PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) telah menyelesaikan akuisisi atas 82 persen saham dalam PT Mah Sing Indonesia. Total nilai pengambilalihan sebesar Rp41 miliar. [223] url asal
IDXChannel - PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) telah menyelesaikan akuisisi atas 82 persen saham dalam PT Mah Sing Indonesia. Total nilai pengambilalihan sebesar Rp41 miliar.
"Pada 28 November 2025, perseroan telah menyelesaikan akuisisi atas 82 persen saham-saham dalam PT Mah Sing Indonesia, dengan total nilai pengambilalihan sebesar Rp41 miliar," ujar Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat (28/11/2025).
Transaksi tersebut dilakukan melalui pengambilalihan saham dari para penjual yakni Vital Routes Sdn Bhd selaku pemegang 3.250.000 saham atau setara dengan 65 persen dari seluruh saham ditempatkan dan disetor saham dari PT Mah Sing Indonesia.
Kemudian, PT Kingsanindo Perkasa Indah selaku pemegang 850 ribu saham atau setara dengan 17 persen saham dari seluruh saham ditempatkan dan disetor PT Mah Sing Indonesia.
Irianto menyampaikan, akuisisi ini dilakukan dalam rangka pengembangan dan ekspansi kegiatan usaha perseroan, antara lain untuk peningkatan pendapatan serta penambahan portofolio produk, khususnya pada komponen plastik untuk kendaraan roda empat.
Lebih lanjut, dia menegaskan, nilai akuisisi ini berada di bawah ambang batas (threshold) transaksi material sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, yaitu di bawah 20 persen dari ekuitas perseroan.
"Kejadian, informasi dan fakta material tersebut di atas tidak berdampak negatif material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan," katanya.
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten komponen otomotif besutan konglomerat TP Rachmat, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) menargetkan untuk meraup pendapatan sebesar Rp6,5 triliun pada 2026.
President Direktur Dharma Polimetal, Irianto Santoso mengatakan perseroan berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerja setiap tahunnya. Adapun, pada 2025, DRMA telah menargetkan untuk meraup pendapatan sebesar Rp6 triliun.
Sementara itu, sampai sembilan bulan 2025, DRMA telah mampu meraup pendapatan sebesar Rp4,39 triliun, bertumbuh 9,2% secara tahunan (year on year/YoY), dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp4,02 triliun.
“Jika proyeksi pendapatan tahun 2025 berada di kisaran Rp6 triliun, maka untuk tahun berikutnya kami memperkirakan target penjualan sekitar Rp6,5 triliun,” kata Irianto dalam laporan hasil public expose pada Senin (24/11/2025).
Meski begitu, menurutnya penyusunan target masih dalam proses dan terus disesuaikan dengan peluang-peluang yang ada.
“Sementara itu, untuk laba, kami akan berupaya mempertahankan tingkat profitabilitas di atas 10%,” ujar Irianto.
DRMA sendiri telah meraup laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp419,87 miliar per kuartal III/2025, naik 1,89% YoY dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp412,07 miliar.
Irianto menjelaskan bahwa outlook industri komponen otomotif pada 2026 menjanjikan. Banyak pemain-pemain otomotif baru yang datang ke Indonesia dan mempersiapkan pabriknya. Sebagian sudah mulai akan beroperasi pada kuartal I/2026. Sebagian lagi kuartal II/2026.
Terdapat pula pemain yang sedang melakukan pengambilalihan fasilitas assembling yang ada di Indonesia.
“Tentunya bagi DRMA ini adalah suatu opportunity dan kami juga sudah melakukan banyak hal untuk menangkap atau meningkatkan penjualan komponen kami kepada pemain-pemain baru ini,” ujar Irianto.
Di sisi lain, ancang-ancang target pendapatan dan laba DRMA pada 2026 akan terdorong oleh aksi korporasi. DRMA memang sedang merampungkan proses akuisisi perusahaan manufaktur komponen plastik kendaraan roda empat PT Mah Sing Indonesia.
Total saham Mah Sing Indonesia yang diakuisisi DRMA mencapai sebesar 82% dengan nilai akuisisinya adalah sekitar Rp41 miliar.
Mah Sing Indonesia sendiri memproduksi komponen-komponen otomotif dari bahan plastik seperti bemper, dashboard, door trim, dan lain-lain.
“Jadi tujuan kami memang untuk menambah portfolio, khususnya di segmen kendaraan roda empat [4W],” ujar Irianto.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
IDXChannel - PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) bakal mengakuisisi saham mayoritas PT Mah Sing Indonesia (MSI). Perseroan akan membeli 4,1 juta saham atau setara 82 persen saham MSI dengan nilai transaksi Rp41 miliar.
Transaksi ini belum final meski tengah dalam proses akhir, yakni finalisasi dokumen dan legal akuisisi. Seluruh proses tersebut ditargetkan selesai pada bulan ini.
Direktur DRMA, Darmawan Widjaja mengatakan, proses transaksi atas MSI akan dilakukan paling cepat setelah pengumuman alias 26 November 2025. Dia memastikan transaksi ini bukan transaksi yang bersifat afiliasi.
"Tidak ada hubungan afiliasi antar perusahaan maupun dengan pengurus di masing-masing perusahaan," katanya dalam surat kepada BEI, Senin (3/11/2025).
DRMA bakal mengakuisisi saham MSI masing-masing 65 persen dari Vital Routes Sdn Bhd dan 17 persen dari PT Kingsanindo Perkasa Indah (KPI). Setelah akuisisi, KPI masih memiliki 18 persen saham, sedangkan 82 persen sisanya dimiliki DRMA.
Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso sebelumya mengungkapkan rencana perseroan mengakuisisi MSI setelah perusahaan tersebut mengumumkan di media massa. Irianto menjelaskan, akusisi ini dilakukan dalam rangka pengembangan dan ekspansi, terutama untuk menambah portofolio perseroan di bidang komponen plastik untuk kendaraan roda empat.
Irianto mengungkapkan, saat ini syarat dan ketentuan dari dokumen akuisisi masih didalami serta dinegosiasi oleh direksi perseroan. Dia memastikan seluruh proses ini dilakukan untuk kepentingan perusahaan.
MSI memiliki pabrik di Kawasan Industri Jababeka, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dalam pengumuman yang dilakukan oleh MSI, DRMA bakal mengambil alih saham PTMSI milik Vital Routes Sdn. Bhd dan PT Kingsanindo Perkasa Indah.
Menjelang akhir 2025, sejumlah emiten Indonesia seperti DRMA, INET dan RAJA aktif dalam akuisisi strategis untuk memperkuat bisnis dan diversifikasi portofolio. [1,805] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Aksi korporasi berupa akuisisi kembali mewarnai pasar modal Indonesia menjelang akhir 2025. Sejumlah emiten lintas sektor mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat struktur usaha dan memperluas portofolio bisnisnya.
Langkah paling anyar datang dari PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA), emiten komponen otomotif milik konglomerat TP Rachmat. Perseroan tengah dalam tahap finalisasi akuisisi perusahaan manufaktur komponen plastik kendaraan roda empat, PT Mah Sing Indonesia.
Dalam keterbukaan informasi, Corporate Secretary DRMA Ari Indra Gautama menjelaskan proses legal dan dokumentasi akuisisi masih dalam tahap negosiasi. Nilai transaksi disebut berada di bawah ambang batas transaksi material.
“Dampak dari akuisisi nantinya adalah peningkatan pendapatan serta penambahan portofolio produk khususnya pada komponen plastik untuk kendaraan roda empat [4W],” tulis Ari dalam keterbukaan informasi, Senin (27/10/2025).
DRMA akan mengambil sekitar 82% saham PT Mah Sing Indonesia dari Vital Routes Sdn. Bhd. dan PT Kingsanindo Perkasa Indah.
Sepanjang Januari—September 2025, DRMA mengantongi penjualan Rp4,39 triliun atau tumbuh 9,2% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Lebih terperinci, penjualan dari segmen roda dua tercatat sebesar Rp2,72 triliun dan masih menjadi kontributor utama pendapatan dengan porsi sebesar 62%.
Adapun, segmen roda empat (4W) menyumbang penjualan sebesar Rp988,18 miliar, disusul segmen lainnya sebesar Rp680,63 miliar. DRMA juga mencatat penjualan ekspor sebesar Rp18,37 miliar sepanjang 9 bulan 2025.
Pada saat yang sama, laba bersih DRMA tercatat naik tipis 1,69% YoY menjadi sebesar Rp428,11 miliar.
Irianto Santoso, Presiden Direktur Dharma Polimetal, menyampaikan capaian pertumbuhan perseroan lebih tinggi dari laju pertumbuhan industri secara nasional, di mana data Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) menunjukkan bahwa penjualan kendaraan bermotor di Indonesia sampai September tahun ini turun 11,28% YoY menjadi 561.819 unit.
“Perseroan meraih kinerja solid di situasi sulit ini berkat strategi diversifikasi produk serta efisiensi di lini manufaktur yang turut memperkuat profitabilitas,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (27/10/2025).
Dalam hal diversifikasi produk, lanjut Irianto, DRMA terus membangun dan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik sebagai rencana strategis dalam diversifikasi produk-produk perseroan. Untuk itu, DRMA telah mengembangkan unit bisnis Dharma Connect (DC) sebagai ekosistem komponen kendaraan listrik kolaboratif yang lengkap.
Selain itu, DRMA juga masuk ke after market dengan mengembangkan produk Aki Lithium 12V, 6Ah. Tidak hanya komponen otomotif, DRMA juga telah mengembangkan Battery Energy Storage System (BESS) sebagai salah satu diversifikasi bisnis Perusahaan.
Pabrik komponen otomotif Dharma Polimetal (DRMA)
Selain DRMA, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) juga mengumumkan rencana akuisisi 53,57% saham PT Personel Alih Daya Tbk. (PADA) dari Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat).
Direktur Utama INET Muhammad Arif menjelaskan, negosiasi dilakukan pada 23 Oktober 2025 dan telah menghasilkan penandatanganan Indikasi Syarat dan Ketentuan Jual Beli.
“Perseroan [INET] akan menjadi pengendali baru perusahaan target,” tulisnya dalam keterbukaan informasi, Senin (27/10/2025).
PADA sendiri baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2022 dengan dana IPO Rp90 miliar. Sebagian besar hasil IPO digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan pengembangan bisnis jasa outsourcing, teknikal, hingga IT.
Masih di Oktober, aksi akuisisi juga datang dari sektor properti. PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) melalui dua anak usahanya, PT Abadi Jaya Sakti (AJS) dan PT Tigamitra Ekamulia (TME), resmi mengakuisisi aset Imperial Aryaduta Hotel & Country Club (IAHCC) dari entitas asal Singapura, First Real Estate Investment Trust (First REIT).
Transaksi senilai Rp332,2 miliar itu melibatkan pembelian seluruh saham PT Karya Sentra Sejahtera (KSS), pemilik IAHCC. Corporate Secretary LPKR Ratih Safitri menyebut transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap keuangan maupun operasional perseroan.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif First REIT Management Limited Victor Tan menilai divestasi ini mencerminkan premi 22,2% dibandingkan biaya investasi awal pada 2006. “Divestasi tersebut merupakan langkah tepat waktu dalam strategi capital recycling yang kami jalankan,” ujarnya dalam keterbukaan di Bursa Singapura (SGX).
Beberapa hari sebelumnya, PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi pemegang saham pengendali PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) setelah membeli 43,78% saham perseroan pada 10 Oktober 2025.
Direktur Utama MCI Noprian Fadli menyebut transaksi melibatkan 1,5 miliar saham dengan total nilai Rp15,9 miliar, dilaksanakan di dua harga berbeda, yakni Rp2,9 dan Rp26 per saham.
“Tujuan dari transaksi adalah rencana akuisisi. Status kepemilikan saham secara langsung,” ujarnya dalam keterbukaan informasi (13/10/2025).
Corporate Secretary PIPA Imanuel Kevin Mayola menjelaskan, MCI juga berkomitmen menginjeksi aset senilai Rp3 triliun untuk memperkuat ekspansi ke sektor utilitas dan infrastruktur, termasuk pengembangan pipa berteknologi tinggi seperti HDPE.
“Akuisisi ini menjadi babak baru bagi PIPA. Didukung oleh injeksi aset triliunan rupiah dan jalinan kerja sama internasional, PIPA di bawah kendali Morris Capital siap bertransformasi,” ujar Imanuel.
Sebelumnya, di penghujung September, PT Astra International Tbk. (ASII) juga merampungkan transaksi besar. Melalui entitas usahanya PT Saka Industrial Arjaya, Astra resmi menjadi pengendali PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP) setelah menuntaskan akuisisi senilai Rp3,34 triliun pada 30 September 2025.
Sekretaris Perusahaan Astra Gita Tiffani Boer menyampaikan, akuisisi itu melibatkan pembelian 83,67% saham MMLP dari PT Suwarna Arta Mandiri, Bridge Leed Limited, dan beberapa pemegang saham minoritas.
“Dengan demikian, pada 30 September 2025, PT Saka Industrial Arjaya telah menjadi pengendali baru MMLP,” tulis Gita.
Transaksi jumbo ini juga tercatat di pasar negosiasi BEI dengan total 5,76 miliar saham berpindah tangan. Astra menegaskan bakal melaksanakan penawaran tender wajib sesuai dengan POJK No. 9/2018.
Di sektor energi, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) mencuri perhatian dengan rangkaian akuisisi strategis sepanjang paruh kedua 2025. Setelah menuntaskan akuisisi Grup Hafar pada Agustus, RAJA melalui anak usahanya menandatangani perjanjian pengikatan jual beli saham bersyarat untuk mengakuisisi perusahaan perdagangan gas di Banten.
Perseroan juga sedang menjalani due diligence untuk dua perusahaan pelayaran dengan aset berupa dua kapal LNGC dan satu VLGC. Selain itu, RAJA bersama mitranya tengah melakukan studi kelayakan pembangunan terminal LNG di Banten dan menyiapkan pembangunan fasilitas LNG plant di Kalimantan.
Tak hanya di energi fosil, RAJA juga menjajaki akuisisi pembangkit energi baru terbarukan seperti tenaga air dan biomassa, serta sistem penyediaan air minum di Jabodetabek.
Presiden Direktur RAJA Djauhar Maulidi menyebut langkah akuisisi ini sejalan dengan roadmap bisnis 2025. “Langkah akuisisi ini sejalan dengan roadmap bisnis kami tahun 2025, sekaligus memperluas portofolio di segmen midstream dan offshore untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya (15/8/2025).
RAJA sebelumnya juga menjalin kemitraan strategis dengan PT Petrosea Tbk. (PTRO), afiliasi Grup Barito, dalam mengakuisisi Grup Hafar — penyedia jasa EPCI dan pelayaran migas lepas pantai yang telah beroperasi lebih dari 18 tahun.
Akuisisi 53,57% saham dari Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat). INET akan jadi pengendali baru.
Lippo Karawaci (LPKR)
Imperial Aryaduta Hotel & Country Club (IAHCC) via PT Karya Sentra Sejahtera
Rp332,2 miliar
Oktober 2025
Selesai (transaksi resmi)
Akuisisi dilakukan melalui PT Abadi Jaya Sakti & PT Tigamitra Ekamulia dari First REIT (Singapura).
Morris Capital Indonesia (MCI)
PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA)
Rp15,9 miliar
10 Oktober 2025
Selesai
Akuisisi 43,78% saham. Akan menginjeksi aset Rp3 triliun untuk ekspansi ke sektor utilitas & infrastruktur.
Astra International (ASII)
PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP)
Rp3,34 triliun
30 September 2025
Selesai
Akuisisi 83,67% saham melalui PT Saka Industrial Arjaya. Astra menjadi pengendali baru.
Rukun Raharja (RAJA)
Grup Hafar & perusahaan perdagangan gas di Banten; dua perusahaan pelayaran LNGC & VLGC
-
Agustus–Oktober 2025
Berjalan (due diligence & studi kelayakan)
Fokus ekspansi ke segmen midstream, offshore, dan energi baru terbarukan (air, biomassa, LNG).
Prospek Kinerja
Serangkaian aksi korporasi tersebut diperkirakan bakal menjadi katalis bagi pertumbuhan laba RAJA tahun ini. Analis memperkirakan laba bersih perseroan dapat tumbuh dua digit, ditopang oleh akuisisi strategis dan kemitraan jangka panjang.
Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas, Irsyady Hanief, menilai pendapatan RAJA yang tumbuh 3,3% year on year (YoY) dan pertumbuhan laba kotor 4,8% YoY sepanjang semester I/2025 menunjukkan margin yang tetap solid di tengah tekanan pasar.
Menurutnya, ekspansi strategis RAJA lewat akuisisi 49% saham PT Hafar Daya Konstruksi (HDK) dan PT Hafar Daya Samudera (HDS) akan memperkuat posisi perseroan di infrastruktur energi midstream, khususnya di sektor EPCI lepas pantai.
“RAJA memperdalam kolaborasi dengan PTRO melalui akuisisi bersama Hafar Group, memperluas jangkauan ke sektor logistik lepas pantai dan layanan EPCI. Kemitraan ini memberi RAJA akses ke keahlian teknis, modal, serta peluang proyek baru sekaligus memperkuat kredibilitas di pasar energi dan logistik kelautan,” ujar Irsyady dalam risetnya, dikutip Selasa (7/10/2025).
Selain akuisisi, pendorong lain pertumbuhan RAJA berasal dari portofolio bisnis berbasis kontrak jangka panjang berdurasi 10–30 tahun, yang menjadi sumber pendapatan stabil.
Beberapa di antaranya meliputi kerja sama dengan PetroChina di Blok Jabung (kontrak 20 tahun, sisa 19 tahun), Pertagas untuk pipa minyak (20 tahun, sisa 17 tahun), ExxonMobil di Blok Cepu (30 tahun, sisa 11 tahun), serta Sinarmas Group untuk pasokan gas (10 tahun).
“Kontrak-kontrak ini memastikan arus kas yang stabil dan mengurangi eksposur RAJA terhadap volatilitas harga energi,” lanjutnya.
Tak hanya fokus pada energi konvensional, RAJA juga mulai berinvestasi di sektor energi bersih seperti pabrik blue ammonia, fasilitas regasifikasi LNG, serta pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit 70 gigawatt (GW), dengan 72% berasal dari EBT. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan investasi sekitar Rp2.800 triliun—di mana sektor swasta diharapkan berperan besar dalam pembangkitan listrik, sementara PLN fokus di transmisi dan distribusi.
“Langkah ini bukan hanya membuka peluang pertumbuhan baru, tetapi juga menjadi lindung nilai terhadap penurunan ketergantungan pada bahan bakar fosil,” tulis riset tersebut.
Henan Putihrai Sekuritas memperkirakan laba bersih RAJA tahun ini dapat menembus US$35 juta, naik 20,27% YoY dari US$29,1 juta pada 2024. Tahun depan, laba bersih diperkirakan meningkat 13,42% menjadi US$39,7 juta.
Pertumbuhan itu sejalan dengan proyeksi kenaikan pendapatan, dari US$254,5 juta pada 2024 menjadi US$265,5 juta pada 2025, dan naik tipis ke US$267,4 juta pada 2026.
Sepanjang semester I/2025, RAJA mencatat pendapatan US$127,63 juta, naik 3,33% YoY dari US$123,51 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kontributor utama berasal dari penjualan gas sebesar US$70,2 juta, lifting migas US$25,15 juta, dan jasa penyaluran minyak US$16,98 juta.
Pada saat yang sama, RAJA mencatat beban pokok pendapatan sebesar US$89,97 juta, beban umum dan administrasi US$11,18 juta, beban keuangan US$4,73 juta, serta beban pajak penghasilan bersih US$8,69 juta.
Laba bersih RAJA pada semester I/2025 tercatat US$11,35 juta, turun 20,57% YoY dibandingkan US$14,29 juta pada periode yang sama tahun lalu.
__________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
DRMA akuisisi 82% saham Mah Sing Indonesia untuk tambah portofolio komponen plastik 4W, tingkatkan pendapatan. Proses finalisasi akuisisi sedang berlangsung. [295] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten komponen otomotif besutan konglomerat TP Rachmat, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) akan mengakuisisi perusahaan manufaktur komponen plastik kendaraan roda empat PT Mah Sing Indonesia.
Berdasarkan keterbukaan informasi, DRMA saat ini sedang dalam proses finalisasi dokumentasi dan proses legal akuisisi terhadap Mah Sing Indonesia. Syarat dan ketentuan dari dokumentasi akuisisi masih dalam tahap negosiasi dan pendalaman oleh Direksi DRMA.
Proses ini dilakukan sesuai dengan kepentingan DRMA serta seluruh pemangku kepentingan. Nilai yang diusulkan untuk akuisisi ini berada di bawah ambang batas threshold transaksi material.
"Dampak dari akuisisi nantinya adalah peningkatan pendapatan serta penambahan portofolio produk khususnya pada komponen plastik untuk kendaraan roda empat [4W]," tulis Corporate Secretary DRMA Ari Indra Gautama dalam keterbukaan informasi pada Senin (27/10/2025).
Adapun, DRMA akan mengambil sekitar 82% saham PT Mah Sing Indonesia yang sebelumnya dimiliki oleh Vital Routes Sdn. Bhd. dan PT Kingsanindo Perkasa Indah.
Berdasarkan laporan keuangan, DRMA meraup laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp419,87 miliar per kuartal III/2025, naik 1,89% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp412,07 miliar.
DRMA juga telah mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,2% yoy menjadi Rp4,39 triliun pada sembilan bulan 2025, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp4,02 triliun.
Pendapatan DRMA terbesar berasal dari segmen roda dua mencapai Rp2,72 triliun per kuartal III/2025, naik 13,54% yoy. Sementara, pendapatan dari segmen roda empat turun 7,34% yoy menjadi Rp988,17 miliar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA — A wave of acquisitions is hitting the market toward the end of 2025 as companies across multiple sectors move to expand.
The latest announcement came from TP Rachmat’s automotive component manufacturer PT Dharma Polimetal (DRMA), which is now in the final stages of acquiring PT Mah Sing Indonesia, a manufacturer of plastic components for four-wheeled vehicles.