Bisnis.com, JAKARTA – Emiten berportofolio pembangkit energi bersih semakin getol melakukan ekspansi. Bagaimana tidak, penjualan listriknya dapat dijamin oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) melalui kontrak purchasing power agreement (PPA).
Landasan hukumnya tertuang di dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 5 Tahun 2025 tentang Pedoman Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dari Pembangkit Listrik yang Memanfaatkan Sumber Energi Terbarukan.
Tak cuma dijamin pembeliannya, PJBL ini juga memiliki kontrak jangka panjang, yaitu maksimal 30 tahun sejak tanggal beroperasi komersial (COD), dan dapat diperpanjang tanpa memperhitungkan biaya investasi awal.
Sementara itu, proyek transisi menuju energi bersih ini juga dijamin dengan komitmen pemerintah yang tertuang di dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Dokumen tersebut menargetkan bauran energi baru dan terbarukan pembangkit listrik di Indonesia pada akhir 2034 mencapai 34,3%. Dari sisi demand, pemerintah menghitung rata-rata pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik sebesar 5,3% per tahun.
Dalam skenario dasar (RE Base) pemerintah menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik energi bersih sebesar 27.370 megawatt (MW) pada 2034. Perinciannya, pembangkit listrik tenaga angin (PLTA) sebesar 11.890 MW, pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal (PLTP) 5.157 MW, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 7.143 MW.
Kemudian, pembangkit listrik tenaga bayu atau angin (PLTB) sebesar 2.208 MW, dan pembangkit listrik energi baru terbarukan (PLT EBT) lainnya sebesar 973 MW. Dalam skenario accelerated renewable energy development (ARED), target kapasitas pembangkit tersebut bisa lebih besar.
Komitmen pemerintah tersebut kemudian direspons oleh para emiten energi bersih yang gencar melakukan ekspansi. Beberapa di antaranya adalah PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), hingga PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA).
Direktur Utama ARKO, Aldo Artoko mengatakan saat ini pihaknya memiliki tiga proyek di dalam pipeline perusahaan. Pertama, proyek PLTA Pongbembe yang konstruksinya baru dimulai November 2025 ini dan ditargetkan akan mulai COD pada 2029-2030. Proyek berkapasitas 20 MW ini sudah mengantongi PJBL atau power purchase agreement (PPA) dengan PLN selama 30 tahun sejak COD.
Kedua, proyek PLTA Kukusan II yang terletak di Lampung. Konstruksi proyek ini telah mencapai 96,1% dengan target COD kuartal IV 2025. Proyek berkapasitas 5,4 MW ini memiliki periode kontrak selama 25 tahun.
Ketiga, ada proyek PLTA Tomoni di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Konstruksi pembangunan PLTA ini telah mencapai 52,7% dengan target COD pada semester I 2026. Proyek berkapasitas 10 MW ini telah mengantongi kontrak PPA dengan PLN selama 25 tahun.
"Jadi bukan tiap tahun kita harus pusing mencari source of revenue, tapi sekali kita menandatangani satu kontrak, kontrak tersebut akan berlangsung selama 30 tahun, sehingga cash flow untuk investor dan shareholders kita sudah terjamin selama 30 tahun ke depan untuk satu kontrak tersebut," ujar Aldo dalam online public expose, Selasa (25/11/2025).
Sementara bagi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), perseroan memiliki beberapa proyek di dalam pipeline yang telah mengantongi kontrak PPA, antara lain adalah proyek PLTP Co-Generation Ulubelu berkapasitas 30 MW dan Lahendong 15 MW, PLTP Lahendong Unit 7 dan Unit 8 dengan kapasitas 50 MW, hingga PLTP Seulawah berkapasitas 70 MW.
Selain itu, pada Agustus 2025 lalu PGEO telah menjalin kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) untuk mempercepat pengembangan panas bumi di 19 proyek eksisting dengan total kapasitas 530 MW. Kolaborasi ini berpotensi menambah kapasitas hingga 1.130 MW, yang berasal dari wilayah kerja yang sudah berproduksi maupun area prospektif baru.
Direktur Utama PGEO Julfi Hadi mengatakan pihaknya menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola mandiri sebesar 1 GW dalam 2-3 tahun mendatang, dan menjadi 1,7 GW pada 2033. Angka ini sekitar seperlima dari target pembangkit listrik panas bumi sesuai dokumen RUPTL PLN 2025-2034.
“Ke depannya, kami optimistis untuk terus mendukung percepatan target peningkatan kapasitas panas bumi nasional sebesar 5,2 GW pada periode tersebut,” kata Julfi.
Sementara itu, emiten afiliasi Prajogo Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) juga memiliki empat proyek dalam pipeline yang dalam tahap konstruksi. Proyek yang ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026 adalah proyek Wayang Windu Unit 3 dengan kapasitas 30 MW dan proyek Salak Unit 7 berkapasitas 40 MW.
Selain itu, ada juga proyek retrofit Wayang Windu Unit 1 dan 2 dengan kapasitas tambahan 18,4 MW yang ditarget selesai kuartal IV/2025 dan proyek retrofit Darajat Unit 3 berkapasitas 7 MW yang ditarget selesai 2026.
BREN menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit panas bumi menjadi 1,9 GW pada 2030. Dalam jangka pendek, perseroan berupaya mencapai kapasitas pembangkit listrik panas bumi sebesar 1 GW pada 2026.
Tak cuma panas bumi, untuk pembangkit energi angin BREN menargetkan pada 2032 akan mencapai kapasitas 398 MW, dari tambahan masing-masing 220 MW pada 2028 dan 99 MW sisanya dicapai pada medio 2029-2032.
Untuk mencapai target target tersebut, pada 2026 perseroan menyiapkan capital expenditure (capex) sebesar US$250 juta, atau sekitar Rp4,17 triliun (kurs Rp16.677 per dolar AS. Nilai tersebut lebih besar dibanding capex 2025 sebesar US$100 juta.
Direktur BREN Chiam Hsing Chee mengatakan capex yang dialokasikan perseroan tahun depan akan bertambah seiring dengan proyek berjalan yang digarap perusahaan untuk mencapai target penambahan kapasitas pembangkit.
"Kami merencanakan US$250 juta, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun ini. Ini sejalan dengan aktivitas yang kami miliki dengan retrofit pada aset-aset kami serta unit 3 dan 7 [Wayang Windu]," tandas Chiam.
Sementara itu, emiten batu bara yang sedang bertransformasi ke bisnis pengolahan limbah, PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) juga tak ketinggalan melebarkan sayap di sektor pembangkit listrik energi bersih. Bahkan, dalam jangka panjang perseroan membidik pasar ekspor listrik ke Singapura.
Dua proyek teranyar di dalam pipeline TOBA adalah proyek PLTB di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang menunggu tender dibuka, dan PLTS terapung di Batam yang saat ini dalam tahap konstruksi.
Proyek TOBA yang saat ini beroperasi adalah pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) Lampung berkapasitas 6 MW. Proyek ini telah memiliki kontrak PPA dengan PLN berdurasi 25 tahun.
Direktur TBS Energi Utama, Juli Oktariana mengatakan pihaknya juga tertarik untuk bergabung dalam proyek ekspor listrik energi bersih ke Singapura. Saat ini, TOBA menunggu regulasi pemerintah untuk dapat mengekspor listrik ke Singapura. Sebagaimana diketahui, pemerintah Indonesia dan Singapura saat ini sedang membahas peluang kerja sama tersebut.
"Targetnya kami maunya secepatnya, kan semuanya sebenarnya bukan di kami. Kami menunggu peraturannya dari pemerintah seperti apa," jelas Juli.
Adapun, salah satu proyek yang diplot TOBA untuk menjadi pemasok listrik ke Singapura adalah proyek PLTS Terapung di Batam. Dalam rencana jangka panjang perseroan, kapasitas PLTS Terapung Batam akan digenjot untuk siap menyuplai.
Menilik kontribusi portofolio pembangkit dalam kinerja keuangan TOBA, sampai dengan kuartal III/2025 segmen pendapatan ketenagalistrikan yang ditorehkan TOBA turun tajam, sebesar 67,76% dari US$44,54 juta menjadi US$14,36 juta. Persentase segmen kelistrikan atas total pendapatan juga mengecil dari 13,23% menjadi 4,98%.
Peluang Pertumbuhan
Research Analyst MNC Sekuritas, Christian Sitorus dalam risetnya yang terbit 18 November 2025, menjabarkan bahwa bentuk komitmen pemerintah dalam pembangunan energi bersih selain melalui RUPTL 2025-2034 juga tertuang dalam Green Taxonomy 2.0 atau Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI versi 2).
Christian menilai kedua hal tersebut dapat mendukung bankability serta menurunkan biaya modal untuk proyek energi bersih yang selama ini menjadi momok utama. Apalagi, komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) yang dijalin pemerintah dengan negara-negara maju senilai US$21,4 miliar juga dinilai dapat mendukung dari sisi pendanaan.
Dengan semua katalis positif yang menyertai ini, dia mencatat partisipasi independent power plan (produsen listrik independen) dalam pembangunan pembangkit listrik energi bersih semakin meningkat, sejalan dengan komitmen pemerintah.
"Kami mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor energi terbarukan, ditopang oleh pipeline proyek yang meningkat dan minat investor yang semakin besar terhadap aset hijau. Sektor ini diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba yang solid, didorong oleh estimasi investasi kumulatif sekitar US$30 miliar dan komitmen US$21,4 miliar dari JETP," tulisnya dalam riset.
Sementara itu, Analis Samuel Sekuritas Juan Harahap memproyeksi pertumbuhan laba bersih TOBA dalam jangka panjang, sejalan dengan ekspansi sektor energi bersih yang perusahaan canangkan.
Samuel Sekuritas memproyeksi compound annual growth rate (CAGR) laba bersih TOBA 6,6% dalam 2026-2030, ditopang oleh kenaikan kapasitas terbarukan menjadi 598 MW dan ekspansi bisnis limbah.
"Pada 2030 diproyeksikan kontribusi pendapatan TOBA 38% berasal dari limbah, 37% electric vehicle (EV) dan 10% dari energi baru terbarukan," ujar Juan.
Estimasi lesatan laba juga diprediksi terjadi pada BREN dalam jangka panjang. Analis Sucor Sekuritas, Andreas Yordan menghitung CAGR laba BREN sebesar 28% dalam rentang 2025-2033, atau mencapai US$810 juta pada 2033.
Sementara itu, CAGR pendapatan BREN ditaksir mencapai 22% dalam 2025-2033, sejalan dengan peluang ekspor listrik ke Singapura. Andreas melihat portofolio BREN saat ini, PLTP Suoh Sekincau menempati lokasi yang strategis bila program ekspor listrik ke Singapura berjalan. Bahkan perseroan berpeluang mendapatkan harga listrik premium, lebih mahal dari harga beli PLN.
"Total tarif efektif dapat mencapai US$0,36 per kWh, hampir 4 kali dari tarif domestik Indonesia. Bahkan, dengan asumsi konservatif US$0,20 per kWh, IRR dapat melonjak dari 12% menjadi 45%, menandakan potensi keuntungan jangka panjang yang besar," tulis Andreas.
Adapun, bagi PGEO, analis Maybank Sekuritas Etta Rusdiana Putra dan Hasan Barakwan memprediksi pendapatan PGEO menanjak menjadi US$457 juta pada 2027 dengan laba bersih sebesar US$169 juta.
Proyeksi tersebut sejalan dengan katalis positif yang menyertai arah bisnis panas bumi ke depan, yaitu adanya kenaikan permintaan energi bersih, potensi dibukanya izin ekspor listrik, dan ekspansi kapasitas pembangkit yang mendorong peningkatan pendapatan dan profitabilitas perseroan.
Sedangkan dari sisi risiko penghambat, yaitu eksposur penuh ke pasar Indonesia sehingga regulasi dan kondisi makro ekonomi dapat menekan pertumbuhan.
"PLN sebagai satu-satunya pembeli, delay proyek bisa mempengaruhi kinerja. Selain itu ada tantangan biaya pendanaan, di mana suku bunga tinggi akan menekan karena ekspansi didominasi oleh pembiayaan proyek," tulis riset tersebut.