Pemprov Kaltim dorong UMKM manfaatkan Lebaran dengan bazar dan digitalisasi untuk tingkatkan penjualan ritel, fashion, dan makanan, serta optimalkan belanja pemerintah. [248] url asal
Bisnis.com, BALIKPAPAN — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menempatkan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai strategi utama mendorong pertumbuhan ekonomi daerah menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop/DP2KUKM) Provinsi Kalimantan Timur, Heni Purwaningsih menyatakan momentum Lebaran menjadi panen bagi pelaku usaha, khususnya di sektor ritel, fashion, makanan, dan jasa logistik.
"Momentum Lebaran ini menjadi peluang emas bagi UMKM kita. Kami mendorong para pelaku usaha untuk tidak hanya mengandalkan bazar fisik, tetapi juga mengoptimalkan pemasaran digital agar produk lokal dapat menjangkau konsumen lebih luas," ujarnya dalam keterangan, Senin (9/3/2026).
Dia mengungkapkan bahwa beberapa strategi pemberdayaan UMKM yang dilakukan Pemprov Kaltim bersama pemerintah kabupaten/kota a.l penyelenggaraan Bazar Ramadan sebagai wadah pelaku UMKM memamerkan dan menjual produk dan mendorong digitalisasi dan pemasaran online untuk meningkatkan jangkauan pasar.
Kemudian, melakukan optimalisasi belanja pemerintah melalui kebijakan penggunaan APBN/APBD untuk produk UMKM lokal yang ditingkatkan menjelang Lebaran, dan program pendampingan usaha mikro yang fokus pada peningkatan kualitas kemasan dan manajemen keuangan agar lebih berdaya saing.
Lebih lanjut, Heni menjelaskan fokus sektor UMKM di Benua Etam saat Lebaran mencakup sektor ritel dan fashion dengan penjualan pakaian, hijab, dan perlengkapan ibadah yang meningkat dan sektor makanan dan kue kering dengan permintaan hampers dan makanan khas Lebaran yang melonjak drastis.
"Sektor jasa, terutama logistik dan transportasi yang mengalami peningkatan aktivitas akibat distribusi barang dan mobilitas pemudik," katanya.
Adapun, Pemprov Kaltim berharap dapat memperkuat daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi selama periode Lebaran 2026.
Bisnis.com, JAKARTA—Sejumlah pelaku usaha eceng gondok di kawasan Waduk Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mengikuti program pemberdayaan UMKM yang dilakukan oleh BRI Life berkolaborasi dengan BRI Research Institute.
Program ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya dan dirancang untuk memperkuat kapasitas usaha UMKM melalui pelatihan, pendampingan, serta penguatan sarana produksi dan pemasaran, sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan waduk dari pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali.
Kegiatan pemberdayaan ini menyasar pelaku UMKM pengrajin eceng gondok yang mayoritas dikelola oleh perempuan dan bermukim di sekitar Waduk Rawa Pening. Sebanyak 30 pelaku UMKM mengikuti rangkaian program yang dilaksanakan selama periode Oktober 2025 hingga Desember 2025, mencakup tahapan pelatihan, pembentukan dan penguatan rumah produksi, serta pendampingan usaha secara luring dan daring.
Koordinator pelaku UMKM eceng gondok Rawa Pening Firman Setyaji berharap program ini dapat menjadi titik awal bagi UMKM untuk bergerak lebih maju, meningkatkan pendapatan, serta memperluas pasar produk kerajinan eceng gondok.
“Program ini memberi kami harapan baru untuk mengembangkan usaha secara lebih terarah dan berkelanjutan, sekaligus berkontribusi menjaga lingkungan Waduk Rawa Pening,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (8/1/2026)
Seluruh kegiatan dilaksanakan di kawasan Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, dengan memanfaatkan fasilitas rumah produksi dan lokasi pelatihan yang telah disepakati bersama para pemangku kepentingan setempat.
Ade Nasution, Kadiv Corporate Secretary PT Asuransi BRI Life, menuturkan melalui Program Pemberdayaan Bersama BRILife Tahap II, pihaknya ingin mendorong UMKM eceng gondok agar memiliki kapasitas produksi yang lebih baik, inovasi produk yang mengikuti tren pasar, serta pengelolaan keuangan dan pemasaran yang lebih profesional.
“Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM, tetapi juga menjadi bagian dari solusi pengelolaan lingkungan Waduk Rawa Pening secara berkelanjutan,” ujarnya.
Rangkaian pelatihan dilaksanakan dalam tiga sesi utama. Pelatihan pertama pada 29 Oktober 2025 berfokus pada pemahaman tren pasar dan inovasi produk, termasuk praktik teknik decoupage untuk meningkatkan nilai estetika dan nilai jual produk eceng gondok.
Pelatihan kedua pada 20 November 2025 mengangkat materi pencatatan keuangan digital dan strategi pemasaran digital guna mendorong UMKM mengelola usaha secara lebih transparan dan memperluas jangkauan pasar.
Sementara itu, pelatihan ketiga pada 19 Desember 2025 memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung pengembangan konten promosi, inovasi produk, dan efisiensi usaha.
Selain pelatihan, program ini juga mencakup Peresmian Rumah Produksi UMKM Eceng Gondok Waduk Rawa Pening yang menjadi sarana bersama bagi pelaku usaha dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.
Kehadiran rumah produksi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi kerja, konsistensi kualitas produk, serta memperkuat kolaborasi antar pengrajin eceng gondok di kawasan Rawa Pening.
Melalui Program Pemberdayaan Bersama BRILife Tahap II, BRILife dan BRI Research Institute menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan UMKM lokal berbasis potensi lingkungan. Program ini diharapkan mampu menciptakan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan serta dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa.
DBS Foundation mengalokasikan Rp48 miliar untuk pemberdayaan perempuan dan kaum muda marjinal di Indonesia, berkolaborasi dengan Mercy Corps dan Plan Indonesia. [1,029] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation kembali memperkuat komitmennya dalam mendorong pertumbuhan inklusif dengan menggandeng dua mitra baru,Yayasan Mercy Corps Indonesia(Mercy Corps Indonesia) danYayasan Plan International Indonesia(Plan Indonesia). Kerja sama ini dirancang untuk meningkatkan akses perempuan pelaku usaha mikro dan kecil terhadap literasi dan layanan keuangan, manajemen bisnis dan pemasaran digital, sekaligus membekali kaum muda, terutama perempuan dan penyandang disabilitas, dengan keterampilan dan kesiapan kerja di industri yang sedang berkembang, informasi peluang kerja serta kemampuan perencanaan keuangan agar lebih siap menghadapi tantangan ekonomi. Peresmian kerja sama ini dihadiri oleh perwakilan dari Bank DBS Indonesia, Mercy Corps Indonesia, dan Plan Indonesia.
Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang DBS Foundation sejak 2023 untuk memberi dukungan pendanaan hingga SGD 1 miliar selama 10 tahun ke depan di Asia untuk fokus mendorong inklusi (fostering inclusion) dan menyediakan kebutuhan dasar (providing essential needs) melalui berbagai program yang menjawab tantangan nyata di masyarakat. Sebelumnya, pada Januari 2025, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan program pembangunan sosial perdana bersama The Asia Foundation, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, dan Dicoding senilai SGD 9 juta atau lebih dari Rp100 miliar untuk tiga tahun ke depan.
“DBS Foundation hadir dengan visi untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat rentan, termasuk kaum muda dan perempuan yang memiliki keterbatasan akses. Dengan dana hibah Rp48 miliar yang dikucurkan untuk program ini, kami percaya dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Selain memberikan bantuan pendanaan, kami juga memastikan seluruh program kemitraan ini dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi seluruh penerima manfaat dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi inklusif yang berkelanjutan. Tentunya seluruh upaya ini sejalan dengan pilar keberlanjutan kami yang ketiga,Impact Beyond Banking,” ujar Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS IndonesiaMona Monika.
Meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Perempuan Pengusaha Mikro di Perkotaan
Dalam dua dekade terakhir, perempuan Indonesia mencatat kemajuan signifikan di ranah publik dan sektor strategis, terutama melalui UMKM. Menurut data Kementerian UMKM, jumlah UMKM di Indonesia pada 2024 mencapai lebih dari 66 juta unit dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 61 persen atau senilai Rp9.580 triliun. Sekitar 99 persen dari total UMKM tersebut merupakan kategori usaha mikro dan 64 persen pelaku usaha dimiliki atau dikelola perempuan. Meski berperan penting dalam menggerakkan perekonomian nasional, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat tingkat literasi dan inklusi keuangan perempuan masing-masing sebesar 65,58 dan 65,73 persen, sedangkan laki-laki masing-masing sebesar 67,32 dan 67,53 persen. Hal ini menegaskan perlunya penguatan literasi dan akses keuangan bagi perempuan agar lebih cermat dalam pengelolaan keuangan dan dalam mengakses produk dan layanan keuangan.
Selain itu, data dari Yayasan Mercy Corps Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan hanya 51 persen perempuan pengusaha mikro dan kecil di perkotaan yang memiliki rekening aktif dan digunakan dalam 6 bulan terakhir karena literasi dan akses ke layanan keuangan yang terbatas. Minimnya kepemilikan aset, keterbatasan informasi, dan kurangnya pemahaman risiko membuat mereka sulit mengakses lembaga keuangan formal, terutama di era layanan berbasis digital. Padahal, 98 persen dari mereka sudah memilikismartphonedan akses internet, hanya saja belum dimanfaatkan maksimal untuk
mengembangkan bisnis, misalnya menggunakan aplikasimobile banking(31 persen), dompet digital (30 persen), danmarketplace(32 persen).
Menjawab tantangan tersebut, DBS Foundation bekerja sama denganYayasan Mercy Corps Indonesiauntuk meningkatkan kesehatan dan ketahanan keuangan perempuan pemilik/pengelola usaha mikro dan kecil melalui programFinancial Inclusion for Women Entrepreneursselama dua tahun.Program ini menyasar 40.000 perempuan dan anak muda pemilik/pengelola usaha mikro dan kecil di Semarang, Surabaya, dan Medan dengan pelatihan dan pendampingan literasi digital, manajemen keuangan, akses produk dan layanan keuangan dari lembaga jasa keuangan formal, dan pemasaran digital.
“Yayasan Mercy Corps Indonesia memiliki misi membantu masyarakat pulih dari krisis dan menjadikannya peluang untuk memperbaiki kualitas hidup. Kami melihat dari banyak perempuan yang memiliki/mengelola usaha mikro dan kecil, mayoritas belum memiliki literasi keuangan dan akses produk dan layanan keuangan yang memadai. Padahal, literasi keuangan yang baik dapat membantu mereka mengambil keputusan bijak, mengurangi risiko, dan meningkatkan kesehatan dan ketahanan keuangan mereka. Itulah sebabnya kami sangat menyambut baik kolaborasi bersama DBS Foundation dan Bank DBS Indonesia, karena kami percaya kerja sama ini akan memperluas dampak positif sekaligus memberikan lebih banyak ruang bagi perempuan dan anak muda pemilik/pengelola usaha mikro dan kecil untuk berkembang,” ucap Executive Director Yayasan Mercy Corps IndonesiaAde Soekadis.
Membuka Pintu Peluang untuk Kaum Muda Marginal
Pertumbuhan inklusif juga perlu menyasar kelompok muda yang masih menghadapi tantangan dalam mengakses pekerjaan. Sekitar 20 persen dari total penduduk muda berusia 15-24 tahun atau sekitar 9 juta orang berstatus NEET (Not in Education, Employment, or Training/tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan) (BPS, 2024). Lebih dari itu, mengacu data tersebut, masih terdapat kesenjangan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (55 persen) dibandingkan laki-laki (84 persen). Pengangguran penyandang disabilitas juga mayoritas kaum muda berusia 15-34 tahun (ILO, 2022). Kondisi ini menegaskan masih perlu lebih banyak lagi dukungan untuk peningkatan keterampilan dan peluang kerja bagi kaum muda, terutama perempuan dan penyandang disabilitas, demi memastikan pertumbuhan yang inklusif.
Situasi ini mendorong DBS Foundation untuk berkolaborasi denganPlan Indonesiamelalui programYou Rise (Youth be Ready, Inclusive, Skilled, Empowered)untuk membuka akses pelatihan bagi 100.000 kaum muda usia 18-29 tahun, termasuk 60 persen perempuan dan 3 persen penyandang disabilitas. Program ini akan diselenggarakan selama dua tahun di Jakarta, Medan, dan Surabaya. You Rise akan mengombinasikan pengembangan keterampilan, literasi keuangan, dan akses kerja agar peserta lebih siap memasuki pasar kerja serta membangun kesehatan finansial yang lebih stabil.
“Kaum muda memegang peran penting sebagai agen perubahan sekaligus cerminan masa depan bangsa. Oleh karena itu, dukungan terhadap mereka adalah investasi bagi kemajuan bersama. Tantangan ketenagakerjaan dan keterbatasan akses kerja tidak seharusnya menjadi penghalang, melainkan pemicu bagi kita untuk bergerak mencari solusi. Melalui program literasi finansial dan peningkatan keterampilan kerja bersama DBS Foundation, kami berkomitmen membantu mereka lebih siap bersaing. Kami percaya, ketika pintu kesempatan dibuka seluas-luasnya, kaum muda akan tumbuh menjadi kekuatan transformasi yang membawa perubahan nyata,” ungkap Executive Director Plan IndonesiaDini Widiastuti.
Berbagai inisiatif ini membawa DBS Bank Ltd (Bank DBS) meraih penghargaan World’s Best Bank for Corporate Responsibility untuk yang kedua kalinya oleh Euromoney pada Juli 2025 lalu.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai DBS Foundation, kunjungi laman ini dan Instagram @dbsfoundationid.
AMMAN dan Mastercard berkolaborasi memperkuat digitalisasi UMKM di Sumbawa Barat, fokus pada pemberdayaan perempuan, akses keuangan, dan penguatan ekosistem usaha [502] url asal
Bisnis.com, SUMBAWA - Gelombang optimisme dan kemajuan ekonomi digital telah menyentuh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Dalam semangat kolaborasi lintas sektor, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), salah satu perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia bersama Mastercard meresmikan kolaborasi strategis melalui program ‘Mastercard Strive’, yang diimplementasikan oleh Mercy Corps Indonesia.
Kemitraan dalam kerangka Kesepakatan Bersama dengan Pemerintah KSB ini menempatkan UMKM sebagai pusat perubahan. Bukan sekadar pelatihan singkat, melainkan pendampingan yang menggabungkan keterampilan digital, akses ke layanan keuangan, dan penguatan ekosistem agar UMKM mampu tumbuh mandiri dan berdaya saing. Program ini menyasar 300.000 UMKM di berbagai provinsi, termasuk Nusa Tenggara Barat, dengan sasaran 40% pelaku usahanya adalah perempuan.
Priyo Pramono, Vice President Social Impact AMMAN menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian integral dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN yang berkelanjutan, yang berfokus pada pembangunan pondasi ekonomi yang kokoh di tingkat lokal.
“Pengembangan UMKM adalah upaya AMMAN untuk mendukung pertumbuhan kewirausahaan di KSB agar UMKM lokal dapat tumbuh menjadi penopang ekonomi lokal dan sekaligus menjadi pendorong pariwisata daerah. UMKM di KSB memiliki banyak potensi, tetapi memerlukan pendampingan untuk peningkatan kapasitas para pelaku usaha UMKM dan memperkuat ekosistem yang menunjang pertumbuhan usaha mereka,” ujar Priyo.
Di sisi lain, Ade Soekadis, Executive Director Mercy Corps Indonesia juga menambahkan, “Salah satu fokus utama Mercy Corps Indonesia adalah membuka akses yang lebih luas terhadap peluang ekonomi dan layanan keuangan bagi kelompok masyarakat marginal dan rentan, termasuk UMKM. Lewat program ini, kami berkomitmen untuk memberikan pelatihan dan pendampingan yang dibutuhkan oleh UMKM agar semakin berdaya dan tangguh di era ekonomi digital,” imbuhnya.
Tiga Pilar Kekuatan untuk Masa Depan UMKM KSB
Program Mastercard Strive mulai bergulir di KSB pada akhir November 2025, bertepatan dengan rangkaian peringatan hari jadi daerah, dan diawali dengan pelatihan fasilitator lokal. Dukungan bagi UMKM difokuskan pada tiga pilar utama yang dirancang untuk mempercepat pertumbuhan dan daya saing:
Go Digital: Membawa UMKM ke pasar global melalui pelatihan pemasaran digital, integrasi platform, dan keamanan siber.
Get Capital: Membuka akses permodalan dengan edukasi dan aktivasi produk Lembaga Jasa Keuangan (LJK) serta produk kredit.
Ecosystem Strengthening: Memperkuat ekosistem usaha melalui pelatihan intensif, mentoring, dan jejaring pembelajaran.
Suryaman, S.STP, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) KSB, menyambut inisiatif ini dengan antusias, “Pemerintah KSB berkomitmen menjadikan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi yang maju dan mandiri. Sinergi dengan AMMAN dan Mastercard ini sangat tepat waktu. Digitalisasi dan akses permodalan adalah kunci utama agar UMKM kita dapat bersaing di pasar yang lebih luas, hingga ke tingkat nasional dan global. Kami mendukung penuh program ini untuk mencapai dampak ekonomi yang signifikan dan berkelanjutan, khususnya bagi pelaku usaha perempuan,” imbuhnya.
UMKM peserta program, yang ditargetkan menjangkau ratusan pelaku usaha, akan menerima paket dukungan komprehensif, mulai dari Onboarding ke platform Micromentor, Pelatihan Cerdas Menabung dan Keuangan, Pelatihan Digital Marketing dan Keamanan Siber, hingga Edukasi Literasi Keuangan dan Aktivasi Produk LJK.
Inisiatif ini bukan sekadar pelatihan, tetapi sebuah investasi transformatif yang menjanjikan masa depan yang lebih cerah dan ekonomi yang lebih tangguh bagi seluruh masyarakat KSB.