Bisnis.com, GARUT - Pemerintah Kabupaten Garut mengaku ketertarikan pasar Jepang terhadap kopi asalGarutsemakin menguat. Namun ada hal yang masih menjadi persoalan.
Dalam kunjungan kerja delegasi dariShizuokabelum lama ini, pembahasan terfokus pada peluang ekspor kopi specialty serta kesiapan rantai pasok lokal untuk memenuhi standar pasar Jepang yang dikenal ketat.
Pemerintah daerah menilai peluang ini signifikan, meski masih menyisakan berbagai tantangan teknis di tingkat petani.
BupatiAbdusy Syakur Aminmenegaskan bahwa Jepang mulai memberi perhatian serius pada kualitas kopi Garut. Namun ia menekankan bahwa perlu ada penguatan di hulu jika daerah ingin masuk ke pasar premium.
"Delegasi Jepang menyampaikan apresiasi terhadap profil rasa kopi Garut. Tapi apresiasi saja tidak cukup. Yang mereka lihat berikutnya adalah konsistensi kualitas dan kemampuan produksi," ujar Syakur, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah penguatan, termasuk perbaikan pascapanen dan pendampingan petani.
Meski begitu, ia mengakui, standar Jepang masih menjadi tantangan besar. "Jepang memiliki parameter yang ketat dalam hal traceability, moisture, dan stabilitas cupping score. Kita harus mengejar itu dahulu sebelum bicara volume ekspor besar," ujarnya.
Dari pihak Jepang, perwakilan lembaga pelatihan dan mitra kerja samaDadan Muhamad Arifinmenuturkan kopi Garut memiliki peluang masuk ke jaringan roastery kecil-menengah di Jepang.
Namun, ia menilai bahwa pembeli di Jepang hanya akan masuk jika rantai pasok di hulu benar-benar stabil.
"Pasar Jepang menyukai karakter kopi Garut yang floral dan clean. Tapi mereka tidak mau ambil risiko soal ketidakstabilan mutu. Inilah yang sedang kita evaluasi bersama," jelasnya.
Dadan mengatakan delegasi Jepang akan melakukan peninjauan langsung ke sejumlah kebun dan fasilitas pascapanen di Garut bagian utara dan selatan.
Menurutnya, pemeriksaan lapangan merupakan tahapan krusial sebelum potensi pembelian ditindaklanjuti.
"Kami ingin melihat bagaimana petani mengelola processing, mulai dari petik merah, fermentasi, sampai pengeringan. Jepang tidak hanya menilai rasa, tetapi seluruh proses produksinya," ujarnya.
Dadan menyebutkan, sejumlah pelaku kopi di Garut menyambut baik ketertarikan Jepang, tetapi berharap agar kerja sama tidak hanya dibangun di tingkat pemerintah.
Seorang pengolah kopi di wilayah Samarang, lanjutnya, mengatakan keterlibatan petani harus menjadi prioritas.
"Jika Jepang butuh kopi berkualitas tinggi, maka petani harus mendapat pendampingan langsung, bukan hanya melalui program umum. Selama ini tantangan terbesar kami adalah stabilitas hasil panen dan biaya produksi," ujarnya.
Ia menambahkan harga jual di tingkat petani tidak selalu naik meski reputasi kopi Garut meningkat di pasar internasional.
"Kami bangga kopi Garut dilirik Jepang, tapi kalau tidak ada kebijakan harga minimum atau model kontrak yang jelas, petani tetap akan berada di posisi paling lemah," katanya.
Syakur menegaskan, pemerintah daerah ingin memastikan manfaat ekonomi dirasakan petani.
"Kopi Garut semakin diperhatikan di luar negeri. Yang sedang kita rumuskan adalah bagaimana nilai tambah itu tidak berhenti di tingkat eksportir saja, melainkan sampai ke petani," ujarnya.