#30 tag 24jam
Pengambilalihan Saham MI BUMN Berjalan, Danantara Ambil Posisi Kunci
Danantara mengambil alih saham mayoritas MI BUMN dari Bank Mandiri, BNI, dan BRI, menandai konsolidasi investasi BUMN ke dalam satu entitas besar. [496] url asal
#danantara-asset-management #pengambilalihan-saham-bumn #manajer-investasi-bumn #konsolidasi-manajer-investasi #pengelolaan-aset-bumn #bank-mandiri-investasi #bni-asset-management #pnm-investment-manag
(Bisnis.Com - Finansial) 17/04/26 10:21
v/194246/
Bisnis.com, JAKARTA — PT Danantara Asset Management (DAM) mengambil alih mayoritas kepemilikan pada sejumlah perusahaan manajer investasi milik bank-bank BUMN, menandai pergeseran pengelolaan bisnis investasi dari level perbankan ke holding negara.
Sebelumnya, dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pengalihan saham tersebut dilakukan pada 1 April 2026 melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat antara entitas anak usaha masing-masing bank sebagai penjual dengan DAM sebagai pembeli.
Transaksi ini melibatkan tiga bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).
Dari sisi nilai, Bank Mandiri mencatat transaksi terbesar melalui pengalihan PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) senilai Rp1,025 triliun. BNI melepas PT BNI Asset Management (BNI AM) dengan nilai Rp359,64 miliar, sementara BRI melalui PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mengalihkan PT PNM Investment Management (PNM IM) senilai Rp345 miliar.
Secara kepemilikan, Mandiri Sekuritas menjual 99,93% saham MMI, BNI Sekuritas mengalihkan 99,9% saham BNI AM, dan PNM melepas 99,999% saham PNM IM kepada DAM.
Merujuk pengumuman resmi yang dimuat dalam Harian Bisnis Indonesia edisi 17 April 2026, sejumlah perusahaan juga menyampaikan rencana pengambilalihan saham oleh DAM yang akan mengakibatkan perubahan pengendali.
Pengumuman tersebut antara lain disampaikan oleh PT BNI Asset Management, PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BRI Manajemen Investasi, serta PT PNM Investment Management.
Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa seluruh saham perseroan yang saat ini dimiliki oleh pemegang saham eksisting akan dialihkan kepada DAM, sehingga perseroan akan berada di bawah pengendalian baru.
Langkah ini mengindikasikan arah konsolidasi manajer investasi BUMN ke dalam satu entitas terpusat di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Dalam rencana awal yang mengemuka sejak 2025, konsolidasi ini diproyeksikan akan menghimpun dana kelolaan hingga US$8 miliar atau setara sekitar Rp132,94 triliun, membentuk entitas pengelola aset berskala besar yang lebih kompetitif.
Manajemen Bank Mandiri menyatakan pengalihan ini merupakan bagian dari inisiatif DAM untuk mengintegrasikan bisnis pengelolaan aset di dalam ekosistemnya.
“Pengalihan saham MMI dilakukan sebagai bagian dari inisiatif DAM dalam rangka mendukung rencana konsolidasi perusahaan manajemen aset di dalam ekosistem anak perusahaan DAM,” tulis manajemen.
Dari sisi struktur, transaksi ini tergolong sebagai transaksi afiliasi karena melibatkan entitas yang berada dalam pengendalian yang sama, yakni Negara Republik Indonesia. DAM berada di bawah Danantara, sementara ketiga bank juga merupakan bagian dari ekosistem BUMN.
Meski demikian, kontribusi entitas yang dialihkan terhadap kinerja masing-masing bank relatif terbatas. Pada Bank Mandiri, misalnya, porsi aset, laba bersih, dan pendapatan usaha MMI tercatat di bawah 1% terhadap total konsolidasi perseroan.
Ketiga bank juga memastikan bahwa transaksi tidak mengandung benturan kepentingan, telah melalui penilaian independen, serta dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Nilai transaksi pun dinyatakan wajar dan tidak tergolong material, sehingga tidak memerlukan persetujuan rapat umum pemegang saham.
Sejalan dengan proses tersebut, dalam pengumuman resmi juga disebutkan bahwa para kreditur dan pihak berkepentingan lainnya diberikan waktu paling lambat 14 hari kalender sejak tanggal pengumuman untuk menyampaikan keberatan, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas.
Kocok Ulang Portofolio Obligasi di Reksa Dana Pendapatan Tetap
Manajer investasi menerapkan strategi defensif dan selektif terhadap obligasi korporasi berfundamental kuat guna menjaga stabilitas portofolio pendapatan tetap. [780] url asal
#obligasi-korporasi #pasar-obligasi-2026 #manajer-investasi #reksa-dana-pendapatan-tetap #kualitas-kredit #pengelolaan-risiko #volatilitas-yield #fundamental-emiten #kalkulasi-risiko #investor-institus
(Bisnis.Com - Market) 16/04/26 06:00
v/192762/
Bisnis.com, JAKARTA — Manajer investasi mulai menerapkan strategi selektif dalam mengatur ulang portofolio pendapatan tetap dengan menekankan kualitas kredit dan pengelolaan risiko di tengah dinamika pasar 2026 yang masih dibayangi volatilitas yield.
Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi menilai penyerapan obligasi korporasi 2026 akan sangat bergantung pada ketahanan fundamental dan keberlanjutan kinerja emiten.
Menurutnya, investor saat ini tidak lagi sekadar merespons kondisi pasar secara reaktif, tetapi lebih fokus pada kalkulasi risiko yang terukur.
Di samping itu, dia menuturkan bahwa meski basis investor institusi domestik dengan horizon jangka panjang tetap menjadi penopang utama, pendekatan yang diambil saat ini justru dinilai cenderung lebih konservatif.
“Pendekatan yang diambil lebih hati-hati, dengan kecenderungan wait and see sambil memastikan setiap keputusan investasi selaras dengan profil risiko yang terukur,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (15/4/2026).
HPAM sendiri menempatkan kualitas sebagai fondasi dalam mengelola Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT). Fokusnya bukan pada ekspansi secara agresif, melainkan pertumbuhan portofolio berkelanjutan dengan risiko terkendali.
Reza memaparkan strategi HPAM mencakup prioritas pada emiten dengan visibilitas arus kas yang baik serta resiliensi terhadap tekanan siklus ekonomi. Dalam kondisi dinamika yield saat ini, perusahaan pun memilih pengelolaan durasi yang adaptif dan alokasi bertahap untuk menjaga stabilitas imbal hasil.
“Kami melihat bahwa menjaga kualitas portofolio merupakan bentuk disiplin investasi yang lebih relevan dibandingkan mengejar peluang jangka pendek,” jelasnya.
Dihubungi terpisah, Chief Investment Officer (CIO) Korea Investment Management (KIM), Barkah, juga memandang prospek penyerapan obligasi korporasi 2026 masih menjanjikan meski pasar dipenuhi ketidakpastian.
Dukungan utama berasal dari kebutuhan refinancing perusahaan yang besar serta minat institusi domestik yang mencari stabilitas imbal hasil.
Menurut Barkah, kunci keberhasilan investasi surat utang tahun ini terletak pada selektivitas penerbit, pengelolaan tenor, dan disiplin harga beli. KIM saat ini memposisikan portofolio dengan strategi yang lebih defensif dan cenderung sangat selektif dalam pemilihan instrumen surat utang, khususnya untuk RDPT.
Dalam racikan portofolionya, KIM memprioritaskan obligasi korporasi berperingkat tinggi, terutama dari sektor perbankan, infrastruktur, dan energi. Surat utang dengan rating minimal A hingga AA masih menjadi pilihan utama guna menjamin stabilitas portofolio di tengah fluktuasi pasar yang dinamis.
“Selektivitas terhadap rating dan tenor menjadi kunci, sementara sektor dengan kebutuhan refinancing besar tetap menjadi target utama,” pungkasnya.
Di sisi lain, meskipun pasar sedang melemah, dia memandang bahwa semarak penerbitan obligasi pada 2026 dipicu oleh beberapa faktor struktural.
Selain kebutuhan mendesak untuk membayar utang jatuh tempo, likuiditas domestik yang masih mencukupi serta kebutuhan diversifikasi sumber pendanaan korporasi disebut menjadi pendorong utama.
Obligasi Korporasi Semarak
Sementara itu, penerbitan obligasi korporasi mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 26,97% secara tahunan pada kuartal I/2026. Realisasinya bahkan melampaui nilai jatuh tempo surat utang pada periode yang sama.
Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto, menerangkan total penerbitan surat utang korporasi sepanjang kuartal I/2026 mencapai Rp59,35 triliun, tumbuh dibandingkan Rp46,8 triliun pada Januari—Maret 2025. Adapun, nilai jatuh tempo hanya mencapai Rp26,88 triliun pada kuartal I/2026.
“Hingga akhir Maret kemarin, penerbitan surat utang korporasi relatif semarak, dengan perusahaan sejauh ini banyak memanfaatkan yield yang relatif masih rendah selama dua bulan pertama 2026 untuk akhirnya meraih pendanaan di pasar surat utang,” ujarnya dalam Konferensi Pers Pefindo, Rabu (15/4/2026).
Pefindo juga mencatat surat utang dengan tenor 5 tahun mendominasi emisi sebesar 29,53% dari total. Mengekor di belakangnya, surat utang dengan tenor 1 tahun kini kian diminati dengan besaran 25,95% dari total, tenor 3 tahun sebesar 22,91%, 7 tahun sebesar 16,36%, dan tenor panjang tidak lebih dari 6%.
Kendati ketegangan geopolitik masih mendorong volatilitas terhadap pasar modal, Suhindarto menilai para korporasi tengah memanfaatkan suku bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan periode sama pada tahun lalu.
“Penerbitan surat utang korporasi memang akhirnya menghasilkan biaya dana atau kupon lebih murah dibandingkan dengan korporasi mengambil pendanaan yang biasa mereka lakukan ke perbankan, sehingga memang akhirnya penerbitan di kuartal pertama ini relatif cukup masih semarak,” katanya.
Selain itu, Pefindo mencatat emiten berperingkat AAA turut mendominasi penerbitan sebesar Rp25,36 triliun, peringkat AA sebesar Rp16 triliun, dan single A senilai 17,99 triliun. Belum ada perusahaan yang menerbitkan surat utang di bawah peringkat single A pada tahun ini.
Dari segi tujuan, penerbitan surat utang pada kuartal I/2026 didominasi kebutuhan modal kerja sebesar Rp30,91 triliun. Realisasi ini naik dari Rp19,40 triliun untuk kebutuhan modal kerja pada Januari—Maret 2025.
Sementara kebutuhan refinancing kini hanya sebesar Rp12,85 triliun, turun dari Rp25,05 triliun pada periode yang sama 2025. Sisanya, kebutuhan investasi juga naik dari Rp2,28 triliun menjadi Rp15,60 triliun pada tiga bulan pertama 2026.
Secara sektoral, industri pembiayaan masih mendominasi penerbitan dengan nilai Rp10,7 triliun pada Januari—Maret 2026. Adapun perusahaan induk menerbitkan surat utang senilai Rp9,2 triliun dan perbankan Rp8,7 triliun.
Manajer Investasi Jaga Optimisme, Kala AUM Melorot
Manajer investasi Indonesia tetap optimis meski AUM turun 2,49% pada Maret 2026 akibat sentimen global negatif. Fokus pada strategi adaptif dan pertumbuhan moderat. [1,057] url asal
#reksa-dana #pasar-modal #dana-kelolaan #asset-under-management #aum-indonesia #pasar-saham #pasar-obligasi #manajer-investasi #ihsg-terkoreksi #yield-sbn #reksa-dana-saham #reksa-dana-pasar-uang #risi
(Bisnis.Com - Market) 10/04/26 03:00
v/187063/
Bisnis.com, JAKARTA – Sentimen negatif telah menggerus total dana kelolaan/Asset Under Management (AUM) industri reksa dana RI. Namun, selalu ada harapan dari manajer investasi (MI) agar kondisi pasar keuangan global menjadi membaik.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total dana kelolaan industri reksa dana Tanah Air susut 2,49% sepanjang Maret 2026 menjadi Rp699,64 triliun. Realisasi itu menurun jika dibandingkan total AUM yang tumbuh pada Februari 2026 menjadi Rp717,55 triliun.
Padahal, kondisi pasar modal Tanah Air sebetulnya telah mencatatkan pelemahan sejak Februari 2026. Kala itu, MSCI Inc membekukan rebalancing saham Tanah Air dalam indeks mereka dan sontak membuat IHSG ambles berjilid-jilid.
Selepas MSCI, sejumlah lembaga keuangan global juga menurunkan outlook terhadap utang Indonesia menjadi negatif. Hal itu turut menekan kinerja pasar SBN Tanah Air, dengan yield melemah 1,26% selama Februari hingga terkoreksi 8,34% year-to-date (YtD).
Namun, pada Februari 2026, kinerja pasar reksa dana Tanah Air tampak masih resilien. Data OJK menunjukkan bahwa masih terdapat pertumbuhan total dana kelolaan industri reksa dana sebesar 1,58% pada Februari.
Memasuki Maret 2026, kondisi pasar keuangan global memburuk. Perang yang berkecamuk antara Iran—AS & Israel telah membuat investor global memasang sikap risk-off terhadap pasar investasi dan melarikan dananya ke aset safe haven seperti emas atau dolar AS.
Hal itu membuat pasar modal Indonesia kian tertekan. Sepanjang tahun ini, pasar saham telah mencatatkan net sell asing senilai Rp35,59 triliun dan senilai Rp22,51 triliun di pasar SBN. IHSG akhirnya terkoreksi 15,49% YtD dan yield SBN tercatat melemah ke level 6,70% hari ini, Kamis (9/4/2026).
Kondisi pasar yang melemah juga membuat investor berbondong-bondong pergi dari instrumen reksa dana berisiko. Sepanjang Maret 2026, data OJK menunjukkan penurunan 8,45% pada reksa dana saham, 5,44% pada RDPT, 7,02% pada reksa dana indeks, 5,60% pada reksa dana campuran, dan 6,20% pada reksa dana sukuk.
Sebaliknya, reksa dana pasar uang (RDPU) justru tercatat tumbuh 4,38% pada Maret 2026, menjadi yang tertinggi di antara seluruh aset reksa dana yang tercatat di OJK. Hal ini menunjukkan bahwa kendati investor tengah bersikap risk off terhadap pasar investasi, tetapi tidak semua investor menarik dananya dari pasar modal dan memilih stay invested.
Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi, menerangkan saat ini, pasar modal Tanah Air tengah berada dalam fase adjustment. Artinya, investor dinilai tengah melakukan proses ripricing risiko di tengah beragam sentimen yang ada.
Terhadap pasar saham, Reza menilai tekanan jangka pendek masih berisiko terjadi, terutama lantaran dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian global dan sikap investor yang lebih selektif terhadap aset berisiko. Sementara dalam jangka menengah hingga panjnag, fundamental pasar saham domestik dinilai relatif kuat dan memiliki valuasi yang kian menarik selepas koreksi sepanjang tahun berjalan 2026.
Terhadap pasar obligasi, Henan memandang outlook yang relatif stabil, dengan SBN dan obligasi korporasi tetap menjadi komponen utama dalam portofolio perusahaan. Menggunakan pendekatan yang mengintegrasikan analisis suku bunga, likuiditas, dan risiko kredit yang matang, Henan menyebut hal ini memungkinkan produk RDPT tetap defensif, tetapi optimal dalam menelurkan imbal hasil.
Di tengah kondisi ini, Henan menerapkan pendekatan yang memungkinkan portofolio reksa dana tetap adaptif terhadap perubahan siklus, sekaligus menjaga potensi alpha dalam berbagai kondisi pasar yang kian tidak menentu ke depannya.
”Dalam fase risk-off, Henan tidak hanya bersikap defensif, tetapi mengoptimalkan fleksibilitas strategi melalui pendekatan multistrategi yang mencakup long bias, contrarian value, beta management, dan momentum,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Kamis (9/4/2026).
Terhadap RDPT, strategi difokuskan memilih surat utang melalui pengelolaan durasi yang aktif serta seleksi yang ketat. Henan memperpendek durasi obligasi untuk meredam sensitivitas arah suku bunga, sekaligus memperbesar eksposur pada SBN dan obligasi korporasi yang memiliki fundamental solid.
Sementara terhadap reksa dana saham, strategi long bias diarahkan pada saham yang memiliki daya tahan terhadap volatilitas siklus. Di satu sisi, contrarian value dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham undervalued dengan fundamental solid.
”Beta management digunakan untuk mengatur eksposur pasar secara keseluruhan, sementara momentum dimanfaatkan secara selektif pada saham dengan tren kuat yang didukung oleh fundamental,” katanya.
Di satu sisi, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM) Eri Kusnadi, menerangkan bahwa di tengah kondisi saat ini, pihaknya masih melakukan pengelolaan reksa dana sesuai dengan mandat yang ada.
Terhadap reksa dana saham, Batavia Prosperindo lebih berfokus pada earning visibility yang tinggi dan mampu bertahan dari kondisi saat ini. Dia memberikan contoh saham komoditas yang cenderung diuntungkan lewat kian panasnya harga energi.
”Untuk obligasi, kami memendekkan durasi govies dan mempertahankan seleksi pada good quality corporate bonds,” tegasnya kepada Bisnis, Kamis (9/4/2026).
Pertahankan Target AUM
Kedua manajer investasi ini sepakat, bahwa kendati di tengah kondisi pasar yang risk-off, target AUM pada akhir tahun masih memungkinkan untuk dicapai.
”Kami tetap mempertahankan target dana kelolaan kami tahun ini karena masih cukup reasonable dan achievable,” kata Eri.
Meskipun begitu, Eri enggan menerangkan besaran target AUM yang ingin dicapai Batavia Prosperindo pada tahun ini. Berdasarkan wawancara dengan Bisnis sebelumnya, Batavia Prosperindo telah mencatatkan AUM senilai Rp49,37 triliun per Desember 2025, tumbuh 9,6% YoY.
Sementara Henan Putihrai AM, mengatakan bahwa pihaknya tidak melakukan revisi target AUM secara agresif, tetapi lebih melakukan penyesuaian ekspektasi dengan tetap menjaga disiplin terhadap strategi yang telah disepakati.
Saat ini, fokus utama HPAM bukan sekadar kuantitas AUM, melainkan kualitas dana kelolaan yang tecermin dari stabilitas dana, tingkat retensi investor, hingga kesesuaiannya dengan profil risiko. Pendekatan ini disebut sejalan dengan perspektif investasi HPAM yang tidak hanya berorientasi pada akumulasi dana, tetapi juga pada keberlanjutan kinerja dan kepercayaan investor.
”Dengan mekanisme investasi yang terstruktur, kami memastikan bahwa setiap pertumbuhan dana kelolaan didukung oleh proses investasi yang robust dan terukur. Target hingga akhir 2026 tetap diarahkan pada pertumbuhan moderat yang konsisten dengan kondisi pasar,” katanya.
Terlebih, di tengah fenomena investor untuk stay invested, Henan merespons tren ini dengan memperkuat instrumen pasar uang dan pendapatan tetap sebagai core allocation untuk menjaga stabilitas portofolio.
”Ke depan, pengembangan produk akan difokuskan pada solusi investasi dengan profil risiko rendah hingga menengah, likuiditas tinggi, serta stabilitas kinerja,” katanya.
Sementara Batavia Prosperindo mengatakan, di tengah kebutuhan investor untuk tetap mengalokasikan dananya pada instrumen investasi, pihaknya dapat saja menerbitkan produk baru apabila terdapat kebutuhan.
”Jika masih bisa dipenuhi lewat produk yang ada, kami rasa tidak perlu keluarkan produk baru,” katanya.
Melihat data Bareksa, Batavia Prosperindo memiliki sedikitnya 3 produk RDPU. Produk Batavia Dana Kas Maxima misalnya, mampu membukukan kenaikan 0,93% YtD dengan total dana kelolaan mencapai Rp18 triliun.
Sabet Most Trusted Financial Brands Awards 2026, Bukti PT IIM Kantongi Kepercayaan Publik
PT Insight Investments Management (PT IIM) kembali menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan dalam ajang Most Trusted Financial Brands Awards 2026. PT Insight... | Halaman Lengkap [1,144] url asal
#pt-insight-investments-management #manajer-investasi #reksa-dana #kepercayaan-publik
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 08/04/26 18:22
v/185518/
JAKARTA - PT Insight Investments Management (PT IIM) kembali menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan dalam ajang Most Trusted Financial Brands Awards 2026. Acara penganugerahan tersebut diselenggarakan di Mezzanine Ballroom, Hotel Aryaduta, Jakarta pada Selasa 31 Maret 2026.Dalam ajang tersebut, PT IIM berhasil meraih penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 pada kategori Manajer Investasi Reksa Dana Pendapatan Tetap. Pengakuan ini diberikan kepada PT IIM karena dinilai berhasil membangun dan menjaga kepercayaan publik melalui kinerja, integritas, serta kualitas layanan yang konsisten.
Pencapaian ini menjadi salah satu tolok ukur penting bagi masyarakat dalam memilih institusi keuangan yang terpercaya sekaligus mencerminkan komitmen PT IIM dalam menghadirkan produk investasi yang kredibel, transparan, dan berorientasi pada kepentingan investor.
Most Trusted Financial Brands Awards merupakan ajang penghargaan tahunan yang bertujuan untuk mendorong industri keuangan di Indonesia agar terus meningkatkan kualitas layanan dan inovasi produk. Penilaian penghargaan ini dilakukan melalui survei yang melibatkan 13.000 responden berusia 18 hingga 56 tahun dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, menggunakan metode multistage random sampling.
Meneropong Market Outlook 2026 dan Strategi Investasi Reksa Dana
Hasil survei kemudian diproses melalui validasi ketat oleh tim Infovesta dan InvestorTrust guna memastikan bahwa penerima penghargaan benar-benar memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi di mata publik.
Direktur PT IIM, Ria M Warganda menyampaikan, apresiasi atas penghargaan tersebut, serta berterima kasih kepada investor dan mitra distribusi atas kepercayaan yang diberikan kepada PT IIM.
“Penghargaan ini menjadi kebanggaan PT IIM dan bentuk kepercayaan seluruh investor dan mitra distribusi yang telah diberikan dan berjalan bersama kami hingga hari ini. Tidak hanya dalam menghasilkan kinerja yang baik, tetapi juga dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan sesuai dengan komitmen PT IIM, Transforming Investment into Social Impact. Hal ini karena seluruh produk Reksa Dana PT IIM memiliki fitur kontribusi sosial,” ujar Ria dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/4/2026).
Ria menambahkan bahwa PT IIM sangat bersyukur mendapatkan penghargaan dalam kategori Reksa Dana Pendapatan Tetap. Ini sejalan dengan pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana sepanjang tahun 2025, khususnya pada segmen reksa dana pendapatan tetap.
Berdasarkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) - Desember 2025, total dana kelolaan industri reksa dana Indonesia (tidak termasuk KPD) mencapai Rp703,26 triliun per akhir Desember 2025. Meningkat sekitar 32% dari Rp533,06 triliun per akhir Desember 2024.
Dalam periode tersebut, reksa dana pendapatan tetap mencatat pertumbuhan tertinggi berkisar 65% dalam satu tahun dengan total dana kelolaan mencapai Rp241,97 triliun. Capaian ini menegaskan bahwa reksa dana pendapatan tetap menjadi salah satu pilihan utama investor, terutama di tengah kondisi pasar yang dinamis, didukung oleh kinerja historis yang relatif stabil serta potensi imbal hasil yang kompetitif.
“Sepanjang tahun 2025, reksa dana pendapatan tetap terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap industri reksa dana, sekaligus menjadi salah satu pilihan utama investor di tengah ketidakpastian ekonomi, karena didukung oleh kinerja historis yang relatif stabil serta potensi imbal hasil yang kompetitif,” jelas Ria.
Melalui pencapaian ini, PT IIM berharap dapat terus memperkuat perannya sebagai manajer investasi terpercaya sekaligus berkontribusi dalam mendorong perkembangan industri keuangan nasional yang sehat dan berkelanjutan.
Pertumbuhan jumlah investor ritel di Indonesia terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Mengacu pada data yang sama dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Desember 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat mencapai 20.347.147.
Dari jumlah tersebut, komposisi investor masih didominasi oleh investor individu yang mencapai 99,73%, sementara investor institusi hanya sekitar 0,27%. Secara lebih rinci, jumlah investor individu tercatat sebanyak 20.292.599 pada Desember 2025, meningkat dari 14.826.867 pada Desember 2024. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan investor pasar modal indonesia masih ditopang oleh meningkatnya partisipasi investor ritel.
Mendorong Reksa Dana Syariah Jadi Opsi Pengelolaan Wakaf Uang
Ria menyampaikan bahwa tren ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional. Pencapaian tersebut juga menjadi momentum bagi perusahaan untuk semakin memperkuat perannya di tengah pertumbuhan jumlah investor ritel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam investasi menunjukkan semakin tingginya kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan keuangan dan investasi jangka panjang.
“Merespons pertumbuhan investor ritel, PT IIM terus memperluas kerja sama dengan berbagai mitra distribusi guna memastikan produk reksa dana Insight dapat diakses lebih luas oleh masyarakat. PT IIM juga berkomitmen menghadirkan solusi investasi yang inovatif dan mudah diakses melalui aplikasi InvestasiIN," terang dia.
"Sebagai aplikasi yang menghadirkan kontribusi sosial dalam investasi, InvestasiIN tidak hanya memudahkan transaksi reksa dana secara digital, tetapi juga memungkinkan investor berpartisipasi dalam kegiatan sosial,” tuturnya.
“Pertumbuhan investor ritel di Indonesia membuka peluang besar bagi industri pengelolaan investasi untuk menghadirkan produk yang semakin inovatif dan mudah diakses. PT IIM berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi investasi yang relevan dengan kebutuhan investor ritel sekaligus menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat,” sambung Ria.
Selain jumlah yang terus meningkat, karakteristik investor ritel di Indonesia juga mengalami perubahan. Investor baru umumnya lebih digital savvy, semakin sadar terhadap risiko investasi, serta mulai memprioritaskan diversifikasi portofolio dalam mengelola aset mereka.
Mereka juga cenderung mencari kemudahan dan kenyamanan dalam melakukan transaksi investasi melalui aplikasi digital.
Seiring dengan meningkatnya partisipasi investor ritel tersebut, kebutuhan masyarakat terhadap produk investasi yang tidak hanya memberikan potensi imbal hasil, tetapi juga relevan dengan tujuan keuangan tertentu semakin meningkat.
Untuk itu, PT IIM menghadirkan program investasi melalui produk Reksa Dana Insight Haji Syariah (I-Hajj Syariah Fund) yang dirancang untuk memberikan alternatif investasi yang sesuai dengan profil risiko investor, khususnya bagi investor dengan profil risiko moderat.
Reksa Dana Insight Haji Syariah (I-Hajj Syariah Fund) memiliki rekam jejak panjang yang relatif stabil sejak diluncurkannya pada tahun 2005. Produk ini menjadi solusi investasi yang kompetitif dan selaras dengan nilai kebermanfaatan jangka panjang bagi investor maupun bagi sesama yang membutuhkan.
Hingga Februari 2026, investor telah membantu memberangkatkan 1.349 jemaah melaksanakan ibadah haji dan umrah melalui penyisihan dana infaq haji produk Reksa Dana Insight Haji Syariah. Para jemaah yang diberangkatkan merupakan masyarakat terpilih dengan keterbatasan finansial/pra-sejahtera namun mempunyai impact positif terhadap masyarakat dan lingkungan masing-masing.
Berdasarkan Fund Fact Sheet per akhir Februari 2026, Reksa Dana Insight Haji Syariah (I-Hajj Syariah Fund) mencerminkan performa yang positif dan menunjukkan kinerja historis yang solid. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2005, I-Hajj Syariah Fund telah mencatatkan pertumbuhan kumulatif sebesar 460,47%.
Capaian ini mencerminkan konsistensi pengelolaan portofolio dalam jangka panjang serta kemampuan produk dalam memberikan nilai tambah bagi investor. Kinerja tersebut juga sejalan dengan tren meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi syariah yang tidak hanya memberikan potensi imbal hasil, tetapi juga selaras dengan prinsip investasi berbasis syariah. Dengan rekam jejak kinerja yang panjang, produk ini menjadi salah satu alternatif bagi investor yang ingin merencanakan tujuan keuangan jangka menengah hingga panjang.
Agar investasi lebih terarah, reksa dana dapat menjadi salah satu pilihan karena dikelola secara profesional oleh manajer investasi serta ditempatkan pada berbagai instrumen keuangan sehingga portofolionya menjadi lebih terdiversifikasi. Selain diakses melalui berbagai mitra distribusi yang telah bekerja sama dengan PT IIM, investor dapat berinvestasi melalui aplikasi investasiIN.
Adu Jumbo AUM MI Himbara Vs Manulife-Schroders
Danantara AM menjadi pengelola dana terbesar di Indonesia setelah merger MI Himbara, menggeser Manulife. MAMI dan Schroders bergabung untuk memperkuat posisi. [819] url asal
#manajer-investasi #industri-manajer-investasi #dana-kelolaan #aum-reksa-dana #konsolidasi-manajer-investasi #merger-danantara #manulife-schroders #investasi-tanah-air #pasar-modal-indonesia #pertumbuh
(Bisnis.Com - Market) 08/04/26 16:35
v/185343/
Bisnis.com, JAKARTA – Industri manajer investasi (MI) Tanah Air kini masuk pada babak baru persaingan yang kian ketat antarperusahaan. Aksi konsolidasi dua raksasa manajer investasi di Tanah Air, telah menyibak pertarungan baru antar raksasa pengelola dana investasi di pasar domestik.
Dalam pengumumannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), tiga perbankan pelat merah secara kompak mengumumkan konsolidasi entitas usahanya kepada PT Danantara Asset Management (DAM). Danantara disebut akan menggabungkan entitas anak PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang bergerak di bidang manajer investasi.
Sejumlah entitas bank Himbara ini diprediksi mengelola aset senilai hingga US$8 miliar. Dengan asumsi kurs Jisdor Rp17.015 per dolar AS, nilai dana kelolaan ini bahkan mencapai Rp136,12 triliun. Untuk memboyong ketiga entitas ini, Danantara bahkan mesti merogoh kocek hingga Rp2,69 triliun.
Melansir data Bareksa, tiga MI Himbara yang diboyong Danantara ini masuk sebagai perusahaan dengan dana kelolaan terjumbo di industri manajer investasi. BRI Manajemen Investasi (BRI MI) memiliki dana kelolaan Rp51,99 triliun, BNI Asset Management (AM) senilai Rp31,34 triliun, dan Mandiri Manajemen Investasi senilai Rp44,50 triliun.
Dengan kata lain, aksi merger ini menjadikan Danantara AM sebagai penggenggam dana kelolaan terbesar di industri manajer investasi, dengan nilai mencapai Rp127,83 triliun. Torehan itu mencerminkan sekitar 12,36% dari total dana kelolaan industri manajer investasi Tanah Air senilai Rp1.033,81 triliun per 2025.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir, menerangkan langkah yang diambil Danantara AM terhadap MI Himbara ini sebagai bagian Danantara untuk merampingkan dan memperbesar institusi tersebut.
Selain itu, Pandu enggan berkomentar banyak. Dia hanya menerangkan bahwa pihaknya belum menentukan target profil investor selepas aksi merger terlaksana.
”Itu [merger] kan bagian dari Danantara untuk merampingkan dan juga memperbesar institusi. Jadi salah satu caranya adalah melakukan merger beberapa perusahaan yang sebenarnya agak mirip-mirip,” katanya saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (7/4/2026).
Aksi konsolidasi ini sekaligus menggeser posisi Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) sebagai pemegang dana kelolaan terbesar di Tanah Air selama bertahun-tahun lamanya. Per Desember 2025, MAMI menggenggam dana kelolaan reksa dana mencapai Rp63,57 triliun, menempati urutan pertama dengan pangsa pasar mencapai 9%.
Meskipun begitu, aksi konsolidasi Danantara ini tidak serta merta menjadikannya penguasa pasar. Aksi akuisisi Schroders oleh MAMI berpotensi mempertahankan daya saing Manulife di industri manajer investasi. Aksi ini telah resmi rampung pada 1 April 2026.
Rampungnya aksi akuisisi ini juga menandai dimulainya proses integrasi antara MAMI dan Schroders Indonesia. Secara sementara, kedua perusahaan bakal mempertahankan masing-masing struktur sembari melakukan proses penggabungan secara bertahap.
Dalam catatan Bareksa, Schroders setidaknya memiliki dana kelolaan dengan total mencapai Rp53 triliun. Hanya saja, belum terang besaran AUM reksa dana Schroders. Meskipun begitu, total dana kelolaan MAMI selepas aksi akuisisi ini diperkirakan mencapai sedikitnya Rp116,57 triliun.
”Dengan selesainya transaksi ini, posisi kuat MAMI di pasar serta wawasan investasi globalnya, akan dilengkapi dengan keahlian investasi lokal Schroders Indonesia dan hubungan jangka panjangnya dengan mitra distribusi maupun nasabah institusi,” kata CEO Wealth and Asset Management Manulife Asia Fabio Fontainha.
MAMI menyebut bahwa platform gabungan ini akan menghadirkan skala yang lebih besar, sumber daya investasi yang lebih mendalam, dan rangkaian solusi yang lebih luas untuk memberikan hasil jangka panjang yang menarik bagi investor.
Artinya, kehadiran Schroders bakal meningkatkan kemampuan MAMI dalam menghadirkan solusi investasi yang kian berkualitas dan memperkuat kepemimpinan MAMI di industri manajer investasi.
Peluang Industri Manajer Investasi RI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada awal tahun ini menyampaikan bahwa industri pengelolaan investasi di Tanah Air mencatatkan pertumbuhan yang signifikan sepanjang 2025. Dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksa dana bahkan meningkat hingga 35,94% pada 2025.
Pada periode tersebut, OJK mencatat total AUM industri pengelolaan investasi mencapai Rp1.033,81 triliun per Desember 2025, atau tumbuh 23,46% secara tahunan (Year on Year/YoY).
Di sisi lain, AUM reksa dana mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 35,94% YoY pada 2025 menjadi Rp658,69 triliun. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana juga meningkat 35,26% YoY menjadi Rp675,32 triliun, mencerminkan tingginya minat investor terhadap industri pengelolaan investasi domestik.
Terbaru, di tengah pelemahan pasar modal, NAB industri reksa dana justru hanya mencatatkan pelemahan yang tipis. Per Maret 2026, nilainya mencapai Rp699,64 triliun, turun hanya 2,49% dibandingkan Februari 2026.
Lesunya kinerja industri reksa dana sebetulnya sejalan dengan kinerja pasar modal Tanah Air yang dilanda beragam sentimen. Namun, kondisinya jauh lebih baik dibandingkan instrumen lainnya. Di pasar saham, IHSG tercatat turun 15,96% YtD, yield acuan SBN melemah ke level 6,75%, serta penawaran dalam lelang SUN dan sukuk mengalami penurunan sepanjang tahun.
Meski demikian, OJK mencatat per Maret 2026 terdapat tambahan sekitar 1,78 juta investor baru di pasar modal domestik. Dengan perkembangan tersebut, jumlah investor pasar modal sepanjang 2026 meningkat 21,51% menjadi 24,74 juta.
Kondisi yang kontras ini mencerminkan tingginya kebutuhan investor untuk tetap berinvestasi di berbagai kondisi pasar, sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi industri pengelolaan investasi di Indonesia.
Bahana Sekuritas Gandeng Recapital AM Perluas Akses Produk Investasi
Kolaborasi ini diharapkan memperkuat distribusi produk. [276] url asal
#bahana-sekuritas #recapital-asset-management #reksa-dana #investasi #pasar-modal #inklusi-keuangan #produk-investasi #manajer-investasi #distribusi-investasi #literasi-keuangan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Bahana Sekuritas menjalin kemitraan dengan PT Recapital Asset Management untuk memperluas akses investasi bagi masyarakat. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat distribusi produk sekaligus meningkatkan kualitas layanan di pasar modal.
Kerja sama tersebut ditandai melalui partnership ceremony di Kantor Recapital Asset Management yang dihadiri Direktur Utama Bahana Sekuritas Reza Benito Zahar dan Direktur Utama Recapital Asset Management Alvin Pattisahusiwa bersama jajaran manajemen kedua perusahaan.
Bahana Sekuritas menilai kemitraan ini penting untuk menghadirkan produk investasi yang lebih beragam dan relevan dengan kebutuhan nasabah. Recapital Asset Management dinilai memiliki rekam jejak panjang sebagai manajer investasi di pasar modal Indonesia.
Direktur Utama PT Bahana Sekuritas Reza Benito Zahar mengatakan, kolaborasi ini juga mencerminkan komitmen bersama dalam mendorong pertumbuhan pasar modal yang sehat.
“Kemitraan ini, juga merupakan wujud nyata dari komitmen resiprokal kedua belah pihak. Dengan membawa harapan besar bahwa ke depannya, kerjasama ini tidak hanya akan memajukan bisnis kita secara signifikan, tetapi juga berkontribusi pada tanggung jawab inklusi keuangan kepada masyarakat secara lebih luas,” kata Reza dalam siaran pers, Rabu (1/4/2026)
Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan memperkenalkan empat produk investasi yang disesuaikan dengan profil risiko nasabah. Produk tersebut mencakup reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, hingga saham.
Recapital Money Market Liquid ditujukan bagi investor konservatif yang mengutamakan likuiditas. Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang menyasar investor yang mencari imbal hasil optimal dengan risiko terukur.
Recapital Balance Fund menawarkan kombinasi instrumen saham dan obligasi untuk profil moderat. Sementara Recapital Equity ditujukan bagi investor agresif yang membidik pertumbuhan jangka panjang di pasar saham.
Kolaborasi ini diharapkan mendorong pertumbuhan bisnis kedua perusahaan sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan melalui produk yang lebih mudah diakses dan transparan.
Manulife (MAMI) Resmi Akuisisi Schroders Indonesia, Sah jadi Raksasa Manajer Investasi
Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) resmi mengakuisisi Schroders Indonesia, memperkuat posisinya sebagai raksasa manajer investasi di Indonesia. [491] url asal
#manulife-akuisisi #schroders-indonesia #manajer-investasi #mami-schroders #investasi-indonesia #otoritas-jasa-keuangan #penggabungan-manajer-investasi #solusi-investasi #pasar-investasi-indonesia #man
(Bisnis.Com - Market) 01/04/26 12:19
v/178572/
Bisnis.com, JAKARTA –PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) secara resmi mengakuisisi PT Schroder Investment Management Indonesia selepas mengantongi persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rabu (1/4/2026).
CEO Wealth and Asset Management Manulife Asia Fabio Fontainha menyampaikan aksi akuisisi ini mencerminkan komitmen jangka panjang Manulife di Indonesia dan akan semakin memperkuat cengkeraman MAMI sebagai salah satu manajer investasi terbesar di Tanah Air.
Penggabungan dua manajer investasi terkemuka Tanah Air ini, dinilai bakal memberikan kesempatan untuk menawarkan kapasitas inovasi yang lebih tinggi dan wawasan global untuk memberikan solusi bagi layanan investasi perusahaan.
“Langkah ini memperkokoh fondasi pertumbuhan kami dan memposisikan kami untuk menghadapi dinamika pasar dengan lebih jelas serta tetap fokus memberikan nilai jangka panjang,” katanya dalam keterangan resminya, Rabu (1/4/2026).
Rampungnya aksi akuisisi ini juga menandai dimulainya proses integrasi antara MAMI dan Schroders Indonesia. Secara sementara, kedua perusahaan bakal mempertahankan masing-masing struktur sembari melakukan proses penggabungan secara bertahap.
Seluruh pihak terkait, seperti nasabah, mitra, dan karyawan disebut akan menerima pemberitahuan secara berkala terkait branding, perubahan produk, serta penyempurnaan operasional untuk memastikan kejelasan dan kesinambungan sepanjang proses transisi.
”Dengan selesainya transaksi ini, posisi kuat MAMI di pasar serta wawasan investasi globalnya, akan dilengkapi dengan keahlian investasi lokal Schroders Indonesia dan hubungan jangka panjangnya dengan mitra distribusi maupun nasabah institusi,” katanya.
MAMI menyebut bahwa platform gabungan ini akan menghadirkan skala yang lebih besar, sumber daya investasi yang lebih mendalam, dan rangkaian solusi yang lebih luas untuk memberikan hasil jangka panjang yang menarik bagi investor.
Artinya, kehadiran Schroders bakal meningkatkan kemampuan MAMI dalam menghadirkan solusi investasi yang kian berkualitas dan memperkuat kepemimpinan MAMI di industri manajer investasi.
Gayung bersambut, CEO & President Director Schroders Indonesia Michael T. Tjoajadi, menerangkan selepas aksi akuisisi ini, pihaknya bakal berupaya untuk menjaga budaya yang telah terbentuk di perusahaan, sembari memberikan akses terhadap sumber daya yang lebih luas, hingga kapabilitas yang lebih dalam.
”Kami siap memberikan kontribusi melalui keahlian kami dalam organisasi besar dengan reputasi tinggi ini,” katanya.
Kese Diumumkan Sejak September 2025
Rencana akuisisi Schroders Indonesia oleh Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) telah diumumkan sejak September 2025 lalu. Penggabungan dua manajer investasi (MI) raksasa itu bakal menggenggam pangsa pasar yang sangat gemuk.
Rencana akuisisi itu tertuang dalam penandatanganan perjanjian yang dilakukan oleh Manulife Wealth & Asset Management dan Schroder Investment Management Limited pada Rabu (24/9/2025). Transaksi ini diharapkan akan selesai setelah seluruh persyaratan penutupan tertentu terpenuhi, termasuk persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Melansir data OJK nilai dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana MAMI mencapai Rp63 triliun per Desember 2025. Sedangkan ditambah Kontrak Pengelolaan Dana (KPD), AUM MAMI mencapai Rp124,3 triliun. Nilai itu merupakan yang terbesar di industri.
Sementara itu, Schroders Indonesia telah beroperasi di Indonesia sejak 1991, dan membangun bisnis pengelolaan investasi pada 1997. Per Desember 2025, Schroders Indonesia mengelola aset lebih dari IDR 53 triliun.
Sebagai gambaran, OJK mencatat total AUM industri reksa dana pada tahun lalu mencapai Rp675,3 triliun. Sedangkan dengan memasukkan KPD mencapai Rp1.041 triliun.
Sinarmas AM Bidik Dana Kelolaan AUM Tembus Rp70 Triliun pada 2026
Sinarmas Asset Management menargetkan dana kelolaan Rp70 triliun pada 2026 dengan strategi produk baru dan teknologi, serta memperkenalkan reksa dana global berbasis S&P 500 ESG Shariah. [396] url asal
#sinarmas-asset-management #dana-kelolaan #asset-under-management #aum-2026 #produk-investasi-anyar #manajer-investasi #industri-manajer-investasi #pertumbuhan-dana-kelolaan #teknologi-analisis-data
(Bisnis.Com - Market) 11/03/26 01:00
v/161108/
Bisnis.com, JAKARTA – PT Sinarmas Asset Management menargetkan total dana kelolaan atau asset under management (AUM) mencapai Rp70 triliun pada 2026. Proyeksi pertumbuhan dana kelolaan itu didorong oleh sederet upaya menerbitkan produk-produk anyar.
Presiden Direktur Sinarmas Asset Management Alex Widjajakusuma mengungkapkan hingga saat ini total dana kelolaan yang digenggam Sinarmas AM mencapai Rp65 triliun. Angka tersebut bertumbuh sekitar Rp3 triliun dari Rp62,39 triliun pada akhir 2025.
”Saat ini kami mengelola dana investasi, total dana kelolaan kami mencapai Rp65 triliun. Dan, kami menargetkan pertumbuhan dana kelolaan hingga mencapai Rp70 triliun melalui pengembangan berbagai produk investasi,” katanya dalam Market Outlook Sinarmas AM, Selasa (10/3/2026).
Optimisme Sinarmas AM terutama didasarkan pada potensi pertumbuhan industri manajer investasi dalam negeri. Alex menerangkan bahwa total dana kelolaan industri manajer investasi di Tanah Air telah melampaui Rp1.800 triliun, dengan total produk mencapai 2.385 aset dan sedikitnya 20 juta nasabah.
Alex menerangkan bahwa pertumbuhan tersebut telah mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap instrumen investasi yang dikelola oleh manajer investasi Tanah Air. Hal ini sekaligus menunjukkan peran strategis industri manajer investasi dalam mendorong pengembangan pasar keuangan dalam negeri.
Salah satu upaya Sinarmas AM dalam mencapai target tersebut adalah dengan mengandalkan pemanfaatan teknologi analisis data dan AI dalam pengelolaan portofolio. Upaya ini diklaim telah mampu memberikan imbal hasil yang kompetitif di tengah volatilitas pasar global.
Alex menyebut, penggunaan teknologi dalam strategi investasi Sinarmas telah terbukti memberikan return sebesar 53% selama satu tahun belakangan dan sebesar 64% selama tiga tahun belakangan hingga Desember 2025.
Sinarmas Asset Management juga sekaligus memperkenalkan produk teranyar perusahaan, berupa reksa dana global berbasis S&P 500 ESG Shariah Index. Chief Investment Officer Sinarmas AM Genta Wira Anjalu menerangkan bahwa produk ini sengaja dirancang untuk memberikan akses kepada investor Indonesia ke perusahaan-perusahaan AS.
”Produk ini dirancang untuk memberikan akses kepada investor Indonesia untuk berinvestasi pada perusahaan-perusahaan global yang terdiversifikasi, sekaligus memenuhi prinsip ESG serta syariah. Harapannya melalui produk ini, investor dapat memperoleh eksposur terhadap perusahaan-perusahaan global,” katanya.
Dalam mencapai target Rp70 triliun, Sinarmas AM tidak hanya berpegang pada reksa dana konvensional, tetapi juga akan menjual reksa dana dari berbagai aset kelas. Hal itu dilakukan lantaran kondisi pasar yang tengah mengalami volatilitas tinggi.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Manuver MI Atur Ulang Portofolio Reksa Dana saat Konflik Iran-AS Memanas
Manajer investasi mengatur ulang portofolio reksa dana di tengah ketegangan Iran-AS, fokus pada sektor defensif dan emiten yang diuntungkan kebijakan pemerintah. [974] url asal
#reksa-dana #manajer-investasi #pasar-modal #konflik-iran-as #strategi-portofolio #volatilitas-pasar #sektor-defensif #saham-berkapitalisasi-besar #reksa-dana-campuran #obligasi-tenor-pendek #keteganga
(Bisnis.Com - Market) 07/03/26 06:00
v/157632/
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah manajer investasi mengatur ulang strategi pengelolaan portofolio reksa dana di tengah volatilitas pasar modal domestik yang masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arus keluar dana asing.
Chief Investment Officer PT KISI Asset Management (KIM) Barkah mengatakan kondisi pasar modal Indonesia pada 2026 masih menghadapi tantangan, terutama di pasar saham. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak sepenuhnya suram.
Barkah memproyeksikan perlambatan di pasar modal Indonesia tidak akan permanen dan lebih bersifat siklus jangka menengah.
“Saat ini kami berusaha untuk melakukan rebalancing portofolio reksa dana saham dengan pendekatan lebih selektif, fokus pada sektor defensif dan emiten yang diuntungkan kebijakan pemerintah,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Beberapa sektor yang saat ini menjadi fokus investasi antara lain sektor konsumsi, infrastruktur, energi terbarukan, serta perbankan berkapitalisasi besar.
“Kami cukup optimistis kinerja reksa dana saham masih bisa melampaui indeks acuan, meskipun strategi yang digunakan lebih berhati-hati dan berbasis fundamental,” imbuhnya.
Sementara itu, pada produk reksa dana campuran, KIM cenderung meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko lebih rendah guna menjaga stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian global.
Langkah tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan pengelolaan risiko, sembari tetap membuka peluang dari saham atau sektor tertentu yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan.
Adapun pada reksa dana pendapatan tetap (RDPT), strategi yang ditempuh bersifat lebih fleksibel. Manajer investasi tidak hanya menambah porsi obligasi tenor pendek untuk meredam volatilitas, tetapi juga tetap mempertahankan sebagian alokasi pada tenor menengah hingga panjang.
Menurut Barkah, strategi tersebut dilakukan untuk memanfaatkan peluang capital gain apabila tren penurunan suku bunga benar-benar terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan dari sisi pasar obligasi, tekanan terutama datang dari kebijakan fiskal yang lebih agresif. Peningkatan belanja negara memunculkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit anggaran mendekati atau bahkan melampaui batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, ketegangan geopolitik global seperti konflik antara Iran dan Amerika Serikat juga berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas yang dapat memberi tekanan tambahan terhadap stabilitas pasar keuangan.
Rudiyanto menambahkan di pasar saham terjadi pergeseran aliran dana dari saham konglomerasi menuju saham berkapitalisasi besar (blue chip) serta emiten berbasis komoditas. Rotasi tersebut dinilai sejalan dengan ekspektasi perbaikan kinerja keuangan perusahaan.
Menurut Rudiyanto, apabila laporan keuangan emiten menunjukkan perbaikan, maka potensi peningkatan kinerja pasar saham akan semakin terbuka.
Di tengah kondisi tersebut, kinerja produk reksa dana saham Panin AM hingga awal Maret 2026 masih tercatat mampu mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja tersebut ditopang oleh strategi investasi yang menitikberatkan pada saham berorientasi value serta sektor komoditas.
Selain itu, beberapa produk reksa dana juga mulai masuk ke saham dengan prospek cerita pertumbuhan (story) yang menarik, meskipun valuasinya relatif tinggi.
Pada produk reksa dana campuran, Panin AM mempertahankan pendekatan alokasi yang relatif stabil. Porsi saham dalam portofolio biasanya telah ditetapkan dalam rentang tertentu, misalnya 20%–30%, 30%–40%, atau 40%–50%, sehingga tidak mengalami perubahan ekstrem.
“Dalam pengelolaan reksa dana pendapatan tetap, kami cenderung memilih obligasi dengan tenor pendek, jika koreksi harga cukup besar, bisa masuk tenor panjang,” katanya.
Sementara itu, Manajer Investasi PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen juga menyiapkan sejumlah strategi pengelolaan reksa dana di tengah kondisi pasar modal domestik yang masih berada dalam tekanan.
Sepanjang 2026, pasar modal Tanah Air menghadapi sejumlah tantangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi 10,83% secara year-to-date (YtD), antara lain dipicu oleh pembekuan rebalancing oleh MSCI Inc. serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran.
Kondisi serupa juga terjadi di pasar surat utang. Yield acuan obligasi pemerintah tenor 10 tahun bergerak ke level 6,52% setelah munculnya outlook negatif berturut-turut dari Moody’s dan Fitch Ratings terhadap prospek kredit Indonesia. Tekanan juga datang dari eskalasi perang Iran yang mendorong investor asing mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas dan obligasi Amerika Serikat.
“Kami melihat ada tantangan di pasar modal kita, khususnya setelah adanya teguran MSCI dan downgrade outlook di surat utang kita. Namun, secara umum sebenarnya fundamental kita masih cukup baik,” kata Direktur Batavia Prosperindo Eri Kusnadi kepada Bisnis, Kamis (5/3/2026).
Dengan begitu, dia menilai kondisi ini dapat menjadi momentum bagi pasar modal Tanah Air untuk berbenah sehingga dapat memberikan kualitas yang lebih baik ke depan.
Di tengah kondisi pasar saham yang lesu, Batavia disebut akan terus aktif mencari dan memposisikan portofolio pada emiten dengan fundamental yang solid. Sektor komoditas logam dan konsumer menjadi preferensi utama Batavia.
”Untuk mencari alpha [melampaui indeks acuan], kami rasa sekarang sudah tidak relevan untuk dijadikan tujuan utama. Tapi, kami masih tetap berupaya mencapai hal tersebut,” katanya.
Salah satu produk Batavia adalah Batavia Dana Saham. Reksa dana ini diisi oleh saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), BBCA, saham bank Himbara, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY), serta PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF). Produk tersebut mencatatkan kinerja terkoreksi 2,54% secara YtD, atau relatif lebih baik dibandingkan indeks acuan.
Begitu juga dengan Batavia Dana Saham Optimal yang terkoreksi 3,80% secara YtD. Kinerja reksa dana saham milik Batavia Prosperindo ini banyak dikontribusikan oleh ANTM, KLBF, BBRI, BBNI, HMSP, atau MYOR.
”Untuk pasar saham kami tetap mempertahankan filosofi kami sebagai MI yang fundamental active. Kami akan terus aktif mencari dan memposisikan portofolio pada underlying yang kuat fundamentalnya,” tambahnya.
Sementara terhadap reksa dana campuran, Eri menilai bahwa secara natural pihaknya akan memperbesar eksposur terhadap aset berisiko lebih rendah, seperti surat utang. Namun, Batavia tidak menutup kemungkinan untuk kembali menambah aset berisiko apabila valuasi telah cukup menarik.
Terhadap reksa dana pendapatan tetap (RDPT), pihaknya lebih memilih menambah eksposur terhadap surat utang jangka pendek mengingat yield tenor pendek masih cenderung lebih rendah dibandingkan yield acuan 10 tahun.
“Naturally seperti itu ya [memperbesar eksposur aset berisiko rendah] walaupun sewaktu-waktu kami dapat juga menambah aset berisiko apabila harga sudah cukup menarik secara valuasi,” tambahnya.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Konflik Timur Tengah Memanas, MI Atur Ulang Portofolio Reksa Dana
Manajer Investasi mengatur ulang portofolio reksa dana di tengah ketegangan Timur Tengah, fokus pada sektor defensif dan emiten yang diuntungkan kebijakan pemerintah. [493] url asal
#konflik-timur-tengah #manajer-investasi #reksa-dana #pasar-modal-indonesia #strategi-portofolio #sektor-defensif #saham-berkapitalisasi-besar #reksa-dana-campuran #aset-berisiko-rendah #obligasi-tenor
(Bisnis.Com - Market) 06/03/26 17:44
v/157332/
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah Manajer Investasi mengatur ulang strategi pengelolaan portofolio reksa dana di tengah volatilitas pasar modal domestik yang masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arus keluar dana asing.
Chief Investment Officer PT KISI Asset Management (KIM) Barkah mengatakan kondisi pasar modal Indonesia pada 2026 masih menghadapi tantangan, terutama di pasar saham. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak sepenuhnya suram.
Barkah memproyeksikan perlambatan di pasar modal Indonesia tidak akan permanen dan lebih bersifat siklus jangka menengah.
“Saat ini kami berusaha untuk melakukan rebalancing portofolio reksa dana saham dengan pendekatan lebih selektif, fokus pada sektor defensif dan emiten yang diuntungkan kebijakan pemerintah,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Beberapa sektor yang saat ini menjadi fokus investasi antara lain sektor konsumsi, infrastruktur, energi terbarukan, serta perbankan berkapitalisasi besar.
“Kami cukup optimistis kinerja reksa dana saham masih bisa melampaui indeks acuan, meskipun strategi yang digunakan lebih berhati-hati dan berbasis fundamental,” imbuhnya.
Sementara itu, pada produk reksa dana campuran, KIM cenderung meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko lebih rendah guna menjaga stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian global.
Langkah tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan pengelolaan risiko, sembari tetap membuka peluang dari saham atau sektor tertentu yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan.
Adapun pada reksa dana pendapatan tetap (RDPT), strategi yang ditempuh bersifat lebih fleksibel. Manajer investasi tidak hanya menambah porsi obligasi tenor pendek untuk meredam volatilitas, tetapi juga tetap mempertahankan sebagian alokasi pada tenor menengah hingga panjang.
Menurut Barkah, strategi tersebut dilakukan untuk memanfaatkan peluang capital gain apabila tren penurunan suku bunga benar-benar terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Direktur Panin AM Rudiyanto mengatakan dari sisi pasar obligasi, tekanan terutama datang dari kebijakan fiskal yang lebih agresif. Peningkatan belanja negara memunculkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit anggaran mendekati atau bahkan melampaui batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, ketegangan geopolitik global seperti konflik antara Iran dan Amerika Serikat juga berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas yang dapat memberi tekanan tambahan terhadap stabilitas pasar keuangan.
Rudiyanto menambahkan di pasar saham terjadi pergeseran aliran dana dari saham konglomerasi menuju saham berkapitalisasi besar (blue chip) serta emiten berbasis komoditas. Rotasi tersebut dinilai sejalan dengan ekspektasi perbaikan kinerja keuangan perusahaan.
Menurut Rudiyanto, apabila laporan keuangan emiten menunjukkan perbaikan, maka potensi peningkatan kinerja pasar saham akan semakin terbuka.
Di tengah kondisi tersebut, kinerja produk reksa dana saham Panin AM hingga awal Maret 2026 masih tercatat mampu mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja tersebut ditopang oleh strategi investasi yang menitikberatkan pada saham berorientasi value serta sektor komoditas.
Selain itu, beberapa produk reksa dana juga mulai masuk ke saham dengan prospek cerita pertumbuhan (story) yang menarik, meskipun valuasinya relatif tinggi.
Pada produk reksa dana campuran, Panin AM mempertahankan pendekatan alokasi yang relatif stabil. Porsi saham dalam portofolio biasanya telah ditetapkan dalam rentang tertentu, misalnya 20%–30%, 30%–40%, atau 40%–50%, sehingga tidak mengalami perubahan ekstrem.
“Dalam pengelolaan reksa dana pendapatan tetap, kami cenderung memilih obligasi dengan tenor pendek, jika koreksi harga cukup besar, bisa masuk tenor panjang,”katanya.
Payung Hukum OJK Terbit, ETF Emas Segera Meluncur
OJK menerbitkan aturan ETF emas, membuka peluang investasi baru. Tiga manajer investasi siap meluncurkan produk ini, meningkatkan diversifikasi portofolio. [1,410] url asal
#etf-emas #ojk #investasi-emas #manajer-investasi #pasar-modal-indonesia #regulasi-etf #aset-emas #transparansi-investor #perlindungan-investor #likuiditas-etf #diversifikasi-portofolio #produk-investa
(Bisnis.Com - Market) 05/03/26 08:00
v/155597/
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan aturan terkait dengan produk Exchange Traded Fund atau ETF emas. Payung hukum itu membuka jalan lahirnya instrumen investasi alternatif dengan underlying aset emas yang sudah dirancang tiga manajer investasi.
Beleid itu terbit melalui Peraturan OJK Nomor 2 Tahun 2026 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang Unit Penyertaannya Diperdagangkan di Bursa Efek dengan Aset yang Mendasari Berupa Emas atau ETF emas.
Dalam beleid yang diterima Bisnis, aturan tersebut mempertegas aturan terkait ETF Emas di pasar modal Indonesia. Regulasi ini mengatur secara terperinci mulai dari penamaan produk, standar kemurnian emas, mekanisme penilaian harga, hingga sanksi bagi pelanggar.
Tujuannya adalah meningkatkan transparansi, perlindungan investor, dan kredibilitas industri ETF berbasis emas.
"Setelah pernyataan pendaftaran efektif, ETF Emas wajib dicatatkan di bursa paling lambat 30 hari kerja," bunyi beleid yang dikutip, Rabu (4/3/2026).
Secara lebih terperinci, dalam aturan tersebut pada bagian Bab IV mengatur Pedoman Pengelolaan ETF Emas, pasal 17 menyebut nilai pasar wajar emas yang menjadi dasar perhitungan Nilai Aktiva Bersih (NAB).
Manajer Investasi wajib memilih satu acuan harga dari tiga opsi. Pertama, harga kuotasi aktif dari Penyedia Emas yang bisa diakses publik
Kedua, Harga acuan emas dari London Bullion Market Association (LBMA), dengan penyesuaian kurs dan standar kemurnian Ketiga, Harga dari lembaga penilai harga yang ditetapkan OJK.
Setelah menetapkan harga acuan emas, MI dilarang melakukan perubahan acuan perhitungan. Pada Bab yang sama bagian ketiga Pasal 19 aturan menegaskan komposisi portofolio ETF Emas. Paling sedikit atau minimal 95% dari NAB harus diinvestasikan pada aset emas.
Aturan baru menegaskan komposisi portofolio ETF emas yakni paling sedikit atau minimal 95% dari NAB harus diinvestasikan pada aset emas.
Aset emas yang dimaksud mencakup emas batangan, emas non-fisik, dan instrumen emas lain yang ditetapkan OJK. Sisanya, yakni maksimal 5% boleh ditempatkan pada instrumen pasar uang, deposito, atau kas.
Emas yang menjadi underlying ETF wajib memenuhi standar kemurnian yakni sebesar 99,9% untuk emas bersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan sebesar 99,5% untuk emas yang masuk daftar Good Delivery List LBMA.
Penyimpanan emas wajib dilakukan melalui Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian atau Bank Kustodian. Emas tersebut juga harus disimpan atas nama ETF dan tidak boleh dipinjamkan atau dialihkan selain untuk kepentingan ETF Emas. Adapun pihak yang ditunjuk oleh Lembaga Penyimpanan dan
Penyelesaian atau Bank Kustodian untuk melakukan Penyimpanan Emas dapat merupakan Pihak yang sama dengan Penyedia Emas.
Dalam hal ini, penyedia Emas hanya boleh berasal dari Lembaga jasa keuangan yang memiliki izin usaha bulion dari OJK dan pihak lain yang disetujui oleh OJK.
Manajer Investasi dan Dealer Partisipan dapat bekerja sama dengan Penyedia Emas untuk melakukan pembelian dan/atau penjualan emas. Manajer Investasi wajib memastikan bahwa Penyedia Emas memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan transaksi ETF Emas. Jika transaksi emas dilakukan melalui Penyedia Emas, maka Manajer Investasi harus memiliki perjanjian tertulis dengan pihak tersebut.
Selain itu, Manajer Investasi juga wajib membuat kontrak dengan Dealer Partisipan guna menjaga likuiditas perdagangan Unit Penyertaan ETF Emas.
Dealer Partisipan sendiri wajib memiliki kemampuan untuk menciptakan perdagangan yang likuid atas Unit Penyertaan ETF Emas. Mereka dapat melakukan jual beli emas dengan Penyedia Emas untuk mendukung proses penciptaan dan/atau pelunasan unit ETF, dengan ketentuan transaksi dilakukan pada harga terbaik dan wajar.
Dalam rangka menjaga likuiditas pasar, Dealer Partisipan diperbolehkan membeli dan menjual Unit Penyertaan ETF Emas, dengan kewajiban untuk secara berkala atau terus-menerus memasukkan penawaran beli dan/atau jual di sistem perdagangan Bursa Efek, serta mampu merealisasikan transaksi sesuai komitmen dalam Kontrak Investasi Kolektif.
Dalam ETF, likuiditas juga sangat penting. Karena itu, manajer Investasi wajib membuat kontrak dengan Dealer Partisipan.
OJK juga menyiapkan sanksi administratif bagi pelanggar, mulai dari, Peringatan tertulis, Denda,Pembatasan kegiatan usaha, Pembekuan usaha, serta Pencabutan izin.
Sanksi administratif bisa dikenakan dengan atau tanpa didahului sanksi tertulis. Sanksi administratif berupa denda dapat dikenakan secara tersendiri atau secara bersama-sama dengan pengenaan sanksi administratif.
Opsi Diversifikasi Produk Investasi
Hasan Fawzi, Penjabat sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, mengatakan
regulasi ini disusun untuk memperluas underlying asset produk ETF di Indonesia, sekaligus menjawab kebutuhan dan masukan dari para Manajer Investasi (MI) yang selama ini menginginkan alternatif instrumen berbasis komoditas, khususnya emas.
Berdasarkan data OJK, setidaknya tiga Manajer Investasi telah melakukan persiapan penerbitan ETF Emas dengan menandatangani perjanjian kerja sama dengan berbagai pihak terkait.
Tak hanya itu, lanjutnya, sebanyak 12 manajer investasi tercatat telah berdiskusi dan menyatakan komitmen untuk menerbitkan produk serupa dalam waktu mendatang.

Meski prospeknya menjanjikan, peluncuran ETF Emas bukan tanpa tantangan. Hasan menyebut sosialisasi dan edukasi kepada investor menjadi kunci awal keberhasilan produk ini. Pasalnya, meskipun emas sudah populer, mekanisme investasi melalui ETF masih relatif baru bagi sebagian investor ritel.
Di sisi lain, dia meminta agar MI juga perlu memastikan kesiapan dari aspek kompetensi dan keahlian dalam pengelolaan instrumen berbasis emas.
Hasan juga menyebut kehadiran ETF Emas diyakini akan membuat variasi underlying produk ETF semakin beragam. Selama ini, ETF di Indonesia lebih banyak berbasis saham atau indeks tertentu. Dengan masuknya emas sebagai aset dasar, investor memiliki alternatif baru untuk melakukan diversifikasi portofolio.
Karpet Merah Launching Produk ETF Emas
PT BRI Manajemen Investasi menyiapkan peluncuran produk ETF emas pada April 2026 sembari menunggu penerbitan aturan tersebut dari Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.
Associate Director BRI Manajemen Investasi Yulius Hartono mengatakan eksposur emas melalui ETF berbasis emas fisik dibandingkan membeli emas batangan secara langsung. ETF emas dinilai lebih likuid, efisien dari sisi biaya, dan tidak memerlukan biaya penyimpanan seperti emas fisik.
Selain itu dengan kehadiran ETF Emas, investor dinilai lebih efisien waktu karena tidak perlu mengantre secara langsung untuk membeli emas fisik.
Pihaknya akan bersinergi dengan PT Pegadaian (persero) sebagai penyedia emas. Produk ini ditargetkan meluncur pada semester I/2026, menunggu rampungnya regulasi dari OJK.
“ETF emas itu target kami pada April ini seharusnya udah keluar peraturan dari OJK-nya, terus nanti kami bisa launching,” ujarnya dikutip, Senin (23/2/2026).
BRI MI tercatat akan mengembangkan produk ini melalui kolaborasi tiga mitra strategis, yaitu PT Pegadaian, PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga), dan PT Mandiri Sekuritas. Dalam struktur kerja sama tersebut, BRI-MI berperan sebagai Manajer Investasi ETF Emas, Pegadaian sebagai Penyedia dan Kustodi Emas, CIMB Niaga sebagai Bank Kustodian, serta Mandiri Sekuritas sebagai Dealer Partisipan.
Produk ETF emas BRI-MI ini nantinya akan menghadirkan sejumlah fitur yang tidak dimiliki instrumen emas konvensional, seperti harga real-time selama jam bursa, spread yang lebih kompetitif, transaksi digital, serta pengelolaan oleh manajer investasi dan bank kustodian.
Sementara itu, Mandiri Manajemen Investasi menargetkan dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar Rp1 triliun dari produk ETF emas yang tengah digodok.
ETF tersebut akan berbentuk reksa dana kontrak investasi kolektif dengan underlying emas fisik yang disimpan di Lembaga Jasa Keuangan Bulion. Perseroan tercatat telah menggandeng PT Mandiri Sekuritas sebagai dealer partisipan untuk peluncuran ETF Emas Syariah.
Direktur Investasi Mandiri Investasi, Ernawan R. Salimsyah, mengatakan target tersebut mencerminkan optimisme terhadap meningkatnya minat investor pada instrumen safe haven di tengah ketidakpastian global.
“Kami menargetkan dana kelolaan Rp1 triliun. Peluang ETF emas semakin relevan di tengah fragmentasi geopolitik dan meningkatnya risiko kebijakan fiskal maupun moneter global,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Mandiri Investasi memperkirakan produk dapat diluncurkan dua hingga 3 bulan setelah POJK terkait ETF emas resmi diterbitkan. Saat ini, perseroan memantau perkembangan regulasi sembari mematangkan kesiapan operasional, legal, dan infrastruktur produk.
Senada dengan BRI Manajemen Investasi dan Mandiri Manajemen Investasi, Sinarmas Asset Management (Sinarmas AM) tengah menyiapkan peluncuran produk ETF emas.
Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu mengatakan pengembangan ETF emas tidak hanya ditujukan untuk memperbesar dana kelolaan, tetapi juga memperluas basis investor dan meningkatkan literasi investasi.
“Jika ETF emas ini diluncurkan, target kami bukan hanya dari sisi AUM, tetapi juga dari sisi perluasan basis investor dan peningkatan literasi investasi,” ujar Genta, Kamis (24/2/2026).
Menurut dia, ETF emas memiliki prospek cerah di tengah meningkatnya kebutuhan investor terhadap diversifikasi portofolio dan manajemen risiko. Emas kembali dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik, arah suku bunga global, serta volatilitas pasar keuangan.
Produk ini dinilai berpotensi menarik investor ritel yang ingin memiliki emas secara praktis, investor muda yang aktif di pasar saham dan familiar dengan ETF, hingga investor institusi yang membutuhkan instrumen lindung nilai yang efisien dan likuid.
Meski demikian, Genta mengakui masih terdapat sejumlah tantangan. Persepsi harga emas yang sudah berada di level tinggi serta volatilitas harga global akibat kebijakan bank sentral utama dan dinamika geopolitik menjadi faktor yang membuat sebagian investor bersikap hati-hati. Selain itu, literasi pasar terkait perbedaan emas fisik, emas digital, reksa dana emas, dan ETF emas dinilai masih perlu ditingkatkan.
OJK Resmi Terbitkan Peraturan ETF Emas
OJK terbitkan aturan ETF emas untuk diversifikasi investasi. ETF emas bisa diperdagangkan di BEI, menawarkan alternatif investasi berbasis komoditas. [657] url asal
#etf-emas #ojk-peraturan #investasi-emas #pasar-modal-indonesia #reksa-dana-emas #bursa-efek-indonesia #manajer-investasi #instrumen-berbasis-emas #diversifikasi-portofolio #safe-haven #electronic-gold
(Bisnis.Com - Market) 03/03/26 15:00
v/153404/
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya menerbitkan payung hukum yang mendasari penerbitan instrumen baru berupa exchange traded fund (ETF) emas.
Hasan Fawzi, Penjabat sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, mengatakan peraturan OJK diterbitkan dalam rangka meningkatkan pendalaman pasar modal Indonesia.
“OJK telah menetapkan POJK No.2 Tahun 2026 tentang reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan aset yang mendasari berupa emas," paparnya dalam konferensi pers, Selasa (3/3/2026).
Penerbitan tersebut dilakukans setelah draf POJK ETF emas merampungkan tahap finalisasi dan tengah menunggu persetujuan harmonisasi di Kementerian Hukum (Kemenkum) pada Februari 2026.
Sebelumnya, Hasan menjelaskan regulasi ini disusun untuk memperluas underlying asset produk ETF di Indonesia, sekaligus menjawab kebutuhan dan masukan dari para Manajer Investasi (MI) yang selama ini menginginkan alternatif instrumen berbasis komoditas, khususnya emas.
Berdasarkan data OJK, setidaknya tiga Manajer Investasi telah melakukan persiapan penerbitan ETF Emas dengan menandatangani perjanjian kerja sama dengan berbagai pihak terkait.
Tak hanya itu, lanjutnya, sebanyak 12 manajer investasi tercatat telah berdiskusi dan menyatakan komitmen untuk menerbitkan produk serupa dalam waktu mendatang.
Meski prospeknya menjanjikan, peluncuran ETF Emas bukan tanpa tantangan. Hasan menyebut sosialisasi dan edukasi kepada investor menjadi kunci awal keberhasilan produk ini. Pasalnya, meskipun emas sudah populer, mekanisme investasi melalui ETF masih relatif baru bagi sebagian investor ritel.
Di sisi lain, dia meminta agar MI juga perlu memastikan kesiapan dari aspek kompetensi dan keahlian dalam pengelolaan instrumen berbasis emas.
Hasan juga menyebut kehadiran ETF Emas diyakini akan membuat variasi underlying produk ETF semakin beragam. Selama ini, ETF di Indonesia lebih banyak berbasis saham atau indeks tertentu. Dengan masuknya emas sebagai aset dasar, investor memiliki alternatif baru untuk melakukan diversifikasi portofolio.
Emas selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global, baik akibat gejolak geopolitik, fluktuasi nilai tukar, maupun arah kebijakan suku bunga global. Dengan format ETF, investor dapat memperoleh eksposur terhadap emas tanpa perlu menyimpan fisik logam mulia tersebut.
Sebagai produk ETF, instrumen ini juga bersifat tradable dan dapat diperdagangkan secara langsung di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan rancangan POJK yang diperoleh Bisnis, OJK menyampaikan bahwa kegiatan usaha bulion akan berada di bawah pengawasan OJK sesuai dengan Undang-Undang No.4/2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
Dalam rancangan beleid tersebut, OJK mengatur bahwa Electronic Gold Certificate merupakan bukti kepemilikan emas dalam bentuk non-fisik yang diterbitkan berdasarkan emas fisik yang mendasarinya. Selanjutnya, Electronic Gold Certificate merupakan efek berdasarkan Peraturan OJK.
Nantinya, efek berupa Electronic Gold Certificate diadministrasikan dan dicatatkan oleh lembaga penyimpanan dan penyelesaian. OJK juga mengatur tentang portofolio investasi ETF emas dalam rancangan regulasi tersebut. Investasi pada aset emas dapat berupa emas fisik dan/atau non-fisik. OJK mewajibkan Manajer Investasi untuk menentukan komposisi portofolio investasi ETF emas memenuhi dua ketentuan.
Pertama, paling sedikit 95% dari Nilai Aktiva Bersih diinvestasikan pada aset emas, termasuk emas batangan, emas digital dan instrumen emas lainnya yang ditetapkan oleh OJK. Kedua, paling banyak 5% dari Nilai Aktiva Bersih diinvestasikan pada instrumen pasar uang dalam negeri, deposito, atau kas dan setara kas.
OJK juga menegaskan bahwa investasi pada aset emas wajib terstandardisasi dan memenuhi standar kemurnian minimum 99% untuk emas yang telah memperoleh sertifikasi standar Emas dari Standar Nasional Indonesia 8080:2020 Barang-Barang emas oleh Badan Standardisasi Nasional dan 99,5% untuk emas yang telah memenuhi standar internasional LBMA Good Delivery List oleh LBMA.
OJK mengatur bahwa Manajer Investasi dan dealer partisipan dapat bekerja sama dengan penyedia emas untuk melakukan pembelian dan/atau penjualan emas. OJK juga mewajibkan Manajer Investasi untuk memastikan kemampuan penyedia emas dalam menyediakan layanan jual dan beli emas sesuai kebutuhan ETF emas.
Manajer Investasi wajib memastikan kemampuan penyedia emas untuk menyediakan harga serta biaya yang kompetitif. Penyedia emas adalah pihak yang menyediakan emas sesuai dengan kadar kemurnian sebagaimana ditetapkan dalam peraturan ini dan merupakan lembaga jasa keuangan yang telah memperoleh izin sebagai penyelenggara kegiatan usaha bulion dari OJK untuk melakukan perdagangan emas.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)