Bisnis.com, JAKARTA — Industri film Indonesia semakin menarik perhatian investor seiring pertumbuhan jumlah penonton dan meningkatnya dominasi film lokal di bioskop. Dalam beberapa tahun terakhir, momentum tersebut membuka peluang baru bagi pelaku industri, termasuk dari sisi pengembangan intellectual property (IP) dan model bisnis di luar penayangan teater.
Salah satu investor yang telah lebih dulu masuk ke sektor ini adalah GDP Venture. Perusahaan tersebut mulai berinvestasi di rumah produksi Visinema sejak 2018, jauh sebelum lonjakan minat terhadap film lokal terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Founding Partner GDP Venture Antonny Liem mengatakan, pihaknya sejak awal melihat industri film lokal memiliki potensi yang besar untuk berkembang, baik dari sisi pasar maupun model bisnis.
Menurutnya, salah satu indikator yang menunjukkan peluang tersebut adalah meningkatnya pangsa pasar film lokal di bioskop. Tahun lalu, sekitar 64% penonton bioskop di Indonesia tercatat memilih film produksi dalam negeri. “Jadi ini menunjukkan ada potensi besar, growth-nya juga kuat sekali,“ ujar Antonny Kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.
Saat ini jumlah layar bioskop di Indonesia diperkirakan sekitar tujuh hingga delapan layar per satu juta penduduk. Angka tersebut masih jauh di bawah beberapa negara yang memiliki rasio layar jauh lebih tinggi. Kondisi ini membuka peluang ekspansi industri film dalam jangka panjang.
Kendati demikian, bagi investor, potensi pasar saja tidak cukup. Antonny menuturkan GDP Venture juga mempertimbangkan keseimbangan antara kualitas kreatif dan potensi komersial dalam memilih perusahaan atau proyek film untuk didukung.
Sebagai industri kreatif, kualitas karya menjadi faktor penting. Namun, karya yang terlalu berorientasi artistik tanpa mempertimbangkan pasar dinilai berisiko secara bisnis.
Oleh karena itu, GDP Venture mencari mitra yang mampu menjaga kualitas produksi sekaligus memahami dinamika pasar. Dalam kasus Visinema, perusahaan tersebut dinilai memiliki visi yang jelas dalam membangun portofolio film sekaligus mengembangkan aset IP.
Strategi tersebut mulai terlihat dari keberhasilan beberapa karya yang dikembangkan Visinema. Film animasi Jumbo, misalnya, berhasil menarik lebih dari 10 juta penonton dan membuka peluang ekspansi ke pasar internasional.
Bagi investor, kekuatan IP menjadi salah satu kunci penting dalam industri kreatif modern. Produk film tidak lagi hanya menghasilkan pendapatan dari tiket bioskop, tetapi juga dapat dimonetisasi melalui lisensi, royalti, hingga berbagai bentuk kolaborasi komersial.
“Kita milih sebuah company, seorang founder seperti Angga (Founder Visinema Angga Dwimas Sasongko) dan teman-temannya yang memang punya visi di product quality juga kemampuan memahami bisnis, terutama juga bisa manage atau menavigasi industri kreatif film yang selalu bergerak dengan lumayan tajam,” jelas Antonny.
Selain investasi di level perusahaan seperti Visinema, GDP Venture juga sesekali berpartisipasi sebagai investor dalam proyek film tertentu. Namun jumlahnya terbatas dan dipilih secara selektif.
Dalam skema investasi ke rumah produksi, investor biasanya tidak terlibat dalam proses kreatif. Akan tetapi, bila berinvestasi ke proyek film, peran investor lebih banyak berada pada tahap awal, seperti menilai konsep cerita, tim produksi, hingga strategi distribusi.
Setelah proyek berjalan, keputusan kreatif umumnya diserahkan sepenuhnya kepada rumah produksi. Investor hanya memantau perkembangan produksi dan menilai potensi kinerja film setelah selesai.
Antonny tidak memungkiri bila investasi di industri film tetap memiliki risiko tinggi. Tidak ada jaminan sebuah film akan sukses secara komersial, bahkan ketika didukung anggaran besar dan promosi intensif.
Oleh karena itu, proses seleksi proyek menjadi tahap paling krusial bagi investor. Penilaian terhadap konsep cerita, reputasi tim kreatif, serta strategi pemasaran menjadi bagian dari mitigasi risiko sebelum investasi diputuskan.
Bicara prospek ke depan, Antonny menyebut prospek industri film Indonesia dinilai masih cukup menjanjikan. Sejumlah riset industri menunjukkan nilai pasar film domestik berpotensi meningkat signifikan dalam lima tahun mendatang. Namun pertumbuhan tersebut juga diiringi tantangan baru.
Dalam beberapa tahun terakhir jumlah film yang diproduksi meningkat pesat, sementara pertumbuhan jumlah penonton tidak selalu sejalan.
Antonny menyampaikan, data industri menunjukkan jumlah film baru yang dirilis pada 2025 meningkat sekitar 37% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara pertumbuhan jumlah penonton hanya naik sekitar 3%.
Kondisi tersebut berpotensi menciptakan persaingan yang semakin ketat di antara rumah produksi. Penonton diperkirakan akan semakin selektif dan lebih memilih film dengan kualitas cerita maupun produksi yang kuat.
Di sisi lain, pelaku industri mulai memperkuat diversifikasi sumber pendapatan. Antonny mengatakan, di Visinema misalnya, pengembangan IP dan monetisasi non-teater menjadi fokus strategi ke depan. Jika sebelumnya kontribusi pendapatan dari kanal non-teater masih sekitar 20%, perusahaan menargetkan porsinya dapat meningkat menjadi sekitar 35% dalam waktu dekat.
“Intinya supaya kita tidak melulu terganggu pada bioskop, pada rilis film lah, karena kan nggak ada jaminan, nggak bisa pastiin nih film lakunya seberapa, untungnya seberapa. Jadi kita agak fokus di IP, licensing, royalty, hal-hal yang sifatnya non-teater equal income,” tutur Antonny.
Sementara itu, Senior Director of Content Southeast Asia Netflix Malobika Banerji mengatakan, Indonesia memiliki ekosistem kreatif yang kuat dan menjadi salah satu sumber talenta paling menarik di kawasan Asia Tenggara.
Netflix katanya telah berinvestasi dalam pengembangan konten orisinal Indonesia selama beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari strategi memperkuat cerita lokal.
“Kami secara konsisten menghadirkan karya orisinal Indonesia yang mencerminkan wajah Indonesia yang sesungguhnya, mulai dari keberagaman budaya, bahasa, wilayah, hingga masyarakatnya,” sebutnya.
Malobika menjelaskan, proses memilih cerita bagi Netflix bukan sekadar proses teknis, melainkan juga bagian dari pendekatan kreatif yang menuntut keberanian dalam mengeksplorasi ide baru.
Perusahaan berupaya mencari proyek dengan karakter unik yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Karena itu, Netflix membuka peluang luas bagi kreator lokal untuk mengajukan berbagai ide, tanpa membatasi diri pada genre tertentu.
“Sering kali, yang kami cari bukan hanya apa yang sedang disukai penonton saat ini, tetapi juga cerita yang kami yakini akan membuat mereka menemukan sesuatu yang baru untuk dicintai di masa depan,” jelasnya.
Secara kinerja, konten Indonesia menunjukkan daya tarik yang semakin kuat di Netflix. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 35 judul produksi Indonesia berhasil masuk dalam daftar Global Top 10 Netflix. Capaian tersebut menunjukkan bahwa karya lokal tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga mulai mendapatkan perhatian dari audiens global.
Tren serupa juga terlihat pada konten Asia Tenggara secara keseluruhan. Netflix mencatat total jam tayang global untuk konten dari kawasan ini meningkat hampir 50% dari 2023 ke 2024.
Seiring meningkatnya minat penonton internasional, berbagai judul dari Asia Tenggara juga berhasil menembus pasar global. Hingga kini, lebih dari 100 judul dari kawasan tersebut telah masuk dalam daftar Global Top 10 Netflix.
Bahkan pada 2025 saja, lebih dari 40 judul Asia Tenggara berhasil menembus daftar tersebut. Selain itu, sejumlah konten dari kawasan ini juga tercatat masuk dalam daftar Top 10 di lebih dari 80 negara sepanjang tahun lalu.