Bisnis.com, JAKARTA — Fenomena dissaving atau 'makan tabungan' untuk konsumsi di tengah periode pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi sinyal kuat tergerusnya daya beli, bukan sekadar siklus musiman semata.
Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, meski secara historis dissaving kerap terjadi setiap kali memasuki bulan puasa dan Lebaran, intensitas pengurasan tabungan pada 2026 tercatat semakin dalam seperti yang terekam data Mandiri Spending Index.
"Fenomena dissaving di tengah pencairan THR ini justru menjadi sinyal yang cukup kuat tentang kondisi riil rumah tangga saat ini. Ini mengindikasikan bahwa bantalan keuangan masyarakat sebenarnya sudah tergerus sejak sebelum masuk periode Ramadan, sehingga momen Lebaran hanya mempercepat proses pengurasannya," ujarnya kepada Bisnis, Senin (30/3/2026).
Lebih lanjut, Yusuf memaparkan bahwa tingkat konsumsi yang tetap tumbuh kuat membuktikan bahwa fungsi THR saat ini hanya bekerja sebagai penyangga likuiditas jangka pendek. Artinya, tanpa THR, daya beli akan tanpak jauh lebih buruk dan tabungan masyarakat akan semakin dalam tergerus.
Menurutnya, suntikan dana THR tersebut tidak cukup untuk menutup kesenjangan yang telah terbentuk antara kebutuhan konsumsi dan kapasitas pendapatan masyarakat di sepanjang tahun.
"Jadi THR lebih tepat dilihat sebagai 'penunda tekanan', bukan solusi," jelas Yusuf.
Fenomena 'makan tabungan' meski adanya THR ini juga diyakini mengindikasi besarnya biaya hidup yang melampaui pendapatan. Yusuf menilai, tidak hanya lonjakan inflasi, akar masalah ada di pertumbuhan pendapatan riil masyarakat yang tidak cukup tangguh.
Walaupun tingkat inflasi secara umum relatif terkendali, akumulasi kenaikan harga pada sektor esensial seperti pangan dan energi tidak diimbangi oleh tambahan pendapatan yang memadai. Pada titik ini, sambungnya, kelompok rumah tangga mulai menarik tabungan demi menutup kesenjangan tersebut.
Kondisi tersebut makin diperparah oleh struktur pasar kerja nasional yang kian rapuh. Yusuf mengingatkan bahwa fenomena kelas menengah yang jatuh ke sektor informal sehingga kepastian pendapatan menjadi lebih tidak stabil, berbanding terbalik dengan kebutuhan hidup yang terus menanjak.
Akibatnya, motif dissaving antarlapisan ekonomi menunjukkan sebaran yang mencolok. Pada kelompok menengah dan bawah, fenomena makan tabungan cenderung bersifat 'terpaksa untuk bertahan hidup', sedangkan kelompok atas lebih didorong murni oleh preferensi konsumsi gaya hidup.
"Jadi yang terjadi sebenarnya adalah pergeseran kualitas konsumsi. Secara angka terlihat masih tumbuh, tapi basisnya bukan lagi income-driven, melainkan balance sheet-driven—ditopang oleh pengurasan tabungan," ungkapnya.
Yusuf memperingatkan, meski pola konsumsi yang ditopang tabungan ini mampu mengamankan angka pertumbuhan ekonomi secara jangka pendek, tren tersebut justru berpotensi menjadi bumerang yang akan menggerus keuangan rumah tangga dalam jangka menengah.
Fenomena Makan Tabungan
Adapun, fenomena makan tabungan ketika THR cair terekam dalam data Mandiri Spending Index (MSI).
Data MSI menunjukkan tingkat belanja meningkat 0,9% secara mingguan (week on week/WoW) ke level 123,5 selama minggu ketiga Ramadan 2026 atau sepekan sebelum Lebaran.
Kenaikan ini melampaui dari pekan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,6% WoW.
Sementara secara tahunan, belanja pada periode yang bertepatan dengan pencairan THR ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,7% (year on year/YoY), lebih tinggi dari laju pertumbuhan pada 2025 yang berada di level 7,2% YoY.
Di sisi lain, pencairan THR memang terbukti menjaga penyangga keuangan bagi masyarakat di lapisan bawah dan menengah. Data Mandiri Saving Index per minggu ketiga Ramadan 2026 menunjukkan bahwa tingkat tabungan kelompok bawah meningkat ke level 73,6 dibandingkan dengan 72,8 pada Februari.
Pola serupa terjadi pada kelompok menengah yang tabungannya naik ke level 102,1 dari 100,4 pada bulan sebelumnya. Disebutkan, pergerakan ini mengindikasikan adanya tambahan pendapatan yang diinjeksi ke kantong masyarakat pascapencairan THR.
Berbanding terbalik dengan dua kelompok tersebut, tingkat tabungan kelompok masyarakat atas justru terkontraksi ke level 89,7 dari posisi 94,3 pada bulan Februari.
Kendati tabungan kelompok bawah dan menengah secara bulanan merangkak naik, tim ekonom Bank Mandiri memberikan catatan: laju pertumbuhan tahunan tabungan di seluruh kelompok pada Ramadan 2026 ini tercatat lebih rendah apabila disandingkan dengan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu.
"Hal ini menunjukkan proses dissaving atau makan tabungan, terutama dalam menopang belanja Ramadan, masih terus berlanjut," tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri dalam laporannya, dikutip Minggu (29/3/2026).
"Hal ini menunjukkan proses dissaving atau makan tabungan, terutama dalam menopang belanja Ramadan, masih terus berlanjut," tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri dalam laporannya yang terbit Kamis (26/3/2026).