Bisnis.com, SURABAYA – Para pelaku industri perhotelan di Provinsi Jawa Timur tampaknya tetap optimistis dalam menatap momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 serta libur sekolah yang ditetapkan pemerintah sejak 22 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.
Apalagi, pada momen Nataru yang menjadi periode libur teramai, industri pariwisata di Jawa Timur sebenarnya cukup was-was dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir tahun 2025 mendatang.
Kekhawatiran itu muncul karena Jawa Timur tergolong rentan mengalami bencana Geo-Hidrometeorologi seiring dengan memasuki fase puncak musim hujan pada Desember hingga awal Januari 2026. Sejumlah bencana yang berpotensi terjadi di antaranya banjir bandang hingga tanah longsor.
Kondisi ini tidak hanya dipicu oleh faktor puncak musim hujan, namun juga dipengaruhi oleh minimnya mitigasi awal dan kesalahan tata ruang kota.
Secara geologi, banjir bandang di Jatim banyak dikaitkan dengan morfologi kipas aluvial pada lereng perbukitan atau pegunungan vulknanik, dengan batuan berumur kuarter tua. Dicirikan tutupan tanah tebal, hilangnya semen alami, tingkat pelapukan tinggi.
Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jawa Timur Irwan Susilo menjelaskan, Provinsi Jatim secara alamiah memiliki tanda-tanda ancaman dari bencana Geo-Hidrometeorologi akibat curah hujan tinggi.
"Jawa Timur secara alamiah juga mempunyai penyebaran potensi (bencana) yang beragam khususnya bagian tengah dan selatan," tuturnya.
Hal ini tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh anomali cuaca. Namun juga faktor alamiah dari gambaran litologi dan fisiografi di Jatim, seperti longsor akibat endapan gunung api kuarter yang cenderung memiliki tingkat kelapukan namun masif terjadi pembukaan lahan.
Selanjutnya, faktor tata ruang wilayah yang tidak sesuai sehingga memicu banjir di kawasan permukiman. Kondisi batuan tersier lapuk, tetapi dibangun infrastruktur jalan juga memicu tanah longsor di sejumlah titik.
"Memang zona api tengah ini banyak endapan gunung api kuarter muda maupun tua. Kemudian di selatan terkait batuan tersier di situ kita melihat potensi secara alamiah terkait bencana geologi," katanya.
Irwan mencontohkan peristiwa longsor di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kabupaten Nganjuk pada 2021 yang dipicu karena tanah tidak kuat menahan beban air saat curah hujan tinggi akibat pembukaan lahan dan kondisi batuan yang lapuk.
Selain faktor tersebut, longsor juga dipicu akibat selang air untuk mengaliri kolam warga yang terus mengalir sehingga masuk ke dalam celah lereng dan membuah tanah menjadi jenuh.
"Air yang masuk ke dalam celah-celah retakan sehingga menambah beban dan akhirnya menjadikan kelongsoran dengan hampir dimensinya 100 meter dengan tinggi tebing 30 meter. Ini terjadi di endapan Gunung Willis," jelasnya.
Contoh ancaman bencana lain yang baru saja terjadi melanda Jatim adalah banjir di Kota Malang hingga merendam rumah warga. Padahal Irwan menyebut, ketinggian Sungai Brantas di Malang masih jauh dari level ancaman banjir.
Menurutnya, kondisi ini besar kemungkinan dipengaruhi oleh kesalahan tata ruang kota akibat kapasitas drainase kota yang tidak lagi menampung beban air hingga perubahan fungsi irigasi.
"Ketinggian sungai dari brantas di malang jauh dari level ancaman banjir, tapi di kota terjadi banjir. Ini ada hal yg menjadi perhatian terkait penataan kawasan kota tentunya perubahan intensitas hujan dan intensitas perubahan lahan ini menjadi penting," jelasnya.
Oleh karena itu, Irwan menyatakan bahwa perkembangan kota perlu memperhatikan aspek daya dukung lahan menyangkut kemampuan dalam retensi limpasan permukaan.
"Dengan keterbatasan lahan, bagaimana kita meningkatkan jumlah long storage, apakah harus memperlebar saluran, kemudian bila saluran digunakan efisien difungsikan sebagai jalan. Contohnya, seperti di Surabaya sangat bagus. Dengan keterbatasan bozem, dialihfungsikan dengan memperlebar saluran, dan digunakan sebagai long storage untuk menggantikan fungsi bozem. Itu perlu dicontoh kota-kota lain," paparnya.
Namun, potensi cuaca ekstrem yang melanda Jawa Timur sepanjang periode libur Nataru maupun libur sekolah tersebut ternyata tidak menyurutkan target tingkat penghunian kamar (TPK) okupansi hotel-hotel di sejumlah destinasi wisata utama, seperti di Surabaya dan Malang.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono menargetkan bahwa TPK atau okupansi hotel akan terisi hingga 90% pada momen libur Nataru 2025/2026 dan periode liburan sekolah.
"Targetnya okupansi saat libur Nataru di Jawa Timur tahun ini bisa tembus 90%," ungkap Dwi saat dikonfirmasi.
Untuk menghadapi berbagai potensi bencana yang terjadi, Dwi menjelaskan bahwa para pelaku usaha perhotelan dan wisata saat ini telah memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta aparat keamanan.
Kabar mengenai banjir bandang yang terjadi di wilayah Malang Raya, hingga beberapa titik di Surabaya juga disebutnya dapat berdampak signifikan terhadap kunjungan wisatawan. Situasi tersebut biasanya berdampak pada okupansi hotel, terutama di daerah yang biasanya menjadi favorit liburan Nataru.
“Ada longsor, banjir, itu bisa berpengaruh kalau belum teratasi,” bebernya.
Lebih lanjut, General Manager Ascott Waterplace Surabaya Handrian Wijaya mengungkapkan bahwa TPK atau okupansi sudah mencapai 70% pada sepanjang libur Natal dan 90% pada malam akhir tahun 2025. Sejumlah strategi promosi pun digencarkan pihaknya untuk memenuhi target hingga 100% keterisian kamar.
"Kalau Natal sekarang kita on hand sudah 70% okupansi. Kalau untuk Tahun Baru on hand saat ini tanggal 31 Desember itu sudah 90%. kalau Natal itu lebih pick up-nya itu dari tanggal 24. Kemudian check out-nya itu lebih banyak di tanggal 26, tapi kalau untuk yang tahun baru pick-up sudah terjadi dari tanggal 29, dan tingkat okupansi masih 70%," ungkap Handrian saat ditemui Bisnis.
Handrian menjelaskan, pihaknya mengusung konsep service apartment yang cocok bagi para tamu yang membawa anggota keluarga. Sementara, untuk segmentasi pasar, ia menjelaskan bahwa Ascot Waterplace Surabaya tetap menargetkan para tamu lokal dan juga beberapa ekspatriat asing.
"Kita akan targetkan [tamu] family dan lokal. Kemudian kita juga enggak menutup kemungkinan untuk tamu-tamu expatriat juga, dari Malaysia, Singapura, Asean itu juga melakukan perjalanan pada saat Natal dan Tahun Baru," ungkap Handrian.
Untuk mencapai target TPK atau okupansi pada periode Nataru dan libur sekolah, Handrian menjelaskan bahwa pihaknya telah menggencarkan sejumlah langkah promosi. Salah satunya dengan promosional "Save More, Stay More", yakni memberikan potongan harga (diskon) bagi tamu yang memesan kamar lebih dari satu malam.
"Stay more save more ini konsepnya supaya kita targetin tamu ambil lebih dari satu malam sebetulnya. Karena kan kita tahu biasanya kalau tamu-tamu apalagi yang dari luar kota ya, mereka pasti punya kebutuhan untuk liburan tahun baru lebih dari satu malam sebetulnya. Cuma mungkin ada tendensi untuk pindah-pindah hotel atau cari akomodasi yang berbeda," ucapnya.
Sementara itu, General Manager Atria Hotek Malang, Ibnu Darmawan mengungkapkan, pihaknya memproyeksikan TPK meningkat sebesar 18–25% bila dibandingkan minggu reguler Desember. Rata-rata okupansi kamar juga diproyeksikan berada di kisaran 80–88%, cukup melonjak dari baseline reguler yang disebutnya berada pada 70–75%.
"Perkembangan reservasi menunjukkan tren positif dengan booking pace yang lebih cepat dibanding tahun lalu. Per 10 Desember, di antaranya 58–62% pemesanan berasal dari online travel agency (OTA), 30–35% dari direct booking melalui WhatsApp, telepon, dan corporate contract. Sisanya 5–10% dari website dan offline partner," beber Ibnu saat dikonfirmasi.
Ibnu juga mengungkapkan, kontribusi pendapatan selama periode libur Nataru sangat signifikan bagi pihaknya. Periode Nataru disebutnya menjadi salah satu momentum dengan margin tertinggi di sepanjang tahun.
"Berdasarkan tren 2–3 tahun terakhir, periode Nataru dan liburan sekolah memberikan lenaikan pendapatan total 25–35% dibandingkan periode non-peak.
Room Revenue meningkat 30–45%, terutama karena kombinasi antara kenaikan okupansi dan tarif, dan F&B Revenue naik 20–28%," ucapnya.
Ibnu menjelaskan, pihaknya juga melakukan seasonal adjustment sesuai dinamika permintaan selama momentum libur Nataru. Kenaikan room rate pada 23 Desember–1 Januari berada pada kisaran 20-30% bila dibanding tarif reguler.
"Faktor pendorongnya meliputi tingginya permintaan wisata Malang–Batu pada akhir tahun, tren kompetitor dan market price movement, penambahan value berupa program kuliner & aktivitas keluarga, dan engalaman 'New Look' yang meningkatkan experience tamu," pungkasnya.