#30 tag 24jam
Ratusan Peserta Ramaikan AllPack Surabaya dan East Beauty Pack Expo 2026
Pameran AllPack Surabaya dan East Beauty Pack Expo 2026 dibuka di Surabaya, Rabu (1.7.2026). Sebanyak 130 peserta, 10 di antaranya UKM, meramaikan pameran. Pameran... | Halaman Lengkap [278] url asal
#pameran #umkm #industri-kecantikan #jaringan-bisnis #surabaya
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/07/26 19:19
v/265487/
SURABAYA - Pameran AllPack Surabaya dan East Beauty Pack Expo 2026 dibuka di Surabaya, Rabu (1/7/2026). Sebanyak 130 peserta, 10 di antaranya UMKM, meramaikan pameran yang digelar di Krista Exhibitions Group ini. Pameran ini menjadi ajang bagi pelaku industri memperkenalkan inovasi, memperluas jaringan bisnis, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pengemasan, percetakan, pengolahan, dan industri kecantikan di Indonesia, khususnya Jawa Timur.Chief Executive Officer Krista Exhibitions Daud D. Salim mengatakan, AllPack Surabaya 2026 menjadi tonggak baru karena untuk pertama kalinya digelar secara mandiri, setelah sebelumnya selalu berlangsung bersamaan dengan EastFood Indonesia (IIFEX) Surabaya. Pemisahan ini karena tingginya antusiasme peserta dan kebutuhan industri yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
"Melalui penyelenggaraan AllPack Surabaya 2026 dan East Beauty Pack Expo 2026, kami ingin menghadirkan peluang kolaborasi yang lebih luas bagi pelaku industri. Surabaya memiliki peran strategis sebagai pusat perdagangan di kawasan Indonesia Timur. Kami optimistis pameran ini akan menjadi momentum memperluas pasar, meningkatkan daya saing, serta mempercepat adopsi teknologi dan inovasi," kata Daud.
Banyak iovasi di sektor pengemasan, percetakan, pengolahan makanan dan minuman, farmasi, logistik, hingga manufaktur dipamerkan dalam ajang tersebut. East Beauty Pack Expo 2026 menampilkan beragam inovasi industri kecantikan, mulai dari kemasan kosmetik, bahan baku, mesin produksi, hingga teknologi pendukung bagi pelaku usaha beauty dan personal care.
Selain pameran produk dan teknologi, pengunjung juga dapat mengikuti seminar, forum diskusi, hingga program Business Matching yang mempertemukan peserta dengan calon mitra bisnis potensial. Penyelenggara juga menghadirkan Hosted Buyer Program yang mengundang pembeli dari dalam maupun luar negeri untuk mengikuti pertemuan bisnis terjadwal dengan peserta pameran.
”Kami berharap kedua program tersebut mampu membuka peluang investasi, memperluas pasar ekspor. Sekaligus memperkuat kemitraan bisnis di sektor pengemasan, pengolahan, dan industri kecantikan,” tuturnya.
Modal yang menghidupi warga
Ada kota yang mengejar investasi demi mengejar angka. Ada pula kota yang berusaha menjadikan investasi sebagai jalan memperluas kesejahteraan. Kota Surabaya, ... [963] url asal
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Surabaya sedang menawarkan pelajaran menarik. Kota ini berusaha menunjukkan bahwa investasi bukan sekadar tentang modal yang datang, melainkan tentang manfaat yang tinggal.
Surabaya (ANTARA) - Ada kota yang mengejar investasi demi mengejar angka. Ada pula kota yang berusaha menjadikan investasi sebagai jalan memperluas kesejahteraan. Kota Surabaya, Jawa Timur tampaknya memilih jalur kedua.
Pilihan itu kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan Anugerah Investa Surabaya (AIS) 2025 yang digelar di Balai Kota Surabaya belum lama ini dengan mengangkat tema Surabaya Gerbang Investasi Kelas Dunia.
Sekilas, ajang ini memang tampak seperti seremoni pemberian penghargaan kepada pelaku usaha. Namun, jika dicermati lebih dalam, AIS menyimpan pesan yang jauh lebih besar. Investasi tidak lagi dipandang sebatas besarnya modal yang masuk, melainkan sebagai instrumen untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus mengurangi kemiskinan.
Cara pandang tersebut menarik karena berkembang di tengah persaingan antardaerah yang semakin ketat dalam memperebutkan investasi. Banyak pemerintah daerah berlomba menawarkan insentif fiskal, kemudahan perizinan, hingga pembangunan kawasan industri. Sayangnya, tidak sedikit investasi yang berhenti pada pencatatan statistik. Nilai penanaman modal meningkat, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat sekitar.
Surabaya mencoba menghadirkan ukuran yang berbeda. Dalam AIS 2025, perusahaan tidak hanya dinilai berdasarkan besarnya modal yang ditanamkan. Kepatuhan terhadap regulasi, legalitas usaha, hingga komitmen menyerap tenaga kerja lokal menjadi indikator utama. Bahkan, kemitraan dengan UMKM ikut menjadi bagian dari penilaian.
Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma investasi yang kini banyak dikembangkan di berbagai negara. Organisasi internasional seperti UNCTAD dalam World Investment Report beberapa tahun terakhir menekankan pentingnya investasi berkelanjutan (sustainable investment), yakni investasi yang tidak sekadar menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menciptakan manfaat sosial dan lingkungan.
Indonesia pun mulai mengarah ke konsep serupa. Pemerintah melalui Kementerian Investasi/BKPM terus mendorong investasi yang berkualitas, yaitu investasi yang mampu menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kapasitas industri nasional, serta memperkuat ekonomi lokal.
Dalam konteks itu, langkah Surabaya memiliki relevansi yang kuat. Kota ini tidak sekadar menjadi tujuan modal, melainkan berusaha memastikan bahwa setiap investasi meninggalkan jejak kesejahteraan.
Ekonomi lokal
Tantangan terbesar investasi sebenarnya bukan bagaimana menarik investor datang, melainkan bagaimana membuat manfaat investasi menyebar secara adil.
Persoalan tersebut kerap muncul di banyak daerah. Investasi besar masuk, kawasan industri tumbuh, tetapi masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Tenaga kerja didatangkan dari luar daerah, rantai pasok dikuasai perusahaan besar, sementara UMKM kesulitan menembus pasar.
Fenomena semacam itu menciptakan apa yang dalam ekonomi pembangunan disebut enclave economy, yakni pertumbuhan ekonomi yang terisolasi dan tidak terhubung dengan masyarakat sekitar.
Karena itu, kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang mendorong investor bermitra dengan UMKM menjadi langkah yang layak diapresiasi. Ketika perusahaan membutuhkan katering, percetakan, logistik, seragam kerja, hingga jasa kebersihan, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi pelaku usaha lokal. Nilai ekonomi yang tercipta pun tidak berhenti di perusahaan, tetapi mengalir ke masyarakat.
Efek bergandanya sangat besar. UMKM memperoleh pasar yang lebih pasti, kualitas produksinya meningkat karena mengikuti standar industri, sementara perusahaan mendapatkan rantai pasok yang lebih efisien.
Hubungan semacam ini juga memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting bahwa ekonomi lokal yang memiliki jejaring usaha kuat lebih mampu bertahan menghadapi krisis dibanding ekonomi yang hanya bergantung pada perusahaan besar.
Surabaya sebenarnya telah memiliki modal cukup baik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), struktur ekonomi kota ini didominasi sektor perdagangan, industri pengolahan, akomodasi, makanan dan minuman, serta jasa. Seluruh sektor tersebut memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan UMKM.
Karena itu, investasi yang masuk semestinya tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi pengungkit bagi ribuan usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian kota.
Di sisi lain, langkah Pemkot Surabaya membuka Klinik Investasi juga menunjukkan bahwa kemudahan perizinan kini dipahami sebagai pelayanan publik, bukan sekadar urusan administratif. Kepastian hukum menjadi faktor penting bagi dunia usaha. Investor membutuhkan proses yang cepat, transparan, dan bebas dari praktik pungutan liar.
Komitmen pemerintah daerah terhadap tata kelola yang bersih merupakan modal yang tidak kalah penting dibanding pembangunan infrastruktur. Banyak studi menunjukkan bahwa kepastian regulasi sering kali lebih menentukan keputusan investasi dibanding besarnya insentif yang diberikan.
Namun demikian, kemudahan perizinan harus tetap diimbangi dengan pengawasan yang kuat. Investasi yang baik bukan berarti mengabaikan perlindungan lingkungan, hak pekerja, ataupun kepentingan masyarakat. Di sinilah pemerintah daerah dituntut menjaga keseimbangan antara kemudahan berusaha dan kepentingan publik.
Masa depan
AIS 2025 menunjukkan bahwa investasi dapat menjadi wajah baru pembangunan daerah. Akan tetapi, penghargaan hanyalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Ke depan, indikator investasi berkualitas dapat diperluas. Misalnya melalui pengukuran jumlah UMKM yang berhasil naik kelas setelah bermitra dengan perusahaan besar, peningkatan pendapatan tenaga kerja lokal, kontribusi terhadap pengurangan angka kemiskinan, hingga penciptaan inovasi berbasis teknologi.
Penghargaan juga dapat diarahkan untuk mendorong praktik bisnis berkelanjutan. Perusahaan yang berhasil mengurangi emisi karbon, mengembangkan energi terbarukan, mengelola limbah secara bertanggung jawab, atau meningkatkan inklusi penyandang disabilitas dapat memperoleh apresiasi lebih tinggi. Dengan demikian, investasi tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga memperkuat kualitas pembangunan.
Tidak kalah penting adalah membangun ekosistem kolaborasi yang lebih luas. Perguruan tinggi, lembaga riset, komunitas inovasi, dan pelaku usaha perlu dipertemukan agar investasi mampu melahirkan produk bernilai tambah tinggi. Surabaya memiliki modal besar sebagai kota pendidikan, industri, dan perdagangan yang dapat menjadi pusat inovasi kawasan timur Indonesia.
Pada saat yang sama, keberhasilan investasi sebaiknya tidak lagi hanya diukur melalui triliunan rupiah yang tercatat dalam laporan penanaman modal. Angka memang penting, tetapi dampak jauh lebih bermakna.
Investasi yang mampu membuka pekerjaan, menghidupkan UMKM, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, memperkuat industri lokal, serta mempersempit kesenjangan sosial akan meninggalkan warisan pembangunan yang lebih kokoh.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Surabaya sedang menawarkan pelajaran menarik. Kota ini berusaha menunjukkan bahwa investasi bukan sekadar tentang modal yang datang, melainkan tentang manfaat yang tinggal.
Ketika setiap rupiah yang ditanam mampu kembali kepada masyarakat dalam bentuk pekerjaan, layanan publik, kesempatan usaha, dan harapan baru, investasi telah melampaui fungsi ekonominya. Ia berubah menjadi fondasi kesejahteraan yang tumbuh bersama kota dan seluruh warganya.
Copyright © ANTARA 2026
Restrukturisasi keuangan KCJB tolok ukur tembus ke Surabaya
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan restrukturisasi keuangan Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung (KCJB) menjadi tolok ukur sebelum pemerintah ... [331] url asal
#kemenhub #restrukturisasi-keuangan #kcjb #whoosh #tolok-ukur #surabaya
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan restrukturisasi keuangan Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung (KCJB) menjadi tolok ukur sebelum pemerintah memutuskan perpanjangan jalur ke Surabaya hingga Banyuwangi.
"Saat ini pemerintah fokus terhadap restrukturisasi keuangan kereta cepat Jakarta-Bandung," kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono di Jakarta, Sabtu, mengenai prioritas penyelesaian restrukturisasi keuangan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
Allan menyatakan kebijakan itu sejalan dengan arahan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
Ia menegaskan hasil restrukturisasi keuangan akan menjadi tolok ukur pemerintah dalam mengevaluasi kelayakan perpanjangan jalur Kereta Cepat Whoosh sampai Surabaya, bahkan Banyuwangi.
Sebelumnya, Agus Harimurti menyebut keberlanjutan proyek kereta cepat Whoosh hingga Jawa Timur dilakukan secara paralel sambil menunggu restrukturisasi keuangan PT Kereta Cepat Indonesia China sebagai operator Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).
Ia mengatakan telah bertemu dengan Kementerian Keuangan dan Danantara Indonesia mengenai rencana Whoosh beroperasi hingga Banyuwangi.
"Tahapan hari ini kita lakukan paralel," ujar Agus dalam konferensi pers Update Pelaksanaan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dan Persiapan Mudik Lebaran di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/3).
Menurut dia, sambil mengembangkan proyek lanjutan Whoosh, pemerintah akan memastikan restrukturisasi keuangan KCJB tetap berjalan.
Restrukturisasi keuangan KCJB menjadi sangat penting lantaran akan mempengaruhi peta jalan pengembangan Whoosh hingga Jawa Timur.
"Sebaiknya kita pastikan dulu KCJB-nya tuntas, artinya solusinya sudah bisa diambil dengan baik, baru setelah itu kita kembangkan berikutnya," jelasnya.
Presiden RI Prabowo Subianto membentuk Komite Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung dengan menunjuk Agus Harimurti sebagai Ketua Komite Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung.
Penunjukan tersebut berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2026 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 Tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana Dan Sarana Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung.
"Dengan Peraturan Presiden ini, dibentuk Komite Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung yang selanjutnya disebut sebagai Komite," demikian bunyi salinan Peraturan Presiden (Perpres) No 29 Tahun 2026 pada Minggu (31/5).
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2026
Denyut baru di gedung lama
Di jantung Kota Surabaya, Jawa Timur, sebuah bangunan yang lama dikenal sebagai tujuan berburu komputer, gawai, dan perangkat elektronik sedang menunggu babak ... [1,026] url asal
Surabaya (ANTARA) - Di jantung Kota Surabaya, Jawa Timur, sebuah bangunan yang lama dikenal sebagai tujuan berburu komputer, gawai, dan perangkat elektronik sedang menunggu babak baru. Eks Hi-Tech Mall, yang sempat kehilangan denyut setelah perubahan perilaku belanja dan perkembangan perdagangan digital, kini disiapkan menjadi ruang pertemuan antara kreativitas, teknologi, usaha kecil, dan energi anak muda.
Rencana pembukaan awal pada 5 Juli 2026 bukan sekadar agenda peresmian gedung. Ia menjadi ujian bagi cara kota memperlakukan ruang yang pernah berjaya, lalu tertinggal. Apakah bangunan lama hanya dipoles agar kembali ramai, atau benar-benar diubah menjadi tempat yang mampu melahirkan kegiatan ekonomi baru?
Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan basement dan lantai dasar untuk tenant makanan dan minuman, industri kreatif, komunitas custom motor dan mobil, serta jenama lokal. Sekitar 18 tenant makanan dan minuman serta 30 tenant industri kreatif disebut telah mengisi ruang awal yang disediakan. Di sisi lain, gedung pertemuan seluas sekitar 3.500 meter persegi juga disiapkan untuk pameran, pertunjukan, dan kegiatan masyarakat.
Pilihan itu menunjukkan bahwa revitalisasi tidak lagi dipahami sebagai proyek fisik semata. Bangunan boleh diperbaiki, eskalator boleh kembali bergerak, dan lampu boleh kembali menyala. Namun, yang menentukan umur sebuah ruang publik adalah alasan orang untuk datang, tinggal, berinteraksi, lalu kembali lagi.
Dari etalase
Hi-Tech Mall pernah tumbuh dalam masa, ketika teknologi masih membutuhkan etalase fisik. Orang datang untuk membandingkan spesifikasi komputer, mencari suku cadang, memperbaiki perangkat, atau sekadar bertanya kepada penjual yang memahami bahasa teknis. Kehadiran toko-toko komputer menjadikan bangunan itu bagian dari ingatan ekonomi digital awal Surabaya.
Namun, pola konsumsi berubah. Pasar digital memudahkan warga membandingkan harga, membaca ulasan, dan membeli barang tanpa harus datang ke pusat perdagangan. Ketika transaksi berpindah ke layar ponsel, pusat belanja yang hanya mengandalkan penjualan produk menjadi lebih rentan kehilangan pengunjung.
Di titik inilah revitalisasi eks Hi-Tech Mall menjadi relevan. Kota tidak perlu memaksa bangunan lama kembali menjadi persis seperti masa lalunya. Hal yang lebih penting ialah menemukan fungsi baru yang menjawab kebutuhan hari ini.
Pemkot Surabaya masih mempertahankan aktivitas perdagangan komputer di lantai dasar. Keputusan itu penting karena menjaga identitas lama bangunan, sekaligus memberi ruang transisi bagi pelaku usaha yang telah lama bertahan.
Namun, identitas tersebut perlu diperluas. Teknologi hari ini tidak hanya hadir dalam bentuk perangkat keras, melainkan juga desain, gim, konten digital, kecerdasan buatan, produksi audiovisual, hingga layanan kreatif berbasis data.
Pemerintah pusat juga menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru. Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong penguatan pelaku usaha, digitalisasi, serta kerja sama pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media, dan investor agar manfaat ekonomi kreatif lebih luas dirasakan masyarakat.
Karena itu, Hi-Tech Mall tidak cukup jika hanya menjadi pusat kuliner dan ruang berkumpul. Ia harus menjadi tempat yang memungkinkan ide bertemu dengan keterampilan, keterampilan bertemu pasar, dan pasar bertemu pembiayaan.
Ekosistem yang diuji
Rencana menghadirkan ruang komunitas, olahraga, pertunjukan, kegiatan pelajar, hingga e-sport memberi gambaran bahwa Hi-Tech Mall diarahkan menjadi ruang publik yang lebih beragam. Keberagaman itu dapat menjadi kekuatan karena pengunjung tidak datang hanya untuk satu tujuan.
Seorang pelajar dapat datang untuk menonton pertunjukan, lalu mengenal karya kreator lokal. Komunitas otomotif dapat memamerkan hasil modifikasi, sementara pelaku kuliner memperoleh arus pengunjung dari kegiatan tersebut. Pelaku usaha digital dapat memanfaatkan acara komunitas untuk memperkenalkan produk dan membangun jaringan.
Efek seperti itulah yang perlu dibangun. Ruang kreatif tidak hidup hanya karena ada tenant, tetapi karena ada pertemuan yang terus berlangsung. Pameran, kelas singkat, kompetisi gim, pasar produk lokal, pemutaran film, pertunjukan seni, hingga forum pencarian kerja dapat menjadi penggerak ritme gedung.
Pengalaman sejumlah kota menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tumbuh lebih kuat ketika tidak berhenti pada festival. Kegiatan yang bersifat sesaat memang dapat mendatangkan keramaian, tetapi keberlanjutan lahir dari program rutin, kurasi yang jelas, dan peluang usaha yang nyata.
Kementerian Ekonomi Kreatif juga menekankan pentingnya pengelolaan ekonomi kreatif berbasis data untuk memetakan kekuatan, kesenjangan, serta prioritas kebijakan. Pendekatan tersebut layak diterapkan di Hi-Tech Mall.
Pemkot Surabaya perlu memiliki ukuran keberhasilan yang lebih luas daripada jumlah pengunjung saat pembukaan. Jumlah tenant yang bertahan setelah masa insentif berakhir, nilai transaksi pelaku usaha, jumlah karya yang masuk pasar, penciptaan lapangan kerja, serta keterlibatan warga sekitar dapat menjadi indikator yang lebih bermakna.
Masa bebas sewa bagi komunitas dan pelaku usaha pada tahap awal dapat menjadi pintu masuk yang baik. Namun, masa itu harus dimanfaatkan untuk membangun model bisnis yang sehat. Tenant tidak boleh hanya bergantung pada subsidi ruang, melainkan perlu dibantu memperkuat pemasaran, pengelolaan keuangan, pengemasan produk, perlindungan kekayaan intelektual, dan akses pembiayaan.
Pemerintah telah menyiapkan alokasi kredit usaha rakyat untuk ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual pada 2026. Peluang tersebut dapat dijembatani dengan pelaku usaha di Hi-Tech Mall agar ruang kreatif tidak berhenti pada produksi, tetapi juga bertumbuh menjadi usaha yang layak dan berkelanjutan.
Kota yang menghubungkan
Tantangan terbesar revitalisasi bukanlah menyelesaikan pekerjaan konstruksi, melainkan merawat keterhubungan. Hi-Tech Mall harus terhubung dengan kampus, sekolah, komunitas, pasar, dan jaringan industri di luar gedung.
Keterlibatan perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku industri teknologi perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang dapat diakses publik. Pelatihan desain, pengembangan gim, pemrograman, produksi konten, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan harus membuka jalan bagi anak muda untuk meningkatkan keterampilan dan membangun karier.
Akal imitasi, misalnya, mulai dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan produktivitas dan membuka ruang ekonomi kreatif baru. Namun, pemanfaatannya tetap memerlukan penguatan kemampuan sumber daya manusia serta perlindungan hak kreator.
Hi-Tech Mall dapat mengambil peran sebagai ruang belajar yang dekat dengan warga. Bukan hanya tempat memamerkan teknologi, melainkan tempat warga memahami cara menggunakan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
Di saat yang sama, pengelola perlu memastikan ruang tersebut inklusif. Anak muda dari berbagai latar belakang harus memiliki peluang yang sama untuk masuk, belajar, memamerkan karya, dan menjual produk. Kurasi tenant harus menjaga kualitas, tetapi tidak boleh berubah menjadi pintu tertutup bagi pelaku usaha kecil yang belum memiliki modal besar.
Bangunan yang dulu dikenal sebagai pusat perangkat elektronik itu, kini memiliki kesempatan menjadi pusat pertemuan manusia, gagasan, dan peluang. Keberhasilannya kelak bukan diukur dari ramainya pembukaan, melainkan dari berapa banyak warga yang pulang membawa keterampilan baru, jejaring baru, dan keyakinan bahwa kreativitas dapat menjadi jalan hidup.
Hi-Tech Mall dapat kembali menyala. Namun, cahaya yang dibutuhkan bukan hanya dari lampu-lampu baru, melainkan dari ekosistem yang memberi ruang bagi Surabaya untuk terus mencipta.
Copyright © ANTARA 2026
SD Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya Raih Posisi 5 Besar TKA 2026
SD Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya menempatkan diri sebagai 5 Besar Sekolah Dasar Terbaik di Kota Surabaya berdasarkan hasil TKA 2026. SD Islam Al-Azhar Kelapa... | Halaman Lengkap [456] url asal
#sekolah-islam-al-azhar #tes-kemampuan-akademik-tka #sekolah-terbaik #sekolah-unggulan #surabaya
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/06/26 21:57
v/246540/
SURABAYA - SD Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya (Alazka Bhaskara Surabaya) menempatkan diri sebagai 5 Besar Sekolah Dasar Terbaik di Kota Surabaya berdasarkan hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2026. Hasilini menjadi bukti komitmen sekolah menghadirkan pendidikan berkualitas yang mengintegrasikan keunggulan akademik dengan pembentukan karakter Islami.Prestasi tersebut semakin membanggakan dengan banyaknya siswa SDI Alazka Surabaya yang berhasil meraih nilai terbaik pada hasil rata-rata TKA maupun pada mata pelajaran yang diujikan. Pada kategori 15 Rata-Rata Terbaik TKA 2026, siswa dengan nilai tertinggi diraih oleh Rafa Alfarizky Pradika dengan nilai rata-rata 93,33. Disusul Mochammad Raffi Alea Kalevi dengan nilai 91,67, serta sejumlah siswa lainnya yang turut mencatatkan hasil luar biasa. Begini Mekanisme Penyampaian Sertifikat Hasil TKA 2026, Cek Alur Resminya
Pada bidang Matematika, SDI Alazka Surabaya berhasil menempatkan lima siswa terbaik, yaitu Rafa Alfarizky Pradika, Ahmad Ghany Al Rasyid, Aurora Zafirah, Aimar Fattah Jaladhi, dan Ardelia Rachela Jasmine. Sementara pada bidang Bahasa Indonesia, Mochammad Raffi Alea Kalevi berhasil meraih nilai sempurna 100,00, diikuti Rachel Jovita Raya dengan nilai 96,67, serta lima siswa lainnya dengan nilai 93,33.
Keberhasilan ini merupakan hasil sinergi yang kuat antara peserta didik, guru, dan orang tua dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif, disiplin, dan berorientasi pada prestasi. Selain menjadi kebanggaan bagi sekolah, capaian ini juga menunjukkan bahwa pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islam mampu berjalan beriringan dengan pencapaian akademik yang unggul.
Kepala SDI Alazka Surabaya, Zuanita Shofi Ade Kurnia, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas capaian yang diraih para siswa. Masuknya SDI Alazka Surabaya dalam jajaran 5 besar sekolah dasar terbaik di Kota Surabaya pada Tes Kompetensi Akademik 2026 menjadi bukti bahwa pendidikan yang memadukan keunggulan akademik dan pembentukan karakter Islami mampu menghasilkan generasi yang berprestasi dan berakhlak mulia.
Ia berharap capaian ini menjadi motivasi bagi seluruh peserta didik untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan manfaat bagi masyarakat di masa depan. ”Terima kasih kepada seluruh guru yang telah mendampingi dengan penuh dedikasi serta kepada orang tua yang terus memberikan dukungan terbaik. Semoga prestasi ini menjadi langkah awal menuju pencapaian-pencapaian yang lebih besar di masa mendatang,” katanya.
Ketua Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading, Irsan Nurfaqih Sjamhudi mengatakan, prestasi tersebut tidak hanya menunjukkan keberhasilan akademik, tetapi juga keberhasilan sekolah dalam menjalankan misi pendidikan yang utuh. ”Semoga keberhasilan ini menjadi inspirasi bahwa investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalah pendidikan yang memadukan ilmu, iman, dan akhlak dalam satu kesatuan yang utuh,” ungkapnya.
Summarecon Ikut Garap Fasilitas Pendidikan di IKN Nusantara
SDI Alazka Surabaya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembelajaran yang inovatif, penguatan karakter Islami, serta pendampingan akademik yang optimal. Prestasi pada TKA 2026 ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh warga sekolah untuk terus berkarya, berprestasi, dan menjadi generasi unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Kemenag Fasilitasi Penyelesaian GMS Bantul, Stafsus Menag: Kedepankan Musyawarah
Kemenag memastikan hadir sebagai fasilitator untuk menyelesaikan persoalan Gereja Mawar Sharon (GMS) Bantul. Negara menjamin kebebasan beribadah setiap warganya.... | Halaman Lengkap [339] url asal
#kementerian-agama #toleransi-beragama #kerukunan-umat-beragama #surabaya #kebebasan-beragama
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 03/06/26 13:34
v/238685/
SURABAYA - Kementerian Agama memastikan hadir sebagai fasilitator untuk menyelesaikan persoalan Gereja Mawar Sharon (GMS) Bantul. Negara menjamin kebebasan beribadah setiap warganya.Komitmen itu disampaikan Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar usai berdiskusi langsung dengan Pimpinan GMS di GMS Church Surabaya, Selasa (2/6/2026) malam. Hadir juga dalam pertemuan tersebut Pendeta Philip Mantofa dan Pendeta Irene Mantofa.
Dalam kesempatan tersebut, Gugun mengaku telah berkomunikasi dengan UKP Gus Miftah, Kapolda DIY, hingga Bupati Bantul. Tujuannya satu yakni mendorong percepatan penyelesaian masalah secara damai dan konstruktif. Menag: Pembubaran Ibadah di Bantul Tak Boleh Terulang Lagi
“Saya tadi malam berkesempatan hadir di GMS Church Surabaya untuk berdiskusi terkait perkembangan penanganan persoalan GMS Bantul. Sekaligus saya sudah telepon UKP Gus Miftah, Kapolda DIY, dan Bupati Bantul guna mendorong percepatan penyelesaian masalah secara damai dan konstruktif,” ujar Gugun dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Gugun menjelaskan, Kementerian Agama mengambil peran menjembatani GMS Bantul dengan Pemerintah Kabupaten Bantul. Tujuannya agar seluruh aspek administrasi yang masih menggantung segera diselesaikan pemerintah daerah. Bagi Kemenag, langkah ini murni bentuk kehadiran negara. "Negara wajib melindungi dan menjamin kebebasan setiap warga untuk beribadah sesuai keyakinannya," tegasnya.
Untuk langkah selanjutnya, baik Kemenag maupun GMS sepakat menunggu undangan pertemuan lanjutan dari Pemkab Bantul. Forum itu nantinya akan membahas detail teknis penyelesaian.
Gugun menekankan, semangat yang dibawa sama yakni menjaga kerukunan, ketenangan, dan keharmonisan antarumat beragama. "Jalur dialog dan musyawarah jadi pilihan utama, bukan konfrontasi," tamdasnya.
Di sisi lain, pihak GMS juga menyatakan sikap. Mereka mempercayakan sepenuhnya proses penyelesaian kepada pemerintah dan mendukung penuh upaya yang sedang dilakukan semua pihak terkait. Nasaruddin Umar: Tidak Ada Toleransi Terhadap Kekerasan Fisik dan Seksual di Pesantren
Terakhir, Gugun meminta doa dan dukungan publik. Ia berharap proses mediasi berjalan lancar, melahirkan solusi terbaik untuk semua, dan semakin menguatkan persatuan bangsa Indonesia. Kemenag berharap proses mediasi berjalan kondusif agar hak konstitusional warga dalam beribadah dapat dipenuhi tanpa menimbulkan gesekan baru di tengah masyarakat.
“Mohon doa dan dukungannya. Semoga proses mediasi berjalan lancar, menghasilkan solusi terbaik bagi semua pihak, serta semakin memperkuat kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia,” tuturnya.
Merawat kota, menjaga masa depan
Kota Surabaya tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Di balik lalu lintas yang padat, kawasan bisnis yang terus tumbuh, serta kampung-kampung yang tetap ... [1,046] url asal
#merawat-kota #masa-depan-kota #surabaya #hjks-ke-733 #pembangunan
Surabaya (ANTARA) - Kota Surabaya tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Di balik lalu lintas yang padat, kawasan bisnis yang terus tumbuh, serta kampung-kampung yang tetap hidup dengan tradisi gotong royongnya, kota ini sedang menjalani proses panjang untuk menjawab satu pertanyaan besar. Bagaimana menjaga laju pertumbuhan tanpa kehilangan wajah kemanusiaannya?
Pertanyaan itu menjadi relevan saat Kota Surabaya memperingati Hari Jadi ke-733. Usia yang tidak lagi muda tersebut bukan sekadar penanda sejarah, melainkan momentum untuk membaca ulang arah pembangunan kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia itu.
Sebab, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung yang menjulang atau angka ekonomi yang meningkat, melainkan juga dari kemampuan menghadirkan kesejahteraan yang dirasakan secara merata oleh seluruh warganya.
Berbagai capaian yang dipaparkan Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan fondasi pembangunan yang relatif kuat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 85,65, tertinggi di Jawa Timur. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 tercatat 5,87 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp830,54 triliun. Angka kemiskinan turun menjadi 3,56 persen, sementara inflasi tetap terkendali pada level 2,96 persen.
Di atas kertas, indikator tersebut menunjukkan Surabaya masih menjadi salah satu lokomotif ekonomi nasional. Namun, sebagaimana kota-kota besar di dunia, tantangan sesungguhnya justru muncul ketika keberhasilan pembangunan harus dipertahankan dalam jangka panjang.
Pembangunan manusia
Salah satu capaian yang patut mendapat perhatian adalah investasi Surabaya pada sektor manusia. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor pembeda utama antarwilayah.
Keberhasilan Surabaya menekan prevalensi stunting hingga 0,59 persen menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada aspek fisik. Upaya memperkuat layanan kesehatan melalui rumah sakit daerah, integrasi layanan primer hingga tingkat kelurahan, serta penguatan posyandu keluarga menjadi fondasi penting dalam membangun generasi yang lebih sehat.
Di bidang pendidikan, kebijakan memperluas akses pendidikan dan pemberian beasiswa bagi puluhan ribu siswa serta mahasiswa memperlihatkan kesadaran bahwa kemiskinan tidak bisa diputus hanya melalui bantuan sosial. Pendidikan tetap menjadi instrumen mobilitas sosial paling efektif.
Meski demikian, tantangan baru mulai terlihat. Kota-kota besar, saat ini tidak hanya dituntut menyediakan akses pendidikan, tetapi juga memastikan lulusannya memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Transformasi digital, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, dan industri kreatif sedang mengubah struktur pasar kerja secara cepat. Banyak pekerjaan lama akan berkurang, sementara profesi baru terus bermunculan. Dalam konteks ini, fokus Pemkot Surabaya untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga miskin menjadi langkah strategis.
Namun, akses saja belum cukup. Hal yang dibutuhkan adalah keterhubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Kampus, sekolah vokasi, pelaku usaha, dan pemerintah perlu membangun ekosistem yang memungkinkan lulusan tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja.
Pengalaman sejumlah kota maju di Asia menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan manusia sangat ditentukan oleh kemampuan menghubungkan pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan dalam satu rantai kebijakan yang saling mendukung.
Ketahanan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Surabaya sebesar 5,87 persen layak diapresiasi karena terjadi di tengah ketidakpastian global. Konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, serta perubahan rantai pasok internasional masih menjadi faktor yang membayangi banyak daerah.
Posisi Surabaya sebagai pusat perdagangan, jasa, logistik, dan industri di kawasan timur Indonesia memberikan keuntungan tersendiri. Aktivitas ekonomi yang beragam membuat kota ini relatif lebih tahan terhadap guncangan dibandingkan daerah yang bergantung pada satu sektor tertentu.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis menghapus seluruh persoalan perkotaan. Fenomena yang sering muncul di banyak kota besar adalah kesenjangan antara kelompok yang menikmati manfaat pertumbuhan dengan kelompok yang tertinggal.
Penurunan angka kemiskinan menjadi 3,56 persen memang menunjukkan kemajuan. Akan tetapi, perhatian ke depan tidak hanya tertuju pada warga miskin, melainkan juga kelompok rentan yang sewaktu-waktu dapat jatuh miskin akibat gejolak ekonomi, kehilangan pekerjaan, atau kenaikan biaya hidup.
Karena itu, penguatan ekonomi kerakyatan yang menjadi agenda pemerintah kota perlu terus diperluas. Pendampingan usaha mikro, peningkatan kapasitas pelaku UMKM, akses pembiayaan yang lebih mudah, serta perluasan pasar digital harus menjadi prioritas.
Surabaya memiliki modal sosial yang kuat melalui jaringan kampung, balai RW, dan komunitas warga. Modal ini dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila diintegrasikan dengan teknologi digital dan pengembangan usaha berbasis komunitas.
Kota-kota yang berhasil di masa depan bukan hanya yang memiliki pusat bisnis modern, tetapi juga yang mampu membuat ekonomi lokal tumbuh bersama warganya.
Kota lestari
Keberhasilan pembangunan kota pada abad ke-21 semakin ditentukan oleh kemampuannya menghadapi isu lingkungan dan perubahan iklim. Dalam aspek ini, Surabaya menunjukkan sejumlah kemajuan penting.
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mampu mengolah ratusan ton sampah per hari serta keberadaan pembangkit listrik tenaga sampah menjadi langkah yang menunjukkan perubahan pendekatan. Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban semata, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan.
Pada saat yang sama, pembangunan saluran drainase dan rumah pompa yang berhasil mengurangi ratusan titik banjir menunjukkan keseriusan pemerintah kota dalam memperkuat ketahanan wilayah terhadap cuaca ekstrem.
Meski demikian, tantangan lingkungan perkotaan tidak berhenti pada persoalan sampah dan banjir. Ancaman gelombang panas, berkurangnya ruang terbuka hijau, peningkatan konsumsi energi, serta tekanan terhadap kualitas udara akan menjadi isu yang semakin penting dalam beberapa dekade mendatang.
Di sinilah pembangunan berkelanjutan perlu dimaknai lebih luas. Tidak hanya membangun infrastruktur yang kuat, tetapi juga menciptakan kota yang nyaman dihuni, ramah pejalan kaki, memiliki transportasi publik yang terintegrasi, serta menyediakan ruang interaksi sosial yang sehat bagi masyarakat.
Program perbaikan rumah tidak layak huni, penguatan kampung, dan pembangunan fasilitas publik menjadi langkah positif. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh kawasan kota berkembang secara seimbang sehingga tidak terjadi kesenjangan kualitas hidup antarwilayah.
Surabaya selama ini dikenal sebagai kota yang mampu menjaga identitas kampung di tengah modernisasi. Karakter inilah yang seharusnya tetap dipertahankan. Sebab, kekuatan kota tidak hanya berada pada infrastruktur fisiknya, melainkan juga pada kohesi sosial yang tumbuh di tengah masyarakat.
Usia 733 tahun menempatkan Surabaya pada posisi yang unik. Kota ini telah melewati berbagai fase sejarah, mulai dari pusat perdagangan, kota perjuangan, hingga metropolitan modern. Kini, tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar mengejar pertumbuhan, melainkan memastikan pertumbuhan itu berkelanjutan dan berkeadilan.
Berbagai capaian yang diraih menunjukkan Surabaya berada di jalur yang cukup menjanjikan. Namun, perjalanan menuju kota masa depan masih panjang. Kualitas sumber daya manusia, pemerataan kesejahteraan, transformasi ekonomi, serta ketahanan lingkungan akan menjadi penentu arah pembangunan berikutnya.
Pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi apakah Surabaya mampu tumbuh lebih besar. Yang jauh lebih penting adalah apakah pertumbuhan itu mampu membuat seluruh warganya hidup lebih baik. Di situlah ukuran sesungguhnya dari keberhasilan sebuah kota yang telah berusia lebih dari tujuh abad.
Copyright © ANTARA 2026
KENCANA Angkat Pesona Rapunzel di Surabaya Vaganza 2026, Simbol Harapan dan Keberanian
KENCANA sukses memeriahkan Surabaya Vaganza 2026 dengan menghadirkan konsep mobil hias bertema Rapunzel sebagai simbol harapan. - Bagian all [405] url asal
#kencana #kencana-baja-ringan #kencana-group #surabaya-vaganza #inews-id-stories
SURABAYA, iNews.id - KENCANA sukses memeriahkan Surabaya Vaganza 2026, salah satu rangkaian acara Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 yang digelar pada Sabtu (16/5/2026). Dalam perhelatan tahun ini, KENCANA menghadirkan konsep mobil hias bertema “Rapunzel” sebagai simbol harapan, cahaya, pertumbuhan, dan keberanian untuk melangkah menuju masa depan yang lebih terang.
Mengusung semangat “Bawa Kilau Harapan”, kehadiran KENCANA di Surabaya Vaganza 2026 tidak hanya ditujukan untuk menampilkan visual yang menarik. Lebih dari itu, KENCANA ingin membawa pesan positif bagi masyarakat Surabaya melalui karya kreatif yang memadukan unsur imajinasi, warna, cahaya, dan seni pertunjukan.
Untuk memperkuat konsep tersebut, KENCANA menggandeng UKM Teater UNESA melalui penampilan teatrikal yang mengiringi mobil hias KENCANA. Kehadiran unsur teater membuat mobil hias ini tidak hanya tampil megah secara visual, tetapi juga memiliki cerita, karakter, dan daya tarik yang lebih kuat dalam perayaan Surabaya Vaganza 2026.
Menurut Direktur PT Kencana Maju Bersama, Susanto, tema Rapunzel dipilih karena memiliki kedekatan makna dengan semangat KENCANA sebagai brand yang terus bertumbuh dan berinovasi.
“KENCANA memilih tema Rapunzel karena karakter ini melambangkan harapan, pertumbuhan, dan keberanian untuk keluar dari keterbatasan menuju masa depan yang lebih terang. Rapunzel identik dengan cahaya dan keindahan, sejalan dengan semangat KENCANA untuk terus bertumbuh, menghadirkan inovasi, serta memberi inspirasi positif bagi masyarakat Surabaya melalui penampilan yang kreatif dan penuh warna di Surabaya Vaganza 2026,” katanya.
Sebagai perusahaan baja ringan yang mengedepankan kualitas berstandar SNI, ketahanan terhadap korosi, dan inovasi arsitektural, KENCANA memandang partisipasi dalam Surabaya Vaganza sebagai ruang untuk lebih dekat dengan masyarakat. Bagi KENCANA, sebuah brand tidak hanya hadir melalui produk, tetapi juga melalui cerita, pengalaman, dan nilai yang dapat dirasakan publik secara langsung.
Kolaborasi bersama UKM Teater UNESA juga menjadi bentuk dukungan KENCANA terhadap kreativitas generasi muda. Melalui panggung terbuka seperti Surabaya Vaganza, KENCANA ingin memberi ruang bagi talenta muda untuk ikut terlibat dalam perayaan kota dan menghadirkan karya yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Surabaya Vaganza 2026 menjadi momentum penting bagi KENCANA untuk merayakan energi Kota Surabaya yang dinamis, kreatif, dan penuh semangat kebersamaan. Melalui mobil hias bertema Rapunzel, KENCANA ingin menghadirkan karya visual yang tidak hanya megah secara tampilan, tetapi juga memiliki pesan yang dekat dengan masyarakat.
Kehadiran KENCANA dalam ajang ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap warga Surabaya yang terus tumbuh bersama semangat inovasi dan kolaborasi. Dengan membawa narasi tentang harapan dan masa depan yang lebih cerah, KENCANA ingin menjadi bagian dari perayaan kota yang tidak hanya meriah, tetapi juga bermakna.
Editor: Rizqa Leony Putri
Malam yang menyalakan kota
Malam itu, Kota Surabaya seperti sedang merayakan dirinya sendiri. Lampu-lampu warna-warni memantul di kaca gedung tua Jalan Tunjungan, suara musik bercampur ... [1,122] url asal
#surabaya-vaganza #ken #tugu-pahlawan #kendaraan-hias #2026 #surabaya
Di tengah hiruk-pikuk kota besar yang semakin cepat, mungkin itulah cahaya yang paling dibutuhkan Surabaya.
Surabaya (ANTARA) - Malam itu, Kota Surabaya seperti sedang merayakan dirinya sendiri. Lampu-lampu warna-warni memantul di kaca gedung tua Jalan Tunjungan, suara musik bercampur riuh tepuk tangan warga, sementara iring-iringan kendaraan berhias cahaya bergerak perlahan dari kawasan Tugu Pahlawan menuju Bambu Runcing.
Ribuan orang memadati trotoar. Anak-anak duduk di pundak orang tuanya, remaja sibuk merekam parade, sementara pelaku usaha kecil memanfaatkan keramaian yang tak putus hingga tengah malam.
Surabaya Vaganza 2026 bukan sekadar parade tahunan. Ketika konsep “Festival of Lights: Garden of Hope” dipilih dan digelar pada malam hari, Pemerintah Kota Surabaya sesungguhnya sedang mengubah cara sebuah kota membangun identitasnya.
Surabaya tidak lagi hanya dikenal sebagai kota industri dan perdagangan, melainkan kota yang mulai serius mengelola ruang publik, pengalaman wisata, dan ekonomi kreatif secara bersamaan.
Masuknya Surabaya Vaganza ke dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 menjadi penanda penting. Pengakuan itu menunjukkan bahwa sebuah festival kota kini bukan lagi hiburan pinggiran, melainkan instrumen pembangunan ekonomi dan diplomasi budaya.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kota berlomba menghadirkan festival. Namun, tidak semuanya berhasil membangun karakter yang kuat. Surabaya justru menemukan celah berbeda melalui wisata urban malam hari.
Pilihan itu menarik. Selama ini, kekuatan wisata Indonesia identik dengan alam dan budaya tradisional. Surabaya mencoba menawarkan pengalaman lain, yakni kota modern yang hidup pada malam hari, tetapi tetap membawa unsur sejarah dan identitas lokal.
Rute parade yang melintasi Tugu Pahlawan, Jalan Tunjungan, hingga kawasan heritage menjadi cara halus mempertemukan masa lalu dan masa depan dalam satu panggung kota.
Di titik inilah Surabaya Vaganza menjadi lebih dari sekadar arak-arakan lampu.

Denyut kota
Ada satu hal yang sering luput ketika membicarakan festival kota, yakni dampaknya terhadap ekonomi sehari-hari masyarakat. Padahal, denyut utama ajang seperti Surabaya Vaganza justru berada di sektor informal dan usaha kecil.
Pemerintah Kota Surabaya mencatat kunjungan wisata meningkat sekitar 12,5 persen selama rangkaian ajang budaya berlangsung pada HJKS 2026. Tingkat okupansi hotel juga naik sekitar 4 persen.
Angka itu mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya ada rantai ekonomi panjang, yaitu hotel terisi, restoran ramai, pengemudi transportasi daring mendapat penumpang tambahan, hingga UMKM kuliner menikmati lonjakan pembeli.
Tahun lalu, Surabaya Vaganza bahkan disebut menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp2,1 miliar. Nilai itu menunjukkan bahwa festival kota bukan lagi pengeluaran semata, melainkan investasi ekonomi perkotaan.
Fenomena ini sebenarnya terjadi di banyak kota dunia. Singapura memiliki Night Festival, Seoul, Korea Selata, mengembangkan festival cahaya di kawasan perkotaan, sementara Sydney, Australia,sukses dengan Vivid Sydney yang menggabungkan seni cahaya dan wisata malam. Kota-kota itu memahami satu hal penting bahwa wisatawan modern tidak hanya mencari tempat, tetapi pengalaman.
Surabaya tampaknya mulai membaca arah tersebut. Konsep Festival of Lights membuat Surabaya Vaganza memiliki kekuatan visual yang sangat cocok dengan era media sosial.
Cahaya, kostum tematik, video mapping, dan kendaraan artistik bukan hanya ditonton langsung, tetapi juga dipotret, direkam, lalu disebarkan secara digital. Dalam dunia pariwisata hari ini, promosi terbesar justru lahir dari gawai pengunjung.
Karena itu, strategi Pemkot Surabaya menggandeng hotel, agen perjalanan, transportasi daring, hingga pusat perbelanjaan menjadi langkah yang cukup matang. Festival tidak berdiri sendiri, tetapi dihubungkan dengan ekosistem ekonomi kota.
Namun, di tengah kemeriahan itu, ada tantangan yang perlu dibaca secara kritis. Festival kota sering kali berhasil menciptakan keramaian, tetapi belum tentu menciptakan kedalaman identitas.
Banyak ajang di berbagai daerah berubah menjadi sekadar pesta visual, tanpa narasi budaya yang kuat. Risiko itu juga bisa muncul di Surabaya Vaganza, apabila konsep cahaya dan hiburan hanya berhenti sebagai tontonan.
Padahal Surabaya memiliki modal sejarah yang sangat besar. Kota ini bukan tanpa cerita. Ada jejak perjuangan, kawasan heritage, budaya arek yang egaliter, hingga karakter urban yang khas. Semua itu bisa menjadi fondasi narasi festival yang lebih kuat.
Tema “Garden of Hope” sebenarnya memberi ruang untuk itu. Harapan tidak hanya dimaknai sebagai lampu yang indah, tetapi juga simbol kota yang ingin lebih ramah, terbuka, dan manusiawi.
Di tengah tekanan kota besar yang semakin padat, mahal, dan individualistis, festival publik semacam ini dapat menjadi ruang bersama yang mempertemukan warga lintas kelas sosial.
Malam parade menjadi bukti bagaimana ruang kota bisa berubah menjadi ruang sosial. Jalan raya yang biasanya dipenuhi kendaraan mendadak menjadi tempat warga bercakap, berjalan kaki, dan menikmati kota bersama-sama. Di kota besar, pengalaman semacam itu semakin langka.

Merawat cahaya
Surabaya Vaganza 2026 memperlihatkan bahwa kota modern membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur fisik. Kota juga membutuhkan imajinasi. Festival menjadi cara untuk membangun optimisme kolektif bahwa ruang perkotaan masih bisa menjadi ruang yang hangat bagi manusia.
Tetapi menjaga festival tetap relevan bukan perkara mudah. Tantangan pertama adalah konsistensi kualitas. Ketika sebuah ajang sudah masuk KEN, ekspektasi publik akan terus meningkat. Surabaya tidak bisa hanya mengulang pola yang sama setiap tahun. Inovasi harus terus muncul, baik dari sisi artistik, teknologi, maupun pengalaman pengunjung.
Tantangan kedua adalah pengelolaan keramaian kota. Rekayasa lalu lintas, penyediaan parkir, transportasi publik, hingga pengelolaan sampah menjadi pekerjaan besar. Festival yang sukses tidak hanya diukur dari jumlah penonton, tetapi juga dari kemampuan kota mengelola kenyamanan dan keamanan publik.
Tantangan ketiga yang paling penting adalah memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat luas. Jangan sampai festival kota hanya menguntungkan kelompok tertentu, sementara pelaku UMKM kecil sekadar menjadi pelengkap. Pemerintah perlu memperluas ruang partisipasi warga, termasuk komunitas kreatif kampung, seniman lokal, hingga pelaku usaha mikro di sekitar lokasi acara.
Di sinilah Surabaya memiliki peluang besar. Kota ini dikenal memiliki kultur komunitas yang kuat. Jika komunitas-komunitas lokal diberi ruang lebih besar dalam desain festival, Surabaya Vaganza bisa berkembang bukan hanya sebagai parade tahunan, tetapi sebagai identitas budaya urban baru.
Surabaya Vaganza 2026 menunjukkan satu hal penting bahwa kota yang maju bukan hanya kota yang membangun gedung tinggi, tetapi kota yang mampu membuat warganya merasa memiliki ruang bersama.
Gemerlap lampu mungkin akan padam ketika parade selesai. Jalanan kembali normal, trotoar kembali lengang, dan kendaraan kembali memenuhi pusat kota. Namun, yang tersisa seharusnya bukan sekadar foto-foto di media sosial.
Hal yang lebih penting adalah kesadaran bahwa sebuah kota dapat hidup bukan hanya melalui beton dan jalan raya, melainkan lewat pengalaman kolektif yang membuat warganya merasa terhubung satu sama lain.
Dan di tengah hiruk-pikuk kota besar yang semakin cepat, mungkin itulah cahaya yang paling dibutuhkan Surabaya.
Copyright © ANTARA 2026
Batik Fair di Surabaya, PGN Dorong Pemberdayaan UMKM dan Anak Disabilitas
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pemberdayaan UMKM yang inklusif dan berdampak... | Halaman Lengkap [403] url asal
#umkm #disabilitas #batik #pgn #surabaya
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/05/26 21:07
v/219492/
SURABAYA - PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pemberdayaan UMKM yang inklusif dan berdampak sosial. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PGN berkolaborasi dengan UMKM binaan Zaliva menghadirkan ruang kreatif bagi anak-anak disabilitas dalam ajang Batik Bordir dan Aksesoris Fair 2026 di Surabaya pada 6–10 Mei 2026.Kolaborasi ini tidak hanya menampilkan karya kreatif UMKM lokal, tetapi juga membuka ruang partisipasi aktif bagi anak-anak disabilitas untuk mengembangkan potensi, kreativitas, serta rasa percaya diri melalui pelatihan membatik dan keterlibatan langsung dalam pameran.
Program ini tidak hanya memberi ruang berekspresi, tetapi juga membuka peluang ekonomi inklusif bagi anak disabilitas dan UMKM binaan.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan, inisiatif ini merupakan bagian dari upaya perusahaan menghadirkan pemberdayaan yang berkelanjutan, tidak semata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penciptaan kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Kami percaya setiap anak memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan ruang inklusif agar anak-anak disabilitas dapat menyalurkan kreativitas, membangun rasa percaya diri, serta memiliki peluang untuk lebih mandiri melalui karya yang mereka hasilkan,” ujar Fajriyah, Selasa (12/5/2026).
Selama pameran berlangsung, sebanyak lima anak disabilitas dari Rumah Anak Prestasi turut ambil bagian dalam kegiatan demo membatik di booth UMKM PGN. Anak-anak tuna rungu, tuna grahita, dan tuna daksa tidak hanya memamerkan keterampilan membatik, tetapi juga berinteraksi langsung dengan pengunjung. Mereka menunjukkan bahwa kreativitas dan semangat berkarya dapat tumbuh tanpa batas.
Selain menghadirkan ruang kreatif bagi anak-anak disabilitas, PGN juga membawa lima UMKM binaan unggulan dari Garut, Padang, Palembang, Tangerang, dan Depok. Kehadiran UMKM lintas daerah ini mencerminkan komitmen PGN dalam memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing usaha lokal. Hingga 2026, PGN telah membina ratusan UMKM di berbagai daerah dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi berbasis inklusivitas.
Pemilik UMKM binaan Zaliva Zakiyah Fitri mengapresiasi dukungan PGN yang dinilai membuka ruang lebih luas bagi anak-anak disabilitas untuk terus berkarya dan berinteraksi dengan masyarakat.
“Anak-anak disabilitas memiliki kreativitas dan semangat belajar yang luar biasa. Dengan dukungan PGN, mereka mendapatkan ruang untuk berkarya sekaligus merasakan langsung apresiasi dari masyarakat. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka,” ujar Zakiyah.
Saat ini sekitar 30 anak disabilitas aktif mengikuti pelatihan keterampilan bersama Zaliva, mulai dari membatik hingga pembuatan berbagai kerajinan tangan. Pendampingan tersebut tidak hanya bertujuan mengasah kemampuan motorik dan kreativitas, tetapi juga membuka peluang kemandirian di masa depan.
JETE RUN 2026 dukung wisata olah raga, targetkan 10.000 peserta
Ajang lari JETE RUN kembali masuk dalam Kalender Agenda Olahraga 2026 dan siap digelar pada 6 September tahun ini di Surabaya, Jawa Timur guna mendukung ... [379] url asal
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga bagian dari upaya mendukung sport tourism dan aktivitas ekonomi kreatif di Surabaya,
Jakarta (ANTARA) - Ajang lari JETE RUN kembali masuk dalam Kalender Agenda Olahraga 2026 dan siap digelar pada 6 September tahun ini di Surabaya, Jawa Timur guna mendukung wisata olah raga atau "sport tourism", khususnya di kota tersebut.
CEO JETE Jhonny Thio Doran menyatakan mengangkat tema “Run with Passion!”, kegiatan tahun ini menargetkan diikuti 10.000 peserta dari berbagai penjuru Tanah Air, lebih tinggi dari 2025 yang menggaet 5.000 peserta.
.
"Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga bagian dari upaya mendukung sport tourism dan aktivitas ekonomi kreatif di Surabaya," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Oleh karena itu, setelah menyelesaikan lomba peserta nantinya akan disuguhkan berbagai hiburan, acara interaktif maupun gerai kuliner UMKM sehingga diharapkan membantu peluang pelaku usaha kecil dan menengah untuk naik kelas.
Untuk mendukung konsep tersebut, tambahnya, JETE RUN 2026 akan berlangsung di Balai Kota Surabaya dengan menghadirkan rute yang menggabungkan nuansa modern dan historis khas tersebut.
Peserta akan melintasi sejumlah jalan utama dan kawasan yang identik dengan sejarah Kota Pahlawan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memberikan kesan berbeda, khususnya bagi peserta dan komunitas lari yang datang dari luar daerah.
"Balai Kota jadi pilihan karena kami ingin menghadirkan nuansa lari dengan konsep lanskap kota modern khas Surabaya yang penuh nilai sejarah. Jadi, sepanjang rute, pelari akan melintasi jalanan dan tempat bersejarah di kota ini," ujar Jhonny
Terkait target peserta yang mencapai 10.000 orang tahun ini, dia menyebutkan, hal itu didasarkan meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap ajang lari yang dalam beberapa tahun terakhir terus berkembang di berbagai daerah Indonesia.
Selain itu, JETE RUN kini tidak lagi hanya dikenal sebagai kegiatan regional, tetapi mulai berkembang menjadi ajang lari berskala nasional yang menarik perhatian peserta dari berbagai kota besar di Indonesia.
Hal itu terlihat dari peningkatan jumlah komunitas maupun peserta individu yang datang dari luar Surabaya ataupun Jawa Timur, peserta diperkirakan dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, Makassar, hingga sejumlah kota lain di luar Pulau Jawa.
"Dengan melihat antusiasme peserta yang tinggi dari tahun ke tahun, dan di 2025 tercatat lebih dari 5.000 peserta, kita optimistis tahun 2026 peserta ditargetkan dua kali lipat yakni 10.000," ujar Jhony.
Pewarta: Subagyo
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Mulai dari Nol, UMKM Canoi Bisa Tembus Pasar Luar Negeri
UMKM Canoi dari Surabaya telah merambah ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Maladewa, dan Qatar. Kini mereka mencoba untuk masuk pasar Amerika. Usaha Mikro,... | Halaman Lengkap [339] url asal
#umkm #surabaya #go-international #umkm-naik-kelas #pelaku-umkm
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 09/05/26 13:46
v/216437/
SURABAYA - Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ( UMKM ) Canoi dari Surabaya ini bisa menembus pasar ekspor . Canoi sendiri singkatan dari Camilan Orang Indonesia. UMKM yang mengolah hasil laut di kawasan Kenjeran Surabaya ini telah merambah ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Maladewa, dan Qatar. Kini mereka mencoba untuk masuk pasar Amerika.Usaha rumahan yang owner-nya bernama Rachmawati Basuki ini punya 18 varian produk olahan hasil laut. Usaha yang dirintis sejak pandemi Covid-19 ini sudah mampu mempekerjakan lima tenaga kerja. "Insya Allah akan terus bertambah lagi, semoga bisa membantu masyarakat sekitar," kata Rachmawati yang merupakan alumni Teknik Sipil ITS, Jumat (8/5/2026).
Rachmawati menceritakan, usaha yang ditekuni hingga sekarang ini benar benar dimulai dari nol besar. Dia sendiri sudah lama menekuni bisnis salon kecantikan di rumah. Ada banyak pekerja yang menggantungkan hidup dari usaha salon ini
Namun, pada 2019 badai Covid 19 mengancam bahkan "mematikan" usaha yang sudah menghasilkan banyak uang ini. "Usaha salon sepi karena sudah tidak ada event pernikahan. Sedangkan pekerja di rumah ini tetap harus makan dan menghidupi keluarganya," terangnya.
Rachmawati terus memutar otak bagaimana orang orang yang sudah bekerja bersamanya tidak sampai kesusahan, jangan sampai gak makan. Akhirnya mereka ditawari untuk bersama sama merintis UMKM olahan hasil laut. "Apalagi bahan baku di sini banyak dan relatif mudah diperoleh," tambahnya
Sebagai usaha rintisan, pastilah menemui batu ganjalan, mulai permodalan, pemasaran dan sebagainya. Namun berkat keuletan dan telat kuat Rachmawati, usahanya terus eksis dan makin berkembang. Yang awalnya hanya lima varian, kini menjadi 18 varian dengan harga kisaran Rp 8.000 hingga Rp 18.000 Total produksi yang dihasilkan mencapai 5.000 pieces. Pembayaran QRIS Bisa Dipakai di China, Peluang Baru bagi UMKM
Setelah usahanya berjalan lancar, beberapa BUMN memberi perhatian dan dukungan, termasuk dari pemerintah daerah. Kini omsetnya mencapai Rp30 juta per bulan.
Target berikutnya adalah bagaimana produknya bisa masuk ke ritel ritel modern di seluruh Indonesia. Dia juga senang karena saat ini sudah berhasil masuk di Indomart, Transmart, Pusat Oleh Oleh Bu Rudi, Swalayan Bonet, Toko Basmallah dan masih banyak lagi.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)