Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Game Indonesia (AGI) menilai implementasi PP Tunas tidak akan memberikan dampak signifikan bagi pasar industri gim yang menyasar pengguna berusia di atas 16 tahun. Dampak PP Tunas hanya terjadi pada gim yang menyasar segmen anak.
Asosiasi Game Indonesia (AGI) mengkhawatrikan penerapan PP Tunas berdampak pada penurunan target pasar pada industri game di Indonesia. Pelaku usaha juga mengingatkan bahwa efektivitas jalannya regulasi ini berada di tangan orang tua.
Presiden Asosiasi Game Indonesia Shafiq Husein, mengatakan PP Tunas akan berpengaruh besar terhadap target pasar industri game. Menurutnya, PP Tunas mengatur batasan usia anak 13 tahun hingga 16 tahun dalam bermain game, padahal pada rentang usia tersebut anak-anak sudah aktif bermain game dan melakukan aktivitas digital lainnya.
“Apakah akan jadi kehilangan target market yang cukup signifikan? Tentu,” ujar Shafiq dalam acara Bisnis Indonesia Forum di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Namun, jika target pasarnya berada pada kelompok usia di atas 16 tahun, penerapan PP Tunas dinilai tidak akan terlalu berdampak. Shafiq menjelaskan target utama pangsa pasar industri game saat ini adalah kalangan first jobber atau kelompok yang baru mulai bekerja.
Menurutnya, kontrol terbesar sebenarnya berada di tangan orang tua karena akses anak terhadap gadget bergantung pada keputusan masing-masing orang tua. Selain itu, dalam melakukan pembayaran di dalam game, anak juga tetap memerlukan uang yang diberikan oleh orang tua mereka.
Shafiq menilai, meskipun pemerintah telah membuat regulasi yang ketat, aturan tersebut akan sulit berjalan efektif apabila orang tua tetap memberikan akses tanpa pengawasan kepada anak-anak.
“Orang tua juga harus ingat saat dia memberikan device ke anak, mereka sudah memberikan pintu ke mana saja untuk anak bisa mengakses segala informasi,” jelas Shafiq.
Selain itu, Shafiq juga mengatakan para pelaku industri game turut peduli terhadap generasi penerus bangsa. Menurutnya, di masa depan industri game juga akan berada di tangan anak-anak saat ini.
Karena itu, para pelaku industri membangun ekosistem game bukan hanya untuk bisnis, tetapi juga untuk generasi berikutnya yang akan melanjutkan industri game ke level selanjutnya.
Sejalan dengan pernyataan Shafiq, Direktur Gim Kemenekraf Luat Sihombing, juga mengatakan PP tunas tersebut dapat berdampak pada industri ekonomi kreatif. Namun, besarnya dampak bergantung pada sudut pandang dan jenis industri game yang dibahas.
Dalam industri game sendiri, dampak regulasi dinilai masih bersifat tidak langsung. Hal ini karena sebagian besar game yang dikembangkan saat ini masih berupa game single player atau co-op, dan belum banyak yang berbasis social gaming dengan interaksi sosial tinggi antar pemain.
Menurut Luat, dampak yang lebih besar justru kemungkinan akan dirasakan oleh platform distribusi atau platform imersif. Platform seperti ini memungkinkan pengguna membuat dan membagikan konten yang kemudian dimainkan oleh banyak orang.
Sementara itu, bagi para developer game lokal, dampak regulasi saat ini dinilai masih belum terlalu signifikan. Namun, masih terdapat sejumlah pertanyaan dari pelaku industri, terutama terkait kerja sama pengembangan game dengan developer asing.
“Yang masih jadi pertanyaan bagi developer adalah apakah kerja sama dengan developer luar negeri tetap harus comply terhadap aturan tersebut,” kata Luat. (Nur Amalina)