JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi Z atau Gen Z semakin menegaskan pergeseran besar dalam cara memandang kesuksesan, karier, dan tujuan hidup.
Sebuah survei global terbaru dari EY menunjukkan kelompok usia muda ini memiliki pendekatan yang lebih realistis dan pragmatis terhadap berbagai tonggak kehidupan tradisional, termasuk pekerjaan tetap, kepemilikan rumah, dan pencapaian kekayaan.
Dalam laporan yang dikutip oleh Fortune, Rabu (25/3/2026), survei tersebut melibatkan lebih dari 10.000 responden muda di 10 negara dan lima benua.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen ZHasilnya menunjukkan, Gen Z sering disalahpahami oleh generasi sebelumnya, padahal mereka memiliki strategi hidup yang lebih terukur dalam menghadapi kondisi ekonomi modern yang penuh ketidakpastian.
Penulis laporan EY, Marcie Merriman dan Zak Dychtwald, menyebut generasi ini sebagai “the pragmatic generation” alias generasi yang pragmatis, karena cara mereka memandang masa depan dengan skeptisisme yang rasional.
Mereka menilai Gen Z menghadapi tonggak kehidupan tradisional dengan apa yang disebut sebagai “reasoned skepticism”, yakni mempertimbangkan secara realistis apakah target-target tersebut masih relevan atau bahkan dapat dicapai di era sekarang.
Tantangan ekonomi membentuk cara pandang
Gen Z lahir setelah tahun 1997 dan tumbuh di tengah berbagai krisis ekonomi global, termasuk dampak krisis keuangan, pandemi Covid-19, serta lonjakan biaya hidup.
Situasi ini membuat banyak dari mereka menilai jalur kesuksesan konvensional, seperti mendapatkan pekerjaan seumur hidup atau membeli rumah di usia muda, semakin sulit diwujudkan.
Menurut laporan EY, perubahan kondisi ekonomi membuat sebagian Gen Z merespons secara pragmatis dengan menyesuaikan ekspektasi hidup.
iStock Ilustrasi Gen ZMereka tidak lagi memandang kekayaan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai sarana untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Survei tersebut menunjukkan bahwa generasi ini lebih menekankan stabilitas, fleksibilitas, dan makna dalam pekerjaan dibanding sekadar status atau penghasilan tinggi.
Pendekatan tersebut menandai perubahan signifikan dalam dinamika pasar tenaga kerja global, karena perusahaan harus menyesuaikan kebijakan dan budaya kerja agar tetap relevan bagi tenaga kerja muda.
Mengubah definisi kesuksesan
Dalam temuan EY, Gen Z cenderung memaknai kesuksesan secara lebih luas. Mereka tidak hanya menilai keberhasilan dari pencapaian finansial, tetapi juga dari kesehatan mental, hubungan sosial, dan keseimbangan hidup.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa generasi ini memprioritaskan hubungan, kesehatan, dan stabilitas keuangan sebagai aspek penting dalam hidup.
Dengan kata lain, indikator kesuksesan menjadi lebih personal dan kontekstual dibanding standar generasi sebelumnya.
Pendekatan tersebut muncul seiring meningkatnya kesadaran tentang burnout dan tekanan kerja yang dialami generasi milenial.
Banyak Gen Z belajar dari pengalaman tersebut dan berusaha menghindari pola kerja berlebihan yang berisiko mengorbankan kesehatan mental maupun kehidupan pribadi.
Selain itu, Gen Z juga lebih terbuka terhadap jalur karier non-linear, seperti pekerjaan freelance, kewirausahaan digital, dan pengembangan keterampilan di luar pendidikan formal.
Hal ini menunjukkan perubahan struktural dalam cara generasi muda membangun karier di era ekonomi digital.
freepik Gen Z awasi janji keberlanjutan perusahaanGenerasi global pertama
EY juga menggambarkan Gen Z sebagai “the first truly global generation” atau generasi global pertama.
Mereka tumbuh dengan akses teknologi digital dan paparan budaya global secara real-time, sehingga memiliki perspektif yang lebih luas dalam mengambil keputusan hidup.
Keterhubungan ini membuat Gen Z lebih cepat menyerap tren global, termasuk perubahan dalam dunia kerja, pendidikan, dan gaya hidup.
Namun, laporan tersebut juga mencatat bahwa meskipun memiliki kesamaan karakteristik global, pengalaman ekonomi dan sosial mereka tetap dipengaruhi konteks lokal masing-masing negara.
Misalnya, ketidakpastian ekonomi dan akses terhadap peluang kerja dapat berbeda secara signifikan antar wilayah, sehingga strategi pragmatis Gen Z juga memiliki variasi regional.
Implikasi bagi dunia kerja
Perubahan cara pandang Gen Z terhadap kesuksesan berpotensi memengaruhi struktur organisasi dan strategi perusahaan dalam jangka panjang.
Survei EY tersebut menunjukkan bahwa generasi ini cenderung menolak model kerja lama yang tidak sesuai dengan kebutuhan zaman modern.
Dengan meningkatnya permintaan terhadap fleksibilitas, makna kerja, dan keseimbangan hidup, perusahaan di berbagai sektor didorong untuk menyesuaikan kebijakan sumber daya manusia.
Hal ini termasuk pengembangan sistem kerja hybrid, peningkatan dukungan kesehatan mental, serta peluang pengembangan karier yang lebih adaptif.
Menurut laporan tersebut, jika perusahaan gagal memahami perubahan nilai ini, mereka berisiko kehilangan daya tarik di mata talenta muda.
Sebaliknya, organisasi atau perusahaan yang mampu merespons perubahan generasional berpotensi mendapatkan keunggulan kompetitif dalam perekrutan dan retensi karyawan.
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi Gen Z kesepian di tempat kerja.Realisme dalam menghadapi masa depan
Meskipun sering dianggap kurang ambisius, survei EY menekankan, pendekatan pragmatis Gen Z justru mencerminkan realisme terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Mereka menyadari bahwa jalur kesuksesan tradisional semakin kompleks, sehingga memilih strategi hidup yang lebih fleksibel dan berkelanjutan.
Dalam laporan tersebut, Merriman dan Dychtwald menyoroti bahwa skeptisisme Gen Z bukan berarti pesimisme, melainkan bentuk adaptasi terhadap realitas ekonomi global.
Generasi ini tetap memiliki aspirasi besar, tetapi berusaha mencapainya melalui cara yang lebih realistis.
Perubahan ini juga tercermin dalam sikap mereka terhadap pendidikan dan pekerjaan. Banyak Gen Z lebih fokus pada pengembangan keterampilan praktis dan pengalaman kerja daripada sekadar mengejar gelar akademik.
Mereka juga cenderung menilai pekerjaan dari dampak dan relevansinya terhadap tujuan hidup pribadi.
Dampak terhadap struktur sosial ekonomi
Pergeseran nilai Gen Z tidak hanya berdampak pada dunia kerja, tetapi juga pada dinamika sosial ekonomi secara luas.
Misalnya, perubahan prioritas terhadap kepemilikan aset seperti rumah dapat memengaruhi pasar properti, sementara meningkatnya minat terhadap pekerjaan fleksibel dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi gig.
Selain itu, pendekatan pragmatis terhadap keuangan dan karier berpotensi membentuk pola konsumsi serta investasi generasi ini di masa depan.
Dengan mempertimbangkan stabilitas dan keseimbangan hidup sebagai prioritas utama, Gen Z dapat mendorong munculnya model bisnis baru yang lebih berorientasi pada kualitas hidup.
Survei EY menunjukkan, generasi ini berada di garis depan perubahan tersebut, karena mereka memasuki usia produktif di tengah transformasi ekonomi digital dan perubahan struktural pasar tenaga kerja.
Dengan karakteristik sebagai generasi global yang pragmatis, Gen Z diperkirakan akan terus memainkan peran penting dalam membentuk arah ekonomi dan dunia kerja di masa mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang