Bisnis.com, JAKARTA — Harga tembaga kembali melanjutkan reli tajam hingga menembus level US$13.000 per ton untuk pertama kalinya, alias mencapai all time high, seiring dengan lonjakan pengiriman logam ke Amerika Serikat yang kembali memanaskan sentimen bullish di pasar.
Melansir Bloomberg pada Selasa (6/1/2026) harga acuan tembaga di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak hingga 4,7% dan menembus US$13.000 per ton sebelum bergerak pada level US$12.991,50 per ton.
Kenaikan tersebut melanjutkan rangkaian penguatan yang telah mengerek harga tembaga sekitar 20% sejak pertengahan November 2025.
Reli tersebut ditopang oleh derasnya arus pengiriman tembaga ke AS, seiring berlanjutnya ancaman tarif impor dari Presiden Donald Trump yang membuat harga tembaga di pasar AS diperdagangkan dengan premi signifikan dibandingkan LME.
Kondisi ini memicu kekhawatiran kekurangan pasokan tembaga di negara lain serta menarik minat investor yang sudah lebih dulu optimistis terhadap logam tersebut berkat perannya di pusat data hingga baterai kendaraan listrik.
“Akumulasi persediaan tembaga AS yang berskala historis masih menjadi penggerak utama harga tembaga global,” kata analis komoditas BMO Capital Markets, Helen Amos.
Sementara itu, Senior Base Metals Strategist di Marex, Al Munro mengatakan bahwa aksi mogok kerja di tambang Mantoverde di Chile turut memicu aktivitas spekulatif di pasar.
“Faktanya, ini adalah reli yang didorong dana spekulatif, karena pasar melihat masih ada ruang kenaikan, terutama pada kuartal I/2026, dengan banyak pelaku yang sebelumnya menunggu koreksi harga,” ujar Munro.
Tembaga kian menjadi sorotan di tengah kekhawatiran pemerintah terhadap pasokan mineral kritis. Logam ini berperan vital dalam transisi energi karena digunakan secara luas pada instalasi kelistrikan.
Namun, pelaku industri telah lama memperingatkan bahwa investasi tambang baru tidak sejalan dengan pertumbuhan permintaan, sementara tambang-tambang eksisting kerap menghadapi berbagai gangguan operasional.
Kenaikan harga tembaga juga diperkuat lonjakan harga logam lainnya. Arus dana investor telah mendorong emas, perak, dan platinum ke level rekor dalam beberapa hari terakhir, sementara aluminium dan timah mencetak harga tertinggi dalam beberapa tahun.
Gangguan pasokan global turut memperketat pasar. Tahun lalu, kecelakaan fatal di tambang tembaga terbesar kedua dunia di Indonesia serta banjir bawah tanah di Republik Demokratik Kongo menjadi faktor yang mendorong harga tembaga naik.
“Bertahun-tahun kurangnya investasi dan gangguan produksi tambang membuat pasar nyaris tanpa bantalan pasokan, sementara ketidakpastian kebijakan tarif dan aksi penimbunan memperparah tekanan ketersediaan logam,” ujar Ewa Manthey, commodities strategist di ING Groep NV.
Meski demikian, analis menilai pergerakan harga terbaru terutama dipicu ketidakpastian kebijakan tarif impor AS. Trump sebelumnya memicu lonjakan besar pengiriman tembaga ke AS pada paruh pertama tahun lalu, sebelum menghentikan arus tersebut secara mendadak pada akhir Juli 2025 dengan mengecualikan tembaga olahan dari tarif impor.
Namun, arus perdagangan kembali hidup dalam beberapa bulan terakhir setelah rencana peninjauan ulang tarif impor membuat harga tembaga di AS kembali diperdagangkan dengan premi. Data perdagangan menunjukkan impor tembaga AS pada Desember 2025 melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2025.
Kepala divisi logam Mercuria Energy Group Ltd., Kostas Bintas, pada November 2025 lalu memperingatkan bahwa lonjakan impor AS berpotensi menguras pasokan global, seraya menyebut situasi ini sebagai momen besar bagi investor bullish tembaga.
“Persediaan yang rendah di bursa-bursa utama di luar AS menyisakan ruang yang sangat terbatas untuk menyerap guncangan pasokan tambahan,” kata Manthey.
Menurut UBS, AS saat ini menguasai sekitar 50% persediaan tembaga global, tetapi hanya menyumbang kurang dari 10% permintaan dunia, sehingga meningkatkan risiko kekurangan pasokan di wilayah lain.
Sementara itu, di LME, selisih harga kontrak tunai dan tiga bulan tetap berada dalam kondisi backwardation, menandakan ketatnya pasokan jangka pendek.
“Kami memperkirakan pasar tembaga olahan global sebenarnya mengalami surplus pada 2025, tetapi arus logam dan persediaan terdistorsi oleh kebijakan tarif AS yang mendorong lonjakan impor secara signifikan,” tulis analis UBS Group AG, termasuk Daniel Major, dalam sebuah catatan.