Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis indeks harga saham gabungan (IHSG) dapat menembus level 9.000 hingga akhir kuartal IV/2025.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 2,57% ke level 7.915,66. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 7.854,31 hingga 8.140,60.
Sepekan terakhir, IHSG anjlok 4,14%. Meski demikian, indeks komposit masih mengalami penguatan 11,8% sepanjang tahun berjalan 2025.
Ditemui di Kantor Kementerian PU, Purbaya mengatakan fundamental IHSG masih kuat untuk saat ini. Indeks komposit juga masih bertengger di rata-rata harga psikologis 8.000.
"Sekarang berarti 8.000, yang jelas gini, akhir tahun bisa 9.000. Enggak terlalu sulit itu," jelasnya, Jumat (17/10/2025).
Purbaya mengatakan fondasi ekonomi akan bergerak ke arah yang lebih baik sejalan dengan program-program ekonomi yang dijalankan dengan benar.
Lewat kebijakan yang digulirkan, lanjut Purbaya, laju bisnis dan ekonomi RI akan terus ekspansi hingga 8 tahun ke depan.
"Kalau investor tahu, enggak usah takut. Good time to buy, buy at the dip," kata Purbaya.
Dalam jangka panjang, Purbaya juga optimistis IHSG akan terus mendaki. IHSG diproyeksi dapat naik 4 kali higga 5 kali lipat dari posisi sekarang ke atas 30.000 hingga 35.000 pad 2030.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menilai pada akhir tahun ini, meski volatilitas pasar berpotensi meningkat, prospek pasar saham Indonesia masih positif. Kondisi tersebut didorong oleh arah kebijakan fiskal yang lebih pro-pertumbuhan dan fundamental makroekonomi yang solid.
Dia menilai penunjukan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan RI baru mengubah fokus kebijakan ke arah pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif, tetapi tetap perlu menjaga disiplin fiskal.
“Investor perlu tetap adaptif terhadap dinamika global dan domestik. Secara umum, prospek pasar masih menarik,” ujar Rully dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas Indonesia pada Kamis (16/10/2025).
Salah satu kebijakan Purbaya yang dinilai mendongkrak pertumbuhan ekonomi adalah kucuran likuiditas terhadap bank BUMN sebesar Rp200 triliun. Selain itu, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan paket stimulus ekonomi.
Selain didorong kebijakan fiskal, terdapat potensi pemulihan sentimen pada kuartal IV/2025 seiring penurunan suku bunga dan stabilitas nilai tukar.
Rully juga menilai IHSG masih mempunyai peluang penguatan lanjutan bahkan hingga menembus level 9.000. Peluang tersebut didorong oleh kinerja saham-saham multibagger konglomerat. Ditambah, terdapat rebalancing indeks saham global seperti Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
"Kalau saham-saham grup konglomerat terus naik, ditambah juga dengan MSCI, IHSG bisa naik lebih tinggi ke 8.800, bahkan 9.000, tetapi tetap dengan dasar fundamental,” kata Rully.