Bisnis.com, JAKARTA - Presiden AS Donald Trump mendesak Partai Republik di Senat untuk tetap bersatu dan menolak tekanan Partai Demokrat, di tengah penutupan pemerintahan (government shutdown) yang telah memasuki hari ke-21 dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Dalam acara di Rose Garden Gedung Putih pada Selasa (21/10/2025) waktu setempat, Trump mengatakan dirinya dan Partai Republik tidak akan diperas oleh rencana gila Partai Demokrat.
“Mereka belum pernah melakukan ini sebelumnya, tidak ada yang pernah melakukannya. Biasanya, Anda selalu menyetujui perpanjangan. Chuck Schumer dan Demokrat di Senat harus menyetujui resolusi pendanaan bipartisan yang bersih dan membuka kembali pemerintahan kami,” kata Trump dikutip dari Bloomberg, Rabu (22/10/2025) merujuk pada pemimpin Demokrat di Senat.
Dia juga menegaskan pemerintahan AS harus dibuka sekarang dan bahwa Partai Republik bukan menjadi penyebab pembukaan itu tak kunjung dilakukan.
Partai Demokrat bersikeras tidak akan menyetujui pembukaan kembali pemerintahan sampai Partai Republik sepakat memperpanjang subsidi premi Obamacare guna mencegah lonjakan biaya asuransi bagi lebih dari 22 juta warga AS.
Sebaliknya, Partai Republik menolak memperpanjang subsidi tanpa reformasi besar dalam sistem kesehatan dan menegaskan negosiasi baru bisa dilakukan setelah pemerintahan kembali beroperasi.
Ketegangan politik tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan ekonomi. Ratusan ribu pegawai federal terancam tidak menerima gaji kedua kalinya, sementara Otoritas Penerbangan Federal (FAA) melaporkan penundaan penerbangan dan kekurangan petugas pengatur lalu lintas udara di sejumlah bandara.
Trump menegaskan publik akan menyalahkan Partai Demokrat atas dampak penutupan pemerintahan, termasuk museum yang tutup dan pegawai pemerintah yang tidak menerima gaji.
“Lebih dari satu juta pegawai federal saat ini tidak digaji — itu kesalahan Demokrat — dan anak-anak, wisatawan tidak bisa mengunjungi museum di Washington, DC,” ujarnya.
Pemimpin Republik di Senat, John Thune, mengatakan anggota parlemen meninggalkan Gedung Putih dengan harapan kebuntuan dapat segera berakhir. Dia berencana mengajukan pemungutan suara baru terkait resolusi pendanaan sementara pada Rabu (22/10/2025) waktu setempat, sekaligus mengusulkan pembayaran bagi pegawai federal dan personel militer yang tetap bekerja selama penutupan pemerintahan.
“Kita lihat bagaimana respons Demokrat terhadap itu. Pada akhirnya mereka harus mengatakan ‘ya’," ujarnya.
Sementara itu, Pemimpin Demokrat di Senat Chuck Schumer dan Pemimpin Demokrat di DPR Hakeem Jeffries menyatakan ingin bertemu dengan Trump sebelum keberangkatannya ke Asia akhir pekan ini untuk mencari jalan keluar.
Pemerintahan Trump secara terbuka menyatakan akan menargetkan pemangkasan dana untuk program dan proyek di negara bagian yang dikuasai Partai Demokrat jika kebuntuan terus berlanjut. Presiden menyebut langkah tersebut sebagai upaya mengefisienkan birokrasi federal dan akan segera merilis daftar program yang akan dipotong.
Trump bahkan memuji Direktur Anggaran Gedung Putih, Russ Vought, yang disebutnya seperti tokoh Darth Vader dari Star Wars, karena memimpin pembekuan sejumlah alokasi dana selama penutupan berlangsung.
Korps Insinyur Angkatan Darat AS pada Jumat (17/10/2025) mengumumkan penghentian sementara proyek infrastruktur senilai US$11 miliar di negara-negara bagian yang mendukung kandidat Demokrat Kamala Harris pada Pemilu 2024. Sekitar US$7 miliar dari jumlah itu berasal dari proyek di New York, negara bagian asal Schumer dan Jeffries.
Awal bulan ini, Gedung Putih juga menghentikan pendanaan proyek infrastruktur di New York senilai US$18 miliar, termasuk Hudson Tunnel Project dan Second Avenue Subway.
“Banyak dari proyek yang kami potong, seperti proyek di New York senilai US$20 miliar itu, tidak akan mereka dapatkan kembali. Mungkin nanti kami bicarakan lagi, tapi untuk saat ini mereka kehilangan semua yang mereka inginkan," ujar Trump
Vought juga mengancam akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 10.000 pegawai federal. Sekitar 4.000 pegawai sudah menerima surat pemberhentian bulan ini, meskipun pengadilan federal telah memerintahkan pemerintah menghentikan pemangkasan tenaga kerja terkait penutupan.
Beberapa lembaga tetap melanjutkan proses PHK terhadap pegawai yang dianggap tidak termasuk dalam putusan pengadilan.
Di sisi lain, beberapa anggota Kongres dari Partai Republik mulai melunak dengan membuka opsi perubahan pada subsidi Obamacare alih-alih mencabutnya sepenuhnya.
“Kalau ada usulan reformasi sistem kesehatan, saya bersedia membahasnya,” ujar anggota Kongres dari Partai Republik, Chip Roy. Namun, setiap kesepakatan tetap akan menuntut konsesi besar dari Partai Demokrat.
Senator Ron Johnson menambahkan dalam kesempatan terpisah dia ingin membawa pendekatan pasar bebas dalam pembahasan perpanjangan subsidi Obamacare.