#30 tag 24jam
Fenomena Side Hustle: Ketika Satu Gaji Tak Lagi Cukup, Ini Tips Keuangan untuk Gen Z
Fenomena side hustle marak di kalangan Gen Z akibat biaya hidup tinggi dan gaji yang tak mencukupi. Gen Z memanfaatkan teknologi untuk mencari penghasilan tambahan. [925] url asal
#side-hustle #pekerjaan-sampingan #penghasilan-tambahan #gen-z #era-digital #peluang-ekonomi #pekerjaan-utama #kestabilan-ekonomi #biaya-hidup #gaya-hidup #pasar-kerja #sumber-penghasilan #pengelolaan
(Bisnis.Com - Terbaru) 17/05/26 14:50
v/222907/
Bisnis.com, JAKARTA - Belakangan ini, cerita tentang pekerja yang memiliki pekerjaan sampingan semakin sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Ada pegawai kantor yang menjadi pengemudi ojek daring sepulang kerja, karyawan yang berjualan makanan ringan di kantor, hingga anak muda yang menawarkan jasa desain, editing video, atau menjadi afiliator media sosial.
Fenomena ini dikenal dengan istilah side hustle, yaitu pekerjaan tambahan di luar pekerjaan utama untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Di era digital, side hustle berkembang sangat cepat karena teknologi membuat peluang mencari uang menjadi jauh lebih mudah. Seseorang kini tidak perlu membuka toko besar atau memiliki modal besar untuk memulai usaha sampingan. Dengan ponsel dan internet, orang bisa menjual produk, menawarkan jasa, atau membangun usaha kecil dari rumah.
Karena itu, side hustle sering dianggap sebagai simbol kreativitas ekonomi masyarakat modern. Banyak orang melihatnya sebagai tanda bahwa generasi sekarang lebih aktif, lebih fleksibel, dan lebih berani mencari peluang. Namun di balik gambaran tersebut, ada realitas ekonomi yang lebih dalam. Semakin banyaknya pekerja yang merasa perlu memiliki penghasilan tambahan sebenarnya juga menunjukkan bahwa pekerjaan utama sering kali belum cukup memberikan rasa aman secara finansial.
Mengapa Side Hustle Semakin Marak?
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, biaya hidup terus meningkat sementara banyak pekerja merasa pendapatan mereka tidak bertambah secepat kebutuhan sehari-hari.
Banyak pekerja, terutama dengan gaji setara UMR, mengalami kondisi yang sering disebut “gaji numpang lewat”. Baru beberapa hari menerima gaji, sebagian besar uang sudah habis untuk kebutuhan rutin seperti sewa tempat tinggal, transportasi, makan, cicilan, hingga kebutuhan keluarga. Setelah itu, hanya sedikit uang yang tersisa untuk tabungan atau dana darurat.
Di saat yang sama, gaya hidup perkotaan juga semakin mahal. Media sosial turut membentuk budaya konsumsi baru. Nongkrong di café, konser musik, healing, olahraga mahal seperti padel atau golf, hingga kebiasaan belanja impulsif karena promo digital menjadi pengeluaran yang semakin umum. Banyak orang akhirnya merasa harus mencari tambahan pemasukan agar kondisi keuangan tetap aman.
Fenomena ini juga berkaitan dengan kondisi pasar kerja di Indonesia. Data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa meskipun jumlah orang yang bekerja terus meningkat, tidak semua pekerjaan memberikan penghasilan stabil dan perlindungan kerja yang memadai. Banyak pekerja masih berada di sektor informal atau pekerjaan dengan pendapatan yang tidak pasti. Dalam kondisi seperti itu, memiliki lebih dari satu sumber penghasilan menjadi strategi bertahan hidup.
Karena itulah, side hustle bagi sebagian orang bukan lagi sekadar pilihan untuk menambah uang jajan atau mengejar gaya hidup, melainkan cara untuk menjaga kestabilan ekonomi keluarga.
Bagaimana Gen Z Menghadapi Kondisi Ini?
Generasi Z menjadi kelompok yang paling dekat dengan fenomena side hustle. Mereka tumbuh di era internet dan media sosial, sehingga lebih terbiasa melihat peluang ekonomi dari dunia digital.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung fokus pada satu pekerjaan tetap, banyak Gen Z justru melihat fleksibilitas sebagai sesuatu yang penting. Mereka tidak selalu mengejar pekerjaan kantoran dengan pola kerja konvensional. Banyak yang memilih menggabungkan pekerjaan utama dengan pekerjaan freelance, bisnis online, atau proyek digital lain yang bisa dikerjakan secara fleksibel.
Bagi Gen Z, memiliki beberapa sumber penghasilan dianggap lebih aman dibanding hanya bergantung pada satu pekerjaan. Apalagi mereka tumbuh di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, mulai dari pandemi, gelombang PHK, hingga naiknya biaya hidup di perkotaan.
Di sisi lain, generasi muda saat ini juga mulai lebih sadar terhadap pentingnya pengelolaan keuangan. Konsep seperti frugal living, dana darurat, investasi, dan penghasilan pasif semakin populer di media sosial. Hidup hemat tidak lagi dipandang sebagai simbol kekurangan, melainkan sebagai pilihan rasional untuk menjaga kestabilan finansial.
Meski begitu, tantangan yang dihadapi Gen Z juga tidak sedikit. Banyak anak muda mengalami tekanan untuk terlihat sukses di media sosial. Mereka merasa harus mengikuti tren gaya hidup tertentu agar tidak tertinggal secara sosial. Akibatnya, penghasilan tambahan dari side hustle terkadang justru habis kembali untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.
Karena itu, tantangan terbesar generasi sekarang sebenarnya bukan hanya mencari uang tambahan, tetapi juga mengelola uang dengan lebih bijak.
Side Hustle dan Realitas Ekonomi Masa Kini
Fenomena side hustle menunjukkan bahwa dunia kerja sedang berubah. Pekerjaan tetap tidak lagi selalu dianggap cukup untuk memberikan rasa aman. Banyak orang merasa perlu membangun beberapa sumber pendapatan sekaligus agar lebih tahan menghadapi kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Perkembangan teknologi memang membuka banyak peluang baru. Seseorang kini bisa menghasilkan uang dari keahlian sederhana seperti memasak, menulis, berbicara di depan kamera, desain grafis, atau bahkan dari hobi sehari-hari. Namun di balik peluang tersebut, ada kenyataan bahwa banyak pekerja masih harus bekerja lebih keras hanya untuk mencapai kestabilan finansial.
Karena itu, side hustle memiliki dua sisi sekaligus. Di satu sisi, ia menunjukkan kreativitas dan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman. Namun di sisi lain, ia juga menjadi tanda bahwa banyak orang merasa satu pekerjaan saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tips Menghadapi Kondisi Ekonomi Sekarang
Agar tidak terjebak dalam siklus “gaji habis sebelum akhir bulan”, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
- Sisihkan tabungan di awal, bukan menunggu sisa gaji.
- Bangun dana darurat sedikit demi sedikit, meski nominalnya kecil.
- Kurangi pengeluaran impulsif yang dipengaruhi promo atau tren media sosial.
- Bedakan kebutuhan dan keinginan.
- Cari side hustle yang sesuai kemampuan agar tidak cepat burnout.
- Tingkatkan keterampilan yang bisa menghasilkan uang tambahan.
- Hindari memaksakan gaya hidup demi validasi sosial.
- Fokus membangun kestabilan keuangan jangka panjang, bukan sekadar terlihat sukses.
Pada akhirnya, fenomena side hustle bukan hanya soal tren mencari uang tambahan. Ia menggambarkan bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, berusaha bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan ekonomi yang semakin kompleks. Jika pekerjaan utama mampu memberikan kehidupan yang layak, pekerjaan sampingan akan menjadi pilihan. Namun ketika satu penghasilan belum cukup menopang kebutuhan hidup, maka side hustle akan terus menjadi bagian dari realitas banyak pekerja masa kini.
Angka Pertumbuhan yang Tidak Sampai ke Meja Makan
Kelas menengah Indonesia menjadi bantalan sekaligus mesin konsumsi nasional. Mereka membayar pajak, berbelanja, menyekolahkan anak, dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi dari dalam. [1,169] url asal
#pertumbuhan #pertumbuhan-ekonomi #kelas-menengah #side-hustle #tekanan-ekonomi #inflasi #ketahanan-finansial #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 13/05/26 08:05
v/219707/
Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, Rini memeriksa dompetnya dua kali. Bukan karena ia miskin. Ia punya pekerjaan tetap, tinggal di kontrakan yang layak di pinggiran Jakarta, dan selama bertahun-tahun masuk dalam golongan yang disebut kelas menengah. Tapi belakangan, sesuatu bergeser.
Harga telur naik. Ongkos transportasi naik. Cicilan terasa lebih berat. Gajinya, seperti bulan-bulan sebelumnya, tidak ke mana-mana. Di kantor, beredar kabar soal efisiensi karyawan. Rini tidak tahu apakah namanya ada dalam daftar. Yang ia tahu, bulan ini ia kembali menggeser sebagian tabungan ke rekening harian, bukan untuk kesenangan, tetapi untuk bertahan.
Rini bukan nama nyata. Tapi kisahnya adalah kisah jutaan orang Indonesia hari ini.
Di saat yang sama, pemerintah mengumumkan kabar yang tampaknya bertolak belakang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan, melampaui capaian periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87%. PDB atas dasar harga berlaku menembus Rp6.187,2 triliun. Para pejabat menyebutnya sinyal optimisme, bukti ketangguhan ekonomi nasional di tengah guncangan global. Lantas, mengapa Rini masih harus menghitung ulang isi dompetnya setiap pagi?
Lalu, dari mana angka itu datang? Jawaban atas pertanyaan itu dimulai dari membongkar isi angka 5,61% itu sendiri. Dari sisi pengeluaran, menurut data BPS konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52% dan menyumbang 54,36% terhadap PDB. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96%. Dua komponen ini bersama-sama berkontribusi 82,65% terhadap total PDB. Sejauh ini tampak wajar.
Yang perlu diperhatikan adalah lonjakan konsumsi pemerintah yang mencapai 21,81%. Lonjakan ini didorong oleh pencairan gaji ke-14 dan Tunjangan Hari Raya (THR) aparatur negara, ditambah belanja program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipercepat di awal tahun anggaran. Ini bukan ekspansi yang tumbuh dari produktivitas atau inovasi. Ini adalah suntikan fiskal yang bersifat musiman, yang tidak akan hadir dengan skala yang sama di kuartal berikutnya.
Sisi lapangan usaha pun bercerita serupa. Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14%, sebagian besar karena momen Idul Fitri dan program MBG. Transportasi tumbuh 8,04% karena lonjakan mobilitas hari raya. Pertumbuhan ini nyata, namun bersifat siklikal. Sementara sektor pertambangan yang menyumbang 8,69% terhadap PDB justru mengalami kontraksi 2,14%. Ekspor, cerminan daya saing riil, hanya tumbuh 0,90%. Impor justru tumbuh 7,18%, menjadi faktor pengurang yang signifikan.
Dengan kata lain, pertumbuhan 5,61% ini sebagian besar adalah hasil belanja negara yang diakselerasi dan efek musiman yang tidak akan bertahan. Mesin ekonomi yang sesungguhnya, yaitu ekspor, industri pengolahan bernilai tambah tinggi, dan penciptaan lapangan kerja formal, belum berputar sekencang yang diharapkan.
Membaca data-data di atas, sejenak kita perlu berhenti dan melihat ulang gambaran yang lebih dalam, bahwa ada gambaran tentang kemanusiaan dan kesejahteraan semu di balik angka-angka itu.
Selama bertahun-tahun, kelas menengah Indonesia menjadi bantalan sekaligus mesin konsumsi nasional. Mereka membayar pajak, berbelanja, menyekolahkan anak, dan menggerakkan perekonomian dari dalam. Pada 2024, kelas menengah bersama kelompok menuju kelas menengah menyumbang 81,49% dari total konsumsi rumah tangga nasional. Bisa ditegaskan kelas menengah adalah fondasi yang selama ini menopang angka pertumbuhan itu.
Namun fondasi itu sedang retak. BPS mencatat jumlah penduduk kelas menengah turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024, dan turun lagi menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Dalam enam tahun, hampir 10,6 juta orang keluar dari lapisan menengah. Kelompok rentan miskin, mereka yang berada tepat di tepi jurang kemiskinan, meningkat dari 54,97 juta menjadi 67,69 juta orang pada periode yang sama.
Mereka yang turun kelas bukan karena tidak bekerja keras. Mereka adalah pekerja formal yang terkena PHK, lalu beralih ke pekerjaan informal tanpa jaminan perlindungan. Mereka adalah kepala keluarga yang pendapatannya stagnan sementara pengeluaran untuk pajak, perumahan, pendidikan, dan kesehatan terus merayap naik. Mereka adalah orang-orang yang, meminjam istilah peneliti CELIOS, “makan tabungan” karena pengeluaran sudah melampaui pemasukan.
Melihat kondisi seperti ini, rasanya saya tidak salah jika menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat berjalan di jalur yang berbeda.
Ekonom yang Berani Mengkritik Alatnya Sendiri
Kemudian saya ingat seorang peraih Nobel Ekonomi tahun 2001, Joseph Stiglitz. Ia pernah mengajukan pertanyaan yang mengusik banyak pemerintah di dunia. Dalam laporan berpengaruhnya bersama Amartya Sen dan Jean-Paul Fitoussi yang diterbitkan pada 2009, ia berargumen bahwa PDB adalah alat ukur yang sudah usang untuk memotret kesejahteraan masyarakat modern. “Kita mengukur hal yang salah,” tulisnya, “dan akibatnya, kita mengambil keputusan yang salah.”
PDB, menurut Stiglitz, hanya menghitung total nilai produksi, bukan distribusinya. Ia tidak membedakan apakah kekayaan yang dihasilkan dinikmati oleh banyak orang atau terkonsentrasi di tangan segelintir pihak. Ia tidak mencatat apakah seseorang kehilangan pekerjaan dan terpaksa membuka warung kaki lima sebagai sumber penghasilan baru, karena keduanya sama-sama masuk sebagai aktivitas ekonomi yang menambah PDB. Ia juga tidak mengukur kerentanan, ketimpangan, atau kualitas hidup yang sesungguhnya.
Kritik Stiglitz bukan hanya relevan untuk Amerika Serikat atau Eropa tempat ia berteori. Ia sangat relevan untuk Indonesia hari ini, di mana PDB tumbuh 5,61%, tetapi kelas menengah terus menyusut, PHK terus terjadi, dan jutaan orang merasa bahwa kehidupan mereka tidak ikut tumbuh bersama angka itu. Ketika indikator kesejahteraan nyata bergerak berlawanan arah dengan angka PDB, kita sedang menghadapi bukan sekadar paradoks statistik, melainkan pertumbuhan yang eksklusif secara struktural.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Memahami akar masalah adalah langkah pertama. Tapi pemahaman saja tidak cukup. Pertanyaan selanjutnya adalah: apa yang harus berubah, dan siapa yang harus bergerak?
Bagi pemerintah, sudah waktunya PDB tidak lagi menjadi satu-satunya barometer keberhasilan. Indonesia perlu mengadopsi dasbor indikator kesejahteraan yang lebih luas, mencakup pertumbuhan upah riil, kualitas pekerjaan formal, indeks mobilitas kelas sosial, dan tekanan biaya hidup terhadap rumah tangga.
Belanja negara perlu dirancang bukan hanya untuk mendongkrak angka agregat melalui suntikan musiman, melainkan untuk membangun kapasitas struktural jangka panjang. Pelatihan vokasi, penguatan UMKM, dan perlindungan sosial yang menjangkau kelas menengah rentan, bukan hanya kelompok miskin. Jika kelas menengah terus menyusut, mesin konsumsi domestik yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan itu sendiri yang akan berhenti berputar.
Bagi kita sebagai masyarakat, ada hal yang juga perlu berubah. Pertama, membangun ketahanan finansial yang tidak bertumpu pada satu sumber penghasilan saja. Gelombang PHK mengajarkan bahwa kerentanan terbesar berasal dari ketergantungan tunggal. Mengembangkan keterampilan baru, membangun jaringan penghasilan tambahan, dan mengelola pengeluaran dengan lebih sadar adalah langkah-langkah kecil yang bermakna besar dalam jangka panjang.
Kedua, memperkuat ekosistem ekonomi lokal dengan cara yang paling sederhana: memilih produk dan jasa dari pelaku usaha kecil di sekitar kita, karena uang yang berputar di komunitas sendiri jauh lebih berdampak daripada yang mengalir keluar. Ketiga, dan mungkin yang paling penting, meningkatkan literasi ekonomi agar kita tidak mudah puas dengan satu angka. Masyarakat yang mampu membaca data dengan kritis adalah masyarakat yang lebih sulit dibungkam oleh statistik yang menyesatkan.
Rini, dan jutaan orang sepertinya, tidak membutuhkan perayaan atas angka PDB. Mereka membutuhkan kebijakan yang benar-benar meringankan beban hidup mereka, dan mereka membutuhkan sesama warga yang cukup peduli untuk menuntut hal itu bersama-sama. Pertumbuhan yang sesungguhnya bukan yang hanya terlihat di atas kertas, melainkan yang terasa di meja makan, di kantong pekerja, dan di masa depan anak-anak mereka.
Tulang Punggung yang Kelelahan: Ancaman dari Side-Hustle Kelas Menengah
Populasi kelas menengah Indonesia sebagai mesin ekonomi menyusut. Side hustle yang mereka lakukan menandakan tekanan ekonomi yang semakin berat, berdasarkan riset Katadata Insight Center. [783] url asal
#kelas-menengah #kimci-2026 #side-hustling #pertumbuhan-ekonomi #konsumsi-rumah-tangga #side-hustle #katadata-insight-center #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 13/05/26 07:05
v/219661/
Kelas menengah merupakan mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan lebih dari setengah Produk Domestik Bruto (PDB) berasal dari konsumsi rumah tangga, kelas menengah menjadi kontributor terbesar dan andalan ekonomi Indonesia. Namun BPS mencatatkan penurunan signifikan populasi kelompok ini, dari 57,3 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,2 juta jiwa pada 2024.
Riset Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) oleh Katadata Insight Center (KIC) mengungkap kemunculan fenomena side-hustle di kelas menengah. Fenomena ini merupakan respons terhadap tekanan ekonomi yang mereka hadapi. Sehingga, semakin maraknya side-hustle perlu menjadi alarm bahwa kelas menengah Indonesia, mesin penggerak ekonomi bangsa, memang sedang tidak baik-baik saja.
Riset KIMCI yang diluncurkan KIC pada April 2026 menunjukkan 6 dari 10 kelas menengah Indonesia pernah mengalami “besar pasak daripada tiang” sepanjang 2025. Namun defisit yang mereka alami bukan karena pengelolaan keuangan yang buruk, melainkan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Riset yang sama menunjukkan kelas menengah sebenarnya sudah semakin cakap mengalokasikan keuangannya, bahkan sudah memikirkan tabungan. Sayangnya, pertumbuhan pendapatan tidak mampu mengimbangi tingginya harga kebutuhan pokok. Akibatnya, lebih dari setengah pendapatan kelas menengah dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari serta membayar berbagai cicilan.
Ekonomi kelas menengah juga terbebani oleh upaya mereka memperoleh pelayanan dasar yang sesuai harapan mereka. Riset KIMCI menemukan penurunan 21,4% dalam kepercayaan kelas menengah terhadap rumah sakit pemerintah, serta peningkatan 22,2% dalam preferensi terhadap sekolah swasta.
Turunnya kepercayaan terhadap layanan pemerintah ini mendorong mereka beralih ke penyedia swasta, baik untuk pelayanan kesehatan maupun untuk pendidikan. Artinya, pemenuhan pelayanan dasar ini semakin membebani keuangan mereka.
Tingginya beban ekonomi yang perlu ditanggung, upaya memperoleh pelayanan publik yang baik, serta keinginan menikmati hari tua inilah yang menyebabkan pendapatan dari satu pekerjaan saja dirasa tidak lagi cukup. Alhasil, mendorong maraknya side-hustle atau kerja sampingan di kalangan kelas menengah.
Riset KIMCI mengungkapkan bahwa saat ini satu dari dua kelas menengah Indonesia memiliki pekerjaan sampingan. Kerja sampingan ini bukanlah sarana kelas menengah untuk menyalurkan hobi atau mengisi waktu. Fenomena ini bermotif kebutuhan ekonomi, di mana 53,1% melakukan kerja sampingan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan 41,5% melakukannya untuk menambah tabungan.
Pekerjaan sampingan yang dilakukan kelas menengah pun beragam. Mulai dari berjualan, menjadi pengemudi taksi atau ojek online, hingga konten kreator.
Peran teknologi sebagai enabler tidak hanya sebagai penunjang produktivitas dalam pekerjaan. Teknologi juga sebagai solusi mengelola energi dan waktu untuk menjalani dua pekerjaan. Ini merupakan salah satu faktor mengapa kelas menengah Indonesia begitu terbuka dengan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Fenomena side-hustle ini tidak bisa dianggap sebagai tren sesaat. Riset KIMCI menemukan bahwa 9 dari 10 kelas menengah yang saat ini memiliki pekerjaan sampingan berencana untuk terus melanjutkannya setidaknya hingga 5 tahun ke depan. Motif ekonomi masih menjadi pendorongnya.
Situasi ini bukan merupakan indikasi negara dengan semangat kewirausahaan yang tumbuh. Sebaliknya, pertanda sebuah negara dengan pasar lapangan kerja primer yang menuju kegagalan. Lantaran, satu pekerjaan saja sudah tidak lagi cukup untuk memberikan kehidupan yang layak.
Akibat tekanan ekonomi dan kerja sampingan, kelas menengah Indonesia juga menjadi semakin “defensif” dalam menggunakan uangnya. Dalam beberapa tahun terakhir, proporsi pengeluaran untuk barang tahan lama (durable goods) dan jasa menurun. Hal ini untuk mengimbangi kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok. Bahkan ketika berbelanja, kelas menengah kini lebih memprioritaskan barang yang tahan lama dan bernilai, lebih dari sekadar mengikuti tren dan mengejar harga murah.
Kelas menengah yang defensif seperti ini tidak dapat menjadi mesin yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintah. Ketika kelas menengah harus menghabiskan pendapatannya untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar cicilan, sektor-sektor seperti ritel dan otomotif akan terhambat.
Kelas menengah yang tidak berbelanja akan menyebabkan ekonomi yang stagnan, sehingga muncul urgensi bagi pemerintah dan dunia usaha untuk membantu kelompok ini.
Urgensi pemerintah dan dunia usaha untuk membantu kelas menengah semakin kuat. Hal ini mengingat bonus demografi Indonesia akan berakhir pada 2035. Jika tidak terjadi perbaikan yang signifikan pada penyusutan kelas menengah, Indonesia akan menghadapi beban demografi.
Angkatan kerja akan terbebani dengan berbagai pengeluaran. Akan semakin banyak generasi sandwich bermunculan akibat kesulitan kelas menengah saat ini dalam mengumpulkan cukup tabungan untuk hari tua mereka. Situasi seperti ini akan menyebabkan mimpi Indonesia menjadi negara maju, visi Indonesia Emas 2045, akan semakin jauh untuk digapai.
Fenomena side-hustle yang muncul di kelas menengah seharusnya jangan diromantisasi sebagai resilien dan adaptifnya kelas menengah dalam menghadapi tekanan ekonomi. Tren ini seharusnya juga menjadi alarm bagi pemerintah dan dunia usaha bahwa kelas menengah sedang dalam ancaman.
Riset KIMCI oleh KIC dirancang untuk membantu berbagai pemangku kepentingan untuk memahami realita kelas menengah Indonesia, dan bagaimana kita semua dapat membantu kelompok ini. Indonesia masih harus mengandalkan kelas menengah sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan mereka harus dijaga. Karena jika tulang punggung ekonomi ini mati, maka mimpi Indonesia Emas 2045 akan terkubur bersama mereka.
Heboh Lomba Tidur Siang di Korsel & Ancaman Kesehatan di Balik Tren Side Hustle
Ratusan anak muda di Seoul mengikuti Lomba Tidur Siang untuk mengatasi kelelahan akibat tren side hustle yang berisiko bagi kesehatan, seperti risiko stroke dan burnout. [556] url asal
#lomba-tidur-siang #power-nap-contest #side-hustle #ancaman-kesehatan #tren-side-hustle #kesehatan-mental #risiko-kesehatan #burnout-syndrome #produktivitas-kerja #risiko-stroke #penyakit-jantung #resi
(Bisnis.Com - Terbaru) 04/05/26 18:00
v/210724/
Bisnis.com, JAKARTA — Di bawah hangatnya matahari musim semi pada akhir pekan lalu (2/5/2026), ratusan anak muda di Seoul, Korea Selatan, memadati sebuah taman di tepi Sungai Han.
Mereka datang bukan untuk berolahraga atau bersantai seperti biasa, melainkan untuk melakukan sesuatu yang mulai jarang dilakukan, yakni tidur.
Anak-anak muda tersebut datang untuk mengikuti Lomba Tidur Siang (Power Nap Contest) dengan konsep yang tidak biasa yang digelar Pemerintah Metropolitan Seoul. Ajang yang sudah memasuki tahun ketiga ini punya tradisi unik, yakni setiap peserta datang dengan kostum khusus.
Ada yang datang dengan berdandan ala Putri Tidur atau pangeran. Mereka yang datang dan mengikuti kompetisi ini masing-masing memiliki latar belakang dan alasan yang beragam. Salah satunya yang diungkapkan Hwang Du Seong yang rindu tidur siang setelah menjalani side hustle.
"Saya benar-benar kelelahan, karena sering bekerja shift malam di samping pergi bekerja setiap hari, ditambah saya juga banyak mengemudi untuk pekerjaan. Jadi ketika saya melihat kontes itu, saya bertekad untuk tidur agar bisa mengisi ulang energi sepenuhnya di tengah semilir angin sungai, dan saya sangat senang bisa meraih juara kedua, untungnya," Kata Hwang Du Seong, pekerja kantoran berusia 37 tahun, dikutip dari The Independent, Senin (4/5/2026)
Side hustle memang telah menjadi fenomena global dalam beberapa tahun terakhir. Semakin banyak orang mencari penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama, baik karena tuntutan ekonomi, gaya hidup, maupun keinginan untuk mengejar minat pribadi.
Pakar kesehatan masyarakat dari Griffith University Dicky Budiman menilai tren side hustle dengan durasi kerja ekstrem—bahkan melampaui 12 jam per hari—semakin marak belakangan ini. Meski dianggap sebagai upaya meningkatkan pendapatan, pola kerja seperti itu membawa konsekuensi serius bagi kesehatan.
Dalam perspektif occupational health dan manajemen risiko, side hustle bukan sekadar memicu kelelahan biasa. Lebih dari itu, kondisi ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, yakni memperbesar risiko seseorang mengalami penyakit hingga kematian.
Berbagai studi, katanya, termasuk data dari WHO dan ILO pada periode 2021–2023, menunjukkan bahwa bekerja 55 jam atau lebih per minggu dapat meningkatkan risiko stroke hingga 35% dan penyakit jantung iskemik sekitar 17%.
"Hal ini terjadi akibat aktivasi kronis sistem saraf simpatis, peningkatan katekolamin, hipertensi persisten, disfungsi endotel, serta inflamasi sistemik," katanya.
Selain itu, terdapat risiko gangguan metabolik, seperti resistensi insulin yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya diabetes tipe 2. Dari sisi kesehatan mental, ancaman juga muncul dalam bentuk gangguan neuropsikiatri. Burnout syndrome yang telah diakui dalam ICD-11 dapat berkembang menjadi kecemasan, depresi, hingga penurunan fungsi kognitif.
Dampaknya terlihat pada menurunnya kemampuan mengambil keputusan, daya ingat, serta fungsi eksekutif, yang pada akhirnya justru menggerus produktivitas. Tak hanya itu, risiko imunosupresi juga perlu diwaspadai, karena kurang tidur dan stres kronis dapat melemahkan sistem imun, termasuk sel limfosit, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi, terutama pada saluran pernapasan.
"Selain itu, terdapat peningkatan risiko kecelakaan kerja akibat kelelahan, seperti microsleep dan penurunan refleks. Hal ini sangat sering ditemukan pada pekerja dengan beban kerja berlebih atau multi-job," imbuhnya.
Dicky menegaskan bahwa sistem kerja yang sehat seharusnya memiliki batasan waktu yang jelas. Salah satunya dengan mengakhiri jam kerja tepat waktu, misalnya pukul 17.00 tanpa tambahan rapat, disertai jeda istirahat rutin setiap satu jam untuk bergerak sejenak, serta pengaturan waktu makan yang teratur.
Menurutnya, pola kerja seperti ini justru terbukti lebih efektif dalam menjaga produktivitas. Dengan ritme kerja yang seimbang, tubuh dan pikiran tetap terjaga, sehingga kinerja dapat berlangsung optimal tanpa mengorbankan kesehatan.
Studi: Side Hustle Jadi Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi
Lonjakan pekerjaan tambahan menunjukkan kebutuhan finansial yang kian mendesak. [369] url asal
#side-hustle #kesehatan-finansial #literasi-keuangan #prudential-indonesia #tekanan-ekonomi #penghasilan-tambahan #manajemen-keuangan #ojk
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bagi banyak orang di Indonesia, pekerjaan sampingan atau side hustle menjadi cara untuk meraih tujuan finansial di tengah meningkatnya kebutuhan hidup. Fenomena ini tercermin dalam studi terbaru Prudential plc yang menunjukkan bahwa 43 persen responden di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan di luar pekerjaan utama.
Di satu sisi, hal ini mencerminkan semangat generasi muda untuk tetap produktif. Namun, di sisi lain juga menunjukkan adanya tekanan finansial yang mendorong mereka mencari sumber penghasilan tambahan.
Di saat yang bersamaan, nilai keluarga serta tanggung jawab tetap menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan finansial. Sebanyak 82 persen responden Indonesia menempatkan keluarga sebagai prioritas, sementara hanya 35 persen yang menyatakan tidak perlu memberikan dukungan finansial kepada orang lain. Hal ini menunjukkan tekanan finansial yang dihadapi banyak individu dan rumah tangga.
Temuan ini membentuk dasar dari Financial Wellbeing Index dari Prudential plc yang melibatkan lebih dari 7.000 responden di Asia berusia 18–60 tahun yang dilakukan oleh surveyor pihak ketiga. Studi ini mengukur kesehatan finansial melalui empat dimensi utama, yaitu keamanan finansial saat ini dan masa depan, serta kebebasan finansial saat ini dan masa depan.
Secara regional, hasil studi menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi risiko finansial dan meraih tujuan keuangan di masa depan masih menjadi tantangan. Hanya 45 persen responden yang yakin mampu menghadapi pengeluaran tak terduga atau memiliki tabungan yang cukup di masa depan. Di tengah kondisi tersebut, hanya 18 persen yang merasa memiliki akses memadai terhadap solusi keuangan.
Hal ini sejalan dengan tingkat literasi keuangan di Indonesia yang masih perlu diperkuat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan masyarakat berada di kisaran 66 persen. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat telah mulai membangun kebiasaan finansial, pemahaman terhadap pengelolaan keuangan jangka panjang masih perlu ditingkatkan.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia telah memulai langkah yang tepat, seperti memiliki penghasilan dan menabung. Menurut survei Prudential plc, 69 persen responden di Indonesia menabung setiap bulan, sementara 63 persen lainnya memiliki tujuan menabung yang jelas. Namun, langkah ini perlu dilanjutkan dengan kesiapan menghadapi risiko dan perencanaan jangka panjang.
Sejalan dengan momentum Global Money Week 2026 serta dukungan terhadap program GENCARKAN dari OJK, Prudential Indonesia mendorong masyarakat untuk tidak hanya fokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga memperkuat kesehatan finansial.
Survei Glassdoor: 68 Persen Gen Z Tak Tertarik Jadi Manajer
Survei Glassdoor terhadap lebih dari 1.000 profesional di AS menunjukkan 68 persen responden Gen Z mengaku tidak mengejar posisi manajer. [994] url asal
#karier #jam-kerja #gen-z #indepth #side-hustle #career-minimalism
(Kompas.com - Money) 26/02/26 18:03
v/148553/
JAKARTA, KOMPAS.com - Gen Z mengubah cara memandang dunia kerja. Jika generasi sebelumnya identik dengan ambisi meniti tangga karier hingga kursi manajerial, kelompok pekerja muda kini dinilai lebih pragmatis.
Laporan terbaru Glassdoor menyebut fenomena ini sebagai career minimalism, yakni pendekatan karier yang menempatkan pekerjaan utama sebagai sarana stabilitas finansial, sementara ambisi dan passion disalurkan di luar jam kerja, termasuk melalui side hustle yang kian menjanjikan.
Dikutip dari Fortune, Kamis (26/2/2026), survei Glassdoor terhadap lebih dari 1.000 profesional di Amerika Serikat (AS) menunjukkan 68 persen responden Gen Z mengaku tidak akan mengejar posisi manajemen jika bukan karena gaji atau jabatan.
freepik.com Ilustrasi Gen ZTemuan ini menandai pergeseran dari pola tradisional yang selama ini dipandang sebagai jalur utama kesuksesan profesional.
Morgan Sanner, pakar karier Gen Z di Glassdoor sekaligus pendiri Resume Official, menggambarkan perubahan tersebut dengan metafora berbeda.
“Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier yang fleksibel,” ujarnya.
Ia menyebut pendekatan ini sebagai sebuah jalur di mana kita dapat langsung menuju peluang apa pun yang paling sesuai pada saat ini.
"Dalam jangka panjang, fleksibilitas semacam itu lebih berkelanjutan, lebih realistis, dan lebih sesuai dengan realitas tempat kerja saat ini," jelas Sanner.
Gen Z dan jabatan manajerial: antara skeptis dan realitas data
Dok. Freepik/lookstudio Ilustrasi pekerja.Meski survei terbaru menunjukkan skeptisisme terhadap jabatan manajerial, data lain dari Glassdoor menghadirkan gambaran berbeda.
Daniel Zhao, Chief Economist Glassdoor mengatakan, laporan dua tahunan Worklife Trends menemukan Gen Z memasuki jajaran manajemen dengan tingkat yang sama seperti generasi sebelumnya.
Zhao merujuk pada konsep “conscious unbossing” alias pelepasan kendali secara sadar dan anggapan bahwa generasi muda enggan menjadi atasan karena tak lagi melihatnya sebagai jalur ideal.
Namun, menurutnya, Anda sebenarnya tidak melihat bukti apa pun tentang hal itu dalam data.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa milenial untuk pertama kalinya menjadi mayoritas manajer, sementara Gen Z menyumbang sekitar 10 persen dari total manajer.
“Manajemen bukanlah untuk semua orang, dan itu tidak apa-apa. Tetapi tetap saja, bidang ini dipandang sebagai jalur terbaik untuk menapaki tangga karier," ucap Zhao.
Zhao menekankan pentingnya tidak menggeneralisasi seluruh generasi. Namun, ia mengakui bahwa banyak pekerja muda dan Gen Z merasa pasar kerja tidak menguntungkan mereka.
"Sehingga beberapa jalur tradisional menuju kesuksesan terasa tidak terbuka seperti 10 hingga 20 tahun yang lalu," sebut dia.
Survei tersebut mengindikasikan manajemen kini dipandang lebih sebagai langkah formal dalam tangga karier, bukan tujuan intrinsik.
Pandangan ini selaras dengan temuan dua firma konsultan Big Four. EY menemukan Gen Z cenderung pragmatis dan memandang tonggak kehidupan tradisional dengan “skeptisisme yang beralasan”.
KPMG juga mensurvei karyawan Gen Z mereka dan menemukan generasi ini haus akan mentorship serta kolaborasi di kantor, namun sekaligus menginginkan berakhirnya mentalitas kerja sembilan sampai lima yang kaku dan mendukung fleksibilitas.
Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi bekerja, Gen Z bekerja di kantor.Generasi side hustle
Jika Gen Z tidak sepenuhnya menolak ambisi, tetapi juga tak sepenuhnya tertarik pada manajemen korporasi, ke mana energi tersebut dialihkan?
Laporan Glassdoor mengutip temuan Harris Poll yang menunjukkan 57 persen Gen Z saat ini memiliki side hustle atau pekerjaan sampingan, dibandingkan 48 persen milenial, 31 persen Gen X, dan 21 persen baby boomers.
Glassdoor menyebut Gen Z sebagai generasi yang benar-benar mengandalkan pekerjaan sampingan, di mana identitas pekerjaan berada di luar pekerjaan tradisional.
Side hustle tidak lagi dipandang sebagai distraksi atau opsi cadangan, melainkan bagian sentral identitas. Aktivitas ini menjadi wadah kreatif, kewirausahaan, atau bahkan aktivisme yang tidak bisa dipenuhi oleh pekerjaan utama.
Popularitas pekerjaan jarak jauh juga tercermin dalam data LinkedIn pada 2024. Hingga Desember 2023, hanya 10 persen lowongan kerja yang bersifat remote, tetapi posisi tersebut menerima 46 persen dari seluruh lamaran yang masuk.
Manajemen dalam perspektif baru
Ketika Gen Z tetap memasuki posisi manajemen, pendekatan mereka dinilai berbeda. Glassdoor mencatat keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar.
Sebanyak 58 persen manajer Gen Z dilaporkan mengurangi intensitas kerja pada musim panas, dibandingkan 39 persen rekan yang lebih tua. Selain itu, 31 persen pekerja mengharapkan jam kerja fleksibel dari manajer Gen Z.
“Gen Z sedang mempertimbangkan kembali apa arti sukses di tempat kerja saat ini,” ujar Zhao dalam laporan tersebut.
“Mereka bukannya menolak ambisi, mereka mengarahkannya ke jalur karier berkelanjutan yang memprioritaskan keamanan finansial dan kepuasan pribadi," imbuhnya.
PEXELS/PAVEL DANILYUK Ilustrasi bekerja.Dalam percakapannya dengan Fortune, Zhao menyebut terdapat banyak bukti bahwa pekerja merasa cemas, terlalu banyak bekerja, dan mengalami burnout.
"Ini bukan karena malas," tuturnya.
Data yang ada menunjukkan Gen Z mengambil langkah rasional terhadap pasar kerja yang dianggap tidak selalu memberi imbalan setimpal.
"Ini bukan karena pekerja tidak kapabel. Ini karena dalam kondisi seperti ini, banyak pekerja merasa tidak dihargai untuk level upaya dan performa yang mereka berikan," terang Zhao.
Temuan Glassdoor menilai kritik terhadap Gen Z sebagai generasi malas atau terlalu menuntut tidak sepenuhnya menggambarkan realitas. Generasi ini disebut menetapkan batasan, mendiversifikasi portofolio profesional, dan menempatkan kesehatan mental di atas dorongan kenaikan jabatan tanpa henti.
Mereka juga memandang kecerdasan buatan (AI) sebagai peluang sekaligus ancaman, serta beradaptasi dengan perubahan cepat secara lincah dan skeptis.
Glassdoor menulis, tren “career minimalism” bukan tentang bekerja lebih sedikit, namun tentang di mana pekerja menginvestasikan energi.
Pendekatan ini dinilai sebagai gambaran masa depan dunia kerja yang lebih luas.
Masa depan dunia kerja
Pendekatan Gen Z menawarkan jawaban berbeda atas pertanyaan tentang cara terbaik membangun karier.
Formula yang terlihat sederhana, pekerjaan stabil untuk keamanan finansial, side hustle untuk passion, serta batasan tegas demi keberlanjutan, mengubah definisi sukses profesional.
Dalam lanskap kerja yang terus berubah, munculnya career minimalism yang dipengaruhi nilai-nilai Gen Z berpotensi membentuk ulang cara orang mendefinisikan kesuksesan dan merasakan kepuasan.
Profesionalisme tidak lagi identik dengan ambisi tanpa batas menuju puncak struktur organisasi, melainkan kemampuan menyeimbangkan stabilitas, fleksibilitas, dan pemenuhan diri di luar kantor.
Data dan temuan tersebut menunjukkan bahwa pergeseran ini bukan semata-mata soal penolakan terhadap kerja keras, melainkan penyesuaian terhadap realitas pasar kerja yang dinilai semakin kompleks dan dinamis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Studi Randstad: Gen Z Hanya Bertahan 1,1 Tahun di Pekerjaan Pertama
Durasi rata-rata Gen Z bertahan dalam satu pekerjaan pada lima tahun pertama kariernya hanya 1,1 tahun. [1,074] url asal
#karier #lowongan-kerja #side-hustle #pekerja-gen-z #gen-z
(Kompas.com - Money) 24/02/26 10:34
v/145377/
JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan lanskap pasar tenaga kerja global semakin terasa bagi generasi termuda di dunia kerja.
Laporan dari Randstad berjudul The Gen Z Workplace Blueprint: Future Focused, Fast Moving memotret bagaimana Gen Z, yang lahir antara 1997 hingga 2007, membangun karier di tengah penurunan lowongan kerjaentry-level, percepatan adopsi teknologi, dan perubahan ekspektasi terhadap pekerjaan.
Studi ini melibatkan 11.250 responden di 15 pasar global serta analisis lebih dari 126 juta lowongan pekerjaan di seluruh dunia.
Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi Gen Z.Temuan-temuan di dalamnya menggambarkan dinamika awal karier Gen Z yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Rata-rata bertahan 1,1 tahun
Salah satu temuan utama laporan tersebut adalah durasi rata-rata Gen Z bertahan dalam satu pekerjaan pada lima tahun pertama kariernya hanya 1,1 tahun.
Angka ini jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Generasi milenial rata-rata bertahan 1,8 tahun, Gen X 2,8 tahun, dan Baby Boomers 2,9 tahun pada fase awal karier mereka.
Data ini menunjukkan mobilitas kerja generasi Z jauh lebih tinggi. Namun, laporan tersebut menekankan fenomena ini tidak serta-merta mencerminkan rendahnya loyalitas, melainkan berkaitan dengan aspirasi pertumbuhan.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa generasi Z bergerak lebih cepat ketika mereka tidak melihat jalur perkembangan karier yang jelas.
Sekitar satu dari tiga pekerja Gen Z menyatakan berencana pindah pekerjaan dalam 12 bulan ke depan.
Alasan utamanya bukan hanya kompensasi, tetapi juga kurangnya perkembangan karier dan tujuan pekerjaan yang jelas.
FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi lowongan kerja.Lowongan kerja entry-level turun 29 persen
Mobilitas tinggi tersebut terjadi di tengah perubahan struktural pada pasar kerja.
Analisis terhadap 126 juta lowongan pekerjaan menunjukkan posisi entry-level (nol sampai 2 tahun pengalaman) mengalami penurunan 29 persen poin sejak Januari 2024.
Penurunan ini terjadi di berbagai sektor. Industri teknologi mencatat penurunan 35 persen, logistik 25 persen, dan keuangan 24 persen.
Artinya, pintu masuk ke dunia kerja formal semakin menyempit. Bagi Gen Z, akses terhadap pekerjaan pertama tidak lagi seluas generasi sebelumnya.
Laporan tersebut menunjukkan di banyak industri, pekerjaan awal yang sebelumnya menjadi batu loncatan karier kini berkurang, baik karena otomatisasi, restrukturisasi organisasi, maupun efisiensi berbasis teknologi.
Hanya 45 persen bekerja penuh waktu secara tradisional
Laporan itu juga mencatat bahwa hanya 45 persen Gen Z saat ini berada dalam pekerjaan penuh waktu tradisional.
Dari kelompok yang bekerja penuh waktu tersebut, 31 persen memilih mengombinasikan pekerjaan utama dengan pekerjaan lain atau side hustle.
Fenomena ini mencerminkan pendekatan karier yang lebih fleksibel. Side hustle atau pekerjaan sampingan tidak hanya dilihat sebagai tambahan penghasilan, tetapi juga sebagai cara membangun portofolio keterampilan dan memperluas jaringan profesional.
Pendekatan ini sejalan dengan karakter generasi Z yang tumbuh di era digital, di mana peluang kerja freelance, ekonomi kreator, dan ekonomi gig semakin mudah diakses.
Gaji, fleksibilitas, dan tujuan kerja
Dok. Freepik/lookstudio Ilustrasi pekerja.Laporan Randstad menunjukkan, Gen Z memprioritaskan tiga hal utama dalam pekerjaan, yakni gaji, fleksibilitas, dan tujuan kerja (purpose).
Meskipun kompensasi alias gaji tetap menjadi faktor penting, fleksibilitas kerja dan makna pekerjaan memiliki bobot yang signifikan dalam pengambilan keputusan karier.
Gen Z cenderung mencari perusahaan yang menawarkan jalur perkembangan yang jelas, lingkungan kerja fleksibel, serta nilai perusahaan yang selaras dengan nilai pribadi mereka.
Dalam konteks ini, ketidakjelasan jenjang karier menjadi salah satu faktor utama yang mendorong niat pindah kerja.
Adopsi AI: 75 persen untuk upskilling
Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh bersama teknologi digital, Gen Z menunjukkan tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI) yang tinggi.
Menurut laporan tersebut, 75 persen Gen Z menggunakan AI untuk meningkatkan keterampilan (upskilling).
Selain itu, 55 persen memanfaatkannya untuk memecahkan masalah di tempat kerja, dan 50 persen menggunakan AI dalam proses pencarian kerja. Angka ini lebih tinggi dibanding generasi lainnya.
Namun, laporan tersebut juga mencatat adanya kesenjangan akses pelatihan. Pekerja pria dilaporkan lebih banyak menerima pelatihan AI dibanding pekerja perempuan.
Selain itu, pekerja white-collar memiliki akses lebih besar dibanding pekerja blue-collar.
Hal ini menunjukkan meskipun Gen Z relatif cepat mengadopsi teknologi, distribusi akses terhadap pelatihan formal belum merata.
Mobilitas sebagai respons atas perubahan
CEO Randstad Sander van ’t Noordende menyampaikan, Gen Z memasuki dunia kerja di tengah transformasi besar.
PEXELS/THIRDMAN Ilustrasi bekerja di kantor.“Gen Z memasuki dunia kerja di tengah transformasi, bukan hanya menanggapi perubahan, tetapi juga mendorongnya. Mereka ambisius, mudah beradaptasi, dan mencari pertumbuhan," tutur van 't Noordende.
"Perusahaan yang ingin mempertahankan mereka harus memikirkan kembali cara mereka merancang karier awal dan membangun kepercayaan melalui tujuan dan kemajuan," imbuh dia.
Pernyataan tersebut menegaskan mobilitas Gen Z terjadi dalam konteks perubahan struktural yang lebih luas, termasuk transformasi digital, perubahan model bisnis, serta dinamika global pascapandemi.
Menurut laporan tersebut, perusahaan yang ingin mempertahankan talenta Gen Z perlu merancang ulang peran entry-level agar menjadi batu loncatan pertumbuhan yang nyata, bukan sekadar posisi administratif awal.
Tantangan awal karier
Dengan berkurangnya lowongan kerja entry-level dan meningkatnya ekspektasi terhadap keterampilan digital, generasi Z menghadapi tantangan ganda.
Di satu sisi, mereka dituntut memiliki kemampuan teknologi dan adaptasi tinggi. Di sisi lain, akses terhadap pengalaman kerja formal pertama menjadi lebih terbatas.
Laporan tersebut menunjukkan percepatan otomatisasi dan penggunaan AI berkontribusi terhadap penyusutan beberapa peran awal yang sebelumnya menjadi titik masuk karier.
Situasi ini mendorong Gen Z untuk lebih proaktif membangun kompetensi secara mandiri, termasuk melalui kursus daring, proyek independen, dan pengalaman kerja fleksibel.
Rekomendasi untuk pemberi kerja
Dalam laporan tersebut, Randstad mengidentifikasi beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan pemberi kerja atau perusahaan.
- Mendesain ulang pekerjaan entry-level sebagai jalur perkembangan yang jelas.
- Membangun kepercayaan melalui transparansi jalur karier dan tujuan organisasi.
- Memastikan akses pelatihan, terutama dalam teknologi dan AI, tersedia secara merata.
PEXELS/PAVEL DANILYUK Ilustrasi bekerja.Pendekatan ini dinilai penting untuk menjembatani kesenjangan antara ekspektasi generasi Z dan realitas pasar kerja.
Perubahan paradigma karier
Temuan dalam The Gen Z Workplace Blueprint menunjukkan pola karier Gen Z cenderung lebih dinamis dan non-linear dibanding generasi sebelumnya.
Durasi kerja yang lebih pendek, kecenderungan memiliki lebih dari satu sumber penghasilan, serta penggunaan AI dalam pengembangan diri menjadi ciri utama.
Namun, dinamika tersebut berlangsung di tengah pasar kerja yang mengalami kontraksi pada level awal, sehingga kompetisi untuk mendapatkan pengalaman pertama semakin ketat.
Laporan tersebut menekankan, perubahan ini bukan sekadar persoalan preferensi individu, melainkan hasil interaksi antara aspirasi generasi baru dan transformasi struktural pasar tenaga kerja global.
Dengan analisis berbasis jutaan data lowongan kerja dan ribuan responden lintas negara, Randstad memotret Gen Z sebagai tenaga kerja yang ambisius, adaptif, dan berorientasi pada pertumbuhan, di tengah lingkungan kerja yang terus berubah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Survei Global: Gen Z dan Milenial Terjebak Overwork, 4 dari 10 Mengaku Stres
Generasi milenial dan Gen Z diproyeksikan akan mengisi 74 persen tenaga kerja global pada 2030. [975] url asal
#biaya-hidup #burnout #indepth #overwork #side-hustle #gen-z
(Kompas.com - Money) 19/02/26 17:08
v/141257/
JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi milenial dan Gen Z diproyeksikan akan mengisi 74 persen tenaga kerja global pada 2030.
Dengan porsi sebesar itu, cara pandang mereka terhadap pekerjaan bukan hanya membentuk dinamika kantor, tetapi juga arah pasar tenaga kerja global.
Deloitte Global dalam survei bertajuk 2025 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan 23.482 responden di 44 negara mencatat, kedua generasi ini tengah mencari keseimbangan antara uang, makna, dan kesejahteraan (well-being) sebagai fondasi kebahagiaan di tempat kerja.
Dok. Freepik/jcomp Ilustrasi Gen Z di tempat kerjaNamun, di balik ambisi untuk berkembang dan mencari makna, tekanan biaya hidup, ketidakpastian finansial, serta ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan perusahaan memicu fenomena burnout dan overwork yang semakin mengemuka.
Tekanan finansial dan kesehatan mental
Untuk tahun keempat berturut-turut, biaya hidup menjadi kekhawatiran utama Gen Z dan milenial.
Pada 2025, sebanyak 39 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan biaya hidup sebagai isu paling mengkhawatirkan.
Hampir setengah Gen Z (48 persen) dan milenial (46 persen) mengaku tidak merasa aman secara finansial. Lebih dari separuh responden dari kedua generasi hidup dari gaji ke gaji (52 persen), dan lebih dari sepertiga kesulitan membayar kebutuhan bulanan.
Tekanan ini berkelindan dengan kondisi mental. Empat dari 10 Gen Z (40 persen) dan 34 persen milenial mengaku merasa stres atau cemas sepanjang waktu atau hampir sepanjang waktu.
Pexels/Energepic Faktor penyebab Sunday scaries.Sekitar sepertiga responden menyebut pekerjaan sebagai kontributor signifikan terhadap stres mereka (35 persen Gen Z dan 33 persen milenial).
Side hustle: strategi bertahan dan sumber tekanan tambahan
Dalam konteks tekanan finansial, sekitar sepertiga Gen Z dan milenial memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama mereka.
Alasan utamanya adalah kebutuhan akan sumber pendapatan tambahan. Sebanyak 37 persen Gen Z dan 41 persen milenial menyebut faktor ini sebagai pendorong utama.
Namun, motivasi tidak semata soal uang. Sebanyak 30 persen dari kedua generasi mengatakan side hustle membantu mereka mengembangkan keterampilan dan relasi penting.
Sebagian lainnya menyebutnya sebagai hobi (28 persen Gen Z dan 30 persen milenial) atau sarana memberi dampak positif bagi komunitas (25 persen).
Meski demikian, keberadaan pekerjaan kedua berpotensi memperpanjang jam kerja efektif dan mempersempit waktu istirahat.
Ketika lebih dari separuh responden sudah hidup dari gaji ke gaji dan sebagian merasa kesulitan membayar kebutuhan bulanan, side hustle bisa menjadi solusi jangka pendek, tetapi sekaligus memperbesar risiko overwork.
Kondisi ini menunjukkan, keputusan mengambil pekerjaan tambahan tidak selalu lahir dari ambisi, tetapi dari kebutuhan.
Ambisi tanpa obsesi jabatan
Menariknya, burnout di kalangan Gen Z dan milenial tidak semata dipicu oleh ambisi mengejar jabatan.
Hanya 6 persen Gen Z yang menyebut mencapai posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Meski demikian, mereka tetap ambisius dalam hal pengembangan diri.
FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z.Sebanyak 70 persen Gen Z mengaku mengembangkan keterampilan untuk kemajuan karier setidaknya sekali seminggu, dibandingkan 59 persen milenial.
Lebih dari dua pertiga Gen Z (67 persen) bahkan meluangkan waktu di luar jam kerja, baik sebelum atau sesudah bekerja maupun di hari libur, untuk meningkatkan keterampilan.
Fokus pada continuous learning ini menjadi pedang bermata dua.
Di satu sisi, hal tersebut mencerminkan komitmen untuk bertumbuh. Di sisi lain, ketika pengembangan diri dilakukan di luar jam kerja reguler, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur.
Kesenjangan ekspektasi terhadap manajer
Survei juga menyoroti adanya kesenjangan antara ekspektasi pekerja muda terhadap manajer dan realitas yang mereka alami.
Gen Z dan milenial berharap manajer dapat memberi bimbingan, inspirasi, membantu menetapkan batasan untuk menjaga work-life balance, serta berperan sebagai mentor. Namun, banyak yang merasa manajer lebih fokus pada pengawasan tugas harian.
Kondisi ini berpotensi memperparah burnout. Tanpa dukungan yang memadai dalam menetapkan batasan dan mengelola beban kerja, pekerja muda cenderung memikul tekanan secara individual.
Uang, makna, dan kesejahteraan: fondasi kebahagiaan
Deloitte merangkum temuan survei dalam satu konsep, yakni kebahagiaan di tempat kerja terletak pada irisan antara uang, makna, dan kesejahteraan. Ketiganya saling berkaitan erat.
Sebanyak 60 persen Gen Z dan 68 persen milenial yang merasa aman secara finansial menyatakan bahagia, dibandingkan hanya 28 persen Gen Z dan 31 persen milenial yang merasa tidak aman secara finansial.
hobo_018/ Getty Images/iStockphoto Ilustrasi karierDi sisi lain, 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial menilai rasa tujuan (purpose) penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.
Namun, ketika makna tidak ditemukan dalam pekerjaan, dampaknya terasa. Sekitar 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial pernah meninggalkan pekerjaan karena dianggap kurang bermakna.
Kesulitan mendapatkan “trifecta” ini, yaitu fleksibilitas, gaji, dan ketertarikan pada pekerjaan, menciptakan dilema.
Ketika salah satu tidak terpenuhi, sebagian pekerja memilih menutup celah tersebut melalui side hustle, pengembangan diri ekstra, atau berpindah kerja.
Strategi ini dapat membantu dalam jangka pendek, tetapi juga memperbesar risiko kelelahan kronis.
Antara pekerjaan dan identitas diri
Bagi lebih dari 40 persen Gen Z dan hampir separuh milenial, pekerjaan utama merupakan bagian penting dari identitas mereka. Dengan posisi sedemikian sentral, tekanan di tempat kerja mudah merembet ke dimensi personal.
Sekitar 40 persen responden menyebut kurangnya makna dalam pekerjaan berkontribusi pada kecemasan dan stres.
Ketika pekerjaan menjadi cerminan identitas, kegagalan menemukan kepuasan atau makna dapat memperdalam rasa lelah secara emosional.
Dalam konteks inilah burnout tidak hanya soal jam kerja panjang, tetapi juga soal ketegangan antara ekspektasi pribadi, kebutuhan finansial, dan realitas organisasi.
Dinamika yang terus bergerak
PEXELS/EDMOND DANTES Ilustrasi bekerja di kantor.Survei Deloitte menunjukkan Gen Z dan milenial bukan generasi yang kurang ambisi, melainkan generasi yang mendefinisikan ulang ambisi.
Mereka ingin belajar, berkembang, dan bekerja dengan makna. Pada saat yang sama, mereka menghadapi tekanan biaya hidup, ketidakpastian finansial, serta perubahan teknologi yang cepat.
Di tengah tekanan tersebut, side hustle menjadi strategi bertahan sekaligus potensi sumber overwork.
Upaya mengembangkan keterampilan di luar jam kerja memperluas kapasitas, tetapi juga menggerus waktu istirahat. Tanpa dukungan manajerial yang memadai dan sistem kerja yang memberi ruang pemulihan, risiko burnout menjadi nyata.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Survei Global: Gen Z dan Milenial Terjebak Overwork, 4 dari 10 Mengaku Stres
Generasi milenial dan Gen Z diproyeksikan akan mengisi 74 persen tenaga kerja global pada 2030. [975] url asal
#biaya-hidup #burnout #indepth #overwork #side-hustle #gen-z
(Kompas.com - Money) 19/02/26 17:08
v/141126/
JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi milenial dan Gen Z diproyeksikan akan mengisi 74 persen tenaga kerja global pada 2030.
Dengan porsi sebesar itu, cara pandang mereka terhadap pekerjaan bukan hanya membentuk dinamika kantor, tetapi juga arah pasar tenaga kerja global.
Deloitte Global dalam survei bertajuk 2025 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan 23.482 responden di 44 negara mencatat, kedua generasi ini tengah mencari keseimbangan antara uang, makna, dan kesejahteraan (well-being) sebagai fondasi kebahagiaan di tempat kerja.
Dok. Freepik/jcomp Ilustrasi Gen Z di tempat kerjaNamun, di balik ambisi untuk berkembang dan mencari makna, tekanan biaya hidup, ketidakpastian finansial, serta ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan perusahaan memicu fenomena burnout dan overwork yang semakin mengemuka.
Tekanan finansial dan kesehatan mental
Untuk tahun keempat berturut-turut, biaya hidup menjadi kekhawatiran utama Gen Z dan milenial.
Pada 2025, sebanyak 39 persen Gen Z dan 42 persen milenial menempatkan biaya hidup sebagai isu paling mengkhawatirkan.
Hampir setengah Gen Z (48 persen) dan milenial (46 persen) mengaku tidak merasa aman secara finansial. Lebih dari separuh responden dari kedua generasi hidup dari gaji ke gaji (52 persen), dan lebih dari sepertiga kesulitan membayar kebutuhan bulanan.
Tekanan ini berkelindan dengan kondisi mental. Empat dari 10 Gen Z (40 persen) dan 34 persen milenial mengaku merasa stres atau cemas sepanjang waktu atau hampir sepanjang waktu.
Pexels/Energepic Faktor penyebab Sunday scaries.Sekitar sepertiga responden menyebut pekerjaan sebagai kontributor signifikan terhadap stres mereka (35 persen Gen Z dan 33 persen milenial).
Side hustle: strategi bertahan dan sumber tekanan tambahan
Dalam konteks tekanan finansial, sekitar sepertiga Gen Z dan milenial memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama mereka.
Alasan utamanya adalah kebutuhan akan sumber pendapatan tambahan. Sebanyak 37 persen Gen Z dan 41 persen milenial menyebut faktor ini sebagai pendorong utama.
Namun, motivasi tidak semata soal uang. Sebanyak 30 persen dari kedua generasi mengatakan side hustle membantu mereka mengembangkan keterampilan dan relasi penting.
Sebagian lainnya menyebutnya sebagai hobi (28 persen Gen Z dan 30 persen milenial) atau sarana memberi dampak positif bagi komunitas (25 persen).
Meski demikian, keberadaan pekerjaan kedua berpotensi memperpanjang jam kerja efektif dan mempersempit waktu istirahat.
Ketika lebih dari separuh responden sudah hidup dari gaji ke gaji dan sebagian merasa kesulitan membayar kebutuhan bulanan, side hustle bisa menjadi solusi jangka pendek, tetapi sekaligus memperbesar risiko overwork.
Kondisi ini menunjukkan, keputusan mengambil pekerjaan tambahan tidak selalu lahir dari ambisi, tetapi dari kebutuhan.
Ambisi tanpa obsesi jabatan
Menariknya, burnout di kalangan Gen Z dan milenial tidak semata dipicu oleh ambisi mengejar jabatan.
Hanya 6 persen Gen Z yang menyebut mencapai posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Meski demikian, mereka tetap ambisius dalam hal pengembangan diri.
FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z.Sebanyak 70 persen Gen Z mengaku mengembangkan keterampilan untuk kemajuan karier setidaknya sekali seminggu, dibandingkan 59 persen milenial.
Lebih dari dua pertiga Gen Z (67 persen) bahkan meluangkan waktu di luar jam kerja, baik sebelum atau sesudah bekerja maupun di hari libur, untuk meningkatkan keterampilan.
Fokus pada continuous learning ini menjadi pedang bermata dua.
Di satu sisi, hal tersebut mencerminkan komitmen untuk bertumbuh. Di sisi lain, ketika pengembangan diri dilakukan di luar jam kerja reguler, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur.
Kesenjangan ekspektasi terhadap manajer
Survei juga menyoroti adanya kesenjangan antara ekspektasi pekerja muda terhadap manajer dan realitas yang mereka alami.
Gen Z dan milenial berharap manajer dapat memberi bimbingan, inspirasi, membantu menetapkan batasan untuk menjaga work-life balance, serta berperan sebagai mentor. Namun, banyak yang merasa manajer lebih fokus pada pengawasan tugas harian.
Kondisi ini berpotensi memperparah burnout. Tanpa dukungan yang memadai dalam menetapkan batasan dan mengelola beban kerja, pekerja muda cenderung memikul tekanan secara individual.
Uang, makna, dan kesejahteraan: fondasi kebahagiaan
Deloitte merangkum temuan survei dalam satu konsep, yakni kebahagiaan di tempat kerja terletak pada irisan antara uang, makna, dan kesejahteraan. Ketiganya saling berkaitan erat.
Sebanyak 60 persen Gen Z dan 68 persen milenial yang merasa aman secara finansial menyatakan bahagia, dibandingkan hanya 28 persen Gen Z dan 31 persen milenial yang merasa tidak aman secara finansial.
hobo_018/ Getty Images/iStockphoto Ilustrasi karierDi sisi lain, 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial menilai rasa tujuan (purpose) penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.
Namun, ketika makna tidak ditemukan dalam pekerjaan, dampaknya terasa. Sekitar 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial pernah meninggalkan pekerjaan karena dianggap kurang bermakna.
Kesulitan mendapatkan “trifecta” ini, yaitu fleksibilitas, gaji, dan ketertarikan pada pekerjaan, menciptakan dilema.
Ketika salah satu tidak terpenuhi, sebagian pekerja memilih menutup celah tersebut melalui side hustle, pengembangan diri ekstra, atau berpindah kerja.
Strategi ini dapat membantu dalam jangka pendek, tetapi juga memperbesar risiko kelelahan kronis.
Antara pekerjaan dan identitas diri
Bagi lebih dari 40 persen Gen Z dan hampir separuh milenial, pekerjaan utama merupakan bagian penting dari identitas mereka. Dengan posisi sedemikian sentral, tekanan di tempat kerja mudah merembet ke dimensi personal.
Sekitar 40 persen responden menyebut kurangnya makna dalam pekerjaan berkontribusi pada kecemasan dan stres.
Ketika pekerjaan menjadi cerminan identitas, kegagalan menemukan kepuasan atau makna dapat memperdalam rasa lelah secara emosional.
Dalam konteks inilah burnout tidak hanya soal jam kerja panjang, tetapi juga soal ketegangan antara ekspektasi pribadi, kebutuhan finansial, dan realitas organisasi.
Dinamika yang terus bergerak
PEXELS/EDMOND DANTES Ilustrasi bekerja di kantor.Survei Deloitte menunjukkan Gen Z dan milenial bukan generasi yang kurang ambisi, melainkan generasi yang mendefinisikan ulang ambisi.
Mereka ingin belajar, berkembang, dan bekerja dengan makna. Pada saat yang sama, mereka menghadapi tekanan biaya hidup, ketidakpastian finansial, serta perubahan teknologi yang cepat.
Di tengah tekanan tersebut, side hustle menjadi strategi bertahan sekaligus potensi sumber overwork.
Upaya mengembangkan keterampilan di luar jam kerja memperluas kapasitas, tetapi juga menggerus waktu istirahat. Tanpa dukungan manajerial yang memadai dan sistem kerja yang memberi ruang pemulihan, risiko burnout menjadi nyata.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi
Alih-alih mengejar jabatan tinggi di perusahaan, Gen Z justru membangun berbagai sumber penghasilan secara paralel melalui side hustle. [1,288] url asal
#pekerjaan-sampingan #indepth #side-hustle #gen-z #karier
(Kompas.com - Money) 17/02/26 15:20
v/138757/
JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan mendasar sedang terjadi dalam cara generasi muda memandang karier.
Jika selama beberapa dekade kesuksesan profesional identik dengan naik jabatan hingga mencapai posisi manajerial atau eksekutif, kini semakin banyak pekerja muda yang menempuh jalur berbeda.
Alih-alih mengejar jabatan tinggi di perusahaan, Gen Z justru membangun berbagai sumber penghasilan secara paralel melalui side hustle atau pekerjaan sampingan.
DOK. pexels/fauxels. Ilustrasi pekerja lepas.Data terbaru menunjukkan pergeseran ini bukan sekadar tren sementara, melainkan perubahan struktural dalam strategi ekonomi dan karier generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z).
Fenomena ini berkaitan dengan faktor ekonomi, teknologi, hingga perubahan nilai dan persepsi terhadap stabilitas kerja.
"Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier, jalur di mana kita dapat melompat ke peluang apa pun yang paling sesuai saat ini," kata Morgan Sanner, pakar karier Gen Z di Glassdoor.
Bagi generasi ini, kesuksesan berarti menciptakan keseimbangan, keamanan, dan kendali atas pendakian karier yang lebih tinggi di dalam satu organisasi.
Mayoritas Gen Z punya side hustle
Dikutip dari Forbes, Selasa (17/2/2026), survei terbaru yang dilakukan Harris Poll menunjukkan side hustle telah menjadi bagian penting dari strategi karier Gen Z.
Sebanyak 57 persen pekerja Gen Z memiliki pekerjaan sampingan, lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya seperti milenial (48 persen), Gen X (31 persen), dan baby boomer (21 persen).
Angka ini menegaskan, bagi generasi muda, side hustle bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi telah menjadi komponen inti dari perencanaan karier mereka.
Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi Gen Z.Menurut laporan tersebut, bagi banyak pekerja Gen Z, side hustle tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan, tetapi juga sebagai sarana untuk memperoleh otonomi, kreativitas, dan ekspresi diri yang sering kali tidak tersedia dalam pekerjaan formal.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara generasi muda mendefinisikan ambisi.
Jika generasi sebelumnya memandang kesuksesan sebagai proses linear, dimulai dari posisi entry-level hingga akhirnya mencapai jabatan tinggi, Gen Z justru melihat kesuksesan sebagai proses membangun portofolio karier yang beragam.
Dalam banyak kasus, pekerjaan utama hanya berfungsi sebagai fondasi finansial untuk mendukung aktivitas sampingan yang lebih fleksibel dan sesuai minat mereka.
“9-to-5 funds the 5-to-9”: cara baru memahami karier
Perubahan cara pandang ini tercermin dalam ungkapan populer di kalangan Gen Z, yakni the 9-to-5 funds the 5-to-9, yang berarti pekerjaan utama digunakan untuk mendukung usaha atau proyek pribadi di luar jam kerja.
Konsep ini menandai pergeseran signifikan dari paradigma lama yang mengandalkan loyalitas terhadap satu perusahaan sebagai jalan utama menuju stabilitas ekonomi.
Sebaliknya, Gen Z cenderung membangun berbagai sumber penghasilan secara bersamaan sebagai bentuk diversifikasi risiko dan peluang.
Sejumlah ekonom menyebut fenomena ini sebagai portfolio career, yakni pendekatan karier di mana seseorang menggabungkan pekerjaan tetap dengan aktivitas lain seperti freelance, konsultasi, bisnis kecil, atau produk digital.
Pendekatan ini memberi fleksibilitas sekaligus keamanan finansial yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu pemberi kerja.
PEXELS/PAVEL DANILYUK Ilustrasi bekerja.
Ketidakpastian ekonomi dan teknologi mendorong diversifikasi pendapatan
Salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya side hustle adalah ketidakpastian ekonomi dan perubahan teknologi, terutama perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Menurut Glassdoor, sekitar 70 persen pekerja Gen Z mengatakan AI membuat mereka mempertanyakan keamanan pekerjaan jangka panjang mereka.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Otomatisasi berbasis AI telah mulai menggantikan atau mengubah berbagai jenis pekerjaan, mulai dari layanan pelanggan hingga analisis data dan produksi konten.
Ketidakpastian ini mendorong pekerja muda untuk mengembangkan sumber penghasilan alternatif sebagai strategi mitigasi risiko.
Dengan memiliki lebih dari satu sumber pendapatan, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada satu pekerjaan yang dapat hilang akibat perubahan teknologi atau kondisi ekonomi.
Side hustle, dalam konteks ini, menjadi bagian dari strategi keamanan ekonomi pribadi.
Side hustle sebagai strategi keamanan finansial
Diversifikasi pendapatan semakin dipandang sebagai kebutuhan, bukan pilihan.
Sebagai gambaran, survei LendingTree menemukan, hampir 40 persen pekerja di Amerika Serikat memiliki side hustle, dan 61 persen di antaranya mengatakan kehidupan mereka akan sulit secara finansial tanpa pendapatan tambahan tersebut.
Survei yang sama menunjukkan, pekerja dengan side hustle memperoleh rata-rata tambahan pendapatan sebesar 1.215 dollar AS per bulan atau setara sekitar Rp 20,46 juta (asumsi kurs Rp 16.845 per dollar AS).
Selain itu, sekitar 31 persen pekerja bahkan mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan utama mereka demi fokus pada pekerjaan sampingan, sementara 10 persen telah melakukannya.
PEXELS/THIRDMAN Ilustrasi bekerja di kantor.Data ini menunjukkan side hustle bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi dalam beberapa kasus telah menjadi alternatif utama terhadap pekerjaan formal.
Teknologi digital mempermudah pekerjaan sampingan
Perkembangan teknologi digital menjadi faktor penting yang mempercepat pertumbuhan side hustle.
Platform freelance, marketplace digital, media sosial, dan alat berbasis AI memungkinkan individu untuk menghasilkan pendapatan tanpa harus bergantung pada struktur perusahaan tradisional.
Menurut laporan Forbes, teknologi digital telah membuat pembangunan sumber pendapatan alternatif menjadi lebih mudah, memungkinkan pekerja untuk menghasilkan uang dari keterampilan, pengetahuan, dan minat.
Teknologi juga memungkinkan monetisasi berbagai aktivitas yang sebelumnya sulit dijadikan sumber pendapatan, seperti:
- Penjualan produk digital
- Konsultasi online
- Pembuatan konten
- Freelance berbasis proyek
- Bisnis e-commerce kecil
Akses ke pasar global melalui internet memungkinkan individu memperoleh klien dan pelanggan di luar wilayah geografis mereka.
Otonomi dan fleksibilitas sebagai faktor utama
Selain faktor ekonomi, motivasi utama di balik meningkatnya side hustle adalah keinginan akan otonomi dan fleksibilitas.
Side hustle memungkinkan pekerja untuk membuat keputusan secara mandiri tanpa bergantung pada struktur organisasi perusahaan.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen Z, Gen Z mengakses pinjaman online/pinjol.Selain itu, side hustle memberikan kesempatan bagi individu untuk mengejar minat pribadi yang mungkin tidak tersedia dalam pekerjaan utama mereka.
Pendapatan dari side hustle juga dapat diperoleh secara langsung, tanpa harus menunggu kenaikan gaji tahunan atau promosi jabatan. Hal ini memberikan kontrol yang lebih besar terhadap perkembangan finansial pribadi.
Perubahan persepsi terhadap jabatan dan kepemimpinan
Perubahan pola karier Gen Z juga memengaruhi cara mereka memandang jabatan manajerial.
Menurut survei Glassdoor yang dikutip Forbes, banyak pekerja Gen Z tidak tertarik pada posisi manajerial kecuali jika didorong oleh faktor seperti gaji atau status.
Hal ini mencerminkan pergeseran nilai, di mana jabatan tinggi tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya indikator kesuksesan profesional.
Sebaliknya, banyak pekerja muda lebih menghargai fleksibilitas, keseimbangan kehidupan kerja, dan kemandirian.
Bahkan ketika Gen Z memasuki posisi kepemimpinan, mereka cenderung membawa pendekatan yang berbeda, dengan menekankan kolaborasi dan fleksibilitas dibandingkan struktur hierarkis tradisional.
Dampak inflasi dan ketidakstabilan ekonomi
Kondisi ekonomi makro juga memainkan peran penting dalam meningkatnya side hustle.
Inflasi, dinamika suku bunga, dan ketidakstabilan ekonomi telah meningkatkan tekanan finansial pada pekerja.
Menurut survei OnePoll, sekitar 48 persen pekerja memulai side hustle untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hal ini menunjukkan side hustle sering kali menjadi respons langsung terhadap meningkatnya biaya hidup.
FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi pegawai.Dengan biaya perumahan, pendidikan, dan kebutuhan dasar yang terus meningkat, memiliki satu sumber pendapatan saja dianggap tidak cukup oleh banyak pekerja.
Side hustle sebagai model karier masa depan
Fenomena meningkatnya side hustle mencerminkan transformasi mendasar dalam struktur ekonomi tenaga kerja.
Alih-alih bergantung pada satu perusahaan sepanjang karier mereka, semakin banyak pekerja yang mengadopsi pendekatan multi-sumber pendapatan.
Side hustle memungkinkan individu untuk:
- Mengurangi risiko kehilangan pendapatan
- Meningkatkan fleksibilitas karier
- Mengembangkan keterampilan baru
- Membangun bisnis secara mandiri
Pendekatan ini juga mencerminkan perubahan hubungan antara pekerja dan perusahaan.
Jika sebelumnya perusahaan menjadi pusat stabilitas ekonomi individu, kini individu semakin membangun stabilitas ekonomi mereka secara mandiri melalui berbagai sumber pendapatan.
Pergeseran ambisi profesional
Secara historis, ambisi profesional diukur dari posisi dan jabatan dalam organisasi.
Namun, bagi Gen Z, ambisi tidak lagi selalu terkait dengan jabatan tinggi atau struktur perusahaan.
Sebaliknya, ambisi diukur dari kemampuan untuk membangun karier yang fleksibel, mandiri, dan berkelanjutan secara finansial.
Side hustle menjadi simbol dari pendekatan ini, bukan sebagai tanda kurangnya ambisi, tetapi sebagai strategi yang disengaja untuk membangun keamanan ekonomi dan kebebasan profesional.
Perubahan ini mencerminkan transformasi yang lebih luas dalam ekonomi modern, di mana stabilitas kerja tradisional semakin digantikan oleh fleksibilitas dan diversifikasi pendapatan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Tren "Career Minimalism": Generasi Muda Tak Lagi Kejar Jabatan
Di tengah lanskap pasar kerja global yang berubah cepat, muncul satu istilah yang kian sering dibicarakan, yakni career minimalism. [1,364] url asal
#promosi-jabatan #indepth #side-hustle #gen-z #career-minimalism #karier-gen-z
(Kompas.com - Money) 12/02/26 09:19
v/134132/
JAKARTA, KOMPAS.com - "Di pekerjaanku yang sekarang ini, aku enggak mau naik jabatan sih. Karena aku merasa sudah stabil," ujar Putri, seorang Gen Z yang bekerja sebagai pegawai di perusahaan asing di Jakarta.
Sudah lima tahun ia bekerja di perusahaan tersebut. Gaji dan bonus yang diterimanya diakui sudah cukup, bahkan relatif tinggi dibandingkan teman-teman selingkarannya.
Selain itu, dengan pekerjaan yang sekarang, ia tetap bisa mengatur waktu untuk istirahat hingga menjalani hobi. Oleh karena itu, naik jabatan tak masuk dalam daftarnya.
PEXELS/FAUXELS Ilustrasi bekerja di kantor."Aku lebih ke khawatir, kalau naik jabatan, waktuku untuk kehidupan pribadi semakin terbatas. Kayaknya belum siap untuk menghadapi itu," Putri mengakui.
Lain lagi dengan Miftah. Pekerja generasi milenial yang berkarier di industri kreatif di Jakarta dengan tegas mengaku enggan naik jabatan.
Menurut dia, dengan posisi pekerjaannya saat ini, ia bisa mencurahkan waktu dan perhatian untuk putri semata wayangnya.
"Gue pernah ditawari naik jabatan, tapi gue tolak. Karena dengan yang sekarang ini, gue bisa tetap fokus ngurus anak," tuturnya.
Miftah mengaku tak tergiur dengan kenaikan gaji atau fasilitas yang dia terima lantaran promosi jabatan. Menurut dia, apa yang diperolehnya saat ini sudah cukup.
"Kalau mengejar uang, kayaknya enggak. Buat gue waktu untuk anak itu enggak tergantikan," cetusnya.
Di tengah lanskap pasar kerja global yang berubah cepat, muncul satu istilah yang kian sering dibicarakan, yakni career minimalism.
Konsep career minimalism merujuk pada pendekatan bekerja yang lebih sederhana dan selektif, fokus pada stabilitas, batasan yang jelas antara kerja dan kehidupan pribadi, serta penolakan terhadap ambisi korporat yang berlebihan. Fenomena ini terutama dikaitkan dengan generasi milenial dan Gen Z.
Alih-alih mengejar promosi setinggi mungkin atau berlomba menduduki posisi manajerial, sebagian dari mereka memilih jalur karier yang “cukup", yakni cukup stabil, cukup menghasilkan, dan cukup memberi ruang bagi kehidupan di luar kantor.
Laporan tren tenaga kerja dari Glassdoor menyoroti perubahan sikap ini. Morgan Sanner, pakar karier di Glassdoor, menggambarkan pergeseran tersebut dengan metafora yang cukup kuat.
“Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier yang fleksibel, sebuah jalur di mana kita dapat melompat ke peluang apa pun yang paling sesuai saat ini,” ungkap Sanner.
PEXELS/THIRDMAN Ilustrasi bekerja di kantor.Alih-alih menaiki tangga karier yang kaku dan linear, generasi muda kini dinilai lebih memilih berpindah dari satu lompatan ke peluang lain yang dirasa paling sesuai pada waktu tertentu.
Pekerjaan sampingan dan redefinisi sukses
Salah satu indikator yang kerap dikaitkan dengan career minimalism adalah meningkatnya kepemilikan side hustle alias pekerjaan sampingan di kalangan generasi muda.
Putri mengakui, ia memiliki side hustle, meski tak rutin dilakukan. Dengan pekerjaan sampingan sebagai penerjemah, ia memanfaatkan penghasilan yang diperoleh untuk "modal" liburan.
"Side hustle aku ada sih, tapi enggak rutin. Lumayan untuk aku liburan ke luar negeri," tuturnya.
Dalam laporan tren 2025 yang dirilis Glassdoor, sekitar 57 persen pekerja Gen Z dilaporkan memiliki pekerjaan sampingan, lebih tinggi dibandingkan 48 persen milenial.
Data ini menunjukkan bahwa banyak pekerja muda tidak lagi menggantungkan seluruh ambisi dan pertumbuhan finansial mereka pada satu pekerjaan utama.
"Generasi Z sedang mempertimbangkan kembali apa arti sukses di tempat kerja saat ini," tutur Daniel Zhao, Lead Economist Glassdoor.
Pernyataan ini menegaskan bahwa definisi kesuksesan profesional tengah mengalami perubahan.
Kesuksesan tidak lagi selalu identik dengan jabatan tinggi atau kenaikan gaji dalam struktur korporasi tradisional.
Bagi sebagian generasi muda, stabilitas finansial yang cukup, fleksibilitas waktu, dan peluang mengembangkan minat pribadi menjadi parameter yang sama pentingnya.
Kepuasan kerja dan realitas generasi muda
Data dari Pew Research Center menunjukkan tingkat kepuasan kerja tertinggi cenderung ditemukan pada kelompok usia yang lebih tua.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi bekerja. Psikolog membagikan langkah sederhana untuk mengatasi post-vacation blues agar transisi kembali bekerja tetap ringan dan tidak menguras energi.Pekerja muda memang mayoritas menyatakan cukup puas dengan pekerjaannya, tetapi tingkat “sangat puas” relatif lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.
Dalam laporan terbarunya, Pew mencatat aspek seperti peluang promosi dan pengembangan keterampilan menjadi salah satu sumber ketidakpuasan di kalangan pekerja muda. Ini terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi terhadap fleksibilitas kerja dan keseimbangan hidup.
Data tersebut menjadi latar penting dalam membaca fenomena career minimalism.
Jika promosi dan kenaikan jabatan tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber kepuasan, maka wajar bila sebagian pekerja memilih bertahan pada posisi yang stabil tanpa ambisi menaiki tangga manajemen.
Quiet quitting dan batasan kerja
Fenomena career minimalism juga kerap disandingkan dengan istilah quiet quitting, yang populer pasca-pandemi Covid-19.
Meski tidak identik, keduanya sama-sama menekankan batasan yang lebih tegas terhadap pekerjaan.
Harvard Business Review mendefinisikan quiet quitting sebagai memilih untuk tidak mengerjakan tugas-tugas di luar kewajiban yang diberikan dan/atau mengurangi keterlibatan psikologis dalam pekerjaan.
Dalam salah satu artikelnya, Harvard Business Review juga menekankan bahwa fenomena ini sering kali bukan sekadar soal etos kerja individu, melainkan berkaitan dengan kepemimpinan dan desain pekerjaan.
Dalam artikel lain, Harvard Business Review menyatakan, quiet quitting adalah tentang bos yang buruk, bukan karyawan yang buruk.
Pernyataan tersebut menggeser fokus dari stereotip generasi menuju kualitas manajemen dan budaya organisasi.
FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi pegawai.Dengan demikian, career minimalism tidak selalu dapat dipahami sebagai kurangnya motivasi.
Dalam banyak kasus, ia muncul sebagai respons terhadap beban kerja berlebihan, ketidakjelasan penghargaan, atau pengalaman kolektif seperti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan ketidakpastian ekonomi.
Dampak pandemi Covid-19 dan ketidakpastian ekonomi
Pandemi Covid-19 menjadi titik balik penting dalam cara generasi muda memandang pekerjaan.
Pengalaman bekerja jarak jauh, perampingan karyawan, hingga meningkatnya diskusi soal kesehatan mental, membentuk ulang prioritas karier.
Banyak pekerja muda menyaksikan langsung bagaimana stabilitas pekerjaan bisa goyah dalam waktu singkat. Dalam konteks tersebut, menginvestasikan seluruh identitas pada satu perusahaan menjadi terasa berisiko.
Glassdoor mencatat, kekhawatiran terhadap keamanan kerja dan dampak otomatisasi, termasuk kecerdasan buatan (AI), turut memengaruhi rencana karier Gen Z.
Dalam laporan trennya, perusahaan tersebut menyoroti meningkatnya diskusi terkait AI di kalangan pencari kerja muda.
Kondisi ini mendorong sebagian pekerja untuk mengamankan sumber pendapatan alternatif. Side hustle bukan sekadar tambahan penghasilan, tetapi juga strategi mitigasi risiko.
Tantangan bagi perusahaan
Bagi perusahaan, fenomena career minimalism menghadirkan tantangan tersendiri.
Model manajemen tradisional yang bertumpu pada promosi vertikal mungkin kurang relevan bagi generasi yang tidak melihat jabatan sebagai tujuan utama.
Harvard Business Review menyoroti disengagement karyawan sering kali berkaitan dengan kurangnya dukungan manajerial dan struktur kerja yang tidak adaptif.
PEXELS/PAVEL DANILYUK Ilustrasi bekerja.Jika perusahaan ingin mempertahankan talenta muda, pendekatan yang lebih fleksibel dan berorientasi pada kesejahteraan menjadi penting.
Selain itu, meningkatnya jumlah pekerja dengan pendapatan terdiversifikasi juga berpotensi mengubah pola loyalitas kerja.
Pekerja yang memiliki usaha sampingan mungkin tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu perusahaan, sehingga daya tawar mereka dalam negosiasi kerja meningkat.
Generasi dan identitas kerja
Analisis dari McKinsey & Company mengenai karakteristik Gen Z menunjukkan generasi ini tumbuh di tengah krisis global, perkembangan teknologi cepat, dan paparan informasi yang luas.
Pengalaman tersebut membentuk pola pikir yang lebih pragmatis terhadap institusi, termasuk tempat kerja.
Bagi sebagian Gen Z, pekerjaan dipandang sebagai salah satu komponen kehidupan, bukan pusat identitas. Pendekatan ini sejalan dengan semangat minimalisme yang menekankan kesederhanaan dan selektivitas.
Namun, para analis juga mengingatkan bahwa fenomena ini tidak bersifat universal. Faktor budaya, kondisi ekonomi lokal, dan sektor industri sangat memengaruhi bagaimana sikap tersebut termanifestasi.
Variasi konteks global
Sebagian besar data dan laporan mengenai career minimalism berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. Karena itu, konteks lokal di negara lain dapat menghasilkan dinamika berbeda.
Di negara dengan tingkat pengangguran tinggi atau sistem perlindungan sosial terbatas, pilihan untuk bersikap minimalis dalam karier mungkin tidak selalu tersedia.
SHUTTERSTOCK/GAJUS Ilustrasi promosi jabatan.Stabilitas pekerjaan formal bisa tetap menjadi prioritas utama.
Meski demikian, tren global menunjukkan adanya pergeseran nilai yang cukup luas terkait makna kerja, ambisi, dan keseimbangan hidup.
Perdebatan dan kritik
Sebagian pengamat menilai istilah career minimalism berisiko menyederhanakan realitas yang kompleks.
Tidak semua pekerja yang menolak promosi jabatan berarti tidak ambisius. Ambisi bisa bergeser bentuk, bukan hilang.
Sejumlah analis juga menekankan label generasional sering kali terlalu luas. Variasi individu dalam satu generasi bisa lebih besar dibandingkan perbedaan antar generasi.
Namun demikian, data survei dan laporan tren menunjukkan bahwa perubahan sikap terhadap kerja memang sedang terjadi. Definisi kesuksesan profesional tidak lagi tunggal.
“Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier yang fleksibel," terang Sanner.
Pernyataan tersebut mencerminkan realitas bahwa jalur karier kini lebih cair dan tidak selalu linear.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Gaji Cepat Habis? Ini Cara Mengaturnya dari Prioritas hingga Side Hustle
Ini strategi sederhana agar penghasilan tetap bisa ditabung. [534] url asal
#gaji-umr #pengelolaan-keuangan #side-hustle #dana-darurat #disiplin-finansial #biaya-hidup #pengeluaran-impulsif #tabungan-berjangka #pekerja-indonesia #strategi-keuangan #gaji-numpang-lewat #gaji-cep
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tahun 2025 menjadi pelajaran penting bagi banyak pekerja berpenghasilan UMR (Upah Minimum Regional). Fenomena “gaji numpang lewat”, ketika penghasilan baru diterima tetapi langsung habis dalam hitungan hari, kembali marak diperbincangkan.
Pengalaman tersebut rasa-rasanya juga dialami oleh banyak orang. Sebab, di tengah meningkatnya biaya hidup dan tren konsumsi gaya hidup digital, banyak pekerja merasa terjebak dalam siklus keuangan tanpa bisa menyisakan sebagian penghasilannya untuk simpanan atau tabungan. Terlebih setelah lonjakan harga kebutuhan pokok dan meningkatnya pengeluaran non-esensial selama setahun terakhir.
Namun, kabar baiknya, sejumlah perencana keuangan menilai tren ini sebenarnya bisa diatasi. Cara termudah adalah para pekerja mulai membangun disiplin finansial dan memahami ritme pengeluaran sehari-hari.
Cara individu mengatur uang saat ini cenderung spontan dan rentan tergiur promo, tren hiburan, atau kebutuhan sosial yang kerap dijadikan terapi kesehatan mental, seperti berlibur atau healing, olahraga berbiaya mahal seperti tenis, padel, dan golf, hingga menggunakan personal trainer di gym, serta terlalu sering menghabiskan anggaran untuk menikmati kuliner di kafe-kafe kekinian daripada merencanakan keuangan secara matang sejak awal.
Padahal, seorang ahli perencana keuangan, Rista Zwestika, menjelaskan ada banyak strategi sederhana yang bisa diterapkan untuk memutus pola “gaji hilang dalam sekejap”, seperti mengaktifkan tabungan berjangka dengan saldo yang tersedot otomatis, membatasi pengeluaran impulsif, serta menempatkan prioritas pada kebutuhan jangka panjang.
Contoh upaya ini terlihat dari Agustina, seorang karyawan dengan penghasilan UMR yang memulai side hustle dengan berjualan makanan ringan di kantornya. “Awalnya cuma iseng membawa beberapa camilan buatan sendiri. Ternyata banyak teman kantor yang suka dan minta dibikinkan lagi,” ujar Agustina.
Berbekal keahliannya membuat camilan, ia kini mampu menambah penghasilannya secara konsisten setiap bulan. Bahkan, ia juga bisa menyewa slot kantin di kantornya dan memperkerjakan seorang karyawan. Di saat waktu senggang, ia tetap bisa bekerja sambil mengontrol dagangannya.
Langkah yang dilakukan Agustina menjadi bukti bahwa upaya menambah penghasilan bisa dimulai dari sekadar hobi dan kemampuan yang sudah dimiliki. Yang terpenting, kata Rista, dalam menjalankan side hustle perlu membangun jaringan dan secara bertahap meningkatkan nilai diri.
“Upgrade nilainya, perbesar jejaringnya. Peluang itu datang kalau kita siap,” kata Rista.
Para ahli juga menyoroti tahun 2025 menjadi titik balik karena perubahan gaya hidup masyarakat berlangsung bersamaan dengan menjamurnya berbagai acara hiburan, termasuk konser besar dan festival musik yang menghadirkan banyak artis internasional. Rista menjelaskan perbaikan kondisi keuangan personal tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan penyesuaian strategi yang sesuai dengan latar belakang tiap individu.
Langkah pertama yang perlu menjadi perhatian adalah pengelolaan pendapatan. “Apa yang perlu kita benahi? Contohnya, ketika memiliki pendapatan, apakah menggunakan rumus 50-30-20 atau 50-20-10-10. Itu bisa disesuaikan dengan kondisi klien,” ujar Rista.
Rista, yang juga merupakan pendiri dan CEO Finante.id, menyebutkan sekitar 80 persen masyarakat Indonesia tidak memiliki dana darurat. Padahal, dana darurat merupakan hal penting dalam kehidupan. Dana darurat berfungsi sebagai jaring pengaman untuk menjaga stabilitas keuangan pribadi maupun rumah tangga dari kejadian tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis mendadak, atau kerusakan properti, agar tabungan utama dan investasi jangka panjang tidak terganggu.
“Sejumlah persoalan dasar, seperti tidak memiliki dana darurat, masih dialami mayoritas masyarakat Indonesia. Ini yang perlu kita benahi terlebih dahulu. Dari pendapatan yang ada, kita atur pengeluarannya sehingga klien bisa menabung atau berinvestasi dengan tujuan membentuk dana darurat,” tutur Rista.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)