#30 tag 24jam
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Universitas Nasional (Unas) resmi mengusulkan budayawan dan sastrawan besar Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai calon penerima Gelar Pahlawan Nasional... | Halaman Lengkap [575] url asal
#budaya #pahlawan-nasional #pahlawan #bahasa #sutan-takdir-alisjahbana
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 30/06/26 21:34
v/264339/
JAKARTA - Universitas Nasional (Unas) resmi mengusulkan budayawan dan sastrawan besar Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai calon penerima Gelar Pahlawan Nasional tahun 2026. STA dianggap layak mendapatkan gelar tersebut karena kontribusinya terhadap pengembangan Bahasa Indonesia, Pendidikan, dan Budaya Indonesia.Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Unas Nana Yuliana mengatakan, dokumen pengusulan STA sebagai Pahlawan Nasional akan disampaikan kepada Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2D) melalui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Rabu (1/7/2026).
“Pengusulan ini besok akan kami sampaikan ke tim TP2 daerah melalui Pemerintah DKI Jakarta. Kemudian nanti akan direview dan diverifikasi, lalu dari tim daerah disampaikan kepada pusat di Kemensos, kemudian ke Dewan Gelar Kementerian Kebudayaan. Baru nanti ke Presiden. Mudah-mudahan November ini STA bisa masuk dalam salah satu calon penerima Gelar Pahlawan Nasional,” ujar Nana, Selasa (30/6/2026).
Untuk mendukung usulan tersebut, Unas hari ini menggelar Seminar Nasional bertema “Menelaah Jejak Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana (STA): Kontribusi Bagi Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Kebudayaan Indonesia” di kampus Unas, Jakarta.
Seminar nasional dihadiri Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Direktur Jenderal Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan, serta sejumlah tokoh sastra dan budaya Indonesia.
Nana yang juga Ketua Panitia mengungkapkan seminar ini semula direncanakan berlangsung pada 16 Juli, namun dimajukan menjadi hari ini karena seluruh dokumen dan perangkat pendukung pengusulan STA harus diserahkan paling lambat pada 2 Juli 2026.
STA adalah tokoh yang telah banyak berkontribusi dan memodernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional dan sebagai pemersatu bahasa Indonesia. “STA adalah yang pertama kali menulis tata Bahasa Indonesia pada masa penjajahan Jepang dan memperkenalkan hukum MD (Menerangkan dan Diterangkan) dan DM (Diterangkan dan Menerangkan), sehingga Bahasa Indonesia memiliki struktur logis,” ungkapnya.
"Karya STA dalam bidang sastra, dalam bidang novel, saya kira tidak perlu saya sebutkan satu per satu, karena kita semua sudah menilai siapa STA dengan karya-karyanya," tambahnya.
Menurut Nana, pemikiran STA masih sangat relevan untuk menjawab tantangan kebudayaan Indonesia di tengah persaingan global menuju Indonesia Emas 2045 yang menekankan pembangunan manusia berkarakter.
Selain dikenal sebagai sastrawan dan budayawan, STA juga dinilai berjasa dalam dunia pendidikan. Pada masa pendudukan Belanda, STA aktif mendorong masyarakat untuk mengembangkan pendidikan tinggi hingga kemudian mendirikan yayasan yang memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang menjadi cikal bakal lahirnya Unas.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyambut baik usulan Unas. STA merupakan sosok yang berjasa besar dalam pembangunan bangsa meskipun tidak terlibat langsung dalam perjuangan fisik.
“Tentu kita menyambut baik. Ini sekaligus menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa pahlawan itu bukan hanya yang ikut bertempur di medan perang, tetapi juga ada yang bekerja di belakang panggung seperti Pak Sutan Takdir Alisjahbana,” ujar Saifullah Yusuf yang juga merupakan alumni Unas.
"Maksud saya di belakang panggung itu, beliau tidak mungkin menjadi perhatian ketika kita mengusulkan calon-calon pahlawan pada waktu itu. Tapi ini ada hal yang baru yang memang dibuka kesempatan oleh Bapak Presiden Prabowo untuk kita bisa mengusulkan tokoh-tokoh yang mungkin selama ini belum menjadi perhatian bersama kita seperti STA," lanjutnya.
Saifullah Yusuf mengaku masih merasakan langsung kepemimpinan STA saat dirinya kuliah di kampus tersebut pada 1985. “Waktu saya kuliah beliau masih menjadi rektor. STA memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk berekspresi. Tidak ada penekanan ataupun pembatasan. Organisasi dan kegiatan mahasiswa tumbuh dengan baik sehingga Universitas Nasional menjadi pusat diskusi para aktivis dari berbagai kampus,” ujarnya.
Terkait gelar Pahlawan Nasional untuk STA, Gus Ipul mengatakan usulan saat ini masih dalam tahap awal dan akan terus dikawal hingga masuk ke Dewan Gelar yang dipimpin Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Pengelola Candi Borobudur hadirkan wisata edukasi saat liburan sekolah
Taman Wisata Candi Borobudur menyambut momentum liburan sekolah tahun 2026, menghadirkan rangkaian program wisata Liburan Nyaman Penuh Makna yang memadukan ... [539] url asal
#wisata-edukasi-dan-budaya #candi-borobudur #saat-libur-sekolah
Magelang (ANTARA) - Taman Wisata Candi Borobudur menyambut momentum liburan sekolah tahun 2026, menghadirkan rangkaian program wisata Liburan Nyaman Penuh Makna yang memadukan pengalaman budaya, edukasi, rekreasi keluarga, hingga perjalanan reflektif bagi para wisatawan.
Direktur Komersil InJourney Destination Management (IDM) Gistang Panutur di Magelang, Jawa Tengah, Selasa, menyampaikan beragam aktivitas disiapkan untuk memberikan pengalaman bermakna dengan mengajak pengunjung mengenal kekayaan warisan budaya, seni, serta nilai-nilai luhur yang terkandung di Candi Borobudur.
Ia menyampaikan, rangkaian program liburan sekolah ini merupakan bagian dari upaya IDM menghadirkan pengalaman yang memperkaya wawasan dan membangun kedekatan masyarakat dengan warisan budaya.
"Candi Borobudur bukan hanya sebuah mahakarya arsitektur dunia, tetapi juga ruang pembelajaran yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritualitas. Melalui rangkaian program Liburan Sekolah di Candi Borobudur, kami ingin wisatawan dapat menikmati liburan sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan budaya Indonesia,"katanya.
Ia menuturkan, salah satu pengalaman unggulan yang dihadirkan adalah Tanceping Niat, sebuah perjalanan reflektif yang mengajak wisatawan untuk kembali terhubung dengan diri sendiri melalui arca Unfinished Buddha. Program ini menjadi ruang bagi wisatawan untuk menikmati momen hening, menyampaikan harapan niat baik dan sebagai release moment dalam suasana penuh ketenangan. Program Tanceping Niat mulai berlangsung pada 21 Juni 2026.
Bagi keluarga yang ingin memberikan pengalaman liburan edukatif bagi anak-anak, katanya, Taman Wisata Candi Borobudur juga menghadirkan program Junior Wanderer Holiday Adventure: Family Fun Trip to Borobudur.
Program ini dirancang sebagai perjalanan eksplorasi budaya yang mengajak anak-anak mengenal jejak sejarah Candi Borobudur, serta lanskap alam yang menjadi bagian dari keindahan kawasan Borobudur. Program ini berlangsung pada 5 Juli 2026 dengan harga tiket sebesar Rp150 ribu, sementara orang tua cukup membeli tiket masuk Candi Borobudur.
Selain itu, pengalaman belajar budaya juga dihadirkan melalui Junior Wanderer Heritage Lab yang berlokasi di Museum Kapal Samudraraksa dan Museum Karmawibhangga. Wisatawan bisa mengikuti rangkaian workshop, seperti workshop pewarnaan wayang, kelas gamelan dan kelas menari. Melalui program ini, wisatawan dapat mengikuti berbagai aktivitas kreatif setiap akhir pekan mulai 27 Juni hingga 12 Juli 2026 dengan pembelian tiket secara langsung seharga Rp45.000.
Selain menghadirkan pengalaman spiritual dan reflektif, wisatawan juga dapat menikmati pertunjukan seni budaya melalui Tari Kidung Tribangga yang digelar di area Plaza Beringin Taman Wisata Candi Borobudur. Pertunjukan yang mengangkat kisah-kisah dari relief Candi Borobudur ini akan dipentaskan pada 20, 26 Juni, dan 5 Juli 2026 pukul 15.00–15.30 WIB.
Semarak liburan sekolah juga semakin lengkap dengan hadirnya Kampung Dolan, sebuah ruang nostalgia permainan tradisional yang mengajak keluarga dan anak-anak mengenal kembali berbagai permainan khas Indonesia. Berlokasi di area Museum Kapal Samudraraksa, Kampung Dolan berlangsung mulai 20 Juni hingga 16 Juli 2026. Melalui kegiatan ini, pengunjung tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga pengalaman mengenal nilai kebersamaan, kreativitas, dan kearifan lokal yang terkandung dalam permainan tradisional.
Ia menyampaikan, rangkaian pertunjukan seni lainnya turut hadir melalui Pentas Seni Aneka Tari yang digelar di dua lokasi berbeda. Di area Plaza Beringin, wisatawan dapat menyaksikan Sendratari Geger Goa Kiskendo pada 24 Juni 2026 serta Tari Menak Kontjer pada 1 Juli 2026 pada pukul 15.00–15.30 WIB. Sementara itu, di Amphitheater Kampung Seni Borobudur, pengunjung dapat menikmati pertunjukan Tari Warok Manunggal pada 28 Juni 2026 dan Tari Topeng Ireng pada 3 Juli 2026 pukul 15.00 WIB.
Pewarta: Heru Suyitno
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Mimpi Lukman Lestarikan Budaya Betawi lewat Ondel-Ondel, Kian Nyata Berkat Dukungan BRI
Berawal dari kesulitan ekonomi, Lukman menjaga budaya Betawi lewat miniatur ondel-ondel daur ulang. Dukungan KUR BRI membuat mimpinya terus berkembang. - Bagian all [1,075] url asal
JAKARTA, iNews.id - Kecintaan Lukman Hakim terhadap budaya Betawi tak diwujudkan lewat panggung pertunjukan semata. Pria asal Lebak Bulus, Jakarta Selatan itu memilih merawat ikon budaya tersebut melalui miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas yang diproduksinya sejak 2013.
Kerajinan tersebut dijalankan bersama sang istri. Bukan semata untuk mencari penghasilan, miniatur ondel-ondel itu juga menjadi cara yang dia pilih untuk menjaga agar budaya Betawi tetap dikenal lintas generasi.
"Karena orang Betawi itu semakin lama semakin dilupain, makanya kita temanya di ondel-ondel," kata Lukman saat ditemui iNews.id pada Kamis (25/6/2026).
Bersama warga, dia lebih dulu membuat ondel-ondel berukuran sekitar dua meter dari bahan-bahan sederhana dan limbah yang ada di sekitar lingkungannya. Ondel-ondel itu dipajang bersama dekorasi rumah Betawi pada berbagai kegiatan.
"Jadi kita mengangkat lagi budaya kita. Dari situ beberapa RT pada ngelihat, 'Bagus nih.' Jadi tertarik," ujarnya.
Semangat itu terus berkembang hingga pada 2013 Lukman menciptakan miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas. Ide tersebut lahir setelah mendapat tantangan dari lurah untuk membuat ondel-ondel berukuran kecil.
"Saya enggak mau niru orang. Saya mau menciptakan sendiri. Akhirnya saya pilih dari botol plastik bekas," katanya.
Dia pun bereksperimen menggunakan berbagai jenis botol sebelum menemukan bahan yang paling sesuai.
"Beberapa botol dicobain dulu. Akhirnya paling cocok botol ini, karena bahannya keras, permukaannya halus," ujarnya.
Tak hanya botol plastik, Lukman juga memanfaatkan limbah kain dari konveksi sebagai bahan pakaian miniatur ondel-ondel.
"Kain kita ambil dari konveksi. Kadang kita pesen limbahnya kalau bisa jangan dibuang, buat saya," tuturnya.
Keinginan memperkenalkan budaya Betawi tak berhenti lewat produksi kerajinan. Lukman juga aktif mengajarkan cara membuat miniatur ondel-ondel kepada berbagai kalangan, mulai dari anak-anak PAUD hingga orang dewasa.
"Saya ngajarin cara bikin ondel-ondel dari daur ulang ini dari anak PAUD, anak playgroup, anak TK, SD, SMP, SMA sampai gurunya aja pada mau belajar," katanya.
Bahkan, kegiatan tersebut membawanya hingga ke Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Berawal dari keponakannya yang belajar di pesantren itu membawa beberapa pasang miniatur ondel-ondel, Lukman akhirnya diundang untuk mengajar para santri.
"Senang orang sana. Akhirnya saya ke Gontor sana. Saya ngajar di sana santri, 200 orang di aula," ujarnya.
Dalam pelatihan itu, Lukman tidak membatasi kreativitas para peserta. Dia membebaskan mereka mengembangkan bentuk ondel-ondel sesuai imajinasi masing-masing.
"Saya kasih kebebasan juga. Jadi bentuknya bukannya ondel-ondel aja. Silakan kalau mau punya imajinasi yang lain, misalnya ondel-ondel wisuda, ondel-ondel adat Jawa, ondel-ondel pakaian Muslim," katanya.
Selain mengajar kerajinan, Lukman juga mendirikan Yayasan Karya Seni Betawi yang mewadahi berbagai sanggar seni. Melalui yayasan tersebut, dia mengembangkan beragam kesenian Betawi mulai dari palang pintu, lenong, gambang kromong, hingga pembuatan ondel-ondel.
"Jadi rezeki kan Allah yang ngatur, yang penting kita punya misi yang sama untuk mengangkat budaya, memperkenalkan budaya," ujarnya.
Usaha miniatur ondel-ondel yang kini dikenal luas ternyata lahir dari upaya Lukman mencari tambahan penghasilan. Saat masih bekerja sebagai petugas keamanan, penghasilannya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang terus bertambah, terutama setelah anak keduanya lahir pada 2004.
"Kalau kita ngandelin gaji ya, kayaknya enggak cukup. Buat beli susu aja susah. Akhirnya kita berpikir, kita harus cari tambahan lagi," ujar Lukman.
Keadaan itu mendorongnya menghidupkan kembali bakat seni yang sempat lama ditinggalkan. Berawal dari membuat dekorasi untuk kegiatan warga dan perayaan 17 Agustus, kreativitasnya terus berkembang hingga berhasil menciptakan miniatur ondel-ondel berbahan botol plastik bekas pada 2013.
Saat ini, usaha tersebut dikelola bersama sang istri. Hasil produksinya dipasarkan dengan sistem titip jual (konsinyasi) di sejumlah toko mainan di kawasan Pondok Labu, Pondok Petir, hingga Kebayoran Lama.
"Variatif (jumlah ondel-ondel yang dititipkan di toko). Ada yang sepuluh, ada yang lima puluh, ada yang tiga puluh. Tinggal tergantung penjualannya aja," katanya.
Dia mengatakan, jumlah pesanan sempat melonjak saat momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Lukman mengaku mampu menghabiskan ratusan botol plastik bekas untuk diolah menjadi miniatur ondel-ondel.
"Alhamdulillah. Saya produksi dari kemarin hampir 500 botol. Jadi 250 pasang. Habis," ujarnya.
Seiring meningkatnya permintaan, Lukman memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk memperbesar kapasitas usahanya. Pinjaman pertama dia peroleh pada 2019 sebesar Rp20 juta yang digunakan sebagai tambahan modal membeli bahan baku dan perlengkapan produksi.
"Saya minjem Rp20 juta buat modal beli bahan, styrofoam (gabus sintetis), cat, alat-alat kerja," katanya.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, Lukman kembali mengakses KUR BRI senilai Rp50 juta. Selain dipakai memperkuat modal usaha, dana tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah agar lebih aman dan nyaman sebagai tempat produksi.
"Yang Rp50 juta saya renovasi. Lantai dua dulu masih papan, saya ngeri kerja enggak tenang. Akhirnya saya cor," ujarnya.
Menurut Lukman, hubungan dengan BRI tidak berhenti setelah pencairan pinjaman. Dia mengaku masih rutin mendapat pendampingan dan kesempatan mengikuti bazar maupun kegiatan promosi bertema budaya Betawi.
"Iya, kontrol. Kadang dia ada acara juga kita dipanggil, isi acara bazar," katanya.
Komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus diwujudkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga Mei 2026, realisasi KUR BRI telah mencapai Rp84,36 triliun atau sekitar 46,87 persen dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp180 triliun.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan, mayoritas pembiayaan tersebut disalurkan kepada pelaku usaha di sektor produktif yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat. Dari total penyaluran KUR, sebanyak 67,18 persen mengalir ke sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.
Menurut Akhmad, KUR tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembiayaan bagi UMKM, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi kerakyatan. Penyalurannya diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan nasional, mulai dari peningkatan ketahanan pangan hingga pengembangan kewirausahaan.
"KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput," ujar Akhmad.
Dia menambahkan, akses pembiayaan yang semakin mudah dan tepat sasaran diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memperkuat daya saing UMKM di berbagai daerah.
"Melalui akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran, UMKM dan pelaku usaha dapat tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional," katanya.
Sejak program KUR dijalankan pada 2015 hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta pelaku usaha di seluruh Indonesia.
Realisasi tersebut mencerminkan konsistensi BRI dalam memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat peran UMKM sebagai penggerak utama ekonomi nasional. Melalui dukungan pembiayaan yang berkelanjutan, BRI terus mendorong pelaku usaha agar semakin berkembang, naik kelas, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Editor: Rizky Agustian
Mangkoenagoro X Tawarkan Konsep Ekonomi Berbasis Budaya di WEF Dalian
Mangkoenagoro X membawa gagasan ekonomi berbasis budaya ke panggung World Economic Forum di Dalian. Menurutnya, identitas budaya dapat menjadi modal untuk menarik investasi dan mendorong inovasi. [329] url asal
#world-economic-forum #kgpaa-mangkoenagoro-x #budaya #update-me
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPA) Mangkoenagoro X menegaskan bahwa warisan budaya merupakan aset ekonomi strategis yang dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif Asia. Gagasan ini diampaikannya saat menjadi pembicara dalam sesi "Catching Asia's Beat" pada World Economic Forum Annual Meeting of the New Champions (WEF AMNC) 2026 di Dalian, Cina, Rabu (24/6).
Dalam forum yang mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri, dan inovator global itu, Mangkoenagoro X mengatakan, keunggulan kompetitif Asia tidak lagi hanya ditentukan oleh efisiensi dan skala ekonomi, tetapi juga kemampuan mengubah modal budaya menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.
"Budaya adalah infrastruktur. Bukan infrastruktur fisik, melainkan infrastruktur sosial. Budaya menciptakan kepercayaan, memperkuat identitas, dan membangun kohesi sosial. Pada waktunya, budaya juga mendorong ketahanan ekonomi," kata Mangkoenagoro X.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal budaya besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Pada 2025, sektor ekonomi kreatif menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja atau sekitar 18,7% dari total angkatan kerja nasional. Sedangkan sektor pariwisata diproyeksikan menyumbang lebih dari Rp 1.800 triliun per tahun dalam satu dekade mendatang serta menopang lebih dari 12 juta lapangan kerja.
Menurut Mangkoenagoro X, pengakuan UNESCO terhadap 13 warisan budaya tak benda Indonesia menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar tradisi, tetapi juga aset intelektual yang memiliki nilai ekonomi.
Dalam sesi tersebut, Mangkoenagoro X juga berdialog dengan Menteri Pengembangan Digital, Inovasi, dan Komunikasi Mongolia Nomin Chinbat. Keduanya membahas bagaimana negara-negara Asia dapat memanfaatkan identitas budaya sebagai fondasi pembangunan ekonomi sekaligus memperkuat kepercayaan diri nasional.
Sebagai contoh implementasi, Mangkoenagoro X memaparkan transformasi Pura Mangkunegaran di Solo. Menurut dia, kompleks budaya yang berusia 269 tahun itu menerima lebih dari 120 ribu kunjungan pada 2024.
Berbagai kegiatan digelar di kawasan tersebut, mulai dari Upacara Pergantian Tahun Jawa Sura hingga Mangkunegaran Run. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan efek berganda terhadap perekonomian Kota Solo.
Mangkoenagoro X mengatakan bahwa di era kecerdasan buatan, budaya menjadi pembeda yang sulit ditiru. "Teknologi dapat disalin. Modal dapat berpindah. Infrastruktur fisik dapat dibangun ulang. Namun budaya, keaslian, dan kepercayaan jauh lebih sulit untuk direplikasi," ujarnya.
Cagar Budaya Pabrik Indarung I Diharapkan Jadi Pusat Seni dan Budaya Skala Internasional
Menteri Kebudayaan RI ingin Pabrik Indarung I Semen Padang jadi pusat seni dan budaya internasional melalui revitalisasi dan acara Indarung Biennale. [552] url asal
#indarung-biennale #pabrik-indarung #cagar-budaya #seni-dan-budaya #pusat-seni #pusat-budaya #revitalisasi-cagar-budaya #pameran-seni-rupa #sejarah-industri-semen #kebudayaan-internasional #warisan-ind
(Bisnis.Com - Terbaru) 25/06/26 18:17
v/259897/
Bisnis.com, PADANG - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyebutkan Cagar Budaya Nasional Pabrik Indarung I Semen Padang, Sumatra Barat, yang menjadi tonggak sejarah perusahaan semen pertama di Asia Tenggara itu sudah seharusnya berpikir untuk menjadi pusat seni dan budaya berskala internasional.
Dia menyampaikan untuk menjadikan Pabrik Indarung I sebagai pusat seni dan budaya berskala internasional itu, perlu untuk menyelenggarakan event yang dikenal dengan Indarung Biennale setiap dua tahun dengan melibatkan seniman dari Indonesia dan berbagai negara. Bila hal itu terwujud, maka Indarung I akan semakin dikenal dunia, dan memberikan dampak positif bagi daerah.
“Sekarang itu, perlu ada terobosan di kawasan Pabrik Indarung I ini, karena ada potensi yang dikembangkan menjadi ruang atau kantong kebudayaan,” katanya, Rabu (24/6/2026).
Dia menyebutkan bangunan dan kawasan bekas pabrik semen tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seni, seperti pameran seni rupa, instalasi, pertunjukan tari, teater, sastra, dan beragam aktivitas kebudayaan lainnya. Namun, perlu ada revitalisasi kawasan yang harus dilakukan terlebih dahulu, agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara aman, layak, dan berkelanjutan.
“Hal yang paling penting adalah ruang-ruang cagar budaya ini direvitalisasi terlebih dahulu dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, kawasan tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih layak, lebih baik, dan menjadi lebih hidup,” ujarnya.
Bicara soal revitalisasi, lanjut Fadli, Kementerian Kebudayaan pada tahun ini sedang melaksanakan revitalisasi terhadap sejumlah cagar budaya di Indonesia. Melalui program revitalisasi ini, dia menilai revitalisasi tersebut bisa turut dilakukan di beberapa tempat di Pabrik Indarung I.
Terlebih, Pabrik Indarung I memiliki nilai sejarah penting, karena pabrik yang mulai beroperasi pada 1910 itu menjadi bagian dari sejarah perkembangan industri semen, serta pembangunan berbagai infrastruktur di Indonesia. Meskipun telah berstatus sebagai Cagar Budaya Nasional dan dimanfaatkan untuk sejumlah kegiatan, namun pemanfaatannya dinilai belum optimal.
“Saya sudah dua kali melihat langsung Pabrik Indarung I. Kawasan ini memang sudah dimanfaatkan, tetapi belum optimal. Karena itu, simposium ini penting untuk merumuskan pemanfaatannya, terutama bagi kepentingan kebudayaan,” sebutnya.
Dengan luas kawasan sekitar lima hektare, lanjutnya, Pabrik Indarung I mampu menampung berbagai kegiatan seni dan budaya berskala besar. Salah satunya, penyelenggaraan pameran seni rupa dua tahunan dalam format Indarung Biennale.
“Saya sudah berbicara dengan Kepala Galeri Nasional. Kami berharap dapat menyelenggarakan Indarung Biennale dengan mengundang perupa dari berbagai negara,” kata dia lagi.
Fadli mencontohkan pemanfaatan bangunan bersejarah dalam penyelenggaraan Venice Biennale di Italia yang lokasinya di Arsenale, dan merupakan kompleks bekas galangan kapal dan gudang persenjataan yang kemudian dialihfungsikan menjadi ruang pameran.
"Konsep serupa dapat diterapkan di Indarung Biennale dengan menonjolkan karakter industri yang menjadi kekuatan dan pembeda dari kegiatan tersebut," ungkap dia.
Sementara itu, Direktur Utama PT Semen Padang Pri Gustari Akbar mengatakan, Pabrik Indarung I bukan sekadar bangunan tua, tetapi saksi lahirnya industri semen modern di Indonesia, sekaligus bagian penting dari perjalanan pembangunan bangsa.
“Nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya berupa struktur fisik, tetapi juga memori kolektif, warisan teknologi, sejarah sosial, serta identitas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.
Menurutnya pelestarian Pabrik Indarung I sebagai warisan industri membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat.
Oleh karena itu, PT Semen Padang berkomitmen untuk terus mendukung upaya pelestarian dan pengembangan kawasan ini agar menjadi pusat pembelajaran sejarah industri, destinasi wisata edukasi, serta kebanggaan Sumatra Barat dan Indonesia.
“Harapan kami, Pabrik Indarung I dapat menjadi contoh sukses bagaimana warisan industri dikelola secara modern tanpa kehilangan nilai sejarah, karakter, dan autentisitasnya,” tutup Fadli.
Transaksi UMKM di Karangasem Festival Sentuh Rp1,44 Miliar
Karangasem Festival 2026 mencatat transaksi UMKM sebesar Rp1,44 miliar, menunjukkan festival ini sebagai penggerak ekonomi lokal dan pelestarian budaya. [274] url asal
#umkm-karangasem #karangasem-festival #transaksi-umkm #ekonomi-karangasem #festival-budaya #umkm-kuliner #ekonomi-kreatif #pariwisata-karangasem #pelaku-umkm #penggerak-ekonomi #karangasem-2026 #pening
(Bisnis.Com - Terbaru) 24/06/26 12:54
v/258335/
Bisnis.com, DENPASAR – Karangasem Festival 2026 mencatat transaksi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp1,44 miliar.
Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata menjelaskan selama pelaksanaan festival pada 19–22 Juni 2026, sebanyak 32 pelaku UMKM berhasil membukukan transaksi sebesar Rp358 juta. Sementara itu, 85 pelaku usaha kuliner mencatat transaksi mencapai Rp1,087 miliar.
“Dengan demikian, total perputaran ekonomi yang terjadi selama empat hari pelaksanaan Karangasem Festival 2026 mencapai Rp1,445 miliar,” jelas Gus Par dikutip dari keterangan pers, Rabu (24/6/2026).
Angka tersebut menunjukkan bahwa festival tidak hanya menjadi sarana hiburan dan pelestarian budaya, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Karangasem akan terus mendorong agar setiap kegiatan budaya dan pariwisata tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan UMKM, ekonomi kreatif, serta pengembangan pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan.
Pada usia ke-386 tahun, Kota Amlapura telah tumbuh menjadi pusat pemerintahan, budaya, pendidikan, dan ekonomi yang terus berkembang. Sejarah panjang tersebut menjadi modal besar bagi masyarakat Karangasem untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
Pada kesempatan itu, Gus Par juga menegaskan bahwa persoalan fasilitas air bersih dan infrastruktur jalan yang selama ini menjadi tantangan di Karangasem akan terus diupayakan hingga tuntas. “Meski berat, harus bisa,” ujar Gus Par.
Wagub Giri Prasta mengapresiasi penyelenggaraan festival yang tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
“Kami mendapat laporan dari Bapak Bupati bahwa selama empat hari pelaksanaan festival telah terjadi transaksi lebih dari Rp1 miliar. Ini menunjukkan kegiatan budaya mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat, khususnya UMKM di Karangasem,” ujarnya.
Dari tradisi, Nyobeng jadi potensi wisata perbatasan
Aroma embun masih tercium di antara perbukitan hijau yang mengelilingi Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan ... [2,115] url asal
Di tengah kampung berdiri Rumah Balok, rumah adat yang menjadi pusat berbagai ritual Nyobeng
Pontianak (ANTARA) - Aroma embun masih tercium di antara perbukitan hijau yang mengelilingi Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Udara pagi yang sejuk menyelimuti kampung kecil di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia itu ketika satu per satu warga mulai meninggalkan rumah mereka.
Beberapa warga terlihat memanggul peralatan pertanian, berjalan menyusuri jalan setapak menuju ladang yang membentang di lereng-lereng bukit. Bagi masyarakat Dayak Bidayuh di wilayah ini, kehidupan masih berjalan mengikuti ritme alam yang telah diwariskan turun-temurun.
Ladang bukan sekadar tempat bercocok tanam. Di sanalah identitas, nilai kehidupan, dan kebudayaan mereka tumbuh serta dipelihara dari generasi ke generasi.
Padi yang ditanam di ladang menjadi sumber kehidupan utama masyarakat. Namun lebih dari itu, hasil panen juga menjadi penanda berakhirnya satu siklus kehidupan sekaligus awal dari perayaan budaya terbesar yang dimiliki masyarakat Dayak Bidayuh, yakni Nyobeng.
Di wilayah perbatasan yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Sarawak, Malaysia, tradisi tersebut tidak lahir sebagai pertunjukan wisata yang sengaja diciptakan untuk menarik pengunjung. Nyobeng tumbuh secara alami dari kehidupan agraris masyarakat yang selama ratusan tahun menggantungkan hidup pada hasil ladang.
Ketika musim panen berakhir dan padi telah tersimpan rapi di lumbung, masyarakat memasuki masa syukur yang diwujudkan melalui pelaksanaan gawai adat. Dari momentum inilah tradisi Nyobeng dilaksanakan.
Kepala Dusun Sebujit Baru Novel Andika mengatakan, pelaksanaan Nyobeng selalu berkaitan erat dengan selesainya musim panen.
"Nyobeng dilaksanakan setelah masyarakat selesai panen. Jadi ini merupakan bentuk syukur masyarakat atas hasil panen yang diberikan Tuhan sekaligus penghormatan kepada leluhur yang selama ini menjaga kampung dan kehidupan masyarakat," katanya.
Bagi masyarakat Dayak Bidayuh, keberhasilan panen bukan hanya hasil kerja keras manusia, tetapi juga bagian dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur yang dipercaya turut menjaga keseimbangan kehidupan. Karena itu, rasa syukur tidak dirayakan secara individual, melainkan menjadi perayaan bersama seluruh komunitas.
Di tengah kampung berdiri Rumah Balok, rumah adat yang menjadi pusat berbagai ritual Nyobeng. Bangunan kayu berusia puluhan tahun itu menjadi saksi perjalanan panjang sejarah masyarakat Dayak Bidayuh di Sebujit Baru.
Di dalam rumah adat tersebut, para tetua adat memimpin berbagai prosesi yang sarat makna. Denting gong bertalu-talu mengiringi tarian tradisional. Generasi muda mengenakan pakaian adat lengkap, sementara para orang tua berkumpul menceritakan kembali kisah-kisah leluhur kepada anak cucu mereka.
Di sinilah Nyobeng memainkan perannya sebagai jembatan antargenerasi. Tradisi ini menjadi ruang kolektif untuk memperkuat ikatan sosial, menjaga memori budaya, sekaligus memastikan nilai-nilai leluhur tetap hidup di tengah arus modernisasi yang terus bergerak hingga ke kawasan perbatasan.

Potensi wisata budaya
Keunikan Nyobeng tidak hanya terletak pada ritual adatnya. Tradisi ini juga menjadi simbol kuat hubungan kekeluargaan masyarakat Dayak Bidayuh yang melampaui batas negara.
Setiap kali Nyobeng digelar, ribuan kerabat Dayak Bidayuh dari berbagai wilayah di Sarawak, Malaysia, berdatangan ke Desa Hlibuei. Mereka menempuh perjalanan berjam-jam melintasi perbatasan untuk menghadiri perayaan yang sama.
Pada momentum tersebut, garis batas negara yang memisahkan Indonesia dan Malaysia seolah kehilangan maknanya.
Di setiap rumah warga, meja-meja dipenuhi makanan tradisional, kopi hangat, tuak, serta berbagai hidangan khas yang disiapkan untuk menyambut tamu. Tawa dan percakapan dalam bahasa Bidayuh terdengar hampir di setiap sudut kampung.
Keluarga yang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak bertemu kembali berkumpul dalam suasana penuh keakraban.
Anak-anak bermain bersama tanpa mempersoalkan kewarganegaraan. Orang-orang tua mengenang hubungan keluarga yang telah terjalin jauh sebelum batas negara modern dibentuk.
Selama beberapa hari, Sebujit Baru berubah menjadi ruang besar persaudaraan lintas batas yang memperlihatkan kuatnya ikatan budaya masyarakat Dayak Bidayuh.
"Di balik kemeriahan budaya tersebut, Nyobeng juga menghadirkan manfaat ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat setempat," kata Novel Andika.
Ribuan pengunjung yang datang setiap tahun menciptakan perputaran ekonomi di desa yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.
Warung-warung dadakan bermunculan di sepanjang jalan desa. Warga menjual makanan tradisional, hasil kebun, kerajinan tangan, hingga berbagai cendera mata khas perbatasan.
Pemuda desa membantu mengatur parkir kendaraan, menyediakan jasa transportasi lokal, serta menjadi pemandu bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan budaya masyarakat Dayak Bidayuh.
Beberapa rumah warga bahkan mulai dimanfaatkan sebagai tempat menginap bagi tamu yang datang dari luar daerah maupun luar negeri.
Bagi masyarakat Hlibuei, Nyobeng kini tidak hanya menjadi instrumen pelestarian budaya, tetapi juga membuka sumber pendapatan tambahan yang semakin penting bagi ekonomi keluarga.
Besarnya antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah pengunjung yang terus meningkat setiap tahun. Pada pelaksanaan Nyobeng tahun ini, lebih dari 300 kendaraan roda empat dari luar memadati kawasan Desa Hlibuei, sementara jumlah pengunjung mencapai ribuan orang yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Barat maupun dari Malaysia.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kawasan perbatasan menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata budaya.
Berbeda dengan destinasi yang dibangun secara artifisial, Nyobeng menawarkan pengalaman yang autentik. Pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan budaya, tetapi juga merasakan langsung kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi leluhur sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.
"Keaslian itulah yang kini menjadi daya tarik utama wisata budaya di berbagai belahan dunia," kata Novel.
Ketika banyak tradisi mulai tergerus modernisasi, masyarakat Dayak Bidayuh di Sebujit Baru justru berhasil mempertahankan warisan budaya mereka tanpa kehilangan makna dan nilai aslinya.
"Saya dan keluarga baru pertama kali datang ke Sebujit untuk menyaksikan gawai Nyobeng. Ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Perayaannya spektakuler dan sarat makna budaya," kata Zikri, warga Sarawak.
Dia menyatakan sangat berminat untuk datang kembali dan akan mengajak sahabatnya pada perayaan tahun depan.
Sementara itu, Hermandari, warga Jakarta yang sengaja datang ke Sebujit menyatakan tertarik untuk datang langsung ke sebujit setelah melihat keseruan Nyobeng di media sosial.
"Saya mengikuti setiap ritual dan pelaksanaannya dan ini benar-benar menarik. Saya kebetulan sangat suka dengan budaya, termasuk ciri khas setiap rumah adat dan Nyobeng ini salah satu budaya yang menarik," tuturnya.

Budaya unik Dayak Bidayuh
Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Bengkayang memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan tradisi Nyobeng sebagai upaya nyata menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Perwakilan DAD Bengkayang, Rudi MPD, mengatakan pelaksanaan Nyobeng tahun 2026merupakan kebanggaan bersama masyarakat adat Dayak, khususnya Suku Bidayuh, yang hingga kini masih konsisten menjaga tradisi turun-temurun tersebut.
“Kita bersyukur bisa hadir dalam kegiatan ini. Ini adalah sesuatu yang luar biasa, karena Nyobeng bukan hanya milik satu kelompok, tetapi milik kita bersama sebagai warisan budaya,” kata Rudi dalam sambutannya pada pembukaan acara, di Desa Hlibuei.
Ia menuturkan, pada pelaksanaan tahun ini, berbagai pertunjukan adat ditampilkan sejak awal acara, termasuk suguhan minuman khas Dayak Bidayuh serta atraksi budaya yang menjadi daya tarik utama bagi para tamu undangan dan wisatawan.
Salah satu atraksi yang menjadi perhatian adalah panjat bambu “putar balik”, yang disebutnya sebagai ikon khas yang hanya ada di Kabupaten Bengkayang dan tidak ditemukan di daerah lain.
“Ini luar biasa dan menjadi ikon tersendiri. Dibutuhkan kekuatan, konsentrasi, dan ketahanan fisik yang tinggi untuk melakukan atraksi ini,” ujarnya.
Rudi juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan pengurus adat yang telah menyelenggarakan kegiatan Nyobeng 2026 dengan baik, sehingga dapat berjalan lancar dan menarik perhatian banyak pengunjung, termasuk wisatawan dari luar negeri.
Ia menyebutkan, pada tahun ini terdapat tamu dari berbagai daerah dan negara, termasuk wisatawan dari Malaysia seperti Kuala Lumpur dan Sarawak, serta pengunjung dari negara lain seperti India dan Thailand yang turut menyaksikan langsung tradisi tersebut.
“Ini menunjukkan bahwa budaya Nyobeng sudah dikenal luas, bahkan hingga ke mancanegara. Kita patut bersyukur karena budaya ini terus hidup dan berkembang,” katanya.
Selain itu, DAD Bengkayang juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bengkayang yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan adat tersebut. Kehadiran Bupati, Sekretaris Daerah, dan Ketua DPRD Bengkayang menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian budaya lokal.
“Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan budaya Dayak, khususnya Nyobeng di Kecamatan Siding,” ujarnya.
Rudi menegaskan pentingnya peran semua pihak, terutama tokoh adat dan generasi muda, untuk terus menjaga keberlanjutan tradisi Nyobeng agar tidak hilang tergerus zaman.
Ia berharap pelestarian budaya ini dapat terus diperkuat sehingga menjadi warisan yang dapat dinikmati dan dipahami oleh generasi mendatang.
Pembenahan infrastruktur
Untuk memaksimalkan potensi pariwisata budaya di perbatasan Bengkayang, pemkab setempat menegaskan komitmennya untuk membenahi infrastruktur pariwisata di kawasan perbatasan sebagai langkah memperkuat pengembangan destinasi wisata budaya Nyobeng di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis.
Menurut Sebastianus, tradisi Nyobeng tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga telah berkembang menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung setiap tahun.
Karena itu, pengembangan kawasan budaya tersebut harus dibarengi dengan peningkatan infrastruktur pendukung agar mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan tanpa menghilangkan keaslian tradisi yang telah diwariskan leluhur.
“Kita ingin kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang lebih baik. Karena itu perlu penataan bersama agar ke depan bisa menarik lebih banyak wisatawan,” kata Sebastianus di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding.
Bagi Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Nyobeng bukan lagi sekadar agenda budaya tahunan, melainkan aset strategis yang memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.
Tingginya minat wisatawan tersebut, menurut Sebastianus, menjadi alasan penting bagi pemerintah daerah untuk mulai menata kawasan wisata budaya Nyobeng secara lebih terencana.
Berbagai fasilitas dasar seperti area parkir, sarana sanitasi, ruang publik, akses menuju lokasi kegiatan, hingga pengembangan fasilitas pendukung wisata lainnya menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian agar kawasan budaya tersebut mampu berkembang secara berkelanjutan.
Ia menilai, pengembangan wisata budaya di perbatasan memiliki prospek yang besar karena menawarkan pengalaman autentik yang sulit ditemukan di daerah lain.
Tradisi Nyobeng yang tetap dijalankan secara alami oleh masyarakat Dayak Bidayuh menjadi kekuatan utama yang dapat menarik wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan dan budaya masyarakat perbatasan.
Menurut dia, penguatan sektor pariwisata budaya tidak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus berupaya menyelesaikan berbagai persoalan yang masih menjadi hambatan dalam pengembangan kawasan wisata budaya di perbatasan.
Selain infrastruktur fisik, Pemkab Bengkayang juga terus memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya melalui fasilitasi kegiatan adat dan dukungan anggaran yang diberikan setiap tahun.
Sebastianus menegaskan pembangunan kawasan wisata budaya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga nilai-nilai adat yang menjadi identitas masyarakat Dayak Bidayuh.
Ia menilai keberhasilan pengembangan wisata budaya tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlangsungan tradisi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang berharap pengembangan infrastruktur pariwisata di kawasan Nyobeng dapat menjadikan Desa Hlibuei sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan Kalimantan Barat.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan, kawasan perbatasan yang selama ini dikenal sebagai beranda terdepan Indonesia di utara Kalimantan itu diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelestarian budaya Dayak Bidayuh, tetapi juga tumbuh sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.

Dukungan Provinsi
Komitmen pengembangan pariwisata perbatasan juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kalbar Sugeng Hariadi, menegaskan bahwa pembenahan destinasi wisata di kawasan perbatasan tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan.
Menurut dia, berbagai destinasi wisata budaya dan alam di kawasan perbatasan memiliki daya tarik yang besar. Namun, pengembangannya harus diiringi dengan perbaikan fasilitas dasar yang mampu memberikan kenyamanan bagi pengunjung tanpa mengurangi nilai budaya dan keaslian destinasi.
"Kita terus mendorong agar destinasi-destinasi wisata diperbaiki dan disempurnakan. Yang paling penting adalah bagaimana mewujudkan pariwisata berkelanjutan, menjaga kebersihan lingkungan, kenyamanan pengunjung, serta menyiapkan sanitasi yang memadai di setiap destinasi wisata," katanya.
Sugeng menjelaskan, Kementerian Pariwisata telah membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengusulkan peningkatan fasilitas pendukung wisata melalui program yang akan dilaksanakan pada tahun mendatang.
Berbagai kebutuhan dasar seperti peningkatan akses jalan menuju destinasi, pembangunan toilet umum, tempat ibadah, hingga fasilitas pelayanan wisata lainnya dapat diusulkan oleh pemerintah kabupaten dan kota untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat.
Menurut dia, langkah tersebut menjadi peluang penting bagi daerah-daerah perbatasan yang memiliki potensi wisata besar, namun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.
"Kementerian Pariwisata sudah meminta daerah untuk mengusulkan kebutuhan fasilitas yang perlu diperbaiki maupun dilengkapi. Ini menjadi kesempatan bagi daerah untuk mempercepat pengembangan destinasi wisata," ujarnya.
Khusus untuk kawasan perbatasan Kalimantan Barat, Sugeng mengatakan pemerintah provinsi terus mendorong penguatan destinasi melalui peningkatan fasilitas pendukung sekaligus pengembangan berbagai atraksi dan event wisata yang melibatkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Menurut dia, posisi geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia memberikan peluang besar untuk mengembangkan wisata lintas batas berbasis budaya, sejarah, dan kearifan lokal.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalbar bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat promosi melalui kalender event pariwisata yang terintegrasi serta berbagai platform digital guna memperluas jangkauan promosi wisata.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Bank Mandiri Hadirkan Dampak Lebih Luas di Mandiri Jogja Marathon 2026
Bank Mandiri Jogja Marathon 2026 di Candi Prambanan menggabungkan olahraga, budaya, dan ekonomi, dengan 10.200 pelari dari 17 negara. Acara ini mendukung UMKM lokal dan keberlanjutan melalui berbagai [675] url asal
#bank-mandiri #jogja-marathon #marathon-2026 #sport-tourism #candi-prambanan #more-than-a-race #pelari-internasional #kategori-lomba #rute-budaya #pelari-indonesia #dampak-ekonomi #sinergi-komunitas
(Bisnis.Com - Finansial) 22/06/26 19:57
v/256662/
Bisnis.com, JAKARTA - Ajang sport tourism unggulan Bank Mandiri, Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026, resmi mencapai puncaknya pada Minggu (21/6) di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta. Mengusung tema “More Than a Race”, gelaran tahunan ini memadukan olahraga, budaya, pariwisata, keberlanjutan, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu rangkaian kegiatan.
Gelaran MJM tahun ini diikuti 10.200 pelari dari 17 negara, menjadikannya penyelenggaraan dengan jumlah peserta terbesar sejak 2017. Para peserta mengikuti empat kategori lomba, yakni Marathon (42K), Half Marathon (21K), 10K, dan 5K Fun Run dengan lintasan yang telah tersertifikasi Association of International Marathons and Distance Races (AIMS).
Selaras dengan semangat “More Than a Race”, para peserta tidak hanya disuguhkan pengalaman berlari, tetapi kesempatan menikmati kekayaan budaya dan keindahan lanskap khas Yogyakarta. Rute yang dilalui melintasi sejumlah ikon budaya, seperti Candi Plaosan, Monumen Taruna, serta kawasan perdesaan.
Di sektor putra, Pelari Kiprono Koech keluar sebagai juara pertama kategori Full Marathon Open MJM 2026 dengan catatan waktu 02:20:28, diikuti Amos Kipkemoi Chesang, dan James Cherutich Tallam. Sementara itu, di sektor putri, Pelari Eunice Nyawira Muchiri finis terdepan dengan waktu 02:39:35, unggul atas Medanit Feyera Gurmesa dan Elizabeth Chepkanan Rumokol di peringkat 2 dan 3.
Pada kategori Full Marathon National (Closed Marathon), pelari Indonesia tampil impresif. Rikki Marthin L Simbolon berhasil meraih posisi pertama di sektor putra dengan waktu 02:30:06, disusul oleh Immanuel Hutasoit, dan Laode Safrudin. Di sektor putri, Dwi Tiansi Anggraini keluar sebagai juara dengan catatan waktu 03:04:55, mengungguli Ina Lydia Utari Damanik, dan Asnida Aras.
Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan, MJM telah berkembang menjadi lebih dari ajang olahraga. Menurutnya, MJM merupakan platform kolaborasi yang menghubungkan komunitas, pelaku usaha lokal, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
“MJM merupakan wujud sinergi yang terintegrasi antara Bank Mandiri, komunitas, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah. Kami ingin setiap langkah pelari memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat, sehingga MJM benar-benar hadir sebagai More Than a Race,” ujar Adhika, di Yogyakarta, Minggu (21/6).
Dampak Nyata Sosial dan Lingkungan di Setiap Langkah
Sebagaimana penyelenggaraan dari tahun ke tahun, bank berkode emiten BMRI ini memastikan MJM 2026 menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian, lingkungan, sosial, dan budaya di Yogyakarta.
Adhika menyebutkan, sebagai bentuk nyata semangat “More Than a Race”, perseroan juga memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program literasi keuangan digital bagi pelaku UMKM di sekitar wilayah penyelenggaraan guna mendorong adopsi transaksi digital dan meningkatkan kapasitas usaha. Upaya ini dilengkapi dengan program Mandiri LAKU LOKAL (mLaku Lokal) di Race Village kawasan Candi Prambanan yang menghadirkan 27 brand lokal dan 70 tenant UMKM sebagai ruang promosi pelaku usaha kuliner dan ekonomi kreatif Yogyakarta.
Pemberdayaan ekonomi lokal juga dilakukan Bank Mandiri melalui penyelenggaraan UMKM Festival yang melibatkan sekitar 60 pelaku UMKM yang berdomisili di sekitar Candi Prambanan.
Komitmen keberlanjutan diwujudkan di sepanjang siklus acara, mulai dari fase Road to MJM 2026, Race Day, hingga Post-Race, guna mendorong partisipasi yang lebih bertanggung jawab. Pada fase pre-event, peserta berkontribusi terhadap aksi iklim sejak registrasi melalui program One Ticket, One Climate Action yang terintegrasi dengan fitur Livin' Planet, serta dapat mengimbangi jejak karbon lewat pembelian Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK).
Saat race day, perseroan menerapkan pengelolaan kawasan zero waste to landfill, memakai racepack tekstil hasil upcycling, dan mengajak peserta mengikuti kampanye daur ulang pakaian Mandiri Looping for Life.
Di sisi sosial dan budaya, Bank Mandiri menghadirkan Mandiri Bakti Kesehatan, dengan Mini General Check Up bagi 1.650 Abdi Dalem di Puro Pakualaman, Puralaya Imogiri, dan Keraton Ngayogyakarta, serta Khitanan Massal bagi 280 anak di sekitar Prambanan.
Bank Mandiri juga menghadirkan kegiatan Mandiri Sahabat Desa, dengan implementasi berupa perbaikan jalan, pembangunan batas desa dan aksi bersih desa di 28 desa yang dilalui rute MJM serta pembagian 2.800 paket sembako.
Sementara pelestarian budaya diwujudkan melalui program "Pustaka Luhur, Akses untuk Semua" berupa digitalisasi manuskrip kuno koleksi Widyapustaka Pakualaman.
"Melalui Mandiri Jogja Marathon, kami ingin menghadirkan perayaan yang tidak hanya dinikmati para pelari, namun juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian daerah secara berkelanjutan," ujar Adhika.
Wisata Berbasis Budaya, Tabanan Gelar Parade Gebogan dan Baleganjur
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya membuka Parade Gebogan dan Baleganjur 2026 di Bamboo Stage The Blooms Bali, Tabanan, Bali, Minggu (21.6.2026). Bupati Tabanan... | Halaman Lengkap [410] url asal
#bali #seni-dan-budaya #wisata-budaya #tabanan #event-budaya
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 22/06/26 16:23
v/256450/
TABANAN - Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya membuka Parade Gebogan dan Baleganjur 2026 di Bamboo Stage The Blooms Bali, Tabanan, Bali, Minggu (21/6/2026). Mengusung tema Dharma Santi Mahotsava kegiatan ini tidak hanya menjadi atraksi wisata, tetapi juga wadah mempererat persatuan melalui seni dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.Acara semakin semarak dengan penampilan perdana tarian maskot Ulun Danu, yakni Tari Amerta Danu. Tarian yang mengangkat sosok Dewi Ulun Danu memadukan keindahan gerak, musik gamelan, serta nilai-nilai filosofis yang kuat.
"Saya apresiasi tadi adik-adik yang megambel, tarian maskot Ulun Danu yang perdana ditarikan sangat memukau dan luar biasa. Tarian yang melambangkan Dewi Ulun Danu didampingi empat penari sebagai simbol Catur Angga yang mengawal Pura Ulun Danu, sungguh sangat memukau. Kita patut berbangga dan berbahagia dapat menyaksikan penampilan perdana dalam event yang sangat baik ini," kata Sanjaya dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Dia menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada manajemen DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali atas konsistensinya menghadirkan berbagai event kreatif yang menjadi ruang pelestarian seni dan budaya masyarakat lokal. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Bupati Sanjaya dan jajaran ditandai dengan penarikan replika gebogan.
"Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada DTW Ulun Danu dan The Blooms Bali atas penyelenggaraan parade kesenian budaya berupa Gebogan dan Baleganjur ini. Kegiatan seperti ini sangat penting dalam meningkatkan kunjungan wisata sekaligus memperkuat daya tarik destinasi wisata di kawasan Bedugul dan sekitarnya," tegasnya.
Sanjaya juga menjelaskan, gebogan merupakan simbol persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai ungkapan rasa syukur atas segala anugerah kehidupan. Gebogan dikatakannya melambangkan gunung sebagai simbol kesucian, tempat bersthananya para dewa.
"Ketika dipadukan dengan Baleganjur, maka parade ini menjadi representasi yang sangat tepat dalam menampilkan kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Tabanan," imbuh Sanjaya. Dia mengaku bangga melihat perkembangan DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali yang terus berbenah dari tahun ke tahun hingga kini berkembang menjadi destinasi wisata bertaraf internasional.
Direktur Utama Ulun Danu Beratan Lestari, I Wayan Mustika menyampaikan bahwa Parade Gebogan dan Baleganjur tahun ini berlangsung dari 21 Juni hingga 9 Agustus 2026 ini diikuti oleh 20 Desa Adat Pemaksan Pura Ulun Danu Beratan dengan melibatkan sekitar 1.500 generasi muda yang tampil secara bergiliran.
Pelaksanaan parade dalam kurun waktu kurang lebih satu setengah bulan bertujuan memberikan kesempatan kepada wisatawan yang berkunjung ke DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali untuk menikmati beragam atraksi budaya lokal dan diharapkan mampu menjadi daya tarik tersendiri dalam meningkatkan kunjungan wisata.
Mendikbud: Peringatan 100 Tahun Jam Gadang Jadi Momentum Perkuat Diplomasi Indonesia - Belanda
Peringatan 100 Tahun Jam Gadang di Bukittinggi dimanfaatkan untuk memperkuat diplomasi Indonesia-Belanda melalui sejarah, budaya, pendidikan, dan ekonomi. [462] url asal
#jam-gadang #peringatan-100-tahun #hubungan-diplomatik #indonesia-belanda #sejarah-minangkabau #kota-bukittinggi #pariwisata-sumbar #ikon-wisata #diplomasi-internasional #kerja-sama-budaya #pendidikan
(Bisnis.Com - Terbaru) 22/06/26 03:45
v/255705/
Bisnis.com, BUKITTINGGI — Kementerian Kebudayaan RI menyebutkan seiring adanya peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang ada di Kota Bukittinggi dapat dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dan Belanda.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan hubungan diplomatik Indonesia dan Belanda ini bisa diperkuat melalui pendekatan sejarah, budaya, pendidikan, dan kerja sama antarmasyarakat.
"Adanya peringatan satu abad Jam Gadang tidak hanya penting untuk memperkuat kesadaran sejarah dan budaya, tetapi juga memiliki dampak strategis bagi pengembangan ekonomi, pariwisata, dan diplomasi Indonesia di tingkat internasional," katanya dalam keterangan resmi, Minggu (21/6/2026).
Dia menyampaikan bahwa Jam Gadang merupakan simbol perjalanan sejarah Minangkabau dan kemerdekaan Indonesia yang tidak dapat dipisahkan dari berbagai fase penting perjalanan bangsa.
Fadli bilang Bukittinggi memiliki posisi strategis dalam sejarah nasional, termasuk sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), sehingga identitasnya sebagai Kota Perjuangan perlu terus diperkuat melalui berbagai program pembangunan dan promosi daerah.
"Saya mengapresiasi kegiatan ini, karena memiliki nilai sejarah medunia dan menjadi ikon wisata di Sumbar," ujarnya.
Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen menyampaikan bahwa hubungan Indonesia dan Belanda saat ini terus berkembang secara konstruktif melalui berbagai bentuk kerja sama yang melibatkan pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat.
Menurutnya Bukittinggi memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia sekaligus menyimpan warisan budaya yang dapat menjadi jembatan penghubung antarmasyarakat kedua negara.
“Jam Gadang menjadi simbol persahabatan yang telah menyaksikan berbagai peristiwa penting selama satu abad,” ujarnya.
Marc menilai hubungan antara Belanda dan Indonesia, khususnya dengan masyarakat Minangkabau, memiliki fondasi kuat yang terus berkembang melalui kolaborasi di bidang pendidikan, budaya, dan ekonomi.
Oleh karena itu, berharap hubungan tersebut semakin diperkuat melalui berbagai program yang memberikan manfaat nyata bagi generasi mendatang.
Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy menegaskan diplomasi tidak hanya menjadi ranah pemerintah pusat, tetapi juga dapat diperkuat melalui diplomasi daerah, kerja sama antarkota, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan masyarakat.
“Bukittinggi dan Amsterdam memiliki nilai sejarah yang dapat menjadi jembatan persahabatan kedua bangsa. Kami melihat peluang besar untuk memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif, pengelolaan arsip sejarah, hingga pembangunan berkelanjutan,” sebutnya.
Menurutnya Sumbar memiliki berbagai potensi strategis yang terbuka untuk kerja sama internasional, mulai dari sektor pariwisata, pertanian, perdagangan, pendidikan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Selanutnya dalam pengalaman Belanda dalam pengelolaan air, teknologi pertanian, ekonomi hijau, dan pembangunan berkelanjutan dapat menjadi referensi penting bagi percepatan pembangunan daerah.
Walikota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menambahkan sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga menjadi modal untuk membangun kerja sama dan persahabatan yang lebih luas.
"Melalui momentum ini, Bukittinggi ingin memperkuat posisinya sebagai kota bersejarah yang terbuka terhadap kolaborasi global,” kata Ramlan.
Dia menjelaskan, Pemkot Bukittinggi menawarkan sejumlah agenda kerja sama yang dapat dikembangkan bersama mitra internasional, antara lain pengembangan arsip digital sejarah Indonesia-Belanda, penguatan jejaring penelitian, program pertukaran pelajar dan akademisi, museum digital berbasis teknologi, pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya, hingga wisata sejarah.
Sagu Jadi Fondasi Kedaulatan Pangan dan Kemandirian Ekonomi Papua
Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menegaskan sagu sebagai fondasi kedaulatan pangan dan ekonomi, serta pelestarian budaya dan ekosistem Papua. [315] url asal
#sagu-papua #kedaulatan-pangan #kemandirian-ekonomi #pelestarian-budaya #ekosistem-sagu #ekonomi-masyarakat-adat #festival-sagu #tradisi-sagu #pangan-lokal #produk-turunan-sagu #pemberdayaan-masyarakat
(Bisnis.Com - Terbaru) 22/06/26 03:10
v/255704/
Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menegaskan komitmennya untuk menjadikan sagu sebagai fondasi kedaulatan pangan, pelestarian budaya, perlindungan ekosistem, dan penguatan ekonomi masyarakat adat.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Fakhiri saat membuka Festival COLO Sagu 2026 yang mengusung tema “Sagu Menghidupi. Dari Tradisi Menuju Kemandirian Ekonomi” dilansir dari laman resmi Pemprov Papua.
Dalam sambutannya, Gubernur Fakhiri menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Colo Sagu Nusantara, panitia pelaksana, akademisi, komunitas adat, pelaku UMKM, serta seluruh mitra yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Bagi orang Papua, sagu bukan sekadar bahan pangan. Sagu adalah identitas, sejarah dan bagian dari perjalanan hidup masyarakat adat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Ia menilai sagu memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan global, khususnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pangan dari luar daerah. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, sagu dinilai mampu menjadi fondasi kedaulatan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat Papua.
Karena itu, Pemprov Papua terus mendorong penguatan ekosistem sagu melalui perlindungan kawasan sagu, pemberdayaan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat, pengembangan riset dan inovasi, serta peningkatan nilai tambah produk turunan sagu agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Dia juga menekankan, pembangunan sagu membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, lembaga adat, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, komunitas lingkungan hingga masyarakat.
“Ketika seluruh elemen bergerak bersama, maka sagu tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat Papua,” katanya.
Fakhiri menegaskan, semangat pelestarian dan pengembangan sagu sejalan dengan visi pembangunan Papua Cerah, yakni terwujudnya transformasi Papua yang sehat, sejahtera, dan harmoni. Melalui penguatan pangan lokal berbasis sagu, Papua diharapkan mampu membangun masyarakat yang sehat, mandiri secara ekonomi, sekaligus menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan alam.
Menutup sambutannya, Gubernur Fakhiri mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga hutan sagu, melindungi tanah adat, serta mengembangkan inovasi dan hilirisasi produk sagu agar manfaatnya dapat kembali dirasakan oleh masyarakat Papua sebagai pemilik sah warisan budaya tersebut.
Disbudpar Batam: Kunjungan Museum didominasi pelajar dan wisman
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mencatat kunjungan ke Museum Raja Ali Haji sepanjang Januari hingga Mei 2026 ... [397] url asal
#kepri-batam #museum-batam #raja-ali-haji #pelajar #wisman #budaya-melayu
Batam (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mencatat kunjungan ke Museum Raja Ali Haji sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih didominasi oleh pelajar dan wisatawan mancanegara (wisman) dengan total kunjungan sebanyak 2.984 orang.
Kepala Disbudpar Kota Batam Ardiwinata mengatakan pelajar menjadi kelompok pengunjung terbesar setiap bulannya, meski jumlah kunjungan sempat menurun menjelang masa ujian sekolah.
“Pelajar memang menjadi pengunjung yang paling banyak ke museum. Biasanya bisa mencapai 400 sampai 500 orang per bulan, tetapi pada Mei turun menjadi sekitar 78 orang karena kemungkinan anak-anak sedang menghadapi ujian,” kata Ardiwinata saat dikonfirmasi di Batam, Jumat.
Berdasarkan data Disbudpar Batam, jumlah kunjungan museum pada Januari mencapai 959 orang, Februari 858 orang, Maret 45 orang, April 744 orang, dan Mei 378 orang.
Pada Februari, misalnya, museum menerima kunjungan 551 pelajar, 118 pengunjung umum, dan 189 wisatawan asing. Sementara pada April terdapat 426 pelajar, 145 pengunjung umum, dan 173 wisatawan asing.
Ardiwinata menjelaskan jumlah kunjungan pada Maret menurun, disebabkan karena bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga aktivitas wisata edukasi ke museum berkurang.
“Selain pelajar, wisatawan asing juga menjadi salah satu segmen pengunjung terbesar dengan rata-rata hampir 200 orang setiap bulan,” kata dia.
Menurut Ardiwinata, wisatawan mancanegara yang datang umumnya berasal dari Singapura dan Malaysia, termasuk kalangan pensiunan atau kelompok usia di atas 50 tahun yang memiliki minat terhadap sejarah dan budaya Melayu.
“Mereka tertarik karena museum ini menyajikan perjalanan sejarah yang cukup lengkap, mulai dari Kerajaan Riau-Lingga, sejarah Batam, hingga kisah Nong Isa. Banyak juga rombongan dari kalangan militer dan instansi luar negeri yang berkunjung,” katanya.
Untuk meningkatkan pengalaman pengunjung, Disbudpar Batam juga mengarahkan wisatawan memanfaatkan fasilitas mini theater yang tersedia di museum.
“Setiap ada kunjungan yang datang, pasti kami arahkan untuk mini theater Museum, karena ada video yang dapat ditonton tentang sejarah museum tersebut,” katanya.
Fasilitas tersebut menayangkan materi sejarah dan budaya Melayu secara audiovisual serta dapat digunakan untuk kegiatan edukasi komunitas.
“Respons pengunjung cukup positif. Fasilitasnya dinilai menarik, informatif, dan membantu pengunjung memahami sejarah Batam serta budaya Melayu dengan cara yang lebih interaktif,” ujar Ardiwinata.
Sementara itu, dari sisi pendapatan daerah, Museum Raja Ali Haji mencatat retribusi sebesar Rp24,95 juta hingga Mei 2026.
Adapun objek wisata di bawah pengelolaan Disbudpar Batam yang memberikan kontribusi retribusi terbesar masih berasal dari kawasan Dendang Melayu yang mencapai Rp176,41 juta pada periode yang sama.
Pewarta: Amandine Nadja
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)