Bisnis.com, BANDA ACEH — Bolivia dilanda kelumpuhan nasional, setelah serikat buruh Central Obrera Boliviana (COB) dan serikat petani Confederación Sindical Única de Trabajadores Campesinos de Bolivia (CSUTCB), mendeklarasikan pemogokan umum.
Aksi mogok buruh dan petani Bolivia menuntut pengunduran diri Presiden Rodrigo Paz di tengah krisis ekonomi terparah dalam 40 tahun.
Puluhan ribu buruh, petani, pengemudi, dan perwakilan masyarakat adat turun ke jalan di kota-kota besar Bolivia, menciptakan sekitar 70 blokade jalan yang melumpuhkan transportasi di ibu kota administratif La Paz, El Alto, Cochabamba, Oruro, dan ibu kota konstitusional Sucre.
Eskalasi semakin mengkhawatirkan ketika pada Rabu, wakil dari sepuluh organisasi payung nasional menandatangani "Perjanjian Persatuan dan Loyalitas", menyatakan tekad bersama untuk menjatuhkan pemerintahan Paz.
"Mulai hari ini, pemogokan umum, tak terbatas, dan aktif dideklarasikan, hingga pemerintah memahami tuntutan rakyat," ujar Sekretaris Jenderal COB Mario Argollo di hadapan sekitar 1.000 pendukung di El Alto, dikutip Al Jazeera, Rabu (13/5/2026).
Unjuk rasa yang kini memasuki hari ketiga ini berakar dari tiga isu utama: kebijakan pertanian, pendidikan, dan ketenagakerjaan. Sebelumnya, COB telah menyerukan pemogokan sejak Jumat pekan lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional.
Pada Selasa, COB bergabung dengan serikat pekerja transportasi dan pendidikan di jalan-jalan Bolivia, memicu bentrokan dengan polisi yang menembakkan gas air mata di sekitar gedung istana kepresidenan di La Paz. Di El Alto, para pekerja sektor publik memblokade jalanan menggunakan bus, mobil, dan truk.
Salah satu pemicu terbesar kemarahan publik adalah penghapusan subsidi bahan bakar yang telah bertahan selama puluhan tahun, sebuah kebijakan yang mempertahankan harga bensin di level 2006.
Akibat pencabutan subsidi oleh pemerintah Paz, harga solar melonjak dari 3,72 boliviano per liter (sekitar Rp2,06 per galon) menjadi 9,80 boliviano per liter (Rp5,40 per galon). Sementara harga bensin premium naik dari 3,74 boliviano menjadi 6,96 boliviano per liter.
Para pengemudi angkutan umum mengaku terpaksa menggunakan bahan bakar berkualitas rendah yang mengakibatkan kerusakan serius pada mesin kendaraan mereka.
Mereka menuntut kompensasi dari pemerintah atas kerusakan tersebut, sekaligus meminta perbaikan antrean di stasiun pengisian bahan bakar dan perbaikan infrastruktur jalan.
Paz menepis tuntutan kenaikan upah buruh dengan tegas. "Jika ingin menaikkan gaji, ciptakan dulu lapangan kerja," kata Paz di Kota Cochabamba.
Adapun di antara tuntutan para buruh, COB mendesak kenaikan upah minimum sebesar 20%, dari posisi saat ini 3.300 boliviano (sekitar US$477) per bulan yang baru berlaku sejak Januari, naik dari 2.750 boliviano pada 2025.
Serikat buruh juga menuntut kenaikan tunjangan pensiun serta pemangkasan gaji pejabat pemerintah. Sementara itu, serikat guru menuntut pendirian sistem "pendidikan publik gratis dan tunggal yang didanai negara."