JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaku usaha di kawasan Asia Tenggara menunjukkan optimisme untuk memperluas bisnis dalam beberapa tahun ke depan, meskipun pada saat yang sama mereka menghadapi berbagai tantangan global seperti meningkatnya proteksionisme, gangguan rantai pasok, hingga kompleksitas transisi hijau.
Hal itu terungkap dalam survei ASEAN Business Barometer 2026 yang dirilis ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) bekerja sama dengan CSIS Indonesia dan JETRO Jakarta.
Survei ini menghimpun pandangan dari 395 perusahaan sektor swasta di seluruh kawasan ASEAN mengenai kondisi ekonomi dan prospek bisnis regional.
SHUTTERSTOCK/FRAMEANGEL Ilustrasi ASEAN, logo ASEAN.Hasil survei menggambarkan lanskap ekonomi yang kompleks. Di satu sisi, perusahaan-perusahaan di ASEAN optimistis terhadap pertumbuhan regional dan berencana memperluas kegiatan usaha.
Namun di sisi lain, mereka juga bersiap menghadapi gangguan rantai pasok yang dipicu proteksionisme global serta rendahnya pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA).
Direktur Eksekutif ASEAN-BAC Rifki Weno mengatakan, dunia usaha di kawasan saat ini memiliki ambisi besar untuk berkembang, tetapi masih menghadapi sejumlah tantangan struktural.
“Survei tahun ini mengirimkan pesan yang sangat jelas: sektor bisnis di ASEAN sangat ambisius dan siap untuk berekspansi, namun mereka menghadapi tantangan nyata dari proteksionisme global dan kerumitan transisi hijau. Tingkat pemanfaatan perjanjian perdagangan (FTA) yang masih di bawah potensi dan kurangnya kesiapan UMKM kita menyoroti urgensi bagi para pemimpin ASEAN untuk menyederhanakan regulasi, memfasilitasi akses, dan memberikan dukungan yang lebih terarah agar kawasan ini tetap tangguh,” ujar Rifki dalam siaran pers, Rabu (4/3/2026).
FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi bisnis.Mayoritas perusahaan berencana ekspansi
Salah satu temuan utama survei menunjukkan rencana ekspansi bisnis yang cukup agresif dari perusahaan-perusahaan di kawasan ASEAN.
Sekitar 70 persen responden menyatakan akan memperluas bisnis mereka dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Selain itu, hampir setengah responden atau 48 persen memperkirakan laba operasi pada 2025 akan meningkat dibandingkan 2024.
Optimisme tersebut mencerminkan keyakinan pelaku usaha terhadap potensi pertumbuhan ekonomi kawasan, sekaligus memperlihatkan bahwa ASEAN masih dipandang sebagai pasar yang menjanjikan bagi ekspansi bisnis.
Namun, optimisme itu tidak lepas dari sejumlah kekhawatiran yang membayangi kegiatan usaha, khususnya terkait dinamika perdagangan global.
Kekhawatiran terhadap proteksionisme meningkat
Survei menunjukkan sebagian besar perusahaan merasa khawatir terhadap meningkatnya proteksionisme di berbagai negara.
Sebanyak 75 persen perusahaan menyatakan kekhawatiran terhadap kebijakan proteksionisme yang semakin kuat dalam perdagangan global. Kondisi ini dinilai dapat memicu gangguan rantai pasok serta meningkatkan ketidakpastian bagi dunia usaha.
Dampak proteksionisme juga terasa lebih besar pada sektor manufaktur. Survei mencatat paparan tarif Amerika Serikat (AS) sangat terkonsentrasi pada sektor ini.
Sebanyak 64 persen perusahaan manufaktur menyatakan terdampak tarif tersebut, dibandingkan 40 persen dari keseluruhan perusahaan responden.
Kebijakan tarif tersebut dinilai menyebabkan gangguan pada rantai pasok, permintaan penurunan harga, serta meningkatnya ketidakpastian dalam perencanaan bisnis bagi perusahaan yang terdampak.
PIXABAY Ilustrasi perdagangan bebas atau perdagangan internasionalPemanfaatan FTA masih rendah
Di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global, perjanjian perdagangan bebas seharusnya dapat menjadi instrumen penting bagi perusahaan untuk memperluas pasar.
Namun survei menunjukkan pemanfaatan FTA di kawasan ASEAN masih jauh dari optimal.
Sekitar 70 persen perusahaan responden mengaku mengetahui keberadaan berbagai FTA di kawasan, termasuk Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Akan tetapi, tingkat pemanfaatannya hanya mencapai 48 persen.
Menariknya, sekitar 40 persen perusahaan yang belum memanfaatkan FTA menyebutkan bahwa mereka tidak mengetahui bagaimana memulai proses untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.
Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan informasi dan kapasitas, terutama di kalangan pelaku usaha yang belum memiliki pengalaman dalam memanfaatkan skema perdagangan internasional.
Diversifikasi rantai pasok ke dalam kawasan
Selain memanfaatkan perjanjian perdagangan, perusahaan-perusahaan di ASEAN juga mulai melakukan strategi diversifikasi rantai pasok.
Survei menunjukkan, kawasan ASEAN menjadi wilayah yang paling banyak dipilih perusahaan untuk melakukan diversifikasi rantai pasok.
Sebanyak 93 persen responden mengidentifikasi ASEAN sebagai tujuan utama diversifikasi rantai pasok. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Jepang yang dipilih oleh 54 persen responden maupun China yang dipilih oleh 41 persen responden.
Temuan tersebut mencerminkan kecenderungan perusahaan untuk memperkuat rantai pasok intra-ASEAN sebagai strategi menghadapi ketidakpastian global.
Ilustrasi ESGTantangan transisi hijau
Di samping isu perdagangan dan rantai pasok, survei juga menyoroti tantangan yang dihadapi perusahaan dalam menjalankan transisi menuju ekonomi hijau.
Sebanyak 63 dari setiap 100 perusahaan di ASEAN menyatakan telah mengambil langkah-langkah dekarbonisasi. Namun, sebagian besar perusahaan masih menghadapi kendala dalam proses tersebut.
Sekitar 90 persen responden menyebutkan, akses terhadap pemasok yang memenuhi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) menjadi tantangan terbesar.
Selain itu, lebih dari separuh perusahaan atau 53 persen bahkan menilai bahwa langkah-langkah dekarbonisasi itu sendiri dapat menjadi risiko bagi rantai pasok mereka.
Kesadaran terhadap berbagai inisiatif keberlanjutan regional juga masih relatif rendah. Survei mencatat hanya 28 persen responden yang mengetahui tentang ASEAN Taxonomy for Sustainable Finance.
Adopsi teknologi digital masih terbatas
Selain isu lingkungan, transformasi digital juga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan di kawasan.
Survei menunjukkan sebagian besar perusahaan masih berada pada tahap awal dalam mengadopsi teknologi digital, baik dalam bentuk penerapan parsial maupun proyek percontohan.
Hanya sekitar 22 persen perusahaan yang menggunakan agen kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pengambilan keputusan. Sementara itu, 21 persen perusahaan menggunakan AI generatif untuk kebutuhan manajemen.
Para pelaku usaha berharap inisiatif ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang sedang disiapkan dapat membantu mempercepat transformasi digital di kawasan.
Sebanyak 59 persen perusahaan berharap kesepakatan tersebut dapat menurunkan hambatan masuk bagi usaha kecil dan menengah (UKM).
Selain itu, 54 persen responden menilai DEFA berpotensi membantu menyelaraskan berbagai regulasi digital yang masih beragam di kawasan.
SHUTTERSTOCK/BASTIAN AS Ilustrasi UMKM, pelaku UMKM.Kesenjangan kesiapan antara perusahaan besar dan UMKM
Survei juga menemukan adanya kesenjangan kemampuan antara perusahaan besar dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis.
Sebanyak 73,1 persen perusahaan besar menyatakan merasa sangat siap menghadapi gangguan rantai pasok. Namun pada kelompok UMKM, tingkat kesiapan tersebut hanya mencapai 53,7 persen.
Kesenjangan ini menunjukkan, perusahaan besar cenderung memiliki sumber daya dan kapasitas yang lebih kuat untuk mengantisipasi risiko global dibandingkan UMKM.
Survei ASEAN Business Barometer 2026 sendiri dilakukan pada periode 15 Desember 2025 hingga 30 Januari 2026.
Profil responden terdiri dari 62,8 persen UMKM dan 37,2 persen perusahaan besar dengan lebih dari 250 karyawan.
Berdasarkan sektor usaha, sekitar 66,6 persen responden berasal dari industri non-manufaktur, sementara 33,4 persen lainnya berasal dari sektor manufaktur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang