Bisnis.com, JAKARTA — Emiten peritel PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) bersiap memasuki segmen home improvement dengan membawa kembali merek Ace Hardware ke Indonesia. Langkah tersebut dinilai membuka babak baru persaingan industri ritel perlengkapan rumah tangga yang selama ini identik dengan Kawan Lama Group.
Setelah lisensi Ace Hardware tidak lagi berada di bawah Kawan Lama Group, MAP Group akan menjadi mitra baru merek tersebut di Indonesia. Kehadiran Ace Hardware di bawah naungan MAP diproyeksikan memperluas portofolio bisnis perseroan sekaligus menjadi sumber pertumbuhan baru di luar lini fesyen, olahraga, dan gaya hidup yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis grup.
Wakil Presiden Direktur Mitra Adiperkasa Virendra Prakash Sharma mengatakan keputusan menghadirkan Ace Hardware merupakan bagian dari strategi diversifikasi usaha yang masih beririsan dengan kompetensi inti perseroan di sektor ritel.
“Jadi ketika prinsipal [Ace Hardware] mendekati kami, kami mengeksplorasi peluang bisnis bersama mereka. Kami menyusun semacam studi kelayakan secara bersama-sama. Pada akhirnya, kami sepakat bahwa ini akan menjadi bentuk diversifikasi yang masih terkait dengan bisnis inti MAP karena kami memang selalu mencari sektor baru untuk dikembangkan,” katanya dalam paparan publik MAP di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Meski memasuki segmen baru, MAPI belum berencana melakukan ekspansi agresif. Perseroan mengaku masih membutuhkan waktu untuk memahami karakteristik bisnis home improvement sebelum memperluas jaringan toko secara signifikan.
Pada akhir Juli atau Agustus 2026, MAPI bakal membuka gerai Ace Hardware perdananya di Jabodetabek dan Serpong. Pada tahap pertama, MAPI menargetkan pembangunan 5-7 toko Ace Hardware baru untuk memastikan profitabilitas segmen bisnis ini.
”Dan setelah kami memahami bisnis tersebut dan melihat bahwa ini merupakan bisnis yang menguntungkan, maka kami akan melakukan ekspansi secara cepat,” tegasnya.
VP Investor Relations, Corporate Communications and Sustainability MAP Group Ratih D. Gianda mengatakan perseroan masih mempertimbangkan waktu yang tepat untuk memperluas jaringan Ace Hardware di Indonesia.
Menurutnya, setiap pembukaan gerai akan didasarkan pada studi kelayakan yang komprehensif guna memastikan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
”Walaupun Ace sudah pernah ada di sini, kami tetap harus sangat hati-hati. Maksudnya, kami membuka toko itu melihat demografinya dulu, lokasinya dulu, kami biasanya mengerjakan feasibility study. Panjang prosesnya karena kami tidak mau buka tutup toko,” katanya.
Hadapi Pemain Lama
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai masuknya Ace Hardware ke dalam portofolio MAPI dapat memperkuat ekosistem bisnis perseroan sekaligus mengisi celah pada segmen home improvement yang sebelumnya belum digarap secara optimal.
Namun demikian, menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari persaingan pasar yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
”Namun, untuk langsung menguasai pangsa pasar ritel perbaikan rumah dalam jangka pendek, MAPI menghadapi tantangan yang tidak mudah dari sang mantan pemegang lisensi,” kata Nafan, Rabu (24/6/2026).
Selain persaingan dengan pemain eksisting, ekspansi tersebut juga membutuhkan investasi awal yang tidak kecil. Nafan menilai membawa merek global ke Indonesia memerlukan belanja modal besar untuk kebutuhan sewa lokasi, renovasi gerai, hingga penyediaan inventori awal.
Secara historis, investasi awal pada sektor ritel nonmakanan dan minuman membutuhkan waktu sekitar 1—4 tahun untuk mencapai titik impas pada setiap gerai. Selama masa ekspansi awal, beban penyusutan dan biaya operasional berpotensi menekan margin laba bersih perseroan.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai kehadiran Ace Hardware memberikan diversifikasi yang menarik bagi MAPI karena memperluas bisnis ke segmen home improvement yang relatif lebih defensif dibandingkan sejumlah kategori ritel lainnya.
“Ace Hardware menarik sebagai diversifikasi ke segmen home improvement yg lebih defensif. Tapi timing challenging karena daya beli tertekan dan discretionary spending di-rem [oleh] konsumen,” katanya kepada Bisnis, Rabu (24/6/2026).
Menurut Wafi, MAPI tetap memiliki sejumlah keunggulan kompetitif berupa portofolio merek global yang kuat, basis pelanggan menengah atas yang relatif lebih resilien, serta jaringan distribusi dan operasional ritel yang luas.
Meski demikian, sejumlah risiko masih membayangi, mulai dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor dan royalti merek global, hingga kebutuhan belanja modal dan manajemen tambahan untuk mengembangkan jaringan Ace Hardware.
KISI memperkirakan pendapatan MAPI mencapai Rp45,84 triliun dengan laba bersih sekitar Rp2,28 triliun pada 2026. Sementara itu, harga wajar saham MAPI diperkirakan berada pada level Rp1.800 per saham.
Dibayangi Tekanan Makro
Di sisi lain, Sharma mengakui kondisi makroekonomi masih menjadi tantangan utama bagi industri ritel pada tahun ini. Pelemahan nilai tukar rupiah disebut turut meningkatkan biaya impor berbagai merek internasional yang dipasarkan perseroan.
Sharma menjelaskan setiap pengiriman barang baru akan menggunakan kurs terbaru yang berlaku. Untuk mengurangi risiko, MAPI melakukan strategi lindung nilai terhadap hampir 30% eksposur valuta asingnya.
”Tentu saja kondisi ini meningkatkan harga jual ritel, tetapi kami tidak memiliki banyak pilihan selain meneruskan dampak perubahan nilai tukar tersebut kepada pelanggan, khususnya yang berkaitan dengan risiko kurs,” katanya.
Meski demikian, MAPI tetap melanjutkan agenda ekspansi. Hingga kuartal I/2026, perseroan telah menambah sekitar 200 gerai baru dan menargetkan pembukaan 550—600 toko hingga akhir tahun.
Perseroan juga menyiapkan belanja modal sekitar Rp2 triliun pada 2026 dengan kemungkinan penyesuaian sesuai perkembangan kondisi bisnis.
”Kami masih menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran high single digit, begitu pula untuk laba bersih, baik MAPI maupun MAPA. Meskipun kinerja kuartal pertama sangat kuat, kami ingin tetap berhati-hati. Oleh karena itu kami untuk tahun ini masih berada pada kisaran pertumbuhan high single digit,” katanya.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.