Bisnis.com, JAKARTA — Harga biji kopi robusta di Indonesia naik sebesar 15%, sejalan dengan harga global yang terkerek imbas dari produksi yang terganggu oleh kenaikan suhu.
Analisis terbaru dari Climate Central berjudul More Coffee-Harming Heat Due to Carbon Pollution mengungkap bahwa krisis iklim turut berdampak pada pasokan kopi global. Gelombang panas akibat memburuknya iklim telah memangkas produksi dan menaikkan harga biji kopi.
Harga kopi secara global telah melonjak 45,89% dari US$2,63 per kg (sekitar Rp44.239 per kg) pada 2023 menjadi US$4,86 per kg (Rp81.751 per kg) pada 2025.
Seiring dengan kondisi tersebut, krisis iklim telah menambah rata-rata 57 hari gelombang panas di lima negara pemasok kopi terbesar, yakni Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia dan Indonesia. Kelima negara ini menyumbang 75% suplai kopi secara global. Tambahan hari panas yang berbahaya bagi produksi kopi berdampak pada kesehatan dan pertumbuhan tanaman tersebut.
“Hampir setiap negara penghasil kopi utama kini mengalami lebih banyak hari dengan suhu panas ekstrem yang dapat merusak tanaman kopi, mengurangi hasil panen, dan memengaruhi kualitas. Seiring waktu, dampak ini dapat menyebar dari perkebunan ke konsumen, hingga memengaruhi kualitas dan biaya kopi yang diminum setiap hari,” kata Kristina Dahl, Wakil Presiden Sains Climate Central.
Indonesia berkontribusi sebesar 6% dalam pasokan kopi secara internasional. Tetapi pada 2025, terdapat rata-rata 129 hari dengan suhu panas yang merusak tanaman kopi, dengan tambahan 73 hari akibat perubahan iklim. Kondisi ini mengganggu produksi kopi sehingga terjadi inflasi harga 15%.
Kopi membutuhkan kondisi yang sangat spesifik untuk tumbuh optimal. Sebagian besar kopi berasal dari daerah yang dikenal sebagai "sabuk kopi", yakni wilayah geografis di sekitar Garis Khatulistiwa yang memiliki iklim tropis ideal dengan suhu stabil di bawah 30°C dan curah hujan tinggi.
Krisis iklim yang makin parah mengancam jumlah lahan yang layak dijadikan pertanian kopi. Lahan layak tersebut diproyeksikan berkurang hingga 50% pada 2050 jika tidak ada adaptasi yang memadai.
Ketika suhu naik di atas ambang batas 30°C, tanaman kopi seperti robusta dan arabika akan mengalami stres panas yang dapat mengurangi hasil panen. Hal ini lantas memengaruhi kualitas biji kopi dan meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit.
Secara bersamaan, dampak-dampak ini dapat mengurangi pasokan dan kualitas kopi serta berkontribusi pada kenaikan harga secara global, terutama kopi arabika yang lebih sensitif pada kenaikan suhu daripada robusta.
Kondisi ini paling berdampak buruk bagi petani kecil yang menyumbang sekitar 80% dari produksi global dan berkontribusi sekitar 60% pasokan kopi dunia. Namun, petani kecil hanya menerima 0,36% dari pendanaan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim pada 2021, yakni US$2,19 per hari untuk satu hektare, kurang dari harga secangkir kopi di banyak negara. Petani kecil biasanya menggarap lahan kurang dari sekitar 12 hektar.
Menurut Yosi Amelia, Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan, pendekatan agroforestri bisa menjaga stabilitas ekologi kebun dalam konteks perubahan iklim. Sistem kopi dengan pohon naungan mampu menciptakan iklim mikro yang lebih stabil, menjaga kelembaban tanah, serta mengurangi dampak suhu ekstrem dan variabilitas curah hujan. Agroforestri berfungsi sebagai mekanisme adaptasi produksi yang memperkuat ketahanan tanaman sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon.
“Tantangan terbesar justru terletak pada tata kelola perkebunan kopi. Sebagian besar kopi Indonesia diproduksi oleh petani kecil dengan akses terbatas terhadap penyuluhan, pembiayaan, informasi iklim, dan pasar yang adil. Tanpa sistem tata kelola yang kuat, upaya adaptasi akan berjalan sporadis dan sulit mencapai skala yang dibutuhkan,” jelas Yosi.