PT Dharma Polimetal (DRMA) akan membagikan dividen Rp70 per saham untuk tahun buku 2025, meningkat dari Rp43 per saham di 2024, mencerminkan 50% dari laba bersih. [413] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten komponen otomotif besutan konglomerat TP Rachmat, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) memutuskan untuk membagikan dividen tahun buku 2025 senilai Rp70 per saham. Keputusan itu diambil setelah melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jumat (17/4/2026).
Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso, menerangkan dividen yang bakal dibagikan DRMA kepada pemegang saham mencerminkan sekitar 50% dari total keuntungan perseroan sepanjang tahun lalu.
”Sehingga dividen per saham adalah Rp70 per lembar saham. Tentunya ada peningkatan karena tahun 2024 kita membagikan Rp43 per lembar saham,” katanya dalam Konferensi Pers DRMA, Jumat (17/4/2026).
Realisasi pembagian dividen ini menjadi yang tertinggi selama lima tahun terakhir. Pada tahun buku 2024, DRMA membagikan dividen senilai Rp202 miliar atau sekitar 43 per saham. Sementara pada tahun buku 2023, DRMA membagikan dividen senilai Rp36,4 per saham.
Sebelumnya, DRMA juga membagikan dividen tunai tahun buku 2022 senilai Rp98,54 miliar. Keputusan ini didasari oleh kesepakatan pemegang saham dalam RUPS tahunan 6 April 2023.
Pada tahun buku tersebut, dividen tunai per saham yang disepakati senilai Rp20,94 per saham dengan dividend payout ratio sebesar 25%. Adapun dasar pembagian dividen saat itu adalah laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp394,16 miliar.
Sementara pada tahun buku 2021, DRMA juga menetapkan pembagian dividen tunai sebanyak Rp120 miliar atau sekitar 40% dari laba bersih tahun 2021 sebesar Rp301 miliar.
”Profit kita tahun lalu sebesar Rp652 miliar dan kita akan membagikan dividen totalnya sebesar 50% dari keuntungan kita pada tahun lalu [2025],” tegas Irianto.
Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada Desember 2025, laba bersih DRMA naik 12,6% menjadi Rp652,6 miliar dibandingkan dengan pencapaian laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sepanjang 2024 senilai Rp579,3 miliar.
Dengan kata lain, dividen total DRMA pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp326,3 miliar.
Sejalan dengan pertumbuhan laba bersih, penjualan bersih DRMA naik 7,8% dari Rp5,507 triliun pada 2024 dibandingkan dengan pada Rp5,93 triliun.
Beban pokok penjualan juga tercatat naik 6,6% secara tahunan dari Rp4,504 triliun pada 2024 menjadi Rp4,86 triliun pada 2025.
Dari sisi aset, DRMA mencatat total aset Rp4,2 triliun pada 2025 dibandingkan dengan pada 2024 senilai Rp3,8 triliun. Total liabilitas dan ekuitas menjadi Rp4,28 triliun pada 2025 dibandingkan dengan pada 2024 Rp3,84 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) mencatat laba bersih Rp652,6 miliar pada 2025, naik 12,6% dari 2024, meski penjualan mobil turun 7,2% YoY. [252] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten komponen otomotif besutan konglomerat TP Rachmat, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 12,6% secara tahunan senilai Rp652,6 miliar pada 2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada Desember 2025, laba bersih DRMA naik 12,6% dibandingkan dengan pencapaian laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sepanjang 2024 senilai Rp579,3 miliar.
Sejalan dengan pertumbuhan laba bersih, penjualan bersih DRMA naik 7,8% dari Rp5,507 triliun pada 2024 dibandingkan dengan pada Rp5,93 triliun.
Beban pokok penjualan juga tercatat naik 6,6% secara tahunan dari Rp4,504 triliun pada 2024 menjadi Rp4,86 triliun pada 2025.
Dari sisi aset, DRMA mencatat total aset Rp4,2 triliun pada 2025 dibandingkan dengan pada 2024 senilai Rp3,8 triliun. Total liabilitas dan ekuitas menjadi Rp4,28 triliun pada 2025 dibandingkan dengan pada 2024 Rp3,84 triliun.
Sebelumnya, Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso mengatakan tantangan utama sepanjang 2025 berasal dari penurunan penjualan kendaraan roda empat yang cukup signifikan, sejalan dengan pelemahan pasar otomotif nasional dan dinamika makroekonomi global.
Kondisi tersebut memberikan tekanan terhadap permintaan komponen otomotif, khususnya pada segmen kendaraan konvensional roda empat. Strategi utama kami adalah dengan memperluas pangsa pasar.
Pada 2026, DRMA menetapkan target pendapatan minimal Rp6,5 triliun, meningkat dibanding target pendapatan tahun 2025 sebesar Rp6 triliun.
Data Gaikindo mencatat, penjualan mobil wholesales pada periode Januari-Desember 2025 tembus 803.687 unit. Capaian itu mengalami penurunan 7,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar 865.723 unit.
IDXChannel - Direktur PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), Yosaphat Panuturi Simanjuntak mengajukan pengunduran diri sebagai direktur perseroan. Dia mundur setelah 36 tahun bekerja di Dharma Polimetal.
Dalam suratnya, Yosaphat menilai keputusannya untuk mundur dari perusahaan komponen otomotif milik taipan TP Rachmat itu telah dipertimbangkan baik secara pribadi maupun profesional.
"Saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan, kepercayaan, dan kerja sama yang telah diberikan selama saya menjabat di perusahaan ini," katanya, Rabu (11/3/2026).
Yosaphat menjabat sebagai Direktur Dharma Polimetal sejak 2006 yang diperbaharui pengangkatannya dalam Akta No.199/2021. Dengan demikian, dia telah menduduki posisi itu selama 20 tahun.
Yosaphat lulus D3 jurusan Teknik Mesin dari Akademi Teknik Mesin Indonesia St. Mikael, Surakarta pada 1986. Selain menjabat sebagai Direktur Dharma Polimetal, dia juga merangkap jabatan sebagai Direktur Utama PT Dharma Precision Tools dan Direktur Utama PT Saikono Otoparts Indonesia.
Yosaphat bergabung bersama Dharma Polimetal sejak 1990 sebagai engineer. Kariernya terus meroket hingga dipercaya sebagai supervisor, manajer, hingga akhirnya direktur perseroan. Sebelum bergabung di Dharma Polimetal, dia pernah bekerja di PT Mega Eltra.
Saat ini, Yosaphat tercatat memiliki sebanyak 60,80 juta saham DRMA atau setara 1,29 persen dari total saham yang beredar. Dengan harga saham DRMA saat ini di level Rp970, kepemilikannya bernilai Rp59 miliar.
Dharma Polimetal (DRMA) kembangkan fast charging station lokal untuk dukung kebijakan pemerintah dan tingkatkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. [290] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Emiten komponen otomotif Grup Triputra, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) mengembangkan infrastruktur fast charging station untuk kendaraan listrik dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi.
President Direktur Dharma Polimetal Irianto Santoso mengatakan langkah ini merupakan wujud dari dukungan kami terhadap kebijakan pemerintah untuk mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik serta mengurangi ketergantungan pada impor.
“Peluang pertumbuhan ini akan didorong oleh stabilitas di segmen roda dua dan roda empat, serta kontribusi dari lini bisnis kendaraan listrik (EV) dan sektor non-otomotif yang kian ekspansif,” ujar Irianto dalam keterangan resmi, dikutip Senin (16/2/2026).
Saat ini, lanjutnya, pengembangan fast charging stationkendaraan listrik dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi merupakan bagian dari strategi DRMA untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional. Diharapkan, hadirnya fast charging station lokal ini dapat meningkatkan aksesibilitas, efisiensi waktu pengisian daya, serta kenyamanan pengguna kendaraan listrik roda dua.
Terkait pengembangan infrastruktur fast charging station lokal tersebut, DRMA menghadirkan Battery Energy Storage System yang terintegrasi dengan charging station buatan perseroan di ajang IIMS (Indonesia International Motor Show) 2026.
Di sisi lain, DRMA juga terus mengeluarkan inisiatif untuk mendorong percepatan konversi kendaraan roda dua dari mesin pembakaran internal (ICE) ke kendaraan listrik (EV) yang sesuai dengan karakteristik pasar otomotif Indonesia.
Dalam hal ini, DRMA menyediakan layanan konversi kendaraan roda dua ICE menjadi EV sebagai salah satu segmen dalam ekosistem terintegrasi Dharma Connect, DC Cross.
Inisiatif-inisiatif DRMA tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dalam menurunkan emisi karbon, mempercepat adopsi kendaraan listrik, serta membangun ekosistem EV yang berkelanjutan di Indonesia.
Irianto optimistis DRMA berada dalam posisi yang sangat kuat untuk merealisasikan peluang pertumbuhan pada 2025 dan tahun ini. Dengan tren positif yang ada, perseroan tetap yakin bahwa target penjualan sebesar Rp6 triliun pada 2025 akan berhasil dicapai sepenuhnya.
DRMA menilai bahwa peluang bisnisnya pada 2025 masih cukup baik, karena itu perusahaan berani memasang target penjualan sekitar Rp6 triliun. [327] url asal
IDXChannel - PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) menargetkan penjualan sekitar Rp6 triliun pada 2025, seiring upaya Perseroan memperkuat struktur pendapatan melalui ekspansi ke ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan diversifikasi bisnis di luar otomotif. Target ini disampaikan bersamaan dengan partisipasi DRMA dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026.
DRMA menilai bahwa peluang bisnisnya pada 2025 masih cukup baik, karena itu perusahaan berani memasang target penjualan sekitar Rp6 triliun. Pada pameran tersebut, DRMA menampilkan inovasi Battery Lithium 12V yang dikembangkan melalui unit bisnis Dharma Connect.
Manajemen menilai keikutsertaan di IIMS 2026 tidak hanya bersifat eksposur produk, tetapi juga menjadi bagian dari strategi bisnis untuk memperluas potensi kerja sama dan memperkuat posisi Perseroan dalam rantai pasok EV nasional.
Presiden Direktur PT Dharma Polimetal Tbk, Irianto Santoso, menyatakan bahwa pameran ini menjadi momentum bagi DRMA untuk menunjukkan arah pengembangan bisnis yang lebih berorientasi pada elektrifikasi dan energi terbarukan.
“Keikutsertaan DRMA pada IIMS 2026 merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan inovasi Perseroan sekaligus memperluas potensi kolaborasi dengan pelaku industri otomotif. Hal ini sejalan dengan strategi kami menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Irianto, dalam siaran pers yang diterima pada Minggu (8/2/2026).
Dari sisi keuangan, target penjualan Rp6 triliun ditopang oleh kinerja yang relatif stabil pada segmen komponen roda dua dan roda empat, yang masih menjadi kontributor utama pendapatan Perseroan. Namun, manajemen mengakui bahwa kontribusi dari bisnis kendaraan listrik dan segmen non-otomotif mulai meningkat dan diharapkan semakin signifikan ke depan.
Sebagai bagian dari diversifikasi, DRMA mengembangkan Battery Energy Storage System (BESS) serta solusi baterai untuk kendaraan listrik. Langkah ini bertujuan memperluas sumber pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu lini bisnis di tengah volatilitas industri otomotif.
Irianto menekankan bahwa ketahanan kinerja Perseroan sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi terhadap perubahan industri.
“Ketahanan kinerja DRMA merupakan hasil dari langkah adaptif Perseroan dalam merespons perubahan industri. Dengan strategi diversifikasi dan inovasi yang konsisten, kami optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan jangka panjang dan terus menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutupnya.
PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) telah menyelesaikan akuisisi atas 82 persen saham dalam PT Mah Sing Indonesia. Total nilai pengambilalihan sebesar Rp41 miliar. [223] url asal
IDXChannel - PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) telah menyelesaikan akuisisi atas 82 persen saham dalam PT Mah Sing Indonesia. Total nilai pengambilalihan sebesar Rp41 miliar.
"Pada 28 November 2025, perseroan telah menyelesaikan akuisisi atas 82 persen saham-saham dalam PT Mah Sing Indonesia, dengan total nilai pengambilalihan sebesar Rp41 miliar," ujar Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat (28/11/2025).
Transaksi tersebut dilakukan melalui pengambilalihan saham dari para penjual yakni Vital Routes Sdn Bhd selaku pemegang 3.250.000 saham atau setara dengan 65 persen dari seluruh saham ditempatkan dan disetor saham dari PT Mah Sing Indonesia.
Kemudian, PT Kingsanindo Perkasa Indah selaku pemegang 850 ribu saham atau setara dengan 17 persen saham dari seluruh saham ditempatkan dan disetor PT Mah Sing Indonesia.
Irianto menyampaikan, akuisisi ini dilakukan dalam rangka pengembangan dan ekspansi kegiatan usaha perseroan, antara lain untuk peningkatan pendapatan serta penambahan portofolio produk, khususnya pada komponen plastik untuk kendaraan roda empat.
Lebih lanjut, dia menegaskan, nilai akuisisi ini berada di bawah ambang batas (threshold) transaksi material sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha, yaitu di bawah 20 persen dari ekuitas perseroan.
"Kejadian, informasi dan fakta material tersebut di atas tidak berdampak negatif material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan," katanya.
IDXChannel - PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) tetap membidik pertumbuhan kinerja pada tahun depan di tengah industri otomotif yang menantang.
Perusahaan komponen otomotif milik Triputra Group tersebut menargetkan penjualan pada 2025 bisa mencapai Rp6 triliun, tumbuh sekitar 10 persen dari 2024 yang sebesar Rp5,5 triliun. Per kuartal III-2025, penjualan DRMA sebesar Rp4,4 triliun.
"Untuk tahun depan, kami memperkirakan target penjualan sekitar Rp6,5 triliun," kata Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso dikutip Selasa (25/11/2025).
"Saat ini, penyusunan target (kinerja ) masih dalam proses dan terus disesuaikan dengan peluang-peluang yang ada," katanya.
Irianto mengatakan, perseroan juga membidik laba dengan margin di atas 10 persen. Hingga kuartal III-2025, Net Profit Margin (NPM) DRMA berada di kisaran 11 persen, dengan Gross Profit Margin (GPM) sekitar 19 persen.
Laba bersih DRMA hingga kuartal III mencapai Rp420 miliar. Kinerja bottom line perseroan hingga akhir 2025 ditargetkan bisa menyentuh Rp600 miliar, tumbuh 3,6 persen dibandingkan realisasi laba 2024 yang sebesar Rp579 miliar.
Untuk mendukung pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan, DRMA juga akan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure atau capex) di kisaran Rp300-Rp400 miliar. Sumber pendanaannya tergantung kebutuhan.
"Dengan proyeksi laba tahun ini yang berpotensi mencapai lebih dari Rp600 miliar, pendanaan internal sebenarnya sudah mencukupi," kata Irianto.
"Namun demikian, kami tetap mempertimbangkan untuk memanfaatkan sebagian dukungan pendanaan dari mitra perbankan," ujarnya.
Pertumbuhan DRMA tetap akan mengandalkan strategi organik dan anorganik. Baru-baru ini, perseroan juga mengumumkan rencana untuk mengakuisisi PT Mah Sing Indonesia dengan nilai transaksi Rp41 miliar.
Irianto mengatakan, tujuan DRMA mengambil alih saham mayoritas Mah Sing Indonesia karena perusahaan itu memproduksi komponen-kompnen otomotif dari bahan plastik seperti bemper, dashboard, door trim, dan lain-lain.
"Jadi tujuan kita memang untuk menambah portofolio, khususnya di segmen kendaraan roda empat," ujarnya.
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten komponen otomotif besutan konglomerat TP Rachmat, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) menargetkan untuk meraup pendapatan sebesar Rp6,5 triliun pada 2026.
President Direktur Dharma Polimetal, Irianto Santoso mengatakan perseroan berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerja setiap tahunnya. Adapun, pada 2025, DRMA telah menargetkan untuk meraup pendapatan sebesar Rp6 triliun.
Sementara itu, sampai sembilan bulan 2025, DRMA telah mampu meraup pendapatan sebesar Rp4,39 triliun, bertumbuh 9,2% secara tahunan (year on year/YoY), dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp4,02 triliun.
“Jika proyeksi pendapatan tahun 2025 berada di kisaran Rp6 triliun, maka untuk tahun berikutnya kami memperkirakan target penjualan sekitar Rp6,5 triliun,” kata Irianto dalam laporan hasil public expose pada Senin (24/11/2025).
Meski begitu, menurutnya penyusunan target masih dalam proses dan terus disesuaikan dengan peluang-peluang yang ada.
“Sementara itu, untuk laba, kami akan berupaya mempertahankan tingkat profitabilitas di atas 10%,” ujar Irianto.
DRMA sendiri telah meraup laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp419,87 miliar per kuartal III/2025, naik 1,89% YoY dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp412,07 miliar.
Irianto menjelaskan bahwa outlook industri komponen otomotif pada 2026 menjanjikan. Banyak pemain-pemain otomotif baru yang datang ke Indonesia dan mempersiapkan pabriknya. Sebagian sudah mulai akan beroperasi pada kuartal I/2026. Sebagian lagi kuartal II/2026.
Terdapat pula pemain yang sedang melakukan pengambilalihan fasilitas assembling yang ada di Indonesia.
“Tentunya bagi DRMA ini adalah suatu opportunity dan kami juga sudah melakukan banyak hal untuk menangkap atau meningkatkan penjualan komponen kami kepada pemain-pemain baru ini,” ujar Irianto.
Di sisi lain, ancang-ancang target pendapatan dan laba DRMA pada 2026 akan terdorong oleh aksi korporasi. DRMA memang sedang merampungkan proses akuisisi perusahaan manufaktur komponen plastik kendaraan roda empat PT Mah Sing Indonesia.
Total saham Mah Sing Indonesia yang diakuisisi DRMA mencapai sebesar 82% dengan nilai akuisisinya adalah sekitar Rp41 miliar.
Mah Sing Indonesia sendiri memproduksi komponen-komponen otomotif dari bahan plastik seperti bemper, dashboard, door trim, dan lain-lain.
“Jadi tujuan kami memang untuk menambah portfolio, khususnya di segmen kendaraan roda empat [4W],” ujar Irianto.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
IDXChannel- PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) optimistis target penjualan sebesar Rp6 triliun dapat tercapai di akhir 2025.
Adapun pada periode Januari-September 2025, penjualan DRMA tercatat tumbuh 9,20 persen Year on Year (YoY) menjadi Rp4,39 triliun. Sementara laba bersih meningkat 1,69 persen YoY menjadi Rp428,11 miliar.
Segmen roda dua (2W) yang mencatatkan penjualan sebesar Rp2,72 triliun, merupakan kontributor utama pendapatan Perseroan.
Segmen 2W ini menyumbang 62 persen dari total penjualan konsolidasi DRMA, didukung oleh inovasi-inovasi yang dilakukan perseroan untuk meningkatkan pangsa pasar yang turut mendorong pertumbuhan kinerja secara keseluruhan.
President Direktur Dharma Polimetal, Irianto Santoso mengatakan keberhasilan meraih pertumbuhan penjualan dalam situasi industri yang sedang penuh tantangan ini merupakan buah dari strategi pertumbuhan bisnis berkelanjutan Perseroan yang terus mengedepankan inovasi.
"Dalam hal strategi inovasi, sepanjang 2025 Perseroan terus menjalankan pertumbuhan organik secara konsisten dengan melakukan diversifikasi bisnis usaha dan produk serta efisiensi prosesproduksi," katanya saat konferensi pers Kamis (20/11/2025).
Dalam rangka diversifikasi tersebut, DRMA terus memperkuat ekosistem kendaraan listrik melalui unit Dharma Connect (DC) dan meluncurkan produk baru seperti Aki Lithium 12V 6Ah, 12V 3,5Ah, serta Battery Energy Storage System (BESS).
Sementara untuk efisiensi manufaktur, DRMA telah menerapkan otomatisasipada fasilitas produksi. Selain meningkatkan efisiensi, otomatisasi ini juga meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan rantai pasok sehingga stabilitas usaha bisa terjaga.
Implementasi dari strategi tersebut menjadikan kinerja DRMA tumbuh positif tahun ini. Ke depan, Perseroan berencana mengombinasikan strategi pertumbuhan organik dan anorganik untuk memperkuat kinerja jangka panjang. Salah satu inisiatif anorganik yang tengah disiapkan adalah rencana akuisisi PT Mah Sing Indonesia(MSI), perusahaan manufaktur plastik.
“Saat ini kami berada pada tahap awal penyelesaian dokumen dan proses hukumterkait akuisisi PT MSI,” ujar dia.
PT MSI merupakan anak perusahaan dari Mah Sing Group Berhad, sebuah kelompok usaha konglomerasi asal Malaysia yang memiliki portofolio bisnis luas meliputi sektor properti, industri plastik, dan manufaktur. Jika terlaksana, langkah strategis berbentuk akuisisi ini tentunya akan memperkuat posisi DRMA di industri manufaktur komponen plastik untuk kendaraan roda empat (4W).
“Akuisisi ini juga sejalan dengan strategi inovasi perusahaan dalam meningkatkan diversifikasi dan ekspansi bisnis,” kata Irianto.
IDXChannel - PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) bakal mengakuisisi saham mayoritas PT Mah Sing Indonesia (MSI). Perseroan akan membeli 4,1 juta saham atau setara 82 persen saham MSI dengan nilai transaksi Rp41 miliar.
Transaksi ini belum final meski tengah dalam proses akhir, yakni finalisasi dokumen dan legal akuisisi. Seluruh proses tersebut ditargetkan selesai pada bulan ini.
Direktur DRMA, Darmawan Widjaja mengatakan, proses transaksi atas MSI akan dilakukan paling cepat setelah pengumuman alias 26 November 2025. Dia memastikan transaksi ini bukan transaksi yang bersifat afiliasi.
"Tidak ada hubungan afiliasi antar perusahaan maupun dengan pengurus di masing-masing perusahaan," katanya dalam surat kepada BEI, Senin (3/11/2025).
DRMA bakal mengakuisisi saham MSI masing-masing 65 persen dari Vital Routes Sdn Bhd dan 17 persen dari PT Kingsanindo Perkasa Indah (KPI). Setelah akuisisi, KPI masih memiliki 18 persen saham, sedangkan 82 persen sisanya dimiliki DRMA.
Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso sebelumya mengungkapkan rencana perseroan mengakuisisi MSI setelah perusahaan tersebut mengumumkan di media massa. Irianto menjelaskan, akusisi ini dilakukan dalam rangka pengembangan dan ekspansi, terutama untuk menambah portofolio perseroan di bidang komponen plastik untuk kendaraan roda empat.
Irianto mengungkapkan, saat ini syarat dan ketentuan dari dokumen akuisisi masih didalami serta dinegosiasi oleh direksi perseroan. Dia memastikan seluruh proses ini dilakukan untuk kepentingan perusahaan.
MSI memiliki pabrik di Kawasan Industri Jababeka, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dalam pengumuman yang dilakukan oleh MSI, DRMA bakal mengambil alih saham PTMSI milik Vital Routes Sdn. Bhd dan PT Kingsanindo Perkasa Indah.
IDXChannel - Emiten manufaktur komponen otomotif, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) mencatat penjualan sebesar Rp4,39 triliun hingga kuartal III-2025.
Realisasi itu tumbuh 9,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Laba bersih juga meningkat 1,69 persen YoY menjadi Rp428,11 miliar.
Manajemen DRMA menuturkan, pertumbuhan perseroan melampaui tren industri otomotif nasional yang sedang melemah.
"Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan kendaraan di Indonesia hingga September 2025 tercatat turun 11,28 persen menjadi 561.819 unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso di Jakarta, Senin (27/10/2025).
Kinerja DRMA didukung kontribusi dari berbagai segmen bisnis. Penjualan segmen roda dua (2W) menjadi penyumbang utama dengan nilai Rp2,72 triliun atau setara 62 persen dari total pendapatan konsolidasi.
Segmen roda empat (4W) mencatat penjualan Rp988,18 miliar, dan segmen lainnya mencapai Rp680,63 miliar. Untuk ekspor, penjualan tercatat sebesar Rp18,37 miliar.
Irianto menuturkan, capaian tersebut merupakan hasil dari strategi diversifikasi produk dan efisiensi di lini manufaktur.
"Keberhasilan Perseroan meraih kinerja solid di situasi sulit ini terjadi berkat strategi diversifikasi produk serta efisiensi di lini manufaktur yang turut memperkuat profitabilitas," ujar dia.
Irianto menjelaskan, efisiensi produksi dilakukan melalui penerapan teknologi otomatisasi di sejumlah fasilitas manufaktur yang meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.
"Pengendalian rantai pasok yang lebih baik juga dapat membantu menjaga stabilitas bisnis saat industri otomotif mengalami tekanan," katanya.
Menjelang akhir 2025, sejumlah emiten Indonesia seperti DRMA, INET dan RAJA aktif dalam akuisisi strategis untuk memperkuat bisnis dan diversifikasi portofolio. [1,805] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Aksi korporasi berupa akuisisi kembali mewarnai pasar modal Indonesia menjelang akhir 2025. Sejumlah emiten lintas sektor mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat struktur usaha dan memperluas portofolio bisnisnya.
Langkah paling anyar datang dari PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA), emiten komponen otomotif milik konglomerat TP Rachmat. Perseroan tengah dalam tahap finalisasi akuisisi perusahaan manufaktur komponen plastik kendaraan roda empat, PT Mah Sing Indonesia.
Dalam keterbukaan informasi, Corporate Secretary DRMA Ari Indra Gautama menjelaskan proses legal dan dokumentasi akuisisi masih dalam tahap negosiasi. Nilai transaksi disebut berada di bawah ambang batas transaksi material.
“Dampak dari akuisisi nantinya adalah peningkatan pendapatan serta penambahan portofolio produk khususnya pada komponen plastik untuk kendaraan roda empat [4W],” tulis Ari dalam keterbukaan informasi, Senin (27/10/2025).
DRMA akan mengambil sekitar 82% saham PT Mah Sing Indonesia dari Vital Routes Sdn. Bhd. dan PT Kingsanindo Perkasa Indah.
Sepanjang Januari—September 2025, DRMA mengantongi penjualan Rp4,39 triliun atau tumbuh 9,2% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Lebih terperinci, penjualan dari segmen roda dua tercatat sebesar Rp2,72 triliun dan masih menjadi kontributor utama pendapatan dengan porsi sebesar 62%.
Adapun, segmen roda empat (4W) menyumbang penjualan sebesar Rp988,18 miliar, disusul segmen lainnya sebesar Rp680,63 miliar. DRMA juga mencatat penjualan ekspor sebesar Rp18,37 miliar sepanjang 9 bulan 2025.
Pada saat yang sama, laba bersih DRMA tercatat naik tipis 1,69% YoY menjadi sebesar Rp428,11 miliar.
Irianto Santoso, Presiden Direktur Dharma Polimetal, menyampaikan capaian pertumbuhan perseroan lebih tinggi dari laju pertumbuhan industri secara nasional, di mana data Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) menunjukkan bahwa penjualan kendaraan bermotor di Indonesia sampai September tahun ini turun 11,28% YoY menjadi 561.819 unit.
“Perseroan meraih kinerja solid di situasi sulit ini berkat strategi diversifikasi produk serta efisiensi di lini manufaktur yang turut memperkuat profitabilitas,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (27/10/2025).
Dalam hal diversifikasi produk, lanjut Irianto, DRMA terus membangun dan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik sebagai rencana strategis dalam diversifikasi produk-produk perseroan. Untuk itu, DRMA telah mengembangkan unit bisnis Dharma Connect (DC) sebagai ekosistem komponen kendaraan listrik kolaboratif yang lengkap.
Selain itu, DRMA juga masuk ke after market dengan mengembangkan produk Aki Lithium 12V, 6Ah. Tidak hanya komponen otomotif, DRMA juga telah mengembangkan Battery Energy Storage System (BESS) sebagai salah satu diversifikasi bisnis Perusahaan.
Pabrik komponen otomotif Dharma Polimetal (DRMA)
Selain DRMA, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) juga mengumumkan rencana akuisisi 53,57% saham PT Personel Alih Daya Tbk. (PADA) dari Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat).
Direktur Utama INET Muhammad Arif menjelaskan, negosiasi dilakukan pada 23 Oktober 2025 dan telah menghasilkan penandatanganan Indikasi Syarat dan Ketentuan Jual Beli.
“Perseroan [INET] akan menjadi pengendali baru perusahaan target,” tulisnya dalam keterbukaan informasi, Senin (27/10/2025).
PADA sendiri baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2022 dengan dana IPO Rp90 miliar. Sebagian besar hasil IPO digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan pengembangan bisnis jasa outsourcing, teknikal, hingga IT.
Masih di Oktober, aksi akuisisi juga datang dari sektor properti. PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) melalui dua anak usahanya, PT Abadi Jaya Sakti (AJS) dan PT Tigamitra Ekamulia (TME), resmi mengakuisisi aset Imperial Aryaduta Hotel & Country Club (IAHCC) dari entitas asal Singapura, First Real Estate Investment Trust (First REIT).
Transaksi senilai Rp332,2 miliar itu melibatkan pembelian seluruh saham PT Karya Sentra Sejahtera (KSS), pemilik IAHCC. Corporate Secretary LPKR Ratih Safitri menyebut transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap keuangan maupun operasional perseroan.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif First REIT Management Limited Victor Tan menilai divestasi ini mencerminkan premi 22,2% dibandingkan biaya investasi awal pada 2006. “Divestasi tersebut merupakan langkah tepat waktu dalam strategi capital recycling yang kami jalankan,” ujarnya dalam keterbukaan di Bursa Singapura (SGX).
Beberapa hari sebelumnya, PT Morris Capital Indonesia (MCI) resmi menjadi pemegang saham pengendali PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA) setelah membeli 43,78% saham perseroan pada 10 Oktober 2025.
Direktur Utama MCI Noprian Fadli menyebut transaksi melibatkan 1,5 miliar saham dengan total nilai Rp15,9 miliar, dilaksanakan di dua harga berbeda, yakni Rp2,9 dan Rp26 per saham.
“Tujuan dari transaksi adalah rencana akuisisi. Status kepemilikan saham secara langsung,” ujarnya dalam keterbukaan informasi (13/10/2025).
Corporate Secretary PIPA Imanuel Kevin Mayola menjelaskan, MCI juga berkomitmen menginjeksi aset senilai Rp3 triliun untuk memperkuat ekspansi ke sektor utilitas dan infrastruktur, termasuk pengembangan pipa berteknologi tinggi seperti HDPE.
“Akuisisi ini menjadi babak baru bagi PIPA. Didukung oleh injeksi aset triliunan rupiah dan jalinan kerja sama internasional, PIPA di bawah kendali Morris Capital siap bertransformasi,” ujar Imanuel.
Sebelumnya, di penghujung September, PT Astra International Tbk. (ASII) juga merampungkan transaksi besar. Melalui entitas usahanya PT Saka Industrial Arjaya, Astra resmi menjadi pengendali PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP) setelah menuntaskan akuisisi senilai Rp3,34 triliun pada 30 September 2025.
Sekretaris Perusahaan Astra Gita Tiffani Boer menyampaikan, akuisisi itu melibatkan pembelian 83,67% saham MMLP dari PT Suwarna Arta Mandiri, Bridge Leed Limited, dan beberapa pemegang saham minoritas.
“Dengan demikian, pada 30 September 2025, PT Saka Industrial Arjaya telah menjadi pengendali baru MMLP,” tulis Gita.
Transaksi jumbo ini juga tercatat di pasar negosiasi BEI dengan total 5,76 miliar saham berpindah tangan. Astra menegaskan bakal melaksanakan penawaran tender wajib sesuai dengan POJK No. 9/2018.
Di sektor energi, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) mencuri perhatian dengan rangkaian akuisisi strategis sepanjang paruh kedua 2025. Setelah menuntaskan akuisisi Grup Hafar pada Agustus, RAJA melalui anak usahanya menandatangani perjanjian pengikatan jual beli saham bersyarat untuk mengakuisisi perusahaan perdagangan gas di Banten.
Perseroan juga sedang menjalani due diligence untuk dua perusahaan pelayaran dengan aset berupa dua kapal LNGC dan satu VLGC. Selain itu, RAJA bersama mitranya tengah melakukan studi kelayakan pembangunan terminal LNG di Banten dan menyiapkan pembangunan fasilitas LNG plant di Kalimantan.
Tak hanya di energi fosil, RAJA juga menjajaki akuisisi pembangkit energi baru terbarukan seperti tenaga air dan biomassa, serta sistem penyediaan air minum di Jabodetabek.
Presiden Direktur RAJA Djauhar Maulidi menyebut langkah akuisisi ini sejalan dengan roadmap bisnis 2025. “Langkah akuisisi ini sejalan dengan roadmap bisnis kami tahun 2025, sekaligus memperluas portofolio di segmen midstream dan offshore untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya (15/8/2025).
RAJA sebelumnya juga menjalin kemitraan strategis dengan PT Petrosea Tbk. (PTRO), afiliasi Grup Barito, dalam mengakuisisi Grup Hafar — penyedia jasa EPCI dan pelayaran migas lepas pantai yang telah beroperasi lebih dari 18 tahun.
Akuisisi 53,57% saham dari Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat). INET akan jadi pengendali baru.
Lippo Karawaci (LPKR)
Imperial Aryaduta Hotel & Country Club (IAHCC) via PT Karya Sentra Sejahtera
Rp332,2 miliar
Oktober 2025
Selesai (transaksi resmi)
Akuisisi dilakukan melalui PT Abadi Jaya Sakti & PT Tigamitra Ekamulia dari First REIT (Singapura).
Morris Capital Indonesia (MCI)
PT Multi Makmur Lemindo Tbk. (PIPA)
Rp15,9 miliar
10 Oktober 2025
Selesai
Akuisisi 43,78% saham. Akan menginjeksi aset Rp3 triliun untuk ekspansi ke sektor utilitas & infrastruktur.
Astra International (ASII)
PT Mega Manunggal Property Tbk. (MMLP)
Rp3,34 triliun
30 September 2025
Selesai
Akuisisi 83,67% saham melalui PT Saka Industrial Arjaya. Astra menjadi pengendali baru.
Rukun Raharja (RAJA)
Grup Hafar & perusahaan perdagangan gas di Banten; dua perusahaan pelayaran LNGC & VLGC
-
Agustus–Oktober 2025
Berjalan (due diligence & studi kelayakan)
Fokus ekspansi ke segmen midstream, offshore, dan energi baru terbarukan (air, biomassa, LNG).
Prospek Kinerja
Serangkaian aksi korporasi tersebut diperkirakan bakal menjadi katalis bagi pertumbuhan laba RAJA tahun ini. Analis memperkirakan laba bersih perseroan dapat tumbuh dua digit, ditopang oleh akuisisi strategis dan kemitraan jangka panjang.
Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas, Irsyady Hanief, menilai pendapatan RAJA yang tumbuh 3,3% year on year (YoY) dan pertumbuhan laba kotor 4,8% YoY sepanjang semester I/2025 menunjukkan margin yang tetap solid di tengah tekanan pasar.
Menurutnya, ekspansi strategis RAJA lewat akuisisi 49% saham PT Hafar Daya Konstruksi (HDK) dan PT Hafar Daya Samudera (HDS) akan memperkuat posisi perseroan di infrastruktur energi midstream, khususnya di sektor EPCI lepas pantai.
“RAJA memperdalam kolaborasi dengan PTRO melalui akuisisi bersama Hafar Group, memperluas jangkauan ke sektor logistik lepas pantai dan layanan EPCI. Kemitraan ini memberi RAJA akses ke keahlian teknis, modal, serta peluang proyek baru sekaligus memperkuat kredibilitas di pasar energi dan logistik kelautan,” ujar Irsyady dalam risetnya, dikutip Selasa (7/10/2025).
Selain akuisisi, pendorong lain pertumbuhan RAJA berasal dari portofolio bisnis berbasis kontrak jangka panjang berdurasi 10–30 tahun, yang menjadi sumber pendapatan stabil.
Beberapa di antaranya meliputi kerja sama dengan PetroChina di Blok Jabung (kontrak 20 tahun, sisa 19 tahun), Pertagas untuk pipa minyak (20 tahun, sisa 17 tahun), ExxonMobil di Blok Cepu (30 tahun, sisa 11 tahun), serta Sinarmas Group untuk pasokan gas (10 tahun).
“Kontrak-kontrak ini memastikan arus kas yang stabil dan mengurangi eksposur RAJA terhadap volatilitas harga energi,” lanjutnya.
Tak hanya fokus pada energi konvensional, RAJA juga mulai berinvestasi di sektor energi bersih seperti pabrik blue ammonia, fasilitas regasifikasi LNG, serta pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit 70 gigawatt (GW), dengan 72% berasal dari EBT. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan investasi sekitar Rp2.800 triliun—di mana sektor swasta diharapkan berperan besar dalam pembangkitan listrik, sementara PLN fokus di transmisi dan distribusi.
“Langkah ini bukan hanya membuka peluang pertumbuhan baru, tetapi juga menjadi lindung nilai terhadap penurunan ketergantungan pada bahan bakar fosil,” tulis riset tersebut.
Henan Putihrai Sekuritas memperkirakan laba bersih RAJA tahun ini dapat menembus US$35 juta, naik 20,27% YoY dari US$29,1 juta pada 2024. Tahun depan, laba bersih diperkirakan meningkat 13,42% menjadi US$39,7 juta.
Pertumbuhan itu sejalan dengan proyeksi kenaikan pendapatan, dari US$254,5 juta pada 2024 menjadi US$265,5 juta pada 2025, dan naik tipis ke US$267,4 juta pada 2026.
Sepanjang semester I/2025, RAJA mencatat pendapatan US$127,63 juta, naik 3,33% YoY dari US$123,51 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kontributor utama berasal dari penjualan gas sebesar US$70,2 juta, lifting migas US$25,15 juta, dan jasa penyaluran minyak US$16,98 juta.
Pada saat yang sama, RAJA mencatat beban pokok pendapatan sebesar US$89,97 juta, beban umum dan administrasi US$11,18 juta, beban keuangan US$4,73 juta, serta beban pajak penghasilan bersih US$8,69 juta.
Laba bersih RAJA pada semester I/2025 tercatat US$11,35 juta, turun 20,57% YoY dibandingkan US$14,29 juta pada periode yang sama tahun lalu.
__________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.