Bisnis.com, JAKARTA - Perang terbaru di Timur Tengah memperlihatkan dua kenyataan. Pertama, konsep perang super cepat hyperwar melalui swarm drone, kondisi ini terjadi ketika kecerdasan buatan (AI), otomasi, dan sistem otonom bekerja bersama. Hasilnya, keputusan, identifikasi target, dan eksekusi serangan berlangsung sangat cepat. Kedua, dia yang mampu memanfaatkan kecerdasan, punya potensi unggul.
Kita mulai yang pertama, dalam operasi gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026, tempo serangan AS & Israel, terbukti melampaui perang sebelumnya. Beberapa laporan menyebut rantai serangan memadat: serangan 900+ target dalam 12 jam. Siklus dimulai dari rangkaian intel, diramu jadi keputusan, lalu dieksekusi. Ritme berulang ini terjadi di hitungan menit, lebih cepat dari kemampuan manusia mengevaluasinya.
Dipastikan, di balik pola itu, AI yang jadi orkestrator. Algoritma yang mengkoordinasi multi‑domain real time dan bermuara pada pemendekan rantai serangan. Laporan Nature menggambarkan Project Maven dan Large Language Model (LLM) mempercepat intelijen, logistik, dan dukungan keputusan dalam operasi.
CBS News melaporkan Pentagon memakai model Claude dari Anthropic selama operasi Iran. Walau diakhiri ketegangan antara kecepatan operasional dan pagar etika, karena Anthropic menolak penggunaan untuk militer yang menabrak batas etikanya. Pentagon akhirnya mem-blacklist Anthropic dan bekerja sama dengan OpenAI.
Adapun, ekosistem AI militer Israel disokong Habsora/Gospel yang berbasis big data sebagai mesin utama memproduksi target. Di mana solusi Lavender mengidentifikasi individu di skala besar, serta sistem Where’s Daddy? melacak pola kehadiran target. Kabarnya ini sebelumnya digunakan di Gaza, kini digunakan dalam operasi atas Iran. Bahkan AI-nya terhubung platform seperti F‑35 dan drone berkemampuan edge‑AI. Hasilnya, Israel mampu menyerang simultan, menjalankan operasi lintas domain dengan ratusan serangan terkoordinasi, hingga mempercepat rantai serangan.
Kondisi ini terjadi karena berkelindannya integrasi sensor, intelijen real‑time, dan rekomendasi berbasis algoritma. AI bermetamorfosis tak hanya alat bantu. Dia menjadi infrastruktur inti penopang efektivitas serangan Israel berperang dengan Iran.
Lantas bagaimana dengan Iran?
Inovasi asimetris jadi jawabannya. Penggunaan teknologi murah tetapi efektif, seperti drone Shahed yang mengintegrasikan thermal imaging, object recognition, dan modul AI Jetson. Kombinasi ini menjadikannya bak pemburu semi‑otonom yang lebih tahan jamming dan anti GPS.
Apa yang dilakukan Iran, adalah kenyataan kedua. Strategi ini menutup kesenjangan kapabilitas, sambil menjaga daya gempur. Jadi walau tak memiliki sistem persenjataan canggih dan mahal, Iran tetap menekan, membebani, juga mengganggu ritme operasi. Inovasi asimetris jadi bukti di perang modern, keunggulan tak selalu ditentukan teknologi mutakhir. Namun, memanfaatkan kecerdasan, efisiensi, dan skalabilitas.
Merujuk Iran War Cost Tracker, biaya perang harian menunjukkan ketimpangan ekstrem. AS dan Israel membakar US$535—US$891 juta per hari, guna operasi udara dan interceptor mahal seperti Patriot, SM 6, dan THAAD. Sementara Iran US$4—US$25 juta per hari, dengan meluncurkan ratusan drone Shahed berbiaya US$20.000—US$50.000 per unit.
Konon, ada dua aktor yang berada di belakang Iran. Banyak analis menegaskan Rusia dan Cina jangkar teknologinya. Di ranah drone, hubungan Iran–Rusia bersifat dua arah. Iran memasok blueprint Shahed dan pengetahuan produksi ke Rusia, di mana Rusia meningkatkan desain dan manufaktur. Pengembangannya mengalir balik ke Iran, menciptakan siklus yang saling memperkuat.
Kembali ke urusan AI. Kita perlu melihat AI bukan sebagai benda mistis atau magis. Tetapi spektrum kemampuan yang bisa dipakai dari ruang kelas hingga ruang perang. Melihat perjalanan teknologi AI, bisa dikatakan kita di revolusi industri keempat. Ditandai penggunaan internet dengan popularitas browser di 1995, disusul ponsel cerdas di 2007. Selama ini, kita berinteraksi dengan AI. Dari smart watch, scrolling media sosial, atau video conference, semua didukung kinerja AI beralgortima di setiap aplikasinya. Akan tetapi, lompatan terjadi pada 30 November 2022, saat OpenAI meluncurkan Gen AI dengan model LLM melalui ChatGPT. Saat itulah kita bisa berkomunikasi dengan komputer mengunakan bahasa sehari-hari.
Dipastikan, penggunaan AI di militer lebih maju, ini terlihat di perang antara Iran dan AS & Israel sudah ditahap agentic AI Workflows bahkan AI Frontier Organisations. Di level basic, AI hanya pengolah data cerdas mempercepat analitik intelijen dan pengolahan citra. Level moderate membawa AI ke ranah pengenalan objek, navigasi drone semi‑otonom, dan asistensi taktis. Ini terjadi di Ukraina, AI menggantikan beban analisis visual manusia dalam operasi drone.
Di level advanced, yang terwujud adalah perang hyperwar melalui swarm drone. Berkat algoritma, program seperti Replicator mampu menyiapkan ribuan sistem otonom murah dan mempercepat seluruh alur serangan. AS dan Israel mengandalkan ekosistem AI yang menyatu, bukan platform tunggal, sedangkan Iran ditopang jejaring teknologi lintas‑batas, dari suplai komponen, know‑how, dan interoperabilitas.
Bagi Indonesia, kita perlu menegaskan lagi arsitektur AI berdaulat. Di mana infrastrukur AI harus di dalam negeri, hak pengendalian data, menjaga rantai pasok, dan alur keputusan. Tanpa arsitektur AI berdaulat berlandaskan Pancasila, hasil AI tak relevan atas kebutuhan ekonomi juga pertahanan kita.
Untuk itu, kita harus memastikan prinsip bebas aktif dalam berteknologi AI. Dengan fondasi AI berdaulat, diplomasi kerja sama dengan negara-negara penguasa AI harus setara, sehingga jejaring teknologi lintas negara hingga transfer teknologi transparency by design terjaga. Pasalnya, ekosistem digital kita kian terhubung aktor luar, tanpa pilar AI berdaulat, AI justru dapat jadi pintu masuk ketergantungan baru.