Bisnis.com, JAKARTA — Pusat Superkomputer Nasional atau National Supercomputing Center (NSCC) di China menjadi sasaran peretasan yang mengakibatkan kebocoran 10 petabyte atau setara dengan 10 juta data militer dan riset sensitif.
Kelompok peretas 'FlamingChina' mengklaim telah menembus sistem keamanan pusat komputasi tersebut dan mencuri data krusial, termasuk skema pesawat, sistem rudal, hingga simulasi fusi nuklir.
Insiden ini diprediksi menjadi salah satu kebocoran data terbesar di dunia, mengingat skala data yang dicuri setara dengan lebih dari 10 juta gigabyte informasi digital.
Hingga saat ini, data tersebut dikabarkan tengah ditawarkan di pasar gelap dengan harga ratusan ribu dolar AS dalam bentuk mata uang kripto.
Konsultan firma keamanan siber SentinelOne, Dakota Cary, mengatakan bahwa sampel data yang dibagikan peretas tampak autentik dan sesuai dengan profil beban kerja pusat superkomputer tersebut.
Cary menjelaskan bahwa pusat superkomputer biasanya digunakan untuk tugas komputasi besar oleh berbagai lembaga riset dan industri strategis.
“Rangkaian sampel yang dikeluarkan penjual benar-benar mencerminkan luasnya cakupan pelanggan yang dimiliki pusat superkomputer ini,” ujar Cary dilansir dari TechRadar, Sabtu (11/4/2026).
Data yang dicuri dilaporkan berasal dari organisasi papan atas seperti Aviation Industry Corporation of China (AVIC) dan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC).
Selain itu, dokumen dari Universitas Teknologi Pertahanan Nasional China juga masuk dalam daftar data yang diklaim telah berpindah tangan kepada pihak peretas.
FlamingChina mengunggah data tersebut untuk dijual pada awal Februari lalu dan menyatakan bahwa proses ekstraksi data dilakukan selama beberapa bulan.
“Data mencakup penelitian di berbagai bidang termasuk teknik kedirgantaraan, penelitian militer, bioinformatika, simulasi fusi, dan banyak lagi,” kata mereka.
Metode peretasan diduga memanfaatkan domain VPN yang disusupi untuk mendapatkan akses awal ke sistem superkomputer di Tianjin tersebut.
Setelah berhasil masuk, peretas menggunakan jaringan botnet untuk mengekstraksi data secara perlahan dari beberapa server secara bersamaan guna menghindari deteksi sistem keamanan.
Aliran data dalam paket kecil yang konsisten selama enam bulan disinyalir menjadi alasan mengapa mekanisme pertahanan internal gagal mendeteksi adanya aktivitas keluar yang masif.
Keberhasilan peretasan ini diduga lebih banyak memanfaatkan kerentanan arsitektur infrastruktur dan desain sistem dibandingkan penggunaan perangkat lunak berbahaya atau malware yang canggih.
Dampak operasional dari insiden ini mulai terlihat dengan hilangnya beberapa pakar senior di bidang penerbangan dan senjata nuklir dari situs resmi Akademi Teknik China (CAE) tanpa penjelasan.
NSCC Tianjin sendiri merupakan fasilitas strategis yang melayani lebih dari 6.000 entitas, mulai dari lembaga penelitian, universitas, hingga badan pemerintah dan militer.
Bagi investor dan pelaku industri, kebocoran ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait perlindungan kekayaan intelektual pada proyek-proyek teknologi tinggi di wilayah tersebut.
Infrastruktur ini sebelumnya dianggap sebagai pendukung utama inovasi teknologi dan pemutakhiran industri yang menjadi tulang punggung persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat.
Kejadian ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi infrastruktur digital kritis di tengah meningkatnya ancaman spionase siber terhadap aset-aset ekonomi strategis.