Bisnis.com, JAKARTA — Danantara Indonesia menargetkan tingkat pengembalian aset (return on asset/ROA) di kisaran 3% hingga 5% lewat asset under management (AUM) yang diperkirakan tembus hampir US$1 triliun.
Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara, Muliaman Hadad, mengatakan bahwa jika mampu mencapai tingkat pengembalian aset di kisaran 3% hingga 5%, maka dana yang bisa dialokasikan kembali untuk pembangunan akan sangat besar.
“Ini kalau semuanya running well atau berjalan baik dan ROA 5% yang bisa dialokasikan, itu potensi untuk menjadi additional engine luar biasa besar," ujar Muliaman dalam sebuah pemaparan di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, skala aset yang mencapai kisaran US$1 triliun tersebut diyakini akan menjadi magnet bagi investor global. Muliaman menyebut fenomena ini sebagai "Indonesia Premium," di mana besarnya kapasitas pengelolaan dana akan membangun kepercayaan dan kredibilitas di mata dunia.
Dengan ukuran tersebut, Danantara disebut tidak perlu mendanai seluruh proyek strategis secara mandiri. Lembaga tersebut dapat berperan sebagai jangkar investasi dengan porsi sekitar 20% hingga 30%.
“Selebihnya adalah co-investor dan biasanya co-investor dari luar itu adalah sovereign wealth fund negara-negara lain,” pungkas Muliaman.
Dalam operasionalnya, Danantara akan mengelola dana yang berasal dari dividen BUMN untuk dua tipe investasi utama. Pertama, investasi yang bersifat murni komersial untuk menjaga keberlanjutan dana.
Kedua, investasi yang dialokasikan untuk proyek-proyek pembangunan guna mendorong pertumbuhan ekonomi baru, seperti hilirisasi industri dan pengurangan ketergantungan impor. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi devisa negara sekaligus menciptakan lapangan kerja lintas generasi.
Dalam pemberitaan Bisnis.com sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meminta kepada Danantara untuk dapat menghasilkan ROA sebesar 7%. Namun, target itu terbilang berat lantaran utilisasi aset yang rendah masih menjadi ganjalan utama dalam mendongkrak profitabilitas perusahaan pelat merah.
Associate Director BUMN Research Group FEB UI, Toto Pranoto, mengatakan bahwa target itu cukup sulit dicapai dalam jangka pendek hingga menengah. Hal itu mengingat posisi ROA BUMN saat ini diperkirakan baru menyentuh 1,88%.
Di samping itu, dia juga melihat situasi pareto di tubuh BUMN belum menunjukkan perubahan signifikan. Kondisi ini tecermin dari kontribusi laba bersih yang masih didominasi oleh segelintir perusahaan blue chips.
"Sebagian besar BUMN lainnya belum mampu menyumbang kinerja yang signifikan. Oleh karena itu, target ROA 7% menurut saya masih sulit dicapai dalam jangka pendek," ujar Toto kepada Bisnis baru- baru ini.