Industri Ungkap Faktor Pendorong Kinerja Aluminium 2026
Industri aluminium diproyeksi prospektif hingga 2026 didorong permintaan energi terbarukan dan EV, meski tantangan ekonomi global bisa memicu surplus produksi.
(Bisnis.Com) 18/11/25 14:47 41921
Bisnis, JAKARTA --- Harga aluminium diproyeksi masih tetap prospektif pada 2026 seiring dengan meningkatnya kebutuhan komoditas ini termasuk untuk bahan baku energi terbarukan hingga baterai kendaraan listrik. Faktor produksi juga ikut mengerek harga logam tersebut.
Harga aluminium di bursa London Metal Exchange untuk kontrak tiga bulan diperdagangkan pada level US$2.813 per ton pada perdagangan Selasa (18/11). Angka ini turun 1,57% secara harian.
Komoditas ini sempat mencapai level tertinggi sepanjang 2025 menyentuh US$2.902 per ton pada 3 November lalu. Sedangkan koreksi terdalam tercatat pada 9 April dengan nilai jual US$2.316 per ton.
Ketua Badan Keahlian Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia Rizal Kasli menerangkan bahwa peningkatan harga sepanjang tahun ini salah satunya dipicu oleh tekanan ketidakpastian geopolitik dan perkiraan penurunan produksi aluminium global.
Penurunan produksi menurutnya terjadi di sejumlah produsen utama aluminium seperti China, Australia termasuk Indonesia. Di samping itu, permintaan terhadap aluminium juga semakin meningkat terutama didorong oleh kebutuhan untuk electric vehicle (EV) dan EBT yang sedang meningkat.
"Hal tersebut mendorong kebutuhan akan aluminium dalam jumlah yang besar. Diperkirakan jika masih terjadi short supply, harga masih akan terus meningkat di tahun depan," katanya kepada Bisnis, Selasa (18/11/2025).
Setali tiga uang, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan Bisman Bhaktiar mengatakan bahwa secara umum dalam jangka pendek dan menengah, tren aluminium masih cukup positif dan akan berlanjut pada tahun depan.
Menurutnya, beberapa faktor menjadi pendorong kinerja industri aluminium. Salah satunya adalah pengembangan energi terbarukan. Meskipun demikian, terdapat tantangan berupa melambatnya ekonomi global sehingga memicu surplus produksi.
“Namun, secara umum potensi bisa terus naik walaupun tidak signifikan. Harga diperkirakan tidak jauh beda dengan saat ini, jikapun naik relatif tipis,” katanya, Senin (17/11/2025)
Dari sisi pelaku industri, Direktur Pengembangan Usaha PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), Arif Haendra mengatakan bahwa pergerakan harga aluminium tahun depan kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan kondisi saat ini di tengah dinamika global.
“Aluminium tahun depan saya kira masih akan bertengger seperti saat ini karena kita kan enggak tahu kondisi eksternal,” ujar Arif saat ditemui di sela-sela Outlook Industri Aluminium 2025, Sabtu (15/11/2025).
Menurut dia, kenaikan harga yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh anomali pasar, termasuk lonjakan harga tembaga yang berdampak pada substitusi kebutuhan ke aluminium.
Dengan kondisi kenaikan harga tersebut diprediksi menaikkan laba perusahaan hingga 5% pada akhir tahun ini. Terlebih, tak ada kenaikan biaya produksi dalam operasional smelter.
“Kalau sudah normal, harga akan kembali ke sekitar US$2.600–US$2.700 per ton. Sekarang US$2.800 per ton karena harga tembaga lagi melonjak tinggi,” ujarnya.
Arif menjelaskan bahwa kenaikan harga tembaga terjadi karena gangguan produksi, termasuk penghentian operasi oleh Freeport serta beberapa tambang tembaga di Cile. Kondisi ini mendorong pasar beralih menggunakan aluminium sebagai bahan substitusi.
“Pada saat harga tembaga naik, berpindahlah ke aluminium. Kabel-kabel listrik tegangan tinggi sekarang banyak yang menggunakan aluminium karena lebih ringan. Konduktivitas listriknya juga mirip,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa meskipun suplai aluminium turut meningkat, jumlahnya tidak signifikan sehingga tetap mendorong kenaikan harga.
Sejalan dengan tren harga global, industri aluminium Indonesia juga menunjukkan penguatan yang signifikan. Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, surplus neraca perdagangan, dan bertambahnya investasi pada proyek refinery baru mempertegas peran penting aluminium sebagai backbone industri Indonesia, terutama di sektor kemasan, konstruksi, otomotif, dan energi terbarukan.
#aluminium-2026 #industri-aluminium #harga-aluminium #produksi-aluminium #permintaan-aluminium #electric-vehicle-aluminium #energi-terbarukan-aluminium #aluminium-global #aluminium-indonesia #aluminium