Bisnis.com, BANDA ACEH — Prof. Jiang memprediksi konflik Iran melawan Amerika Serikat–Israel berpotensi menjadi perang berkepanjangan yang dapat mengguncang sistem ekonomi global, memicu krisis energi, dan bahkan membuka kemungkinan eskalasi menuju konflik berskala dunia.
Konflik tersebut tidak hanya melibatkan aspek militer, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor agama, geopolitik, energi, ekonomi, serta rivalitas kekuatan besar dunia.
“Saya harap semua orang telah menikmati liburan yang menyenangkan dan selamat datang kembali ke akhir dunia. Amerika Serikat dan Israel telah mulai menyerang Iran, dan saat ini kita sudah memasuki hari keempat perang ini,” kata Prof. Jiang, dikutip dari kanal Youtube-nya Predictive History, Selasa (10/3/2026).
Jiang Xueqin atau dikenal Prof. Jiang merupakan pendidik, penulis, dan analis geopolitik kelahiran Guangdong, Tiongkok. Dia merupakan alumni Yale University, Amerika Serikat, dengan gelar sarjana (BA), serta memiliki kewarganegaraan Kanada.
Prof. Jiang memiliki pengalaman di berbagai bidang, mulai dari jurnalisme, pembuatan film dokumenter, termasuk pernah bekerja dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Saat ini dia berbasis di Beijing dan mengajar di Moonshot Academy sejak 2022.
Prof. Jiang dikenal luas melalui analisis geopolitik dan prediksi global yang dia sampaikan di kanal YouTube Predictive History.
Perkembangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa waktu terakhir kembali menempatkan Timur Tengah di titik kritis, memicu kekhawatiran dunia akan eskalasi perang yang berpotensi meluas ke kawasan lain.
Serangan Awal dan Kematian Ali Khamenei
Prof. Jiang menjelaskan konflik bermula dari operasi militer yang disebut decapitation strike, yakni serangan yang bertujuan melumpuhkan kepemimpinan musuh.
Dalam serangan yang terjadi di Teheran tersebut, Amerika Serikat dan Israel menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pihak Amerika dan Israel mengklaim memiliki intelijen akurat mengenai lokasi Khamenei sehingga melancarkan serangan udara untuk menghancurkan target.
Pada awalnya Iran membantah kabar kematian Khamenei. Kemudian media pemerintah Iran mengakui bahwa pemimpin tersebut meninggal dalam serangan tersebut.
Menurut Prof. Jiang, Iran kemudian membingkai kematian tersebut sebagai martyrdom (kematian syahid). Dia menjelaskan bahwa dalam tradisi Syiah, konsep syahid memiliki makna religius yang sangat kuat karena sejarah panjang kelompok Syiah yang sering mengalami penindasan.
Karena itu, kematian pemimpin mereka dapat menjadi simbol perjuangan masyarakat Iran untuk melawan musuh secara total. Bagi masyarakat Iran, perang tersebut tidak lagi sekadar konflik geopolitik, melainkan berubah menjadi perang religius yang menuntut pembalasan.
Selat Hormuz dan Ancaman Krisis Energi Dunia
Prof. Jiang menilai Selat Hormuz sebagai salah satu faktor paling krusial dalam konflik ini. Selat sempit dengan lebar sekitar 33 kilometer tersebut merupakan jalur utama distribusi energi dunia. Sekitar 20% minyak global melewati jalur ini setiap hari menuju berbagai negara di Asia.
Beberapa negara sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan ini, antara lain India sekitar 60% kebutuhan minyak berasal dari kawasan Teluk, Tiongkok sekitar 40%, dan Jepang sekitar 75%.
Menurut Prof. Jiang, Iran telah menutup jalur tersebut sebagai bagian dari strategi perang ekonominya. Jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama, dunia diperkirakan akan menghadapi krisis energi serius yang dapat memicu resesi global.
Dia juga menjelaskan bahwa kawasan GCC merupakan pusat dari sistem petrodollar, yaitu sistem perdagangan minyak global yang menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama. Jika sistem tersebut runtuh, dampaknya dapat sangat besar terhadap stabilitas ekonomi Amerika Serikat.
Strategi Perang Asimetris Iran
Prof. Jiang menilai konflik ini merupakan contoh klasik dari asymmetric warfare (perang asimetris). Iran menggunakan strategi militer yang sangat berbeda dari Amerika Serikat.
Salah satu senjata utama Iran adalah drone Shahed yang relatif murah dengan harga sekitar US$35.000 hingga US$50.000 per unit. Drone tersebut dapat diproduksi secara massal dan mudah disembunyikan di berbagai lokasi.
Menurut Prof. Jiang, Iran diperkirakan mampu memproduksi sekitar 500 drone per hari dan memiliki stok hingga 80.000 unit. Drone tersebut dapat digunakan untuk menyerang berbagai target strategis, seperti pangkalan militer, ladang minyak, instalasi energi, dan pabrik desalinasi air.
Sebaliknya, Amerika Serikat menggunakan sistem pertahanan seperti THAAD yang sangat mahal. Satu rudal THAAD dapat berharga sekitar US$1 juta, sehingga biaya pertahanan menjadi jauh lebih besar dibandingkan biaya serangan.
Krisis Air: Kelemahan Besar Iran
Meski memiliki beberapa keunggulan strategis, Iran juga memiliki kelemahan serius yaitu krisis air. Menurut Prof. Jiang, Iran mengalami kekeringan yang cukup parah selama beberapa dekade terakhir.
Salah satu contoh paling nyata adalah menyusutnya Danau Urmia, yang dulunya merupakan salah satu danau terbesar di dunia. Penurunan volume air di danau tersebut menunjukkan tekanan lingkungan yang sangat besar terhadap Iran.
Karena itu, Prof. Jiang menilai Amerika Serikat dan Israel kemungkinan akan menargetkan infrastruktur air Iran, seperti bendungan, waduk, jaringan distribusi air, dan pembangkit listrik.
Strategi tersebut bertujuan membuat Iran tidak layak dihuni sehingga memicu krisis kemanusiaan dan tekanan politik internal.
Risiko Perang Dunia
Prof. Jiang menilai konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi menarik keterlibatan negara-negara besar lain.
Beberapa negara Eropa kemungkinan akan berpihak kepada Amerika Serikat karena bergantung pada energi dari kawasan Teluk.
Di sisi lain, Rusia kemungkinan akan mendukung Iran karena tidak ingin Iran jatuh ke tangan blok Barat. Tiongkok saat ini berada dalam posisi lebih netral, meskipun tetap memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Jika kekuatan-kekuatan besar dunia mulai terlibat secara langsung, konflik tersebut dapat berkembang menjadi perang global yang lebih luas.