KOMPAS.com - Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin masif di lingkungan kerja diperkirakan akan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa bulan mendatang.
Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Cloudflare, Matthew Prince, memperingatkan bahwa dampak AI terhadap pasar tenaga kerja kemungkinan akan semakin terasa dalam enam hingga 12 bulan ke depan.
Dilansir dari Yahoo Finance, Kamis (25/6/2026), Prince mengatakan banyak pemimpin perusahaan saat ini telah mempertimbangkan pengurangan jumlah karyawan seiring meningkatnya kemampuan AI dalam mengerjakan berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan manusia.
"Saat saya berbicara dengan rekan-rekan sesama pemimpin perusahaan, hampir semuanya mengatakan, 'Ya, saya akan melakukan itu (PHK massal).' Namun mereka juga mengatakan akan melakukannya ketika perusahaan lain mulai melakukannya," kata Prince, Rabu (24/6/2026).
Menurut dia, pendekatan tersebut justru menunjukkan kepemimpinan yang kurang baik. Karena semakin lama perusahaan menunda keputusan, semakin sulit bagi pekerja yang terkena PHK untuk mendapatkan pekerjaan baru ketika gelombang pemangkasan tenaga kerja terjadi secara bersamaan.
"Dalam enam hingga 12 bulan ke depan, ketika kita mulai melihat lebih banyak PHK seperti ini, akan jauh lebih sulit bagi mereka yang kehilangan pekerjaan untuk mendapatkan pekerjaan baru," ujar Prince.
Cloudflare Pangkas 20 Persen Karyawan
Pernyataan Prince muncul tidak lama setelah Cloudflare melakukan restrukturisasi besar-besaran.
Pada Mei 2026, perusahaan penyedia layanan keamanan dan infrastruktur internet tersebut mengumumkan pengurangan sekitar 20 persen tenaga kerjanya secara global. Langkah itu berdampak pada lebih dari 1.100 karyawan dan menjadi PHK terbesar dalam sejarah perusahaan.
Saat itu, Cloudflare menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari transformasi menuju era "agentic AI", yaitu penggunaan sistem AI yang mampu menjalankan tugas dan mengambil keputusan secara lebih mandiri.
Perusahaan juga mengungkapkan penggunaan alat AI secara internal melonjak hingga 600 persen, yang menjadi salah satu faktor pendorong perubahan struktur organisasi.
Prince mengatakan keputusan tersebut diambil lebih awal karena dianggap sebagai langkah yang paling adil bagi karyawan.
"Begitu kami menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang harus dilakukan, kami memutuskan bahwa tindakan paling baik bagi tim adalah melakukannya secepat mungkin," kata dia.
Sejumlah Raksasa Teknologi Ikut Pangkas Karyawan
Cloudflare bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang melakukan pengurangan tenaga kerja di tengah meningkatnya produktivitas berbasis AI.
Sejumlah perusahaan besar lainnya seperti Amazon, Oracle, Coinbase, Robinhood, Salesforce, Meta, dan Microsoft juga dilaporkan melakukan PHK dengan alasan peningkatan efisiensi yang didukung teknologi AI.
Fenomena tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa otomatisasi berbasis AI akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sejumlah fungsi pekerjaan, terutama pekerjaan administratif dan operasional yang bersifat rutin.
FREEPIK/PCH.VECTOR Ilustrasi pemutusan hubungan kerja (PHK).Kinerja Cloudflare Tetap Tumbuh
Meski melakukan PHK dalam jumlah besar, Cloudflare menegaskan langkah tersebut bukan disebabkan oleh tekanan keuangan perusahaan.
Pada laporan kuartalan terbarunya, Cloudflare mencatat pendapatan sebesar 639,8 juta dollar AS, naik 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya investasi perusahaan-perusahaan pada infrastruktur keamanan digital di tengah perkembangan teknologi AI.
Selain itu, jumlah kontrak bernilai lebih dari 1 juta dollar AS meningkat 73 persen secara tahunan. Sementara itu, jumlah pelanggan korporasi besar yang membayar lebih dari 100.000 dollar AS per tahun bertambah 25 persen.
Laba per saham Cloudflare juga melampaui perkiraan para analis pasar.
Sejalan dengan kinerja tersebut, harga saham Cloudflare telah menguat sekitar 13 persen sejak awal tahun hingga saat ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang