JAKARTA, KOMPAS.com – Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada akhir 2025 masih mencatat kewajiban bersih kepada investor luar negeri.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, kewajiban finansial Indonesia kepada investor global tetap lebih besar dibandingkan aset finansial yang dimiliki penduduk Indonesia di luar negeri.
Bank sentral mencatat, pada akhir kuartal IV 2025 posisi investasi internasional Indonesia membukukan kewajiban neto sebesar 272,6 miliar dollar AS.
SHUTTERSTOCK/HARISMOYO Ilustrasi Bank IndonesiaAngka ini meningkat dibandingkan posisi pada akhir kuartal III 2025 yang tercatat sebesar 261,8 miliar dollar AS.
Peningkatan kewajiban neto tersebut terjadi karena kenaikan posisi kewajiban finansial luar negeri lebih besar dibandingkan kenaikan posisi aset finansial luar negeri Indonesia.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, perkembangan tersebut tercermin dari meningkatnya posisi kewajiban finansial luar negeri pada periode laporan.
“Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada triwulan IV 2025 mencatat kewajiban neto yang meningkat. Pada akhir triwulan IV 2025, kewajiban neto tercatat sebesar 272,6 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan kewajiban neto pada akhir triwulan III 2025 sebesar 261,8 miliar dolar AS,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi BI, dikutip pada Selasa (10/3/2026).
Menurut Ramdan, peningkatan kewajiban neto tersebut dipengaruhi oleh kenaikan posisi kewajiban finansial luar negeri yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan posisi aset finansial luar negeri.
Aset finansial luar negeri meningkat
SHUTTERSTOCK/KATJEN Ilustrasi keuangan, sektor keuangan.Berdasarkan laporan Posisi Investasi Internasional Indonesia, nilai aset finansial luar negeri Indonesia pada akhir kuartal IV 2025 tercatat 558,5 miliar dollar AS.
Nilai ini meningkat dibandingkan posisi pada akhir kuartal III 2025 yang sebesar 545,5 miliar dollar AS.
BI menjelaskan, peningkatan posisi aset finansial luar negeri didorong oleh kenaikan sejumlah komponen utama, termasuk cadangan devisa, investasi langsung, serta investasi portofolio.
“Posisi AFLN Indonesia meningkat terutama didorong oleh kenaikan cadangan devisa dan investasi langsung. Selain itu, kenaikan AFLN juga didorong oleh investasi langsung dan investasi portofolio,” kata Ramdan.
Selain faktor transaksi investasi, perubahan nilai aset juga dipengaruhi faktor valuasi. Bank Indonesia menyebut kenaikan posisi aset luar negeri turut dipengaruhi oleh kenaikan harga emas dan indeks harga saham global.
Dalam struktur aset finansial luar negeri Indonesia, komponen terbesar berasal dari investasi lainnya, investasi langsung, serta cadangan devisa.
Berdasarkan data laporan PII, nilai investasi langsung Indonesia di luar negeri pada akhir kuartal IV 2025 tercatat sekitar 143,7 miliar dollar AS. Investasi ini terdiri dari modal ekuitas dan instrumen utang yang dimiliki investor domestik pada perusahaan di luar negeri.
Sementara itu, investasi portofolio penduduk Indonesia di luar negeri tercatat sekitar 40,6 miliar dollar AS pada akhir 2025.
Komponen investasi lainnya yang mencakup berbagai instrumen seperti pinjaman, simpanan, serta piutang dagang juga mencatat nilai signifikan, yakni lebih dari 216 miliar dollar AS.
Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga menjadi salah satu komponen utama dalam aset finansial luar negeri.
Pada akhir 2025, posisi cadangan devisa dalam perhitungan PII tercatat sekitar 156,5 miliar dollar AS. Komponen cadangan devisa tersebut terdiri dari emas moneter, hak tarik khusus atau special drawing rights (SDR), cadangan di IMF, serta aset cadangan lainnya.
SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO Ilustrasi investasi.Kewajiban finansial luar negeri meningkat
Di sisi lain, kewajiban finansial luar negeri Indonesia juga mengalami peningkatan pada akhir 2025.
BI mencatat posisi kewajiban finansial luar negeri Indonesia pada akhir kuartal IV 2025 mencapai 831,1 miliar dollar AS. Nilai tersebut meningkat dibandingkan posisi pada akhir kuartal III 2025 yang sebesar 807,3 miliar dollar AS.
Menurut BI, peningkatan kewajiban finansial luar negeri tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan investasi portofolio.
“Posisi KFLN Indonesia meningkat terutama dipengaruhi oleh peningkatan posisi investasi portofolio di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” kata Ramdan.
Selain itu, peningkatan kewajiban luar negeri juga bersumber dari aliran masuk modal asing pada investasi langsung, investasi portofolio, serta investasi lainnya.
Bank sentral menilai aliran modal tersebut mencerminkan persepsi positif investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia serta iklim investasi domestik.
“Peningkatan posisi KFLN tersebut terutama bersumber dari aliran masuk modal asing pada investasi portofolio, investasi langsung, dan investasi lainnya yang mencerminkan terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi Indonesia,” ujar Ramdan.
Selain aliran modal, perubahan posisi kewajiban juga dipengaruhi oleh faktor valuasi, termasuk penguatan indeks harga saham domestik.
SHUTTERSTOCK/GOPIXA Ilustrasi investasi. Savings Bond Ritel SBR014. Cara beli investasi SBR014. Kupon SBR014.Investasi langsung menjadi komponen terbesar
Dalam struktur kewajiban finansial luar negeri Indonesia, investasi langsung menjadi salah satu komponen utama.
Data laporan Posisi Investasi Internasional menunjukkan nilai investasi langsung asing di Indonesia pada akhir kuartal IV 2025 mencapai sekitar 347,6 miliar dollar AS.
Investasi langsung tersebut terdiri dari dua komponen utama, yaitu modal ekuitas dan instrumen utang antara perusahaan induk dan anak perusahaan.
Selain investasi langsung, komponen besar lainnya dalam kewajiban luar negeri adalah investasi portofolio.
Pada akhir 2025, nilai investasi portofolio asing di Indonesia tercatat sekitar 293,5 miliar dollar AS. Instrumen investasi portofolio tersebut meliputi kepemilikan saham serta surat utang domestik oleh investor asing.
Kewajiban lainnya juga mencakup berbagai instrumen seperti pinjaman luar negeri, simpanan, serta kewajiban finansial lainnya.
Komponen investasi lainnya dalam kewajiban luar negeri Indonesia tercatat sekitar 188,8 miliar dollar AS pada akhir 2025.
Kewajiban neto meningkat sepanjang 2025
Secara keseluruhan tahun 2025, posisi kewajiban neto investasi internasional Indonesia juga meningkat dibandingkan posisi pada akhir tahun sebelumnya.
Bank Indonesia mencatat kewajiban neto PII Indonesia meningkat dari 245,7 miliar dollar AS pada akhir 2024 menjadi 272,6 miliar dollar AS pada akhir 2025.
Peningkatan tersebut terjadi karena kenaikan posisi kewajiban finansial luar negeri yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan posisi aset finansial luar negeri.
Freepik Ilustrasi investasi. Ilustrasi reksadana. Reksadana adalah. Apa itu reksadana. Jenis reksadana.“Peningkatan kewajiban neto PII tersebut bersumber dari kenaikan posisi KFLN sebesar 61,9 miliar dolar AS atau 8,0 persen secara tahunan, yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan posisi AFLN sebesar 34,9 miliar dollar AS atau 6,7 persen secara tahunan,” jelas Ramdan.
Bank sentral menyebut kenaikan kewajiban luar negeri terutama dipengaruhi oleh aliran masuk investasi langsung yang disertai dengan kenaikan harga saham domestik.
Sementara itu, kenaikan aset finansial luar negeri dipengaruhi oleh peningkatan pada seluruh komponen aset, termasuk investasi langsung, investasi portofolio, investasi lainnya, serta cadangan devisa.
Struktur kewajiban didominasi instrumen jangka panjang
Bank Indonesia menilai perkembangan posisi investasi internasional Indonesia secara keseluruhan tetap terjaga dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian.
Hal tersebut antara lain tercermin dari rasio kewajiban neto PII terhadap produk domestik bruto (PDB) yang tetap terjaga.
Pada 2025, rasio tersebut tercatat sekitar 18,8 persen terhadap PDB.
Selain itu, struktur kewajiban investasi internasional Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang.
BI mencatat sekitar 93,2 persen kewajiban PII Indonesia berasal dari instrumen jangka panjang, terutama dalam bentuk investasi langsung.
Bank sentral menyatakan akan terus mencermati perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi posisi investasi internasional Indonesia.
“Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek PII Indonesia dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal,” ujar Ramdan.
BI juga menyatakan akan terus memantau potensi risiko yang berkaitan dengan perkembangan kewajiban neto investasi internasional terhadap perekonomian Indonesia.