Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Permata Tbk. (BNLI) mencatatkan pertumbuhan aset yang cukup solid sejak melaksanakan merger dan meluncurkan logo pertama kali pada 2002 atau 23 tahun yang lalu.
Direktur Utama Bank Permata Meliza Musa Rusli mengatakan, sebagai bank hasil merger perseroan yang sebelumnya memiliki aset senilai Rp29,2 triliun kini meningkat 10 kali lipat menjadi sebesar Rp269 triliun.
“Total aset pada saat itu Rp29 triliun, sekarang Rp269 triliun,” kata Meliza dalam kunjungannya ke Bisnis Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (2/12/2025).
Pertumbuhan yang paling signifikan terlihat dari total ekuitas yang dimiliki perseroan. Meliza mengungkapkan, saat melaksanakan merger, Bank Permata mencatatkan total ekuitas sebesar Rp1,6 triliun. Adapun saat ini, total ekuitas Bank Permata telah mencapai Rp54,27 triliun hingga September 2025.
“Jadi ini adalah suatu pencapaian yang dapat support luar biasa dari pemegang saham untuk bisa jaga capital ratio kami di level 35%,” ujarnya.
Sebagai informasi, Bank Permata sebelumnya merupakan hasil merger 5 bank, yaitu PT Bank Bali Tbk, PT Bank Universal Tbk, PT Bank Artamedia, PT Bank Patriot dan PT Bank Prima Ekspress pada 2002.
Pada 2004, Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk mengambil alih Permata Bank dan memulai proses transformasi secara besar-besaran didalam organisasi. Selanjutnya, sebagai wujud komitmennya terhadap Permata Bank, kepemilikan gabungan pemegang saham utama ini meningkat menjadi 89,01% pada 2006.
Usai melalui proses yang panjang, saat ini BNLI dimiliki oleh Bangkok Bank dengan porsi sebesar 89,12% saham dan sisanya sebesar 10,88% dimiliki oleh publik. Bank asal Thailand tersebut melakukan akuisisi pada Mei 2020 sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia.
Kemudian pada Jumat, 27 September 2024 Bank Permata mengumumkan peluncuran logo terbaru usai diakuisisi Bangkok Bank, dari berlian menjadi lotus. Logo terbaru ini memiliki kemiripan dengan yang dimiliki oleh Bangkok Bank.
Kinerja Keuangan Permata Bank
Bank Permata membukukan kinerja yang solid hingga akhir September 2025. Pada periode tersebut, perseroan membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,88 triliun pada kuartal III/2025, meningkat 3,49% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp2,78 triliun pada kuartal III/2024.
Dalam laporan triwulanan yang dipublikasikan, Bank Permata mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp7,57 triliun.
Pendapatan bunga bersih pada kuartal III/2025 ditopang oleh pendapatan bunga sebesar Rp12,84 triliun, tumbuh 0,74% YoY dari kuartal III/2024 Rp12,75 triliun. Beban bunga perseroan tercatat tumbuh 2,50% YoY menjadi Rp5,27 triliun, dari sebelumnya Rp5,14 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank dengan kode emiten BNLI itu membukukan pertumbuhan kredit 7,17% YoY menjadi Rp134,71 triliun. Pada kuartal III/2024, penyaluran kredit Bank Permata mencapai Rp125,69 triliun.
Pada saat yang sama, Bank Permata tercatat telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp195,87 triliun, tumbuh 6,87% YoY dari kuartal III/2024 Rp183,28 triliun. Perinciannya, simpanan deposito mencapai Rp77,37 triliun, giro Rp71,08 triliun, dan tabungan Rp47,41 triliun.