Bisnis.com, JAKARTA - PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) tengah menghadapi masa transisi. Di tengah penurunan kinerja keuangan dan berkurangnya jumlah tenaga kerja, emiten konsumer ini menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan dividen penuh kepada pemegang saham serta melakukan penyegaran di jajaran direksi.
Direktur Unilever Indonesia Neeraj Lal menerangkan Unilever masih memiliki komitmen untuk membagikan dividen dengan payout ratio sebesar 100%. Pembagian dividen itu akan dilakukan melalui dua tahap, yaitu pada akhir tahun dan pertengahan 2026.
“Kami berkomitmen untuk memberikan pembayaran dividen 100% kepada para pemegang saham kami. Kami melakukannya sebagai dividen interim dan kemudian dividen final pada pertengahan tahun depan,” katanya kepada awak media, Rabu (15/10/2025).
Terhadap rencana pembagian dividen interim di akhir 2025, Neeraj menyebut bahwa perseroan akan menjalankan aksi tersebut di akhir tahun. Namun, belum terang berapa besaran dividen interim yang bakal dibagikan perseroan di akhir 2025.
“Dan Anda seharusnya mengharapkan hal yang sama dari kami, yaitu dividen interim pada paruh akhir tahun ini, dan kemudian dividen final pada pertengahan tahun depan,” ujar Neeraj.
Secara historis, Unilever memang rutin membagikan dividen interim pada Desember dan dividen final pada pertengahan tahun berikutnya. Untuk tahun buku 2024, misalnya, UNVR membagikan dividen interim senilai Rp1,56 triliun pada 19 Desember 2024 dan dividen final senilai Rp1,79 triliun pada pertengahan 2025.
Namun, komitmen pembagian dividen penuh itu muncul di tengah tekanan pada kinerja keuangan perusahaan. Hingga semester I/2025, Unilever membukukan penjualan bersih senilai Rp18,20 triliun, turun dari Rp19,04 triliun pada periode yang sama 2024. Laba bersih pun menyusut menjadi Rp2,15 triliun dari Rp2,46 triliun.
Jumlah Karyawan Menurun
Tekanan bisnis juga tercermin pada struktur ketenagakerjaan perseroan. Unilever mencatatkan tren penurunan jumlah karyawan secara konsisten dalam 5 tahun terakhir. Hingga paruh pertama 2025, jumlah tenaga kerja perusahaan susut 22,09% dibandingkan posisi 2020.
Melansir laporan keuangan tahunan perseroan, berkurangnya karyawan Unilever telah terjadi sejak 2020. Saat itu, Unilever mencatatkan jumlah karyawan sebanyak 5.222 orang, dan segera menyusut 5,22% menjadi 4.949 orang pada 2021.
Pada 2024, Unilever Indonesia melakukan pengurangan karyawan yang lebih besar dari biasanya. Saat itu, penjualan Unilever tertekan 9,01% year on year (YoY) menjadi Rp35,13 triliun pada 2024. Bahkan, laba bersih perseroan susut hingga 30% YoY menjadi Rp3,36 triliun dari Rp4,80 triliun pada 2023.
Sepanjang paruh pertama 2025, pengurangan jumlah karyawan juga kembali terjadi di Unilever. Dari posisi 4.266 karyawan di akhir 2024, Unilever kini mencatatkan jumlah karyawan sebanyak 4.068 orang per semester I/2025. Dengan kata lain, terdapat 198 orang yang tidak lagi menjadi karyawan Unilever sepanjang periode Januari–Juni 2025.
Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap angkat suara ihwal hal tersebut. Menurutnya, Unilever kini tengah berfokus pada penguatan kapabilitas SDM sambil melakukan transformasi bisnis.
“Akan selalu ada pro dan kontra di berbagai fungsi seiring kami mendorong budaya kerja yang tinggi dan meraih kesuksesan untuk bisnis. Dan itu akan tetap menjadi fokus kami untuk mendorong produktivitas, kapabilitas dalam lingkungan teknologi tinggi ke depan,” katanya.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) kemarin, para pemegang saham UNVR juga menyepakati pengangkatan Hendri Widiarta sebagai direktur perseroan.
Sekretaris Perusahaan Unilever Padwestiana Kristanti menerangkan bahwa Hendri diangkat sebagai direktur guna menggantikan Willy Saelan yang mengundurkan diri dari kursi direktur. “Mengangkat Hendri Widiarta sebagai direktur perseroan, efektif sejak 15 Oktober 2025 sampai dengan ditutupnya Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan perseroan 2026,” kata Padwestiana saat ditemui di Tangerang.
Selepas persetujuan RUPSLB, Hendri bakal menjabat sebagai Direktur Human Resources, yang selama ini dijabat oleh Willy Saelan. Manajemen menerangkan Willy telah bergabung dengan Unilever sejak 30 tahun yang lalu.
Rekomendasi Saham UNVR
Di tengah berbagai ketidakpastian yang masih menyelimuti kinerja PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) hingga akhir 2025, sejumlah analis memberikan pandangan yang beragam terhadap prospek saham emiten konsumer ini.
Dari konsensus pasar, sebanyak 10 analis memberikan rekomendasi buy, 13 hold, dan 6 lainnya merekomendasikan sell. Variasi pandangan ini mencerminkan posisi Unilever yang berada di tengah tekanan kinerja sekaligus peluang pemulihan menjelang akhir tahun.
Rekomendasi Saham UNVR 2025
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menilai bahwa pihaknya cukup optimistis terhadap perbaikan kinerja Unilever pada kuartal IV/2025. Hal itu seiring dengan periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta sejumlah stimulus pemerintah yang telah digelontorkan belakangan.
“Secara kinerja kami melihat potensi perbaikan pada kuartal IV mengingat adanya momen Nataru, di sisi lain pemerintah juga memberikan stimulus untuk menggairahkan daya beli saat momen Nataru dan diharapkan dapat menyengat juga pada sektor konsumer,” katanya kepada Bisnis.
Selain itu, aksi buyback saham yang belakangan dilakukan Unilever juga dinilai membuktikan keyakinan manajemen terhadap prospek kinerja emiten ke depannya. Namun, Abdul Azis menilai, investor mesti melihat prospek jangka panjang emiten ini melalui laporan keuangan kuartal III/2025.
“Jika ada perbaikan, ini akan mempengaruhi perspektif pelaku pasar ke arah positif,” tegas dia.
Sejalan dengan itu, Abdul Azis memberikan rekomendasi trading buy terhadap saham UNVR dengan target harga Rp2.400 per lembar, yang mencerminkan potensi kenaikan 30,79% dari harga saat ini Rp1.835 per lembar.
Senada, Analis Sinar Mas Sekuritas Vita Lestari memberikan rekomendasi add terhadap saham Unilever dengan target harga Rp1.900 per lembar. Menurutnya, harga saham Unilever telah mengungguli saham-saham sektor konsumer lainnya selama enam bulan terakhir.
Hal itu terutama didorong oleh pemulihan penjualan dan volume dari hasil kinerja tahun lalu