#30 tag 24jam
Terbaru! Ini Peringkat Kekuatan Militer Dunia, RI Nomor Berapa?
Amerika Serikat, Rusia, dan China adalah negara dengan kekuatan militer paling kuat di dunia [64] url asal
#peringkat-militer-dunia #global-firepower #militer-terkuat #teknologi-militer #persenjataan #indonesia #kekuatan-militer-ri #analisis-militer #negara-dengan-militer-kuat #kekuatan-militer
(CNBC Indonesia - Research) 19/11/25 16:53
v/44035/

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat, Rusia, dan China adalah negara dengan kekuatan militer paling kuat di dunia. Ini karena memiliki teknologi militer hingga persenjataan yang paling lengkap di muka bumi.
Global Firepower merilis negara-negara yang merupakan militer terkuat di dunia. Peringkat Kekuatan Militer tahun ini yang dirilis oleh Global Firepower memeringkat militer 145 negara berdasarkan faktor-faktor seperti geografi, sumber daya, dan peralatan.
Penguasa Samudra, Ini Negara dengan Armada Dagang Terbanyak di Dunia
Struktur kepemilikan armada pengiriman global mengalami konsentrasi yang semakin kuat memasuki 2025. [57] url asal
#negara-pengiriman-laut #armada-pengiriman #kepemilikan-kapal #yunani #china #jepang #kapasitas-armada #dead-weight-tonnage #industri-maritim #pengiriman-global
(CNBC Indonesia - Research) 19/11/25 10:08
v/43220/

Jakarta, CNBC Indonesia- Struktur kepemilikan armada pengiriman global mengalami konsentrasi yang semakin kuat memasuki 2025. Melansir dari UNCTAD & Voronoi hanya tiga negara Yunani, China, dan Jepang yang kini menguasai lebih dari 40% kapasitas armada dunia berdasarkan dead weight tonnage (DWT).
Jika dihitung berdasarkan jumlah kapal, ketiganya juga mengendalikan hampir sepertiga dari seluruh armada yang beroperasi secara global.
Bikin Kaget! Ternyata Ini Negara Paling Doyan Ngutang di Dunia
Total utang publik dunia saat ini mencapai US$111 triliun, atau setara dengan Rp1.853.700 triliun (asumsi kurs Rp16.700/US$1). [129] url asal
#utang-publik #ekonomi-global #imf #total-utang-dunia #stimulus-fiskal #amerika-serikat #china #jepang #negara-berutang #utang-terbesar
(CNBC Indonesia - Research) 18/11/25 15:09
v/43112/

Jakarta, CNBC Indonesia - Total utang publik dunia saat ini mencapai US$111 triliun, atau setara dengan Rp1.853.700 triliun (asumsi kurs Rp16.700/US$1). Meski lebih rendah dibanding puncak pandemi, posisi tersebut tetap berada pada level yang sangat tinggi secara historis dan menegaskan bahwa tekanan fiskal masih menjadi tantangan besar bagi banyak negara.
Berdasarkan data terbaru International Monetary Fund (IMF) dalam rilis World Economic Outlook edisi Oktober 2025,Amerika Serikat (AS), China, dan Jepang menyumbang lebih dari 60% total utang global, mencerminkan ukuran ekonomi sekaligus kebutuhan stimulus fiskal yang masif dalam beberapa tahun terakhir.
AS tetap menjadi negara dengan utang terbesar di dunia. Beban utangnya bahkan mencapai US$38,3 triliun setara 35,4% dari total utang global dan 125% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada 2025.
Tekanan ke Rupiah Makin Brutal, Indonesia Menunggu Jurus Pamungkas BI
Pengumuman BI-rate dan gejolak Wall Street bisa menjadi penggerak pasar hari ini. [2,715] url asal
#ihsg #pasar-saham #nilai-tukar-rupiah #bank-indonesia #suku-bunga #investasi #laporan-keuangan #sektor-perdagangan #imbal-hasil-sbn #ekonomi-indonesia #newsletter
(CNBC Indonesia - Research) 18/11/25 18:08
v/42747/
- Pasar di Indonesia mengalami pelemahan secara keseluruhan baik dari saham, SBN, maupun nilai tukar Rupiah
- Wall Street kembali ambruk berjamaah pada perdagangan kemarin dipicu kekhawatiran mengenai AA
- Pengumuman BI-rate dan gejolak Wall Street bisa menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ambruk berjmaah pada perdagangan kemarin, baik saham dan rupiah melemah.
Pasar keuangan hari ini diperkirakan masih bergejolak pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak bak roller-coaster pada perdagangan kemarin, Selasa (18/11/2025). Setelah dibuka menguat tipis, IHSG melanjutkan penguatan di awal sesi sebelum balik arah tertekan dalam, memangkas koreksi hingga turun lagi di akhir perdagangan.
Pada penutupan perdagangan, IHSG terkoreksi 54,96 poin atau melemah 0,65% ke level 8.361,92. Sebanyak 230 saham naik, 418 turun, dan 162 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 19,56 triliun yang melibatkan 40,85 miliar saham dalam 2,52 juta kali transaksi.
Nyaris seluruh sektor perdagangan melemah dengan koreksi terbesar dicatatkan sektor kesehatan energi dan industri. Sedangkan sektor properti menjadi satu-satunya yang mengalami penguatan kemarin.
Saham Bank Central Asia (BBCA) mencatatkan pelemahan terbesar hingga 10,76 indeks poin dan diikuti oleh saham Barito Pacific (BRPT)
Kemudian ada juga saham-saham ekstraksi dan energi tercatat menjadi beban utama IHSG kemarin.
Saham emiten tambang lain yang ikut terkoreksi dalam termasuk Bayan Resources (BYAN), Merdeka Copper Gold (MDKA), Adaro Andalan Indonesia (AADI), United Tractors (UNTR) dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN).
Sementara itu sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tercatat masuk dalam penopang IHSG untuk tidak jatuh lebih dalam di zona merah.
Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (18/11/2025).
Melansir data Refinitiv, nilai tukar rupiah kembali tertekan dari greenback dengan melemah 0,18% ke posisi Rp16.735/US$. Level ini menjadi penutupan terendah sejak 26 September 2025.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat dibuka stagnan di level Rp16.720/US$ sebelum mengalami tekanan dan menyentuh titik terlemah secara intraday di Rp16.763/US$, sebelum pelemahan akhirnya sedikit berkurang menjelang penutupan.
Di saat yang bersamaan, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB tengah mengalami pelemahan sebesar 0,12% atau turun ke level 99,470.
Pelemahan rupiah juga terjadi bertepatan dengan berlangsungnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 November 2025. Para pelaku pasar menantikan keputusan penting terkait arah suku bunga BI, apakah akan kembali dipertahankan atau akan melakukan pemangkasan lanjutan.
Sebagai pengingat, pada RDG sebelumnya yang berlangsung pada 21-22 Oktober 2025, BI memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% setelah sepanjang 2025 melakukan pemangkasan dengan total 125 basis poin (bps).
Keputusan kali ini dinilai krusial bagi stabilitas nilai tukar, terutama dengan arus modal asing yang masih terus keluar dari pasar keuangan domestik, terutama dari pasar surat berharga negara (SBN).
Lanjut ke pasar keuangan di mana imbal hasil dari Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 Tahun tidak mengalami perubahan signifikan imbas hasil dari adanya RDG pada waktu mendatang sehingga investor masih wait and see terhadap surat utang.
SBN 10 Tahun mengalami sedikit kenaikan dari level 6.141% ke level 6.142% naik sebesar 0.001 poin dari penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street kembali ambruk berjamaah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari wkatu Indonesia.
Bursa saham kembali melemah seiring berlanjutnya aksi jual di sektor teknologi akibat kekhawatiran atas valuasi saham terkait kecerdasan buatan (AI). Bitcoin juga sempat turun di bawah US$90.000, menandakan melemahnya selera risiko investor.
Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 498,50 poin (1,07%) menjadi 46.091,74.
Indeks S&P 500 melemah 0,83% ke 6.617,32, menandai penurunan empat hari beruntun atau terpanjang sejak Agustus. Nasdaq Composite turun 1,21% menjadi 22.432,85. Pada level terendah sesi perdagangan, Dow sempat merosot hampir 700 poin (1,5%), sementara S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi masing-masing 1,5% dan 2,1%.
Aksi jual hari ini dipicu oleh penurunan saham Nvidia, bintang chip AI yang anjlok hampir 3%, serta saham-saham "Magnificent Seven" lainnya seperti Amazon dan Microsoft. Amazon turun lebih dari 4%, sedangkan Microsoft merosot hampir 3%.
"Kita bisa melihat penurunan 8%-9% ketika semua ini berakhir. Namun koreksi bisa saja berhenti lebih cepat jika laporan laba Nvidia sesuai ekspektasi analis kami, dan jika data pekerjaan melemah tapi tidak mengarah ke resesi," ujar Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi CFRA, soal proyeksi S&P 500. " kepada CNBC International.
Nvidia telah anjlok lebih dari 10% bulan ini, menjelang laporan keuangan kuartal ketiga yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan Rabu. Perusahaan ini menjadi pusat perdebatan mengenai kekuatan reli pasar berbasis AI tahun ini, terutama karena kekhawatiran atas valuasi teknologi yang mahal dan fundamental AI yang diragukan, menyusul ledakan penerbitan utang oleh Big Tech.
"Jika perusahaan terbaik di industri teratas dalam sektor paling kuat menyampaikan pandangan sangat positif tentang masa depan, sembari melaporkan laba, pendapatan, dan margin yang lebih baik dari ekspektasi, itu akan sangat menenangkan pasar," kata Stovall.
"Pertanyaan sebenarnya adalah, 'Kapan semua belanja capex ini menghasilkan uang?' Itu bukan sesuatu yang akan terjadi kuartal ini atau berikutnya, tetapi diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama." Imbuhnya.
Sebuah kemitraan AI besar yang diumumkan Selasa gagal mengangkat saham terkait seperti sebelumnya.
Startup AI Anthropic mengatakan akan membelanjakan US$30 miliar dengan Microsoft, dan sebagai gantinya Microsoft serta Nvidia akan menginvestasikan miliaran dolar di Anthropic. Namun, Nvidia dan Microsoft tetap melemah setelah pengumuman tersebut.
"Kita sedang melalui fase natural digestion of gains, dan investor mulai mempertanyakan fundamental. Harus ada sesuatu yang membuat investor berkata, 'Mungkin kekhawatiran saya terlalu berlebihan.'"," lanjut Stovall. "
Bitcoin sempat turun di bawah US$90.000 sebelum pulih kembali. Banyak investor teknologi memiliki portofolio kripto besar, sehingga penurunan ini memicu kekhawatiran akan koreksi lebih jauh di pasar saham. Bitcoin terakhir diperdagangkan sedikit di atas US$92.000.
Di luar sektor teknologi, saham Home Depot turun setelah perusahaan perbaikan rumah itu membukukan laba di bawah ekspektasi dan memangkas proyeksi kinerja tahun penuhnya.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen pasar hari ini, terutama dari pengumuman BI rate.
Di balik layar hijau IHSG yang sukses mencetak rekor, tersimpan arus bawah ekonomi makro yang bergerak liar. Bagi investor cerdas, euforia sesaat ini tak boleh menutupi potensi risiko besar yang sedang mengintai portofolio.
Halaman ini hadir untuk membedah realita tersebut secara tuntas. Kita tidak hanya menghadapi ancaman eskalasi konflik di Asia Utara yang berpotensi membunuh rantai pasok industri vital, tetapi juga paradoks besar ekonomi domestik. Indonesia duduk di atas harta karun energi, namun investasi asing justru lebih nyaman "transit" di negara tetangga.
Belum lagi, Bank Indonesia kini harus berdiri sebagai benteng terakhir pertahanan Rupiah menghadapi Dolar AS yang kembali mengamuk.
Berikut analisis mendalam terkait isu strategis yang wajib masuk radar hari ini.
BI Rate Diramal 'Anteng' Demi Jaga Benteng Rupiah
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada hari ini, Rabu (19/11/2025). Berdasarkan hasil polling yang dihimpun CNBC Indonesia, pasar memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga acuannya pada RDG November ini.
Dalam RDG sebelumnya pada 21-22 Oktober 2025, BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI Rate) di 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% dan Lending Facility sebesar 5,50%.
Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga sebanyak lima kali, masing-masing 25 bps pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September. Total pemangkasan mencapai 125 bps, dari 6,00% di akhir 2024 menjadi 4,75% saat ini.
Polling CNBC Indonesia terhadap 12 lembaga/institusi keuangan menunjukkan hasil yang sangat solid. Seluruh responden memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada RDG kali ini.
Hasil konsensus yang kompak ini mencerminkan pandangan bahwa kondisi saat ini belum memberikan ruang yang memadai bagi BI untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan.
Mengapa BI tidak menurunkan bunga (cut rate) untuk memacu ekonomi yang sedang butuh stimulus (seperti kasus UMKM di atas)? Jawabannya adalah prioritas stabilitas rupiah.
Rupiah hanya sekali menguat dalam enam hari terakhir. Dalam sebulan mata uang Garuda juga sudah ambruk 0,7%.
Faktor Eksternal: Dolar AS sedang "mengamuk" (DXY naik) dan Yield US Treasury masih tinggi. Jika BI memangkas bunga, selisih imbal hasil (spread) antara aset Indonesia dan AS akan menipis. Investor asing akan kabur (capital outflow), dan Rupiah bisa jebol ke level yang berbahaya (di atas Rp16.800/USD).
Risiko Geopolitik: Ketidakpastian China-Jepang membuat investor global risk-off. Dalam kondisi ini, mata uang emerging market seperti Rupiah sangat rapuh.
Gubernur BI Perry Warjiyo memilih langkah konservatif. Dengan menahan bunga, BI menjaga daya tarik aset Rupiah (SBN) agar asing tetap mau bertahan.
Konsekuensinya, sektor riil dan properti harus bersabar lebih lama dengan bunga kredit yang tinggi. Ini adalah pil pahit yang harus ditelan demi mencegah krisis nilai tukar yang bisa berdampak jauh lebih fatal berupa inflasi barang impor.
Pasar kini menanti sinyal forward guidance yaitu kapan pelonggaran akan dimulai? Banyak yang bertaruh pada Kuartal I-2026, saat badai global diprediksi mulai mereda.
Hingga saat itu tiba, saham-saham perbankan (Big Banks) tetap menjadi pilihan paling defensif dan logis karena margin bunga bersih (NIM) mereka masih terjaga di era suku bunga tinggi ini.
RI Kaya Raya, Tapi Duitnya 'Nyangkut' di Singapura?
Kabar yang menohok datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Ia secara terbuka mengeluhkan fenomena investasi Amerika Serikat (AS) ke Indonesia yang mayoritas hanya parkir di Singapura.
Fakta ini menelanjangi kelemahan struktural ekonomi kita yaitu Indonesia dijadikan pasar dan basis produksi (tempat lelah), namun "kue" jasa keuangan dan kantor pusat regionalnya tetap dinikmati Negeri Singa.
Mengapa investor AS enggan parkir langsung di Jakarta? Masalahnya klasik namun kronis yaitu kepastian hukum, insentif pajak, dan ease of doing business. Investor global lebih nyaman menaruh entitas legal (Special Purpose Vehicle/SPV) di Singapura karena sistem hukumnya yang pro-bisnis dan transparan.
Dampaknya bagi kita? Cadangan devisa kita tidak menebal secepat yang seharusnya. Dolar masuk ke Singapura dulu, baru dikonversi atau dipinjamkan ke Indonesia. Ini membuat Rupiah rentan.
Pemerintah perlu segera melakukan bedah total-bukan sekadar gimmick pemasaran-untuk menarik Foreign Direct Investment (FDI) masuk langsung ke rekening perbankan nasional. Tanpa reformasi ini, RI hanya akan terus menjadi "halaman belakang" ekonomi Singapura.
Harta Karun Nuklir & Jurus Minyak Bahlil
Di sektor energi, Indonesia ternyata menyimpan potensi yang bisa mengubah peta geopolitik energi masa depan. Temuan terbaru mengonfirmasi bahwa tambang timah di Indonesia tidak hanya berisi logam dasar, tetapi juga mengandung monasit (bahan baku nuklir) dan logam tanah jarang (rare earth).
Ini adalah "harta karun" strategis. Dunia saat ini sedang berlomba beralih ke energi bersih dan teknologi tinggi yang membutuhkan rare earth.
Jika dikelola dengan benar (hilirisasi), valuasi aset tambang negara (MIND ID, PT Timah) bisa melesat jauh di atas valuasi saat ini. Indonesia punya daya tawar (bargaining power) untuk mendikte pasar global, mirip dengan strategi nikel.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bermain pragmatis untuk jangka pendek. Ia memastikan impor minyak dari Amerika Serikat akan mulai berjalan Desember ini. Ini adalah langkah cerdas diversifikasi energi. Selama ini kita terlalu bergantung pada minyak Timur Tengah yang harganya fluktuatif dan jalur distribusinya rawan konflik.
Dengan membeli dari AS, kita mengamankan pasokan energi dalam negeri sekaligus "mengambil hati" AS sebagai mitra dagang. Kombinasi antara penguasaan bahan baku masa depan (nuklir/rare earth) dan keamanan pasokan energi fosil (minyak AS) adalah strategi "dua kaki" yang solid untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Konflik China-Jepang Bukan Sekadar Sentimen
Investor domestik sering kali terjebak dalam bias lokal, merasa aman karena konflik terjadi "jauh" di sana. Namun, apa yang terjadi di Asia Utara saat ini bukan lagi sekadar friksi diplomatik atau sentimen sesaat.
Laporan terbaru yang menyebutkan bahwa konflik fisik antara China dan Jepang telah memakan korban jiwa dan memicu gelombang pengungsian masif hingga 500.000 orang adalah sinyal bencana kemanusiaan sekaligus ekonomi yang nyata.
Mengapa investor RI harus cemas? China dan Jepang adalah "Jantung dan Paru-paru" manufaktur Asia, sekaligus dua mitra dagang (ekspor-impor) terbesar bagi Indonesia. Analisis kami melihat risiko spillover yang mengerikan jika eskalasi ini berlanjut:
Supply Chain Shock: Jika jalur logistik di Laut China Timur terganggu, pasokan bahan baku industri, suku cadang mesin, hingga elektronik ke Indonesia akan terhenti. Ini bisa memicu kelangkaan barang dan lonjakan inflasi dari sisi penawaran (cost-push inflation).
Demand Destruction: China adalah pembeli utama komoditas kita (nikel, batu bara, CPO). Jika ekonomi mereka lumpuh karena perang, permintaan akan anjlok. Harga komoditas bisa terjun bebas, menyeret turun saham-saham sektor energi dan material dasar (Basic Materials) di IHSG.
Istilah "Bear Killer" yang menghantui pasar di bulan Oktober-November ini tampaknya menemukan validasinya. Bukan dari data inflasi AS, melainkan dari ledakan geopolitik di halaman depan rumah kita sendiri. Bursa Asia yang kompak "kebakaran" kemarin adalah peringatan dini: Cash is King mungkin menjadi mantra sementara bagi investor regional hingga debu konflik mulai mereda.
Pengangguran AS Naik
Klaim tunjangan pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims) di Amerika Serikat. Jumlah warga yang terus menerima bantuan pengangguran naik menjadi 1,957 juta untuk pekan yang berakhir pada 18 Oktober 2025, level tertinggi sejak awal Agustus. Angka ini meningkat dari 1,947 juta pada pekan sebelumnya, menurut data yang tersedia di basis data daring Departemen Tenaga Kerja AS per 18 November.
Agenda dan rilis data yang terjadwal
- Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
- Pengumuman BI-rate Bank Indonesia
- Export dan Import Amerika Serikat
- Inflasi Inggris
Waste To Energy Investment Forum 2025: Economic Gains, Environmental Wins di Auditorium Menara Bank Mega, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN
Talkshow Bincang Bahari dengan tema "Harkannas 2025: Protein Ikan untuk Generasi Emas 2045" di Media Center KKP GMB IV, Kota Jakarta Pusat
Seremoni Groundbreaking Pabrik Modular Bosch di Kawasan Industri BD Delta Mas Cikarang, Kabupaten Bekasi
Rakornas Kepegawaian 2025 yang akan berlangsung di Hotel Pullman Jakarta Central Park, Kota Jakarta Barat
Konferensi Utama Pembangunan Berkelanjutan melalui Program Strategis Nasional MBG Tahun 2025 di Ruang Rapat DH 1-5 kantor Kementerian PPN/Bappenas, Kota Jakarta Pusat
ANTARA BUSINESS FORUM di The Westin, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dan CIO Danantara Indonesia
MayBank Indonesia menggelar Media Update - Exploring Privilege Banking Segment yang akan diselenggarakan di Multifunction Room 3 Maybank Indonesia, Kota Jakarta Selatan
Paguyuban Lender Dana Syariah Indonesia akan melaksanakan konferensi pers hasil pertemuan Tim Paguyuban dan DSI yang diadakan di Walking drums, Kota Jakarta Selatan
Puncak Anugerah Jurnalistik Komdigi 2025 yang akan dilaksanakan di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Komunikasi dan Digital.
Agenda emiten di dalam negeri
- Pemberitahuan RUPS Rencana Bumi Resources Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana Astra International Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal ex Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
- Tanggal cum Dividen Tunai Interim Elang Mahkota Teknologi Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Negara dengan Jam Kerja Terbanyak di Dunia, Ada Indonesia?
Sejumlah negara Asia dan Afrika memiliki jam kerja karyawan yang paling berat di dunia. [38] url asal
#jam-kerja #negara-dengan-jam-kerja-terbanyak #jam-kerja-dunia #indonesia #karyawan #asia #afrika #produktivitas #waktu-kerja #perbandingan-jam-kerja
(CNBC Indonesia - Research) 18/11/25 17:39
v/42443/

Sejumlah negara Asia dan Afrika memiliki jam kerja karyawan yang paling berat di dunia. Dalam seminggu, jam kerjanya bisa mencapai 54 jam lebih atau dalam mencapai 10-11 jam kerja per hari dengan 5 hari kerja per pekan.
"Harta Karun" ASEAN Ini Jadi Primadona di Amerika
Sejumlah komoditas unik dari ASEAN bahkan menjadi primadona di AS. [25] url asal
#komoditas-unggulan #kopi-indonesia #pasar-amerika #ekonomi-asean #ekspor #produk-unggulan #primadona-pasar #hubungan-dagang-as-asean #perdagangan-internasional #asean
(CNBC Indonesia - Research) 18/11/25 10:05
v/42406/

Jakarta, CNBC Indonesia- ASEAN memegang peran penting dalam aktivitas ekonomi Amerika Serikat (AS), terutama perdagangan. Sejumlah komoditas unik dari ASEAN bahkan menjadi primadona di AS.
Ini Deretan Kopi Sultan dari Kotoran Hewan, Ada Luwak RI
Fenomena kopi yang dihasilkan dari kotoran hewan sering disebut poop coffee [31] url asal
#kopi-unik #poop-coffee #kopi-dari-kotoran-hewan #kopi-kontroversial #industri-kopi #kopi-luwak #kopi-alami #kopi-premium #metode-pengolahan-kopi #kopi-eksotis
(CNBC Indonesia - Research) 17/11/25 18:08
v/41582/

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena kopi yang dihasilkan dari kotoran hewan sering disebut poop coffee atau "naturally refined coffee" masih menjadi salah satu niche paling unik dan kontroversial di industri kopi global.
Market Kripto Chaos Berdarah-Darah, Cuan Bitcoin Lenyap Rp10.000 T
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengambil langkah pengamanan pasar setelah saham PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO) mengalami lonjakan harga. [169] url asal
(CNBC Indonesia - Research) 18/11/25 08:34
v/41507/
Warta Ekonomi, Jakarta -PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengambil langkah pengamanan pasar setelah saham PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO) mengalami lonjakan harga yang dinilai tidak wajar.
Dalam pengumumannya, BEI menegaskan, "Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada Saham PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO) dan sebagai bentuk perlindungan bagi Investor, PT Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan Saham PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO) mulai sesi I tanggal 18 November 2025 sampai dengan Pengumuman Bursa lebih lanjut."
Suspensi tersebut diterapkan pada Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Langkah ini diambil agar investor memiliki waktu menelaah kembali kondisi dan perkembangan informasi terkait dengan emiten tersebut sebelum aktivitas perdagangan kembali dibuka.
Saham LFLO memang tengah menjadi sorotan. Pada perdagangan Senin (17/11), saham ini ditutup menguat 9,38% ke level Rp700. Dalam waktu seminggu, lonjakannya mencapai 27,27%, bahkan melesat hingga 79,49% dalam sebulan terakhir.
"Bursa mengimbau kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Perseroan," pungkas BEI.
Awas! Pasar Panik Usai Bitcoin Kolaps, Jepang Tebar Ancaman Baru ke RI
Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini [3,004] url asal
#rupiah #ihsg #pasar-saham #nilai-tukar #investasi #bank-indonesia #utang-luar-negeri #sbn #ekonomi-indonesia #perdagangan-saham #analisis-pasar #surat-berharga-negara #saham-teknologi #wall-street #data-ekonomi #pas
(CNBC Indonesia - Research) 17/11/25 15:54
v/41308/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG ditutup menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk berjamaah dibebani oleh penurunan saham teknologi
- Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan kemarin, Seni (17/11/2025). Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,55% atau menguat 46,44 poin ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 354 saham naik, 287 turun, dan 173 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 21,08 triliun yang melibatkan 41 miliar saham dalam 2,69 juta kali transaksi. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 710,06 miliar.
Pada perdagangan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI), Bank Central Asia (BBCA) dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham APEX, MINA dan LUCK mencatatkan kenaikan terbesar.
Mayoritas sektor perdagangan parkir di zona hijau dengan penguatan terbesar dibukukan oleh sektor energi, konsumer non-primer dan properti. Sedangkan sektor kesehatan tercatat melemah paling dalam.
Sejumlah emiten yang menjadi motor pergerakan IHSG kemarin termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), BBCA dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE). Sedangkan emiten yang menjadi beban utama laju IHSG kemarin adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi atau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini.
Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025), dengan pelemahan sebesar 0,18% ke posisi Rp16.720/US$.
Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah dibuka tertekan di level Rp16.700/US$ atau kembali menembus level psikologisnya. Tekanan tersebut berlanjut sepanjang sesi hingga rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya kemarin di Rp16.736/US$.
Sementara itu, indeks dolar dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB masih berada di zona hijau atau menguat tipis 0,02% di level 99,317.
Pergerakan rupiah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/11/2025), terjadi seiring dengan rilis data Utang Luar Negeri (ULN) oleh Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan tren penurunan.
BI melaporkan bahwa ULN Indonesia pada Kuartal III-2025 atau hingga September 2025 tercatat sebesar US$424,4 miliar, menurun dibanding posisi Kuartal II-2025 yang mencapai US$432,3 miliar.
Dengan demikian, ULN Indonesia mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan 6,4% yoy yang terlihat pada kuartal sebelumnya.
Penurunan ULN ini mencerminkan moderasi kebutuhan pembiayaan eksternal baik dari sektor publik maupun swasta, serta kebijakan kehati-hatian BI dan pemerintah dalam menjaga struktur ULN tetap sehat dan berkelanjutan.
Meski demikian, pasar valuta asing menilai bahwa penurunan ULN belum cukup memberikan katalis penguatan bagi rupiah pada kemarin.
Lanjut ke Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit penguatan dari level 6,12 ke level 6,141 naik 0,021 poin. Imbal hasil yang naik menandai investor tengah menjual SBN sehingga harga jatuh.
Aksi jual didorong juga dengan terusnya pelemahan rupiah yang kian terjadi dari waktu ke waktu memberikan resiko tambahan bagi SBN karena ada premi tambahan yang perlu dibayar investor terhadap imbal hasil yang ada saat ini.
Pasar saham AS kembali melemah pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk dibebani oleh penurunan saham teknologi, sementara Wall Street menunggu sejumlah rilis penting pekan ini, termasuk laporan pendapatan Nvidia dan data tenaga kerja AS untuk September.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 557,24 poin, atau 1,18%, dan ditutup pada 46.590,24.
Indeks terseret penurunan saham favorit chip kecerdasan buatan Nvidia, serta Salesforce dan Apple.
Indeks S&P 500 turun 0,92% menjadi 6.672,41, sementara Nasdaq Composite jatuh 0,84% ke 22.708,07.
Nvidia turun hampir 2% menjelang rilis laporan keuangan kuartal ketiga yang dijadwalkan keluar setelah penutupan pasar pada Rabu. Produsen chip tersebut dan saham-saham lain yang terkait perdagangan AI menjadi sumber tekanan belakangan ini karena investor semakin khawatir mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi.
Blue Owl Capital, pemberi pinjaman kredit privat, anjlok hampir 6% akibat kekhawatiran terkait eksposur besar mereka terhadap pembangunan pusat data AI.
"Di satu sisi, penting bagi Nvidia untuk memastikan bahwa permintaan masih kuat dan mereka tidak melihat perlambatan," kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC International.
Dia menambahkan jika perusahaan AI memberi proyeksi permintaan chip yang sedikit saja melemah, pasar akan merespons negatif.
Setelah Nvidia, Walmart akan merilis laporan sebelum pasar dibuka pada Kamis, dan hasil tersebut dapat memberikan gambaran seberapa tertekan konsumen serta apakah pola belanja kini semakin terbelah.
"Saham-saham konsumer, terutama di tengah minimnya data pasar tenaga kerja, akan menjadi sangat penting untuk menentukan bagaimana pasar melihat musim liburan yang sebentar lagi tiba," lanjutnya.
Investor juga akan mencermati data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) untuk September pada Kamis, laporan pertama setelah jeda data ekonomi akibat penutupan sementara pemerintah AS. Laporan tersebut serta risalah rapat The Fed untuk Oktober. Meski mungkin sudah 'basi'dapat memberi sedikit kejelasan di masa ketika pasar masih berada dalam kekosongan data selama beberapa minggu ke depan sambil menunggu pemerintah kembali bekerja normal.
Pasar semakin mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan terakhir tahun ini bulan depan.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% terjadinya pemangkasan, turun dari lebih dari 90% sebulan lalu.
Perekonomian Indonesia pada pertengahan November 2025 tengah menghadapi anomali yang menantang logika siklus bisnis konvensional. Di permukaan, indikator stabilitas makro terlihat solid dengan penurunan utang luar negeri dan likuiditas perbankan yang melimpah ruah.
Namun, jika dibedah hingga ke level mikro dan sektor riil, terdapat tekanan nyata berupa perlambatan konsumsi, keengganan korporasi untuk berekspansi, serta langkah agresif pemerintah dalam memperketat kebijakan fiskal.
Kondisi ini menciptakan "Paradoks Likuiditas". Sistem keuangan nasional sedang kebanjiran uang, namun aliran dana tersebut tersumbat dan gagal memacu mesin pertumbuhan ekonomi secara optimal. Situasi ini menciptakan divergensi tajam antara sektor keuangan yang sangat cair dan sektor riil yang cenderung kering.
Kondisi ekonomi ikut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Tanah Air. Selain faktor tersebut, perkembangan data global juga diperkirakan akan menggerakkan pasar hari ini.
Berikut adalah beberapa sentimen yang diproyeksi akan menjadi penggerak dinamika pasar pada hari ini:
Bank Indonesia Gelar RDG di Tengah Persoalan Pelik Kredit
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur Bank (RDG) pada hari ini dan besok, Rabu (18-19/11/2025). Pelaku pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
BI sudah memangkas suku bunga secara agresif sebesar 125 bps sepanjang tahun ini untuk membantu penurunan suku bunga pinjaman bank. Namun, upaya tersebut belum efektif.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkap data yang mengejutkan pasar yaitu terdapat excess liquidity yang sangat masif, mencapai lebih dari Rp800 triliun, yang saat ini mengendap dalam sistem perbankan nasional. Angka ini setara dengan porsi yang sangat signifikan dari total belanja negara dalam APBN.
Dalam teori ekonomi, melimpahnya likuiditas dalam jumlah raksasa seharusnya menjadi katalis utama bagi akselerasi pertumbuhan. Uang yang menumpuk di brankas bank semestinya mendorong penurunan suku bunga kredit secara alami dan memicu gelombang ekspansi bisnis.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan transmisi yang macet. BI menegaskan dana tersebut tidak mengalir deras ke sektor riil seperti manufaktur atau properti, melainkan hanya berputar di instrumen keuangan jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau pasar uang antarbank yang minim risiko namun juga minim dampak riil.
Akar permasalahan fenomena ini bukan terletak pada ketidakmampuan bank meminjamkan uang (supply side), melainkan pada hilangnya selera berutang dunia usaha (demand side). Data perbankan menunjukkan fenomena undisbursed loan yang meningkat signifikan.
Ini adalah kondisi di mana fasilitas kredit yang sejatinya sudah disetujui bank dan ditandatangani nasabah korporasi, justru tidak ditarik atau dicairkan. Korporasi besar memilih sikap wait and see ekstrem. Tingginya ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar domestik membuat perusahaan menahan rencana belanja modal (Capex).
Strategi menjaga arus kas (cash preservation) lebih dipilih daripada risiko ekspansi berbiaya utang, memicu risiko credit crunch yang disebabkan oleh keengganan debitor.
Ironi likuiditas semakin terlihat kontras ketika membedah struktur pendanaan perbankan. Meskipun ada Rp800 triliun uang menganggur, perbankan nasional justru terlihat "haus" likuiditas lewat perilaku kompetitif memperebutkan dana nasabah besar. Terjadi perang suku bunga sengit di segmen deposito institusi.
Data pasar menunjukkan perbankan memberikan perlakuan istimewa atau special rate kepada pemilik dana jumbo, khususnya instansi Pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rata-rata suku bunga deposito bagi kelompok deposan kakap ini mencapai 5,97%, jauh di atas suku bunga penjaminan standar maupun bunga nasabah ritel. Fenomena ini mengindikasikan masalah struktural dalam distribusi likuiditas antar bank.
Bank membutuhkan dana stabil dari institusi untuk menjaga rasio likuiditas jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio), meskipun harus dibayar mahal. Konsekuensinya, Biaya Dana (Cost of Funds) perbankan tetap tinggi.
Ketika biaya dana mahal, bank sulit menurunkan suku bunga kredit dasar secara agresif. Ini menciptakan lingkaran setan: bank ingin menyalurkan kredit tapi biayanya mahal, sementara korporasi enggan mengambil kredit karena bunganya dianggap belum cukup menarik dibanding risiko bisnis.
BI Beri Insentif Buat Bunga yang Bawa Bunga Turun
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan BI siap mengguyur insentif likuiditas tambahan, namun insentif ini bersifat resiprokal yaitu volumenya akan sangat bergantung pada seberapa jauh perbankan bersedia menurunkan suku bunga mereka.
Dengan mekanisme ini, BI berharap perbankan terpacu untuk menekan margin dan efisiensi biaya dana demi mendapatkan suntikan likuiditas murah dari bank sentral, sehingga transmisi kebijakan moneter ke sektor riil bisa berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, untuk mencegah kekeringan likuiditas di bank tertentu selama proses transisi ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan intervensi pasar. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)-BRI, Mandiri, BNI, BTN-telah menyalurkan dana penempatan pemerintah sebesar Rp185 triliun.
Terbaru, LPS kembali menyuntikkan penempatan dana sebesar Rp7,6 triliun ke BRI, Bank Mandiri, dan Bank DKI. Langkah ini merupakan strategi "jaring pengaman" untuk memastikan roda intermediasi perbankan tetap terlumasi dengan baik, meski aliran uang ke sektor riil masih tersendat.
Tekanan Ganda Sektor Riil: Konsumsi Terbatas & Pengetatan Subsidi
Jika korporasi enggan berekspansi, akar masalahnya seringkali bermuara pada daya beli konsumen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengeluarkan pernyataan bernada peringatan yakni pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat terbatas.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan pertumbuhan konsumsi masyarakat RI masih terbatas. Meski demikian dirinya menegaskan permodalan perbankan masih kuat dan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
"Jadi di satu sisi ada kondisi global yg memang masih penuh tantangan, dan di lain sisi pertumbuhan kembali atau rebound dari konsumsi dari masyarakat domestik terlihat masih terbatas," ujar Mahendra dalam rapat kerja Komisi IV DPD RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) dan OJK, Senin (17/11/2025).
Pernyataan regulator ini mengonfirmasi kekhawatiran pasar bahwa pemulihan ekonomi di tingkat akar rumput belum berjalan solid. Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ketika konsumsi disebut terbatas, artinya pendapatan riil masyarakat sedang tertekan atau masyarakat memilih menahan belanja karena pesimisme ekonomi.
Di tengah serangkaian berita pengetatan, pasar mendapatkan sedikit angin segar. Pertama, terkait nasib masyarakat bawah yang terjerat utang. OJK memberikan pembaruan positif bahwa aturan teknis mengenai pemutihan kredit macet UMKM sedang dalam tahap finalisasi.
Kebijakan ini krusial bagi perbankan Himbara untuk membersihkan neraca dari aset kurang maksimal, sekaligus memberikan jalan bagi jutaan debitur UMKM untuk keluar dari daftar hitam (blacklist) dan kembali mengakses modal usaha.
Utang Turun
Kabar positif kedua datang dari indikator makroekonomi eksternal. Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun menjadi US$ 424,4 miliar. Penurunan ini memberikan bantalan lebih tebal bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak nilai tukar global.
Meskipun Rupiah masih mengalami tekanan pelemahan terhadap Dolar AS, BI menegaskan volatilitas tersebut masih "stabil" dan terkendali melalui intervensi pasar terukur. Neraca yang lebih ramping dari sisi utang luar negeri membuat risiko krisis mata uang semakin kecil.
Ekonomi Jepang Kontraksi, 'Double Trouble' bagi Asia
Tekanan eksternal bagi pasar Indonesia semakin bertambah dengan rilis data ekonomi terbaru dari Asia Timur. Pagi ini, data menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4%.
Angka ini menjadi kejutan negatif bagi pasar (negative surprise) yang sebelumnya sudah dibuat cemas oleh eskalasi ketegangan militer antara Jepang dan China.
Kontraksi ini menandakan bahwa permintaan domestik dan aktivitas industri di Jepang sedang melemah signifikan. Bagi Indonesia, kabar ini membawa risiko ganda atau double trouble. Pertama, dari sisi perdagangan, Jepang adalah salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di tanah air.
Perlambatan ekonomi di Tokyo berpotensi menekan permintaan ekspor komoditas dan manufaktur dari Indonesia, yang pada akhirnya bisa memperburuk kinerja neraca dagang.
Kedua, dari sisi sentimen pasar, kombinasi antara kontraksi ekonomi dan konflik geopolitik (insiden drone militer) menciptakan badai ketidakpastian yang sempurna di kawasan Asia.
Hal ini memberikan alasan kuat bagi investor asing untuk terus mengambil posisi defensif (risk-off) dan menahan aliran modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia, setidaknya sampai ada sinyal pemulihan yang lebih jelas dari raksasa ekonomi Asia tersebut.
Sentimen Geopolitik Asia: Jepang vs China Memanas
Analisis pasar domestik tidak lengkap tanpa melihat faktor eksternal. Lampu kuning menyala di kawasan Asia Timur. Ketegangan geopolitik antara Jepang dan China kembali memanas setelah insiden militer di mana jet tempur Jepang dikerahkan untuk menghalau pesawat nirawak (drone) militer China.
Eskalasi konflik ini langsung direspons negatif oleh pasar keuangan regional dengan sikap risk-off. Ketegangan ini menambah premi risiko investasi di kawasan Asia Pasifik dan berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang ke aset safe haven jika situasi memburuk.
Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia sedang mencoba menavigasi jalan terjal di antara dua tebing curam yaitu likuiditas perbankan yang melimpah namun macet, dan daya beli masyarakat yang tergerus oleh kebijakan fiskal ketat.
Pasar kini menanti apakah stimulus pemutihan kredit dan belanja pemerintah di akhir tahun mampu memecahkan kebuntuan ekonomi ini.
Bitcoin Jatuh
Bitcoin merosot hingga 1% ke level US$92.513 pada pukul 13.21 waktu New York pada Senin kemarin. Ini adalah kejatuhan di bawah US$93.000 untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh bulan.
Di berbagai meja perdagangan dan media sosial, rasa cemas mulai terasa. Total nilai pasar Bitcoin anjlok sekitar US$600 miliar dari level puncaknya pada Oktober. Dalam dunia kripto, volatilitas adalah hal yang biasa. Yang berbeda kali ini adalah betapa cepat keyakinan pasar menguap, dan betapa sedikit penjelasan yang benar-benar masuk akal.
Level US$92.000 kini menjadi area support kritis. Ketidakpastian makro dan likuiditas yang lemah juga dapat membatasi potensi rebound.
Menurut CoinGecko, Bitcoin terakhir diperdagangkan di level US$92.123 setelah turun 2,3% dalam 24 jam terakhir dan sekitar 13% dalam sepekan. Volume perdagangan BTC melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sehari terakhir menjadi US$114 miliar.
Sejauh ini, sekitar US$335 juta kontrak derivatif Bitcoin telah mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, mendorong total likuidasi pasar kripto menjadi US$725 juta dalam 24 jam.
Agenda dan rilis data yang terjadwal:
- Reserve Bank of Australia meeting minutes
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari pertama
Coffee Morning CNBC Indonesia "Building National Energy Security: Balancing Infrastructure, Energy Transition, and Resource Sovereignty" di Amanaia Menteng, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden Direktur Bank DBS Indonesia dan Wakil Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi NasDem.
Konferensi pers Serikat Pekerja Indonesia dan Partai Buruh terkait rencana aksi unjuk rasa 22 November 2025 via zoom meeting.
Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Maganghub Soft Skill Programme di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan.
Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia menggelar The Biggest Real Estate Summit 2025di Raffles Hotel, Kota Jakarta Selatan.
Deloitte's Southeast Asia IPO Press Conference 2025 via zoom meeting
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam rangka aksi korporasi spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) di Ballroom Menara BTN, Kota Jakarta Pusat
Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Turkiye & Indonesia di Museum Tekstil, Kota Jakarta Pusat.
Agenda emiten di dalam negeri:
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nippon Indosari Corpindo Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sinar Mas Multiartha Tbk
- Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Perang Data Bikin Tegang: BI Rate, Transaksi Berjalan-Kabar Genting AS
Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini [3,323] url asal
#rupiah #ihsg #yield-sbn #pasar-saham #bank-indonesia #suku-bunga #investasi #volatilitas-pasar #ekonomi-indonesia #laporan-pasar #newsletter #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 15/11/25 19:04
v/40050/
- Pasar keuangan Indonesia dan rupiah melemah sementara harga SBN nyaris stagnan
- Wall Street ditutup bervariasi menunggu rapor Nvidia dan data ekonomi AS
- Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar di Indonesia bergerak beragam pada akhir pekan lalu. Penguatan dapat dilihat pada nilai tukar rupiah, imbal hasil obligasi stagnan tetapi di lain sisi bursa saham melemah pasar Jumat (14/11/2025)
Pasar keuangan Indonesia diproyeksikan akan mengalami volatilitas pada hari ini hingga satu pekan ke depan. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melandai di 8.370,43 (-0,02%) pada perdagangan Jumat pekan lalu (14/11/2025) dengan total market cap menyentuh angka Rp 3.591 triliun pada penutupan pasar.
Terjadi net foreign sell sebesar Rp 73,42 milyar. Pasar saham Indonesia pada saat ini ditopang besar oleh investor domestik hingga kurang lebih 76% dari saham keseluruhan pasar dikuasai oleh investor dalam negeri.
Terdapat 480 saham mengalami pelemahan, 241 saham mengalami penguatan, dan 245 saham tidak bergerak dengan nilai transaksi mencapai Rp 20,82 triliun pada Jumat (14/11/2025).
Pasar ditopang oleh kinerja saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang beberapa hari ke belakang tengah rally sampai dengan double digit persen akibat dari sisi indikator, serta adanya sentimen selesainya akuisisi BUMI dalam akuisisi perusahaan pertambangan emas dan tembaga di Australia bernama Wolfram senilai hampir 100% dengan nilai transaksi mencapai hampir Rp 700 milyar.
Selain itu PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) +70 (+15.91%), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) +50 (+0,6%), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) +150 (+5,19%), dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) +525 (+3,70%) menjadi saham dengan nilai transaksi tertinggi pada Jumat (14/11/2025)
Kemudian DSSA, MORA, dan TLKM menjadi tiga perusahaan tertinggi penggerak naiknya IHSG, sementara AMMN, BREN, dan BRMS menjadi tiga perusahaan dengan penggerak turunnya IHSG hingga penutupan pasar pada sore hari.
Beralih ke pasar rupiah, mata uang ditutup ditutup di Rp16.690/US$ atau mengalami penguatan sebesar 0,18%.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia mengalami kenaikan tipis bahkan hampir stagnan ke angka 6.1196% dari hari sebelumnya yang ditutup pada level 6,1123%.
Stagnasi pada imbal hasil ini diakibatkan oleh adanya investor yang masih wait and see dan menentukan arah kebijakan dan data penting yang akan keluar pada beberapa waktu mendatang.
Berdasarkan hasil dari perdagangan pasar saham di Wall Street pada Jumat (14/11/2025), masing-masing ditutup bervariasi.
Nasdaq ditutup pada level 22.900 naik sebesar 30,23 poin (+0,13%). Sementara S&P 500 ditutup sedikit melemah sebesar 0,05% ke level 6.734,11.
Sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) menjadi index yang tertekan pada penutupan pasar mengalami penurunan sebesar -0,65% ke level 47.147 bahkan tidak pernah menyentuh area hijau pada waktu perdagangan.
Sesi perdagangan terakhir ini diwarnai oleh kehati-hatian investor yang menimbang ulang ekspektasi mereka terhadap pemotongan suku bunga The Fed lebih lanjut di bulan Desember. Terhentinya rilis data ekonomi penting seperti inflasi dan ketenagakerjaan akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang terjadi sebelumnya, membuat bank sentral AS kekurangan data acuan untuk mengambil keputusan.
Data Index yang bervariasi ini mengindikasikan adanya kebingungan dalam pasar walaupun pada saat ini Fear and Greed Index pada pasar saham di Amerika masih berada pada level 20-an (Extreme Fear) selama beberapa minggu ini.
Hal ini dipacu oleh adanya ketakutan pada AI Bubble yang semakin hari semakin nyata dirasakan oleh pasar akibat valuasi perusahaan-perusahaan AI di AS yang semakin tidak terkendali akibat pergerakan harga sahamnya yang ekspansif.
Di tengah kebimbangan pasar ini, dua berita besar dari Washington dan Omaha menyita perhatian investor.
Pertama, dari sisi kebijakan, Presiden Donald Trump secara mengejutkan menandatangani perintah eksekutif pada Jumat untuk memotong atau menghapus apa yang disebutnya tarif "resiprokal" pada berbagai komoditas impor, terutama bahan pangan.
Langkah ini mencakup produk-produk utama seperti daging sapi, kopi, pisang, tomat, dan berbagai buah-buahan tropis.
Ini juga merupakan sebuah pengakuan implisit bahwa kebijakan tarifnya selama ini turut berkontribusi pada kenaikan harga, sebuah sentimen yang santer terdengar pasca-kemenangan Demokrat dalam pemilihan sela (off-year elections) baru-baru ini di mana isu ekonomi menjadi faktor penentu.
Kedua, dari jagat korporasi, investor legendaris Warren Buffett kembali membuat gebrakan. Dalam laporan terbarunya, Berkshire Hathaway mengungkap kepemilikan saham baru senilai US$ 4,3 miliar di Alphabet, induk perusahaan Google.
Ini adalah taruhan besar yang mengejutkan, mengingat Buffett secara historis dikenal menghindari saham-saham teknologi yang tumbuh cepat, meski Apple telah lama menjadi portofolio terbesarnya.
Banyak analis meyakini langkah ini didorong oleh manajer investasinya, Todd Combs dan Ted Weschler, yang lebih terbuka pada sektor teknologi.
Pada saat yang sama, Berkshire juga terlihat kembali memangkas kepemilikan sahamnya di Apple, meskipun raksasa iPhone itu masih menjadi investasi terbesarnya. Langkah ini menjadi sorotan karena diambil menjelang akhir era kepemimpinan Buffett selama 60 tahun di Berkshire.
Kembali ke pasar, dengan sentimen yang masih rapuh, investor kini mencari katalis baru. Laporan pendapatan dari raksasa teknologi menjadi fokus utama minggu depan.
Pasar tengah menyoroti laporan keuangan Nvidia sebagai pemantik potensial yang akan dipublikasikan pada Rabu (19/11/2025) mendatang.
Dengan saham Nvidia yang berhasil pulih dari tekanan jual pada hari Jumat, laporan yang kuat dari raksasa AI ini diyakini dapat menjadi pemicu yang dibutuhkan pasar untuk memulai reli yang lebih luas, dan menarik sektor teknologi keluar dari bayang-bayang kekhawatiran valuasi.
Namun potensi eskalasi geopolitik kian memanas antara Jepang dan juga China akibat perkataan yang dilontarkan oleh PM Sanae Takaichi pada akhir pekan lalu, dibahas pada halaman selanjutnya.
Fokus utama pasar domestik pekan ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan juga ucapan PM Jepang Takaichi yang berpotensi meningkatkan tensi geopolitik di lautan China.
Dari Amerika Serikat, keputusan Trump membatalkan tarif impor sejumlah komoditas pertanian menjadi kabar positif. Berikut sejumlah sentimen pasar pekan depan:
Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) September 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode September pada hari ini, Senin (17/11/2025).
Sebagai catatan, pada Agustus 2025 utang luar negeri tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$ 431,9 miliar , atau secara tahunan tumbuh 2,0% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4,2% (yoy) pada Juli 2025.
Perkembangan ini terutama bersumber dari melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN sektor swasta.
Posisi ULN pemerintah pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$213,9 miliar dolar AS, tumbuh sebesar 6,7% (yoy), atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan 9,0% (yoy) pada Juli 2025.
Posisi ULN swasta tercatat sebesar US$194,2 miliar dolar, atau mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,1% (yoy) pada Agustus 2025, lebih besar dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,2% (yoy)
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI)
Bank Indonesia akan menggelar RDG pada Selasa dan Rabu pekan ini (18-19/11/2025) dan akan mengumumkan kebijakan pada Rabu.
Berbeda dengan RDG-RDG sebelumnya yang sarat akan tekanan eksternal, pertemuan kali ini digelar di tengah lanskap makroekonomi global yang secara signifikan lebih menguntungkan bagi aset emerging markets, termasuk Indonesia.
Narasinya telah bergeser 180 derajat. Pertanyaan pasar kini bukan lagi "apakah BI akan menaikkan suku bunga untuk bertahan?" melainkan "seberapa besar ruang kebijakan yang kini dimiliki BI di tengah sinyal pivot The Fed, yang akan menghentikan reducing balance sheetnya pada Desember mendatang?"
Ini adalah inti dari perubahan paradigma pasar. Bank Indonesia saat ini mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Di seberang Pasifik, Federal Reserve AS (The Fed) memiliki suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada rentang 3,75% - 4,00%.
Secara matematis, ini menempatkan Indonesia pada posisi interest rate differential (spread) positif yang atraktif sebesar 75 hingga 100 basis poin (bps). Skenario ini secara fundamental sangat menguntungkan.
Spread positif yang solid ini berfungsi sebagai insentif kuat bagi capital inflow ke instrumen SBN (Surat Berharga Negara) dan menjadi 'jangkar' alami untuk stabilitas, bahkan potensi apresiasi, nilai tukar Rupiah ke depan apabila Bi-Rate tetap ditahan pada level saat ini.
Posisi superior ini memberikan kemewahan bagi BI untuk tidak perlu reaktif terhadap kebijakan The Fed dan dapat lebih fokus pada mandat stabilitas domestik, apabila kondisi pasar tetap berjalan sesuai dengan rencana.
Dari sisi domestik, data-data terbaru justru memberi BI justifikasi untuk tetap prudent (hati-hati). Pertumbuhan Kredit (Loan Growth) per Oktober tercatat melambat ke level 7,7% (YoY).
Moderasi ini mengindikasikan bahwa transmisi kebijakan moneter BI-pasca kenaikan terakhir ke 4,75%-sudah berjalan efektif dan mulai mendinginkan permintaan kredit di sektor riil, sehingga mengurangi risiko overheating.
Rilis FOMC, Sinyal 'Pivot' The Fed Semakin Kuat?
Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan merilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (20/11/2025). Rilis ini akan menjadi pegangan bagi pelaku pasar mengenai arah kebijakan The Fed ke depan.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar kini terbelah (split) dalam memproyeksikan langkah The Fed.
Meskipun 55,6% pelaku pasar masih berekspektasi The Fed akan menahan (hold) suku bunga, porsi yang signifikan 44,4% justru telah melakukan pricing-in atas skenario pemangkasan suku bunga (rate cut).
Chairman The Fed Jerome Powell bulan lalu mengatakan pemangkasan Desember belum pasti. Namun, data ekonomi menunjukkan pemburukan.
Pasar meyakini The Fed akan segera melakukan berbagai cara untuk menghindari hard landing ekonomi imbas dari kebijakan pada masa Covid beberapa tahun ke belakang.
Bagi Indonesia, sinyal dovish The Fed adalah katalis bullish primer, yang berpotensi menekan Indeks Dolar (DXY) dan membuka ruang penguatan Rupiah lebih lanjut. Namun tetap harus waspada terhadap adanya ancam di mana The Fed yang akan mempertahankan suku bunganya pada FOMC mendatang.
Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan
Pada Kamis (21/11), Bank Indonesia mengumumkan data NPI dan Transaksi Berjalan kuartal III-2025. Data ini sangat penting dan ditunggu pelaku pasar dan publik karena menjadi cerminan seberapa kekuatan fundamental Indonesia di tengah tekanan eksternal.
Sebagai catatan, NPI Kembali mengalami defisit pada kuartal II-2025. Defisit dipicu derasnya arus keluar modal asing di saham dan obligasi. Kondisi ini membuat defisit neraca transaksi finansial membengkak.
Data Bank Indonesia mencatat defisit NPI pada kuartal II-2025 tercatat mencapai US$6,74 miliar,sekaligus menjadi defisit yang tertinggi sejak kuartal II-2023.
Bila dibandingkan dengan periode kuartal pertama tahun ini, terjadi kenaikan defisit yang sangat besar, dimana pada kuartal I-2025 defisit NPI tercatat sebesar US$800 juta. Artinya terjadi kenaikan deficit NPI sebesar US$5,94 miliar.
Transaksi berjalan membukukan defisit sebesar US$3,01 miliar pada kuartal II-2025 atau 0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut adalah yang tertinggi sejak kuartal I-2020 yang tercatat sebesar US$3,36 miliar.
Defisit pada transaksi berjalan ditengarai oleh meningkatnya defisit pada pendapatan primer, yang tercatat defisit sebesar US$35,87 miliar di kuartal II-2025, naik dari defisit di periode sebelumnya yakni US$9,04 miliar.
Kondisi ni diperparah dengan menurunnya surplus pada neraca perdagangan barang. Pada kuartal II- 2025, tercatat surplus US$10,6 milia turun dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat surplus US$13 miliar.
Perkembangan Uang Beredar Oktober 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data uang beredar pada Oktober 2025 pada Jumat (21/11/2025). Data ini akan menjadi pegangan seberapa besar belanja masyarakat di awal kuartal IV-22025.
Data ini juga menjadi indikator penting bagi likuiditas perbankan dan permintaan kredit. Kenaikan likuiditas dapat mendukung aktivitas ekonomi, namun pasar juga mempertimbangkan implikasinya terhadap inflasi dan strategi kebijakan BI ke depan.
Sebagai catatan, uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tumbuh lebih tinggi.Pertumbuhan M2 pada September 2025 sebesar 8,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 sebesar 7,6% (yoy) sehingga tercatat Rp9.771,3 triliun. Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2% (yoy).
Faktor Penopang Kebijakan Akomodatif China
People's Bank of China (PBoC) akan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis (20/11/2025). PBoC diperkirakan akan menahan Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun di level 3,0%.
Kebijakan moneter China yang tetap akomodatif ini krusial untuk menjaga harga komoditas global. Bagi Indonesia, ini membantu menjaga floor price untuk ekspor andalan (batu bara, CPO, nikel), yang pada gilirannya menopang surplus neraca perdagangan dan memberi fondasi kuat bagi stabilitas Rupiah.
Di lain sisi, China saat ini memfokuskan kebijakannya pada penjagaan nilai tukar CNY seperti yang terjadi pada pekan sebelumnya di mana CNY ditekan untuk tetap berada di level rendah guna meningkatkan ketergantungan dagang dan stabilitas akibat tarif yang kian ditetapkan oleh Amerika.
Stagflasi Jepang dan Ancaman Repatriasi Yen
Jepang akan mengumumkan sejumlah data penting mulai dari pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 pada hari ini, Senin (17/11/2025), neraca perdagangan Oktober pada Rabu (19/11/2025) dan inflasi pada Jumat (21/11/2025).
ata ekonomi Jepang menunjukkan dilema stagflasi yang sempurna. Pertumbuhan melambat sementara inflasi tinggi.
Ini menempatkan Bank of Japan (BoJ) dalam posisi terjepit. Risiko terbesarnya adalah jika BoJ terpaksa mengorbankan pertumbuhan dan mulai menormalisasi suku bunga negatifnya untuk memerangi inflasi. Jika ini terjadi, 'pesta' Yen Carry Trade akan berakhir.
Ini berpotensi memicu repatriasi modal (capital outflow) besar-besaran dari investor Jepang-salah satu pemegang SBN terbesar-yang menarik dana mereka kembali ke Yen. Ini adalah risiko eksternal utama yang kini menggantikan The Fed.
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia) |
Hancurnya Hubungan Jepang dan China
Seluruh rencana di atas dapat berubah karena satu perbuatan yang dilakukan oleh PM Baru Jepang Sanae Takaichi yang baru menjabat beberapa waktu ini. Suatu perkataan krusial baru saja dilontarkan pada akhir pekan lalu.
Takaichi mengucapkan sinyal buruk terkait potensi naiknya tensi geopolitik di Taiwan ini menjadikan suatu ancaman besar bagi perekonomian dunia. Hal ini membentuk suatu kekhawatiran di pasar akibat respon balik oleh China untuk rakyatnya tidak datang ke Jepang terlebih dahulu.
Hal ini mampu membentuk suatu gangguan supply chain di kawasan Taiwan, terutama TSMC yang merupakan perusahaan pembuat semi-conductor terbesar di dunia. Gangguan ini berpotensi menghilangkan momentum rally AI yang sekarang tengah terjadi pada Wall Street.
Diproyeksikan penutupan pasar saham di Amerika pada pagi esok hari nanti akan berisi pelemahan terutama ditopang oleh sektor teknologi dan juga AI.
Selain itu, konflik ini juga mengganggu potensi pendapatan perusahaan-perusahaan AI yang berada di Amerika sehingga forecast investasi juga akan berubah dan terganggu dalam waktu dekat apabila hal ini tidak berkepanjangan.
Tensi geopolitik ini sangat krusial bagi Amerika dan China karena masa depan dunia dan AI sangat bergantung pada produksi chip yang dibuat oleh TSMC yang memiliki weight market share terbesar di dunia.
Data Ekonomi Amerika
Dengan berakhirnya shutdown pemerintahan terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, berbagai lembaga statistik utama kini mengumumkan rencana untuk menerbitkan jadwal terbaru bagi rilis data ekonomi yang tertunda.
Namun ketidakpastian masih ada, karena beberapa laporan kunci kemungkinan pada akhirnya dibatalkan jika lembaga terkait tidak dapat menyelesaikannya akibat terganggunya proses pengumpulan data. Meski begitu, serangkaian indikator swasta dan regional tetap akan memberikan sedikit gambaran mengenai kondisi ekonomi AS.
Penjualan rumah existing diperkirakan tidak banyak berubah pada Oktober. Indeks Pasar Perumahan NAHB diperkirakan turun sedikit, sementara Indeks Manufaktur Empire State New York kemungkinan melemah lebih lanjut.
Data lain mencakup S&P Global Flash PMI, laporan pekerjaan mingguan ADP, pembacaan akhir Sentimen Konsumen Michigan, serta survei manufaktur Fed Philadelphia dan Kansas. Dari sisi laba perusahaan, beberapa perusahaan besar yang akan melaporkan kinerjanya minggu depan termasuk Nvidia dan Walmart.
Trump Berikan Pengecualian Tarif
Presiden Donald Trump pada hari Jumat mengecualikan sejumlah impor pertanian utama seperti kopi, kakao, pisang, dan produk daging sapi tertentu dari tarif tinggi yang ia berlakukan.
Langkah ini diambil saat Trump menghadapi tekanan politik akibat tingginya harga di toko bahan makanan AS. Sejumlah distributor daging sapi, kopi, cokelat, dan bahan pangan umum lainnya telah menaikkan harga sejak tarif Trump diberlakukan tahun ini, menambah tekanan pada anggaran rumah tangga yang sudah terpukul oleh inflasi tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Tindakan Trump pada Jumat itu juga mengecualikan berbagai jenis buah, termasuk tomat, alpukat, kelapa, jeruk, dan nanas. Selain kopi, penurunan tarif juga mencakup teh hitam dan hijau, serta rempah-rempah seperti kayu manis dan pala.
Langkah ini menandai perubahan sikap bagi Trump, yang sebelumnya bersikeras bahwa tarif diperlukan untuk melindungi bisnis dan pekerja AS. Ia mengklaim bahwa konsumen AS pada akhirnya tidak akan menanggung beban tarif yang lebih tinggi tersebut.
Pengecualian tarif ini muncul hanya sehari setelah Trump mencapai kerangka kesepakatan dagang dengan empat negara Amerika Latin-termasuk tarif 10% untuk sebagian besar barang dari Argentina, Guatemala, dan El Salvador, serta 15% untuk barang dari Ekuador. Kebijakan ini juga menghapus bea masuk untuk produk yang tidak ditanam atau diproduksi dalam jumlah cukup di AS, seperti pisang dan kopi.
Harga pangan yang terus naik telah membebani rumah tangga AS selama beberapa tahun terakhir. Data Indeks Harga Konsumen menunjukkan harga bahan makanan di rumah meningkat sekitar 2,7% secara tahunan pada September. (Data terbaru tertunda akibat shutdown pemerintah).
Pengecualian tarif ini bertujuan membantu meredam kenaikan harga bahan makanan, meskipun para ahli memperingatkan bahwa faktor lain seperti kekurangan pasokan global juga memengaruhi harga, terutama untuk kopi dan daging sapi.
Dalam setahun terakhir, AS telah memberlakukan tarif tinggi terhadap pemasok utama termasuk Brasil, Australia, Selandia Baru, dan Uruguay. Brasil-produsen daging sapi terbesar kedua di dunia-menghadapi tarif efektif yang mencapai lebih dari 75%, sehingga menurunkan volume impor ke AS pada saat populasi ternak di negara tersebut berada di level terendah dalam hampir 75 tahun.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- GDP Growth Jepang
- Industrial Production Jepang
- FDI YoY China
Pertemuan Menteri Perdagangan dengan Menteri UMKM dengan agenda pembahasan "Isu Thrifting" di Gedung Utama, Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat.
Press conference Orange Forum 2025 "From The South To The Future: Financing Global Sustainability Through Inclusion" di Main Hall BEI, Jakarta Selatan.
National Seminar & FEB UI Tax Clinic Launch - Reinventing Tax Compliance: From Enforcement to Cooperative Comliance di Auditorium FEB UI, Depok, Jawa Barat. Turut hadir Direktur Jenderal Pajak dan Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan.
13th US-Indonesia Investment Summit dengan tema "Turning Headwinds into Opportunities: Unlocking Investment Potential to Power Indonesia's Growth" di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Konferensi pers Indonesia AI Day for Higher Education bertema "Experience The Shift: From Traditional to Tech-Driven Education" di Meeting Room MX Center, Gedung Indosat, Jakarta Pusat. Narasumber: Director & Chief Business Officer Indosat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Tera Data Indonusa Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Adi Sarana Armada Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Prima Globalindo Logistik Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interims Darya Varia Laboratoria Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
Gencar Terbitkan Obligasi, Raksasa SWF Dunia Masuki Babak Baru
SWF dulu mengandalkan suntikan modal dari pemerintah tetapi kini aktif mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk lewat penerbitan obligasi. [2,115] url asal
#manajemen-kekayaan #sovereign-wealth-fund #pendanaan-alternatif #investasi #temasek-holdings #diversifikasi-aset #pasar-obligasi #ekonomi-global #obligasi #swf
(CNBC Indonesia - Research) 07/09/25 19:06
v/39987/
Jakarta, CNBC Indonesia- Sovereign Wealth Fund (SWF) terus berevolusi mengikuti kebutuhan jaman. Jika dulu hanya mengandalkan suntikan modal dari pemerintah, kini sejumlah SWF mulai aktif mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk lewat penerbitan obligasi.
Istilah "sovereign wealth fund" baru diciptakan pada tahun 2005, namun dana kekayaan negara telah ada setidaknya sejak tahun 1950-an. Pada bentuk awalnya, SWF sering dimulai sebagai dana stabilisasi komoditas.
Kuwait Investment Authority (KIA) yang didirikan pada 1953 merupakan salah satu SWF awal yang digunakan untuk mengelola kekayaan minyak Kuwait yang saat itu sedang berkembang pesat.
KIA didirikan untuk mengelola surplus pendapatan minyak dan mempersiapkan negara menghadapi era pasca-minyak. Dana ini menggunakan pendapatan dari ekspor minyak untuk diinvestasikan ke luar negeri, dengan tujuan mendiversifikasi ekonomi Kuwait dan melindungi generasi mendatang.
Sejak lahir pada 1950an, SWF sudah berkembang pesat. SWF kini berperan dalam diversifikasi aset, peningkatan imbal hasil cadangan devisa, hingga pembiayaan masa depan.
Jika pada tahun 2000, SWF mengelola aset senilai US$ 1,2 triliun, tetapi jumlah itu melonjak lebih dari 11 kali lipat menjadi US$12-13 triliun per pertengahan 2025.
SWF Melebarkan Strategi Pendanaan
Seiring perkembangan jaman dan kebutuhan, SWF pun melebarkan strategi pendanaan. Bila dulu sumber pendanaan SWF berasal dari pendapatan sumber daya alam tetapi kini banyak yang memanfaatkan obligasi sebagai salah satu instrumennya.
Pembiayaan melalui obligasi ini memungkinkan dana tumbuh lebih besar dan meningkatkan kapasitas investasinya, sehingga SWF lebih fleksibel dalam melakukan ekspansi portofolio.
Temasek Holdings (Singapura) menjadi salah satu yang pertama kali aktif menerbitkan obligasi melalui Global Medium Term Note (GMTN) Programme sejak 2005. Temasek menggunakan instrumen obligasi ini untuk mendiversifikasi pendanaan, bukan hanya mengandalkan modal pemerintah.
Setelah Temasek, barulah disusul SWF lain seperti Mubadala (UAE) yang menerbitkan obligasi pada akhir 2000-an.
Pendanaan dengan bond memungkinkan SWF memperoleh modal tambahan di luar pemerintah. Partisipasi SWF di pasar obligasi baik sebagai penerbit maupun investo rmendorong pertumbuhan dan pendalaman pasar obligasi domestik.
Kehadiran SWF memberikan benchmark serta meningkatkan kepercayaan investor lain, sehingga pasar keuangan lokal menjadi lebih likuid, stabil, dan mampu menyediakan sumber pendanaan alternatif bagi sektor publik maupun swasta.
Beirkut beberapa SWF yang aktif menerbitkan obligasi:
Temasek Singapura
Temasek adalah lembaga investasi milik pemerintah Singapura yang telah berdiri sejak 1974.
Temasek awalnya ditugaskan mengelola aset strategis Singapura di sektor transportasi, telekomunikasi, dan keuangan, sebelum berkembang menjadi lembaga investasi global dengan portofolio yang terdiversifikasi.
Temasek pertama kali menerbitkan surat utang pada 21 September 2005 senilai US$1,75 miliar dengan tenor 10 tahun dan kupon 4,5%. Penerbitan perdana ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pendanaan investasi, melainkan juga untuk membangun rekam jejak kredit langsung di pasar global serta memperluas basis investor..
Melansir dari situs resmi Temasek, hingga 31 Maret 2025, Temasek memiliki total outstanding senilai US$20,2 miliar untuk Temasek Bonds dan US$0,4 miliar untuk Euro Commercial Paper (ECP). Obligasi tersebut memiliki rata-rata jatuh tempo tertimbang lebih dari 18 tahun, sementara ECP di atas dua bulan. Temasek hingga kini berhasil mempertahankan peringkat kredit AAA dari S&P dan Moody's.
Adapun penerbitan terakhir dilakukan pada 20 Agustus 2025 yang terdiri dari surat utang senilai US$750 juta fixed rate tenor 2 tahun dengan kupon 3,75%, dan US$750 juta floating rate tenor 2 tahun dengan acuan SOFR + 38 basis poin. Strategi dual-tranche ini dinilai memberikan fleksibilitas pendanaan sekaligus mengantisipasi volatilitas pasar global.
Khazanah Malaysia
Khazanah Nasional Berhad adalah lembaga investasi milik pemerintah Malaysia yang telah berperan penting dalam mengelola aset strategis nasional sejak berdiri pada 1994.
Saat itu, Khazanah diberi mandat untuk memegang peran sebagai kustodian aset komersial pemerintah sekaligus berinvestasi di sektor strategis khususnya sektor yang berteknologi tinggi.
Memasuki 2004, Khazanah mulai menempuh strategi investasi yang lebih luas dan aktif, dengan meningkatkan kinerja portofolio inti sekaligus membidik peluang di sektor ekonomi baru maupun kawasan internasional.
Khazanah mulai menerbitkan surat utang senilai US$414,5 juta dengan tenor 5 tahun dan kupon 1,95% pada 2004. Instrumen tersebut berbentuk exchangeable notes yang dapat ditukar dengan saham PLUS Expressway Berhad. Penerbitan perdana ini menjadi pijakan penting bagi Khazanah dalam membangun rekam jejak kredit global sekaligus mendiversifikasi sumber pendanaan.
Sejak saat itu, Khazanah rutin menerbitkan obligasi dan sukuk baik di pasar domestik maupun internasional.
Sejumlah inovasi pun dihadirkan, mulai dari exchangeable sukuk berbasis saham IHH Healthcare pada 2013, hingga Sukuk SRI pada 2015 dan 2017 yang menjadi pionir penawaran ritel di Malaysia. Sukuk SRI tersebut bahkan mengusung konsep impact investing, memungkinkan masyarakat ikut berinvestasi sambil mendukung program pendidikan nasional.
Secara total, sejak 2004 hingga 2025, Khazanah telah menerbitkan lebih dari 10 seri surat utang dalam berbagai denominasi mata uang, termasuk dolar AS, dolar Singapura, dan ringgit. Nilai penerbitan mencapai miliaran dolar AS, dengan tenor bervariasi dari jangka pendek hingga panjang.
Adapun penerbitan terbaru pada 2024, Khazanah kembali menembus pasar internasional dengan dua seri obligasi senilai total US$1 miliar. Rinciannya, US$500 juta tenor 5 tahun kupon 4,484% dan US$500 juta tenor 10 tahun kupon 4,759%.
Dana segar dari penerbitan ini digunakan untuk memperkuat likuiditas sekaligus memperluas basis pendanaan, sejalan dengan mandat Khazanah dalam mendukung pembangunan ekonomi Malaysia dan memperkuat posisinya di pasar keuangan global.
PIF Arab Saudi
Public Investment Fund (PIF) berdiri pada 1971 dengan mandat mendirikan perusahaan-perusahaan penting bagi perekonomian Arab Saudi. Banyak di antaranya kemudian berkembang menjadi "national champions" yang menopang industrialisasi dan modernisasi ekonomi Kerajaan.
Momentum besar terjadi pada Maret 2015, ketika Dewan Menteri Saudi menerbitkan Resolusi 270 yang menempatkan PIF di bawah Council of Economic and Development Affairs (CEDA) dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebagai ketua.
Sejak saat itu, PIF bertransformasi menjadi mesin penggerak utama Vision 2030, dengan peran yang lebih mandiri dan strategi lebih jelas untuk menciptakan perubahan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Dalam perjalanannya, PIF juga masuk ke pasar utang internasional untuk mendukung ekspansi investasinya.
Penerbitan obligasi perdana dilakukan pada Oktober 2022, berupa green bond global senilai US$3 miliar yang terbagi dalam tiga bondyang masing-masing senilai US$1,25 miliar tenor 5 tahun, US$1,25 miliar tenor 10 tahun, dan US$500 juta tenor 100 tahun.
Penerbitan ini menjadi tonggak sejarah karena sekaligus menjadikan PIF sebagai sovereign wealth fund pertama di dunia yang menerbitkan green bond dengan tenor 100 tahun. Dana hasil penerbitan diarahkan untuk mendukung proyek hijau dan keberlanjutan, termasuk energi terbarukan dan pembangunan giga-project seperti NEOM.
Sejak debut itu, PIF terus aktif mengakses pasar global, menerbitkan berbagai instrumen termasuk sukuk, obligasi konvensional, hingga obligasi berdenominasi sterling. Sepanjang 2024 saja, total penerbitan PIF hampir menembus US$10 miliar, menunjukkan kepercayaan investor internasional terhadap kekuatan fundamental Saudi.
Adapun penerbitan terbaru dilakukan pada April 2025, ketika PIF meluncurkan sukuk internasional senilai US$1,25 miliar dengan tenor 7 tahun melalui struktur Wakala.
Instrumen ini disambut luar biasa oleh investor dengan permintaan lebih dari 6 kali lipat. Dana hasil penerbitan digunakan untuk mendiversifikasi basis pendanaan sekaligus mendukung pembiayaan proyek-proyek strategis berkelanjutan yang sejalan dengan agenda Vision 2030.
Turkey Wealth Fund (Turkiye)
Turkey Wealth Fund (TWF) didirikan pada 26 Agustus 2016 sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) milik Pemerintah Turkiye. TWF lebih berfokus untuk mengelola aset strategis negara dan meningkatkan nilai aset melalui investasi domestik & internasional. TWF juga berfungsi sebagai Menjadi "stabilisator" ekonomi Turki, terutama ketika terjadi guncangan pasar atau defisit.
TWF adalah dana investasi milik negara yang memanfaatkan aset milik publik untuk investasi strategis, dan menerbitkan obligasi untuk mengumpulkan modal terutama untuk refinancing dan investasi yang memperkuat infrastruktur ekonomi dan pasar keuangan Turki.
TWF memegang kepemilikan besar saham-saham dalam berbagai sektor, dengan porsi terbesar di sektor perbankan sebanyak 72,97% dari total kepemilikan. Bank-bank yang sahamnya dimiliki oleh TWF seperti Ziraat Bank, Halkbank, dan Vakıfbank.
Selain perbankan, TWF juga memiliki porsi saham di sektor telekomunikasi, minyak dan gas seperti Turkish Petroleum (TPAO), BOTAŞ (gas), dan Turkish Petroleum Refineries (Tüpraş), sektor transportasi seperti Turkish Airlines (THY), serta sektor infrastruktur.
Tercatat bahwa TWF telah beberapa kali menerbitkan obligasi. Pada Februari 2024, TWF menerbitkan obligasi pertamanya berupa eurobond. Sebagai catatan, eurobond adalah jenis obligasi yang menggunakan mata uang selain mata uang negara penerbit obligasi.
TWF menerbitkan eurobond sebesar US$500 juta dengan jatuh tempo 5 tahun dan tingkat kupon 8,375%. Penerbitan ini sangat sukses dengan tingkat kelebihan permintaan lebih dari 14 kali, menunjukkan kepercayaan kuat dari investor internasional. Selain itu, TWF menerbitkan Sukuk (obligasi syariah) sebesar 750 juta dolar AS pada Oktober 2024, menandai langkah pertama masuknya ke pasar Sukuk global.
Selain obligasi, TWF sempat menyepakati pembiayaan murabaha sebesar US$ 150 juta dengan Dubai Islamic Bank (jangka waktu 5 tahun) pada November 2024. TWF juga telah menyelesaikan pembiayaan Murabaha sebesar USD 600 juta melalui konsorsium yang dipimpin Kuwait Finance House pada Agustus 2025.
Mubadala Investment Company
Perusahaan investasi Mubadala adalah sebuah SWF milik pemerintah petrodollar Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang didirikan pada tahun 2017, hasil dari merger Mubadala Development Company dan perusahaan investasi sektor energi milik pemerintah, (International Petroleum Investment Company) IPIC.
Portfolio yang dikelola beragam jenisnya, termasuk teknologi, manufaktur, penerbangan, semikonduktor, energi bersih, infrastruktur, hingga properti. Alokasi portofolio terdiri dari ekuitas swasta (40%), pasar publik (23%), dan infrastruktur/real estate (17%). Mubadala secara aktif berinvestasi di sektor masa depan dan peluang pertumbuhan global.
Mubadala merupakan SWF terbesar kedua di Abu Dhabi, setelah Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan di atas Abu Dhabi Developmental Holding Company (ADQ). Ketiganya diketahui mengelola aset sebanyak US$1,7 triliun secara total. Pengelolaan investasi oleh Mubadala menghasilkan return tahunan lima tahun sekitar 10,1%.
Mubadala fokus pada diversifikasi ekonomi Abu Dhabi, terlihat dari sektor-sektor seperti kecerdasan buatan (AI), energi bersih, dan manufaktur maju yang menjadi bagian dari portfolio Mubadala.
Mubadala juga mendiversifikasi sumber pendanaan melalui bond. Salah satu penerbitan obligasi pertama oleh Mubadala yang tercatat adalah penerbitan rogram obligasi global pada tahun 2009 senilai US$1,85 miliar sebagai langkah besar untuk mengurangi ketergantungannya pada pendanaan dari pemerintah Abu Dhabi. Sebagian besar obligasi ini dibeli oleh bank-bank AS dan Eropa dengan tenor yang didominasi periode lima dan sepuluh tahun
Sesaat sebelum merger, Mubadala melakukan penjualan obligasi dual-tranche senilai US$1,5 miliar pada April 2017, menandai langkah penting dalam upaya pengumpulan modalnya. Penawaran ini mencakup obligasi tujuh tahun senilai US$850 juta dengan kupon 3% dan obligasi dua belas tahun senilai US$650 juta dengan kupon 3,75%.
Obligasi terbaru yang diterbitkan oleh Mubadala adalah sukuk (obligasi syariah) senilai US$1 miliar dengan tenor 10 tahun dalam denominasi dolar AS. Sukuk yang diterbitkan pada Mei 2025 ini dipatok pada 60 basis poin di atas hasil US Treasury, mengimplikasikan adanya permintaan kuat dari para investor yang tergambar dari pesanan obligasi yang mengalami oversubscribed, yakni mencapai US$4,75 miliar.
Danantara Ikuti Tren Global
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan menerbitkan instrumen pembiayaan strategis berupa surat utang Patriot Bond.
Instrumen ini diketahui akan ditawarkan khusus kepada para konglomerat RI dan tidak tersedia untuk diserap oleh investor ritel. Penyerapan dana Patriot Bond sendiri nantinya akan dilakukan dengan mekanisme private placement.
Adapun total emisi yang akan diterbitkan adalah senilai Rp 50 triliun dan ditawarkan dalam dua tenor berbeda yakni 5 dan 7 tahun. Sementara itu kupon atau imbal hasil yang ditawarkan dikabarkan berada di level 2%.
Secara umum Danantara mengungkapkan penerbitan Patriot Bond ini bertujuan untuk memperkuat kemandirian pembiayaan nasional. Adapun secara lebih spesifik, emisi dari penerbitan surat utang spesial tersebut akan digunakan untuk mendukung proyek transisi energi, yakni pemanfaatan limbah menjadi energi (waste-to-energy). Selain itu Patriot Bond ini juga diharapkan dapat memperluas basis pembiayaan domestik.'=
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
Awas! Pasar Panik Usai Bitcoin Ambyar, Jepang Tebar Ancaman Baru ke RI
Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini [3,004] url asal
#rupiah #ihsg #pasar-saham #nilai-tukar #investasi #bank-indonesia #utang-luar-negeri #sbn #ekonomi-indonesia #perdagangan-saham #analisis-pasar #surat-berharga-negara #saham-teknologi #wall-street #data-ekonomi #pas
(CNBC Indonesia - Research) 17/11/25 15:54
v/41288/
- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, IHSG ditutup menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk berjamaah dibebani oleh penurunan saham teknologi
- Rapat Dewan Gubernur dan data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan kemarin, Seni (17/11/2025). Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pergerakan pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025). Indeks naik 0,55% atau menguat 46,44 poin ke level 8.416,88 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 354 saham naik, 287 turun, dan 173 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 21,08 triliun yang melibatkan 41 miliar saham dalam 2,69 juta kali transaksi. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 710,06 miliar.
Pada perdagangan kemarin, saham Bumi Resources (BUMI), Bank Central Asia (BBCA) dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menjadi saham yang paling ramai ditransaksikan. Sedangkan saham APEX, MINA dan LUCK mencatatkan kenaikan terbesar.
Mayoritas sektor perdagangan parkir di zona hijau dengan penguatan terbesar dibukukan oleh sektor energi, konsumer non-primer dan properti. Sedangkan sektor kesehatan tercatat melemah paling dalam.
Sejumlah emiten yang menjadi motor pergerakan IHSG kemarin termasuk PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), BBCA dan PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE). Sedangkan emiten yang menjadi beban utama laju IHSG kemarin adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup terkoreksi atau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini.
Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan kemarin, Senin (17/11/2025), dengan pelemahan sebesar 0,18% ke posisi Rp16.720/US$.
Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah dibuka tertekan di level Rp16.700/US$ atau kembali menembus level psikologisnya. Tekanan tersebut berlanjut sepanjang sesi hingga rupiah sempat menyentuh titik terlemahnya kemarin di Rp16.736/US$.
Sementara itu, indeks dolar dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB masih berada di zona hijau atau menguat tipis 0,02% di level 99,317.
Pergerakan rupiah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/11/2025), terjadi seiring dengan rilis data Utang Luar Negeri (ULN) oleh Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan tren penurunan.
BI melaporkan bahwa ULN Indonesia pada Kuartal III-2025 atau hingga September 2025 tercatat sebesar US$424,4 miliar, menurun dibanding posisi Kuartal II-2025 yang mencapai US$432,3 miliar.
Dengan demikian, ULN Indonesia mengalami kontraksi 0,6% secara tahunan (yoy), berbalik arah dari pertumbuhan 6,4% yoy yang terlihat pada kuartal sebelumnya.
Penurunan ULN ini mencerminkan moderasi kebutuhan pembiayaan eksternal baik dari sektor publik maupun swasta, serta kebijakan kehati-hatian BI dan pemerintah dalam menjaga struktur ULN tetap sehat dan berkelanjutan.
Meski demikian, pasar valuta asing menilai bahwa penurunan ULN belum cukup memberikan katalis penguatan bagi rupiah pada kemarin.
Lanjut ke Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil SBN tenor 10 tahun terpantau mengalami sedikit penguatan dari level 6,12 ke level 6,141 naik 0,021 poin. Imbal hasil yang naik menandai investor tengah menjual SBN sehingga harga jatuh.
Aksi jual didorong juga dengan terusnya pelemahan rupiah yang kian terjadi dari waktu ke waktu memberikan resiko tambahan bagi SBN karena ada premi tambahan yang perlu dibayar investor terhadap imbal hasil yang ada saat ini.
Pasar saham AS kembali melemah pada Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Saham ambruk dibebani oleh penurunan saham teknologi, sementara Wall Street menunggu sejumlah rilis penting pekan ini, termasuk laporan pendapatan Nvidia dan data tenaga kerja AS untuk September.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 557,24 poin, atau 1,18%, dan ditutup pada 46.590,24.
Indeks terseret penurunan saham favorit chip kecerdasan buatan Nvidia, serta Salesforce dan Apple.
Indeks S&P 500 turun 0,92% menjadi 6.672,41, sementara Nasdaq Composite jatuh 0,84% ke 22.708,07.
Nvidia turun hampir 2% menjelang rilis laporan keuangan kuartal ketiga yang dijadwalkan keluar setelah penutupan pasar pada Rabu. Produsen chip tersebut dan saham-saham lain yang terkait perdagangan AI menjadi sumber tekanan belakangan ini karena investor semakin khawatir mengenai valuasi yang sudah terlalu tinggi.
Blue Owl Capital, pemberi pinjaman kredit privat, anjlok hampir 6% akibat kekhawatiran terkait eksposur besar mereka terhadap pembangunan pusat data AI.
"Di satu sisi, penting bagi Nvidia untuk memastikan bahwa permintaan masih kuat dan mereka tidak melihat perlambatan," kata Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, kepada CNBC International.
Dia menambahkan jika perusahaan AI memberi proyeksi permintaan chip yang sedikit saja melemah, pasar akan merespons negatif.
Setelah Nvidia, Walmart akan merilis laporan sebelum pasar dibuka pada Kamis, dan hasil tersebut dapat memberikan gambaran seberapa tertekan konsumen serta apakah pola belanja kini semakin terbelah.
"Saham-saham konsumer, terutama di tengah minimnya data pasar tenaga kerja, akan menjadi sangat penting untuk menentukan bagaimana pasar melihat musim liburan yang sebentar lagi tiba," lanjutnya.
Investor juga akan mencermati data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) untuk September pada Kamis, laporan pertama setelah jeda data ekonomi akibat penutupan sementara pemerintah AS. Laporan tersebut serta risalah rapat The Fed untuk Oktober. Meski mungkin sudah 'basi'dapat memberi sedikit kejelasan di masa ketika pasar masih berada dalam kekosongan data selama beberapa minggu ke depan sambil menunggu pemerintah kembali bekerja normal.
Pasar semakin mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan terakhir tahun ini bulan depan.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 45% terjadinya pemangkasan, turun dari lebih dari 90% sebulan lalu.
Perekonomian Indonesia pada pertengahan November 2025 tengah menghadapi anomali yang menantang logika siklus bisnis konvensional. Di permukaan, indikator stabilitas makro terlihat solid dengan penurunan utang luar negeri dan likuiditas perbankan yang melimpah ruah.
Namun, jika dibedah hingga ke level mikro dan sektor riil, terdapat tekanan nyata berupa perlambatan konsumsi, keengganan korporasi untuk berekspansi, serta langkah agresif pemerintah dalam memperketat kebijakan fiskal.
Kondisi ini menciptakan "Paradoks Likuiditas". Sistem keuangan nasional sedang kebanjiran uang, namun aliran dana tersebut tersumbat dan gagal memacu mesin pertumbuhan ekonomi secara optimal. Situasi ini menciptakan divergensi tajam antara sektor keuangan yang sangat cair dan sektor riil yang cenderung kering.
Kondisi ekonomi ikut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Tanah Air. Selain faktor tersebut, perkembangan data global juga diperkirakan akan menggerakkan pasar hari ini.
Berikut adalah beberapa sentimen yang diproyeksi akan menjadi penggerak dinamika pasar pada hari ini:
Bank Indonesia Gelar RDG di Tengah Persoalan Pelik Kredit
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur Bank (RDG) pada hari ini dan besok, Rabu (18-19/11/2025). Pelaku pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
BI sudah memangkas suku bunga secara agresif sebesar 125 bps sepanjang tahun ini untuk membantu penurunan suku bunga pinjaman bank. Namun, upaya tersebut belum efektif.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkap data yang mengejutkan pasar yaitu terdapat excess liquidity yang sangat masif, mencapai lebih dari Rp800 triliun, yang saat ini mengendap dalam sistem perbankan nasional. Angka ini setara dengan porsi yang sangat signifikan dari total belanja negara dalam APBN.
Dalam teori ekonomi, melimpahnya likuiditas dalam jumlah raksasa seharusnya menjadi katalis utama bagi akselerasi pertumbuhan. Uang yang menumpuk di brankas bank semestinya mendorong penurunan suku bunga kredit secara alami dan memicu gelombang ekspansi bisnis.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan transmisi yang macet. BI menegaskan dana tersebut tidak mengalir deras ke sektor riil seperti manufaktur atau properti, melainkan hanya berputar di instrumen keuangan jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau pasar uang antarbank yang minim risiko namun juga minim dampak riil.
Akar permasalahan fenomena ini bukan terletak pada ketidakmampuan bank meminjamkan uang (supply side), melainkan pada hilangnya selera berutang dunia usaha (demand side). Data perbankan menunjukkan fenomena undisbursed loan yang meningkat signifikan.
Ini adalah kondisi di mana fasilitas kredit yang sejatinya sudah disetujui bank dan ditandatangani nasabah korporasi, justru tidak ditarik atau dicairkan. Korporasi besar memilih sikap wait and see ekstrem. Tingginya ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar domestik membuat perusahaan menahan rencana belanja modal (Capex).
Strategi menjaga arus kas (cash preservation) lebih dipilih daripada risiko ekspansi berbiaya utang, memicu risiko credit crunch yang disebabkan oleh keengganan debitor.
Ironi likuiditas semakin terlihat kontras ketika membedah struktur pendanaan perbankan. Meskipun ada Rp800 triliun uang menganggur, perbankan nasional justru terlihat "haus" likuiditas lewat perilaku kompetitif memperebutkan dana nasabah besar. Terjadi perang suku bunga sengit di segmen deposito institusi.
Data pasar menunjukkan perbankan memberikan perlakuan istimewa atau special rate kepada pemilik dana jumbo, khususnya instansi Pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rata-rata suku bunga deposito bagi kelompok deposan kakap ini mencapai 5,97%, jauh di atas suku bunga penjaminan standar maupun bunga nasabah ritel. Fenomena ini mengindikasikan masalah struktural dalam distribusi likuiditas antar bank.
Bank membutuhkan dana stabil dari institusi untuk menjaga rasio likuiditas jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio), meskipun harus dibayar mahal. Konsekuensinya, Biaya Dana (Cost of Funds) perbankan tetap tinggi.
Ketika biaya dana mahal, bank sulit menurunkan suku bunga kredit dasar secara agresif. Ini menciptakan lingkaran setan: bank ingin menyalurkan kredit tapi biayanya mahal, sementara korporasi enggan mengambil kredit karena bunganya dianggap belum cukup menarik dibanding risiko bisnis.
BI Beri Insentif Buat Bunga yang Bawa Bunga Turun
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan BI siap mengguyur insentif likuiditas tambahan, namun insentif ini bersifat resiprokal yaitu volumenya akan sangat bergantung pada seberapa jauh perbankan bersedia menurunkan suku bunga mereka.
Dengan mekanisme ini, BI berharap perbankan terpacu untuk menekan margin dan efisiensi biaya dana demi mendapatkan suntikan likuiditas murah dari bank sentral, sehingga transmisi kebijakan moneter ke sektor riil bisa berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, untuk mencegah kekeringan likuiditas di bank tertentu selama proses transisi ini, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan intervensi pasar. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)-BRI, Mandiri, BNI, BTN-telah menyalurkan dana penempatan pemerintah sebesar Rp185 triliun.
Terbaru, LPS kembali menyuntikkan penempatan dana sebesar Rp7,6 triliun ke BRI, Bank Mandiri, dan Bank DKI. Langkah ini merupakan strategi "jaring pengaman" untuk memastikan roda intermediasi perbankan tetap terlumasi dengan baik, meski aliran uang ke sektor riil masih tersendat.
Tekanan Ganda Sektor Riil: Konsumsi Terbatas & Pengetatan Subsidi
Jika korporasi enggan berekspansi, akar masalahnya seringkali bermuara pada daya beli konsumen. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengeluarkan pernyataan bernada peringatan yakni pertumbuhan konsumsi masyarakat Indonesia masih sangat terbatas.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengungkapkan pertumbuhan konsumsi masyarakat RI masih terbatas. Meski demikian dirinya menegaskan permodalan perbankan masih kuat dan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
"Jadi di satu sisi ada kondisi global yg memang masih penuh tantangan, dan di lain sisi pertumbuhan kembali atau rebound dari konsumsi dari masyarakat domestik terlihat masih terbatas," ujar Mahendra dalam rapat kerja Komisi IV DPD RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) dan OJK, Senin (17/11/2025).
Pernyataan regulator ini mengonfirmasi kekhawatiran pasar bahwa pemulihan ekonomi di tingkat akar rumput belum berjalan solid. Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ketika konsumsi disebut terbatas, artinya pendapatan riil masyarakat sedang tertekan atau masyarakat memilih menahan belanja karena pesimisme ekonomi.
Di tengah serangkaian berita pengetatan, pasar mendapatkan sedikit angin segar. Pertama, terkait nasib masyarakat bawah yang terjerat utang. OJK memberikan pembaruan positif bahwa aturan teknis mengenai pemutihan kredit macet UMKM sedang dalam tahap finalisasi.
Kebijakan ini krusial bagi perbankan Himbara untuk membersihkan neraca dari aset kurang maksimal, sekaligus memberikan jalan bagi jutaan debitur UMKM untuk keluar dari daftar hitam (blacklist) dan kembali mengakses modal usaha.
Utang Turun
Kabar positif kedua datang dari indikator makroekonomi eksternal. Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia turun menjadi US$ 424,4 miliar. Penurunan ini memberikan bantalan lebih tebal bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak nilai tukar global.
Meskipun Rupiah masih mengalami tekanan pelemahan terhadap Dolar AS, BI menegaskan volatilitas tersebut masih "stabil" dan terkendali melalui intervensi pasar terukur. Neraca yang lebih ramping dari sisi utang luar negeri membuat risiko krisis mata uang semakin kecil.
Ekonomi Jepang Kontraksi, 'Double Trouble' bagi Asia
Tekanan eksternal bagi pasar Indonesia semakin bertambah dengan rilis data ekonomi terbaru dari Asia Timur. Pagi ini, data menunjukkan bahwa ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4%.
Angka ini menjadi kejutan negatif bagi pasar (negative surprise) yang sebelumnya sudah dibuat cemas oleh eskalasi ketegangan militer antara Jepang dan China.
Kontraksi ini menandakan bahwa permintaan domestik dan aktivitas industri di Jepang sedang melemah signifikan. Bagi Indonesia, kabar ini membawa risiko ganda atau double trouble. Pertama, dari sisi perdagangan, Jepang adalah salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di tanah air.
Perlambatan ekonomi di Tokyo berpotensi menekan permintaan ekspor komoditas dan manufaktur dari Indonesia, yang pada akhirnya bisa memperburuk kinerja neraca dagang.
Kedua, dari sisi sentimen pasar, kombinasi antara kontraksi ekonomi dan konflik geopolitik (insiden drone militer) menciptakan badai ketidakpastian yang sempurna di kawasan Asia.
Hal ini memberikan alasan kuat bagi investor asing untuk terus mengambil posisi defensif (risk-off) dan menahan aliran modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia, setidaknya sampai ada sinyal pemulihan yang lebih jelas dari raksasa ekonomi Asia tersebut.
Sentimen Geopolitik Asia: Jepang vs China Memanas
Analisis pasar domestik tidak lengkap tanpa melihat faktor eksternal. Lampu kuning menyala di kawasan Asia Timur. Ketegangan geopolitik antara Jepang dan China kembali memanas setelah insiden militer di mana jet tempur Jepang dikerahkan untuk menghalau pesawat nirawak (drone) militer China.
Eskalasi konflik ini langsung direspons negatif oleh pasar keuangan regional dengan sikap risk-off. Ketegangan ini menambah premi risiko investasi di kawasan Asia Pasifik dan berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang ke aset safe haven jika situasi memburuk.
Secara keseluruhan, pasar keuangan Indonesia sedang mencoba menavigasi jalan terjal di antara dua tebing curam yaitu likuiditas perbankan yang melimpah namun macet, dan daya beli masyarakat yang tergerus oleh kebijakan fiskal ketat.
Pasar kini menanti apakah stimulus pemutihan kredit dan belanja pemerintah di akhir tahun mampu memecahkan kebuntuan ekonomi ini.
Bitcoin Jatuh
Bitcoin merosot hingga 1% ke level US$92.513 pada pukul 13.21 waktu New York pada Senin kemarin. Ini adalah kejatuhan di bawah US$93.000 untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh bulan.
Di berbagai meja perdagangan dan media sosial, rasa cemas mulai terasa. Total nilai pasar Bitcoin anjlok sekitar US$600 miliar dari level puncaknya pada Oktober. Dalam dunia kripto, volatilitas adalah hal yang biasa. Yang berbeda kali ini adalah betapa cepat keyakinan pasar menguap, dan betapa sedikit penjelasan yang benar-benar masuk akal.
Level US$92.000 kini menjadi area support kritis. Ketidakpastian makro dan likuiditas yang lemah juga dapat membatasi potensi rebound.
Menurut CoinGecko, Bitcoin terakhir diperdagangkan di level US$92.123 setelah turun 2,3% dalam 24 jam terakhir dan sekitar 13% dalam sepekan. Volume perdagangan BTC melonjak lebih dari dua kali lipat dalam sehari terakhir menjadi US$114 miliar.
Sejauh ini, sekitar US$335 juta kontrak derivatif Bitcoin telah mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, mendorong total likuidasi pasar kripto menjadi US$725 juta dalam 24 jam.
Agenda dan rilis data yang terjadwal:
- Reserve Bank of Australia meeting minutes
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari pertama
Coffee Morning CNBC Indonesia "Building National Energy Security: Balancing Infrastructure, Energy Transition, and Resource Sovereignty" di Amanaia Menteng, Kota Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Presiden Direktur Bank DBS Indonesia dan Wakil Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi NasDem.
Konferensi pers Serikat Pekerja Indonesia dan Partai Buruh terkait rencana aksi unjuk rasa 22 November 2025 via zoom meeting.
Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Maganghub Soft Skill Programme di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan.
Komisi VI DPR menggelar rapat kerja dan rapat dengar pendapat dengan Menteri Koperasi dan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) di ruang rapat Komisi VI DPR, Gedung DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia menggelar The Biggest Real Estate Summit 2025di Raffles Hotel, Kota Jakarta Selatan.
Deloitte's Southeast Asia IPO Press Conference 2025 via zoom meeting
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam rangka aksi korporasi spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) di Ballroom Menara BTN, Kota Jakarta Pusat
Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Turkiye & Indonesia di Museum Tekstil, Kota Jakarta Pusat.
Agenda emiten di dalam negeri:
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nippon Indosari Corpindo Tbk
- Pemberitahuan RUPS Rencana PT Sinar Mas Multiartha Tbk
- Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Nusantara Infrastructure Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim Surya Citra Media Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia)