.”
Puisi Sumpah Pemuda untuk Pelajar
- “Bel Sekolah” (3 bait)
(1) Bel berbunyi, pelajaran dimulai;
(2) di halaman, bendera menyapa.
(3) Kami siap belajar menyatu. - “Upacara” (4 bait)
(1) Sepatu kami rapi,
(2) topi meneduhkan mata.
(3) Tiga ikrar kami ulang,
(4) agar nyala tak padam. - “LKS Persatuan” (3 bait)
(1) Tugas hari ini:
(2) ceritakan arti persatuan
(3) dalam hidupmu. - “Perpustakaan” (2 bait)
(1) Di rak-rak sunyi,
(2) kutemukan Sumpah Pemuda menunggu dibaca. - “Mapel Bahasa Indonesia” (3 bait)
(1) Diksi bukan sekadar soal nilai,
(2) tapi cara kita saling memahami.
(3) Bahasa adalah nilai kehidupan. - “Eskul Paduan Suara” (2 bait)
(1) Suara kami beda-beda,
(2) tapi lagu Indonesia sama-sama kami cintai. - “Pramuka” (3 bait)
(1) Di lapangan, kami ikat simpul
(2) bukan cuma pada tali
(3) tapi pada hati. - “Majalah Dinding” (2 bait)
(1) Di mading sekolah,
(2) kami tempel puisi: “Satu Indonesia.” - “Kantin” (3 bait)
(1) Dari bakso sampai papeda,
(2) lidah kami piknik:
(3) Indonesia sedapnya nyata. - “Tiga Warna di Baju Olahraga” (2 bait)
(1) Putih merah di dada,
(2) kita berlari menuju cita-cita.
Makna dan Pesan Moral dalam Puisi Sumpah Pemuda
Dari kumpulan contoh puisi Sumpah Pemuda di atas, tersirat nilai-nilai:
- Persatuan dalam perbedaan: puisi memeluk ragam etnik dan keyakinan sebagai kekayaan, bukan ancaman.
- Kebanggaan berbahasa Indonesia: bahasa menjadi jembatan empati, ruang bertemu, dan alat kemajuan.
- Semangat kebangsaan dan kerja sama: perjuangan kolektif lebih kuat daripada heroik individual.
Relevansi di era modern sekarang ini:
- Di era digital, “persatuan” berarti bijak bermedia (menghindari hoaks, ujaran kebencian) dan membangun ruang aman untuk berdialog.
- Di sekolah/kampus, Sumpah Pemuda adalah inspirasi untuk projek kolaboratif lintas jurusan/komunitas, lomba baca puisi, hingga kampanye literasi.
Tips Membuat Puisi Sendiri Bertema Sumpah Pemuda
- Tentukan fokus tematik: persatuan, bahasa, cita-cita, atau potret 28 Oktober 1928.
- Riset ringan: baca ulang naskah Sumpah Pemuda, cari arsip foto/cerita rapat-rapat pemuda.
- Diksi kuat dan emosional: gunakan verba aktif (“menjahit”, “menaut”), metafora yang akrab (laut, jembatan, rumah).
- Bangun imaji visual: lampu kota tua, kertas putih, bendera, ruang kelas agar pembaca bisa “melihat” puisi.
- Ikat rima/irama seperlunya: tak wajib berima, tapi irama internal (panjang-pendek baris) membantu daya gugah.
- Revisi dengan suara keras: baca nyaring, rasakan jeda, napas, penekanan.
- Kontekstual: tambahkan jembatan ke isu hari ini (literasi digital, toleransi, kolaborasi).
Tips ini berangkat dari praktik pendampingan lomba baca puisi pelajar (teknik olah suara, diksi, dan jeda).
Peran Sumpah Pemuda dalam Menumbuhkan Semangat Generasi Muda
Sumpah Pemuda adalah energi terbarukan bangsa. Di era digital, gadget, dan media sosial:
- Persatuan berarti kolaborasi antarkomunitas, teknologi, seni, olahraga, menyelesaikan masalah nyata (lingkungan, literasi, sosial).
- Bahasa Indonesia berarti komunikasi inklusif: konten edukatif yang ramah, lintas daerah, anti-bullying.
- Nasionalisme berarti berguna: mencipta, berbagi, dan menjaga ruang daring tetap sehat.
FAQ
- Apa makna Sumpah Pemuda dalam karya sastra?
persatuan bangsa, bahasa persatuan, dan cinta tanah air. Dalam sastra, itu hadir sebagai tema, simbol (bendera, jembatan, peta), dan diksi yang memanggil kebersamaan. - Bagaimana cara membuat puisi Sumpah Pemuda untuk lomba sekolah?
Mulai dari riset singkat, tentukan fokus (persatuan/bahasa), tulis draf dengan diksi kuat, revisi berkali-kali, lalu latih intonasi untuk pembacaan. - Apa bedanya puisi perjuangan dan puisi Sumpah Pemuda?
Puisi perjuangan luas (perang, kolonialisme, martabat). Puisi Sumpah Pemuda spesifik pada tiga ikrar 1928 dan implikasinya: persatuan, bahasa, bangsa. - Siapa penyair yang terkenal dengan tema nasionalisme?
Generasi lama: Chairil Anwar, Amir Hamzah, Rivai Apin, W.S. Rendra (variasi), hingga penyair modern yang kerap mengusung isu kebangsaan. Gunakan sebagai rujukan semangat, bukan menyalin gaya.
Sumpah Pemuda adalah cermin yang mengingatkan "kita satu". Melalui puisi tentang Sumpah Pemuda, nilai persatuan, bahasa persatuan, dan kebanggaan berbangsa dipelihara dalam imajinasi generasi muda.
Semoga 50 puisi tema Sumpah Pemuda di atas menjadi bahan baca, latihan deklamasi, atau inspirasi menulis. Mari terus menulis dan membacakan kata-kata yang menyatukan, sebab bangsa besar tumbuh dari ingatan, bahasa, dan harapan yang dirawat bersama.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)