#30 tag 24jam
Grab Bantah Rumor Akan Tinggalkan Indonesia, Tegaskan Komitmen Jangka Panjang
Grab Indonesia membantah kabar yang beredar mengenai rencana perusahaan untuk menghentikan operasinya atau keluar dari Indonesia. [261] url asal
#grab-indonesia #grab #startup #ekonomi-digital #ekonomi-indonesia #aplikasi-transportasi-daring
Jakarta: Grab Indonesia membantah kabar yang beredar mengenai rencana perusahaan untuk menghentikan operasinya atau keluar dari Indonesia. Perusahaan menegaskan informasi tersebut tidak benar dan tidak memiliki dasar yang valid.CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menyatakan Grab tetap berkomitmen menjalankan bisnisnya di Indonesia serta terus mendukung pengembangan ekonomi digital nasional. Menurutnya, perusahaan juga akan terus menghormati berbagai kebijakan dan arahan yang ditetapkan pemerintah.
Ia menegaskan Indonesia merupakan salah satu pasar dan ekosistem yang sangat penting bagi Grab. Selama lebih dari satu dekade beroperasi di Tanah Air, Grab terus berupaya tumbuh bersama masyarakat dan mengambil peran aktif dalam mendukung aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
“Indonesia merupakan ekosistem penting bagi Grab, kami telah hadir untuk Indonesia selama lebih dari 10 tahun dan kami berkomitmen untuk terus bertumbuh dan mengambil peran aktif dalam mendukung kehidupan masyarakat Indonesia,” ujar Neneng dalam pernyataan resmi, dikutip Kamis, 4 Juni 2026.
Perusahaan menyebut kontribusinya tidak hanya melalui layanan transportasi dan pengantaran daring, tetapi juga lewat berbagai program pemberdayaan ekonomi. Grab mengklaim berkontribusi terhadap sekitar 50 persen industri ride-hailing dan layanan pengantaran online di Indonesia.
Selain itu, Grab menyatakan telah membantu menciptakan sekitar 4,6 juta peluang kerja melalui digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perusahaan juga menjalankan berbagai program dukungan bagi mitra pengemudi melalui inisiatif Grab untuk Indonesia dengan nilai manfaat yang disebut telah melampaui Rp100 miliar.
Grab menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, mitra pengemudi, pelaku UMKM, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Bagi perusahaan, Indonesia bukan hanya pasar bisnis, melainkan rumah tempat Grab tumbuh dan berkembang bersama jutaan masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistemnya.
(SAW)
Google Buka Program Accelerator AI, Startup RI Bisa Masuk Radar Investor Dunia
Google membuka program akselerator untuk membantu startup Indonesia mengembangkan produk AI hingga bertemu investor global. [719] url asal
Google Cloud membuka peluang bagi startup Indonesia untuk mengakses teknologi AI generasi terbaru sekaligus memperluas jaringan bisnis hingga ke level global melalui program Google for Startups Accelerator: Southeast Asia.
Program itu merupakan inisiatif lintas-negara terbaru yang dirancang untuk membantu para pendiri startup mengembangkan dan mengomersialisasikan produk AI agentik yang dikembangkan.
Melalui program tersebut, startup yang memenuhi syarat akan memperoleh akses ke teknologi full-stack AI Google Cloud, termasuk Tensor Processing Units (TPUs), Agentic Data Cloud, Gemini Enterprise Agent Platform, dan Google Antigravity, serta dukungan hingga US$ 350 ribu dalam bentuk cloud credits melalui Google for Startups Cloud Program untuk pelatihan end-to-end, fine-tuning, dan serving agen AI yang aman dan grounded.
Para startup juga bakal mendapatkan akses awal atau first-mover advantage ke model AI terbaru Google, termasuk Gemini 3.5, serta berbagai agentic enterprise tools melalui program Trusted Tester dan Early Access.
Akses tersebut memungkinkan startup mulai mengembangkan solusi berbasis AI sebelum model dan tools tersebut tersedia secara luas di pasar.
Dalam program ini, startup peserta juga akan memperoleh peningkatan kemampuan teknis melalui bootcamp yang digelar di Google Developer Space, Garuda Spark Innovation Hub (GSIH), fasilitas NIC, dan kantor pusat SIHUB.
Para founder dan tim startup akan dibekali kemampuan lanjutan di bidang agentic coding, AI context engineering, large language model operations (LLMOps), hingga orkestrasi sistem multi-agent.
Selain pelatihan, startup peserta akan mengikuti product development sprint dan architectural review bersama technical lead dari pusat engineering Google Cloud dan laboratorium riset AI Google DeepMind di Singapura, dengan dukungan wawasan dari tim AI global Google.
Google Cloud juga menyiapkan dukungan ekosistem lintas fungsi bagi startup peserta. Dukungan tersebut mencakup mentorship dari tim produk Android, Google Ads, Google Pay, dan Google Play.
Startup juga dapat memanfaatkan jaringan mitra Google yang terdiri dari modal ventura, konglomerasi, unicorn, dan konsultan spesialis untuk membantu menghadapi tantangan bisnis, mulai dari pengelolaan kekayaan intelektual hingga akuisisi talenta dan growth marketing.
Tak hanya itu, startup peserta akan memperoleh kesempatan mempresentasikan produk mereka kepada investor modal ventura, angel investor, dan pelanggan enterprise dalam demo day serta startup summit yang diselenggarakan Google di Singapura.
Head of Developer Ecosystems Asia Pacific Google Cloud, Sami Kizilbash, mengatakan Google for Startups Accelerator: Southeast Asia akan mendukung startup AI tahap Seed hingga Series B dari berbagai industri di enam negara.
Sejak 2018, program akselerator tersebut telah membantu lebih dari 200 startup tahap awal di Asia Tenggara membangun produk baru, memperoleh pendanaan senilai US$6,6 miliar, serta menciptakan lebih dari 11.300 lapangan kerja.
Program itu dijalankan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Indonesia, EnterpriseSG, serta NIC dan SIHUB yang akan memberikan dukungan tambahan yang disesuaikan bagi startup dari Indonesia, Singapura, dan Vietnam.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, penguatan ekosistem AI menjadi langkah penting dalam mempercepat transformasi digital Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
“Sebagai salah satu ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia terus mendorong pengembangan dan adopsi solusi AI yang memberikan dampak nyata di berbagai sektor strategis, termasuk pendidikan, ketahanan pangan, dan kesehatan,” kata Edwin dalam keterangan pers, Rabu (3/6).
Ia mengatakan dukungan berkelanjutan dari Google Cloud dalam pengembangan kapasitas, akses terhadap teknologi frontier, dan pengembangan ekosistem diharapkan dapat mendorong semakin banyak founder Indonesia membangun dan mengembangkan inovasi digital yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Country Director Google Indonesia Veronica Utami menambahkan, program Google for Startups telah menunjukkan dampak nyata dalam membantu startup Indonesia meningkatkan kapabilitas AI engineering.
Menurut dia, peningkatan kemampuan tersebut membantu startup mengembangkan solusi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat.
Veronica mencontohkan tutor AI adaptif milik Analitica yang telah membantu lebih dari 200.000 pelajar. Selain itu, terdapat agen AI agronomi DayaTani yang memberikan panduan real-time kepada petani untuk mengoptimalkan hasil panen.
Ia juga menyinggung solusi rekomendasi diagnosis dan transkripsi konsultasi berbasis AI dari Nexmedis yang membantu dokter memberikan layanan kesehatan lebih cepat dan mendalam bagi pasien di wilayah terpencil.
“Kolaborasi kami dengan Komdigi dalam koridor inovasi ini akan menghubungkan lebih banyak founder lokal dengan sumber daya kelas dunia dan pusat teknologi global, sehingga mereka dapat membangun, memiliki, dan mengembangkan solusi yang mendukung prioritas nasional serta menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia yang beragam,” ujar Veronica.
Pendaftaran program telah dibuka untuk 25 startup pertama yang akan mengikuti Google for Startups Accelerator: Southeast Asia selama tiga bulan tanpa pengambilan ekuitas atau equity-free. Program ini dijadwalkan dimulai pada Agustus.
Berikan Pendanaan ke 72 Tim Siswa, Ini Cara East Ventures Dorong Ekosistem Startup Muda di Singapura
Program “My First $1000” memberikan pandanaan kepada 72 tim siswa. Program yang diinisiasi oleh East Ventures ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem startup di Singapura dengan menumbuhka [608] url asal
#singapura #siswa #startup #ekosistem-startup #kewirausahaan #ekonomi-indonesia #ekonomi-global
Singapora: Program “My First $1000” memberikan pandanaan kepada 72 tim siswa. Program yang diinisiasi oleh East Ventures ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem startup di Singapura dengan menumbuhkan budaya kewirausahaan sejak usia sekolah.Program yang dimulai pada Februari 2026 tersebut resmi mencapai puncaknya melalui Showcase Day yang digelar pada 30 Mei 2026 di SCAPE, Singapura. Kegiatan ini menutup rangkaian delapan minggu pembelajaran kewirausahaan yang dirancang untuk mendorong pelajar membangun dan menjalankan ide bisnis secara langsung, dengan penekanan pada integritas, rasa kepemilikan, serta akuntabilitas.
Acara Showcase Day mempertemukan para peserta terpilih untuk memamerkan produk dan model bisnis mereka melalui pameran stan, gallery walk, hingga sesi presentasi di depan publik..
Dalam sesi penutupan, sejumlah penghargaan diberikan kepada tim peserta yang menunjukkan capaian terbaik di berbagai kategori. Selain itu, peserta juga menerima pencairan hibah padanan (matching grants) sebagai bentuk dukungan pengembangan usaha mereka.
Beragam kategori penghargaan diberikan, mulai dari tim dengan pendapatan tertinggi hingga inovasi paling inspiratif. Di antaranya, Drummer Dreammaker meraih penghargaan pendapatan tertinggi berkat layanan kursus drum dan penyewaan ruang latihan yang mereka kembangkan. Sementara itu, Brandy Club dinobatkan sebagai The Carousell Hustler Award atas performa penjualan tertinggi di platform Carousell melalui produk fesyen kurasi.
Kategori The Apprentice Award diberikan kepada Sweet Gains yang mengembangkan produk dessert tinggi protein sekaligus aktif memanfaatkan bimbingan mentor. Penghargaan The Booth Champion diraih Bucha Scoops yang konsisten menjalankan penjualan sorbet kombucha selama empat hari pameran.
Di sisi lain, Brewed By Davine menerima The Influencer Award berkat keberhasilan membangun komunitas digital dengan lebih dari 3.500 pengikut melalui strategi media sosial yang kuat.
Adapun 3Ds, tim yang fokus pada layanan pencetakan 3D dan penjualan kembali suku cadang komputer, meraih The Budding Star Award, dengan salah satu anggotanya masih berusia 13 tahun.
Untuk kategori keberlanjutan, Revive Tech dianugerahi The Eco Champion atas kontribusinya dalam layanan perbaikan dan penjualan laptop rekondisi guna mengurangi limbah elektronik.
Sementara itu, Kampong Keepsakes mendapatkan The Grit Award setelah menunjukkan ketangguhan dengan melakukan pivot produk dalam waktu singkat setelah eksperimen awal tidak berhasil. Penghargaan pilihan audiens (Audience Choice Award) jatuh kepada BloomBallSG yang bergerak di bidang dekorasi dan rangkaian balon.
Co-Founder and Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, mengatakan program ini dirancang sebagai ruang belajar langsung bagi generasi muda untuk memahami dunia kewirausahaan secara praktis. Ia menilai, seluruh peserta telah berhasil keluar dari zona nyaman mereka dan mengalami langsung proses membangun bisnis, mulai dari pengambilan risiko hingga eksekusi ide di lapangan.
“Program My First $1000 dibangun atas keyakinan bahwa cara terbaik belajar entrepreneurship adalah dengan praktik langsung. Para siswa telah menunjukkan keberanian untuk mencoba, gagal, dan mencoba lagi. Ini menjadi bukti bahwa Singapura memiliki fondasi kuat untuk melahirkan generasi entrepreneur masa depan,” ujar Willson.
Salah satu peserta, Avin Taishiran Teo dari tim Wuna, mengungkapkan pengalaman mengikuti program ini memberikan pelajaran penting tentang proses iterasi dalam bisnis. Wuna mengembangkan perangkat wearable yang dirancang untuk membantu meredakan nyeri menstruasi. Menurut Avin, pengalaman menjual produk pertama kepada mentor memberikan kepercayaan diri untuk terus mengembangkan ide tersebut ke tahap berikutnya.
Sementara itu, mentor Wuna, Ee Ling Lim, menilai para entrepreneur muda memiliki keunggulan dalam hal ketahanan dan keberanian untuk bereksperimen. Ia menyebut, para siswa tidak terbebani oleh ego kegagalan seperti yang sering terjadi pada pendiri bisnis yang lebih berpengalaman, sehingga lebih cepat beradaptasi terhadap feedback dan perubahan arah bisnis.
Program ini juga mendapat dukungan dari sejumlah mitra strategis, termasuk Temasek Foundation, Golden Agri-Resources, Enterprise Singapore, JTC Corporation, ACE.SG, DBS PayLah!, Carousell, hingga berbagai institusi pendidikan dan komunitas startup di Singapura.
Melalui program ini, East Ventures berharap ekosistem kewirausahaan di Singapura dapat terus berkembang, sekaligus melahirkan generasi baru pendiri startup yang lebih adaptif, kreatif, dan berani mengambil risiko sejak usia muda.
(SAW)
Ancaman Pidana di Tengah Musim Dingin Startup Indonesia
Proses hukum terhadap petinggi dua modal ventura BUMN berpotensi menambah ketidakpastian bagi ekosistem pendanaan startup nasional. [1,082] url asal
#startup #bri-ventures #pendanaan-startup #nicko-widjaja #give-me-perspective #championdigital #champion-digital
(Katadata - In-Depth & Opini) 03/06/26 14:55
v/238911/
Proses pengadilan terhadap petinggi dua perusahaan modal ventura (venture capital/VC) milik BUMN menambah kekhawatiran musim dingin startup (tech winter) di Indonesia semakin panjang. Di tengah pendanaan yang masih lesu, kasus ini meningkatkan ketidakpastian hukum dalam pengambilan keputusan bisnis dan berinvestasi.
Kedua petinggi VC tersebut adalah Direktur Utama BRI Ventures Nicko Widjaja dan Direktur Utama MDI Ventures Donald Surjana Wihardja. Keduanya dijerat tuduhan pidana korupsi dalam pengelolaan investasi di grup usaha TaniHub. BRI Ventures adalah VC milik PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), sedangkan MDI Ventures milik PT Telkom Indonesia.
Ekosistem startup buncah lantaran, seperti yang diungkapkan tim penasihat hukum Nicko Widjaja, investasi BRI Ventures pada TaniHub sudah melewati seluruh tahapan sesuai prosedur. Fakta persidangan menunjukkan tidak ada aliran dana yang menguntungkan Nicko dari proses investasi tersebut.
Pelaku industri ventura, kata Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo), menilai kasus ini telah memunculkan diskusi tajam terkait profil risiko investasi VC.
“Khususnya yang beroperasi di bawah naungan entitas BUMN atau badan usaha milik negara lainnya,” tulis pernyataan resmi Amvesindo kepada Katadata, Jumat, 29 Mei 2026.
VC adalah investor yang menanamkan modal pada startup atau perusahaan rintisan. Selain suntikan modal, VC juga membantu startup mengembangkan bisnis dan memperoleh akses ke jaringan investor maupun mitra usaha.
Berkaca pada kasus ini, Amvesindo mendorong adanya panduan yang lebih jelas dalam tata kelola investasi VC, terutama yang berkaitan dengan aset negara. Asosiasi menilai regulasi yang jelas penting dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Tidak adanya kepastian hukum memadai membuat Indonesia berisiko kehilangan talenta terbaik dalam pengelolaan VC nasional. “Itu adalah kerugian ekosistem yang jauh lebih besar dari satu investasi yang gagal sekalipun,” tulis Amvesindo.
Memperburuk Prospek Pendanaan Startup Indonesia
Terseretnya kedua petinggi VC BUMN ini ke meja hijau membuat aliran pendanaan startup Indonesia bertambah seret. Hal ini mengingat ekosistem startup belum sepenuhnya pulih dari perlambatan ekonomi global yang terjadi sejak berakhirnya era suku bunga rendah.
Ekosistem startup Indonesia sempat mengalami kejayaan pada awal dekade 2020-an. Pada 2021, bahkan ada 6 startup mencapai status unicorn atau memiliki valuasi di atas US$ 1 miliar.
Pada tahun yang sama, Bukalapak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau IPO dengan nilai penghimpunan dana Rp 21,9 triliun. Nilai IPO ini masih jadi yang terbesar di BEI hingga saat ini. Pada 2022, giliran Gojek dan Tokopedia yang melakukan IPO setelah keduanya melakukan merger.
Dalam dua tahun terakhir, pendanaan untuk startup di Indonesia mengalami penurunan. Mengutip data DealStreetAsia, nilai pendanaan untuk startup Indonesia “hanya” sebesar US$780 juta atau setara Rp13,2 triliun (kurs Rp17.843 per dolar AS).
Nilai ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tren sebelumnya yang selalu menembus US$1 miliar (Rp17,84 triliun) per tahun. Pada 2021, pendanaan bahkan mencapai US$9,44 miliar (Rp168,4 triliun).
Volume transaksi pendanaan juga mengalami penurunan, yakni hanya 85 transaksi pada 2024 dan 66 pada 2025. Ini penurunan signifikan dari lima tahun sebelumnya ketika jumlah transaksi selalu di atas 100.
Memang, tren penurunan ini juga terjadi di negara Asia Tenggara lainnya. Namun, penurunannya tidak sedalam Indonesia.
Singapura misalnya, masih mampu meraup pendanaan sebesar US$4,2 miliar (Rp74,2 triliun) pada 2025. Angkanya memang turun tajam jika dibandingkan dengan nilai puncak pada 2022. Namun, nilai pendanaan 2025 tersebut menunjukkan tren perbaikan 35,5% dibandingkan dengan 2024.
Ekosistem startup Singapura tetap menarik pendanaan, terutama perusahaan berbasis akal imitasi (AI) dan infrastrukturnya seperti pusat data.
Sementara, Indonesia mulai kehilangan pesonanya saat startup berbasis konsumen seperti e-commerce atau transportasi daring mulai kesulitan mencapai profitabilitas. Berkurangnya dana murah membuat episode “bakar uang” tidak lagi memungkinkan terselenggara.
Posisi Indonesia pun tergeser Vietnam di posisi kedua. Pada 2025, Vietnam menarik pendanaan sebesar US$370 juta (Rp6,6 triliun) sementara Indonesia sebesar US$340 juta (Rp6,06 triliun).
Managing Partner DSX Ventures, Amir Karimuddin, menyoroti adanya pergeseran pendanaan ke perusahaan yang dapat menyerap modal lebih efisien. Startup di seri lanjut atau pra-IPO menjadi pilihan karena model bisnisnya terjamin dengan risiko yang lebih dapat dihitung.
“Dalam siklus yang lebih ketat, modal tidak hilang, melainkan menjadi lebih terencana,” katanya dalam laporan DailySocial, Maret 2026 lalu.
Dibayangi Sejumlah Kasus Fraud
Seretnya pendanaan juga dibayangi adanya sejumlah kasus fraud dalam pengelolaan startup Indonesia. Kasus TaniHub, yang menyeret Nicko dan Donald, salah satu yang mencuri perhatian.
TaniHub sempat menjadi startup pertanian terbesar di Indonesia. Namun, mulai akhir 2022, mereka mengalami kegagalan operasional dan finansial yang berujung pada penutupan gudang dan PHK karyawan. Pada 2024, OJK mencabut usaha pinjaman TaniFund karena gagal bayar.
Proses persidangan mengungkap, direksi TaniHub memanipulasi laporan keuangan untuk memuluskan investasi dari BRI dan MDI Ventures. Keduanya masuk sebagai investor TaniHub pada 2019-2023, berdasarkan fakta persidangan.
Kasus manipulasi laporan keuangan ini serupa dengan yang terjadi pada eFishery, startup perikanan yang didirikan Gibran Huzaifah. Pada 29 April 2026, majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung menjatuhkan vonis sembilan tahun penjara untuk Gibran. Berbeda dengan TaniHub, investor eFishery tidak ikut diadili.
Hotma Sitompoel Law Firm yang menjadi penasihat hukum Nicko Widjaja menyebut langkah BRI Ventures murni sebagai keputusan bisnis. Ini dibuktikan dengan proses persetujuan berlapis sebelum investasi dilakukan. Apalagi, fakta persidangan tidak menemukan adanya aliran dana ke Nicko.
“Hukum pidana tidak boleh digunakan untuk mengkriminalisasi risiko bisnis, kegagalan usaha, maupun business judgment yang diambil secara profesional dan dengan itikad baik,” tulis Hotma Sitompoel Law Firm di Instagram, Senin, 25 Mei 2026.
Direktur Ekonomi Digital Center for Law and Economic Studies (Celios), Nailul Huda, menjelaskan model bisnis modal ventura memang penuh risiko. VC dapat masuk sebagai investor ketika perusahaan masih memiliki prospek abu-abu.
Dalam kondisi buruk, investasi untuk startup yang terganggu memang merugikan. Namun, dalam kondisi baik, nilai saham startup yang dimiliki VC dapat naik berkali-kali lipat. VC dapat keuntungan besar ketika menjual sahamnya setelah naik berkali lipat.
“VC ini memang seperti menjalankan bisnis saja, bisa merugi maupun untung. Merugikan negara harus dibuktikan apakah ada keuntungan bagi individu dari kerugian startup itu sendiri,” kata Nailul kepada Katadata, Selasa, 2 Juni 2026.
Pemerintah dapat belajar dari cara Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong menyikapi salah satu investasi Temasek yang gagal. Temasek adalah salah satu investor platform investasi kripto FTX yang terungkap menggelapkan dana nasabah pada 2022.
Dalam kasus itu, Temasek mengalami kerugian senilai US$275 juta (Rp4,9 triliun). Lawrence—yang saat itu masih menjabat Deputi PM—mengatakan kerugian ini memang mengecewakan dan merusak reputasi Temasek. Namun, dia hanya meminta Temasek mencari pelajaran dari kegagalan tersebut.
Lawrence berpendapat, kerugian investasi tidak secara otomatis menyebabkan sistem tata kelola Temasek gagal. “Investasi pada perusahaan tahap awal memang mengandung risiko yang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, meski due diligence sudah dilakukan,” kata Lawrence kepada parlemen Singapura pada November 2022 silam.
Talenta Muda dan Pilar Startup Indonesia, Kini Terancam Bui
Nadiem Makarim dan sejumlah pilar startup Indonesia menghadapi masalah hukum. Ada perbedaan kultur yang kentara antara pengambilan keputusan di dunia startup dengan politik birokrasi. [1,695] url asal
#startup #nadiem #ibam #nicko-widjaja #gojek #chromebook #kriminalisasi #championdigital #give-me-perspective
(Katadata - In-Depth & Opini) 03/06/26 14:01
v/238699/
Ada masanya ketika Nadiem Makarim menjadi idola banyak orang. Usianya masih muda, dengan otak brilian dan pembawaan yang tenang. Ia merintis Gojek pada 2011, lantas membuatnya menjadi unicorn pertama, startup dengan valuasi US$1 miliar di Indonesia.
Kini, Nadiem terbelit kasus dugaan korupsi saat menjabat Menteri Pendidikan, dengan ancaman hukuman 18 tahun penjara. Tak cuma Nadiem, beberapa pionir dan jawara startup Indonesia kini terancam hukuman pidana. Dunia startup dan ekonomi digital Indonesia yang sempat berjaya hingga mancanegara, kini dibayang-bayangi risiko hukum dan potensi kerugian negara.
Pada 2015, saat Gojek resmi menjadi unicorn pertama menjadi tonggak era keemasan startup. Perusahaan rintisan bermunculan di banyak kota. Pemodal ventura berebut membenamkan investasi. Istilah ‘bakar duit’ muncul, menunjukkan betapa menggiurkannya bisnis startup kala itu. Beberapa bertahan dan menjelma menjadi raksasa seperti Gojek. Beberapa lainnya, tumbang di tengah jalan.
Pada masa itu, nama Nadiem serupa legenda di dunia startup. Reputasinya meroket seiring dengan ekspansi Gojek yang agresif. Saat banyak perusahaan baru berkembang, Nadiem sudah menasbihkan dirinya sebagai salah satu pebisnis muda paling berpengaruh di Indonesia.
Pada 2019–saat Nadiem berusia 35 tahun–valuasi Gojek menembus US$10 miliar, membuatnya memperoleh predikat baru sebagai startup decacorn. Pada tahun itu juga, Nadiem dipanggil ke Istana Negara. Presiden Joko Widodo memberikan posisi Menteri Pendidikan, kebudayaan, Riset, dan Teknologi kepada Nadiem. Ia masuk ke pemerintahan dan resmi meninggalkan Gojek.
Pebisnis inspiratif itu berubah menjadi birokrat, dan di titik inilah cerita kejatuhan Nadiem dimulai.
Tuntutan 27 Tahun Penjara
Jika 10 tahun lalu ada yang bilang bahwa Nadiem akan mengalami salah satu periode terburuk dalam hidupnya di ruang persidangan, mungkin Anda tak bakal percaya. Untuk beberapa lama, Nadiem terlihat seperti orang yang sudah mencapai segalanya. Kekayaan, ketenaran, dan jabatan publik ada di genggamannya. Namun, itulah yang terjadi.
Nadiem menjalani 2026 dengan serangkaian persidangan. Ia dituding merugikan negara dalam dugaan kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook saat menjadi Menteri Pendidikan.
Jaksa Penuntut Umum Roy Riady menyebut Nadiem menyebabkan kerugian negara senilai Rp2,1 triliun yang terdiri dari mark-up harga laptop senilai Rp1,56 triliun dan kerugian dari pengadaan Chrome Device Management senilai US$44,05 juta atau Rp621,38 miliar. Roy juga menuduh Nadiem memperoleh keuntungan pribadi senilai Rp4,8 triliun dalam kasus tersebut.
Atas perkara itu, Jaksa menuntut Nadiem 18 tahun penjara dan denda senilai Rp5,7 triliun subsider 9 tahun kurungan. Secara efektif, Nadiem menghadapi ancaman penjara 27 tahun sebab menurut Nadiem, tuntutan denda itu jauh di atas harta kekayaan yang ia miliki.
“Tuntutan ini lebih besar terhadap pembunuh dan teroris,” kata Nadiem, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya pada Rabu (13/5).
Nadiem, rasanya memang pantas kecewa. Ancaman penjara total 27 tahun merupakan salah satu tuntutan kasus korupsi paling tinggi di Indonesia. Ia hanya kalah dari mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar yang dituntut seumur hidup dalam kasus suap Pilkada. Tuntutan ini bahkan lebih tinggi dari Setya Novanto yang dituntut 16 tahun penjara dalam kasus korupsi e-KTP dan Harvey Moeis (12 tahun) di kasus tata niaga timah.
Salah satu kejanggalan dalam kasus ini adalah keengganan Kejaksaan menyeret Google Asia Pacific Pte. Ltd ke ruang sidang. Padahal, Jaksa menuduh bahwa investasi Google ke Gojek merupakan bentuk kickback dalam program pengadaan Chromebook. Sayangnya, Google tidak hanya lolos dari dakwaan, tetapi bahkan tidak satupun petinggi Google yang dihadirkan di ruang sidang sebagai saksi.
“Kenapa Kejaksaan tidak berani mendakwa Google bahkan menolak kesaksian tiga petinggi Google yang namanya disebut berkali-kali dalam dakwaan saya?" kata Nadiem dalam sidang pledoi, Selasa (2/6).
Jaksa Penuntut Umum Parade Hutasoit berdalih Google tidak punya niat jahat dalam kasus ini. Ia menyebut peran Google berupa investasi kepada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa sebelum merger dengan Tokopedia. Sebagai gambaran, Google membenamkan US$786,99 juta kepada AKAB pada periode 2018-2021.
"Kami tidak melihat Google memiliki niat jahat, tapi terletak pada Nadiem yang memiliki perusahaan aplikasi baik Gojek atau pun GoTo selaku menteri," kata Parade, Selasa (2/6).
Kejanggalan Sebagai Konsultan
Sehari sebelum Nadiem mendengar tuntutan jaksa, Ibrahim Arief menahan air mata saat mendengar vonis hakim di ruang persidangan. Ibam, begitu ia akrab disapa, adalah konsultan Nadiem saat menjadi menteri. Ia seorang insinyur dengan portofolio mentereng di sejumlah startup ternama.
Sebagai konsultan, Ibam dianggap bersalah dalam kasus pengadaan Chromebook. Hakim memberikan vonis 4 tahun penjara dan denda Rp500 juta. Tidak hanya itu, hakim juga menyita harta Ibam senilai Rp16,9 miliar, meskipun ia terbukti tidak memperkaya diri dalam kasus tersebut.
“Harta Terdakwa (Ibam) senilai Rp 16,9 miliar yang diblokir jaksa penuntut umum tetap disita karena memberikan ruang yuridis dalam skema tindak pidana pencucian uang maupun perampasan aset," kata Hakim Purwanto S Abdullah, Selasa (12/5).
Status Ibam sebagai konsultan sebetulnya menuai kontroversi. Ini bahkan dikonfirmasi oleh dua hakim yakni Andi Saputra dan Eryusman yang memberikan pendapat berbeda (dissenting opinion) dalam vonis Ibam. Kedua hakim itu berpendapat sebagai konsultan Ibam tidak punya kewenangan untuk mengambil keputusan. Ibam juga terbukti tidak menerima kickback dari pengadaan tersebut.
"Terdakwa secara terang benderang tidak memenuhi unsur yang dipidanakan jaksa penuntut umum, sehingga harus dibebaskan dari seluruh dakwaan," kata Andi, Selasa (12/5).
Atas dasar inilah Ibam mengajukan banding atas vonis hakim. Kuasa Hukum Ibam, Arfian Bonjol, menilai ada keraguan dalam vonis hakim. Selain karena ada dissenting opinion, vonis yang dijatuhkan juga tidak sampai setengah dari tuntutan jaksa 15 tahun penjara.
“Dissenting opinion jadi modal utama dalam mengajukan banding," ujarnya.
Bersamaan dengan bergulirnya kasus Nadiem dan Ibam, dua orang petinggi startup lainnya juga menghadapi ancaman hukuman di pengadilan. Nicko Widjaja, mantan Direktur Utama BRI Venture Investment (BVI), dan Donald Wihardja, mantan Direktur Utama MDI Venture, sama-sama dituntut 12 tahun penjara dalam kasus investasi di TaniHub.
Jaksa menuding keduanya merugikan negara sebab BVI merupakan anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, sedangkan MDI merupakan anak usaha PT Telkom Tbk. Sementara itu, fakta persidangan menunjukkan kerugian investasi di TaniHub berupa unrealized loss karena baik BVI maupun MDI belum menjual sahamnya di TaniHub.
Sedikit berbeda dengan kasus Nadiem dan Ibam yang tersandung kasus pengadaan, Donald dan Nicko terjerat dalam kasus investasi startup. Kuasa hukum Nicko Widjaja, Hotma Sitompoel Law Firm, menyebut keputusan bisnis seharusnya tidak dijadikan kejahatan korupsi. Apalagi dalam dunia startup, setiap investasi memang berisiko tinggi.
“Keputusan investasi yang secara alamiah memiliki risiko, tetapi diposisikan sebagai tindak pidana korupsi,” tulis Hotma Sitompoel Law Firm dalam akun Instagram, Sabtu (23/5).
Jebakan Politik Birokrasi
Kasus Chromebook yang menjerat Nadiem dan Ibam serta perkara investasi TaniHub yang menjegal Donald dan Nicko menuai kontroversi. Ibam sendiri pernah menyebut kasusnya membuat 15 juta orang yang kini bekerja sebagai konsultan ikut ketar-ketir. Sementara Nadiem menilai kasusnya akan menjadi preseden buruk ketidakpastian hukum yang akan berdampak pada perekonomian.
Hal ini senada dengan riset Katadata Insight Center (KIC) yang menyebut para profesional semakin khawatir untuk terlibat di pemerintahan. Penelitian bertajuk "Survei Pandangan Kaum Muda terhadap Kasus Nadiem dan Ibam” ini melibatkan 256 responden dari sektor swasta dengan mayoritas berasal dari Pulau Jawa.
Hasil survei menunjukkan 6,34% responden menilai profesional dan ahli semakin khawatir untuk terlibat dalam pemerintahan. Sedangkan 28,7% menilai profesional dan ahli memilih mengabdi di sektor swasta/luar negeri.
"Kasus Nadiem dan Ibam mendorong profesional dan ahli lebih memilih mengabdi di kantor swasta dibanding terlibat dalam lingkungan pemerintahan," bunyi survei KIC.
Lebih lanjut, survei juga menunjukkan 91,3% dari total responden menilai Nadiem dan Ibam mengalami kriminalisasi, sedangkan kurang dari 6% menilai keduanya betul-betul melakukan korupsi. Hasil tersebut dinyatakan oleh 99,6% responden yang mengetahui perkembangan proses hukum kasus tersebut.
Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbani memberikan analisis menarik soal mengapa orang-orang seperti Nadiem yang sukses di dunia startup akhirnya terjebak dalam politik birokrasi. Dalam dunia startup, Didik menilai Nadiem berhasil membesarkan Gojek lewat pengambilan keputusan yang cepat dan model kepemimpinan top-down yang lazim di perusahaan rintisan.
Namun, kata Didik, pengelolaan anggaran publik di sektor pemerintahan harus tunduk pada prosedur birokrasi dan tata kelola yang jauh lebih ketat. Kekuatan Nadiem di dunia startup justru berubah menjadi kelemahan ketika masuk ke birokrasi pemerintahan
Didik sendiri meyakini Nadiem tidak mengambil uang dari proyek tersebut. Namun, persoalan utama dalam kasus ini bukan ada atau tidaknya tindakan korupsi yang dilakukan secara pribadi. Menurutnya, yang menjadi sorotan adalah aspek tata kelola dan pertanggungjawaban atas penggunaan anggaran publik dalam jumlah besar.
Didik mengatakan masalah ini terjadi karena Nadiem tidak mempunyai modal sosial politik yang memadai masuk ke dalam birokrasi kelas atas.
“Kita sayang kepada Nadiem, pujian dan penghargaan luar biasa terhadapnya justru menjadi jebakan ketika masuk ke wilayah politik yang penuh onak dan duri,” katanya.
Didik bahkan menyarankan sebaiknya di masa mendatang tidak ada lagi anak muda yang berprestasi di dunianya masuk ke dalam kubangan politik abu-abu, yang penuh ranjau dan jebakan.
“Mark Zuckerberg, Elon Musk, Jensen Huang dan orang hebat lainnya tidak perlu masuk politik dan tetap besar namanya di dunianya sendiri,” kata didik.
Hal ini juga diakui oleh Nadiem. Dalam Pledoi, ia menyebut kesalahan utamanya saat menjadi menteri adalah melupakan bahwa itu jabatan politik. Dia mengaku lupa merangkul pihak-pihak yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan saat melakukan digitalisasi pendidikan.
Karena itu, Nadiem mengakui dirinya meremehkan ritual politik yang saat ini ia nilai menjadi aspek penting dalam kesinambungan sebuah program.
"Di bidang politik, berbagai undangan acara saya tolak apabila tidak berhubungan dengan program saya, sehingga banyak pihak yang tersinggung," katanya, Selasa (2/6).
Pihak Kejaksaan tentu membantah tudingan politisasi dalam kasus Nadiem. JPU Parade Hutasoit menyebut seluruh sidang untuk kasus tindak pidana korupsi murni dalam rangka penegakan hukum.
"Kalau beliau menganggap seperti itu, kami tetap mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang keliru," kata Parade di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (2/6).
Jaksa Parade menilai banyak masyarakat yang belum memahami kasus pengadaan laptop Chromebook secara menyeluruh. Hal tersebut menanggapi banyaknya dukungan terhadap Nadiem di ruang sidang maupun media sosial. Parade mengatakan dukungan masyarakat tidak sama dengan kebenaran di persidangan.
"Bisa jadi masyarakat atau netizen yang mendukung Nadiem itu belum tercerahkan.
Fakta yang tidak bisa dibantah, Nadiem memang banjir dukungan. Cinta Laura bahkan dengan keras mewanti-wanti agar generasi muda tidak masuk ke pemerintahan.
“Tidak selalu karena mereka bersalah, tetapi semata-mata karena mereka ‘mengganggu’,” tulis Cinta Laura dalam instagram resminya, dikutip Jumat (15/5).
Privy Wakili Startup Indonesia di MatchCAP Singapore 2026
Sejak 2016 hingga saat ini, Privy mencatat pertumbuhan 25 kali lipat dan memiliki lebih dari 71 juta pengguna terverifikasi. [467] url asal
Privy, startup penyedia layanan digital trust, mewakili startup Indonesia di gelaran MatchCAP Singapore 2026. Forum yang difasilitasi oleh Endeavor, organisasi nirlaba yang fokus pada pengembangan high impact entrepreneur di seluruh dunia, ini mempertemukan 59 perusahaan dengan pertumbuhan tinggi dengan 73 investor global dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa.
Marshall Pribadi, CEO dan Founder Privy, memaparkan perjalanan Privy bersama Endeavor serta visinya terhadap masa depan kepercayaan digital atau digital trust.
"Saya terpilih menjadi bagian dari Endeavor Entrepreneur sejak 2018, dan sejak delapan tahun lalu hingga sekarang, pertumbuhan yang kami capai di Privy -peningkatan pendapatan 25 kali lipat dan lebih dari 71 juta pengguna terverifikasi- tidak akan terjadi tanpa jejaring atau networking yang tepat di sekitar kami," kata Marshall, dalam keterangan resmi, Selasa (2/6).
Sejak didirikan pada 2016, Privy memiliki visi untuk tidak sekadar menyediakan tanda tangan elektronik melainkan membangun ekosistem kepercayaan digital atau digital trust.
"Seiring dengan meningkatnya aktivitas digital lintas industri, kepercayaan merupakan mata uang utama dalam interaksi digital. Terlebih, di era artificial intelligence (AI), semakin banyak keputusan, transaksi, hingga proses bisnis yang bergantung pada identitas yang terpercaya dan dokumen digital yang autentik," kata Marshall.
Hal ini membuat Privy optimistis kebutuhan terhadap kepercayaan digital menjadi semakin penting dalam berbagai aktivitas di ruang digital. Kondisi ini tercermin pada pertumbuhan Privy hingga saat ini.
Menurut Marshall, kepercayaan digital bagi Privy mencakup tiga lapisan utama yang juga menjadi ekosistem perusahaan, sebagai berikut:
1. Trusted identity (identitas terpercaya)
2. Trusted communication channel (saluran komunikasi terpercaya)
3. Trusted transaction authenticity (keaslian transaksi terpercaya)
Privy Sediakan Jaminan Keaslian Sertifikat hingga Rp1 Miliar
“Pada lapisan Trusted Identity, Privy membantu memastikan identitas individu maupun institusi dapat diverifikasi secara aman dan akurat. Privy pun menjadi satu-satunya institusi yang menjamin identitas dengan Certificate Warranty hingga Rp1 miliar untuk melindungi pengguna dari kerugian akibat dokumen yang ditandatangani dengan Sertifikat Privy yang terbukti tidak asli," ujarnya.
Melalui Trusted Communication Channel, Privy memastikan interaksi digital berlangsung melalui jalur yang aman dan terverifikasi, sehingga informasi yang dipertukarkan memiliki integritas dengan identitas yang bisa dibuktikan. Pada lapisan Trusted Transaction Authenticity, Privy memastikan setiap transaksi digital memiliki bukti otentik yang dapat diverifikasi melalui teknologi seperti tanda tangan elektronik, digital seal, dan timestamping.
Pada sesi panel diskusi bertajuk “Built to Last: Designing Startups for Uncertainty”, Chief Operating Officer (COO) Privy, Nitin Mathur, mengungkapkan perjalanan Privy sejak 2016 memberikan banyak pelajaran bagaimana perusahaan perlu beradaptasi di tengah perubahan teknologi maupun dinamika pasar yang terus berkembang.
“Yang mengingatkan saya dari ruangan ini adalah daya tahan bisnis itu tidak terjadi secara kebetulan. Di Privy, kepercayaan merupakan fondasi, bukan hanya sekedar fitur. Sehingga, ketahanan bisnis pun juga harus dibangun sejak hari pertama, bukan ditambal ketika masalah sudah muncul,” ujar Nitin.
Nitin mengatakan Privy juga telah menyiapkan product-roadmap yang akan semakin mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam kepercayaan digital, termasuk fitur yang memudahkan pengguna dengan dukungan AI.
Kasus TaniHub Berujung Dugaan Korupsi, Pendanaan Startup Butuh Kejelasan Regulasi
Kasus dugaan korupsi di TaniHub menyoroti pentingnya regulasi investasi startup. Mantan Direktur BRI Ventures dituntut 11 tahun penjara. [1,513] url asal
#tanihub-korupsi #modal-ventura #regulasi-startup #investasi-agritech #bri-ventures #mdi-ventures #kerugian-negara #amvesindo #digitalisasi-pertanian #risiko-agritech #tata-kelola-investasi #due-dilige
(Bisnis.Com - Teknologi) 28/05/26 09:40
v/233806/
Bisnis.com, JAKARTA— Kasus dugaan korupsi terkait investasi startup dan perusahaan modal ventura mencuat dalam pengelolaan dana pada startup agritech TaniHub Group sepanjang 2019—2023. Para pengusaha modal ventura meminta regulasi yang jelas, yang melibatkan berbagai lembaga, agar kasus serupa tidak terjadi lagi.
Perkara yang disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat itu menyeret mantan Direktur Utama BRI Ventures Nicko Widjaja. Dia dituntut 11 tahun penjara dan denda Rp1 miliar dalam kasus tersebut.
Selain Nicko, jaksa juga mendakwa Direktur Utama PT Metra Digital Investama (MDI Ventures) Donald Surjana Wihardja, Vice President of Investment PT Metra Digital Investama (MDI Ventures) Aldi Adrian Hartanto, serta mantan Vice President of Investment BRI Ventures William Gozali.
Kasus tersebut berkaitan dengan dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam pengelolaan investasi yang dilakukan BRI Ventures dan MDI Ventures kepada TaniHub Group.
Dalam perkara ini, dugaan kerugian negara mencapai sekitar US$5 juta atau setara Rp73,3 miliar pada investasi BRI Ventures, serta Rp290,92 miliar pada investasi MDI Ventures. Dengan demikian, total dugaan kerugian negara dalam kasus tersebut mencapai sekitar Rp364,22 miliar.
Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro mengatakan pihaknya menghormati proses hukum yang tengah berjalan.
“Dan tidak pada tempatnya memberikan penilaian terhadap vonis yang belum dijatuhkan,” kata Eddi kepada Bisnis, Rabu (27/5/2026).
Meski demikian, Eddi menilai kasus tersebut memunculkan diskusi penting di kalangan pelaku industri modal ventura, khususnya perusahaan yang berada di bawah naungan badan usaha milik negara (BUMN).

Menurutnya, sektor agritech membutuhkan perhatian khusus karena Indonesia merupakan salah satu negara agraris terbesar di dunia. Digitalisasi sektor pertanian, kata dia, merupakan kebutuhan strategis jangka panjang dan bukan sekadar tren investasi.
Namun, agritech juga memiliki profil risiko berbeda dibanding sektor teknologi lain. Siklus bisnisnya lebih panjang, sangat dipengaruhi faktor eksternal seperti cuaca dan rantai pasok, serta menghadapi tantangan monetisasi yang umumnya baru terlihat setelah beberapa tahun.
Eddi mengatakan Amvesindo mendorong adanya dialog konstruktif antara ekosistem modal ventura, Kejaksaan Agung, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan kementerian terkait untuk merumuskan panduan yang lebih jelas mengenai standar tata kelola investasi corporate venture capital (CVC), terutama yang berkaitan dengan aset negara.
“Kejelasan regulasi adalah prasyarat bagi keberanian mengambil risiko yang bertanggung jawab,” katanya.
Dia menilai tanpa kepastian hukum yang memadai, Indonesia berisiko kehilangan talenta terbaik dalam pengelolaan dana ventura nasional. Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi kerugian ekosistem yang jauh lebih besar dibandingkan satu investasi yang gagal.
Eddi mengatakan kasus ini juga menjadi momentum bagi industri modal ventura untuk meningkatkan profesionalisme. Menurutnya, terdapat empat hal yang perlu menjadi prioritas bersama, yakni dokumentasi keputusan investasi yang dapat diaudit, pendalaman due diligence kualitatif, pemantauan portofolio secara aktif, serta penyusunan panduan industri bersama.
Dia menjelaskan setiap tahapan investasi perlu meninggalkan jejak keputusan yang dapat dijelaskan secara objektif kepada pihak eksternal.
“Setiap tahapan investasi perlu meninggalkan jejak keputusan yang dapat dijelaskan secara objektif kepada pihak eksternal mana pun,” katanya.
Selain itu, Eddi menilai kegagalan startup sering kali berakar pada persoalan integritas data dan kapasitas manajemen yang tidak terdeteksi sejak awal, bukan semata model bisnis yang buruk.
Menurutnya, keterlibatan investor juga tidak berhenti setelah penandatanganan term sheet. Mekanisme pemantauan berkala dan eskalasi dini atas tanda-tanda tekanan finansial perlu menjadi standar industri.
Eddi menambahkan Amvesindo siap memfasilitasi penyusunan standar minimum due diligence, protokol pelaporan, serta mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih jelas bagi seluruh anggota.
“Tata kelola yang kuat adalah fondasi yang utama dari inovasi. Kepercayaan adalah modal terpenting dalam ekosistem investasi, dan itu dibangun melalui konsistensi dan akuntabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak,” ujarnya.
Risiko Investasi
Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) Tesar Sandikapura menilai setiap investasi selalu memiliki risiko dan tidak ada investasi yang dapat menjamin keuntungan.
Namun, menurutnya terdapat investasi yang dilakukan tanpa kecermatan memadai dalam melihat faktor risiko.
“Menurut hemat saya, untuk perusahaan BUMN selayaknya benar-benar cermat mengukur batas tingka resiko ini. Mana yang boleh dan mana yang berpotensi tinggi merugikan negara,” kata Tesar.
Dia menilai batasan tersebut perlu didiskusikan bersama Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
“Yang malah bisa membuat investor segan berinvestasi di Indonesia,” katanya.

Tesar mengatakan proses due diligence menjadi tahapan yang sangat krusial dalam menentukan perusahaan yang layak menerima investasi dan mana yang cenderung berisiko.
Menurutnya, selama seluruh perhitungan dilakukan secara benar dan tidak terdapat niat manipulatif, potensi kerugian seharusnya sudah dapat diprediksi sejak awal.
Dia juga mengusulkan adanya auditor eksternal independen atau keterlibatan aparat penegak hukum untuk memastikan proses due diligence tetap berjalan sesuai kerangka yang berlaku.
Tesar menilai ke depan corporate venture capital akan menjadi lebih selektif dan berhati-hati dalam mengucurkan dana ke perusahaan yang membutuhkan pendanaan.
“Namun tentu ini dapat kita liat sebagai proses yang positif agar indikasi kecurangan atau apapun itu, semakin sulit terjadi, karena berkaca dari kasus TaniHub ini,” katanya.
Startup Merugi VC Evaluasi ….
Evaluasi Startup
Pemerhati startup sekaligus Founder dan CEO DailySocial.id Rama Mamuaya menjelaskan venture capital (VC) merupakan pengelola dana yang menghimpun modal dari investor institusi seperti dana pensiun, yayasan, dan keluarga kaya untuk diinvestasikan ke startup melalui pembelian saham, bukan pinjaman.
Menurut Rama, perbedaan mendasar antara VC dan perbankan terletak pada mekanisme risiko. Bank memberikan pinjaman yang wajib dikembalikan beserta bunga, terlepas dari kondisi bisnis debitur. Sementara itu, VC menjadi pemegang saham sehingga risiko kerugian ditanggung bersama.
“Jika startup tumbuh dan bernilai lebih tinggi, saham VC ikut naik nilainya. Jika startup rugi atau gulung tikar, saham itu kehilangan nilainya. Risiko ditanggung bersama,” kata Rama kepada Bisnis, Rabu (27/5/2026).
Dia menjelaskan VC umumnya mencari jalan keluar investasi dalam jangka waktu 7—10 tahun melalui tiga jalur utama, yakni initial public offering (IPO), akuisisi oleh perusahaan besar, atau penjualan saham kepada investor lain.
Rama menegaskan model bisnis VC tidak bekerja seperti bisnis konvensional karena berbasis portofolio, bukan proyek tunggal. Dalam satu portofolio investasi, sebagian startup dapat gagal total, sebagian lainnya hanya bertahan tanpa memberikan keuntungan signifikan, dan hanya sedikit yang mampu memberikan imbal hasil berlipat ganda.
Menurutnya, justru satu atau dua startup dengan return sangat tinggi dapat menutup seluruh kerugian dari investasi lain yang gagal.
“Dan dari kelompok terakhir ini, biasanya hanya 1–2 startup yang memberikan return luar biasa 50x hingga 100x lipat yang menutupi seluruh kerugian dari startup lainnya,” katanya.
Rama mencontohkan sebuah VC yang mengelola dana US$20 juta dan menempatkannya pada 20 startup berbeda dapat tetap mencatat keuntungan meskipun sebagian besar portofolionya bangkrut, selama terdapat beberapa investasi yang melonjak signifikan.
Dia mengatakan ketika startup mengalami kerugian, VC biasanya melakukan evaluasi berkala untuk menentukan penyebabnya. Jika persoalan berasal dari faktor eksternal seperti kondisi pasar, regulasi, atau pandemi, tetapi tim manajemen dinilai masih kuat, investor biasanya memberi ruang untuk melakukan pivot bisnis.
Namun, apabila masalah berasal dari kapabilitas tim, investor dapat melakukan restrukturisasi manajemen. Dalam kondisi tertentu, startup juga bisa menerima pendanaan baru dengan valuasi lebih rendah atau down round yang menyebabkan kepemilikan saham investor terdilusi.
Jika startup tidak lagi dapat diselamatkan, investor akan melakukan write-off dengan mengakui kerugian dan menghentikan pendanaan. Pada tahap akhir, aset perusahaan dapat dijual melalui proses likuidasi dan hasilnya dibagikan kepada investor sesuai prioritas.
Menurut Rama, model bisnis VC memang dirancang untuk menerima kegagalan selama masih terdapat satu atau dua investasi yang mampu memberikan imbal hasil luar biasa.
“Model VC dirancang untuk menerima kegagalan selama ada satu atau dua investasi yang memberikan return luar biasa. Yang terpenting bagi VC adalah transparansi dari founder karena reputasi dan integritas tim adalah aset yang nilainya jauh lebih besar daripada modal yang sudah dikeluarkan,” katanya.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan investasi startup memiliki beberapa tahapan, mulai dari pre-seed atau bootstrap, seed, seri A, seri B, hingga tahap berikutnya.
Menurutnya, pada tahap awal atau pre-seed, pendanaan umumnya masih berasal dari kantong pribadi maupun keluarga.
“Jadi investasinya masih bersifat tradisional dalam tahap awal,” kata Huda kepada Bisnis, Rabu (27/5/2026).
Setelah memasuki tahap seed, angel investor maupun venture capital mulai masuk dengan membeli saham startup sejak tahap awal. Harapannya, nilai saham tersebut meningkat ketika startup memasuki pendanaan seri berikutnya.
Namun, Huda menilai informasi pada tahap awal startup masih sangat terbatas sehingga prospek keberlanjutan bisnis kerap sulit dipastikan dan banyak disusun berdasarkan asumsi ideal.
Di sisi lain, kondisi ekonomi dapat berubah sewaktu-waktu dan memunculkan berbagai faktor eksternal yang memengaruhi stabilitas startup digital.
Menurutnya, jika kondisi memburuk, stabilitas startup dapat terganggu. Sebaliknya, ketika situasi membaik, valuasi saham yang dimiliki VC dapat meningkat berkali-kali lipat sehingga memberikan keuntungan besar saat dijual melalui IPO maupun transaksi privat.
Huda menilai bisnis VC pada dasarnya sama seperti bisnis lain yang memiliki kemungkinan untung maupun rugi karena nilai saham dapat naik atau turun tergantung performa startup.
“Merugikan negara dalam hal bisnis ini harus dibuktikan apakah ada keuntungan bagi individu dari kerugian startup itu sendiri,” katanya.
Dia memperkirakan ke depan VC akan menjadi lebih selektif, bukan hanya karena persoalan hukum, tetapi juga karena perubahan model bisnis startup.
Menurutnya, investor kini akan lebih memperhatikan jalur menuju profitabilitas dan menuntut startup dapat mencetak keuntungan dalam jangka waktu tertentu setelah menerima pendanaan.
“Selain itu, VC juga akan lebih berperan dalam pengambilan keputusan startup yang diberikan modal. Tidak hanya berdiam diri, namun juga ikut dalam proses manajerial,” katanya.
Peluang Investasi Startup di Era Tech Winter
Berakhirnya “tech winter global masih belum pasti. Kondisi serba tidak pasti membuat investor dan perusahaan modal ventura semakin berhati-hati dalam memilih... | Halaman Lengkap [769] url asal
#startup #pendanaan #era-digital #modal-ventura #investasi-di-era-digital
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 26/05/26 22:40
v/233123/
JAKARTA - Berakhirnya “tech winter” global masih belum pasti. Kondisi serba tidak pasti membuat investor dan perusahaan modal ventura semakin berhati-hati dalam memilih startup yang akan didanai. Di Indonesia dan Asia Tenggara, kondisi ini mendorong banyak startup untuk lebih memprioritaskan efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan bisnis dibanding ekspansi yang terlalu agresif.Sekadar informasi, tech winter mengacu pada periode pengetatan pendanaan yang dipicu oleh kenaikan suku bunga, ketidakpastian geopolitik, dan tekanan makroekonomi yang lebih luas sehingga meningkatkan biaya modal. Akibatnya, investor menjadi lebih selektif dan lebih fokus pada startup yang memiliki fundamental bisnis yang jelas serta potensi jangka panjang yang lebih kuat.
Laporan Indonesia Startup Report 2026 dari DiscoveryShift yang didukung GarudaSpark Innovation Hub di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia mencatat bahwa penurunan pendanaan startup lebih mencerminkan pengetatan likuiditas global dan kenaikan suku bunga AS dibandingkan pelemahan struktural ekonomi digital Indonesia.
Indonesia Kalah Jauh, Menko Airlangga: Hanya Punya 25 Startup AI, Singapura Hampir 300
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa meskipun total pendanaan turun tajam dibanding periode booming 2020–2022, pendanaan tahap lanjutan (later-stage funding) masih relatif bertahan, dengan beberapa transaksi besar Seri B dan Seri C menyerap sebagian besar modal yang tersedia.
Data dalam laporan menunjukkan sekitar 67% transaksi startup terjadi pada tahap awal (early stage), namun hanya 15% startup tahap seed yang berhasil melanjutkan ke pendanaan Seri A. Hal ini mencerminkan persaingan yang semakin ketat dan proses seleksi investor yang lebih ketat. Dari sisi sektor, New Retail, Fintech, dan E-commerce masih mendominasi aliran modal sepanjang 2025.
Dari Tantangan Pendanaan Menjadi Krisis Kepercayaan
Selain pengetatan aliran modal, ekosistem startup Indonesia kini juga menghadapi tantangan lain, yakni meningkatnya kekhawatiran terkait tata kelola perusahaan dan akuntabilitas para pendiri startup.Dalam beberapa tahun terakhir, industri startup diwarnai gelombang PHK massal, penutupan startup, dan langkah efisiensi agresif saat perusahaan berjuang menghadapi perlambatan pendanaan. Awalnya, sebagian besar tekanan dikaitkan dengan kondisi makroekonomi, termasuk kenaikan suku bunga dan perubahan tren investasi global.
Namun, pembahasan kini semakin bergeser pada kualitas kepemimpinan dan standar tata kelola di internal startup itu sendiri. Sejumlah kontroversi yang melibatkan pendiri startup dan tim manajemen memicu diskusi lebih luas mengenai transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan ekonomi digital Indonesia.
Meningkatnya pengawasan ini menunjukkan bahwa tantangan industri tidak lagi hanya bersifat finansial. Investor, karyawan, dan konsumen kini juga semakin memperhatikan bagaimana startup dikelola dan apakah tim kepemimpinan mampu membangun bisnis yang tangguh di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.
Ekonomi Digital RI Hampir USD100 Miliar, Menko Airlangga Sebut AI Mesin Pertumbuhan Baru
Investor Fokus pada Founder Kuat dan Model Bisnis Berkelanjutan di Tengah Pendanaan yang Semakin Selektif
Menurut Elisabeth Kurniawan, angel investor, peluang investasi di ekosistem startup Indonesia masih tetap menarik meskipun kondisi pasar lebih berhati-hati. “Investor sekarang tidak hanya melihat narasi pertumbuhan. Fokus saat ini lebih pada model bisnis yang berkelanjutan, profitabilitas, dan founder yang mampu menghadapi ketidakpastian,” kata Elisabeth.

Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor terpenting dalam mengevaluasi startup adalah kualitas founder itu sendiri. “Perusahaan akan melewati berbagai fase, tetapi founder yang kuat tetap menjadi faktor paling penting. Ketangguhan, kegigihan, optimisme, dan fleksibilitas dalam mengarahkan perusahaan di tengah ketidakpastian sangatlah krusial,” ujarnya.
Elisabeth menambahkan bahwa investor kini juga lebih memperhatikan apakah startup benar-benar menyelesaikan masalah pasar yang relevan dan realistis untuk diselesaikan.
“Setiap perusahaan menghadapi tantangan, tetapi ada masalah yang bisa diselesaikan dan ada yang tidak. Bisnis yang sudah memiliki permintaan pasar yang terbukti dan hanya membutuhkan dukungan modal untuk memperbesar operasional umumnya merupakan peluang investasi yang lebih sehat,” jelasnya.
Menurut Elisabeth, investor masih berhati-hati karena banyak startup sebelumnya terlalu fokus pada ekspansi agresif dan pertumbuhan pendapatan tanpa membangun profitabilitas yang berkelanjutan.
"Saya melihat investasi dalam startup atau perusahaan bukan soal tumbuh cepat dengan segala cara, tetapi lebih pada bottom line, EBITDA, dan pertumbuhan profitabilitas dari tahun ke tahun,” katanya.
“Pertumbuhan pendapatan memang penting, tetapi retensi pelanggan, pengelolaan biaya, dan disiplin operasional jauh lebih penting di kondisi pasar saat ini," sambungnya.
Terkait sektor yang masih memiliki peluang besar di Indonesia, Elisabeth melihat potensi berkelanjutan pada bisnis direct-to-consumer (D2C) dan brand konsumen yang menyasar kelas menengah hingga atas. “Masih ada ruang pertumbuhan di segmen menengah ke atas karena disposable income di kelompok ini terus meningkat secara stabil,” katanya.
Bagi startup yang menghadapi tantangan pendanaan pada 2026, Elisabeth menilai perusahaan sebaiknya lebih fokus memperkuat hubungan dengan pelanggan yang sudah ada dibanding mengejar ekspansi terlalu agresif.
“Startup harus fokus meningkatkan retensi dan loyalitas pelanggan, bukan hanya mengejar ekspansi dan pertumbuhan,” katanya.
“Itu pengamatan pribadi saya berdasarkan apa yang terjadi di pasar,” imbuhnya.
Meski tech winter masih berlangsung, Elisabeth tetap optimistis bahwa startup Indonesia yang memiliki model bisnis disiplin dan kepemimpinan yang tangguh akan terus menarik peluang investasi jangka panjang.
Siapa Nicko Widjaja yang Dituntut 11 Tahun Penjara soal Investasi di TaniHub?
Kasus Nicko Widjaja tengah menjadi sorotan, lantaran dituntut penjara 11 tahun karena keputusan bisnis dalam hal investasi di startup TaniHub. Siapa Nicko Widjaja? [646] url asal
Kasus Nicko Widjaja tengah menjadi sorotan, lantaran dituntut penjara 11 tahun karena keputusan bisnis dalam hal investasi di startup TaniHub. Siapa Nicko Widjaja?
Nicko Widjaja adalah mantan direktur utama BRI Venture Investment (BVI), anak usaha BRI di bidang modal ventura. Ia menghadapi tuntutan 11 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar terkait dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pengelolaan dana investasi terhadap PT Tani Group Indonesia (TaniHub) beserta afiliasinya periode 2019 - 2023.
Dikutip dari akun Instagram tim kuasa hukum dari Hotma Sitompoel Law Firm, Nicko Widjaja didakwa terkait investasi BVI dalam dua tahap yakni seri A US$ 2 juta dan US$ 3 juta melalui Convertible Notes ke induk TaniHub di Singapura, Tani Nusantara Pte. Ltd (THG) pada 2020.
Hotma Sitompoel Law Firm menyebutkan lima tuduhan JPU terhadap Nicko Widjaja, yakni:
- BVI dianggap tidak mengikut prosedur investasi
- BVI dianggap menguntungkan THG dan/atau pihak tertentu
- Tindakan Nicko Widjaja merugikan keuangan negara
- BVI tidak melakukan kontrol dan pengawasan TaniHub Group
- Korupsi dilakukan bersama-sama pihak lain
Sebuah kiriman dibagikan oleh Hotma Sitompoel Law Firm (@hotmasitompoellawfirm)Lihat postingan ini di Instagram
Nicko Widjaja melalui akun Instagram pribadi @nickowidjaja yang kini dikelola langsung oleh tim penasihat hukum dan keluarga menuliskan surat dari rumah tahanan mengenai kondisinya di tengah proses hukum yang tengah berjalan.
Dalam surat itu, Nicko mengungkapkan kondisinya setelah mendapatkan tuntutan tersebut. “Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan rasanya,” tulis Nicko dalam surat yang ia tulis pada Kamis (21/5) dan diunggah melalui akun Instagram tersebut.
Ia menyatakan tidak akan berpura-pura kuat karena merasa hatinya hancur mendapatkan tuntutan tersebut. Nicko mengatakan putusan tersebut sangat berat baginya.
Nicko tidak menyangka keputusan bisnis yang sudah ia lakukan secara teliti harus membawanya kepada jurang pidana. “Bahwa keputusan bisnis yang dijalankan melalui mekanisme institusi, dengan kajian, proses, dan persetujuan berlapis, tetap dituntut sebagai pidana.” tulisnya.
Ia menyatakan tidak ada penyalahgunaan wewenang dalam kasus tersebut, bahkan hingga konflik kepentingan. Nicko menegaskan tidak ada niatan jahat dan semua dijalankan dengan itikad baik.
“Saya akan menghadapi semua ini dengan cara yang sama seperti saat saya membangun dengan keyakinan, proses, dan keberanian untuk tetap berdiri,” tulisnya.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Nicko Widjaja (@nickowidjaja)Lihat postingan ini di Instagram
Unggahan ini disukai hampir 17 ribu akun per Senin (25/5) sore. Nicko juga mendapatkan 386 komentar dan banyak yang mendukungnya untuk menghadapi kasus tersebut.
Sebelumnya, Kejaksaan Negeri atau Kejari Jakarta Selatan pada 3 September 2025 menetapkan tiga tersangka baru dalam perkara dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang alias TPPU terkait investasi MDI Ventures dan BRI Ventures di TaniHub Group periode 2019 - 2023.
Nicko menjadi salah satu tersangkanya dan dituding memutuskan investasi secara melawan hukum dari BVI ke TaniHub sebesar US$ 5 juta.
Jejak Nicko Sebagai Professional Startup
Pria kelahiran 26 Januari 1974 itu merupakan pemodal dan profesional perusahaan rintisan atau Startup asal Indonesia. Ia bahkan sering hadir sebagai pembicara di banyak universitas, seminar yang berhubungan dengan kewirausahaan (entrepreneurship) dan ekosistem digital.
Berdasarkan sumber yang dikumpulkan Katadata.co.id, pada 2003, pria asal Jakarta ini kembali ke Indonesia setelah lebih dari 10 tahun menimba ilmu dan bekerja di Amerika Serikat. Dia memulai kariernya di Indonesia sebagai senior associate corporate development di perusahaan makanan terbesar di Indonesia, Indofood.
Setelah dari Indofood, Nicko bergabung dengan perusahaan inovasi asal Amerika Serikat yakni Mindcode. Ia menjadi bagian dari perusahaan itu sebagai country director untuk Indonesia.
Nicko lalu lebih dikenal sebagai salah satu pelopor investasi perusahaan rintisan digital dan permodalan ventura di Indonesia sejak 2009, melalui Systec Group, Fenox, dan Indigo Inkubator milik Telkom Indonesia.
Sejak 2015, Nicko dipercaya untuk memimpin PT Metra Digital Innovation atau lebih dikenal dengan MDI Ventures. Ini merupakan perusahaan corporate venture capital (CVC) milik Telkom Indonesia yang dimandatkan untuk melakukan pengembangan perusahaan rintisan digital.
Pada Juli 2019, BRI Ventures menunjuk Nicko sebagai CEO, sementara di MDI Ventures ia bertindak sebagai advisor. Dalam penunjukannya ini, BRI Ventures kala itu mengelola dana investasi hingga Rp 3,5 triliun untuk diinvestasikan kepada startup.
Bukan Sekadar Kasih Utang, Startup Pinjol Kini Berfokus ke Kesehatan Bisnis UMKM
Industri fintech kini beralih fokus dari sekadar akses pinjaman ke kesehatan finansial untuk memberdayakan dan meningkatkan ketahanan UMKM di tengah dinamika ekonomi. [568] url asal
Industri financial technology atau fintech mulai mengubah fokus bisnisnya. Jika sebelumnya layanan keuangan digital identik dengan memperluas akses pinjaman, kini pelaku industri mulai menempatkan kesehatan finansial atau financial health sebagai target utama pemberdayaan masyarakat akar rumput, termasuk UMKM.
Hal itu mengemuka dalam Media Briefing Road to The 2026 Asia Grassroots Forum yang digelar Amartha di Jakarta, Selasa (20/5). Dalam forum tersebut, Amartha menilai inklusi keuangan tidak lagi cukup diukur dari banyaknya masyarakat yang memiliki akses terhadap layanan finansial.
“Keberhasilan inklusi keuangan tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mengakses produk keuangan, tetapi dari kemampuan mereka bertahan dan mencapai tujuan kesejahteraan di tengah dinamika ekonomi,” kata Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha Aria Widyanto dalam acara Media Briefing Road to The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta, Rabu (21/5).
Menurutnya, kesehatan finansial menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi akar rumput yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem keuangan yang terintegrasi.
Konsep kesehatan finansial sendiri mengacu pada kemampuan seseorang atau keluarga dalam memenuhi kebutuhan harian, mengelola kewajiban keuangan, menghadapi risiko, hingga merasa percaya diri terhadap kondisi finansial mereka di masa depan.
Dalam konteks UMKM, kesehatan finansial mencakup kemampuan pelaku usaha mengatur arus kas, menghadapi pengeluaran tak terduga, serta mengambil keputusan bisnis secara lebih percaya diri.
Namun, Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menilai akses permodalan masih menjadi tantangan terbesar yang dihadapi UMKM di Indonesia. Menurutnya, banyak pelaku UMKM masih menghadapi tantangan struktural, mulai dari keterbatasan permodalan, tekanan biaya hidup, pendapatan yang tidak stabil, hingga kemampuan mengelola keuangan rumah tangga dan usaha.
Huda mengatakan, kondisi itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi akar rumput perlu didorong. Khususnya melalui akses keuangan serta ekosistem yang mampu memperkuat kesehatan finansial.
Berdasarskan data Celios, permodalan merupakan tantangan terbesar yang dihadapi UMKM di Indonesia. Sebagian besar pelaku UMKM masih kesulitan menghadapi permasalahan ini, padahal permodalan menjadi salah satu cara untuk bisa tumbuh secara berkelanjutan.
Bagi banyak UMKM, termasuk perempuan di akar rumput, akses terhadap permodalan masih menjadi tantangan utama. Huda mengatakan fintech, termasuk P2P lending, dapat menjembatani kebutuhan ini dengan cara yang lebih cepat dan tepat.
“Namun, pembiayaan digital perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar dapat membantu UMKM memperluas pasar serta menjaga keberlanjutan usahanya,” ujar Huda.
Data Amartha menunjukkan tantangan tersebut masih relevan. Meski UMKM menyumbang lebih dari 60% dari produk domestik bruto atau PDB nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja Indonesia, banyak pelaku usaha kecil masih menghadapi masalah keterbatasan modal, tekanan biaya hidup, hingga pendapatan yang tidak stabil.
Kondisi itu juga dirasakan UMKM perempuan yang sering kali memegang peran ganda sebagai pengelola usaha sekaligus pengatur keuangan keluarga. Associate Professor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Poppy Ismalina menilai pemberdayaan perempuan perlu dilihat secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi akses permodalan.
Poppy mengatakan pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya tentang memberikan akses permodalan, tetapi juga memastikan perempuan berada dalam posisi pengambilan keputusan, memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan, serta dapat mengakses produk keuangan digital dengan baik.
“Perempuan yang mendapatkan solusi keuangan yang sesuai dapat lebih percaya diri dalam mengelola kebutuhan keluarga, kesehatan finansial, dan keberlanjutan usahanya,” ujar Poppy.
Sebagai bagian dari upaya mendorong ekonomi akar rumput yang lebih sehat secara finansial, Amartha akan menggelar The 2026 Asia Grassroots Forum pada 3-4 Juni 2026 di Shangri-La Jakarta. Forum tersebut akan membahas pembiayaan inklusif, pemanfaatan fintech dan AI, hingga kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem UMKM di Asia.
Langkah East Ventures Tegakan Komitmen Keberlanjutan dalam Ekosistem Digital
East Ventures kembali merilis laporan keberlanjutan tahunan bertajuk Sustainability Report 2026. [448] url asal
#investasi #sustainable-development-goals #startup #east-ventures #ekonomi-digital #ekosistem-digital
(MedCom - Ekonomi Digital) 20/05/26 09:51
v/225897/
Jakarta: East Ventures kembali merilis laporan keberlanjutan tahunan bertajuk Sustainability Report 2026. Mengusung tema “Membangun dengan Integritas: Menumbuhkan Nilai melalui Kedisiplinan”, laporan ini menyoroti komitmen perusahaan modal ventura tersebut dalam membangun ekosistem digital yang berkelanjutan melalui tata kelola yang kuat, transparansi, serta investasi yang bertanggung jawab.Sebagai perusahaan venture capital yang berfokus lintas sektor di Indonesia dan Asia Tenggara, East Ventures menegaskan bahwa keberlanjutan kini menjadi bagian penting dalam strategi bisnis dan proses investasinya. Perusahaan tidak hanya menyediakan pendanaan, tetapi juga mendampingi startup melalui bimbingan strategis, pengembangan kapasitas, hingga penguatan akuntabilitas.
Willson Cuaca mengatakan keberlanjutan telah menjadi bagian dari DNA perusahaan sejak awal. Menurutnya, para founder startup saat ini semakin mengedepankan disiplin operasional dan fokus bisnis yang lebih matang di tengah dinamika industri teknologi.
“East Ventures akan terus mendukung para founder dengan standar yang semakin tinggi, mendorong pertumbuhan yang bertanggung jawab, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam laporan tersebut, East Ventures menyoroti sejumlah dampak utama yang berhasil dibangun sepanjang tahun. Dengan pendekatan investasi sector-agnostic, perusahaan mendukung startup di berbagai sektor strategis seperti AI-first, fintech, healthtech, logistik, consumer, hingga climate tech. Secara kolektif, ekosistem East Ventures disebut telah berkontribusi terhadap 16 dari 17 target Perserikatan Bangsa-Bangsa Sustainable Development Goals (SDGs).
Selain investasi, East Ventures juga aktif menjalankan berbagai inisiatif sosial dan pengembangan ekosistem digital. Beberapa program yang disorot antara lain My First $1000, program kewirausahaan bagi pelajar di Singapura, kemudian East Ventures Digital Competitiveness Index yang memetakan daya saing digital di berbagai provinsi Indonesia, hingga Climate Impact Innovations Challenge, kompetisi teknologi iklim yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia.
Perusahaan juga memperkenalkan ECOVISEA, sebuah kalkulator emisi gas rumah kaca berbasis web yang dapat diakses secara gratis untuk membantu perusahaan maupun individu menghitung jejak karbon mereka.
Dari sisi lingkungan kerja, East Ventures menekankan komitmennya terhadap keberagaman, kesetaraan, dan inklusi. Saat ini, perempuan mengisi 54% posisi di dalam tim perusahaan, termasuk 50% posisi senior leadership dan 33% partner investasi. Di tingkat ekosistem, sekitar 26% perusahaan portofolio aktif East Ventures didirikan atau dipimpin oleh perempuan.
Di bidang lingkungan, East Ventures menargetkan pencapaian emisi nol bersih untuk Scope 1 dan Scope 2 pada 2030. Sementara target net zero yang mencakup emisi pembiayaan (financed emissions) dipatok pada 2050. Perusahaan mengklaim telah menurunkan emisi Scope 1, 2, dan 3 sebesar 23% sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Avina Sugiarto menegaskan bahwa pendekatan ESG di East Ventures tidak sekadar memenuhi kewajiban administratif. Menurutnya, prinsip ESG telah menjadi bagian penting dalam tata kelola perusahaan, pengelolaan risiko, dan kesiapan menghadapi standar global yang terus berkembang. Ia menambahkan seluruh capaian tersebut tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari tim internal, perusahaan portofolio, hingga para mitra di dalam ekosistem East Ventures.
(SAW)
5 Podcast Bisnis Terbaik 2026, Wajib Didengar Pebisnis dan Anak Startup
Cari podcast bisnis terbaik 2026? Simak rekomendasi channel podcast inspiratif untuk belajar investasi, startup, teknologi, dan strategi bisnis. [603] url asal
#podcast-bisnis-terbaik-2026 #rekomendasi-podcast-bisnis #podcast-entrepreneur #podcast-investasi-terbaik #podcast-startup #podcast-bisnis-dunia #podcast-keuangan #belajar-bisnis-lewat-podcast
Jakarta: Belajar bisnis kini tidak lagi harus lewat seminar mahal atau membaca buku tebal berjam-jam.Podcast bisnis menjadi salah satu cara paling praktis untuk menambah wawasan, memahami tren industri, hingga mempelajari strategi sukses dari para pengusaha dunia.
Lewat pembahasan yang ringan namun mendalam, podcast bisnis menawarkan insight seputar investasi, pemasaran, teknologi, hingga pengembangan startup yang bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja.
Melansir laman BCA Prioritas, The Rise of Podcasting mencatat tren podcast mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun dengan jutaan konten aktif dan miliaran episode diunduh setiap tahunnya. Di Indonesia, audiens podcast semakin luas terutama di kalangan Gen Z dan Milenial.
Menurut Good Stats, Indonesia menjadi pasar pendengar podcast terbesar dunia dengan 42,6 persen pengguna internet berusia 16 tahun ke atas rutin mendengarkan podcast setiap minggu, jauh di atas rata‑rata global yakni 22,1 persen
Alasan utamanya adalah kemudahan akses dan fleksibilitasnya, yang memungkinkan dapat menikmati konten kapan dan di mana saja. Dengan keberagaman topik yang ditawarkan, podcast menjadi pilihan ideal untuk hiburan sekaligus sumber pengetahuan sambil beraktivitas.
Channel podcast bisnis terbaik 2026
Dilansir The Investor Podcast Network, berikut lima channel podcast bisnis terbaik yang dipilih secara objektif dari kualitas konten, kapasitas narasumber, hingga kualitas audio:1. We Study Billionaires
We Study Billionaires adalah podcast yang dipandu Stig Brodersen dan Preston Pysh, yang mengulas strategi investasi dan kisah sukses miliarder terkenal seperti Warren Buffett dan Ray Dalio. Salah satu podcast keuangan terpopuler di dunia yang telah diunduh lebih dari 180 juta kali ini memberikan wawasan tentang bagaimana cara para miliarder membangun kekayaan dan mengelola portofolio investasi.Podcast ini digemari karena menawarkan pendekatan berbasis penelitian yang mendalam, memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang prinsip investasi jangka panjang. Setiap episode membahas strategi yang dapat diterapkan oleh investor pemula maupun berpengalaman dalam mengelola keuangan pribadi dan investasi.
2. How I Built This
How I Built This merupakan podcast bisnis terbesar dan terpopuler di dunia yang menghadirkan cerita inspiratif dari para pendiri perusahaan besar dan merek ikonik. Dipandu Guy Raz, setiap episode podcast ini menggali perjalanan, mulai dari menghadapi tantangan awal hingga kesuksesan dalam membangun bisnis.
Keunggulan podcast ini adalah kemampuannya menyajikan wawancara mendalam dengan para pengusaha terkenal, memberikan pendengar pemahaman yang lebih baik tentang kegigihan dan strategi di balik kesuksesan.
3. A16Z Podcast
A16Z Podcast dipandu investor dan mitra Andreessen Horowitz (A16Z), salah satu perusahaan modal ventura terbesar di Silicon Valley. Podcast ini mengulas berbagai topik yang berkaitan dengan teknologi, inovasi, dan dunia startup.
Podcast ini menarik untuk diikuti karena menawarkan wawasan langsung dari para pemimpin teknologi dan investor. Setiap episode menawarkan diskusi yang tajam tentang tren teknologi terkini, termasuk AI, blockchain, dan fintech untuk inspirasi.
4. The Indicator from Planet Money
The Indicator from Planet Money adalah podcast harian pendek yang menyajikan wawasan ekonomi, bisnis, dunia kerja, dan keuangan dalam bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Setiap episode hanya sekitar 10 menit, cocok untuk didengarkan sambil aktivitas.
Keunggulan utama podcast ini adalah kemampuan menjelaskan isu ekonomi yang kompleks dengan cara yang cepat dan pragmatis, sehingga pendengar tidak perlu latar belakang ekonomi untuk memahami topik seperti inflasi, pasar tenaga kerja, atau keputusan bisnis global. Formatnya ringkas dan update setiap hari membuat insight tren ekonomi dan bisnis.
5. Masters of Scale with Reid Hoffman
Masters of Scale adalah podcast yang dipandu Reid Hoffman, pendiri LinkedIn, yang menyelami perjalanan para pengusaha sukses dalam membangun perusahaan besar. Podcast ini memberikan wawasan berharga tentang menghadapi tantangan dalam mengembangkan bisnis.
Podcast ini menarik karena kemampuannya untuk menghadirkan cerita inspiratif langsung dari tokoh dunia seperti Mark Zuckerberg dan Sheryl Sandberg. Setiap episode mengulas berbagai aspek penting dalam scaling bisnis, termasuk kepemimpinan, inovasi, dan strategi jangka panjang.
(ANN)
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)

