Bisnis.com, BALIKPAPAN — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mengerahkan sistem kesiapsiagaan kesehatan guna mengantisipasi ancaman Virus Nipah, kendati hingga akhir Januari 2026 belum tercatat satu pun kasus di wilayah tersebut.
Langkah preventif ini diambil sebagai respons terhadap Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026 yang mengatur kesiapsiagaan terhadap penyakit zoonosis emerging dengan tingkat fatalitas tinggi.
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan (Dinkes Kalsel) memprioritaskan penguatan deteksi dini dan respons cepat di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalsel Anhar Ihwan menegaskan pentingnya sikap proaktif dalam menghadapi potensi ancaman kesehatan.
"Walaupun belum ada laporan kasus, kami tidak ingin menunggu sampai kejadian. Rumah sakit dan puskesmas diminta meningkatkan kewaspadaan sejak dini sebagai bentuk perlindungan bagi masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (10/2/2026).
Dia menambahkan, seluruh fasilitas kesehatan di Kalimantan Selatan diarahkan untuk memperketat surveilans epidemiologi.
Fokus utama diberikan pada pasien dengan manifestasi klinis berupa demam akut yang disertai gangguan pernapasan atau neurologis, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat paparan risiko.
Dia memaparkan, pendekatan dini menjadi krusial mengingat karakteristik Virus Nipah yang dapat berkembang pesat dan menimbulkan komplikasi berat.
"Kunci pengendalian ada pada kecepatan. Jika ada gejala yang mengarah, pelaporan harus dilakukan segera agar penanganan bisa lebih efektif," paparnya.
Lebih lanjut, Dinkes Kalsel memperkuat penerapan standar pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di lingkungan fasilitas kesehatan, termasuk kewajiban penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis.
Di sisi lain, partisipasi masyarakat juga menjadi elemen penting dalam strategi kewaspadaan. Anhar mengimbau publik untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta tidak menunda pemeriksaan medis ketika mengalami gejala mencurigakan.
"Belum ada kasus bukan berarti kita lengah. Kesiapsiagaan adalah cara terbaik agar Kalimantan Selatan tetap aman," pungkasnya.
Sebagai informasi, Virus Nipah yang tergolong dalam genus Henipavirus, merupakan patogen zoonotik dengan reservoir alami kelelawar buah (Pteropus). Jalur transmisinya meliputi kontak dengan hewan perantara, konsumsi produk pangan atau minuman terkontaminasi, serta kontak erat antarmanusia.
Secara klinis, infeksi ini dapat memicu gangguan pernapasan akut hingga ensefalitis dengan tingkat mortalitas mencapai 40%—75%.
Meskipun Indonesia belum pernah mencatat kasus Virus Nipah pada manusia, potensi risiko di kawasan Asia Tenggara mendorong pemerintah daerah untuk tetap waspada.