Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, Arif Suhartono mengungkapkan bahwa penurunan port stay atau waktu kapal bersandar, menjadi bukti nyata transformasi Pelindo.
Dalam usia empat tahun usai merger, Arif mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan perbaikan di seluruh pelabuhan di Barat hingga Timur Indonesia. Utamanya, terkait kelancaran arus barang di pelabuhan.
Semakin pendek waktu kapal bersandar, maka hal itu menjadi bentuk nyata Pelindo telah membantu kelancaran arus barang.
“Port stay sejatinya itu adalah transformasi fundamental yang perlu dilakukan untuk mencapai port stay yang pendek dan stabil,” ujarnya kepada Bisnis di Pelindo Tower Senin (17/11/2025).
Sebelumnya, kapal memerlukan waktu rata-rata tiga hari saat bersandar. Kini, aktivitas dapat dilakukan hanya dalam kurun waktu satu hari. Arif menuturkan, transformasi ini sekaligus membuat kegiatan di pelabuhan dapat lebih efisien.
“Artinya apa? Di situ terjadi efisiensi yang luar biasa terkait dengan port stay. Maka bagi shipping line, itu dapat menambah port of call dengan jumlah kapal yang sama,” ungkapnya.
Secara bertahap, tranformasi yang Pelindo lakukan ini dapat menurunkan biaya bagi shipping line. Bukan hanya bagi pelaku usaha yang merasakan efeknya, port stay yang turun akan secara gradual berdampak kepada masyarakat.
Di samping kelancaran arus barang, transformasi dilakukan juga dengan standardisasi layanan dan digitalisasi yang sudah dilakukan. Kemudian, transformasi juga dilakukan baik dari sistem, sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, termasuk organisasi.
Sebagai contoh, PT Pelindo Terminal Petikemas (TPK) Kupang, Nusa Tenggara Timur, ikut merasakan transformasi tersebut.
PT Meratus, perusahaan logistik terbesar yang menggunakan layanan di Pelindo TPK Kupang, pun merasakan dampak signifikan dari transformasi ini.
Kepala Operasional PT Meratus cabang Kupang Fauzan menuturkan bahwa efek digitalisasi tercermin dari pelayanan yang lebih cepat karena beberapa administrasi yang sebelumnya manual, kini dapat diakses secara sistem.
“Untuk efek digitalisasi yang bisa dirasakan adalah pelayanan terasa lebih cepat,” ungkapnya saat ditemui di kawasan TPK Kupang beberapa waktu lalu.
Terlebih, setiap kapal Meratus memiliki muatan 250 kontainer sampai dengan 350 kontainer. Bongkar muat sebanyak 700 kontainer (bongkar 350, muat 350) pun dapat dilakukan dalam kurun waktu 24 jam.
Tantangan Tranformasi
Arif mengakui bahwa transformasi bukan perkara mudah, karena melibatkan seluruh ekosistem pelabuhan, mulai dari karyawan Pelindo, regulator, pengemudi truk, hingga cargo owner.
Perubahan pola kerja menjadi tantangan sendiri, karena harus mengubah dari yang lama menuju standar baru.
Tantangan tersebut dilalui dengan melakukan komunikasi yang intens dalam memberikan pemahaman terhadap seluruh ekosistem yang terlibat, meskipun membutuhkan waktu yang cukup panjang.
“Karena sejatinya yang kita transform terminal itu adalah kita men-transform ekosistem, tidak hanya di internal, tetapi juga eksternal termasuk cargo owner, termasuk juga regulator, sampai truck driver eksternal,” tambahnya.
Selama empat tahun sudah Pelindo terus melakukan transformasi. Ke depan, selain terus memperbaiki port stay di seluruh pelabuhan, Arif berencana untuk melakukan sentralisasi planning and control.
“Kami akan membuat satu tempat di Jakarta yang bisa melakukan remote planning and control seluruh terminal peti kemas di Indonesia,” ungkapnya.