Ngramu Djamoe, didirikan oleh Imelda Cayaty Muljono pada 2019, memanfaatkan kekayaan rempah Indonesia untuk menembus pasar global dengan produk herbal organik. [567] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah meningkatnya minat global terhadap minuman herbal dan wellness lifestyle, Indonesia tengah berada di momentum yang strategis. Dengan kekayaan rempah dan warisan jamu berabad-abad, peluang untuk membawa racikan minuman lokal ini ke pasar internasional terbuka luas.
Imelda Cayaty Muljono menjadi salah satu orang yang melihat peluang tersebut. Melalui jenama Ngramu Djamoe yang dia dirikan pada 2019, Imelda berupaya mengenalkan minuman herbal Indonesia kepada pasar yang lebih luas, termasuk mancanegara.
Seperti banyak bisnis lain yang tumbuh saat masa Pandemi Covid-19, Ngramu Djamoe juga lahir dari ketidaksengajaan. Imelda awalnya adalah guru seni dan bahasa Mandarin. Namun, dia profesinya mesti berhenti karena keadaan.
Berangkat dari rasa jenuh di rumah, dia iseng meracik jamu sederhana dan membagikannya kepada teman-teman dekat. Tak disangka, respons yang diterimanya ternyata positif. Hal ini kemudian menjadi dorongan awal dirinya untuk mengembangkannya jadi bisnis dan jadilah Ngramu Djamu.
Memasuki periode 2020–2021, Imelda mulai mengembangkan usahanya secara lebih serius. Konsumen awal yang mulanya kebanyakan berasal dari lingkar pertemanan perlahan berkembang. Dia pun mulai memberanikan diri menjangkau pasar yang lebih luas, terutama ketika pembatasan pandemi mulai melonggar dan mengikuti sejumlah pameran.
Upayanya membuahkan hasil. Pada pameran pertamanya, Ngramu Djamoe berhasil mencatat omzet sekitar Rp30 juta hanya dalam kurun tiga hari. Hasil ini membuat Imelda semakin yakin untuk menekuni bisnis jamu modern.
"Selain karena keadaan, salah satu motivasiku adalah untuk melestarikan rempah-rempah Indonesia," ucapnya saat ditemui dalam acara Pertamina SMEXPO 2025 di BXC Mall 2 Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (25/11/2025).
Sejak awal membangun usaha, Imelda menempatkan kualitas sebagai prioritas. Seluruh produk Ngramu Djamoe diracik secara organik tanpa pengawet, serta menggunakan gula dalam takaran tak trlalu banyak. Untuk varian jamu kering, dia bahkan tidak lagi menambahkan gula sama sekali karena ingin menyasar konsumen yang mencari minuman sehat murni.
Dalam beberapa tahun terakhir, Imelda juga aktif mengikuti berbagai pameran di luar negeri. Dia mengamati bahwa konsumen mancanegara cenderung menyukai jamu dengan rasa alami dan sedikit gula. Hal ini kemudian menjadi arah pengembangan rasa bagi produk-produknya.
Menurut Imelda, permintaan dari luar negeri kini datang dari berbagai wilayah, termasuk Malaysia, Singapura, Eropa, dan Amerika Serikat. Ngramu Djamoe juga tengah menjajaki peluang untuk mengikuti pameran di Kuala Lumpur dan Paris. "Next ini kita akhir tahun mungkin Pakistan. Terus kita juga tadi sih baru dikabarin juga diterima untuk pameran halal itu di Afrika Selatan," imbuhnya.
Terkait varian favorit konsumen luar, Imelda menyebut preferensinya cukup beragam. Kunyit, beras kencur, dan aneka minuman berbasis jahe menjadi produk yang paling diminati. Namun, dia mencatat bahwa konsumen Jepang cenderung menghindari rasa yang terlalu kuat, sementara konsumen Barat justru menyukai jahe dengan sensasi pedas yang dominan.
Imelda menyebut saat ini penjualan Ngramu Djamoe masih didominasi kanal offline. Kanal daring baru mulai digarap dua bulan terakhir dan masih dalam tahap pengembangan. Imelda menilai bahwa kehadiran online penting sebagai pelengkap, mengingat pameran tidak dapat selalu menjadi tumpuan utama meskipun efektif dalam meningkatkan awareness merek.
Untuk penjualan offline, produknya bisa ditemukan di beberapa lokasi, seperti Alun-Alun Indonesia, JJ Royal, dan Tuku-Tuku Natural. Selain itu, Ngramu Djamu juga tersedia di Bumi Alit, Dapur Mula Bali, dan beberapa hotel.
Ke depan, Imelda berharap Ngramu Djamoe, yang termasuk merupakan salah satu mitra binaan Pertamina ini dapat semakin diterima generasi muda, khususnya kelompok usia 25–30 tahun. Dia memiliki keinginan untuk menghadirkan “pojok jamu” secara nasional dan internasional, sebagai cara mengenalkan kekayaan rempah Indonesia sekaligus mendorong anak-anak muda untuk turut melestarikannya. (Robby Fathan)