Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat virus Nipah tidak menyebar luas secara global, tetapi kerap memicu wabah lokal di Asia Selatan, terutama di Bangladesh dan India.
Sejak awal hingga pertengahan 2025, Bangladesh melaporkan empat kasus fatal Nipah di beberapa distrik yang tidak saling berkaitan. Secara kumulatif, sejak 2001 hingga 2025 tercatat lebih dari 347 kasus dengan tingkat kematian mencapai sekitar 71,7 persen.
Di India, khususnya wilayah Kerala, virus Nipah juga muncul berulang dalam beberapa tahun terakhir. Laporan kasus sporadis sepanjang 2018–2025 menunjukkan virus ini masih menjadi ancaman kesehatan lokal.
Otoritas kesehatan India juga melaporkan temuan kasus baru di Bengal Barat pada awal 2026. Meski jumlah kasus terbatas dalam klaster kecil, respons cepat langsung dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Menanggapi virus Nipah di negara tetangga, BRIN menekankan pentingnya pemahaman ilmiah agar potensi resikonya dapat diwaspadai sejak dini.
Peneliti Ahli Utama Virologi sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Invoasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti menyebut Nipah virus merupakan penyakit zoonotik dengan dampak serius.
“Virus ini memiliki tingkat kematian tinggi dan berpotensi menimbulkan wabah jika tidak diantisipasi,” ujar Niluh Putu Indi Dharmayanti, Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN, dikutip dalam pernyataan resmi, Jumat (30/1/2026).
Meski hingga kini belum ditemukan kasus Nipah pada manusia di Indonesia, Indi menegaskan virus ini telah bersirkulasi di alam. Hal tersebut dibuktikan melalui sejumlah riset pada satwa liar.
Dia menjelaskan Nipah pertama kali teridentifikasi pada wabah di Malaysia pada 1998 dan terus muncul di berbagai negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
“Dampaknya tidak hanya pada kesehatan manusia, tetapi juga kesehatan hewan serta aspek sosial dan ekonomi,” katanya.
Nipah termasuk dalam genus Henipavirus dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa gejala, namun berisiko menularkannya ke hewan lain dan manusia.
Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan tercemar, atau penularan antar manusia. Di beberapa negara, wabah juga dikaitkan dengan makanan yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar.
Di Indonesia, studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus. Namun, penelitian tersebut tidak menemukan virus pada babi.
“Deteksi molekuler menggunakan PCR pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatra Utara juga mengonfirmasi keberadaan genom Nipah virus,” jelas Indi.
Penelitian lanjutan bahkan menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di Jawa. Menurut Indi, kondisi ekologis Indonesia membuat risiko penularan Nipah tidak bisa diabaikan.
Keanekaragaman kelelawar, kedekatan habitat satwa dengan manusia, serta perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor pemicu spillover.
Selain itu, pasar hewan dengan sanitasi kurang memadai dan populasi babi di sejumlah wilayah turut meningkatkan risiko penularan lintas spesies.
“Interaksi intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” ujarnya.
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk Nipah virus. Penanganan pasien masih bergantung pada perawatan suportif, sehingga pencegahan menjadi langkah utama.
BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia. Peningkatan kapasitas diagnostik dinilai penting untuk mendukung deteksi dini.
Pendekatan One Health menjadi strategi utama dalam menghadapi risiko Nipah. Pendekatan ini menekankan kolaborasi lintas sektor antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
“Tantangan terbesar masih keterbatasan data dan rendahnya kesadaran masyarakat tentang zoonosis,” kata Indi.
Edukasi publik dinilai krusial agar masyarakat memahami risiko kontak dengan satwa liar dan pangan terkontaminasi.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan itu berharap hasil riset BRIN dapat menjadi dasar kebijakan nasional dalam menghadapi penyakit emerging dan re-emerging.
“Penguatan riset, surveilans, dan kesiapsiagaan adalah kunci agar Indonesia lebih siap menghadapi potensi ancaman Nipah,” pungkasnya.