Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan pihaknya tidak akan berkompromi soal tuntutan wilayah dari Ukraina, meskipun Presiden AS Donald Trump terus mendorong percepatan kesepakatan damai.
Melansir CNN International pada Jumat (19/12/2025), Putin melontarkan kritik tajam terhadap sekutu Eropa Ukraina. Dia menegaskan Rusia siap merebut wilayah dengan kekuatan militer jika diperlukan.
Pada pertemuan tahunan Kementerian Pertahanan Rusia, Putin menyebut pihaknya lebih memilih menyelesaikan perseteruan ini melalui diplomasi dan menghilangkan akar penyebab konflik.
“Namun, jika negara lawan dan para pendukung asingnya menolak terlibat dalam pembahasan yang substantif, Rusia akan mencapai pembebasan tanah-tanah historisnya melalui cara militer,” ujarnya, merujuk pada wilayah yang dituntut Moskow untuk diserahkan oleh Ukraina, salah satu titik krusial dalam perundingan damai.
Isu wilayah, bersama dengan jaminan keamanan bagi Ukraina, sejauh ini menjadi hambatan utama dalam pembicaraan damai. Perbedaan kepentingan antara Ukraina, Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia semakin menonjol dalam proses negosiasi tersebut.
Rusia diketahui telah menganeksasi secara ilegal wilayah Donbas di Ukraina timur, meski belum sepenuhnya menguasainya. Berdasarkan analisis Institute for the Study of War, lembaga pemantau konflik berbasis di AS, dengan laju kemajuan saat ini Rusia baru akan menguasai seluruh wilayah tersebut pada Agustus 2027.
Pada Senin lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan Kyiv tidak akan mengakui bagian wilayah Donbas timur yang diduduki sementara sebagai bagian dari Rusia, baik secara hukum maupun de facto.
Zelensky juga menyinggung pernyataan Putin mengenai tanah-tanah historis. Dia memperingatkan bahwa klaim serupa suatu hari dapat diarahkan Rusia terhadap negara-negara lain di Eropa.
“Kita membutuhkan perlindungan nyata dari kegilaan sejarah Rusia ini,” ujar Zelensky.
Trump sendiri terus menyuarakan optimisme terkait peluang tercapainya kesepakatan damai, dengan menyebut pekan ini bahwa “kita kini lebih dekat dibanding sebelumnya.”
Sebaliknya, sekutu Eropa Ukraina bersikap lebih berhati-hati dan menekankan pentingnya jaminan keamanan yang kuat bagi Kyiv.
Perbedaan sikap tersebut turut ditekankan Putin dalam pidatonya. Dia menyatakan Rusia saat ini tengah terlibat dalam dialog dengan Amerika Serikat. Namun, dia mengatakan peluang dialog substantif dengan Eropa dinilai kecil di bawah kepemimpinan politik saat ini.
“Saya berharap dialog yang sama juga dapat terjadi dengan Eropa. Namun, hal itu kecil kemungkinannya dengan elite politik yang ada sekarang. Meski demikian, dialog tersebut pada akhirnya akan menjadi keniscayaan seiring kami terus memperkuat diri—jika bukan dengan politisi saat ini, maka dengan elite Eropa yang baru,” tambahnya.
Pernyataan keras Putin disampaikan menjelang KTT penting di Brussel pekan ini, di mana para pemimpin Eropa akan membahas opsi penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk mendanai Ukraina.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menekankan pentingnya mencapai kesepakatan dalam pidatonya di hadapan Parlemen Eropa. Dia menyerukan agar Eropa mengambil tanggung jawab atas keamanannya sendiri dan melanjutkan pendanaan pertahanan Ukraina.
“Tidak ada tindakan pertahanan Eropa yang lebih penting selain mendukung pertahanan Ukraina. Hari-hari ke depan akan menjadi langkah krusial untuk mengamankan hal ini. Terserah kita untuk memilih bagaimana membiayai perjuangan Ukraina,” ujar von der Leyen.
Saat ini, terdapat dua proposal utama yang dibahas untuk mendanai Ukraina, yakni penggunaan aset Rusia yang dibekukan atau pendanaan melalui mekanisme pinjaman.