Bisnis.com, JAKARTA – Setelah membukukan kinerja yang lesu sepanjang kuartal III/2025, analis masih memberikan rekomendasi yang positif terhadap PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP).
Melansir laporan keuangan, INDF membukukan penjualan senilai Rp90,98 triliun per periode yang berakhir September 2025. Torehan penjualan INDF masih tumbuh 4,64% YoY dibandingkan periode yang sama 2024 senilai Rp86,94 triliun.
Naiknya pendapatan INDF sejalan dengan bertumbuhnya sejumlah segmen penjualan perseroan pada periode Januari–September 2025. Pada segmen produk konsumen bermerek, misalnya, INDF membukukan penjualan senilai Rp56,14 triliun hingga kuartal III/2025, naik 1,54% YoY dibandingkan Rp55,29 triliun pada periode yang sama 2024.
Sementara itu, pada segmen bogasari, INDF membukukan kenaikan 0,47% YoY ke Rp17,96 triliun per akhir September 2025. Pada segmen agribisnis, kenaikan penjualan hingga 33,32% YoY dicatatkan INDF setelah mencatatkan penjualan senilai Rp11,29 triliun. Terakhir, pada segmen distribusi, INDF membukukan penjualan senilai Rp5,57 triliun, naik 5,18% YoY dibandingkan periode yang sama 2024.
Namun, seiring meningkatnya penjualan INDF, perseroan turut membukukan beban pokok yang meningkat 6,06% YoY menjadi Rp60,72 triliun per September 2025. Torehan beban pokok penjualan INDF membengkak dari posisi Rp57,24 triliun pada periode yang sama 2024.
Meskipun begitu, beban pokok penjualan yang membengkak, tidak serta merta menekan laba bruto perseroan. INDF masih mampu membukukan laba bruto yang tumbuh 1,90% YoY ke Rp30,26 triliun per September 2025, naik dari Rp29,69 triliun pada periode yang sama 2024.
Hanya saja, beban keuangan INDF yang membengkak hingga Rp4,55 triliun per September 2025, mendorong susutnya laba bersih perseroan. Membengkaknya beban keuangan INDF terutama didorong oleh selisih nilai tukar mata uang asing dari aktivitas pendanaan, yang tercatat membengkak menjadi Rp1,59 triliun per September 2025.
Alhasil, setelah dikurangi berbagai beban dan pajak lainnya, INDF hanya mampu membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih senilai Rp7,88 triliun per September 2025. Torehan laba bersih INDF bahkan susut 10,03% YoY dari posisi Rp8,76 triliun pada periode yang sama 2024.
Kendati begitu, Analis Ciptadana Sekuritas Putu Chantika Putri, masih memberikan rekomendasibuyterhadap saham INDF dengan target harga Rp8.800 per lembar. Angka itu mencerminkan potensi kenaikan 24,38% dari harga INDF saat ini Rp7.075 per lembar.
Menurutnya, di tengah lesunya daya beli masyarakat, permintaan mie diprediksi akan tetap tangguh menopang pendapatan INDF. Bahkan, Putu memprediksi penjualan produk konsumen INDF bakal tumbuh 7% YoY pada 2026 sejalan dengan membaiknya daya beli masyarakat.
Sementara itu, pada segmen CPO, Putu memprediksi bahwa permintaan domestik terhadap permintaan CPO akan tetap dalam tren kenaikan pada 2026. Hal itu pula yang diprediksi bakal mendorong kinerja INDF ke depannya.
"Dari sisi permintaan, konsumsi domestik tetap dalam tren kenaikan, didukung oleh mandat biodiesel dan permintaan ekspor yang tangguh. Oleh karena itu, kami memperkirakan pertumbuhan agribisnis akan didukung oleh harga CPO yang lebih tinggi dan potensi ekspansi volume," tegasnya dalam riset yang berjudul Equity Market Outlook 2026, Sabtu (1/11/2025).
Sepanjang 2025, Putu memprediksi pendapatan INDF akan mencapai Rp122,31 triliun, dengan laba bersih senilai Rp11,36 triliun.
ICBP
Sementara itu,PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) mampu mencatatkan laba usaha Rp12,74 triliun atau tumbuh 6% secara tahunan pada periode Januari-September 2025. Kinerja tersebut dipengaruhi oleh kenaikan penjualan neto konsolidasi dari Rp55,49 triliun pada tahun lalu menjadi Rp56,27 triliun pada 2025.
Namun, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 13% menjadi Rp7,11 triliun akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang menyebabkan rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari kegiatan pendanaan. Core profit yang mencerminkan kinerja operasional perseroan turun 4% secara tahunan menjadi Rp7,69 triliun.
Direktur Utama dan CEO ICBP, Anthoni Salim berpendapat situasi bisnis masih menghadapi tantangan dan dinamika pasar yang terus berubah. ICBP berupaya beradaptasi, fokus pada kebutuhan konsumen, dan mengedepankan kehati-hatian.
"Kami terus memperkuat keunggulan operasional, mengoptimalkan portofolio, mendorong inovasi agar tetap relevan dengan selera konsumen yang terus berkembang, dan mempertahankan daya saing, serta menjaga posisi keuangan yang sehat untuk pertumbuhan berkelanjutan," kata Anthoni dalam keterangannya, Sabtu (1/11/2025).
Dalam kondisi seperti ini, Ciptadanaturut memberikan rekomendasi positif terhadap ICBP. Menurut Putu, kinerja topline ICBP yang melemah telah tercermin dalam harga saham perseroan.
Menurutnya, dengan peningkatan daya beli secara bertahap, bersamaan dengan inovasi produk yang berkelanjutan pada varian rasa mie, mampu mendorong pemulihan terhadap INDF.
"Didukung oleh posisi Indonesia sebagai konsumen mie instan terbesar, kedua di dunia, kami memproyeksikan pendapatan utama ICBP akan tumbuh dengan CAGR 6% selama 2024–2027F," katanya dalam riset yang sama.
Putu memprediksi, sepanjang 2025, ICBP akan mampu mencatatkan pendapatan senilai Rp72,59 triliun, dengan laba bersih senilai Rp7,07 triliun. Menurutnya, segmen mie instan bakal berkontribusi senilai Rp55,12 triliun sepanjang 2025.
Selain itu, harga CPO yang tengah tinggi pada 2025, disebut telah mendorong ICBP untuk menaikkan 3–4 harga jual rata-rata (ASP) di segmen mie untuk mengimbangi tekanan biaya.
“Kami yakin bahwa begitu harga CPO mereda, perusahaan akan mendapatkan manfaat dari ekspansi margin, didukung oleh disiplin penetapan harganya dan ekuitas merek yang kuat,” katanya.
Dalam kondisi saat ini, Putu merekomendasikanbuyatas saham ICBP dengan target harga Rp12.400 per lembar. Hal itu mencerminkan potensi kenaikan 46,31% dari harga ICBP saat ini Rp12.400 per lembar.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.