Bisnis.com, JAKARTA — Harga Bitcoin (BTC) masih berada pada jalur penurunan bulanan terdalam sejak rekor kejatuhan kripto pada 2022. Aksi jual dilaporkan masih melanda pasar dan tekanan likuidasi di pasarleveragekembali meningkat.
DilansirBloomberg, Jumat (21/11/2025), harga Bitcoin sempat merosot hingga 6,4% ke level US$81.629 pada Jumat (21/11/2025), kendati kemudian sempat kembali ke level US$84.166.
Berdasarkan data terminalBloomberg, pukul 17.20 WIB, harga mata uang kripto terbesar itu masih kembali melemah ke level US$81.959 atau melemah 6,02% dalam 24 jam terakhir.
Ethereum juga melemah, turun sampai 7,6% ke bawah US$2.700. Pada pukul 17.20 WIB, harganya melemah 6,43% menjadi US$2.691,32.
DataBloombergmenunjukkan hingga sore ini harga BTC telah menyusut sekitar 25% sepanjang November 2025.
“Dengan begitu, menjadi penurunan bulanan terdalam sejak Juni 2022,” demikian laporanBloomberg, Jumat (21/11/2025).
Pada Mei 2022, runtuhnya proyek stablecoin TerraUSD yang dipimpin Do Kwon memicu efek domino kegagalan perusahaan kripto, termasuk kejatuhan bursa FTX milik Sam Bankman-Fried. Data Bloomberg menunjukkan saat itu penurunan bulanan harga BTC berada pada kisaran 40%.
Padahal, sentimen regulasi di Amerika Serikat saat ini cenderung positif bagi aset digital di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Namun, Bitcoin tetap anjlok lebih dari 30% dari rekor tertingginya pada awal Oktober.
Bloomberg mencatat bahwa guncangan besar dipicu oleh aksi likuidasi pada 10 Oktober 2025 yang menghapus posisileveragedtoken senilai US$19 miliar. Peristiwa itu turut menggerus sekitar US$1,5 triliun dari kapitalisasi pasar gabungan seluruh aset kripto.
“Tekanan jual kembali meningkat dalam 24 jam terakhir, dengan tambahan likuidasi sekitar US$2 miliar,” demikian laporanBloombergyang mengutip data CoinGlass.
Di sisi lain, investor institusi tampak enggan ‘membeli saat harga turun’. Sebanyak 12 Bitcoin berbasisexchange-traded funds(ETF) yang terdaftar di AS mencatatkan arus keluar bersih (net outflow) US$903 juta pada Kamis (20/11/2025).
“Hal itu menjadiredemptionharian terbesar kedua sejak ETF tersebut diluncurkan pada Januari 2024.”
Sementara itu,open interestpada kontrak perpetual futures anjlok 35% dari puncak Oktober sebesar US$94 miliar.
Situasi makro turut membebani pasar. Setelah reli singkat berkat laporan keuangan Nvidia yang kuat, pasar saham AS kembali melemah karena kekhawatiran valuasi sektor kecerdasan buatan yang terlalu tinggi dan menurunnya keyakinan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada Desember.
“Sentimen di seluruh bidang sangat buruk. Tampaknya ada pihak penjual terpaksa dan belum jelas seberapa dalam tekanan ini,” kata Pratik Kala, Portfolio Manager Apollo Crypto kepadaBloomberg.
Tony Sycamore, analis IG Australia menyebut pasar kemungkinan tengah ‘menguji ambang rasa sakit’ MicroStrategy, perusahaan yang dikenal sebagai penimbun Bitcoin besar.