Menanti Tuah Diversifikasi Alamtri Minerals (ADMR)

Menanti Tuah Diversifikasi Alamtri Minerals (ADMR)

Proyek smelter aluminium ADMR akan beroperasi akhir 2025, meningkatkan kapasitas hingga 1,5 juta ton per tahun. Ini diharapkan meningkatkan kinerja ADMR.

(Bisnis.Com) 16/10/25 12:00 5404

Bisnis.com, JAKARTA — Proyek smelter aluminium PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) diperkirakan akan mulai beroperasi pada akhir 2025. Katalis ini diperkirakan akan berpengaruh positif bagi kinerja ADMR ke depannya.

Corporate Secretary ADMR Mahardika Putranto menjelaskan, smelter aluminium KAI pada fase awal (first pot operation) direncanakan memiliki kapasitas produksi hingga 500.000 ton aluminium ingot per tahun.

Kapasitas ini akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai total 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun melalui beberapa fase pengembangan di tahun-tahun berikutnya.

“Smelter aluminium yang sedang dibangun melalui anak perusahaan kami, PT Kalimantan Aluminium Industry, diperkirakan akan mulai beroperasi secara bertahap pada akhir 2025. Kapasitas produksi pada fase pertama mencapai 500.000 ton per tahun, dan akan ditingkatkan hingga 1,5 juta ton aluminium ingot per tahun di fase-fase berikutnya,” ujar Mahardika belum lama ini.

Untuk progres pembangunan hingga kuartal II/2025, ADMR mengatakan pekerjaan struktur baja utama di area smelter hampir selesai. Selanjutnya, konstruksi bangunan dan pemasangan peralatan utama untuk potroom, sistem anoda, serta fasilitas pendukung terus dilanjutkan.

Sebelumnya, Corporate Communication ADRO Karina Novianti juga menjelaskan progres proyek smelter aluminium dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Mentarang Induk di Kalimantan Utara melalui entitas usaha ADMR, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).

Karina menuturkan sesuai dengan panduan belanja modal atau capital expenditure (capex) ADMR pada 2025 senilai US$300 juta–US$325 juta, investasi ini sudah mencakup ekuitas di smelter aluminium KAI.

Pada tahap I, kata dia, kapasitas produksi pabrik smelter mencapai 500.000 ton per tahun. Dalam jangka panjang, smelter ini dapat menghasilkan aluminium 1 juta ton per tahun untuk tahap II, dan 1,5 juta ton per tahun untuk tahap III.

“Pada semester I/2025, KAI telah menyelesaikan pemasangan peralatan utama, termasuk alat pembongkar batu bara dan alumina di area jetty. Kegiatan konstruksi masih berlangsung di area utama lainnya, termasuk area pabrik peleburan aluminium, dengan fokus untuk mencapai operasional komersial (COD) pada akhir 2025,” ucapnya.

Di sisi lain, ADMR juga menyampaikan melalui tiga anak usahanya akan melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan batu bara metalurgi.

Berdasarkan informasi pada Laporan Tahunan 2024 ADMR, terdapat tiga anak usaha, yaitu PT Juloi Coal (JC), PT Kalteng Coal (KC), dan PT Sumber Barito Coal (SBC), yang belum beroperasi dan masih dalam tahapan Pengembangan Operasi Produksi.

Corporate Secretary ADMR Mahardika Putranto menjelaskan ketiga entitas anak tersebut sedang melakukan kajian teknis terkait infrastruktur untuk pengembangan terintegrasi. Kegiatan operasional komersial batu bara metalurgi akan dilakukan setelah eksplorasi lanjutan dan kajian teknis terintegrasi telah selesai.

"Ketiga entitas tersebut berencana melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan pada wilayah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara [PKP2B] yang belum termasuk ke dalam area cadangan batu bara saat ini, yang bertujuan untuk meningkatkan keyakinan geologi," tulis Mahardika dalam keterbukaan informasi BEI.

Dia menambahkan, ketiga perusahaan tersebut memegang PKP2B dan telah memperoleh persetujuan tahap Operasi Produksi, persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), perizinan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), dan perizinan lainnya.

Selain itu, ketiga perusahaan tersebut juga sedang dalam proses pengurusan perizinan untuk mendukung rencana eksplorasi lanjutannya.

"Ketiga perusahaan tersebut masih dalam proses persiapan operasi produksi. Perseroan berupaya untuk mempersiapkan ketiga anak perusahaannya tersebut agar dapat melaksanakan tahap selanjutnya dengan prudent," tuturnya.

Proyek ADMR
Proyek ADMR

Katalis Diversifikasi Aluminium ADMR

Analis CGS International Sekuritas Jacquelin Hamdani dan Edward Halim dalam risetnya memperkirakan pendapatan aluminium ADMR akan mulai meningkat pada kuartal IV/2026. Akan tetapi, CGS International Sekuritas juga memperkirakan akan adanya beban bunga yang dikapitalisasi, yang pada awalnya akan menyebabkan kerugian.

“Kami memperkirakan kontribusi laba positif mulai tahun penuh 2027,” tulis CGS International Sekuritas.

Saat ini, CGS International Sekuritas masih netral terhadap segmen smelter aluminium karena bersifat dilutif terhadap margin. Namun, CGS International Sekuritas meyakini beberapa peristiwa penting terkait aluminium dapat mengakibatkan pergerakan harga saham.

Peristiwa tersebut seperti perubahan harga aluminium, stimulus ekonomi yang mengakibatkan peningkatan konsumsi logam, dan dimulainya operasi smelter aluminium yang lebih awal dari perkiraan.

CGS International Sekuritas mempertahankan posisi hold karena kurangnya katalis positif untuk harga batu bara kokas, dengan target harga Rp1.050 per saham. ADMR memperkirakan harga batu bara kokas akan berada pada kisaran US$180-US$185 per ton pada 2025-2026.

Meski demikian, CGS International Sekuritas tetap melihat potensi katalis di masa mendatang dari diversifikasi ADMR ke arah aluminium.

Katalis bagi saham ADMR adalah proyek stimulus atau konstruksi yang cukup besar terutama di China, yang mendorong permintaan logam. Lalu eksekusi proyek aluminium yang kuat.

Sementara itu, risiko bagi saham ADMR berasal dari pemangkasan produksi baja lebih lanjut yang menekan harga bahan baku baja, termasuk batu bara kokas, dan penundaan lebih lanjut dalam proyek aluminium.

Sementara itu, Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan mempertahankan proyeksi laba bersih tahun 2025–2027 karena hasil kinerja sesuai ekspektasi, serta menjaga rekomendasi buy dengan target harga Rp1.300 per saham.

Indo Premier Sekuritas menilai risiko penurunan harga batu bara kokas akan terbatas pada ADMR, mengingat beberapa tambang batu bara kokas global mulai mencatatkan kerugian. Sementara itu, reformasi sisi pasokan suplai dari China berpotensi mengurangi kelebihan kapasitas tambang batu bara.

“Selain itu, dengan smelter aluminium yang akan mulai beroperasi, kami melihat potensi pertumbuhan laba mulai tahun 2026, yang menjadi dasar rekomendasi buy kami,” tutur Indo Premier Sekuritas.

________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#aluminium-smelter #admr-proyek #diversifikasi-admr #kapasitas-produksi-aluminium #smelter-aluminium-kai #admr-kinerja #admr-investasi #admr-eksplorasi #admr-anak-usaha #admr-batu-bara #admr-laba #admr

https://market.bisnis.com/read/20251016/192/1920801/menanti-tuah-diversifikasi-alamtri-minerals-admr