#30 tag 24jam
Pesatnya Industri Kosmetik RI dan Ironi Peredaran Produk Palsu
Industri kosmetik Indonesia tumbuh pesat, namun kosmetik palsu masih marak di e-commerce. BPOM temukan 1,35 juta tautan ilegal, berisiko kesehatan tinggi. [640] url asal
#kosmetik-nasional #industri-kosmetik #pasar-kosmetik-indonesia #pertumbuhan-kosmetik #kosmetik-palsu #kosmetik-ilegal #ecommerce-kosmetik #pengawasan-kosmetik #bahan-berbahaya-kosmetik #risiko-kesehat
(Bisnis.Com - Terbaru) 19/05/26 12:00
v/224732/
Bisnis.com, JAKARTA - Sektor kosmetik nasional merupakan salah satu subsektor prioritas yang diklaim memiliki kinerja baik.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, Kementerian Perindustrian mencatat, nilai pasar industri kosmetik Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$9,74 miliar dengan proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 4,33% hingga 4,37%. Selain itu, kinerja ekspor kosmetik meningkat dari US$416,8 juta pada 2024 menjadi US$473,8 juta pada 2025.
Berbagai lembaga riset termasuk Statista juga memproyeksikan nilai pasar kosmetik Indonesia pada 2026 menembus lebih dari US$10 miliar dengan rata-rata pertumbuhan di atas 5,5% dalam lima tahun ke depan.
Pertumbuhan industri kosmetik juga tercermin dari meningkatnya jumlah pelaku usaha. Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), terdapat 1.684 industri kosmetik di Indonesia dan sekitar 85% di antaranya merupakan industri kecil dan menengah (IKM).
Sayangnya, saat industri ini terus bertumbuh, peredaran kosmetika palsu juga masih terus muncul, terutama di ecommerce.
1,35 juta tautan kosmetik palsu di ecommerce
Kepala Badan POM, Taruna Ikrar, mengatakan pengawasan terhadap kosmetik ilegal di ruang digital terus diperketat.
Dia menyebut pada 2025, Badan POM menemukan sekitar 1,35 juta tautan bermasalah yang berkaitan dengan penjualan produk yang tidak memenuhi ketentuan.
Menjelaskan temuan tersebut, Taruna mengatakan tautan bermasalah itu berasal dari berbagai kanal digital. Mulai dari e-commerce, media sosial, hingga akun-akun resmi yang digunakan tidak sesuai peruntukannya.
“Pada Desember tahun lalu kami menemukan ada 1,35 juta tautan yang bermasalah. Dari semua itu, kami juga menemukan ada sebagian nomor izin edar yang bukan hanya tidak ada, tetapi juga dipalsukan dan menyesatkan,” ujarnya.
Taruna mengatakan penanganan tautan bermasalah tersebut dilakukan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital. Menurut dia, kewenangan untuk melakukan take down terhadap tautan digital berada di tangan kementerian tersebut.
Dia menambahkan, permintaan penurunan konten sudah dilakukan dan sebagian besar tautan bermasalah telah ditindaklanjuti.
“Untuk take down lebih dari 1,35 juta tautan itu memang kewenangannya ada di Kementerian Komunikasi dan Digital. Kami sudah minta, dan kami bersyukur sudah dilakukan take down,” tambahnya.
Meski demikian, langkah pengawasan tidak berhenti pada penurunan tautan. Badan POM juga menelusuri jejak fisik dari produk-produk tersebut.
Bahaya di Balik Kosmetik Palsu
Kosmetik ilegal sangat berbahaya karena tidak memenuhi standar keamanan, kemanfaatan, dan mutu. Kepala BPOM, menegaskan bahwa penggunaan kosmetik tanpa izin edar dan/atau mengandung bahan dilarang memiliki risiko kesehatan yang sangat tinggi. Berikut adalah beberapa bahan berbahaya yang sering ditemukan dan dampaknya bagi kesehatan:
Hidroquinon: Sering ditemukan dalam produk pencerah kulit instan. Bahan ini dapat menyebabkan okronosis, yaitu perubahan warna kulit menjadi kehitaman permanen.
Asam Retinoat/Tretinoin: Digunakan untuk mengatasi jerawat dan kerutan. Namun, penggunaannya dapat menyebabkan iritasi kulit parah (gatal, bengkak, kemerahan, kering, mengelupas), dan yang paling mengkhawatirkan, bersifat teratogenik (menyebabkan cacat lahir pada janin) jika digunakan oleh ibu hamil.
Resorsinol: Dapat menyebabkan iritasi kulit dan mengganggu sistem imun. Jika digunakan pada kulit yang luka atau teriritasi, bisa memicu dermatitis, iritasi mata, tenggorokan, hingga masalah pernapasan. Dalam kasus parah, dapat menyebabkan methemoglobinemia (darah kekurangan oksigen) hingga kebiruan pada kulit.
Klindamisin: Meski merupakan antibiotik, dalam kosmetik dapat menyebabkan iritasi kulit seperti kulit mengelupas.
Fluocinolone: Dapat menyebabkan gatal, panas, pengelupasan, kulit kering, peradangan folikel rambut (folikulitis), perubahan warna kulit, dan pengerasan kulit.
Sanksi dan ancaman hukum
Undang undang kesehatan no 36 tahun 2009 dan Undang undang kesehatan no 17 tahun 2024 telah mengatur sanksi tegas bagi pelaku usaha yang memproduksi, mengedarkan, atau menjual kosmetik ilegal. Namun penerapan sanksi tersebut masih belum optimal. Faktor utamanya adalah adanya celah hukum dan penegakan hukum yang lemah.
Pertama, proses pembuktian dalam kasus kosmetik ilegal tergolong rumit. diperlukan bukti ilmiah untuk menunjukkan bahwa kosmetik tsb menyebabkan kerugian untuk konsumen. Sedangkan efek samping penggunaan kosmetik mengandung bahan berbahaya, akan berdampak pada konsumen setelah bertahun tahun atau akumulasi dari penggunaan kosmetik ilegal tersebut.
Kedua, sanksi yang tercantum dinilai belum cukup menimbulkan efek jera bagi pelaku usaha. Denda yang dikenakan seringkali tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh dari penjualan kosmetik ilegal.
Nasib Industri Kosmetik di Tengah Tekanan Kurs dan Gejolak Geopolitik
Industri kosmetik Indonesia menghadapi tantangan besar akibat ketergantungan impor bahan baku dan gejolak geopolitik, meski proyeksi pertumbuhan pasar mencapai US$10 miliar pada 2026. [937] url asal
#kosmetik #industri-kosmetik #bahan-baku-impor #pertumbuhan-industri-kosmetik #pasar-kosmetik-indonesia #ekspor-kosmetik #bahan-baku-lokal #harga-bahan-baku #kemasan-plastik #tekanan-geopolitik #nilai
(Bisnis.Com - Ekonomi) 11/05/26 07:30
v/217289/
Bisnis.com, JAKARTA — Industri kosmetik menghadapi jalan yang cukup berat untuk menangkap peluang potensi pertumbuhan yang diproyeksikan melampaui US$10 miliar pada 2026.
Ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor hingga potensi kenaikan harga, seiring tekanan geopolitik yang belum mereda menjadi hambatan nyata untuk mencapai potensi besar tersebut.
Sektor kosmetik nasional merupakan salah satu subsektor prioritas yang diklaim memiliki kinerja baik. Kementerian Perindustrian mencatat, nilai pasar industri kosmetik Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$9,74 miliar dengan proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 4,33% hingga 4,37%. Selain itu, kinerja ekspor kosmetik meningkat dari US$416,8 juta pada 2024 menjadi US$473,8 juta pada 2025.
Berbagai lembaga riset termasuk Statista juga memproyeksikan nilai pasar kosmetik Indonesia pada 2026 menembus lebih dari US$10 miliar dengan rata-rata pertumbuhan di atas 5,5% dalam lima tahun ke depan.
Pertumbuhan industri kosmetik juga tercermin dari meningkatnya jumlah pelaku usaha. Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), terdapat 1.684 industri kosmetik di Indonesia dan sekitar 85% di antaranya merupakan industri kecil dan menengah (IKM).
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menjelaskan, di tengah gambaran positif ini, penguatan ekosistem industri kosmetik masih menghadapi tantangan dari sisi bahan baku. “Karena bahan baku kosmetik masih didominasi impor hingga sekitar 80 persen,” ujarnya di sela-sela acara Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) ke-16.
Hal serupa disampaikan Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Sancoyo Antarikso. Menurutnya, sebagian bahan baku utama sebenarnya sudah dapat diproduksi di dalam negeri, khususnya untuk produk tertentu seperti sabun mandi berbasis crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO). Namun, berbagai bahan tambahan lain masih bergantung pada impor karena keterbatasan teknologi dan skala ekonomis.
“Kalau kosmetik itu dalam satu SKU (Stock Keeping Unit), jumlah bahan bakunya bisa puluhan. Nah, puluhan itu kecil-kecil, kadang kalau mau bikin di sini (dalam negeri), agak nggak masuk skala ekonomisnya,“ sebut Sancoyo.

Seiring konflik yang memanas di Timur Tengah, industri juga harus menghadapi kenaikan biaya produksi akibat penguatan dolar AS dan terganggunya rantai pasok internasional. Selain bahan baku kosmetik, industri juga terdampak kenaikan harga bahan kemasan berbasis petrokimia dan plastik.
“Dolarnya makin mahal, supply chain terganggu, bahan baku petrochemicals juga terdampak. Bahan-bahan kemasan juga terdampak,” imbuhnya.
Harga Melonjak
Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK) Indonesia Solihin Sofian mengatakan, perang di kawasan Teluk telah memicu kelangkaan bahan baku turunan minyak yang selama ini menjadi komponen penting industri kosmetik, terutama untuk kemasan plastik dan bahan dasar produk.
Menurutnya, harga bahan baku kemasan plastik saat ini melonjak hingga 100%—129% dibandingkan sebelum konflik terjadi. Padahal, komponen kemasan menyumbang sekitar 25% terhadap struktur biaya produksi atau cost of goods sold (COGS) industri kosmetik.
Solohin menjelaskan, tekanan terbesar dirasakan pada produk kosmetik yang menggunakan kemasan plastik seperti sampo, lotion, dan krim. Sementara itu, produk parfum relatif lebih stabil karena mayoritas menggunakan kemasan berbahan kaca.
Selain kemasan, kenaikan juga terjadi pada bahan baku dasar kosmetik berbasis minyak seperti white oil dan propylene glycol yang naik sekitar 42%—47%.
“Tentu (konflik geopolitik) dampaknya luar biasa besar, bukan hanya shortage saja, tapi juga kenaikan harga,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (10/5/2026).

Solohin menyebut, akibat kondisi ini, industri kosmetik skala besar hanya stok bahan baku hanya mampu bertahan dalam 6 bulan. Industri yang semakin kecil skalanya sampai ke UMKM, mungkin hanya bisa bertahan dalam hitungan mingguan.
“Jadi kalau saya hitung-hitung, industri menengah itu akan bisa bertahan sampai akhir bulan Mei, dalam hal penyediaan bahan baku kemasan,” imbuhnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mulai memaksa pelaku industri menaikkan harga jual produk. Dia menyebut sebagian industri kosmetik skala menengah telah menaikkan harga produk sebesar 9%—21%, bahkan ada yang melakukan penyesuaian harga dua kali dalam sebulan.
Kondisi itu dinilai berisiko menggerus daya saing produk lokal, terutama ketika harga kosmetik domestik mulai melampaui produk impor yang lebih murah. “Begitu naik, harga itu berada di atas harga produk-produk import, maka ini kembali tekanan kepada industri kosmetika lokal nasional,” tegasnya.
Selain kenaikan bahan baku, industri juga menghadapi tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena sekitar 80% bahan baku kosmetik nasional masih bergantung pada impor. Solihin menambahkan biaya logistik dan asuransi pengiriman juga melonjak akibat tingginya risiko geopolitik di jalur perdagangan internasional.
Tekanan tersebut, lanjutnya, dapat berujung pada penurunan utilisasi industri hingga efisiensi tenaga kerja apabila situasi tidak segera membaik. “Kalau kapasitas produksi nasional kosmetika turun, tentu langkah yang paling tidak enak yaitu PHK,” sebut Solihin.
Dia menjelaskan pelaku industri saat ini masih berupaya bertahan dengan menekan margin keuntungan dan melakukan berbagai langkah efisiensi, mulai dari mengurangi jumlah shift produksi hingga menghentikan produk yang kurang laku di pasar. Solihin memprediksi, bila penurunan produksi terjadi sampai 15%, maka efisiensi tenaga kerja juga bisa sekitar 15%.
Dorong Pasokan Baru & Hilirisasi
Dia mendorong pemerintah mempercepat proses perizinan impor dari negara sumber baru untuk menjaga pasokan bahan baku industri. Selain itu, Solihin menilai pengembangan bahan baku lokal dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan industri kosmetik nasional.
CEO Martha Tilaar Group Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar melalui kekayaan tanaman herbal, aromatik, dan kosmetik yang belum dimanfaatkan optimal sebagai bahan baku kosmetik.
“Indonesia punya 33.000 tanaman obat, aromatik, dan kosmetik. Belum kita manfaatin, dimanfaatin oleh orang-orang luar negeri, diambil bahan baku mentahnya, diproses di luar negeri, balik lagi ke sini, dengan harga mungkin 8 kali lipat misalnya,” tuturnya.
Dia optimistis industri kosmetik Indonesia memiliki peluang menjadi kekuatan baru di pasar global melalui pengembangan identitas produk lokal.
“Mimpi kita bersama adalah kita mau geser K-Beauty. Mungkin 10 tahun lagi, kita mau menciptakan Indonesian Beauty,” tegas pria yang karib dipanggil Kiki itu.
ICI 2026 Angkat Tren dan Inovasi Bahan Baku Kosmetik hingga Parfum
ICI 2026 di Jakarta menyoroti inovasi bahan baku kosmetik dan parfum, mengedepankan teknologi, keamanan, dan keberlanjutan untuk memimpin tren pasar global. [595] url asal
#ici-2026 #inovasi-bahan-baku #tren-kosmetik #parfum-timur-tengah #industri-kosmetik-indonesia #pertumbuhan-pasar-kosmetik #aroma-vanilla-woody #distribusi-bahan-baku #keamanan-produk-kosmetik #keberla
(Bisnis.Com - Ekonomi) 08/05/26 15:30
v/215688/
Bisnis.com, JAKARTA — Gelaran Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2026 kembali menjadi ajang bagi pelaku industri kosmetik dan parfum untuk menampilkan inovasi bahan baku, teknologi, hingga tren terbaru yang tengah berkembang di pasar nasional maupun global.
Diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI) di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pameran ini mengusung tema “Innovating the Future of Cosmetic Ingredients: Technology, Safety, and Sustainable Excellence.”
Ketua Umum PERKOSMI, Sancoyo Antarikso, mengatakan industri kecantikan saat ini bergerak menuju standar yang semakin tinggi, di mana inovasi teknologi, keamanan produk, dan keberlanjutan menjadi faktor utama dalam pengembangan industri.
“Melalui ICI 2026, kami mendorong pelaku industri untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memimpin inovasi dengan memanfaatkan teknologi terkini, memastikan keamanan produk, serta mengedepankan praktik yang berkelanjutan,” ujarnya di sela pembukaan ICI 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 8 Mei 2026.
Pertumbuhan industri kosmetik nasional sendiri terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga riset, nilai pasar kosmetik Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai lebih dari US$10 miliar dengan rata-rata pertumbuhan di atas 5,5% dalam lima tahun terakhir.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, inovasi bahan baku parfum dan kosmetik juga semakin berkembang. Salah satu tren yang mencuri perhatian di ICI 2026 adalah meningkatnya minat pasar terhadap aroma parfum bergaya Timur Tengah.
Komisaris PT Alfa Indo Global Ali Akbar mengatakan, saat ini konsumen mulai menyukai karakter aroma yang lebih manis dengan sentuhan vanilla dan woody khas parfum Timur Tengah.
“Sekarang lagi tren aroma Timur Tengah seperti Gissah, Rasasi, dan Lattafa. Aromanya lebih mewah, sweet dengan sentuhan vanilla dan woody,” katanya saat ditemui di sela pameran.
Menurutnya, tren tersebut berkembang seiring meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap parfum yang sering dijadikan oleh-oleh dari perjalanan umrah maupun wisata ke Timur Tengah.
Tren aroma ini pun sangat diminati oleh para konsumen mulai dari brand parfum lokal, parfum refill, hingga perusahaan kosmetik yang ingin mengembangkan aroma khas sendiri.
Tidak hanya tren aroma, inovasi pada bahan baku parfum juga terus berkembang untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Direktur Utama PT Alfa Indo Global Fahmi menjelaskan bibit parfum saat ini tidak lagi sekadar meniru aroma produk global, tetapi mulai dikembangkan dengan karakter yang lebih unik dan disesuaikan dengan kebutuhan brand lokal.
“Sekarang formulasi bisa dibuat lebih fleksibel sesuai kebutuhan pasar. Ada twist aroma tertentu supaya tetap punya identitas sendiri,” ujarnya.
Selain kualitas aroma, kecepatan distribusi bahan baku juga menjadi perhatian pelaku industri. Menurut Fahmi, efisiensi pasokan menjadi penting karena banyak brand lokal membutuhkan suplai bahan baku dalam waktu cepat untuk menjaga produksi tetap berjalan.
Peluang bisnis parfum ini juga terlihat dari peningkatan volume distribusi bibit Parfum Plus France milik perusahaan dari sekitar 2 ton menjadi 4 ton per bulan. Ke depan, pihaknya menargetkan distribusi dapat mencapai 10 ton per bulan melalui penguatan jaringan distribusi dan ekspansi pasar nasional, termasuk mengikuti berbagai pameran seperti ICI 2026.
Di sisi lain, BPOM menilai perkembangan industri kosmetik harus tetap diimbangi dengan aspek keamanan dan keberlanjutan. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan pentingnya pengembangan bahan baku berbasis riset inovatif yang tetap memenuhi standar keamanan.
“Industri kosmetik saat ini tidak hanya dituntut menghasilkan produk yang efektif dan menarik, tetapi juga harus mampu menjamin keamanan bagi konsumen serta memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan,” ujarnya dalam sambutan video di ICI 2026.
Tahun ini, ICI 2026 menghadirkan 98 perusahaan nasional dan internasional melalui 564 stan pameran. Berbagai program seperti Innovation Zone dan Formulation Lab juga dihadirkan untuk memberikan pengalaman langsung terkait inovasi bahan baku dan proses formulasi produk kosmetik.
Dengan target lebih dari 15.000 pengunjung, ICI 2026 diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku industri, regulator, akademisi, dan mitra global untuk memperkuat daya saing industri kosmetik Indonesia di pasar domestik maupun internasional.
Buka ICI 2026, Perkosmi: Nilai Pasar Kosmetik 2026 Diperkirakan US$10 Miliar
PERKOSMI menggelar ICI 2026 di JIExpo Kemayoran, memproyeksikan pasar kosmetik Indonesia mencapai US$10 miliar pada 2026 dengan pertumbuhan 5,5% per tahun. [456] url asal
#industri-kosmetik #pasar-kosmetik #kosmetik-indonesia #ici-2026 #pameran-kosmetik #pertumbuhan-kosmetik #inovasi-kosmetik #bahan-baku-kosmetik #kosmetik-halal #sertifikasi-halal-kosmetik #tren-kosmeti
(Bisnis.Com - Ekonomi) 07/05/26 11:08
v/214084/
Bisnis.com, JAKARTA — Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI) kembali menggelar pameran Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2026. Ajang inovasi kosmetika dan bahan baku terbesar digelar selama lima hari, dari 6–8 Mei 2026 di JIExpo Kemayoran.
Ketua PERKOSMI Sancoyo Antarikso mengatakan industri kosmetik atau beauty and personal care di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang solid dan semakin strategis dalam perekonomian nasional.
Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perawatan diri dalam kehidupan sehari-hari, perubahan gaya hidup, serta semakin luasnya akses terhadap informasi dan tren global. Ke depan, pihaknya meyakini prospek industri ini masih sangat menjanjikan.
"Berdasarkan proyeksi berbagai lembaga riset, termasuk Statista, nilai pasar kosmetik Indonesia pada 2026 diperkirakan akan mencapai lebih dari US$10 miliar," kata Sancoyo dalam pembukaan ICI 2026 di Jakarta, Rabu, (6/5/2026).
Pihaknya memperkirakan rata-rata pertumbuhan industri dalam lima tahun mendatang akan melampaui 5,5%. Angka tersebut dinilai mencerminkan besarnya peluang kontribusi sektor kosmetik terhadap perekonomian nasional.
Tren pertumbuhan ini juga terlihat dari bertambahnya jumlah pelaku usaha di bidang kosmetik. Berdasarkan data Badan POM, terdapat 1.684 industri kosmetik di Indonesia, dengan sekitar 55% di antaranya berasal dari sektor industri kecil dan menengah.
Selain itu, jumlah izin edar produk kosmetik yang terdaftar terus menunjukkan peningkatan. Saat ini tercatat sekitar 348.789 izin edar, dengan tambahan sekitar 9.000 hingga 10.000 produk baru setiap bulannya.
Seiring dengan potensi tersebut, industri kosmetik telah ditetapkan sebagai salah satu sektor unggulan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015–2035. Penetapan ini menegaskan peran strategis industri kosmetik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing industri nasional.
"Di sisi lain, industri kosmetik Indonesia juga tengah mempersiapkan implementasi kewajiban sertifikasi halal yang akan mulai berlaku pada Oktober 2026," imbuhnya.
Sancoyo menyebut penyelenggaraan ICI 2026 menjadi ajang untuk menampilkan perkembangan terbaru industri kosmetik. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pameran ini menghadirkan berbagai tren dan inovasi terkini, mulai dari bahan baku, kemasan, mesin, hingga teknologi dan laboratorium.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini berperan sebagai platform strategis untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kapasitas industri. Pada tahun ini, ICI diikuti lebih dari 100 peserta dengan total area pameran mencapai lebih dari 14.000 meter persegi yang berlangsung di JIExpo Kemayoran.
Selain pameran, rangkaian kegiatan ICI 2026 juga akan diisi dengan berbagai program pendukung. Di antaranya dua sesi sosialisasi bersama kementerian dan lembaga terkait, sekitar 20 seminar dari pelaku industri, 10 seminar dari universitas, lebih dari 10 sesi presentasi teknis, serta sejumlah talkshow menarik yang dapat diikuti peserta. Tak hanya itu, akan digelar pula kompetisi bertajuk Indonesian Cosmetic Innovation Award.
Pihaknya berharap ICI 2026 dapat terus menjadi katalis bagi kemajuan industri kosmetik nasional. Ajang ini diharapkan mampu mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi, sekaligus membuka peluang yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Industri Kosmetik Bidik Peluang Besar dari Standar Halal
Industri kosmetik Indonesia melihat peluang besar dari standar halal, dengan pasar lebih dari US$10 miliar. [454] url asal
#kosmetik-halal #industri-kosmetik #pasar-kosmetik-indonesia #standar-halal #kosmetik-indonesia #pertumbuhan-kosmetik #pasar-beauty-indonesia #kosmetik-halal-global #peluang-ekspor-kosmetik #ekosistem
(Bisnis.Com - Terbaru) 06/03/26 19:02
v/157402/
Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Sancoyo Antarikso mengatakan bahwa saat ini industri kosmetik nasional tengah berada dalam tren pertumbuhan yang solid meski di tengah tantangan ekonomi global.
Menurutnya, pasar beauty and personal care Indonesia telah menembus nilai lebih dari US$10 miliar, ditopang populasi besar, kelas menengah yang tumbuh, meningkatnya kesadaran perawatan diri, serta penetrasi digital yang mempercepat adopsi produk kecantikan.
“Dengan nilai pasar yang telah menembus lebih dari US$ 10 miliar, Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar konsumsi, tetapi juga memiliki potensi strategis sebagai basis produksi kosmetik,” tuturnya.
Dalam konteks tersebut, kosmetik halal dinilai memiliki peluang strategis yang besar. Sancoyo menilai, selain melayani pasar domestik dengan mayoritas konsumen Muslim, standar halal juga semakin diterima secara global sebagai bagian dari gaya hidup yang mengedepankan keamanan, transparansi, etika, dan keberlanjutan.
“Ini tentu saja membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi produsen kosmetik Indonesia,” ujarnya.
Namun, PERKOSMI menekankan bahwa kewajiban halal bukan sekadar persoalan sertifikat di hilir tetapi sebuah transformasi regulasi yang fundamental. Kesiapan ekosistem halal secara menyeluruh menjadi faktor penentu, mulai dari rantai pasok bahan baku, ketersediaan lembaga pemeriksa halal, hingga sistem sertifikasi yang efisien dan aplikatif. Tanpa dukungan ekosistem yang matang, kewajiban halal berisiko menambah beban struktural bagi pelaku usaha.
“Agar kebijakan ini benar-benar membawa kemaslahatan dan nilai tambah maka seluruh ekosistem halal perlu siap secara menyeluruh,” ungkapnya.
Dari sisi kesiapan industri, PERKOSMI mencatat pemain besar relatif lebih siap karena memiliki sistem mutu dan dokumentasi yang mapan. Sementara itu, UMKM menunjukkan komitmen tinggi, tetapi masih menghadapi kendala pada akses bahan baku halal, kapasitas administratif, biaya sertifikasi, serta ketergantungan pada pemasok bahan baku impor.
“Saat ini sebagian besar pemain utama di pasar kosmetik Indonesia telah tersertifikasi halal tetapi secara agregat terutama UMKM maka Tingkat sertifikasi masih menjadi pekerjaan rumah,” ujarnya.
Ada berbagai tantangan yang dihadapi mulai dari kompleksitas rantai pasok kosmetik, di mana satu produk dapat menggunakan puluhan jenis bahan baku, sebagian di antaranya masih harus diimpor hingga kesiapan administrasi dan sumber daya internal pelaku usaha kecil.
Karena itu, Sancoyo menilai implementasi kewajiban halal perlu dijalankan secara proporsional dan bertahap, disertai pendampingan intensif. Dalam jangka panjang, standar halal yang seragam diharapkan tidak hanya melindungi konsumen, tetapi juga menciptakan level playing field dan mendorong kosmetik Indonesia naik kelas, baik di pasar domestik maupun global.
Sebagai asosiasi industri, PERKOSMI mengambil peran aktif melalui pembentukan Gugus Tugas Halal yang bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan halal nasional.
Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi berkelanjutan, pelatihan, sosialisasi, dan coaching clinic halal bagi anggota, serta advokasi kebijakan kepada regulator agar regulasi yang dihasilkan bersifat implementatif.
PERKOSMI juga berkolaborasi dengan Kementerian Perindustrian untuk mengidentifikasi dan mendampingi IKM kosmetik yang membutuhkan fasilitasi sertifikasi halal, sehingga kewajiban ini dapat menjadi momentum transformasi dan penguatan industri kosmetik Indonesia secara berkelanjutan.
4 Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda dan Tren Kecantikan
Industri kosmetik Indonesia berkembang pesat selama empat dekade, dengan munculnya brand lokal dan global. Paragon dan Martha Tilaar menjadi pelopor kosmetik halal dan berbasis budaya lokal. [3,180] url asal
#industri-kosmetik #kosmetik-indonesia #legenda-kecantikan #paragon-technology #wardah-halal #kosmetik-halal #nurhayati-subakat #martha-tilaar #kosmetik-lokal #kosmetik-global #tren-kecantikan #kosmeti
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 25/11/25 11:45
v/60121/
Bisnis.com, JAKARTA - Industri kosmetik terus berkembang dalam empat dekade terakhir, dan menjadi saksi munculnya maestro-maestro legendaris di dunia kecantikan.
Beberapa perusahaan kosmetik legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 1960-an pun semakin memperkuat eksistensinya, alih-alih kalah dalam persaingan dengan brand lokal yang menjamur maupun brand dari luar negeri.
Selama empat dekade terakhir, berbagai tren kosmetik dan produk kecantikan mengalami banyak perubahan, mulai dari tren warna, tekstur, cara pengaplikasian, hingga muncul berbagai istilah baru di dunia perawatan kulit.
Tak hanya itu, berbagai brand juga menunjukkan resiliensinya, bagaimana mereka berhasil tak hanya menghadapi persaingan, tapi juga beberapa rentetan krisis selama berdiri.
Berikut ini rangkuman Bisnis mengenai perkembangan industri kosmetik dan kecantikan selama empat dekade terakhir
1985 - Lahirnya Legenda
Tahun 1985 menjadi salah satu tahun yan bersejarah bagi industri kosmetik dan kecantikan. Karena pada tahun ini, lahir sebuah perusahaan kosmetik, PT Pusaka Tradisi Ibu, yang kemudian menjadi Paragon Technology and Innovation. Perusahaan ini didirikan oleh Nurhayati Subakat dan menjadi salah satu pelopor kosmetik Halal di Indonesia.
Sosok Nurhayati Subakat di Balik Paragon Group
Besar di Padang, Sumatra Barat, Nurhayati menjalani pendidikan tinggi di Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia berhasil menjadi lulusan terbaik S1 Farmasi ITB dan diwisuda pada 1975.
Nurhayati kemudian memulai kariernya sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil, Padang. Dia lalu menikah pada 1978 dan pindah bersama sang suami ke Jakarta.
Di Jakarta, Nurhayati bekerja di perusahaan kosmetik Wella sebagai staf pengendalian mutu. Pengalamannya bekerja di bidang farmasi membuatnya ingin memulai bisnis sendiri.
Pada 1985, dia bersama sang suami akhirnya memulai usaha sendiri berbasis industri rumahan bernama Pusaka Tradisi Ibu. Produk pertamanya adalah perawatan rambut dengan merek Putri.
Lima tahun kemudian, pada Desember 1990, Nurhayati berekspansi menambah kapasitas produksi dengan mendirikan pabrik pertama di Kawasan Industri Cibodas, dan berhasil menciptakan bebrapa produk baru, salah satunya termasuk "Wardah" yang dia luncurkan pada 1995, dan menjadi pelopor kosmetik berlabel halal.
Selanjutnya, PTI juga meluncurkan merek kosmetik lainnya seperti Make Over sebagai kosmetik untuk pasar profesional dan Emina untuk remaja.
Pada 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu akhirnya mengganti namanya menjadi PT Paragon Technology and Innovation (PTI) yang kini telah menaungi sembilan merek seperti Putri, Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Laboré, Biodef, Instaperfect, dan Crystallure.
Paragon sendiri masih berstatus perusahaan tertutup sehingga valuasi kekayaan keluarga Nurhayati yang mempekerjakan 12.000 orang itu hanya perkiraan. Majalah Forbes memperkirakan kekayaan Nurhayati sekitar US$1,5 miliar atau sekitar Rp24 triliun.
1986 - Kemunculan Brand Global
Tahun berikutnya, pada 1986, merek kosmetik luar negeri mulai merambah ke Indonesia, seperti L'Oreal misalnya, yang melakukan ekspansi fasilitas produksi di Indonesia, dan menjadi tempat produksi kosmetik halal terbesarnya di dunia
Pada tahun ini, berbagai inovasi produk dan tren juga mulai terjadi. Sepanjang tahun 1980-an, orang-orang mulai mengenal make up artist atau penata rias sebagai profesi yang menjanjikan, setelah sebelumnya kebanyakan orang melakukan riasan sendiri untuk berbagai kegiatan.

1987 - Ketahanan Para Legenda
Pada tahun ini inovasi dan tren tak berhenti berkembang, dan salah satu perusahaan kosmetik terbesar, Martha Tilaar memulai tren warna kosmetik yang terinspirasi dari budaya Indonesia, yang diformulasikan dan disesuaikan untuk kulit orang Indonesia.
Kala itu belum ada media sosial, Martha Tilaar rajin bekerja sama dengan berbagai majalah mode, majalah kecantikan, majalah remaja, serta berbagai platform media untuk mengkampanyekan kosmetik untuk kulit orang Indonesia.
Sosok Martha Tilaar
Martha Tilaar Group lahir dari salon kecantikan kecil yang didirikan oleh Martha Tilaar di garasi rumah milik orang tuanya berukuran 4x6 meter pada tahun 1970.
Wanita kelahiran 4 September 1937 itu yang memiliki nama lengkap Martha Handana, dan sudah menggemari dunia kecantikan sejak kecil. Dia sempat memutuskan untuk belajar ilmu kecantikan hingga ke Amerika Serikat, di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat.
Pada tahun 1981, perusahaan yang ia dirikan diresmikan dan diberi nama PT Martina Berto. Perusahaan ini membangun pabrik modern pertamanya d Kawasan Industri Pulogadung, dan mengawali produksinya dengan produk kosmetik dan obat herbal dengan merek Sariayu-Martha Tilaar untuk pertama kalinya.
Pada tahun 1986, perusahaan kembali melebarkan sayapnya dan membangun pabrik modern kedua di Jl. Pulo Kambing, Kawasan Industri Pulogadung.
1989 - Mengawali Regulasi Industri Kecantikan Aman
Tak hanya soal tren warna dan para legenda, industri kosmetik juga mengalami banyak perkembangan lewat peran Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI), yang sudah dibentuk sejak 1978.
Pada 1989, PERKOSMI semakin menunjukkan perannya sebagai mitra pemerintah, dengan melangsungkan Musyawarah Nasional (MUNAS) II. Pada periode ini, kerjasama antara PERKOSMI dengan Direktorat Jenderal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mulai terjalin.
PERKOSMI berperan aktif memberikan suara pada penyusunan Undang-Undang Kesehatan, sehingga kosmetika tidak dikategorikan sebagai obat preparat. Sejak itu, PERKOSMI semakin dikenal baik di dalam maupun di luar negeri.
1990 - Brand Lokal Vs. Brand Global
Memasuki tahun 1990-an, perkembangan industri kosmetik di Indonesia semakin pesat, dengan hadirnya era industrialisasi kecantikan.
Di tahun ini, banyak brand-brand lokal mulai bermunculan dan sudah mulai bisa memproduksi kosmetik dengan standar internasional, dalam jumlah besar, namun tetap bisa bersaing dengan berbagai brand luar negeri dengan mempertahankan kearifan lokal.
1991 - Brand Global Menjamur
Persaingan merek-merek kosmetik lokal makin ketat dengan kehadiran merek kosmetik luar negeri yang semakin banyak. Pada 1991, Bobbi Brown Cosmetics hadir untuk pertama kalinya di Indonesia, menyusul merek seperti L'Oreal yang sudah lebih dulu bercokol di Indonesia.
Pada saat yang sama, perusahaan PT Kino Indonesia Tbk. didirikan di Indonesia, dan hingga kini Kino masih terus bertumbuh menjadi salah satu raksasa industri kosmetik dan perawatan pribadi di Tanah Air.
Pendiri PT Kino Indonesia Tbk.
Di balik berdirinya Kino, ada andil dari tangan pengusaha Harry Sanusi, yang kini menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Kino Indonesia Tbk.
Harry memulai usaha pertamanya selepas kuliah, pada 1991 dengan membangun perusahaa bernama PT Dutalestari Sentratama dengan bermodalkan Rp300 juta.
Kala itu, lewat pengalamannya sebagai sarjana farmasi, dia memasarkan produk larutan penyegar "Cap Kaki Tiga", menjadi produk legendaris dari Kino.
Pada 1997 Harry memperluas jangkauan bisnisnya, terjun ke industri permen dan mendirikan PT Kinosentra Industrindo. Produk awal dari perusahaan tersebut adalah permen kopi yang saat ini bahkan sering tayang di berbagai drama Korea, ya, Kopiko.
Selanjutnya, pada tahun berikutnya, perusahaannya mulai memproduksi berbagai produk minuman energi dan minuman serbuk. Produknya juga kemudian tak hanya dipasarkan secara lokal, tapi juga diekspor.
Setelah bayak berkutat dengan industri makanan dan minuman, pada 1999, Harry melebarkan sayapnya, mendirikan perusahaan PT Kinocare Era Kosmetindo dan memasarkan berbagai produk kebutuhan rumah tangga, seperti pembersih wajah "Ovale", parfum seperti cologne gel "Eskulin" dan "B&B", produk perawatan rambut "Ellips", sampai sabun cuci piring khusus produk bayi "Sleek".
Pada 2014, perusahaan tersebut mengganti nama menjadi PT Kino Indonesia, dan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Desember 2015.
Harry sendiri diangkat sebagai Presiden Komisaris berdasarkan untuk periode 2022 - 2024. Beliau merupakan pendiri Perseroan yang juga menjabat berbagai posisi di Grup Kino sejak tahun 1999.
Beliau merupakan Direktur Perseroan periode 8 Februari 1999-14 Agustus 2002 dan Presiden Direktur dari 14 Agustus 2002-15 Juni 2022.
Sampai dengan 2020, mengutip Forbes kekayaan Harry Sanusi mencapai US$470 juta atau setara dengan Rp6,8 triliun.

1993 - Pelopor Produk Perawatan Tubuh dengan Kearifan Lokal
Pada 1993 juga mulai bermunculan perusahaan kosmetik besar baru, salah satunya PT Mandom Indonesia Tbk. dan Purbasari.
Lewat kehadiran dua perusahaan ini, fokus produk kosmetik tak hanya pada perawatan wajah, tapi juga perawatan tubuh. Mandom hadir dengan produk seperti Pixy dan Gatsby yang terkenal untuk pembersih wajah dan colognenya.
Sementara itu, Purbasari mengawali kiprahnya dengan produk lulur mandi, sehingga berhasil menjadi pionir lulur mandi di Indonesia yang unggul karena mengangkat budaya kecantikan Indonesia.
Di tahun 1993 juga, industri kecantikan Indonesia melangkah ke kancah global. PERKOSMI bersama organisasi kosmetika dari Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand membentuk ASEAN Cosmetic Association (ACA). Tokoh kosmetika Indonesia sekaligus Ketua PERKOSMI saat itu, Moeryati Soedibyo terpilih sebagai Presiden ACA pertama.
1994 - Pelopor Riasan Dekoratif
Tahun-tahun berikutnya, juga muncul berbagai perusahaan dan merek baru, seperti berdirinya PT Star Abadi Ratu Indonesia (Sari Cosmetics).
Usaha tersebut dimulai oleh Raden Roro Sarwo Indah, yang awalnya memproduksi dan meracik sendiri produk-produk perawatan rambut, kulit, dan badan untuk kebutuhan salon.
Selain tren perawatan kulit dan riasan, tahun 1994 juga menjadi saksi hadirnya riasan dekoratif seperti bulu mata palsu, yang dipelopori oleh PT Tiga Putra Abadi Perkasa di Purbalingga, Jawa Tengah.
1995 - Pelopor Halal
Menjadi tahun lahirnya Wardah dari Paragon Group sebagai pelopor kosmetik Halal, tahun ini juga menjadi titik balik dunia kosmetik di mana kosmetik Halal menjadi sebuah keharusan.
Sebelumnya, di Indonesia sertifikasi halal untuk kosmetik belum menjadi kewajiban dan masih bersifat sukarela. Namun seiring semakin besarnya komunitas muslim dan kesadaran konsumen muslim yang semakin meningkat, permintaan akan produk halal semakin kuat.
Pada 1995, BPOM juga mulai membuat standar yang lebih ketat, untuk mengakomodir kebijakan Halal tersebut. Lalu, pada 2014, Indonesia mulai menerapkan regulasi yang mewajibkan sertifikasi halal untuk semua produk kosmetik, makanan, dan obat-obatan.
Saat ini, tidak hanya produk kosmetik lokal saja yang harus memiliki sertifikat Halal. Brand-brand besar berskala internasional pun harus turut serta menyesuaikan produksi mereka dengan standar halal
Empat Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda Kecantikan
1998 - Berkembang dalam Krisis Ekonomi
Tahun 1998 juga menandai berdirinya beberapa perusahaan seperti PT Kosmetikatama Super Indah dengan produk Inez, yang menawarkan lebih banyak varian dan formula make up untuk warna kulit orang Indonesia.
Pendiri PT Vitapharm
Selain itu, di 1998 salah satu perusahaan kosmetik terbesar Indonesia, Viva Cosmetics mengubah namanya menjadi PT Vitapharm.
Viva Cosmetics sendiri sudah berdiri sejak tahun 1962, didirikan oleh. Nama Viva Cosmetics besar lewat berbagai produk kecantikan dan skincare-nya yang harganya relatif murah, tetapi tetap berkualitas.
Para penggunanya, terutama generasi milenial pasti sudah tidak asing dengan produk-produk seperti serum, face mask, eyeliner, fresh/milk cleanser, hingga color correcting primer.
Perkembangan perusahaan-perusahaan kosmetik tersebut membuktikan ketahanan industri kecantikan kala itu di tengah huru-hara krisis 1998.
Namun, pada tahun yang sama, tren juga berubah, dengan standar kecantikan baru dan mulai masuknya pengaruh budaya dari Eropa, Jepang, hingga Korea.
1999 - Regulasi Makin Kuat
Setelah brand-brand internasional semakin banyak masuk ke Indonesia, merek-merek high end seperti Mac dan Maybelline makin menjamur dan banyak dicari. Selain itu, artis-artis papan atas dari Barat, Amerika dan Inggris jadi kiblat make up.
Selain soal tren, perkembangan industri kosmetik juga mulai didukung oleh regulasi yang lebih kuat, seperti Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang memberikan perlindungan hukum bagi konsumen terhadap produk-produk yang tidak sesuai standar.

2000 - Transformasi Industri Kosmetik
Memasuki era baru, perkembangan industri kosmetik Indonesia di awal 2000-an juga mengalami transformasi besar.
Di era awal 2000-an, banyak bermunculan berbagai brand kosmetik lokal. Berbeda dengan sebelumnya yang banyak berfokus pada budaya dan warisan tradisional, merek-merek yang muncul mencoba lebih up to date pada tren global.
2002 - Brand Lokal Bermunculan
Pada tahun 2002, mulai muncul merek lokal pendatang baru, antara lain Azarine Cosmetic, yang sayangnya baru tenar beberapa tahun belakangan ini.
Pendiri Azarine Cosmetics
Azarine Cosmetic adalah brand kosmetik lokal yang didirikan di Surabaya, Jawa Timur. Awalnya Azarine lebih dikenal sebagai brand yang menyediakan berbagai produk perawatan spa dan salon.
Namun, pada 2015, pendirinya, Cella Vanessa Tjahyanto dan Brian Lazuardi Tjahyanto melakukan rebranding dan, melakukan berbagai terobosan, menyesuaikan produk-produknya dengan kebutuhan dan tren saat itu, sehingga kini Azarine sukses menjadi salah satu brand kecantikan lokal yang banyak diminati.
2003 - Awal Perkembangan Minat pada Kosmetik
Di samping kemunculan brand baru, perkembangan industri kosmetik juga mulai memberikan dampak pada perekonomian negara.
Minat konsumen terhadap produk kosmetik semakin tinggi, sehingga konsumsi dan produksi kosmetik juga turut meningkat.
Berdasarkan data Departemen Perindustrian kala itu, tercatat rata-rata konsumsi kosmetik meningkat sebesar 14,7% dan produksinya meningkat sekitar 12,22% pada periode 2003-2007.
Industri kecantikan mulai memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi negara dan juga menciptakan banyak lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung.
2008 - Krisis Ekonomi Global
Setelah berhasil mencatatkan pertumbuhan pesat di tahun sebelumnya, pada 2008 dunia diadang krisis. Di masa ini, industri kosmetik dan kecantikan sempat terjeda, terutama brand lokal karena banyak yang harus berhenti berproduksi.
Namun, Kemenko Perekonomian mencatat meskipun terdampak krisis global, industri kosmetik secara keseluruhan masih bertumbuh positif. Di Indonesia, industri kosmetik tumbuh signifikan dengan kontribusi 1,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
2010 - Era Media Sosial
Tahun ini menjadi pintu masuk era media sosial. Di periode ini, banyak brand lokal yang muncul dan dengan penuh perjuangan bersaing dengan pasar impor dan brand luar yang semakin banyak, termasuk dari China. Hal ini menyebabkan penjualan produk kosmetik domestik tidak banyak bergerak.
Namun, dengan kemunculan media sosial, muncul pula profesi-profesi baru, yang membuat skema pemasaran produk menjadi serba baru.
Ada orang-orang yang menjadi beauty blogger, kemudian beauty vlogger di platform seperti YouTube dan Instagram, lalu tak hanya memasarkan produk, tapi juga menciptakan tren baru hingga tutorial make up.
Di era ini, iklan di media tradisional tak lagi jadi andalan. Konsumen tidak lagi bergantung sepenuhnya pada iklan tradisional, tetapi mulai banyak mengulik lebih dalam lewat konten review dan rekomendasi dari kreator konten.
2012 - Konsumsi Kosmetik Bertumbuh
Brand lokal mulai mendominasi. Adapun, tingkat konsumsi dan produksi juga meningkat.
Kementerian Perindustrian mencatat proyeksi omzet industri kosmetik nasional mencapai Rp9,76 triliun, naik dari Rp8 triliun pada tahun sebelumnya.
Selain itu, dengan brand lokal mendominasi, mereka juga mulai marak melakukan ekspor. Kemenperin juga mencatat pertumbuhan ekspor kosmetik diperkirakan mencapai US$406 juta pada 2012.

2015 - Tren Bahan Alami
Setelah muncul media sosial, konsumen semakin terbuka dengan perkembangan inovasi dan keilmuan di balik hadirnya suatu produk.
Di tahun ini, produk-produk yang menggunakan bahan alami atau dibuat berdasarkan sain semakin laris dan diminati. Penggunaan produk kosmetik yang punya manfaat mengobati juga menjadi tren dan segmen yang menarik, terutama bagi kelas menengah atas, dan mendorong permintaan.
Pendiri Mineral Botanica
Sambil menyambut tren tersebut, pada tahun 2015 juga menjadi awal berdirinya Mineral Botanica, yang didirikan pada April 2015 oleh Widy Susindra dan Anita Loeki.
Keduanya adalah pasangan suami istri ini kembali dari AS pada akhir tahun 2010 untuk mengambil alih bisnis manufaktur kontrak kosmetik keluarga Anita.
Mineral Botanica lahir di tengah tren dan untuk mengisi celah pasar produk kosmetik yang inovatif, menarik, dan menyenangkan.
Brand ini memenangkan hati konsumen lewat produk berbahan ekstrak tumbuhan, lalu memadukannya dengan teknologi untuk menciptakan kosmetik, perawatan kulit, dan perawatan tubuh yang dapat dibanggakan oleh masyarakat Indonesia dan seluruh dunia.
Mineral Botanica juga jadi lebih dilirik karena branding-nya menggunakan bahan-bahan yang dapat didaur ulang, tidak mengandung bahan kimia berbahaya, dan menghindari produk yang diuji pada hewan. Hal-hal kecil ini mulai menjadi perhatian dari pasar kosmetik yang semakin bear.
2016 - Dari Konten Kreator jadi Pebisnis
Setelah era media sosial dan para konten kreatornya, pada periode ini banyak pula konten kreator yang akhirnya meluncurkan produknya sendiri. Beralih dari kreator konten menjadi pebisnis.
Pendiri By Lizzie Parra (BLP)
Salah satu brand kecantikan yang lahir di 2016 adalah BLP alias By Lizzie Parra.
Sesuai namanya, BLP didirikan oleh Lizzie Parra, atau dengan nama lengkap Elizabeth Christina Parameswari, yang punya latar belakang sekolah fashion dan pecinta seni. Namun, namanya melambung ketika menjadi konten kreator kecantikan dan Make Up Artist (MUA).
BLP menonjol karena tak hanya mengembangkan produknya, tapi lebih dari itu, mengedepankan nilai-nilai bahwa cantik tidak harus putih atau langsing, tapi bagaimana seorang perempuan bisa menjadi dirinya sendiri.
2018 - Tren K-Beauty
Setelah tren-tren dan gaya kecantikan ala barat lewat, masuklah tren kecantikan Korea dan China di Indonesia. Di periode ini, konsumen mulai menyadari bahwa cantik bukan hanya dari riasan, tapi juga dari cara merawat kesehatan kulit.
Dalam perkembangannya, produk skincare jadi segmen terlaris dan terbesar. Trennya lalu berkembang meliputi penggunaan bahan alami, sampai 10 langkah perawatan kulit dan pewarna bibir ombre.
2020 - Pandemi Covid-19 dan Booming Belanja Online
Memasuki 2020, seluruh industri terpengaruh oleh pandemi Covid-19, termasuk industri kecantikan. Namun, dengan perkembangan teknologi yang pesat, dan bantuan dari berbagai platform e-commerce. Konsumsi kosmetik dan industri kecantikan Indonesia secara umum tetap berhasil tumbuh meskipun melambat dari tahun sebelumnya.
Kementerian Perindustrian mencatat adanya peningkatan nilai pendapatan industri kecantikan mencapai Rp 99,33 triliun. Besaran pendapatan tersebut tak lepas dari pergeseran kebiasaan konsumen untuk belanja online.
Pandemi Covid-19 mendorong masyarakat lebih memperhatikan perawatan diri, sehingga pada periode ini, produk perawatan kulit baik wajah dan tubuh mengalami lonjakan permintaan.
Di masa pandemi, semua orang juga mengandalkan media sosial dan konten untuk memasarkan produk. Di tahun ini, akhirnya banyak pula brand lokal semakin menjamur, dengan beberapa brand yang sudah berdiri beberapa tahun sebelumnya juga makin naik daun.
2022 - Tren Bahan Alami Lokal dan “Glass Skin”
Inovasi produk semakin dipertimbangkan. Konsumen mulai cenderung mencari mencari produk kosmetik berbasis medis atau punya bukti khasiat secara ilmiah. Konsumen juga lebih kritis terhadap kandungan bahan aktif yang terdapat dalam produk yang mereka beli.
Beberapa bahan alami yang jadi tren dan paling banyak dicari saat itu adalah produk dengan Centella asiatica, green tea, chamomile, dan Ceramide. Namun, di sisi lain, tren ini membuat banyak brand berlomba dan memunculkan produk dengan kandungan yang sama.
Selain itu, muncul tren make up "Glass Skin" , masih dari Korea Selatan dan China, yang membuat banyak orang berlomba punya kulit "bening" yang bersih dan bercahaya.
Selain itu, produk yang lebih ramah lingkungan, seperti vegan, cruelty-free, dan not animal-tested, juga makin banyak dipertimbangkan dan mengalami peningkatan permintaan
2025 - Booming AI
Seiring dengan booming AI, industri kecantikan juga tak luput. Beberapa brand besar banyak menggelar kegiatan aktivasi dan menggunakan AI untuk memberikan rekomendasi produk yang dipersonalisasi berdasarkan kebutuhan konsumen.
Lalu, setelah lelah dengan skincare 10 langkah, tahun ini banyak konsumen yang mencari produk dengan fungsi gabungan sehingga lebih efisien.
Adapun, Kementerian Perindustrian mencatat, tahun ini konsumen semakin banyak mencari produk yang berbahan dasar bukan hanya alami tapi juga yang didapatkan secara lokal.
Kepala Biro Humas Kemenperin Ronggolawe Sahuri mengemukakan bahwa Indonesia masih memiliki potensi dan peluang yang besar dalam pengembangan industri kosmetik. Terlebih karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya akan tanaman herbal, yang secara turun temurun banyak digunakan untuk obat tradisional dan produk kosmetik.
“Hutan tropis Indonesia memiliki tidak kurang dari 30.000 spesies tumbuhan, di mana sekitar 9.600 di antaranya diketahui memiliki khasiat obat dan kosmetika. Ini juga menjadi kekuatan bagi Indonesia di tengah gempuran masuknya produk impor, dengan dikarunia bahan baku alam yang sangat banyak,” ungkapnya.
Ronggo juga menyampaikan, kinerja industri kosmetik dari sisi ekspor juga terus menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor produk minyak atsiri, parfum dan kosmetik Indonesia ke dunia pada tahun 2023 menembus angka US$842 juta, naik US$16 juta jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Selain itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita menyebutkan, dalam tiga tahun pasca-pandemi, jumlah pelaku usaha di sektor kosmetik melonjak lebih dari 77%, dari 726 pelaku usaha pada 2020 menjadi 1.292 pada 2024 yang terdiri dari 83 persen perusahaan mikro dan kecil, serta 17 persen industri menengah dan besar.
"Peningkatan ini mencerminkan daya saing dan inovasi yang terus berkembang, menjadikan industri kosmetik sebagai salah satu sektor yang harus terus dikembangkan dan memiliki prospek yang positif,” ujarnya.
Selain itu, dalam skala global, industri kosmetik diperkirakan akan mencapai nilai US$677,2 miliar pada tahun 2025 dengan pertumbuhan sebesar 3,37%.
Indonesia juga memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri kecantikan, mengingat populasi wanita yang mencapai lebih dari 141,8 juta jiwa dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan diri.
State of Global Islamic Economy 2023/2024 juga melaporkan bahwa tren konsumsi kosmetik halal domestik juga semakin menguat. Indonesia sendiri menempati posisi kedua sebagai negara konsumen produk kosmetik halal terbesar di dunia.
Empat Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda dan Tren Kecantikan
Industri kosmetik Indonesia berkembang pesat selama empat dekade, dengan munculnya brand lokal dan global. Paragon dan Martha Tilaar menjadi pelopor kosmetik halal dan berbasis budaya lokal. [3,189] url asal
#industri-kosmetik #kosmetik-indonesia #legenda-kecantikan #paragon-technology #wardah-halal #kosmetik-halal #nurhayati-subakat #martha-tilaar #kosmetik-lokal #kosmetik-global #tren-kecantikan #kosmeti
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 25/11/25 11:45
v/49399/
Bisnis.com, JAKARTA - Industri kosmetik terus berkembang dalam empat dekade terakhir, dan menjadi saksi munculnya maestro-maestro legendaris di dunia kecantikan.
Beberapa perusahaan kosmetik legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 1960-an pun semakin memperkuat eksistensinya, alih-alih kalah dalam persaingan dengan brand lokal yang menjamur maupun brand dari luar negeri.
Selama empat dekade terakhir, berbagai tren kosmetik dan produk kecantikan mengalami banyak perubahan, mulai dari tren warna, tekstur, cara pengaplikasian, hingga muncul berbagai istilah baru di dunia perawatan kulit.
Tak hanya itu, berbagai brand juga menunjukkan resiliensinya, bagaimana mereka berhasil tak hanya menghadapi persaingan, tapi juga beberapa rentetan krisis selama berdiri.
Berikut ini rangkuman Bisnis mengenai perkembangan industri kosmetik dan kecantikan selama empat dekade terakhir
1985 - Lahirnya Legenda
Tahun 1985 menjadi salah satu tahun yan bersejarah bagi industri kosmetik dan kecantikan. Karena pada tahun ini, lahir sebuah perusahaan kosmetik, PT Pusaka Tradisi Ibu, yang kemudian menjadi Paragon Technology and Innovation. Perusahaan ini didirikan oleh Nurhayati Subakat dan menjadi salah satu pelopor kosmetik Halal di Indonesia.
Sosok Nurhayati Subakat di Balik Paragon Group
Besar di Padang, Sumatra Barat, Nurhayati menjalani pendidikan tinggi di Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia berhasil menjadi lulusan terbaik S1 Farmasi ITB dan diwisuda pada 1975.
Nurhayati kemudian memulai kariernya sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil, Padang. Dia lalu menikah pada 1978 dan pindah bersama sang suami ke Jakarta.
Di Jakarta, Nurhayati bekerja di perusahaan kosmetik Wella sebagai staf pengendalian mutu. Pengalamannya bekerja di bidang farmasi membuatnya ingin memulai bisnis sendiri.
Pada 1985, dia bersama sang suami akhirnya memulai usaha sendiri berbasis industri rumahan bernama Pusaka Tradisi Ibu. Produk pertamanya adalah perawatan rambut dengan merek Putri.
Lima tahun kemudian, pada Desember 1990, Nurhayati berekspansi menambah kapasitas produksi dengan mendirikan pabrik pertama di Kawasan Industri Cibodas, dan berhasil menciptakan bebrapa produk baru, salah satunya termasuk "Wardah" yang dia luncurkan pada 1995, dan menjadi pelopor kosmetik berlabel halal.
Selanjutnya, PTI juga meluncurkan merek kosmetik lainnya seperti Make Over sebagai kosmetik untuk pasar profesional dan Emina untuk remaja.
Pada 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu akhirnya mengganti namanya menjadi PT Paragon Technology and Innovation (PTI) yang kini telah menaungi sembilan merek seperti Putri, Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Laboré, Biodef, Instaperfect, dan Crystallure.
Paragon sendiri masih berstatus perusahaan tertutup sehingga valuasi kekayaan keluarga Nurhayati yang mempekerjakan 12.000 orang itu hanya perkiraan. Majalah Forbes memperkirakan kekayaan Nurhayati sekitar US$1,5 miliar atau sekitar Rp24 triliun.
1986 - Kemunculan Brand Global
Tahun berikutnya, pada 1986, merek kosmetik luar negeri mulai merambah ke Indonesia, seperti L'Oreal misalnya, yang melakukan ekspansi fasilitas produksi di Indonesia, dan menjadi tempat produksi kosmetik halal terbesarnya di dunia
Pada tahun ini, berbagai inovasi produk dan tren juga mulai terjadi. Sepanjang tahun 1980-an, orang-orang mulai mengenal make up artist atau penata rias sebagai profesi yang menjanjikan, setelah sebelumnya kebanyakan orang melakukan riasan sendiri untuk berbagai kegiatan.

1987 - Ketahanan Para Legenda
Pada tahun ini inovasi dan tren tak berhenti berkembang, dan salah satu perusahaan kosmetik terbesar, Martha Tilaar memulai tren warna kosmetik yang terinspirasi dari budaya Indonesia, yang diformulasikan dan disesuaikan untuk kulit orang Indonesia.
Kala itu belum ada media sosial, Martha Tilaar rajin bekerja sama dengan berbagai majalah mode, majalah kecantikan, majalah remaja, serta berbagai platform media untuk mengkampanyekan kosmetik untuk kulit orang Indonesia.
Sosok Martha Tilaar
Martha Tilaar Group lahir dari salon kecantikan kecil yang didirikan oleh Martha Tilaar di garasi rumah milik orang tuanya berukuran 4x6 meter pada tahun 1970.
Wanita kelahiran 4 September 1937 itu yang memiliki nama lengkap Martha Handana, dan sudah menggemari dunia kecantikan sejak kecil. Dia sempat memutuskan untuk belajar ilmu kecantikan hingga ke Amerika Serikat, di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat.
Pada tahun 1981, perusahaan yang ia dirikan diresmikan dan diberi nama PT Martina Berto. Perusahaan ini membangun pabrik modern pertamanya d Kawasan Industri Pulogadung, dan mengawali produksinya dengan produk kosmetik dan obat herbal dengan merek Sariayu-Martha Tilaar untuk pertama kalinya.
Pada tahun 1986, perusahaan kembali melebarkan sayapnya dan membangun pabrik modern kedua di Jl. Pulo Kambing, Kawasan Industri Pulogadung.
1989 - Mengawali Regulasi Industri Kecantikan Aman
Tak hanya soal tren warna dan para legenda, industri kosmetik juga mengalami banyak perkembangan lewat peran Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI), yang sudah dibentuk sejak 1978.
Pada 1989, PERKOSMI semakin menunjukkan perannya sebagai mitra pemerintah, dengan melangsungkan Musyawarah Nasional (MUNAS) II. Pada periode ini, kerjasama antara PERKOSMI dengan Direktorat Jenderal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mulai terjalin.
PERKOSMI berperan aktif memberikan suara pada penyusunan Undang-Undang Kesehatan, sehingga kosmetika tidak dikategorikan sebagai obat preparat. Sejak itu, PERKOSMI semakin dikenal baik di dalam maupun di luar negeri.
1990 - Brand Lokal Vs. Brand Global
Memasuki tahun 1990-an, perkembangan industri kosmetik di Indonesia semakin pesat, dengan hadirnya era industrialisasi kecantikan.
Di tahun ini, banyak brand-brand lokal mulai bermunculan dan sudah mulai bisa memproduksi kosmetik dengan standar internasional, dalam jumlah besar, namun tetap bisa bersaing dengan berbagai brand luar negeri dengan mempertahankan kearifan lokal.
1991 - Brand Global Menjamur
Persaingan merek-merek kosmetik lokal makin ketat dengan kehadiran merek kosmetik luar negeri yang semakin banyak. Pada 1991, Bobbi Brown Cosmetics hadir untuk pertama kalinya di Indonesia, menyusul merek seperti L'Oreal yang sudah lebih dulu bercokol di Indonesia.
Pada saat yang sama, perusahaan PT Kino Indonesia Tbk. didirikan di Indonesia, dan hingga kini Kino masih terus bertumbuh menjadi salah satu raksasa industri kosmetik dan perawatan pribadi di Tanah Air.
Pendiri PT Kino Indonesia Tbk.
Di balik berdirinya Kino, ada andil dari tangan pengusaha Harry Sanusi, yang kini menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Kino Indonesia Tbk.
Harry memulai usaha pertamanya selepas kuliah, pada 1991 dengan membangun perusahaa bernama PT Dutalestari Sentratama dengan bermodalkan Rp300 juta.
Kala itu, lewat pengalamannya sebagai sarjana farmasi, dia memasarkan produk larutan penyegar "Cap Kaki Tiga", yang kini sudah berganti nama menjadi "Cap Badak" dan menjadi produk legendaris dari Kino.
Pada 1997 Harry memperluas jangkauan bisnisnya, terjun ke industri permen dan mendirikan PT Kinosentra Industrindo. Produk awal dari perusahaan tersebut adalah permen kopi yang saat ini bahkan sering tayang di berbagai drama Korea, ya, Kopiko.
Selanjutnya, pada tahun berikutnya, perusahaannya mulai memproduksi berbagai produk minuman energi dan minuman serbuk. Produknya juga kemudian tak hanya dipasarkan secara lokal, tapi juga diekspor.
Setelah bayak berkutat dengan industri makanan dan minuman, pada 1999, Harry melebarkan sayapnya, mendirikan perusahaan PT Kinocare Era Kosmetindo dan memasarkan berbagai produk kebutuhan rumah tangga, seperti pembersih wajah "Ovale", parfum seperti cologne gel "Eskulin" dan "B&B", produk perawatan rambut "Ellips", sampai sabun cuci piring khusus produk bayi "Sleek".
Pada 2014, perusahaan tersebut mengganti nama menjadi PT Kino Indonesia, dan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Desember 2015.
Harry sendiri diangkat sebagai Presiden Komisaris berdasarkan untuk periode 2022 - 2024. Beliau merupakan pendiri Perseroan yang juga menjabat berbagai posisi di Grup Kino sejak tahun 1999.
Beliau merupakan Direktur Perseroan periode 8 Februari 1999-14 Agustus 2002 dan Presiden Direktur dari 14 Agustus 2002-15 Juni 2022.
Sampai dengan 2020, mengutip Forbes kekayaan Harry Sanusi mencapai US$470 juta atau setara dengan Rp6,8 triliun.

1993 - Pelopor Produk Perawatan Tubuh dengan Kearifan Lokal
Pada 1993 juga mulai bermunculan perusahaan kosmetik besar baru, salah satunya PT Mandom Indonesia Tbk. dan Purbasari.
Lewat kehadiran dua perusahaan ini, fokus produk kosmetik tak hanya pada perawatan wajah, tapi juga perawatan tubuh. Mandom hadir dengan produk seperti Pixy dan Gatsby yang terkenal untuk pembersih wajah dan colognenya.
Sementara itu, Purbasari mengawali kiprahnya dengan produk lulur mandi, sehingga berhasil menjadi pionir lulur mandi di Indonesia yang unggul karena mengangkat budaya kecantikan Indonesia.
Di tahun 1993 juga, industri kecantikan Indonesia melangkah ke kancah global. PERKOSMI bersama organisasi kosmetika dari Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand membentuk ASEAN Cosmetic Association (ACA). Tokoh kosmetika Indonesia sekaligus Ketua PERKOSMI saat itu, Moeryati Soedibyo terpilih sebagai Presiden ACA pertama.
1994 - Pelopor Riasan Dekoratif
Tahun-tahun berikutnya, juga muncul berbagai perusahaan dan merek baru, seperti berdirinya PT Star Abadi Ratu Indonesia (Sari Cosmetics).
Usaha tersebut dimulai oleh Raden Roro Sarwo Indah, yang awalnya memproduksi dan meracik sendiri produk-produk perawatan rambut, kulit, dan badan untuk kebutuhan salon.
Selain tren perawatan kulit dan riasan, tahun 1994 juga menjadi saksi hadirnya riasan dekoratif seperti bulu mata palsu, yang dipelopori oleh PT Tiga Putra Abadi Perkasa di Purbalingga, Jawa Tengah.
1995 - Pelopor Halal
Menjadi tahun lahirnya Wardah dari Paragon Group sebagai pelopor kosmetik Halal, tahun ini juga menjadi titik balik dunia kosmetik di mana kosmetik Halal menjadi sebuah keharusan.
Sebelumnya, di Indonesia sertifikasi halal untuk kosmetik belum menjadi kewajiban dan masih bersifat sukarela. Namun seiring semakin besarnya komunitas muslim dan kesadaran konsumen muslim yang semakin meningkat, permintaan akan produk halal semakin kuat.
Pada 1995, BPOM juga mulai membuat standar yang lebih ketat, untuk mengakomodir kebijakan Halal tersebut. Lalu, pada 2014, Indonesia mulai menerapkan regulasi yang mewajibkan sertifikasi halal untuk semua produk kosmetik, makanan, dan obat-obatan.
Saat ini, tidak hanya produk kosmetik lokal saja yang harus memiliki sertifikat Halal. Brand-brand besar berskala internasional pun harus turut serta menyesuaikan produksi mereka dengan standar halal
Empat Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda Kecantikan
1998 - Berkembang dalam Krisis Ekonomi
Tahun 1998 juga menandai berdirinya beberapa perusahaan seperti PT Kosmetikatama Super Indah dengan produk Inez, yang menawarkan lebih banyak varian dan formula make up untuk warna kulit orang Indonesia.
Pendiri PT Vitapharm
Selain itu, di 1998 salah satu perusahaan kosmetik terbesar Indonesia, Viva Cosmetics mengubah namanya menjadi PT Vitapharm.
Viva Cosmetics sendiri sudah berdiri sejak tahun 1962, didirikan oleh. Nama Viva Cosmetics besar lewat berbagai produk kecantikan dan skincare-nya yang harganya relatif murah, tetapi tetap berkualitas.
Para penggunanya, terutama generasi milenial pasti sudah tidak asing dengan produk-produk seperti serum, face mask, eyeliner, fresh/milk cleanser, hingga color correcting primer.
Perkembangan perusahaan-perusahaan kosmetik tersebut membuktikan ketahanan industri kecantikan kala itu di tengah huru-hara krisis 1998.
Namun, pada tahun yang sama, tren juga berubah, dengan standar kecantikan baru dan mulai masuknya pengaruh budaya dari Eropa, Jepang, hingga Korea.
1999 - Regulasi Makin Kuat
Setelah brand-brand internasional semakin banyak masuk ke Indonesia, merek-merek high end seperti Mac dan Maybelline makin menjamur dan banyak dicari. Selain itu, artis-artis papan atas dari Barat, Amerika dan Inggris jadi kiblat make up.
Selain soal tren, perkembangan industri kosmetik juga mulai didukung oleh regulasi yang lebih kuat, seperti Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang memberikan perlindungan hukum bagi konsumen terhadap produk-produk yang tidak sesuai standar.

2000 - Transformasi Industri Kosmetik
Memasuki era baru, perkembangan industri kosmetik Indonesia di awal 2000-an juga mengalami transformasi besar.
Di era awal 2000-an, banyak bermunculan berbagai brand kosmetik lokal. Berbeda dengan sebelumnya yang banyak berfokus pada budaya dan warisan tradisional, merek-merek yang muncul mencoba lebih up to date pada tren global.
2002 - Brand Lokal Bermunculan
Pada tahun 2002, mulai muncul merek lokal pendatang baru, antara lain Azarine Cosmetic, yang sayangnya baru tenar beberapa tahun belakangan ini.
Pendiri Azarine Cosmetics
Azarine Cosmetic adalah brand kosmetik lokal yang didirikan di Surabaya, Jawa Timur. Awalnya Azarine lebih dikenal sebagai brand yang menyediakan berbagai produk perawatan spa dan salon.
Namun, pada 2015, pendirinya, Cella Vanessa Tjahyanto dan Brian Lazuardi Tjahyanto melakukan rebranding dan, melakukan berbagai terobosan, menyesuaikan produk-produknya dengan kebutuhan dan tren saat itu, sehingga kini Azarine sukses menjadi salah satu brand kecantikan lokal yang banyak diminati.
2003 - Awal Perkembangan Minat pada Kosmetik
Di samping kemunculan brand baru, perkembangan industri kosmetik juga mulai memberikan dampak pada perekonomian negara.
Minat konsumen terhadap produk kosmetik semakin tinggi, sehingga konsumsi dan produksi kosmetik juga turut meningkat.
Berdasarkan data Departemen Perindustrian kala itu, tercatat rata-rata konsumsi kosmetik meningkat sebesar 14,7% dan produksinya meningkat sekitar 12,22% pada periode 2003-2007.
Industri kecantikan mulai memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi negara dan juga menciptakan banyak lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung.
2008 - Krisis Ekonomi Global
Setelah berhasil mencatatkan pertumbuhan pesat di tahun sebelumnya, pada 2008 dunia diadang krisis. Di masa ini, industri kosmetik dan kecantikan sempat terjeda, terutama brand lokal karena banyak yang harus berhenti berproduksi.
Namun, Kemenko Perekonomian mencatat meskipun terdampak krisis global, industri kosmetik secara keseluruhan masih bertumbuh positif. Di Indonesia, industri kosmetik tumbuh signifikan dengan kontribusi 1,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
2010 - Era Media Sosial
Tahun ini menjadi pintu masuk era media sosial. Di periode ini, banyak brand lokal yang muncul dan dengan penuh perjuangan bersaing dengan pasar impor dan brand luar yang semakin banyak, termasuk dari China. Hal ini menyebabkan penjualan produk kosmetik domestik tidak banyak bergerak.
Namun, dengan kemunculan media sosial, muncul pula profesi-profesi baru, yang membuat skema pemasaran produk menjadi serba baru.
Ada orang-orang yang menjadi beauty blogger, kemudian beauty vlogger di platform seperti YouTube dan Instagram, lalu tak hanya memasarkan produk, tapi juga menciptakan tren baru hingga tutorial make up.
Di era ini, iklan di media tradisional tak lagi jadi andalan. Konsumen tidak lagi bergantung sepenuhnya pada iklan tradisional, tetapi mulai banyak mengulik lebih dalam lewat konten review dan rekomendasi dari kreator konten.
2012 - Konsumsi Kosmetik Bertumbuh
Brand lokal mulai mendominasi. Adapun, tingkat konsumsi dan produksi juga meningkat.
Kementerian Perindustrian mencatat proyeksi omzet industri kosmetik nasional mencapai Rp9,76 triliun, naik dari Rp8 triliun pada tahun sebelumnya.
Selain itu, dengan brand lokal mendominasi, mereka juga mulai marak melakukan ekspor. Kemenperin juga mencatat pertumbuhan ekspor kosmetik diperkirakan mencapai US$406 juta pada 2012.

2015 - Tren Bahan Alami
Setelah muncul media sosial, konsumen semakin terbuka dengan perkembangan inovasi dan keilmuan di balik hadirnya suatu produk.
Di tahun ini, produk-produk yang menggunakan bahan alami atau dibuat berdasarkan sain semakin laris dan diminati. Penggunaan produk kosmetik yang punya manfaat mengobati juga menjadi tren dan segmen yang menarik, terutama bagi kelas menengah atas, dan mendorong permintaan.
Pendiri Mineral Botanica
Sambil menyambut tren tersebut, pada tahun 2015 juga menjadi awal berdirinya Mineral Botanica, yang didirikan pada April 2015 oleh Widy Susindra dan Anita Loeki.
Keduanya adalah pasangan suami istri ini kembali dari AS pada akhir tahun 2010 untuk mengambil alih bisnis manufaktur kontrak kosmetik keluarga Anita.
Mineral Botanica lahir di tengah tren dan untuk mengisi celah pasar produk kosmetik yang inovatif, menarik, dan menyenangkan.
Brand ini memenangkan hati konsumen lewat produk berbahan ekstrak tumbuhan, lalu memadukannya dengan teknologi untuk menciptakan kosmetik, perawatan kulit, dan perawatan tubuh yang dapat dibanggakan oleh masyarakat Indonesia dan seluruh dunia.
Mineral Botanica juga jadi lebih dilirik karena branding-nya menggunakan bahan-bahan yang dapat didaur ulang, tidak mengandung bahan kimia berbahaya, dan menghindari produk yang diuji pada hewan. Hal-hal kecil ini mulai menjadi perhatian dari pasar kosmetik yang semakin bear.
2016 - Dari Konten Kreator jadi Pebisnis
Setelah era media sosial dan para konten kreatornya, pada periode ini banyak pula konten kreator yang akhirnya meluncurkan produknya sendiri. Beralih dari kreator konten menjadi pebisnis.
Pendiri By Lizzie Parra (BLP)
Salah satu brand kecantikan yang lahir di 2016 adalah BLP alias By Lizzie Parra.
Sesuai namanya, BLP didirikan oleh Lizzie Parra, atau dengan nama lengkap Elizabeth Christina Parameswari, yang punya latar belakang sekolah fashion dan pecinta seni. Namun, namanya melambung ketika menjadi konten kreator kecantikan dan Make Up Artist (MUA).
BLP menonjol karena tak hanya mengembangkan produknya, tapi lebih dari itu, mengedepankan nilai-nilai bahwa cantik tidak harus putih atau langsing, tapi bagaimana seorang perempuan bisa menjadi dirinya sendiri.
2018 - Tren K-Beauty
Setelah tren-tren dan gaya kecantikan ala barat lewat, masuklah tren kecantikan Korea dan China di Indonesia. Di periode ini, konsumen mulai menyadari bahwa cantik bukan hanya dari riasan, tapi juga dari cara merawat kesehatan kulit.
Dalam perkembangannya, produk skincare jadi segmen terlaris dan terbesar. Trennya lalu berkembang meliputi penggunaan bahan alami, sampai 10 langkah perawatan kulit dan pewarna bibir ombre.
2020 - Pandemi Covid-19 dan Booming Belanja Online
Memasuki 2020, seluruh industri terpengaruh oleh pandemi Covid-19, termasuk industri kecantikan. Namun, dengan perkembangan teknologi yang pesat, dan bantuan dari berbagai platform e-commerce. Konsumsi kosmetik dan industri kecantikan Indonesia secara umum tetap berhasil tumbuh meskipun melambat dari tahun sebelumnya.
Kementerian Perindustrian mencatat adanya peningkatan nilai pendapatan industri kecantikan mencapai Rp 99,33 triliun. Besaran pendapatan tersebut tak lepas dari pergeseran kebiasaan konsumen untuk belanja online.
Pandemi Covid-19 mendorong masyarakat lebih memperhatikan perawatan diri, sehingga pada periode ini, produk perawatan kulit baik wajah dan tubuh mengalami lonjakan permintaan.
Di masa pandemi, semua orang juga mengandalkan media sosial dan konten untuk memasarkan produk. Di tahun ini, akhirnya banyak pula brand lokal semakin menjamur, dengan beberapa brand yang sudah berdiri beberapa tahun sebelumnya juga makin naik daun.
2022 - Tren Bahan Alami Lokal dan “Glass Skin”
Inovasi produk semakin dipertimbangkan. Konsumen mulai cenderung mencari mencari produk kosmetik berbasis medis atau punya bukti khasiat secara ilmiah. Konsumen juga lebih kritis terhadap kandungan bahan aktif yang terdapat dalam produk yang mereka beli.
Beberapa bahan alami yang jadi tren dan paling banyak dicari saat itu adalah produk dengan Centella asiatica, green tea, chamomile, dan Ceramide. Namun, di sisi lain, tren ini membuat banyak brand berlomba dan memunculkan produk dengan kandungan yang sama.
Selain itu, muncul tren make up "Glass Skin" , masih dari Korea Selatan dan China, yang membuat banyak orang berlomba punya kulit "bening" yang bersih dan bercahaya.
Selain itu, produk yang lebih ramah lingkungan, seperti vegan, cruelty-free, dan not animal-tested, juga makin banyak dipertimbangkan dan mengalami peningkatan permintaan
2025 - Booming AI
Seiring dengan booming AI, industri kecantikan juga tak luput. Beberapa brand besar banyak menggelar kegiatan aktivasi dan menggunakan AI untuk memberikan rekomendasi produk yang dipersonalisasi berdasarkan kebutuhan konsumen.
Lalu, setelah lelah dengan skincare 10 langkah, tahun ini banyak konsumen yang mencari produk dengan fungsi gabungan sehingga lebih efisien.
Adapun, Kementerian Perindustrian mencatat, tahun ini konsumen semakin banyak mencari produk yang berbahan dasar bukan hanya alami tapi juga yang didapatkan secara lokal.
Kepala Biro Humas Kemenperin Ronggolawe Sahuri mengemukakan bahwa Indonesia masih memiliki potensi dan peluang yang besar dalam pengembangan industri kosmetik. Terlebih karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya akan tanaman herbal, yang secara turun temurun banyak digunakan untuk obat tradisional dan produk kosmetik.
“Hutan tropis Indonesia memiliki tidak kurang dari 30.000 spesies tumbuhan, di mana sekitar 9.600 di antaranya diketahui memiliki khasiat obat dan kosmetika. Ini juga menjadi kekuatan bagi Indonesia di tengah gempuran masuknya produk impor, dengan dikarunia bahan baku alam yang sangat banyak,” ungkapnya.
Ronggo juga menyampaikan, kinerja industri kosmetik dari sisi ekspor juga terus menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor produk minyak atsiri, parfum dan kosmetik Indonesia ke dunia pada tahun 2023 menembus angka US$842 juta, naik US$16 juta jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Selain itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita menyebutkan, dalam tiga tahun pasca-pandemi, jumlah pelaku usaha di sektor kosmetik melonjak lebih dari 77%, dari 726 pelaku usaha pada 2020 menjadi 1.292 pada 2024 yang terdiri dari 83 persen perusahaan mikro dan kecil, serta 17 persen industri menengah dan besar.
"Peningkatan ini mencerminkan daya saing dan inovasi yang terus berkembang, menjadikan industri kosmetik sebagai salah satu sektor yang harus terus dikembangkan dan memiliki prospek yang positif,” ujarnya.
Selain itu, dalam skala global, industri kosmetik diperkirakan akan mencapai nilai US$677,2 miliar pada tahun 2025 dengan pertumbuhan sebesar 3,37%.
Indonesia juga memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri kecantikan, mengingat populasi wanita yang mencapai lebih dari 141,8 juta jiwa dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan diri.
State of Global Islamic Economy 2023/2024 juga melaporkan bahwa tren konsumsi kosmetik halal domestik juga semakin menguat. Indonesia sendiri menempati posisi kedua sebagai negara konsumen produk kosmetik halal terbesar di dunia.
La Tulipe Rebranding, Siap Bersaing dengan Brand Internasional
La Tulipe rebranding untuk bersaing global, tetap aman dan relevan bagi wanita Indonesia. Fokus pada kualitas, inovasi, dan memperluas jangkauan pasar. [600] url asal
#la-tulipe #la-tulipe-rebranding #kosmetik-lokal #brand-kosmetik-indonesia #kosmetik-aman #kosmetik-terpercaya #kosmetik-berkualitas #kosmetik-indonesia #produk-lokal-indonesia #brand-internasional #re
(Bisnis.Com - Terbaru) 31/10/25 16:32
v/23037/
Bisnis.com, BANDUNG -- Merek kosmetik lokal legendaris asal Indonesia, La Tulipe, resmi meluncurkan identitas barunya melalui rangkaian acara “Rebranding La Tulipe” yang digelar di tiga kota besar yakni Bandung, Solo, dan Surabaya.
Acara ini menjadi momentum penting bagi La Tulipe untuk menegaskan kembali komitmennya sebagai brand yang aman, terpercaya, dan terus relevan bagi perempuan Indonesia lintas generasi.
Didirikan pada tahun 1980, La Tulipe telah dikenal selama lebih dari empat dekade sebagai kosmetik dengan kualitas tinggi, aman digunakan, dan minim alergi.
Dalam usia yang ke-45 tahun, La Tulipe kini tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan modern untuk menjawab kebutuhan perempuan masa kini, khususnya mereka yang berusia 30–40 tahun, baik sebagai ibu rumah tangga maupun perempuan karier aktif.
“Rebranding ini bukan sekadar perubahan visual, melainkan wujud komitmen La Tulipe untuk tetap relevan dan dekat dengan konsumen. Kami ingin terus menjadi brand yang dipercaya, aman, dan mendukung setiap perempuan tampil sebagai versi terbaik dirinya,” ujar Kuncoro Tanudirjo, Chief Executive Officer La Tulipe di Pascal Mal, Kota Bandung, Kamis (30/10/2025).
Kuncoro Tanudirjo menegaskan bahwa potensi industri kosmetik di Indonesia masih sangat besar, didukung populasi perempuan yang tinggi dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya perawatan diri.
“Kami percaya bahwa pasar Indonesia bisa menjadi tuan rumah bagi produk lokal. Karena itu, La Tulipe akan terus menjaga kualitas dan inovasi agar dapat bersaing dengan brand internasional,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri. “Konsumen perempuan Indonesia itu cerdas. Mereka tidak hanya mencari produk murah, tetapi juga yang aman dan cocok untuk kulitnya. Itulah kekuatan La Tulipe — kami sudah terbukti aman dan terpercaya selama lebih dari empat dekade,” tegas Kuncoro.
Rangkaian acara rebranding di Bandung ini akan diisi dengan berbagai kegiatan menarik, mulai dari talkshow edukasi kesehatan kulit bersama dokter spesialis, beauty class dan makeup show oleh MUA professional, parenting session serta family activity.
Tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati lifestyle activation seperti personal color, flower arrangement, cake decorating, yoga, body combat, dan zumba, serta penampilan hiburan spesial dari sejumlah bintang tamu.
Menurut Grace Tanudirjo, Product Development Executive La Tulipe, perubahan identitas visual ini tidak menghapus akar sejarah brand, melainkan menegaskan kembali nilai-nilai yang telah ada sejak awal berdirinya.
“Kita ingin orang mengingat bahwa La Tulipe sudah berdiri sejak 1980. Proses rebranding ini seperti menemukan kembali jati diri brand, tapi dengan tampilan yang lebih modern,” ujarnya.
Logo baru La Tulipe kini tampil lebih luwes dan dinamis, dengan tetap mempertahankan simbol bunga tulip sebagai ciri khas. Warna ungu yang ikonik juga kembali dihadirkan secara dominan, sementara tulisan “EST. 1980” kini menggantikan tulisan “Cosmetics” untuk memperkuat pesan bahwa La Tulipe adalah brand yang telah terbukti bertahan selama puluhan tahun.
Grace menambahkan, rebranding ini tidak bermaksud mengubah segmen pasar menjadi lebih muda, melainkan memperluas jangkauan agar bisa dinikmati oleh berbagai generasi.
“Kami ingin La Tulipe tetap relevan bagi ibu-ibu muda, remaja, maupun konsumen loyal yang sudah bersama kami sejak dulu,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Grace juga mengungkapkan bahwa La Tulipe tengah mempersiapkan rangkaian produk baru, baik skin care maupun kosmetik dekoratif, yang seluruhnya telah diuji secara dermatologis (dermatologically tested).
Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan produk sesuai regulasi terkini, mengingat pendiri La Tulipe, adalah seorang dermatolog yang sejak awal menanamkan prinsip kehati-hatian dalam formulasi produk.
“Dulu semua produk diuji secara internal untuk memastikan tidak menimbulkan alergi. Kini, kami melakukan pengujian di lembaga independen bersertifikat agar hasilnya terverifikasi secara ilmiah,” tambah Grace.
Ke depan, La Tulipe berkomitmen untuk memperkuat segmen pasar perempuan produktif usia 25–40 tahun dengan pendekatan yang lebih modern, namun tetap mempertahankan keunggulan formulasi aman dan harga yang terjangkau.
Mengintip Pebisnis Kosmetik Lokal Meracik Inovasi Untuk Gaet Konsumen
Industri kosmetik lokal Indonesia berinovasi dengan bahan baku alami dan sertifikasi halal untuk bersaing di pasar global, meski 80% bahan baku masih impor. [92] url asal
#kosmetik-lokal #inovasi-kosmetik #tren-kecantikan #bahan-baku-alami #sertifikasi-halal-kosmetik #pasar-kosmetik-indonesia #industri-kecantikan-nasional #produk-skincare-lokal #bahan-baku-impor #kosmet
(Bisnis.Com - Terbaru) 01/01/70 07:00
v/220513/
Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah membanjirnya produk kosmetik dan perubahan tren kecantikan yang cepat, pelaku kosmetik lokal kini tak lagi cukup hanya mengandalkan klaim manfaat produk. Persaingan yang semakin ketat mendorong industri kecantikan nasional meracik inovasi dari hulu ke hilir, mulai dari pengembangan bahan baku alami lokal, riset teknologi skincare, hingga penguatan sertifikasi halal sebagai strategi memperluas pasar global.
Dengan nilai pasar kosmetik Indonesia yang diproyeksikan menembus US$10 miliar pada 2026, jenama lokal melihat momentum untuk menjadi pemain utama di pasar domestik, sekaligus membangun identitas agar mampu bersaing di pasar internasional.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)