Kinerja Keuangan bjb pada 2025 menunjukkan ketahanan dengan aset mencapai Rp221,4 triliun dan penyaluran kredit Rp140,7 triliun di tengah dinamika ekonomi yang menantang. [379] url asal
Kinerja keuangan bank bjb sepanjang 2025 menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang masih penuh tantangan.
Stabilitas sistem keuangan domestik pada akhir 2025 relatif terjaga dan tetap kondusif bagi sektor perbankan, didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif, termasuk penurunan BI Rate yang mulai membuka ruang bagi pemulihan intermediasi perbankan.
Secara konsolidasi, total aset bank bjb pada akhir 2025 tercatat sebesar Rp221,4 triliun. Penyaluran kredit termasuk pembiayaan mencapai Rp140,7 triliun, dengan kontribusi perusahaan anak sebesar Rp28,8 triliun dan bank only sebesar Rp111,9 triliun.
Hal tersebut disampaikan dalam paparan kinerja Earning Call Full Year (FY) 2025 bank bjb, Senin, 16 Maret 2026 yang turut dihadiri oleh Direktur Keuangan bank bjb Hana Dartiwan, Direktur Korporasi dan UMKM bank bjb Mulyana, Direktur Konsumer dan Ritel bank bjb Nunung Suhartini serta Deputy Corporate Secretary bank bjb Sani Ikhsan Maulana.
Pada bank only, segmen kredit konsumer tetap menjadi kontributor utama dengan outstanding mencapai Rp74,8 triliun. Kualitas aset pada segmen ini terjaga sangat baik dengan tingkat NPL rendah dan margin yang sehat.
Potensi pertumbuhan juga tetap terbuka seiring peningkatan jumlah pegawai P3K di Jawa Barat dan Banten yang mencapai sekitar 504 ribu orang pada Juni 2025, sehingga memperluas basis pasar payroll bank bjb
Transformasi digital juga terus dipercepat melalui pengembangan platform KGB Pisan. Sejak memperoleh izin pengembangan layanan dari Otoritas Jasa Keuangan pada November 2025, platform ini mendukung pengajuan kredit baru secara end-to-end digital bagi nasabah payroll bank bjb. Proses kredit yang sepenuhnya digital turut meningkatkan produktivitas dan skalabilitas bisnis konsumer.
Selain itu, bank bjb juga tetap melakukan ekspansi secara terukur pada segmen korporasi dan komersial yang difokuskan pada proyek berbasis ekosistem daerah sehingga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada induk mencapai Rp1,15 triliun. Momentum perbaikan kinerja Triwulan IV juga berlanjut pada awal 2026 dan menjadi indikasi positif bagi pemulihan pertumbuhan laba ke depan.
Selain itu bank bjb juga terus memperkuat sinergi bisnis dalam Kelompok Usaha Bank (KUB), kinerja anak perusahaan memberikan kontribusi aset sebesar Rp42,8 triliun atau sekitar 18 persen dari total aset konsolidasi Grup bjb. Ke depan, bank bjb akan terus memperkuat sinergi bisnis dan efisiensi operasional melalui skema sharing fee serta kolaborasi produk guna meningkatkan profitabilitas dan daya saing grup secara berkelanjutan.
Bank Mandiri membagikan Dividen Interim Rp9,3 triliun, mencerminkan fundamental perusahaan yang solid dan komitmennya dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. [430] url asal
Bank Mandiri menyalurkan dividen interim tahun buku 2025 kepada para pemegang saham pada Rabu (14/1). Langkah ini mencerminkan fundamental perseroan yang tetap solid, likuiditas yang terjaga, serta konsistensi kinerja Bank Mandiri dalam memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham.
Tak hanya itu, dividen interim tersebut sekaligus memperkuat peran perseroan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebagaimana telah dipublikasikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), bank dengan kode emiten BMRI ini membagikan dividen interim sebesar Rp100,- (seratus Rupiah) per saham kepada para pemegang saham tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS), yang telah ditetapkan pada 7 Januari 2026 lalu.
Adapun, total nilai dividen interim yang disalurkan Bank Mandiri mencapai Rp9,3 triliun.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengatakan, pembagian dividen interim itu telah memperhitungkan kondisi permodalan perusahaan yang solid serta likuiditas yang memadai. Melalui kinerja keuangan yang terjaga, Bank Mandiri tetap memiliki ruang yang cukup untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan.
“Pembagian dividen interim ini menjadi bukti konsistensi Bank Mandiri dalam memberikan nilai optimal bagi para pemegang saham, sejalan dengan pengelolaan kinerja dan fundamental perseroan yang tetap solid,” ujar Riduan, dalam keterangan resminya, Kamis (15/1).
Pembagian dividen interim ini juga menjadi bagian dari kontribusi Bank Mandiri kepada negara, seiring dengan peran Danantara Indonesia sebagai pemegang saham terbesar perseroan. Hal tersebut sejalan dengan upaya optimalisasi nilai investasi pemerintah serta penguatan peran Bank Mandiri dalam mendukung agenda pembangunan nasional.
Riduan menambahkan, pembagian dividen interim tersebut didukung oleh kinerja keuangan perusahaan yang tetap solid hingga akhir November 2025. Hal ini tercermin dari fungsi intermediasi perbankan yang tumbuh positif, di atas rata-rata industri.
Kinerja solid tersebut ditopang oleh fungsi intermediasi yang terus tumbuh positif hingga akhir November 2025. Secara bank only, penyaluran kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.452 triliun, mencerminkan pertumbuhan yang berada di atas rata-rata industri dan menegaskan komitmen perseroan sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sisi pendanaan, Bank Mandiri mencatatkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.584 triliun. Pada saat yang sama, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) terjaga di kisaran 91 persen, mencerminkan kondisi likuiditas yang sehat serta ruang ekspansi yang tetap memadai.
Selain itu, total aset Bank Mandiri (bank only) per November 2025 tercatat mencapai Rp2.120 triliun, menegaskan ketahanan model bisnis perseroan dalam menopang pertumbuhan jangka menengah di tengah penyesuaian kebijakan moneter dan dinamika global.
“Ke depan, Bank Mandiri akan terus menjaga konsistensi kinerja sekaligus memperkuat kontribusi perseroan bagi perekonomian nasional melalui sinergi ekosistem Mandiri Group dan akselerasi di berbagai sektor usaha, sehingga kinerja Bank Mandiri tetap unggul dan bertumbuh secara berkelanjutan,” tutur Riduan.
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank mulai merilis laporan keuangan bulanan per Oktober 2025. Itu artinya, perseroan hanya punya dua bulan lagi untuk memastikan kinerja bisnis ditutup dengan capaian optimal.
Beberapa bank yang telah merilis laporan keuangan bulanan pada Oktober 2025 di antaranya PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI).
Bank-bank yang masuk dalam KBMI IV itu mencatatkan kinerja keuangan yang beragam pada Oktober 2025. BCA menjadi satu-satunya bank dengan pertumbuhan laba bersih tahun berjalan di kelompok ini.
Dalam laporan keuangan bulanan yang dipublikasikan, bank swasta terbesar di Indonesia itu membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp48,25 triliun pada Oktober 2025. Nilai itu tumbuh 4,39% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Oktober 2024 sebesar Rp46,22 triliun.
Capaian itu didorong oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang mencapai Rp66,47 triliun pada Oktober 2025, meningkat 4,42% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp63,66 triliun. Selain menjadi satu-satunya bank dengan pertumbuhan laba, BCA juga menjadi peraih laba terbesar di antara bank jumbo lainnya.
BRI berada di posisi selanjutnya dengan raihan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp41,05 triliun, menyusut 10,21% YoY dari Oktober 2024 yang mencapai Rp45,72 triliun. Kendati besaran laba bank spesialis kredit wong cilik ini tertinggi di antara kelompok bank pelat merah, BRI mengalami penurunan terdalam dibandingkan Bank Mandiri dan BNI.
Pada saat yang sama, NII tumbuh tipis 1,58% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp92,00 triliun menjadi Rp93,46 triliun pada Oktober 2025.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi sebelumnya mengatakan bahwa perseroan akan terus memperkuat fundamental bisnis dengan menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi pendanaan, serta memperdalam transformasi yang dijalankan secara terstruktur dan terintegrasi melalui BRIVolution Reignite.
“BRI optimistis dapat mempertahankan kinerja yang positif, berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” kata Hery dalam konferensi pers Kinerja Keuangan BRI Kuartal III/2025, Kamis (30/10/2025).
Posisi selanjutnya ditempati oleh Bank Mandiri. Pada Oktober 2025, bank berlogo pita emas ini membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp38,88 triliun, turun 9,70% YoY dari Oktober 2024 sebesar Rp43,06 triliun. NII dijaga tumbuh 3,55% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp62,22 triliun menjadi Rp64,43 triliun pada Oktober 2025.
BNI menduduki posisi keempat dengan perolehan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp16,92 triliun. Angka itu turun 6,34% YoY dari perolehan laba pada Oktober 2024 yang mencapai Rp18,07 triliun. NII bank dengan logo 46 itu juga tercatat turun 0,95% YoY menjadi Rp31,94 triliun. Pada Oktober 2024, BNI membukukan NII sebesar Rp32,25 triliun.
Pengamat Perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, merosotnya laba Bank Mandiri dan BNI dipicu oleh kenaikan biaya dana di tahun ini yang didominasi dana mahal dan besarnya biaya operasional.
Adapun, beban operasional Bank Mandiri naik signifikan 74,85% YoY dari Rp9,57 triliun pada Oktober 2024 menjadi Rp16,74 triliun pada Oktober 2025. Sementara, beban operasional BNI meningkat 10,71% YoY menjadi Rp11,51 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp10,40 triliun. “Untuk BRI, faktor utamanya adalah kenaikan beban CKPN,” ungkap Trioksa kepada Bisnis, Senin (1/12/2025).
Dia memperkirakan, kinerja keuangan BRI, Bank Mandiri, dan BNI akan lebih baik pada kuartal IV/2025, dibanding kuartal-kuartal sebelumnya, lantaran faktor likuiditas bank yang membaik dan BI Rate yang menurun. Selain itu, kinerja positif itu juga didukung oleh belanja masyarakat yang mulai meningkat jelang akhir tahun.
Trioksa juga memprediksi kinerja keuangan BCA tetap moncer hingga akhir tahun, didorong oleh struktur dana dari CASA yang dominan. “Sehingga biaya dana murah, fee based income juga semakin baik dan memberikan peningkatan kontribusi. Dengan demikian, tren kinerja positif BCA masih akan berlanjut [hingga akhir tahun],” pungkasnya.
Jakarta: Kinerja keuangan Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) kembali menunjukkan momentum positif pada triwulan III 2025. Bank global yang telah beroperasi selama 57 tahun di Indonesia ini membukukan laba bersih Rp2,3 triliun, didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 10 persen secara year-on-year serta rasio dana murah (low-cost fund) yang stabil di 78 persen.
Dengan hasil tersebut, Citi mencatat Return on Equity (ROE) sebesar 15,4 persen dan Return on Assets (ROA) 4,1 persen, dua indikator penting yang menunjukkan efisiensi dan profitabilitas bank tetap terjaga kuat.
Rasio Liquidity Coverage (LCR) dan rasio Net Stable Funding (NSFR) Citi Indonesia tetap kuat masing-masing di 277 persen dan 154 persen, di atas ketentuan minimum regulator. Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) dilaporkan sebesar 35,8 persen, meningkat dari 33,1 persen pada tahun sebelumnya.
CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi, mengungkapkan, kinerja Citi Indonesia pada triwulan III-2025 ini terus mencerminkan resiliensi bisnis dan komitmen pertumbuhan perusahaan berbasis kepercayaan yang diberikan klien kepada Citi.
"Dengan peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 10 persen year-on-year dan rasio low-cost fund yang stabil di angka 78 persen, Citi terus mempertahankan momentum pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan,” kata Batara dalam konferensi pers, selasa, 18 November 2025.
Bisnis banking tetap tumbuh positif
Pada triwulan III-2025, lini bisnis Banking Citi Indonesia kembali mencatat performa solid. Pertumbuhan ini sejalan dengan komitmen Citi dalam menyediakan solusi perbankan komprehensif bagi perusahaan lokal, multinasional, lembaga keuangan, hingga institusi sektor publik.
Citi juga mencatat pencapaian regional penting melalui kolaborasi dengan Citi Issuer Services Asia South dalam penyelenggaraan Citi Data Centre Day pertama di kawasan Asia Selatan. Ajang ini mempertemukan pelaku industri untuk membahas inovasi dan kerja sama dalam mendukung pengembangan infrastruktur pusat data berkelanjutan di Indonesia.
Kinerja Treasury and Trade Solutions (TTS) makin menguat
Pada bisnis Treasury and Trade Solutions (TTS), sepanjang triwulan III-2025, Citi Indonesia mencatat pertumbuhan positif 3 persen dibanding tahun sebelumnya pada periode yang sama.
Selain itu, Citi Indonesia juga melakukan ekspansi untuk layanan jaringan collection melalui layanan omnicollection untuk aliran dana ritel dan e-commerce. TTS terus meningkatkan solusi digital untuk mendukung efisiensi bisnis klien dan mengikuti perkembangan industri.
Pada triwulan III-2025, TTS Citi Indonesia telah menyelesaikan migrasi klien di Indonesia ke platform CitiDirect V3, yang dilengkapi dengan fitur keamanan dan kapabilitas manajemen kas yang lebih mumpuni.
Selain itu, TTS juga meluncurkan integrasi digital baru, termasuk solusi Host-to-Host dan API untuk beberapa klien utama di sektor teknologi dan layanan keuangan. Melalui program Pembiayaan Rantai Pasokan, TTS mendukung klien dalam menyediakan bantuan modal kerja kepada pemasok lokal di seluruh Indonesia.
Pada tahun 2025, Citi Indonesia mencatat pertumbuhan pemasok yang terdaftar ke dalam program sebesar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Memahami bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jaringan luas bisnis lokal berskala kecil, solusi digital TTS dapat menunjang Citi untuk memperluas cakupan layanan ini ke seluruh pemasok di Indonesia.
Investor services dan markets tetap berperan strategis
Pada lini Investor Services, Citi Indonesia aktif mendukung perkembangan pasar modal dengan berkolaborasi bersama regulator melalui berbagai forum seperti working group, FGD, dan task force. Keterlibatan ini penting untuk memastikan Citi selalu selaras dengan dinamika pasar terkini.
Sementara itu, di lini Markets, Citi Indonesia memperkuat posisinya sebagai pemain utama di pasar valuta asing (FX) dan pendapatan tetap. Pada triwulan III 2025, Citi dinobatkan sebagai Best Sellside 2025 untuk Obligasi Mata Uang Lokal oleh Asset Benchmark Research.
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
Bank jumbo Indonesia merilis kinerja Q3 2025: BRI laba Rp41,23T, BCA Rp43,4T, Mandiri Rp37,7T, BNI Rp15,12T. Pertumbuhan kredit dan aset meningkat. [1,255] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank raksasa di Tanah Air telah merilis laporan keuangan kuartal III/2025. Terbaru, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) telah melaporkan laba kuartal III/2025.
Laporan keuangan bank-bank jumbo dinantikan oleh para investor maupun pelaku ekonomi karena menjadi gambaran kondisi ekonomi, tercermin dari penyaluran kredit maupun kondisi bisnis. Bank-bank jumbo pun merupakan emiten, sehingga gerak sahamnya di Bursa Efek Indonesia menjadi perhatian.
Bank-bank jumbo seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk. (BCA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) telah merilis laporan keuangan kuartal III/2025 lebih awal. Terbaru, BRI merilis laporan keuangan terkininya pada Kamis (30/10/2025).
Berikut rekap kinerja bank-bank jumbo pada kuartal III/2025:
Laba BRI (BBRI) Kuartal III/2025: Rp41,23 Triliun
BRI (BBRI) membukukan laba bersih tahun berjalan konsolidasi sebesar Rp41,23 triliun hingga akhir kuartal III/2025. Nilai tersebut terdiri dari laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp40,78 triliun dan kepentingan non-pengendali senilai Rp453,43 miliar.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya, bank spesialis kredit wong cilik itu mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,36 triliun.
Dilansir dari laporan keuangan yang rilis di harian Bisnis Indonesia edisi Kamis (30/10/2025), raihan laba BRI didorong oleh kenaikan pendapatan bunga dan pertumbuhan kredit yang masih solid. Pendapatan bunga BRI tercatat Rp155,16 triliun, naik 3% dari Rp150,63 triliun pada kuartal III/2024.
Meski demikian, beban bunga juga ikut meningkat menjadi Rp44,16 triliun, atau naik 3,25% dibandingkan Rp42,77 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih BRI naik 2,9% dari Rp107,86 triliun menjadi Rp110,99 triliun per September 2025.
Beberapa pos yang mempengaruhi raihan laba BBRI di antaranya beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) yang naik 13,99% menjadi Rp33,59 triliun, dari Rp29,46 triliun pada tahun sebelumnya. Selain itu, beban lainnya mencatat lonjakan paling signifikan, naik 74,7% menjadi Rp69,83 triliun, dibandingkan Rp39,97 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi penyaluran kredit, BRI mencatat pertumbuhan 6,26%, dari Rp1.353,36 triliun pada kuartal III/2024 menjadi Rp1.438,11 triliun pada kuartal III/2025.
Adapun, cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan (CKPN) juga meningkat tipis 0,86% menjadi Rp80,74 triliun, dari Rp80,05 triliun setahun sebelumnya.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 8,24% menjadi Rp1.474,78 triliun, dari Rp1.362,41 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Dana murah alias CASA juga meningkat kuat 14,11% menjadi Rp997,62 triliun dengan rasio 67,65%, dari Rp874,23 triliun per September 2024.
Aset BRI pun tumbuh 8,23% menjadi Rp2.123,45 triliun per September 2025, dari Rp1.961,91 triliun pada akhir kuartal III/2024.
Laba BCA (BBCA) Kuartal III/2025: Rp43,4 Triliun
BCA (BBCA) beserta entitas anak usaha melaporkan raihan laba bersih pada kuartal III/2025 senilai Rp43,4 triliun. Nilai itu tumbuh 5,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp41,1 triliun.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan pada periode yang sama perseroan mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 7,6% (year on year/YoY) menjadi Rp944 triliun.
"Kinerja ini ditopang oleh ekspansi kredit yang berkualitas dan terjaganya likuiditas perseroan," ujarnya dalam paparan kinerja pada Senin (20/10/2025).
Dari sisi himpunan DPK per akhir September 2025, terdapat pertumbuhan sebesar 7% secara tahunan yang ditopang utamanya oleh pendanaan murah atau current account saving account (CASA).
Lebih rinci terkait penyaluran kredit, sektor korporasi menjadi yang tertinggi dibanding segmen lain, tumbuh 10,4% (YoY) mencapai Rp436,9 triliun per September 2025.
Kredit komersial naik 5,7% (YoY) menjadi Rp142,9 triliun, dan kredit UKM tumbuh 7,7% (YoY) menjadi Rp129,3 triliun. Pertumbuhan kredit konsumer menyentuh 3,3% (YoY) menjadi Rp223,6 triliun, didorong kenaikan KPR sebesar 6,4% (YoY) menjadi Rp138,8 triliun. Adapun, CASA BCA tumbuh 9,1% (YoY) mencapai Rp999 triliun.
"Pertumbuhan CASA selaras dengan total frekuensi transaksi BCA yang naik 78% dalam tiga tahun terakhir," kata Hendra.
Jika diakumulasikan dengan realisasi laba bersih pada semester I/2025 yang sebesar Rp29,01 triliun, maka bank milik Grup Djarum ini diperkirakan meraup laba bersih Rp43,19 triliun sepanjang sembilan bulan tahun ini.
Laba Bank Mandiri (BMRI) Kuartal III/2025: Rp37,7 Triliun
Bank Mandiri (BMRI) melaporkan raihan laba bersih konsolidasian kuartal III/2025 senilai Rp37,7 triliun.
Meski demikian, sebagai perbandingan pada periode yang sama tahun sebelumnya, bank dengan logo pita emas itu membukukan penurunan laba bersih 10,25% dari Rp42,01 triliun.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan perusahaan menyalurkan pinjaman konsolidasi Rp1.764,24 triliun per September 2025, tumbuh 11% secara tahunan (YoY). Capaian ini disebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang tercatat sebesar 7,70% (YoY) menurut data Bank Indonesia.
"Hasilnya, hingga akhir September 2025, total aset konsolidasi Bank Mandiri turut meningkat dan mencapai Rp2.563 triliun, naik 10,3% secara YoY. Kinerja ini mencerminkan keunggulan intermediasi Bank Mandiri dalam memperluas pembiayaan yang berorientasi pada produktivitas dan penciptaan nilai tambah ekonomi," kata Novita dalam konferensi pers laporan keuangan Bank Mandiri, Senin (27/10/2025).
Jika diakumulasikan dengan realisasi laba bersih pada semester I/2025 yang sebesar Rp24,45 triliun, maka bank pelat merah ini diperkirakan meraup laba bersih Rp36,93 triliun pada sembilan bulan pertama tahun ini.
Laba BNI (BBNI) Kuartal III/2025: Rp15,12 Triliun
BNI (BBNI) secara konsolidasi membukukan laba bersih kuartal III/2025 mencapai Rp15,12 triliun.
Sementara, pada kuartal III/2024 bank dengan logo 46 itu membukukan laba senilai Rp16,42 triliun.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, BBNI mencatatkan pendapatan bunga sebesar Rp51,16 triliun hingga September 2025, tumbuh 4,77% (YoY) dari periode yang sama tahun lalu Rp48,83 triliun dengan beban bunga tercatat Rp21,91 triliun.
Dengan demikian, pendapatan bunga bersih BBNI tercatat sebesar Rp29,25 triliun.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyampaikan strategi penguatan kualitas portofolio dan efisiensi pendanaan yang disiplin membuat BNI tetap tangguh menghadapi volatilitas, sekaligus menjaga keseimbangan pertumbuhan di seluruh segmen bisnis.
“Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan BNI untuk tetap adaptif dalam menghadapi tantangan, sambil terus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangannya, Jumat (24/10/2025).
BNI mencatat rasio permodalan cukup solid, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,1%, termasuk Tier-1 Capital yang tetap kuat. Likuiditas juga berada pada level aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) 167,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 142,1%.
Kualitas aset pun tetap terjaga. BNI melaporkan, Rasio kredit bermasalah (NPL gross) berada di kisaran 2,0%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4%.
Adapun hingga akhir September 2025, total penyaluran kredit BNI tumbuh 10,5% (YoY) menjadi Rp812,2 triliun. Pertumbuhan tersebut tercatat merata di seluruh segmen bisnis, mencerminkan portofolio kredit yang semakin sehat dan berimbang.
“Pertumbuhan kredit BNI kini lebih seimbang di seluruh segmen, baik korporasi, menengah, maupun UMKM. Hal ini menunjukkan efektivitas strategi pembiayaan kami dalam menjaga kualitas aset sekaligus mendorong pertumbuhan sektor produktif,” ujar Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena.
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank Tanah Air telah merilis laporan keuangan bulanan pada Agustus 2025. Lantas siapa saja yang masuk dalam daftar top 10 bank dengan laba terbesar pada bulan kedelapan tahun ini?
Chief Economist PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede sebelumya memperkirakan kredit korporasi dan komersial, utamanya modal kerja dan investasi, tetap menjadi penopang terbesar pertumbuhan bank besar pada kuartal III/2025. Sementara, kredit konsumsi tumbuh lebih lambat.
Dari sisi penghimpunan dana, Josua memperkirakan tren dana murah atau CASA tetap meningkat pada bank-bank besar. Hal ini didorong oleh transaksi digital dan cash management, misalnya komposisi CASA di salah satu bank >83% dari total dana pada semester I/2025.
Di bank yang fokus pada mikro, tabungan ritel tercatat meningkat dan CASA mix membaik. Di sisi harga, suku bunga DPK Rupiah turun ke ±3,07% pada Agustus 2025, menandakan meredanya persaingan dana.
“Ini sekaligus mengisyaratkan bank tidak lagi agresif menawarkan deposito mahal secara luas, meski special rate tetap ada secara selektif,” kata Josua kepada Bisnis beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Josua menyampaikan bahwa biaya dana yang tinggi masih terasa di semester I/2025 akan mulai mereda menuju kuartal III/2025. Hal ini sejalan dengan penurunan suku bunga DPK dan turunnya IndONIA sejak pertengahan tahun.
Sejumlah bank juga menurunkan panduan NIM untuk 2025, mengisyaratkan tekanan margin yang masih ada. “Dengan penurunan suku bunga kebijakan BI pada pertengahan September efek ke profitabilitas kuartal III terbatas, lebih terasa di kuartal IV. NIM kuartal III diproyeksikan flat hingga sedikit turun YoY tetapi stabil QtQ, terutama di bank dengan CASA tinggi,” tuturnya.
Karyawan melayani nasabah di kantor cabang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) di Jakarta, Selasa (22/7/2025). / Bisnis-Fanny Kusumawardhani
Dengan kredit moderat, biaya dana mulai turun, serta fee treasury yang solid, laba kuartal III/2025 bank besar diperkirakan tumbuh single digit tinggi.
Dia mengatakan pertumbuhan laba double digit masih mungkin untuk bank dengan dominasi CASA sangat tinggi, efisiensi kuat, dan fee besar, sementara bank dengan biaya dana lebih tinggi/sensitivitas UMKM lebih besar cenderung membukukan pertumbuhan lebih moderat karena NIM masih menyesuaikan dan provisi tetap disiplin.
Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan bulanan, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp39,05 triliun pada Agustus 2025, menjadikannya sebagai bank dengan laba terbesar pada periode ini. Angka tersebut tumbuh 8,52% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp35,99 triliun.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berada di posisi kedua dengan perolehan laba bersih sebesar Rp32,60 triliun, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp30,65 triliun pada Agustus 2025.
Jika dilihat dari pertumbuhannya, laba bersih tahun berjalan Bank Danamon tumbuh signifikan di antara daftar 10 bank dengan laba terbesar per Agustus 2025.
Laba bersih bank dengan kode emiten BDMN itu tercatat tumbuh 22,11% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,00 triliun. Posisi selanjutnya ditempati oleh BBTN yang mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 10,48% YoY dari sebelumnya Rp1,80 triliun pada Agustus 2024.
BNLI menempati posisi ketiga dengan pertumbuhan laba sebesar 9,40% YoY dari sebelumnya Rp2,37 triliun, disusul BBCA yang tumbuh 8,52% YoY, dan BSI sebesar 7,72% YoY.
Berikut daftar top 10 bank dengan laba terbesar per Agustus 2025:
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA)
BBCA berada di urutan pertama dalam daftar ini. Merujuk laporan keuangan bulanan, bank milik Djarum Group ini membukukan laba bersih sebesar Rp39,05 triliun pada Agustus 2025, tumbuh 8,52% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp35,99 triliun.
Perseroan membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp53,11 triliun, tumbuh 5,08% dibandingkan Agustus 2024 yang mencapai Rp50,54 triliun.
Dari sisi intermediasi, BBCA mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 9,28% YoY menjadi Rp920,87 triliun pada pada Agustus 2025. Pada saat yang sama, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.160,13 triliun, tumbuh 5,25% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp1.102,28 triliun.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI)
BBRI menempati urutan kedua dalam daftar bank dengan laba terbesar Agustus 2025. Dalam laporan keuangan bulanan, bank pelat merah itu membukukan laba bersih sebesar Rp32,60 triliun.
Kendati begitu, laba bersih pada Agustus 2025 menyusut dibanding Agustus 2024. Tercatat laba bersih pada periode ini turun 9,94% YoY dari sebelumnya Rp36,20 triliun.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp74,68 triliun, tumbuh 1,43% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp73,63 triliun.
BRI mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp1.273,09 triliun pada Agustus 2025. Realisasi itu tumbuh 5,77% YoY dibanding Agustus 2024 sebesar Rp1.203,68 triliun. Pada saat yang sama, total DPK BRI pada Agustus 2025 tumbuh 9,02% YoY menjadi Rp1.470,73 triliun.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI)
Posisi selanjutnya ditempati oleh BMRI. Kendati menempati urutan ketiga dengan perolehan laba Rp30,65 triliun, capaian itu susut 8,66% YoY dari Agustus 2024 yang tercatat sebesar Rp33,55 triliun.
Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat mencapai Rp51,17 triliun, tumbuh 3,35% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp49,51 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank dengan logo pita emas ini mencatatkan penyaluran kredit Rp1.353,43 triliun, tumbuh signifikan 10,74% YoY dari Agustus 2024 sebesar Rp1.222,12 triliun. DPK BMRI juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 10,16% YoY menjadi Rp1.435,17 triliun pada Agustus 2025.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI)
BBNI menempati urutan keempat dengan perolehan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp13,40 triliun pada Agustus 2025. Realisasi itu menyusut 5,75% YoY dibanding Agustus 2024 sebesar Rp14,22 triliun.
Pendapatan bunga bersih bank dengan logo 46 itu juga tercatat menyusut dibanding periode yang sama tahun lalu. Mengutip laporan keuangan bulanan, pendapatan bunga bersih BBNI turun 1,19% YoY menjadi Rp25,25 triliun dari sebelumnya Rp25,56 triliun.
Untuk penyaluran kredit, BBNI mencatatkan pertumbuhan signifikan yakni 8,18% YoY menjadi Rp768,60 triliun. Pada saat yang sama, total DPK yang dihimpun BNI mencapai Rp869,15 triliun, tumbuh 16,62% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp745,26 triliun.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS)
BSI berada di urutan kelima daftar bank dengan laba terbesar per Agustus 2025. Dalam laporan keuangannya, bank syariah terbesar di Indonesia ini membukukan laba bersih sebesar Rp4,81 triliun, tumbuh 7,72% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp4,47 triliun.
Bank dengan kode emiten BRIS ini mencatatkan pembiayaan bagi hasil sebesar Rp130,52 triliun. Angka itu tumbuh signifikan 23,93% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp105,31 triliun. Pada saat yang sama, perseroan membukukan dana simpanan wadiah sebesar Rp76,85 triliun, tumbuh 9,05% YoY dari Agustus 2024 sebesar Rp70,47 triliun.
PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA)
CIMB Niaga menempati posisi keenam dalam daftar ini. Perseroan membukukan laba bersih senilai Rp4,23 triliun, turun 3,05% YoY dari Agustus 2024 yang tercatat sebesar Rp4,36 triliun.
Pendapatan bunga bersih perseroan juga menyusut 1,95% YoY menjadi Rp8,02 triliun, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp8,18 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank dengan kode emiten BNGA ini melaporkan penyaluran kredit sebesar Rp160,19 triliun, tumbuh 10,72% YoY dari periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, DPK BNGA mencapai Rp263,73 triliun atau tumbuh 7,76% YoY.
PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP)
Posisi selanjutnya ditempati oleh OCBC NISP. Dalam laporan keuangannya, perseroan membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp3,43 triliun. Angka itu turun 3,98% YoY dari perolehan laba Agustus 2024 sebesar Rp3,58 triliun.
Pendapatan bunga bersih OCBC NISP tumbuh 3,39% YoY menjadi Rp7,24 triliun, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp7,00 triliun.
Pertumbuhan juga terlihat pada penyaluran kredit. Bank dengan kode emiten NISP itu mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp155,67 triliun, tumbuh 6,80% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pada saat yang sama, DPK OCBC NISP tumbuh double digit yakni 15,92% YoY menjadi Rp225,54 triliun dari sebelumnya Rp194,56 triliun pada Agustus 2024.
PT Bank Permata Tbk. (BNLI)
Bank Permata berada di posisi kedelapan, dengan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp2,59 triliun pada Agustus 2025. Angka itu meningkat 9,40% YoY dari Agustus 2024 yang tercatat sebesar Rp2,37 triliun.
Pendapatan bunga bersih Bank Permata tumbuh tipis. Dalam laporan keuangan bulanan, perseroan membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp6,77 triliun, tumbuh 0,24% YoY dari Agustus 2024 sebesar Rp6,75 triliun.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit bank milik investor asal Thailand ini mencapai Rp134,61 triliun, meningkat 9,40% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp123,04 triliun. Pada saat yang sama, total DPK yang berhasil dihimpun mencapai Rp181,85 triliun, menyusut 2,11% YoY dari Agustus 2024 yang sebesar Rp185,76 triliun.
PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN)
Urutan kesembilan laba bank terbesar dipegang oleh Bank Danamon yakni sebesar Rp2,45 triliun pada Agustus 2025. Kendati begitu, laba bersih Bank Danamon tumbuh 22,11% YoY dari sebelumnya Rp2,00 triliun, menjadikannya sebagai bank dengan pertumbuhan laba terbesar dalam daftar ini. Capaian ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 3,70% YoY menjadi Rp6,29 triliun pada Agustus 2025.
Penyaluran kredit Bank Danamon tumbuh signifikan 7,06% YoY menjadi Rp149,08 triliun, dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp139,25 triliun.
Pada saat yang sama, DPK bank dengan kode emiten BDMN itu tumbuh 10,25% YoY menjadi Rp161,58 triliun. Pada Agustus 2024, BDMN mencatatkan total DPK sebesar Rp146,55 triliun.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN)
BTN menutup daftar 10 bank dengan laba terbesar per Agustus 2025. Bank pelat merah itu membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp1,99 triliun, tumbuh 10,48% YoY dari Rp1,80 triliun pada Agustus 2024.
BTN menjadi satu-satunya di antara Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahun berjalan pada Agustus 2025.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh signifikan 43,03% YoY menjadi Rp11,25 triliun, dari periode yang sama tahun lalu Rp7,87 triliun.
Dari sisi intermediasi, BTN tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp325,27 triliun, tumbuh 3,95% YoY dari Agustus 2024 Rp312,90 triliun. Pada saat yang sama, DPK BTN tumbuh 7,37% YoY menjadi Rp401,45 triliun pada Agustus 2025.
Rp312,90 triliun. Pada saat yang sama, DPK BTN tumbuh 7,37% YoY menjadi Rp401,45 triliun pada Agustus 2025.
Tabel daftar 10 bank dengan laba terbesar Agustus 2025
Bank Central Asia (BBCA) memimpin daftar top 10 bank dengan laba terbesar di Indonesia per November 2025, diikuti oleh BRI dan Bank Mandiri. [68] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Perbankan di Tanah Air mencatatkan kinerja beragam hingga November 2025. Hal tersebut terlihat dari laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan hingga bulan kesebelas 2025.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, bank-bank swasta yang masuk dalam daftar ini membukukan pertumbuhan laba bersih tahun berjalan. Pertumbuhan juga terlihat di dua bank pelat merah yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN).