Bisnis.com, JAKARTA — Aktivitas manufakturChina terkontraksi lebih dalam dari perkiraan pada Februari 2026, seiring dengan periode libur Tahun Baru Imlek terpanjang yang pernah ada menekan kegiatan produksi dan konstruksi.
Berdasarkan data resmi Biro Statistik Nasional China yang dikutip dari Bloomberg, Rabu (3/3/2026), purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Negeri Panda turun menjadi 49 pada bulan lalu dari 49,3 pada Januari.
Angka tersebut lebih rendah dari estimasi median ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan 49,2, sekaligus menyamai level terendah dalam empat bulan terakhir.
Sementara itu, PMI nonmanufaktur yang mencerminkan aktivitas sektor konstruksi dan jasa naik tipis menjadi 49,5, di bawah proyeksi 49,7. PMI konstruksi bahkan turun ke level terendah dalam enam tahun. Sebagai catatan, angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.
Prospek sektor manufaktur China masih dibayangi lemahnya permintaan domestik serta ketidakpastian terkait tarif Amerika Serikat (AS). Konflik militer yang meluas di Timur Tengah juga berpotensi mengganggu kembali perdagangan global dan meningkatkan biaya produksi bagi pelaku industri China.
“Angka-angka ini sebagian terdistorsi oleh jumlah hari kerja yang lebih sedikit,” ujar Raymond Yeung, kepala ekonom Greater China di Australia & New Zealand Group Ltd.
Meski demikian, terlepas dari faktor teknis tersebut, dia menilai aktivitas secara umum memang melambat. Perkembangan geopolitik dan ketidakpastian tarif menghadirkan tambahan risiko penurunan.
China dalam waktu dekat akan menggelar pertemuan politik tahunan, di mana Beijing dijadwalkan mengumumkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Investor juga menantikan pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump dalam beberapa pekan mendatang untuk mengukur arah hubungan bilateral serta kebijakan hambatan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
Statistisik NBS Huo Lihui menyebut libur panjang menjadi faktor utama pelemahan aktivitas manufaktur. “Produksi dan operasi perusahaan terdampak sampai batas tertentu sehingga aktivitas manufaktur menurun,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Berbeda dengan data resmi, survei swasta menunjukkan kinerja yang lebih kuat. Indeks PMI manufaktur umum China versi RatingDog naik menjadi 52,1 pada Februari dari 50,3 pada Januari, level tertinggi dalam lebih dari lima tahun. Adapun PMI jasa swasta melonjak menjadi 56,7 dari 52,3.
Dalam setahun terakhir, hasil survei swasta cenderung lebih kuat dibandingkan survei resmi, terutama karena ekspor relatif bertahan. Kedua survei tersebut menggunakan cakupan sampel, lokasi, dan jenis usaha yang berbeda, dengan survei swasta lebih berfokus pada perusahaan kecil dan berorientasi ekspor.
Analisis Bloomberg Economics menunjukkan survei resmi lebih mencerminkan kondisi produksi industri secara keseluruhan, sedangkan survei RatingDog dinilai memberi sinyal yang lebih kuat terhadap kinerja ekspor. Namun, volatilitas indeks swasta yang meningkat juga berisiko melebih-lebihkan perubahan momentum.
“Secara keseluruhan, data Februari menunjukkan ekspansi yang kuat didorong oleh pasokan dan permintaan yang solid. Ke depan, keberlanjutan momentum ini bergantung pada konsistensi permintaan dan apakah kepercayaan pelaku usaha berujung pada peningkatan perekrutan dan investasi," ujar Yao Yu, pendiri RatingDog, dalam pernyataannya.