Manuver MI Atur Ulang Portofolio Reksa Dana saat Konflik Iran-AS Memanas
Manajer investasi mengatur ulang portofolio reksa dana di tengah ketegangan Iran-AS, fokus pada sektor defensif dan emiten yang diuntungkan kebijakan pemerintah.
(Bisnis.Com) 07/03/26 06:00 157632
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah manajer investasi mengatur ulang strategi pengelolaan portofolio reksa dana di tengah volatilitas pasar modal domestik yang masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arus keluar dana asing.
Chief Investment Officer PT KISI Asset Management (KIM) Barkah mengatakan kondisi pasar modal Indonesia pada 2026 masih menghadapi tantangan, terutama di pasar saham. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak sepenuhnya suram.
Barkah memproyeksikan perlambatan di pasar modal Indonesia tidak akan permanen dan lebih bersifat siklus jangka menengah.
“Saat ini kami berusaha untuk melakukan rebalancing portofolio reksa dana saham dengan pendekatan lebih selektif, fokus pada sektor defensif dan emiten yang diuntungkan kebijakan pemerintah,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Beberapa sektor yang saat ini menjadi fokus investasi antara lain sektor konsumsi, infrastruktur, energi terbarukan, serta perbankan berkapitalisasi besar.
“Kami cukup optimistis kinerja reksa dana saham masih bisa melampaui indeks acuan, meskipun strategi yang digunakan lebih berhati-hati dan berbasis fundamental,” imbuhnya.
Sementara itu, pada produk reksa dana campuran, KIM cenderung meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko lebih rendah guna menjaga stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian global.
Langkah tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan pengelolaan risiko, sembari tetap membuka peluang dari saham atau sektor tertentu yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan.
Adapun pada reksa dana pendapatan tetap (RDPT), strategi yang ditempuh bersifat lebih fleksibel. Manajer investasi tidak hanya menambah porsi obligasi tenor pendek untuk meredam volatilitas, tetapi juga tetap mempertahankan sebagian alokasi pada tenor menengah hingga panjang.
Menurut Barkah, strategi tersebut dilakukan untuk memanfaatkan peluang capital gain apabila tren penurunan suku bunga benar-benar terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan dari sisi pasar obligasi, tekanan terutama datang dari kebijakan fiskal yang lebih agresif. Peningkatan belanja negara memunculkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit anggaran mendekati atau bahkan melampaui batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, ketegangan geopolitik global seperti konflik antara Iran dan Amerika Serikat juga berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas yang dapat memberi tekanan tambahan terhadap stabilitas pasar keuangan.
Rudiyanto menambahkan di pasar saham terjadi pergeseran aliran dana dari saham konglomerasi menuju saham berkapitalisasi besar (blue chip) serta emiten berbasis komoditas. Rotasi tersebut dinilai sejalan dengan ekspektasi perbaikan kinerja keuangan perusahaan.
Menurut Rudiyanto, apabila laporan keuangan emiten menunjukkan perbaikan, maka potensi peningkatan kinerja pasar saham akan semakin terbuka.
Di tengah kondisi tersebut, kinerja produk reksa dana saham Panin AM hingga awal Maret 2026 masih tercatat mampu mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja tersebut ditopang oleh strategi investasi yang menitikberatkan pada saham berorientasi value serta sektor komoditas.
Selain itu, beberapa produk reksa dana juga mulai masuk ke saham dengan prospek cerita pertumbuhan (story) yang menarik, meskipun valuasinya relatif tinggi.
Pada produk reksa dana campuran, Panin AM mempertahankan pendekatan alokasi yang relatif stabil. Porsi saham dalam portofolio biasanya telah ditetapkan dalam rentang tertentu, misalnya 20%–30%, 30%–40%, atau 40%–50%, sehingga tidak mengalami perubahan ekstrem.
“Dalam pengelolaan reksa dana pendapatan tetap, kami cenderung memilih obligasi dengan tenor pendek, jika koreksi harga cukup besar, bisa masuk tenor panjang,” katanya.
Sementara itu, Manajer Investasi PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen juga menyiapkan sejumlah strategi pengelolaan reksa dana di tengah kondisi pasar modal domestik yang masih berada dalam tekanan.
Sepanjang 2026, pasar modal Tanah Air menghadapi sejumlah tantangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi 10,83% secara year-to-date (YtD), antara lain dipicu oleh pembekuan rebalancing oleh MSCI Inc. serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran.
Kondisi serupa juga terjadi di pasar surat utang. Yield acuan obligasi pemerintah tenor 10 tahun bergerak ke level 6,52% setelah munculnya outlook negatif berturut-turut dari Moody’s dan Fitch Ratings terhadap prospek kredit Indonesia. Tekanan juga datang dari eskalasi perang Iran yang mendorong investor asing mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas dan obligasi Amerika Serikat.
“Kami melihat ada tantangan di pasar modal kita, khususnya setelah adanya teguran MSCI dan downgrade outlook di surat utang kita. Namun, secara umum sebenarnya fundamental kita masih cukup baik,” kata Direktur Batavia Prosperindo Eri Kusnadi kepada Bisnis, Kamis (5/3/2026).
Dengan begitu, dia menilai kondisi ini dapat menjadi momentum bagi pasar modal Tanah Air untuk berbenah sehingga dapat memberikan kualitas yang lebih baik ke depan.
Di tengah kondisi pasar saham yang lesu, Batavia disebut akan terus aktif mencari dan memposisikan portofolio pada emiten dengan fundamental yang solid. Sektor komoditas logam dan konsumer menjadi preferensi utama Batavia.
”Untuk mencari alpha [melampaui indeks acuan], kami rasa sekarang sudah tidak relevan untuk dijadikan tujuan utama. Tapi, kami masih tetap berupaya mencapai hal tersebut,” katanya.
Salah satu produk Batavia adalah Batavia Dana Saham. Reksa dana ini diisi oleh saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), BBCA, saham bank Himbara, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY), serta PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF). Produk tersebut mencatatkan kinerja terkoreksi 2,54% secara YtD, atau relatif lebih baik dibandingkan indeks acuan.
Begitu juga dengan Batavia Dana Saham Optimal yang terkoreksi 3,80% secara YtD. Kinerja reksa dana saham milik Batavia Prosperindo ini banyak dikontribusikan oleh ANTM, KLBF, BBRI, BBNI, HMSP, atau MYOR.
”Untuk pasar saham kami tetap mempertahankan filosofi kami sebagai MI yang fundamental active. Kami akan terus aktif mencari dan memposisikan portofolio pada underlying yang kuat fundamentalnya,” tambahnya.
Sementara terhadap reksa dana campuran, Eri menilai bahwa secara natural pihaknya akan memperbesar eksposur terhadap aset berisiko lebih rendah, seperti surat utang. Namun, Batavia tidak menutup kemungkinan untuk kembali menambah aset berisiko apabila valuasi telah cukup menarik.
Terhadap reksa dana pendapatan tetap (RDPT), pihaknya lebih memilih menambah eksposur terhadap surat utang jangka pendek mengingat yield tenor pendek masih cenderung lebih rendah dibandingkan yield acuan 10 tahun.
“Naturally seperti itu ya [memperbesar eksposur aset berisiko rendah] walaupun sewaktu-waktu kami dapat juga menambah aset berisiko apabila harga sudah cukup menarik secara valuasi,” tambahnya.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#reksa-dana #manajer-investasi #pasar-modal #konflik-iran-as #strategi-portofolio #volatilitas-pasar #sektor-defensif #saham-berkapitalisasi-besar #reksa-dana-campuran #obligasi-tenor-pendek #keteganga