Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) atau BNI kembali memangkas target margin bunga bersih alias (net interest margin/NIM) untuk tahun buku 2025.
Berdasarkan data persentase kuartal III/2025, NIM BNI kini diproyeksikan berada di kisaran 3,7%, turun dari target sebelumnya minimal 3,8%.
Dalam paparan tersebut, BNI mencatat realisasi NIM hingga September 2025 sebesar 3,8%, sesuai dengan target sebelumnya. Namun, perseroan menyesuaikan pandangannya dengan memberikan panduan baru di level sekitar 3,7%.
Selain NIM, BNI tetap mempertahankan panduan lain tanpa perubahan. Pertumbuhan kredit masih ditargetkan sebesar 8% sampai dengan 10% secara tahunan (year-on-year/YoY), dengan credit cost stabil di kisaran 1%.
Adapun sebelumnya, melansir paparan kinerja BNI semester I/2025 pada Senin (28/7), bank berkode saham BBNI ini sudah memangkas target NIM tahun 2025 menjadi paling tinggi 3,8%, dari proyeksi awal di level 4% sampai dengan 4,2%.
Sebagai informasi, BBNI secara konsolidasi membukukan laba bersih kuartal III/2025 mencapai Rp15,12 triliun. Sementara, pada kuartal III/2024 bank dengan logo 46 itu membukukan laba senilai Rp16,42 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, BBNI mencatatkan pendapatan bunga sebesar Rp51,16 triliun hingga September 2025, tumbuh 4,77% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp48,83 triliun dengan beban bunga tercatat Rp21,91 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih BBNI tercatat sebesar Rp29,25 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyampaikan strategi penguatan kualitas portofolio dan efisiensi pendanaan yang disiplin membuat BNI tetap tangguh menghadapi volatilitas, sekaligus menjaga keseimbangan pertumbuhan di seluruh segmen bisnis.
“Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan BNI untuk tetap adaptif dalam menghadapi tantangan, sambil terus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangannya, Jumat (24/10/2025)
BNI mencatat rasio permodalan cukup solid, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,1%, termasuk Tier-1 Capital yang tetap kuat.
Likuiditas juga berada pada level aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1%. Kualitas aset pun tetap terjaga. BNI melaporkan, Rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada di kisaran 2,0%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4%.
Adapun hingga akhir September 2025, total penyaluran kredit BNI tumbuh 10,5% YoY menjadi Rp812,2 triliun. Pertumbuhan tersebut tercatat merata di seluruh segmen bisnis, mencerminkan portofolio kredit yang semakin sehat dan berimbang.