Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja bank-bank BUMN diproyeksikan tetap solid pada tiga bulan pertama tahun ini, utamanya dari sisi pertumbuhan kredit, laba, dan kualitas aset yang tetap terjaga.
Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menyampaikan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) misalnya, masih mencatat pertumbuhan laba dan kredit yang kuat pada Januari–Februari 2026. Pada saat yang sama, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga menunjukkan ekspansi kredit yang agresif di awal tahun.
Di level industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat pertumbuhan kredit bank BUMN pada Februari 2026 sebagai yang tertinggi di kelompok perbankan, dengan kualitas kredit tetap sehat.
“Karena itu, proyeksinya sampai akhir 2026 menurut saya masih positif,” kata Arianto kepada Bisnis, Selasa (14/4/2026).
Kendati masih positif, dia memperkirakan lajunya akan lebih selektif. Menurutnya, bank-bank BUMN tetap menjadi motor intermediasi hanya saja pertumbuhan ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga margin, likuiditas, dan kualitas kredit di tengah gejolak global.
Hal senada juga disampaikan oleh Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto. Dia menilai, hal ini merupakan kelanjutan momentum pemulihan yang sudah terlihat sejak akhir tahun lalu, didukung oleh pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI) dan pemulihan aktivitas ekonomi domestik.
Berdasarkan data Januari–Februari 2026 sebagai proksi kuartal pertama, Myrdal mengungkapkan bahwa laba bersih bank BUMN besar mencatat pertumbuhan yang cukup menarik.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) misalnya naik 17,05% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp7,73 triliun, sementara BMRI tumbuh 16,7% menjadi Rp8,9 triliun. Bahkan secara agregat, sepuluh bank besar termasuk BUMN mencatat kenaikan laba bersih sekitar 23,3% YoY.
Pertumbuhan kredit bank BUMN juga menjadi yang tertinggi di industri, mencapai 12,78% YoY per Februari 2026. Realisasi ini jauh di atas rata-rata industri yang hanya 9,37% YoY.
Menurut Myrdal, terdapat empat faktor yang sangat dominan mendorong kinerja bank-bank pelat merah pada kuartal I/2026. Pertama, penurunan tajam biaya dana akibat transmisi penurunan suku bunga BI Rate sepanjang 2025.
“Ini membuat beban bunga turun signifikan dan mendukung Net Interest Income tetap tumbuh meski Net Interest Margin (NIM) sedikit tertekan,” ujar Myrdal kepada Bisnis, Selasa (14/4/2026).
Kedua, ekspansi kredit yang solid dan lebih difokuskan pada segmen produktif seperti UMKM, korporasi, serta wholesale banking.
Ketiga, penurunan biaya kredit (cost of credit) yang cukup besar sehingga laba bersih mendapat dorongan ekstra dari perbaikan kualitas aset. Keempat, peningkatan fee-based income dari digital banking dan transaksi konsumen yang mulai pulih.
Sementara itu, dia tidak menampik bahwa faktor yang sedikit menekan kinerja bank BUMN masih ada, tetapi relatif terkendali. Di antaranya adalah kenaikan provisi di satu-dua bank seperti BBNI, karena normalisasi di segmen tertentu, serta persaingan ketat di dana murah yang membuat NIM di beberapa bank berada di kisaran 3,7%–4,4%.
Di sisi lain, Arianto menilai bahwa risiko eksternal seperti volatilitas global dan nilai tukar dapat menahan appetite ekspansi. Di tengah tekanan-tekanan yang membayangi, dia memandang bahwa awal 2026 bukan fase krisis bagi bank BUMN.
“Ini adalah fase di mana bank yang paling efisien, paling kuat CASA-nya, dan paling disiplin mengelola risiko akan tampil paling unggul,” tegas Arianto.
Tetap Optimistis
Kendati belum merilis secara resmi kinerja keuangan kuartal I/2026, sejumlah bank pelat merah meyakini bahwa kinerja perseroan pada periode ini cukup positif, bahkan lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pada Februari 2026, kinerja PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) menunjukkan pertumbuhan yang solid di berbagai indikator utama. Pembiayaan tumbuh 14,32% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp323 triliun.
Pada periode yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI tumbuh 14,76% YoY menjadi Rp366 triliun. Dari sisi profitabilitas, perseroan turut membukukan laba sebesar Rp1,36 triliun, tumbuh sekitar 17% YoY, melanjutkan tren pertumbuhan berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami berharap tren kinerja Perseroan akan terus solid dan positif pada tahun ini,” kata Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo kepada Bisnis, Selasa (14/4/2026).
Anggoro tidak memungkiri bahwa tantangan yang dipicu oleh kondisi geopolitik global kemungkinan memengaruhi perilaku masyarakat untuk lebih selektif dan berhati-hati.
Namun, BSI tetap optimistis bahwa stimulus dan kebijakan yang diberikan Pemerintah mampu mendorong likuiditas bank, akselerasi pertumbuhan ekonomi di sektor riil. Dia mengharapkan, rangkaian kebijakan itu mampu mendorong peningkatan daya beli masyarakat dan perputaran ekonomi menjadi optimal.
Senada, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) Nixon L.P. Napitupulu mengharapkan kinerja perseroan pada awal 2026 lebih baik dibandingkan sebelumnya. Sebagai informasi, BTN akan merilis kinerja keuangan kuartal I/2026 pada 15 April 2026.
“Semoga lebih baik, harapannya lebih baik,” kata Nixon saat ditemui di Bekasi, Jawa Barat, Senin (13/4/2026).
Sedikit berbeda dengan BSI dan BTN, PT Bank Syariah Nasional memberi sinyal bahwa kinerja perseroan pada tiga bulan pertama 2026 ditutup dengan capaian positif.
Wakil Direktur Utama BSN Arga M. Nugraha mengatakan, berdasarkan laporan keuangan unaudited, kinerja keuangan ditutup dengan angka yang baik.
“Paling tidak untuk angka yang unaudited ya. Jadi kami tutup dengan angka yang Alhamdulillah baik,” ungkap Arga, Senin (13/4/2026).
Kinerja yang positif itu salah satunya terlihat dari sisi aset perseroan. Dia mengungkapkan, aset BSN mencapai Rp76 triliun hingga kuartal I/2026. Sebagai perbandingan, sebelum resmi berdiri sebagai bank hasil spin-off pada akhir 2025, total aset Unit Usaha Syariah (UUS) BTN mencapai Rp68,36 triliun pada kuartal III/2025.
Meski belum dapat merinci lebih jauh lantaran saat ini laporan kinerja kuartal I/2026 masih dalam proses audit, Arga mengungkapkan bahwa baik dari sisi pertumbuhan maupun kualitas, kinerja perseroan masih cukup baik untuk mendukung proses bisnis keseluruhan BTN, selaku induk BSN.
“Perusahaan masih dalam proses angka audit ya. Namun dari pertumbuhan, dari kualitas, mungkin sekedar sneak preview, saya yakin angka-angka masih baik,” pungkasnya.