Hingga Oktober 2025, volume penjualan aluminium Inalum mencapai 236.517 ton, melampaui target RKAP sebesar 231.034 ton atau 102,4% dari target tahunan. PT Indonesia... | Halaman Lengkap [527] url asal
JAKARTA - PT Indonesia Asahan Aluminium ( Inalum ) menutup 2025 dengan capaian penjualan yang solid dan membanggakan. Hingga Oktober 2025, volume penjualan aluminium Inalum mencapai 236.517 ton, melampaui target RKAP sebesar 231.034 ton atau 102,4% dari target tahunan.
Pencapaian ini juga meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan 227.114 ton. Kinerja positif tersebut menunjukkan tumbuhnya permintaan aluminium dan kuatnya posisi Inalum di pasar, baik domestik maupun global.
Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, mengungkapkan apresiasi kepada para pelanggan dan pemangku kepentingan atas kepercayaan dan dukungan yang selama ini diberikan. ”Hubungan yang baik antara perusahaan dan para customer merupakan fondasi kuat bagi pertumbuhan industri aluminium nasional,” katanya dalam siaran pers, Senin (1/12/2025). Inalum Teken Kerja Sama Global dalam Perhelatan World Expo 2025
Melati juga menyampaikan terima kasih kepada para pemangku kebijakan dan praktisi industri yang terus menjaga ekosistem pasar aluminium tetap kondusif dan penuh optimisme. Pertumbuhan penjualan Inalum sepanjang 2025 tidak lepas dari meningkatnya permintaan dari berbagai sektor industri dalam negeri, termasuk sektor ekstrusi, otomotif, kabel, hingga industri lembaran aluminium.
Produk utama Inalum seperti Ingot G1 masih menjadi kontributor terbesar penjualan, disusul produk-produk lainnya seperti Ingot S1B, Alloy, Billet, Molten, dan Ingot S2. Pada saat yang sama, pasar ekspor juga menunjukkan performa yang stabil dengan Malaysia menjadi negara tujuan terbesar, diikuti Korea Selatan, Jepang, Cina, India, Thailand, serta sejumlah negara lainnya.
Secara keseluruhan, 76% penjualan dialokasikan untuk pasar domestik, sementara 24% lainnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar global. “Kinerja penjualan yang melampaui target menjadi momentum penting dalam menyongsong tahun mendatang,” kata Direktur Pengembangan Usaha Inalum, Arif Haendra.
Menurutnya, penjualan yang berjalan baik di pasar domestik maupun ekspor membuktikan bahwa strategi bisnis perusahaan berada pada arah yang tepat. Arif berharap dukungan dari seluruh pihak dapat terus terjaga sehingga Inalum mampu mempertahankan stabilitas dan mencapai kinerja yang lebih baik pada tahun 2026.
Sebagai bentuk apresiasi kepada para pelanggan atas kontribusi dan loyalitas mereka dalam mendukung performa perusahaan, Inalum menyelenggarakan Customer Gathering 2025. Acara ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum diskusi yang dikemas melalui sesi Aluminium Talk, yang membahas perkembangan industri aluminium dan prospek ekonomi Indonesia ke depan. Mendorong Akselerasi Adopsi AI bagi Lintas Industri
Dalam kesempatan ini, Inalum juga memberikan penghargaan kepada para pelanggan loyal dari setiap lini produk sebagai wujud terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin.
Para pelanggan yang mendapatkan penghargaan antara lain:
1. Kategori Inalum Excellence Award – Alloy (PT Pakoakuina)
2. Kategori Inalum Excellence Award – Billet (PT ATA Internasional Industri)
3. Kategori Inalum Excellence Award – Ingot (PT Indonesia Smelting Technology)
4. Inalum Loyal Customer Recognition (PT YKK AP Indonesia)
5. Inalum Innovation Partner Award (PT Yamaha Motor Parts Manufacturing Indonesia)
Menjelang pergantian tahun, Inalum juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat industri aluminium nasional melalui berbagai langkah strategis. Perusahaan tengah mempersiapkan pengembangan pabrik pemurnian Alumina, SGAR Phase 2 guna meningkatkan kapasitas hingga 2 juta ton Alumina Pe rtahun, dan pembangunan smelter kedua di Mempawah, sebagai bagian penting dari integrasi rantai pasok aluminium nasional.
Tak hanya itu peningkatan kapasitas produksi d Smelter Kuala Tanjung, juga dilakukan melalui pembangunan Potline 4. Ketiga program strategis ini diharapkan dapat menjadi fondasi transformasi jangka panjang INALUM dalam mewujudkan industri aluminium Indonesia yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan.
Inalum targetkan produksi 520 ribu ton aluminium pada 2031. Ekspansi potline 4 butuh tambahan listrik 406 MW yang siap dipasok PLN melalui sistem 500 kV Sumut. [579] url asal
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) tengah menyiapkan ekspansi besar fasilitas pemurnian aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Proyek new potline keempat yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2029 dan optimal pada 2031 ini membutuhkan tambahan pasokan listrik sebesar 406 megawatt (MW) untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi dari 275 Kilo Tonnes Per Annum (KTPA) menjadi hingga 520 KTPA.
Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, menegaskan bahwa kebutuhan daya ini bersifat kritikal mengingat proses peleburan aluminium merupakan industri berenergi tinggi yang harus beroperasi 24 jam tanpa henti.
“Proyek keempat adalah new potline 4 Kuala Tanjung dengan optimalisasi proses dari 2029 sampai 2031,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Kamis (20/11/2025).
PLTA Siguragura dan Tangga Tidak Cukup untuk Ekspansi
Saat ini, Inalum hanya mengandalkan dua pembangkit listrik tenaga air (PLTA) — Siguragura dan Tangga — dengan kapasitas total 603 MW. Namun setelah seluruh potline beroperasi dan kapasitas smelter meningkat, kebutuhan total daya Inalum akan mendekati 1 GW atau sekitar 915 MW. Dengan demikian, tambahan 406 MW menjadi kebutuhan mutlak yang tidak dapat dipenuhi oleh dua PLTA eksisting.
Melati mengatakan pembangunan pembangkit baru tidak dapat dimasukkan sebagai belanja modal perusahaan. Karena itu, opsi pembelian listrik akan ditempuh, baik melalui PLN maupun independent power producer (IPP) jika PLN belum mampu memenuhi kebutuhan.
Melati juga menjelaskan bahwa perusahaan kini tengah mengadopsi teknologi terbaru guna meningkatkan efisiensi energi.
“Untuk satu ton aluminium diperlukan sekitar 14.000 kWh. Dengan teknologi baru kami berharap bisa turun ke 13.500 kWh. Dari desain awal 14.400 kWh, dengan upgrading di Potline II kami berhasil menurunkan menjadi 14.100 kWh. Kami juga sudah mendapatkan sertifikasi carbon footprint sehingga memenuhi persyaratan green product termasuk ketentuan CBAM di Eropa," tegasnya.
Biaya Produksi Berpotensi Naik 5% Jika Beli Listrik PLN
Inalum selama ini menikmati biaya listrik sangat murah dari PLTA, yakni sekitar 1,2 sen per kWh. Sementara tarif dasar listrik PLN saat ini berada di Rp 996,74 per kWh.
Melati menyebutkan bahwa peningkatan penggunaan listrik PLN akan berdampak pada struktur biaya perusahaan.
“Kalau kita tambah dengan PLN itu bisa sampai 1,97 sen. Sekitar 5 persen (kenaikan biaya produksi)," tambahnya.
Meski demikian, Inalum menyampaikan bahwa margin yang mencapai 24% di Kuala Tanjung masih cukup kuat untuk menahan dampak tersebut.
PLN: Cadangan Daya Sumut Memadai, Siap Pasok 406 MW Secara Bertahap
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menegaskan kesiapan PLN untuk mendukung ekspansi Inalum di Kuala Tanjung.
“Sistem Sumatera Utara saat ini memiliki daya mampu 2.736 megawatt dengan beban puncak 2.297 megawatt, sehingga tersisa cadangan sebesar 439 megawatt," jelasnya.
PLN merencanakan kebutuhan tambahan Inalum akan dipenuhi secara bertahap yakni;
2029: sekitar 200 MW
2031: total 406 MW
Demi menjaga green product dari Inalum, PLN menegaskan bahwa suplai listrik nantinya akan diupayakan maksimal dari pembangkit energi baru terbarukan (EBT) yang tersedia di Sumatera Utara, seperti PLTA Asahan dan PLTA Batang Toru serta PLTP Sarulla.
Masuk RUPTL dan Ditopang Jaringan 500 kV Baru
Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PLN, Edwin Nugraha, menyatakan bahwa kebutuhan listrik Inalum sudah resmi masuk dalam RUPTL 2025–2034. Pembangkit yang dialokasikan untuk menopang suplai kepada Inalum mencakup:
PLTA Asahan I
PLTA Asahan III
Ekspansi PLTA Asahan I
PLTP Sarulla 330 MW
PLTA Batang Toru 510 MW
Seluruh sistem kelistrikan ini akan diperkuat oleh backbone transmisi 500 kV yang sedang dibangun, meliputi:
Perawang – Peranap
Peranap – Rantau Prapat
Rantau Prapat – Galang
Proyek ini juga akan dilengkapi dengan pembangunan GITET 500 kV Kuala Tanjung sebagai terminal utama suplai untuk smelter.
“Rencananya transmisi 500 kV ini rampung 2028 untuk inline dengan kebutuhan 2029 sebesar 406 MW,” jelas Edwin.
Industri aluminium diproyeksi prospektif hingga 2026 didorong permintaan energi terbarukan dan EV, meski tantangan ekonomi global bisa memicu surplus produksi. [541] url asal
Bisnis, JAKARTA --- Harga aluminium diproyeksi masih tetap prospektif pada 2026 seiring dengan meningkatnya kebutuhan komoditas ini termasuk untuk bahan baku energi terbarukan hingga baterai kendaraan listrik. Faktor produksi juga ikut mengerek harga logam tersebut.
Harga aluminium di bursa London Metal Exchange untuk kontrak tiga bulan diperdagangkan pada level US$2.813 per ton pada perdagangan Selasa (18/11). Angka ini turun 1,57% secara harian.
Komoditas ini sempat mencapai level tertinggi sepanjang 2025 menyentuh US$2.902 per ton pada 3 November lalu. Sedangkan koreksi terdalam tercatat pada 9 April dengan nilai jual US$2.316 per ton.
Ketua Badan Keahlian Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia Rizal Kasli menerangkan bahwa peningkatan harga sepanjang tahun ini salah satunya dipicu oleh tekanan ketidakpastian geopolitik dan perkiraan penurunan produksi aluminium global.
Penurunan produksi menurutnya terjadi di sejumlah produsen utama aluminium seperti China, Australia termasuk Indonesia. Di samping itu, permintaan terhadap aluminium juga semakin meningkat terutama didorong oleh kebutuhan untuk electric vehicle (EV) dan EBT yang sedang meningkat.
"Hal tersebut mendorong kebutuhan akan aluminium dalam jumlah yang besar. Diperkirakan jika masih terjadi short supply, harga masih akan terus meningkat di tahun depan," katanya kepada Bisnis, Selasa (18/11/2025).
Setali tiga uang, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan Bisman Bhaktiar mengatakan bahwa secara umum dalam jangka pendek dan menengah, tren aluminium masih cukup positif dan akan berlanjut pada tahun depan.
Menurutnya, beberapa faktor menjadi pendorong kinerja industri aluminium. Salah satunya adalah pengembangan energi terbarukan. Meskipun demikian, terdapat tantangan berupa melambatnya ekonomi global sehingga memicu surplus produksi.
“Namun, secara umum potensi bisa terus naik walaupun tidak signifikan. Harga diperkirakan tidak jauh beda dengan saat ini, jikapun naik relatif tipis,” katanya, Senin (17/11/2025)
Dari sisi pelaku industri, Direktur Pengembangan Usaha PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), Arif Haendra mengatakan bahwa pergerakan harga aluminium tahun depan kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan kondisi saat ini di tengah dinamika global.
“Aluminium tahun depan saya kira masih akan bertengger seperti saat ini karena kita kan enggak tahu kondisi eksternal,” ujar Arif saat ditemui di sela-sela Outlook Industri Aluminium 2025, Sabtu (15/11/2025).
Menurut dia, kenaikan harga yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh anomali pasar, termasuk lonjakan harga tembaga yang berdampak pada substitusi kebutuhan ke aluminium.
Dengan kondisi kenaikan harga tersebut diprediksi menaikkan laba perusahaan hingga 5% pada akhir tahun ini. Terlebih, tak ada kenaikan biaya produksi dalam operasional smelter.
“Kalau sudah normal, harga akan kembali ke sekitar US$2.600–US$2.700 per ton. Sekarang US$2.800 per ton karena harga tembaga lagi melonjak tinggi,” ujarnya.
Arif menjelaskan bahwa kenaikan harga tembaga terjadi karena gangguan produksi, termasuk penghentian operasi oleh Freeport serta beberapa tambang tembaga di Cile. Kondisi ini mendorong pasar beralih menggunakan aluminium sebagai bahan substitusi.
“Pada saat harga tembaga naik, berpindahlah ke aluminium. Kabel-kabel listrik tegangan tinggi sekarang banyak yang menggunakan aluminium karena lebih ringan. Konduktivitas listriknya juga mirip,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa meskipun suplai aluminium turut meningkat, jumlahnya tidak signifikan sehingga tetap mendorong kenaikan harga.
Sejalan dengan tren harga global, industri aluminium Indonesia juga menunjukkan penguatan yang signifikan. Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, surplus neraca perdagangan, dan bertambahnya investasi pada proyek refinery baru mempertegas peran penting aluminium sebagai backbone industri Indonesia, terutama di sektor kemasan, konstruksi, otomotif, dan energi terbarukan.
Harga aluminium diprediksi stabil di US$2.600–US$2.700 per ton pada 2026, didukung peningkatan produksi dan investasi di Indonesia, meski harga tembaga melonjak. [577] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Harga aluminium diperkirakan stabil pada kisaran US$2.600–US$2.700 per ton pada 2026, setelah sempat mengalami kenaikan akibat sejumlah faktor eksternal.
Direktur Pengembangan Usaha PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), Arif Haendra mengatakan bahwa pergerakan harga aluminium tahun depan kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan kondisi saat ini karena adanya dinamika pasar global.
“Aluminium tahun depan saya kira masih akan bertengger seperti saat ini karena kita kan enggak tahu kondisi eksternal,” ujar Arif saat ditemui disela-sela Outlook Industri Aluminium 2025, Sabtu (15/11/2025).
Menurut dia, kenaikan harga yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh anomali pasar, termasuk lonjakan harga tembaga yang berdampak pada substitusi kebutuhan ke aluminium.
Dengan kondisi kenaikan harga tersebut diprediksi menaikkan laba perusahaan hingga 5% pada akhir tahun ini. Terlebih, tak ada kenaikan biaya produksi dalam operasional smelter.
“Kalau sudah normal, harga akan kembali ke sekitar US$2.600–US$2.700 per ton. Sekarang US$2.800 per ton karena harga tembaga lagi melonjak tinggi,” ujarnya.
Arif menjelaskan bahwa kenaikan harga tembaga terjadi karena gangguan produksi, termasuk penghentian operasi oleh Freeport serta beberapa tambang tembaga di Chile. Kondisi ini mendorong pasar beralih menggunakan aluminium sebagai bahan substitusi.
“Pada saat harga tembaga naik, berpindahlah ke aluminium. Kabel-kabel listrik tegangan tinggi sekarang banyak yang menggunakan aluminium karena lebih ringan. Konduktivitas listriknya juga mirip,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa meskipun suplai aluminium turut meningkat, jumlahnya tidak signifikan sehingga tetap mendorong kenaikan harga.
Sejalan dengan tren harga global, industri aluminium Indonesia juga menunjukkan penguatan yang signifikan. Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, surplus neraca perdagangan, dan bertambahnya investasi pada proyek refinery baru mempertegas peran penting aluminium sebagai backbone industri Indonesia, terutama di sektor kemasan, konstruksi, otomotif, dan energi terbarukan.
Direktur Industri Logam, Ditjen Ilmate Kemenperin, Dodiet Prasetyo, menyampaikan bahwa outlook industri aluminium pada 2026 mengindikasikan tren yang semakin positif.
“Indonesia bergerak menjadi produsen alumina dan aluminium yang semakin kuat. Peningkatan kapasitas aluminium primer serta bertambahnya fasilitas refinery menunjukkan ketahanan pasokan dalam negeri makin kokoh,” ujar Dodiet.
Data Kementerian Perindustrian mencatat bahwa pada Januari–Agustus 2025, ekspor alumina mencapai 3,66 juta ton, mendekati capaian tahun sebelumnya.
Sementara itu, impor turun menjadi 816.000 ton, seiring mulai beroperasinya PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) untuk pasokan bahan baku alumina untuk Inalum.
Peningkatan kapasitas produksi nasional juga terlihat dari kinerja smelter aluminium dan refinery alumina. Hingga pertengahan 2025, total output refinery mencapai 2,01 juta ton alumina, sementara smelter aluminium menghasilkan 352 ribu ton aluminium primer, dengan utilisasi mendekati 91% untuk smelter aluminium dan 64% untuk refinery alumina.
“Dengan adanya rencana perluasan PT Inalum, optimalisasi produksi PT Hua Chin Aluminum Indonesia, dan beroperasinya PT Kalimantan Aluminium Industry, pasokan aluminium primer kita diperkirakan dapat menembus lebih dari 1 juta ton pada 2027,” terangnya.
Kondisi tersebut akan memperkuat pasokan bahan baku industri hilir seperti kabel listrik, aluminium plate/sheet/foil, pengecoran logam aluminium, hingga industri aluminium ekstrusi yang membutuhkan bahan setidaknya 1 juta ton aluminium per tahun.
Perkiraan global dari lembaga internasional menunjukkan bahwa harga aluminium pada 2026 relatif stabil, berada di kisaran US$2.200–2.625 per ton.
Hal ini ditopang meningkatnya permintaan dari sektor kendaraan listrik (EV), energi terbarukan, dan otomotif global. Stabilitas harga ini memberikan ruang bagi industri nasional untuk memperluas kapasitas dan investasi hilirisasi.
Menurut Dodiet, harga yang kompetitif dan pasokan domestik yang semakin kuat merupakan kombinasi ideal untuk mempercepat pertumbuhan industri hilir Indonesia.
“Ini momentum besar bagi pengembangan produk turunan seperti panel surya, komponen otomotif, hingga berbagai aplikasi industri maju,” pungkasnya.
Proyek smelter aluminium ADMR akan beroperasi akhir 2025, meningkatkan kapasitas hingga 1,5 juta ton per tahun. Ini diharapkan meningkatkan kinerja ADMR. [922] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Proyek smelter aluminium PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) diperkirakan akan mulai beroperasi pada akhir 2025. Katalis ini diperkirakan akan berpengaruh positif bagi kinerja ADMR ke depannya.
Corporate Secretary ADMR Mahardika Putranto menjelaskan, smelter aluminium KAI pada fase awal (first pot operation) direncanakan memiliki kapasitas produksi hingga 500.000 ton aluminium ingot per tahun.
Kapasitas ini akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai total 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun melalui beberapa fase pengembangan di tahun-tahun berikutnya.
“Smelter aluminium yang sedang dibangun melalui anak perusahaan kami, PT Kalimantan Aluminium Industry, diperkirakan akan mulai beroperasi secara bertahap pada akhir 2025. Kapasitas produksi pada fase pertama mencapai 500.000 ton per tahun, dan akan ditingkatkan hingga 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun di fase-fase berikutnya,” ujar Mahardika belum lama ini.
Untuk progres pembangunan hingga kuartal II/2025, ADMR mengatakan pekerjaan struktur baja utama di area smelter hampir selesai. Selanjutnya, konstruksi bangunan dan pemasangan peralatan utama untuk potroom, sistem anoda, serta fasilitas pendukung terus dilanjutkan.
Sebelumnya, Corporate Communication ADRO Karina Novianti juga menjelaskan progres proyek smelter aluminium dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Mentarang Induk di Kalimantan Utara melalui entitas usaha ADMR, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).
Karina menuturkan sesuai dengan panduan belanja modal atau capital expenditure (capex) ADMR pada 2025 senilai US$300 juta–US$325 juta, investasi ini sudah mencakup ekuitas di smelter aluminium KAI.
Pada tahap I, kata dia, kapasitas produksi pabrik smelter mencapai 500.000 ton per tahun. Dalam jangka panjang, smelter ini dapat menghasilkan aluminium 1 juta ton per tahun untuk tahap II, dan 1,5 juta ton per tahun untuk tahap III.
“Pada semester I/2025, KAI telah menyelesaikan pemasangan peralatan utama, termasuk alat pembongkar batu bara dan alumina di area jetty. Kegiatan konstruksi masih berlangsung di area utama lainnya, termasuk area pabrik peleburan aluminium, dengan fokus untuk mencapai operasional komersial (COD) pada akhir 2025,” ucapnya.
Di sisi lain, ADMR juga menyampaikan melalui tiga anak usahanya akan melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan batu bara metalurgi.
Berdasarkan informasi pada Laporan Tahunan 2024 ADMR, terdapat tiga anak usaha, yaitu PT Juloi Coal (JC), PT Kalteng Coal (KC), dan PT Sumber Barito Coal (SBC), yang belum beroperasi dan masih dalam tahapan Pengembangan Operasi Produksi.
Corporate Secretary ADMR Mahardika Putranto menjelaskan ketiga entitas anak tersebut sedang melakukan kajian teknis terkait infrastruktur untuk pengembangan terintegrasi. Kegiatan operasional komersial batu bara metalurgi akan dilakukan setelah eksplorasi lanjutan dan kajian teknis terintegrasi telah selesai.
"Ketiga entitas tersebut berencana melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan pada wilayah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara [PKP2B] yang belum termasuk ke dalam area cadangan batu bara saat ini, yang bertujuan untuk meningkatkan keyakinan geologi," tulis Mahardika dalam keterbukaan informasi BEI.
Dia menambahkan, ketiga perusahaan tersebut memegang PKP2B dan telah memperoleh persetujuan tahap Operasi Produksi, persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), perizinan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), dan perizinan lainnya.
Selain itu, ketiga perusahaan tersebut juga sedang dalam proses pengurusan perizinan untuk mendukung rencana eksplorasi lanjutannya.
"Ketiga perusahaan tersebut masih dalam proses persiapan operasi produksi. Perseroan berupaya untuk mempersiapkan ketiga anak perusahaannya tersebut agar dapat melaksanakan tahap selanjutnya dengan prudent," tuturnya.
Proyek ADMR
Katalis Diversifikasi Aluminium ADMR
Analis CGS International Sekuritas Jacquelin Hamdani dan Edward Halim dalam risetnya memperkirakan pendapatan aluminium ADMR akan mulai meningkat pada kuartal IV/2026. Akan tetapi, CGS International Sekuritas juga memperkirakan akan adanya beban bunga yang dikapitalisasi, yang pada awalnya akan menyebabkan kerugian.
“Kami memperkirakan kontribusi laba positif mulai tahun penuh 2027,” tulis CGS International Sekuritas.
Saat ini, CGS International Sekuritas masih netral terhadap segmen smelter aluminium karena bersifat dilutif terhadap margin. Namun, CGS International Sekuritas meyakini beberapa peristiwa penting terkait aluminium dapat mengakibatkan pergerakan harga saham.
Peristiwa tersebut seperti perubahan harga aluminium, stimulus ekonomi yang mengakibatkan peningkatan konsumsi logam, dan dimulainya operasi smelter aluminium yang lebih awal dari perkiraan.
CGS International Sekuritas mempertahankan posisi hold karena kurangnya katalis positif untuk harga batu bara kokas, dengan target harga Rp1.050 per saham. ADMR memperkirakan harga batu bara kokas akan berada pada kisaran US$180-US$185 per ton pada 2025-2026.
Meski demikian, CGS International Sekuritas tetap melihat potensi katalis di masa mendatang dari diversifikasi ADMR ke arah aluminium.
Katalis bagi saham ADMR adalah proyek stimulus atau konstruksi yang cukup besar terutama di China, yang mendorong permintaan logam. Lalu eksekusi proyek aluminium yang kuat.
Sementara itu, risiko bagi saham ADMR berasal dari pemangkasan produksi baja lebih lanjut yang menekan harga bahan baku baja, termasuk batu bara kokas, dan penundaan lebih lanjut dalam proyek aluminium.
Sementara itu, Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan mempertahankan proyeksi laba bersih tahun 2025–2027 karena hasil kinerja sesuai ekspektasi, serta menjaga rekomendasi buy dengan target harga Rp1.300 per saham.
Indo Premier Sekuritas menilai risiko penurunan harga batu bara kokas akan terbatas pada ADMR, mengingat beberapa tambang batu bara kokas global mulai mencatatkan kerugian. Sementara itu, reformasi sisi pasokan suplai dari China berpotensi mengurangi kelebihan kapasitas tambang batu bara.
“Selain itu, dengan smelter aluminium yang akan mulai beroperasi, kami melihat potensi pertumbuhan laba mulai tahun 2026, yang menjadi dasar rekomendasi buy kami,” tutur Indo Premier Sekuritas.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.