JAKARTA, KOMPAS.com – Perekonomian Indonesia memulai 2026 dengan capaian yang terbilang impresif.
Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026, menjadi pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak kuartal II-2021.
Konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah menjadi motor penggerak utama pertumbuhan tersebut.
SHUTTERSTOCK/DAVID CARILLET Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.Namun, di balik angka yang mengesankan itu, Bank Dunia mengingatkan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu berkelanjutan apabila tidak dibarengi peningkatan produktivitas.
Dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Juni 2026, Bank Dunia menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah akan sangat ditentukan oleh keberhasilan reformasi struktural dan kemampuan pemerintah mengatasi berbagai hambatan produktivitas.
"Pertumbuhan ekonomi baru-baru ini didukung oleh dorongan dari sisi permintaan, termasuk stimulus fiskal dan pengeluaran yang diarahkan pemerintah. Tanpa reformasi yang meningkatkan produktivitas, dorongan-dorongan ini mungkin akan meningkatkan pertumbuhan untuk sementara waktu, tetapi kecil kemungkinannya untuk meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tulis Bank Dunia dalam laporannya, dikutip pada Sabtu (13/6/2026).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang konsumsi dan belanja pemerintah
Bank Dunia mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 terutama didorong konsumsi domestik yang tetap kuat.
Unsplash Ilustrasi belanja di ritel modern.Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari separuh PDB, menjadi kontributor utama pertumbuhan.
Belanja masyarakat terdorong oleh momentum Ramadan dan Idul Fitri yang lebih awal, pencairan tunjangan hari raya aparatur sipil negara, serta percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pada saat yang sama, konsumsi pemerintah meningkat tajam dan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan sejak kuartal IV-2010. Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto atau investasi tumbuh 6 persen, naik dibandingkan 5,1 persen pada 2025.
Pertumbuhan investasi didukung pelonggaran kebijakan moneter, proyek hilirisasi yang terus berjalan, dan pelaksanaan sejumlah program prioritas pemerintah.
Di sisi produksi, sektor jasa menjadi mesin utama pertumbuhan. Perdagangan, transportasi, perhotelan, jasa keuangan, dan teknologi informasi menyumbang 57 persen pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.
Industri manufaktur juga masih tumbuh, terutama industri logam dan elektronik yang masing-masing meningkat 10,3 persen dan 7 persen.
Namun, Bank Dunia mencatat adanya perlambatan aktivitas manufaktur memasuki Mei 2026, ditandai dengan penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) dari 53,8 menjadi 50.
Penurunan tersebut dipengaruhi gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya input yang mulai menekan sektor riil.
Potensi pertumbuhan hanya sekitar 4,2 persen
Meski pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tetap berada di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun ke depan, Bank Dunia menilai prospek tersebut bergantung pada keberhasilan reformasi.
SHUTTERSTOCK/TENDO Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 5 persen pada 2026, sebelum kembali menguat menjadi 5,2 persen pada 2027-2028. Namun, proyeksi tersebut bukan berarti risiko ekonomi telah berkurang.
"Prospek pertumbuhan Indonesia dalam jangka menengah bergantung pada keberhasilan implementasi reformasi struktural dan meredanya hambatan eksternal," ungkap Bank Dunia.
Bank Dunia mengingatkan, proyeksi pertumbuhan tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan (potential growth) Indonesia yang diperkirakan hanya sekitar 4,2 persen.
Menurut Bank Dunia, pertumbuhan beberapa tahun terakhir lebih banyak ditopang oleh stimulus fiskal dan belanja pemerintah.
“Tanpa reformasi yang meningkatkan produktivitas, dorongan-dorongan ini mungkin akan mengangkat pertumbuhan untuk sementara waktu namun kemungkinan besar tidak akan meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, proyeksi pemulihan ke 5,2 persen pada tahun 2027-2028 bergantung pada reformasi,” terang Bank Dunia.
Tantangan datang dari luar dan dalam negeri
Bank Dunia dalam laporannya juga juga mencatat Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Pada awal 2026, ekonomi Indonesia mengalami dua guncangan beruntun.
Pertama, tekanan dari pasar keuangan setelah MSCI mempertimbangkan pembatasan saham Indonesia dalam indeks pasar berkembang karena masalah transparansi kepemilikan dan rendahnya free float.
Kondisi ini diperparah oleh defisit fiskal 2025 yang mencapai 2,9 persen dari PDB serta penurunan prospek peringkat utang Indonesia oleh Moody's dan Fitch.
Guncangan kedua datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang pecah pada akhir Februari 2026.
GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Ilustrasi harga minyak dunia.Konflik tersebut mendorong harga minyak Brent melampaui 100 dollar AS per barrel pada pertengahan Maret 2026, level tertinggi sejak 2022. Kenaikan harga minyak memicu inflasi, meningkatkan beban subsidi energi, mengganggu rantai pasok, dan memperlemah prospek ekspor Indonesia.
Rupiah juga mengalami tekanan dan sempat menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS pada awal Juni 2026.
Meski harga minyak Brent kemudian turun ke sekitar 97 dollar AS per bartel per 3 Juni 2026, Bank Dunia menilai volatilitas masih tinggi karena ketidakpastian pasokan minyak dan jalur pelayaran global.
Dalam skenario yang lebih buruk, gangguan pasokan minyak dan pelayaran yang lebih panjang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,2 hingga 0,3 poin persentase pada 2027-2028.
Sebaliknya, jika pasokan minyak dan jalur pelayaran pulih lebih cepat, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi meningkat 0,2 sampai 0,4 poin persentase pada 2026.
Produktivitas menjadi kata kunci
Dalam situasi tersebut, Bank Dunia menilai Indonesia perlu menjalankan kebijakan yang tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga meningkatkan produktivitas dalam jangka menengah.
"Mempertahankan pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik memerlukan kebijakan yang mengelola risiko jangka pendek sekaligus meningkatkan produktivitas," papar Bank Dunia.
Laporan IEP kali ini secara khusus menyoroti tiga agenda reformasi yang dinilai dapat meningkatkan produktivitas, yakni reformasi subsidi BBM, penguatan pengelolaan investasi publik (public investment management/PIM), dan reformasi sektor logistik.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi BBM.Reformasi subsidi BBM dan ruang fiskal
Bank Dunia menilai ruang fiskal Indonesia semakin terbatas.
Rasio penerimaan negara terhadap PDB turun menjadi 9,3 persen pada 2025, menjadi yang terendah dalam sejarah. Di saat yang sama, defisit fiskal mencapai 2,9 persen dari PDB.
Karena itu, Bank Dunia menilai reformasi subsidi BBM menjadi salah satu langkah yang dapat memperkuat fondasi fiskal.
Laporan tersebut mencatat, 20 persen rumah tangga terkaya menikmati lebih dari separuh manfaat subsidi BBM. Di sisi lain, kenaikan harga minyak global membuat beban subsidi dan kompensasi energi terus meningkat.
Bank Dunia mengusulkan reformasi yang mencakup penyesuaian harga BBM secara bertahap, pemberian bantuan tunai kepada 40 persen rumah tangga termiskin, serta pengalihan anggaran subsidi untuk perlindungan sosial dan investasi publik.
"Penghematan fiskal dari pendekatan ini akan meningkat seiring waktu, diperkirakan sebesar 1,3 persen dari PDB selama dua tahun pertama, dan meningkat menjadi 2,1 persen setelah harga sepenuhnya menyesuaikan diri," sebut Bank Dunia.
Investasi publik dan logistik
Selain subsidi energi, Bank Dunia juga menyoroti pentingnya meningkatkan kualitas investasi publik.
Menurut Bank Dunia, Indonesia belum memiliki jalur proyek investasi yang terintegrasi sehingga proses pemilihan proyek, penganggaran, hingga pelaksanaan masih tersebar di berbagai lembaga.
Akibatnya, kualitas penilaian proyek tidak merata dan belanja modal kerap menumpuk pada akhir tahun.
SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.Bank Dunia mengusulkan pembentukan unit khusus untuk mengelola investasi publik, standarisasi penilaian proyek, penerapan kontrak multi-tahun, dan pembangunan sistem proyek yang lebih transparan.
Sementara itu, di sektor logistik, Bank Dunia menilai biaya logistik Indonesia masih tinggi karena hambatan kelembagaan dan regulasi.
Lembaga tersebut mencatat jasa transportasi Indonesia termasuk yang paling restriktif di ASEAN. Selain itu, waktu tunggu kapal di pelabuhan utama masih lebih lama dibandingkan negara-negara lain di kawasan.
Bank Dunia menilai investasi infrastruktur saja tidak cukup untuk memperbaiki kondisi tersebut.
"Misalnya, kesenjangan logistik tidak akan tertutup jika mandat tetap terfragmentasi di setidaknya 15 lembaga," jelas Bank Dunia.
Karena itu, Bank Dunia mengusulkan pembentukan mekanisme koordinasi logistik nasional yang permanen, perluasan sistem berbasis risiko dalam proses kepabeanan, serta penyederhanaan perizinan impor guna menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing.
Pada akhirnya, laporan tersebut menegaskan tantangan Indonesia bukan lagi sekadar menjaga pertumbuhan tetap berada di atas 5 persen, melainkan memastikan pertumbuhan itu dapat bertahan dan menghasilkan lapangan kerja yang lebih produktif.
"Dalam lingkungan eksternal yang lebih menantang, mengelola risiko sekaligus meningkatkan produktivitas akan menentukan arah perkembangan Indonesia dalam jangka menengah," tulis Bank Dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang