Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memperkirakan kanal bancassurance tetap menjadi salah satu kontributor utama terhadap total pendapatan premi pada 2026.
Oleh karena itu, Direktur Eksekutif AAJI Emira E. Oepangat membeberkan empat cara yang bisa dilakukan perusahaan asuransi dalam meningkatkan kinerja premi dari kanal tersebut.
Cara pertama adalah perusahaan perlu mengembangkan produk yang lebih sederhana, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan nasabah bank.
“Khususnya produk proteksi jangka panjang dengan skema premi reguler agar menciptakan keberlanjutan premi,” ucapnya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).
Emira meneruskan, cara kedua adalah perusahaan asuransi dan bank perlu menentukan target market atau niche market yang selaras dengan DNA dan strategi bisnis bank tersebut. Cara ini bisa membuat penetrasi lebih efektif dan tidak bersifat generik.
Menurutnya, hal itu penting karena setiap bank memiliki karakteristik nasabah yang berbeda, sehingga desain produk, pendekatan pemasaran, dan skema manfaat perlu disesuaikan dengan profil nasabah inti bank.
“Ketiga, optimalisasi kanal bancassurance juga dilakukan melalui penguatan kompetensi tenaga pemasaran bank, sehingga proses penawaran produk semakin selaras dengan profil risiko, kebutuhan, dan kemampuan finansial nasabah,” lanjutnya.
Adapun, cara terakhir adalah perlu sinergi sistem digital antara bank dan perusahaan asuransi, serta pemanfaatan data analytics, dapat meningkatkan efisiensi underwriting, mempercepat layanan, dan memungkinkan pendekatan yang lebih personal kepada nasabah.
“AAJI melihat kontribusi bancassurance pada 2026 masih akan tetap signifikan dalam struktur distribusi industri asuransi jiwa. Meskipun komposisi produk dapat terus mengalami penyesuaian, kanal ini diperkirakan tetap menjadi salah satu kontributor utama terhadap total pendapatan premi,” tutur Emira.
AAJI, katanya, menilai pengembangan bancassurance ke depannya akan semakin fokus pada segmentasi yang lebih spesifik, sesuai dengan target market masing-masing bank. “Pendekatan berbasis segmentasi ini diharapkan membuat penetrasi produk menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Misalnya untuk segmen high-end, bancassurance berpotensi semakin berperan dalam ranah wealth management,” ungkapnya.
Sebab demikian, Emira mengatakan kolaborasi bank dan perusahaan asuransi penting untuk menghadirkan solusi financial planning yang lebih komprehensif, termasuk produk proteksi yang dikaitkan dengan investasi dengan pilihan underlying asset yang lebih bervariasi.
Bahkan, lanjutnya, dalam jangka panjang terdapat peluang untuk menyediakan akses pada instrumen yang lebih beragam, termasuk eksposur ke pasar internasional sebagaimana praktik di beberapa negara tetangga.
“Tentu, pengembangan ini memerlukan dukungan regulasi yang memadai agar tetap berada dalam koridor manajemen risiko dan perlindungan konsumen,” katanya.
Sebagai informasi, AAJI mencatat pada periode sembilan bulan pertama tahun 2025, pendapatan premi dari kanal distribusi bancassurance mencapai Rp55,28 triliun. Angka ini turun 4,2% (year-on-year/YoY) dari Rp57,70 triliun.
Apabila menilik periode 2023 ke 2024, pendapatan premi dari kanal bancassurance naik 2,9% YoY dari Rp56,08 triliun menjadi Rp57,70 triliun.